Tears Of Polaris {ENDING}

Nara masih bersemangat mengelilingi seluruh penjuru panti ini.  Dia merasa amat senang bisa kembali ke tempat pertama kali dia dibesarkan, terlalu banyak memori untuknya.  Sesekali dia menjerit histeris saat menemukan benda yang dikenalnya hingga membuat Kyuhyun khawatir, “Kau kenapa?  Ada apa?”, tanya Kyuhyun sambil bergegas kearah ruang tengah karena mendengar teriakan Nara.

Nara hanya tersenyum lebar, “Ini…aku menemukan gasing milikku saat berumur 5 tahun.  Aigoo~ternyata masih ada disini!!”, ucapnya semangat sambil memperlihatkan sebuah gasing berwarna coklat yang ada di tangannya dan membuat Kyuhyun melongo parah.  “Hanya karena itu?”

Sedangkan Jiyoo juga masih mengelilingi bangunan, tapi dengan maksud yang berbeda.  Dia sangat lapar, selama 1 hari disekap…perutnya sama sekali belum terisi oleh apapun.  Tangannya membuka setiap rak lemari yang ada di dapur, berharap ada makanan berjenis apapun yang dapat dikonsumsinya.  Tapi…nihil, yang ada di rak hanya debu atau beberapa ekor tikus yang sedang menggerogoti kayu rak lemari itu.

Karena tak berhasil menemukan apapun, akhirnya Jiyoo memutuskan untuk menghampiri Kyuhyun dan Nara yang sedang berbincang seru, mungkin membicarakan masa nostalgia mereka?  Entahlah…Jiyoo tak tahu dan tak ingin tahu mengenai hal itu.  Jiyoo menepuk bahu Kyuhyun pelan, “Kyuhyun-ssi, kau punya makanan?”, tanyanya langsung.

Kyuhyun menoleh dan menunjuk kea rah dapur, “Cobalah periksa ke dapur, mungkin ada sedikit bahan makanan untuk kita makan”, ucapnya ringan dan membuat Jiyoo menggumam, “Ya, sebenarnya ada bahan makanan untuk kita, tapi…kau lebih suka tikus panggang atau tikus rebus?”, ketusnya dan membuat Kyuhyun dan Nara mengernyit heran, “Maksudmu?”.

Jiyoo mendesah kesal, “Di rak lemari dapur itu hanya ada kawanan tikus.  Kau mau kubuatkan tikus panggang?”, jelasnya dan membuat Nara mengangguk paham, “Oh…Kukira kau benar-benar suka makan tikus, Jiyoo-ssi”, gumam Nara polos.

Kemudian Nara menengok kea rah Kyuhyun, “Marcus, bukankah di halaman belakang panti ini ada kebun kentang?”, tanya Nara, Kyuhyun mengangguk singkat.  “Kurasa lebih baik jika kita makan kentang bakar.  Bagaimana, Jiyoo-ssi?  Gwenchana?”, tanyanya pada Jiyoo.  Jiyoo hanya membalas, “Aku akan makan apapun, asalkan bukan tikus panggang atau tikus rebus”, ucapnya ringan.

Nara segera bangkit dari duduknya dan menarik tangan Jiyoo dengan semangat menuju kebun kentang yang ada di belakang panti, “Tunggu apalagi? Kkaja!”, serunya dengan semangat, dan Jiyoo hanya mengikuti langkah Nara dengan lunglai.

Dari belakang, Kyuhyun hanya tersenyum melihat kelakuan kedua gadis itu, “Wajah mereka memang sama persis, tapi kelakuannya…benar-benar seperti dua kutub yang berbeda”.

********************************** Continue reading

Tears Of Polaris {7th Chapter}

“Arghh!!”, Kyuhyun meringis kesakitan saat Nara mengoleskan obat ke luka tusukan di lengannya.  Nara langsung menjauhkan tangannya dari lengan Kyuhyun, “Ah, Mianhae!!”, ucap Nara hati-hati.  Kyuhyun hanya tersenyum miris, “Hanya…sedikit sakit”, ucapnya menenangkan Nara.

Jiyoo melirik pasangan itu dari kaca spion di depannya, ke Kwan Nara lebih tepatnya.  Dia masih memperhatikan wajah Nara dan membandingkannya dengan wajahnya, amat sangat terlalu mirip.  Pantas saja jika Hyukjae salah mengenalinya dan menganggap dirinya adalah Kwan Nara yang dikenal olehnya.

Jiyoo mengalihkan pandangannya dan kembali fokus ke jalanan di depannya, “Ah, Kyuhyun-ssi.  Mana rah yang harus kita ambil?”, tanyanya saat mobilnya kini berada di antara 2 tikungan yang berbeda.  Kyuhyun melirik heran kea rah Jiyoo, “Kau..bisa berbicara bahasa Korea?”, tanyanya tak percaya, karena setahunya keluarga Choi ini sudah berdomisili tetap di Los Angeles.

Jiyoo hanya mengangkat bahunya dengan santai, “Just a little bit”, ucapnya sambil melirik kearah Nara sekilas.  Dia tak ingin mengatakan bahwa dia bisa berbahasa Korea karena ingin lebih dekat dengan Lee Hyukjae, sahabat gadis di belakangnya itu.  Nara memiringkan kepalanya dan tersenyum simpul, “Johta.  Jika begitu, kita tak punya kesulitan untuk berkomunikasi.  Benar bukan, Jiyoo-ssi?”

Jiyoo hanya mengangguk singkat dan kembali menatap Kyuhyun, “Left or Right?”, tanyanya cepat.  Kyuhyun berpikir sejenak, “Lebih baik kita ke…kiri?  Ah, tidak…kanan saja.  Tapi, mungkin lebih baik jika kita ke kiri?  Atau kanan?”, gumamnya bingung.  Nara dan Jiyoo menatap jengah kearah pria ini.

“Ke kanan saja”, ucap Nara dan Jiyoo berbarengan dan sempat membuat mereka berdua tersentak kaget.  Kyuhyun hanya mengangkat bahunya ringan, “Yasudah, jika itu keputusan kalian…kita ke kanan saja, Jiyoo-ssi”, putus Kyuhyun.

Jiyoo kembali menatap ke depan dan mengganti persneling mobil sehingga mobil melaju pelan dan berbelok kea rah kanan menuju ‘Apgeujjong’.  Dia masih merasa heran dengan kejadian barusan, saat dirinya dan Nara mengatakan hal yang sama.  Rasanya itu bukan sekedar kebetulan, tapi seperti…kontak batin?

Entahlah, otak Jiyoo sudah terlalu pusing untuk memikirkan hal seperti itu.

****************** Continue reading

Tears Of Polaris {6th Chapter}

“Wuahh~Apartement’nya besar sekali”, Donghae mendecak kagum saat melihat gedung Apartement yang ditempati oleh keluarga Choi.  Haejin langsung menyenggol lengan Donghae, “Tutup mulutmu, jangan kampungan seperti itu, Donghae-ya”, sela Haejin cepat dan membuat Donghae hanya terkekeh ringan kemudian segera menggenggam tangan Haejin, “Jika kita menikah nanti, aku pastikan jika kita akan tinggal disini, Haejin-ah”, ucapnya semangat dan membuat pipi Haejin bersemu merah.

Hyukjae mendecak kesal karena harus melihat adegan roman picisan yang kacangan di hadapannya, “Sudahlah, hentikan hal itu. Kalian membuatku mual. Jinjja!!”, gerutunya dan membuat Haejin menyentakkan tangan Donghae karena malu.  “Kau selalu saja iri, Hyukjae-ya”, ucap Donghae pada Hyukjae yang terlihat tak peduli.

Hyukjae melihat kertas yang sedang digenggamnya, ‘Sheraton Apartement’. Dia menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia hanya berharap bahwa Jiyoo ada di sini supaya dia bisa mengetahui keberadaan Nara sekaligus ingin memberitahu tentang perasaannya yang sesungguhnya pada gadis itu.

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?  Berdiri mematung seperti ini?’, tanya Haejin dan membuat Hyukjae segera melangkah cepat ke dalam apartement menuju lobby.  Haejin menatap Donghae dengan heran, “Ada apa dengan sepupumu itu?”, tanyanya karena daritadi dia melihat gelagat Hyukjae yang terasa aneh.  Donghae mengangkat bahunya santai, “Sepertinya seorang wanita telah mengubah hidupnya, sama sepertiku yang berubah karenamu”, ucapnya dan membuat Haejin meninju bahunya pelan.  “Kau tak pernah berubah, tetap narsis dan tukang gombal”, gerutu Haejin dan membuat Donghae meringis kesakitan karena tinjuan Haejin.

“Hei~!  Cepat masuk!!”, teriakan Hyukjae membuat mereka berdua menghentikan guyonannya dan beranjak menghampiri Hyukjae yang benar-benar menyesali nasibnya yang harus mencari Nara dan Jiyoo bersama pasangan gila ini.

——*———————-*———————*—– Continue reading

Tears Of Polaris {5th Chapter}

Jiyoo tak berani mengangkat kepalanya, rasanya dia benar-benar takut untuk melihat pandangan Hyukjae, karena dari posisi menunduk seperti inipun Jiyoo sudah merasakan pandangan pria di hadapannya ini seakan menusuk dan menghujatnya tajam.

Hyukjae makin mengeratkan genggaman tangannya ke pergelangan tangan gadis yang ada di hadapannya ini, rasanya darah di sekujur tubuhnya ini menggelegak panas dan kepalanya seakan berputar cepat karena sebuah tanda tanya besar yang bersarang di otaknya saat ini, “Siapa kau?  Cepat jawab pertanyaanku!”, serunya kencang dan membuat bahu gadis itu tersentak pelan.

Jiyoo makin merinding karena teriakan Hyukjae, tenggorokannya tiba-tiba terasa amat kering sehingga ia harus menelan ludah dengan penuh usaha yang amat berat untuk sedikit membasahi kerongkongannya.  “Aku…”, lirih Jiyoo pelan, “Bukan Kwan Nara”.

——————————–

Haejin menatap pasangan di depannya itu dari balik semak-semak yang menghadap langsung kearah Hyukjae dan Nara.  Haejin langsung mengerutkan keningnya dengan heran saat melihat Hyukjae menggenggam pergelangan tangan Nara dengan raut wajah yang marah.  “Ada apa dengan mereka?”, gumamnya heran.

Haejin menoleh ke belakang, mencoba mencari keberadaan Donghae yang tadi meninggalkannya untuk sesaat.  Dia bilang ingin mencari sesuatu untuk mendukung Misi mereka ini, tapi entah kenapa hingga sekarang si narsis itu masih belum kembali.

Kini dia kembali memperhatikan keadaan Hyukjae dan Nara, tapi sepertinya kondisi di antara keduanya makin tak membaik karena kini Hyukjae membentak Nara sehingga membuat gadis itu agak ketakutan.  Haejin benar-benar heran, sebenarnya apa yang tiba-tiba terjadi? Padahal sebelumnya mereka berdua terlihat mengobrol dengan akrab.

“Haejin-ah~~”, tiba-tiba Donghae sudah berada di samping Haejin lagi sambil membawa seikat balon berbentuk hati dalam jumlah yang cukup banyak.  Haejin menatap Donghae dengan pandangan heran, “Ige mwoya?”, tanyanya sambil memperhatikan balon yang dibawa oleh Donghae.

Donghae tersenyum lebar dan menunjuk kearah Hyukjae dan Nara, “Dengan balon ini, Misi kita pasti akan berhasil”, ucapnya penuh percaya diri.  Haejin hanya mendesah pelan dan menggumam, “Tapi keadaan mereka berdua terlihat…aneh”, ucapnya lirih.  Donghae terlihat penasaran dan segera menggeser tubuh Haejin ke samping supaya dia bisa ikut mengintip kondisi Nara & Hyukjae.

“Yaaa~ apa-apaan kau?”, seru Haejin saat Donghae merebut posisi tempat miliknya dan dia mencoba mendorong tubuh Donghae untuk segera menyingkir, “Donghae-ya, minggir~”, desis Haejin sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Sedangkan Donghae masih berkonsentrasi menatap mereka berdua.  Dia memperhatikan raut wajah Hyukjae yang terlihat…marahTidak, hal itu tak mungkin terjadi.  Seorang Lee Hyukjae tak akan pernah marah kepada Kwan Nara dengan alasan apapun.  Tapi yang ada di mata Donghae kali ini adalah Lee Hyukjae yang menggenggam lengan Nara dengan kencang dan bahu gadis itu seperti bergetar pelan.  Nara..menangis?  Di depan Hyukjae?

Donghae menggelengkan kepalanya tak percaya.  Tidak…2 orang yang didepannya ini bukanlah Lee Hyukjae dan Kwan Nara yang dikenalnya.  Lalu siapa mereka?

Mata Donghae makin membelalak tak percaya saat melihat Hyukjae menyentakkan tangan Nara dengan kasar dan kini meninggalkan gadis itu yang langsung jatuh terduduk.  “Hyukjae-ya!”, seru Donghae sambil berdiri dari tempat persembunyiannya dan berlari kearah Hyukjae yang berjalan dengan pandangan kosong.  “Haejin, segera temani Nara”, pesan Donghae pada Haejin yang masih bingung dengan apa yang terjadi tapi Haejin mengikuti omongan Donghae dan segera menghampiri Nara yang kini terisak tanpa suara.

“Hyukjae-ya!!  Keumanhae~!”, seru Donghae sambil mengejar Hyukjae yang seakan tak peduli dengan keadaan di sekelilingnya.  Donghae merasa balon-balon ini mengganggu langkahnya, maka ia lepaskan ikatan balon itu dari tangannya sehingga kini puluhan balon berbentuk hati itu terbang indah ke angkasa luas.

Setelah langkahnya terasa agak bebas, Donghae berlari lebih kencang dan segera menarik bahu Hyukjae dari belakang dengan sentakan kuat, “Hyukjae-ya!!”, sentaknya kencang tapi mata Hyukjae hanya menatap Donghae dengan pandangan kosong.  “Ada apa dengan kalian berdua?!”, bentak Donghae sambil mengguncangkan bahu Hyukjae.

Tubuh Hyukjae benar-benar lemas dan otaknya kini benar-benar tak bisa diajak berkompromi untuk berpikir jernih.  Dia bingung, benar-benar bingung.  Gadis itu bukan Kwan Nara, lalu kenapa sejak kemarin jantung Hyukjae terus-terusan berdetak seribu kali lebih kencang saat bersamanya?  Tapi jika gadis itu bukan Nara, lalu dimana keberadaan Nara yang asli?! Pertanyaan yang sama itu terus berputar di pikiran Hyukjae.

“Hyukjae-ya!  Katakan padaku, apa yang terjadi?!”, seru Donghae sampil menepuk pipi Hyukjae dengan khawatir.  Hyukjae tersadar untuk sejenak dan menatap balik kea rah Donghae, “Aku harus mencari dia, Donghae-ya.  Lepaskan aku”, lirih Hyukjae sambil melepaskan tangan Donghae dari bahunya dan kini dia berbalik meninggalkan Donghae yang masih terheran-heran.

“Hyukjae-ya!”, Donghae menarik bahu Hyukjae lagi tapi kini tubuhnya langsung tersungkur ke tanah karena Hyukjae mendorongnya dengan kasar, “BIARKAN AKU SENDIRI!”, sentak Hyukjae dan kembali melangkah meninggalkan Donghae.  Hyukjae menjambak rambutnya dengan kencang, merasa frustasi.  Dia benar-benar butuh waktu untuk mencerna apa yang sudah terjadi saat ini.

Sedangkan  Jiyoo hanya bisa terisak pelan sambil terduduk lemas, rasanya dia merasa sebagai orang yang paling hina sedunia.  Bukan karena dia telah pura-pura menjadi Kwan Nara, tapi dia merasa hina karena dialah yang membuat senyuman di wajah Hyukjae itu menghilang, dan itu terjadi karena sikapnya.

Haejin mendekat kea rah Jiyoo yang menunduk dalam, “Nara-ya, gwenchana?”, tanyanya khawatir.  Jiyoo menatap kea rah gadis di hadapannya ini, siapa dia?  Teman Kwan Nara juga?.

“Nara-ya, sebenarnya apa yang terjadi?”, ucap Haejin sambil memeluk tubuh Jiyoo.  “Ada apa dengan kau dan Hyukjae?  Kalian bertengkar?”, tanyanya lembut.

Jiyoo hanya bisa diam di dalam pelukan Haejin, kepalanya kini terangkat menatap langit biru yang terhampar luas dan melihat puluhan balon berbentuk hati itu terbang ke angkasa.  Jiyoo merasa keadaannya kali ini sama seperti balon itu, terbang tanpa arah dan benar-benar terasa hampa.

Haejin menatap temannya itu lagi, “Nara-ya, jawablah sesuatu”, desaknya.  Tapi Jiyoo masih diam dan akhirnya tersenyum lemah, “Tidak apa-apa.  Kau tak perlu khawatir”, ucap Jiyoo pelan dan melepaskan dirinya dari pelukan Haejin.  Dia mencoba untuk berdiri tapi Haejin menatapnya khawatir, “Kau mau kemana?”, tanyanya.

Jiyoo menepuk celananya untuk membersihkan debu yang menempel, “Kembali ke rumahku.  Dan setelah aku pulang, keadaan pasti akan kembali membaik seperti semula”, ucap Jiyoo lirih dan beranjak meninggalkan Haejin.  Tapi Haejin masih tak menyerah dan beranjak menyamakan langkahnya dengan langkah Jiyoo, “Akan kuantar kau pulang, Nara-ya”, tawarnya.

Jiyoo menggeleng dan kembali menatap Haejin, “I’m gonna be okay.  Don’t worry”, ucapnya dan menggenggam tangan Haejin, “Titipkan salamku untuk Hyukjae”, lanjutnya.  Haejin hanya bisa mengangguk pelan, “Kau akan segera kembali ke rumah kan?  Nanti aku dan Donghae akan mampir ke rumahmu”.

Jiyoo hanya tersenyum kecut dan berbalik meninggalkan Haejin dengan langkah lunglai.  Kini Jiyoo melangkahkan kakinya untuk kembali ke kehidupannya yang dulu, kehidupan sebagai Choi Jiyoo, bukan sebagai Kwan Nara.

Jiyoo menengadahkan kepalanya ke atas dan matanya masih bisa menangkap pemandangan balon-balon itu melanglang buana.  Dia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan, “Life is not a fairytale.  I’m not a princess and you’re not my prince.  And there are no fairy god moyhers to make it come true.  Right, Lee Hyukjae?”

——————————

Zhoumi masih duduk di dalam mobil.  Sebatang rokok kini menempel di bibirnya yang tipis dan asap mulai mengepul pelan dari mulutnya.  Matanya tak berhenti memperhatikan gadis itu, gadis yang sangat mirip dengan Choi Jiyoo.

Setelah pria yang tadi menemani gadis itu pergi meninggalkannya, kini ada seorang gadis lain yang menghampirinya.  Setelah terlibat pembicaraan pendek, gadis yang mirip Choi Jiyoo itu beranjak pergi meninggalkan temannya.  Zhoumi mengambil foto Choi Jiyoo dan membandingkannya dengan gadis dihadapannya itu, ya..wajah mereka sama persisTapi wajah gadis yang kini ditahan di rumahnya juga mirip dengan wajah yang ada di foto ini. Zhoumi mendecak kesal, rasanya dia merasa bahwa ada sesuatu hal ganjil yang telah terjadi diluar sepengetahuannya.

Saat gadis itu berjalan menyebrangi zebra cross dan beranjak menjauh dari pandangannya, Zhoumi langsung menstarter mobilnya untuk membuntutinya.  Dengan waspada, Zhoumi selalu menjaga jarak antara mobilnya dengan jarak gadis itu.  Setelah beberapa kali menaiki bis, akhirnya gadis itu berhenti di sebuah halte yang berada tepat di sebelum tikungan menuju apartement tempat tinggal keluarga Choi.

Zhoumi makin merasa kecurigaannya kini terbukti kuat dan dia tersenyum licik sambil membuang rokoknya keluar dari jendela mobil.  Zhoumi mengeluarkan sapu tangan miliknya dari dalam saku celana dan mengambil sebotol obat bius yang tersimpan di laci dashboard mobil, kemudian menatap gadis itu yang berjalan lunglai kea rah apartemen mewah tersebut.

“Kyuhyun tolol~ melakukan hal yang sia-sia.  Sudah kuduga, dia tak akan bisa melakukan hal ini dengan baik”, gumam Zhoumi sambil memarkirkan mobilnya di salah satu sudut yang tak ada orang berlalu-lalang kemudian keluar dari dalam mobil sambil membawa peralatan yang tadi sudah ia siapkan, sebuah sapu tangan yang sudah dilumuri oleh obat bius.

Dia melirik ke sekitarnya, bagus…keadaan di sekelilingnya masih sepi dan tak ada siapapun di sekitarnya saat ini karena masih terhitung pagi dan keamanan di lingkungan apartemen juga tak seketat yang dia perkirakan.

Zhoumi segera melancarkan aksinya dan berpura-pura memanggil gadis itu, “Ah~nona! Barangmu terjatuh”, seru Zhoumi sambil beranjak mendekati Jiyoo.  Jiyoo menoleh lemas, tapi tepat saat dia menoleh, wajahnya sudah dibekap oleh sesuatu yang membuatnya amat pusing dan terserang kantuk yang amat hebat.

Kini tubuh Jiyoo yang pingsan langsung ditahan oleh Zhoumi dan ia langsung menyelimuti tubuh Jiyoo dengan jaket yang sudah disiapkannya, sehingga tak ada orang yang curiga bahwa gadis yang ada di pelukannya ini sedang pingsan, biarpun sebenarnya hal itu tak perlu dilakukan karena toh’ tak ada siapapun di jalanan ini.

“Baiklah, akan segera kita ketahui mana Choi Jiyoo yang asli”, ucapnya sambil membopong tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.

———————————–

Siwon membawa sekantung burger dan 2 soft drink di tangannya, dia menyebrangi zebra cross dan berjalan kea rah mobilnya yang terparkir di sisi jalan raya.  Matanya tetap memperhatikan keadaan sekelilingnya, masih berupaya untuk mencari Jiyoo biarpun dengan usaha sekecil apapun.  Tapi tetap saja keberadaan adiknya itu masih belum menemukan titik terang baginya.  Rasanya Jiyoo seperti hilang ditelan bumi.

Siwon membuka pintu mobilnya dengan sigap dan segera naik ke dalamnya.  “Ah, sudah selesai?”, tanya Ririn sambil menatap kea rah Siwon.  Siwon hanya mengangguk sambil tersenyum simpul, dia mulai mengeluarkan sebuah burger dan segelas softdrink kemudian menyerahkannya kepada Ririn, “Maaf, hanya ada toko burger di sini, lagipula tak ada lagi toko makanan yang buka 24 jam”, ucapnya menyesal tapi Ririn hanya tersenyum memaklumi dan menggeleng pelan, “Gwenchana, bagiku ini sudah lebih dari cukup”, jawabnya.

Siwon menatap Ririn dengan pandangan ragu, “Really?”.

Ririn mengangguk yakin sambil menggigit burger itu ke mulutnya, “Of Course.  Its yummy~ Aku sudah lama tak makan burger, dan karena kau..aku bisa memakannya lagi”, hibur Ririn dan membuat Siwon tersenyum simpul sambil mengacak rambut Ririn dengan lembut, “Thank you”.

Ririn mengangguk singkat dan kembali menekuni burgernya, “Kenapa kau tak makan juga?  Kau pasti lelah. Hampir seharian kau belum tidur, Siwon-ssi”, sela Ririn.  Siwon hanya menatap ke depan sambil menghela nafas berat, “Kemana lagi aku harus mencarinya?”, tanyanya bingung.   Kini wajahnya sudah menunjukkan raut frustasi, membuat Ririn khawatir.

Ririn memotong burgernya dan kini menyodorkannya kearah mulut Siwon, “Aaa~buka mulutmu”, ucapnya dengan nada seperti sedang merayu anak kecil untuk segera makan.  Siwon menatap potongan burger itu dengan enggan, tapi Ririn langsung menyela, “Otakmu tak akan bisa berpikir jernih jika perutmu kosong, Siwon-ssi”, jelasnya dan makin menyodorkan burger itu, “Aaa~ ayo, Siwon-ah…kau harus makan untuk tumbuh besar”, rayunya dan membuat bibir Siwon menyiratkan senyum tipis.

Akhirnya Siwon membuka mulutnya dan kini potongan burger itu masuk ke dalam mulutnya.  Ririn tersenyum senang dan mencubit pipi Siwon dengan gemas, “Aigoo~ anak baik, anak baik!”,  pujinya dan Siwon terkekeh pelan.  Kini Siwon menatap Ririn dan balas mencubit hidungnya dengan lembut,  “Thank you, Park Ririn”, ucapnya pelan dan kini Siwon menempelkan keningnya ke kening Ririn sehingga pandangan mata mereka langsung bertemu dengan dekat sekali, “Thank you, you’re here with me

——————————

Nara masih menatap kalung yang ada di hadapannya itu dengan pandangan shock, “Kau…Marcus?”.

Kyuhyun mengangguk pelan dan menatap gadis di hadapannya dengan pandangan yang tak dapat dijelaskan, “Aku Marcus.  Marcus Cho.  Pengantin seorang gadis bernama Nara, 12 tahun yang lalu”, ucapnya sambil menyentuh pipi Nara yang masih diam tak percaya.

Kyuhyun juga tak percaya bahwa kini dia bisa menyentuh wajah gadis yang dirindukannya semenjak 12 tahun lalu ini, sungguh sebuah hal yang entah harus disyukuri atau harus disesali olehnya.   Kyuhyun bersyukur bahwa akhirnya dia bisa bertemu dengan gadis yang amat dicintainya, tapi di sisi lain juga dia menyesal bahwa dia harus bertemu dengan Nara dalam keadaan penuh kesalahpahaman seperti sekarang.

Nara tak bisa menahan segala rasa bahagia yang membuncah di dadanya, dan membuatnya langsung menghambur ke pelukan Kyuhyun, “Sudah kuduga hal ini akan terjadi.  Aku tahu…bahwa kita pasti akan bertemu lagi”, ucap Nara sambil memeluk Kyuhyun makin erat seakan tak akan pernah mau melepaskan dan kehilangan rasa nyaman ini.

Kyuhyun masih bingung harus berbuat apa, hingga akhirnya dia hanya mengangguk singkat dan mengelus rambut Nara yang halus, “Tentu saja.  Itu adalah janji kita, dan janji itu tak boleh diingkari, bukan?”, ucap Kyuhyun pelan.

Nara melepaskan pelukannya dan kini menatap Kyuhyun, “Tapi…kenapa?”, tanya Nara singkat dan membuat dahi Kyuhyun mengerut, “Kenapa? Maksudmu?”, Kyuhyun balik bertanya.

“Kenapa…kau melakukan hal ini? Menculikku?”, Nara menanyakan hal yang sejak awal bersarang di otaknya.  Kyuhyun menghela nafas perlahan, menyadari bahwa cepat atau lambat Nara pasti akan menanyakan hal ini.  “Ceritanya panjang, Nara”, ucap Kyuhyun.

Nara mengangkat bahunya dengan ringan, “Bukankah selama 24 jam ini kita kan selalu bersama?  Kurasa 24 jam adalah waktu yang cukup untuk menceritakan ceritamu yang panjang itu, Marcus Cho”, ucapnya dan membuat Kyuhyun terkekeh pelan kemudian mencubit hidung Nara lembut, “Cara bicaramu masih tetap sama seperti 12 tahun lalu, selalu membuatku tak akan pernah bisa menolak segala permintaanmu”, jawab Kyuhyun pelan dan dibalas dengan senyuman lebar dari Nara.

“Ini hanya salah paham.  Aku sama sekali tak berencana untuk menculikmu, tapi entah mengapa aku malah menculikmu”, jelas Kyuhyun.  Nara memiringkan kepalanya, “Bagaimana bisa kau salah menculik orang?”, tanyanya heran.  Kyuhyun menatap Nara sekilas, “dia amat mirip denganmu.  Amat sangat mirip”.

Nara makin penasaran dengan sosok misterius yang dimaksud Kyuhyun, “Tapi, apa alasanmu melakukan penculikan ini, Marcus?  Aku yakin kau bukan orang jahat.  Lalu…kenapa?”, tanya Nara dengan pandangan nanar.

Kyuhyun mendesah dengan nafas berat, “Ini…demi Umma”, jawabnya.  Nara membelalak lebar, “Ahjumma?  Ada apa dengannya?!”, Nara mengguncangkan bahu Kyuhyun, mendesak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

Tepat saat Kyuhyun akan menjawab, suara deru mesin mobil itu mulai terdengar samar-samar dan membuat Kyuhyun langsung menarik Nara untuk kembali duduk di kursinya diikat semula.  “Hyung sudah pulang.  Kumohon, kau bertahanlah disini untuk sementara.  Aku akan mencari cara supaya kau bisa segera bebas dari sini”, ucapnya sambil mengikatkan kembali tali tali itu ke kaki dan tangan Nara.

Nara hanya bisa diam dan menggumam pelan, “Marcus, kau tahu?  Beberapa jenis kebahagiaan itu tidaklah mudah untuk dilupakan, tapi apakah beberapa jenis dari kebahagiaan itu dimulai dengan cara seperti ini?”.

Kyuhyun mendongak menatap Nara dan menjawab singkat, “Setiap pertemuan adalah jenis dari kebahagiaan.  Tak peduli kapan, dimana, juga siapapun yang kau temui dan bagaimana pertemuan itu akan berakhir…itu adalah jenis dari kebahagiaan.  Sama seperti sekarang, saat aku dapat bertemu denganmu ini adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira”, ucap Kyuhyun sambil beranjak berdiri dan kini menggunting sebuah selotip berukuran besar untuk ditempel di mulut Nara.  “Mianhae.  Tapi aku tak akan membuatmu menunggu lama, Nara”, tambahnya saat Kyuhyun akan menempelkan selotip itu.

Nara mengangguk singkat dan tersenyum tipis, “Sekarang aku tak akan merasa takut lagi, karena aku tahu bahwa kau ada di sisiku”.

————————————–

Donghae membuka jendela kamarnya dan  menyebrangi jembatan kayu dari kamarnya menuju kamar Nara.  Dia sempat mengintip sejenak ke dalam kamar, kamar itu masih kosong dan tak ada penghuninya.

“Bagaimana?  Nara ada disana?”, kata Haejin dari jendela kamar Donghae.  Donghae menggeleng dan masih berusaha menengok ke dalam kamar, “Tak ada siapapun.  Kau yakin kalau tadi Nara bilang dia akan segera pulang ke rumah?”, tanya Donghae sambil berbalik kea rah Haejin.  Haejin mengangguk, “Tadi dia bilang kalau dia akan kembali ke rumahnya.  Dimana lagi rumahnya jika bukan disini, ‘kan?”, ucap Haejin.

Donghae mendesah kesal dan menyebrangi jembatan untuk kembali ke kamarnya, “Tak ada cara lain, kita harus mencari Hyukjae dan menanyakan hal yang sebenarnya terjadi”.

—————————————-

Hyukjae berjalan dengan pandangan kosong. Dia tak tahu harus berjalan ke mana, benar-benar tanpa tujuan yang jelas.  Entahlah, yang dia tahu hanyalah dia ingin menenangkan pikirannya sejenak.  Pikiran dan otaknya benar-benar sudah dibuat gila oleh gadis yang mengaku sebagai Nara itu.

Setelah berjalan lama tanpa tujuan, akhirnya Hyukjae memutuskan untuk duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman bermain yang penuh dengan anak kecil.  Pandangan Hyukjae benar-benar kosong, tak ada satu titik yang menurutnya dapat dijadikan titik fokus.  Segalanya terasa…buram baginya.

Ingatan Hyukjae kembali melayang ke kejadian tadi.  Dia merasa bingung, kenapa dia harus semarah itu kepadanya?  Kenapa dia seakan tak bisa memaafkan hal yang dilakukan gadis itu? Apakah hal itu ada hubungannya dengan Nara? Karena dia telah berpura-pura menjadi Nara?

Hyukjae menggeleng kencang dan memejamkan matanya rapat-rapat, tidak…kekesalannya saat itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Nara.  Dia sama sekali tak memikirkan Nara pada saat gadis itu mengakui kebohongannya.  Tapi, jika kekesalannya bukan berawal dari Nara, lalu darimana semua emosi ini berasal?!

“Jangan bohong, Jaeyeon”, ucap sebuah suara tak jauh dari tempat Hyukjae berada.  Hyukjae mendongakkan kepalanya dan melihat seorang Ibu sedang berjongkok di depan seorang anak kecil, mungkin anaknya.  “Jujur saja pada Ibu.  Apakah kau yang mengambil mainan milik Yoogeun?’, tanya Ibunya sambil mengelus kepala anaknya.

Anak itu menggeleng dengan ragu tetapi sang Ibu tersenyum lembut, “Jaeyeon, kau tahu? Lebih baik kita mendengar sebuah kejujuran yang menyakitkan dibanding mendengar kebohongan.  Sebagaimanapun pahitnya kejujuran itu, tidak akan masalah bagi orang yang mencintai seseorang apa adanya.  Maka dari itu, Ibu ingin kau jujur, Jaeyeon-ah.  Karena Ibu mencintaimu”, ucap sang Ibu dan membuat anaknya mengangguk dan terisak pelan, “Ne, Umma.  Aku yang mengambil mainan Yoogeun~”

Hyukjae terdiam sejenak, mencoba mencerna setiap omongan yang dilontarkan oleh Ibu itu.  Ya, mungkin dari situlah perasaan kesalnya ini berasal.  Mungkin dari situlah semua emosi ini meluap, “Sebagaimanapun pahitnya kejujuran itu, tidak akan masalah bagi orang yang mencintai seseorang apa adanya”.  Hyukjae menginginkan kejujuran dari gadis itu, karena dia MENCINTAINYA. Ya~ amat sangat mencintainya, dengan apa adanya.

Dia mengangguk pelan dan tersenyum tipis, kini dia bisa mengartikan segala hal yang terjadi belakangan ini.  Tentang jantungnya yang selalu berdegup seribu kali lebih kencang saat bersama gadis itu, tentang otaknya yang mulai berhenti memikirkan gadis bernama Kwan Nara, dan tentang rasa kesalnya saat dia dibohongi oleh gadis itu.  Itu semua terjadi karena satu alasan : Hyukjae mencintainya.

Senyuman Hyukjae kini terkembang lebar dan dia terkekeh dalam hati, sungguh…dia amat sangat bodoh.  Kenapa dia baru menyadari hal ini sekarang?  Bahwa kini dia sudah bisa berhenti memikirkan Nara dan beralih ke seorang gadis yang bahkan belum dia ketahui namanya.  Tapi, ahhh…Hyukjae akan menanyakan hal itu nanti saat dia kembali ke rumah dan meminta maaf pada gadis itu.

“Hyukjae~~~”, seru sebuah suara dan membuatnya menoleh mencari sumber suara.  Hyukjae melihat Donghae dan Haejin berlari menghampirinya dengan tergesa, “Waeyo?”, tanya Hyukjae saat mereka berdua sudah tiba di hadapannya. “Nara…menghilang.  Dia..tak ada..di..rumah”, Donghae berbicara dengan nafas tersengal karena masih kelelahan sehabis berlari mencari Hyukjae.

Hyukjae langsung membelalakkan matanya lebar-lebar, “Nara?”, desisnya pelan dan segera menepuk dahinya dengan kencang.  Astaga, kenapa dia bisa melupakan nasib sahabatnya itu?!  Jika gadis tadi bukanlah Nara, lalu dimana keberadaan Nara yang asli?

“Dia tak ada dirumahnya?”, tanya Hyukjae.  Donghae dan Haejin menjawab kompak, “Ya, semenjak dari taman, dia bilang bahwa dia akan kembali ke rumahnya tapi kenyataannya di rumahnya tak ada siapa-siapa”, jelas Haejin.

Hyukjae menggeleng kencang, “Tidak, gadis yang di taman tadi bukanlah Nara.  Dia adalah orang lain”, jawab Hyukjae dan membuat mata Donghae dan Haejin membelalak lebar.

“Hah? Bukan Nara?”

——————————

Zhoumi menghentikan mobil yang dikemudikannya di depan rumahnya.  Dia membunyikan klakson beberapa kali untuk mengisyaratkan agar Kyuhyun segera keluar dari rumah.  Setelah bunyi klakson yang kesekian, akhirnya Kyuhyun keluar dengan tergesa.  Kini dia beranjak kearah Zhoumi yang sedang menyalakan pematik apinya dan mendekatkan ke rokok yang menempel di bibirnya, “Waeyo, hyung?”, tanya Kyuhyun hati-hati.

Zhoumi tak mempedulikan pertanyaan Kyuhyun dan pandangannya beralih kearah bangku di sebelahnya, tangan Zhoumi langsung mengangkat jaket kulit miliknya yang menutupi wajah dan tubuh Jiyoo yang sedang pingsan.  Tepat saat Zhoumi mengangkat jaketnya, air wajah Kyuhyun langsung berubah pucat dan dia langsung terbata, “Hyung, itu…”

“Siapa sebenarnya gadis di dalam itu? Apa dia benar-benar Choi Jiyoo?”, tanya Zhoumi dengan dingin dan membuat Kyuhyun langsung memutar otak untuk mengelabui kakaknya itu, “Ya, hyung.  Gadis di dalam rumah memang adalah Choi Jiyoo”, ucapnya yakin.

Zhoumi menatap Kyuhyun dengan curiga, “Apa yang membuatmu seyakin itu?”, tanyanya menyelidik.  Kyuhyun menelan ludah gugup tapi dia berusaha menyembunyikan kegugupannya itu untuk menyembunyikan identitas Nara dari Zhoumi, “Karena…aku tahu dan aku bisa merasakan keberadaan orang yang telah membunuh Ibuku, hyung”, ucapnya tegas dan membuat Zhoumi mengangguk pelan.

“Baiklah, akan kita bahas hal itu nanti.  Sekarang ayo bawa gadis ini masuk ke dalam rumah dan saat dia sadar baru akan kita buktikan yang mana Choi Jiyoo yang asli”, ucap Zhoumi dan segera turun dari mobil untuk membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.

———————————-

“Aku menemukannya~!  Namanya Choi Jiyoo!”, seru Donghae semangat dari depan computer di laboratorium sekolah.  Kini mereka sedang mencoba untuk mencari informasi mengenai asal usul gadis yang mereka temui tadi, dan Hyukjae berpikir bahwa cara paling cepat adalah dengan menggunakan teknologi, yaitu Internet.

Haejin dan Hyukjae langsung menghampiri Donghae dan memperhatikan gambar yang tertera di layar computer, foto seorang gadis yang memang sangat mirip dengan Nara.

“Choi Jiyoo, anak kedua dari keluarga pemilik perusahaan Hyundai Dept Store.  Calon pewaris kedua dari beberapa cabang perusahaan Choi Corp.  Kakaknya, Choi Siwon adalah pewaris utama dan kini menjabat sebagai kepala direktur Choi Corp”, Haejin membacakan identitas yang tertulis di bawah foto gadis itu.  “Pewaris Choi Corp yang terkenal itu?  Hyundai Dept. Store?!  Bagaimana mungkin kita tak tahu wajah orang menakjubkan sepeerti itu?”, tanya Haejin tak percaya.

“Domisili mereka di Los Angeles.  LA?!  Aissh, pantas saja dia pintar berbicara Bahasa Inggris”, keluh Donghae saat membaca bagian identitasnya yang lain.  Sementara itu Hyukjae masih bingung, apa hubungannya antara Kwan Nara dengan Choi Jiyoo?.

Hyukjae beranjak meninggalkan Donghae dan Haejin yang masih asyik membaca biodata Jiyoo.  Dia mencoba mengingat segala hal yang bisa diingatnya, tentang terakhir kali dia berpisah dengan Nara saat di toilet taman dan kali pertama dia bertemu Jiyoo di toilet taman pula.

Hyukjae bisa mengingat bahwa ada sebuah mobil yang melintas di depannya saat dia baru keluar dari apotek dan di dalam mobil itu ada seorang gadis memakai seragam sekolah yang sama dengannya, Hyukjae tak bisa melihat wajah gadis itu karena mobil itu lewat dengan kecepatan tinggi.  Sedangkan saat itu dia melihat Jiyoo keluar dari dalam toilet dengan menggendong tas milik Nara, tanpa memakai seragam sekolah.

Nara yang menghilang tiba-tiba kemudian digantikan oleh Jiyoo dan kenyataan bahwa Jiyoo adalah anak dari pengusaha kaya membuat Hyukjae dapat menyimpulkan 1 kemungkinan : Jiyoo adalah korban penculikan tapi penculik itu salah target dengan menculik Nara yang mirip dengan Jiyoo.

———————————–

Pintu kamar tempat Nara disekap kini terbuka perlahan dan membuat Nara sedikit waspada, dia takut jika pria itu lagi yang masuk ke kamar dan berniat untuk kembali mengganggunya.  Dan ternyata benar, yang masuk ke kamar adalah pria itu lagi tapi tak lama kemudian Kyuhyun masuk setelahnya sambil membopong seseorang yang tubuhnya diselimuti oleh jaket kulit yang agak tebal.

“Baringkan dia di kasur”, suruh Zhoumi pada Kyuhyun dan Kyuhyun hanya menurut saja.  Setelah membaringkan tubuh itu di kasur, Zhoumi langsung mengangkat jaket yang menutupi wajah dan tubuh gadis itu sehingga sosok Jiyoo yang sedang pingsan langsung terlihat dengan jelas dan membuat mata Nara membelalak lebar saat melihat sosok yang sama persis seperti dirinya kini ada di hadapannya.

Zhoumi terkekeh geli melihat ekspresi Nara yang shock saat melihat Jiyoo, “Kenapa, Jiyoo-ssi? Bingung karena melihat sosokmu yang lain?”, tanyanya sambil mendekati Nara dan lagi-lagi menyentuh pipinya dengan penuh nafsu dan membuat Nara menjerit kencang.

“Hyung, apa yang harus kulakukan padanya?”, ucapan Kyuhyun membuat Zhoumi menghentikan aksinya pada Nara dan dia menoleh pada Jiyoo yang masih terbaring lemah.  “Ikat dia”, ucap Zhoumi singkat dan beranjak keluar kamar.  Tetapi sebelum keluar kamar, Zhoumi mencium pipi Nara dalam-dalam dan berbisik pelan, “Jika si pengganggu ini sudah kusingkirkan, maka kita akan menikmati waktu berdua saja, Jiyoo-ssi”, desisnya dan membuat Nara menggeleng kencang.

Tepat saat Zhoumi sudah keluar kamar dan berjalan menjauh , Kyuhyun langsung menghampiri Nara yang menangis terisak karena perlakuan Zhoumi tadi.  Kyuhyun langsung memeluk Nara dengan erat dan berbisik pelan, “Maafkan aku, tapi aku harus menghilangkan kecurigaan Zhoumi hyung padamu, Nara-ya.  Aku tak bisa mencegah perlakuannya padamu secara terang-terangan.  Maafkan aku”, bisiknya sambil masih tetap memeluk Nara yang terisak.

“Sekarang tenanglah, sebisa mungkin aku akan melindungimu. Arasseo?”, tanya Kyuhyun sambil tersenyum simpul dan membuat Nara mengangguk pelan.  Kyuhyun mengusap airmata di pipi Nara dan kemudian mengecup keningnya dengan lembut, “Saranghae”, ucapnya singkat sambil mengalungkan kalung kerang miliknya ke leher Nara.  “Kalung ini adalah jaminan bahwa aku akan selalu disisimu, kau tak perlu khawatir sekarang”, ucap Kyuhyun pelan dan kemudian dia beranjak pergi meninggalkan kamar karena Zhoumi memanggilnya untuk membicarakan rencana selanjutnya.

Saat suara langkah Kyuhyun sudah tak terdengar, Nara menatap gadis yang kini terbaring dengan tangan terikat di selusur tiang yang menyangga kasur itu.  Gadis itu sangat mirip dengannya, ya…amat sangat mirip.  Tapi, diakah yang bernama Choi Jiyoo yang dimaksud oleh Marcus dan pria itu?  Lalu kenapa mereka bisa amat sangat mirip?

—————————————-

T.B.C

Tears Of Polaris {4th Chapter}

C’mon Marcus. Let’s get in. Your friends are waiting inside”, EunHye membujuk anaknya itu untuk masuk ke dalam Panti Asuhan miliknya, tapi langkah Marcus seakan tertanam dalam-dalam ke tanah. Dia menggeleng kencang dan berusaha untuk berontak dari genggaman tangan Ibunya, “I don’t want it!! Let me go home”, serunya.

EunHye mulai kewalahan untuk menghadapi anaknya itu, tapi pandangannya langsung beralih saat sekumpulan anak perempuan berlari saling kejar-kejaran dan tertawa senang, “See? Do you want to play with them?”, tanya EunHye sambil menunjuk kea rah mereka. Marcus menggeleng lagi, “NO!! I don’t need friends in my life!”, ucapnya skeptic. EunHye menggeleng heran, dia hampir saja menyerah saat langkah anak itu mendekat kea rah mereka.

Ayo main~”, ucap anak itu dengan senyum lebarnya dan memperlihatkan sederet giginya yang belum rapi tapi amat menggemaskan. Anak itu mengulurkan tangannya kea rah Marcus dengan perasaan ringan. Marcus menatap uluran tangan anak itu dengan pandangan datar.

EunHye mengelus kepala anak itu dengan lembut, “Nara-ya, sepertinya dia tidak mau bermain karena kelelah…”, ucapan EunHye langsung terputus saat Marcus menyambut uluran tangannya dan kini mereka beranjak ke sekumpulan anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran. EunHye benar-benar shock, tak bisa mengatakan apa-apa. Marcus, anaknya itu kini menyambut ajakan Nara untuk bermain? Dia menggeleng heran tapi tak urung tersenyum simpul, “Sepertinya Marcus sudah bisa memilih gadis yang tepat untuknya”.

Sementara itu, Nara menoleh kearah Marcus, “Naneun Nara-ieyo. Ireumi mwoya?”, tanyanya. Marcus hanya menjawab singkat, “Marcus Cho”

———

KRRINGGG..KRRRINGGG..

Shut up!”, erang Jiyoo pelan. Tangannya meraba-raba sekeliling, mencoba mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya. Setelah menemukan weker itu, Jiyoo langsung memencet tombol off sehingga dalam seketika, suasana dikamarnya kembali senyap.

Jiyoo baru saja akan memutuskan untuk tidur kembali ketika terdengar suara gaduh yang berasal dari jendela kamarnya. Ia langsung menoleh dengan kesal dengan oknum yang mengganggu tidurnya itu, “Just shut your…”, ucapannya langsung terputus dan seketika itu juga rasa kesalnya langsung menguap terbang jauh saat melihat wajah yang terpampang di kaca jendelanya.

“Pagi~”, ucapnya singkat tapi dapat membuat kesadaran Jiyoo langsung mucul 100%. Kini tangannya langsung mengangkat nampan yang berisi roti bakar dan susu coklat yang mengepul hangat, “Cepat buka! Aku kedinginan di sini~”, ucapnya dan Jiyoo langsung bangkit dari kasurnya untuk membukakan jendela kamarnya hingga Hyukjae bisa masuk ke dalam.

Hyukjae menatap Jiyoo yang masih memakai piyama dan menggeleng heran, “Aigoo~ anak gadis apa yang baru bangun tidur jam segini?”, ucapnya sambil mencubit pipi Jiyoo pelan. Jiyoo meringis, “Appo, Hyukjae-ya”, gumamnya dan mencoba untuk mempraktikkan hasil latihannya saat membaca kamus bahasa Korea semalam suntuk.

Hyukjae hanya tersenyum simpul dan menyodorkan segelas susu coklat hangat padanya, “Ini, minumlah dan segera mandi! Kau lupa janji kita minggu lalu untuk jogging bersama?”, tanya Hyukjae. Jiyoo tampak blank dan hanya bisa menggumam heran, “Minggu lalu?”, dia menatap ke pakaian training yang dikenakan Hyukjae, pantas saja dia berpenampilan sporty seperti ini.

Hyukjae mendecak pelan dan mengacak rambut Jiyoo, “Nara-ya, kau memang pelupa!”, katanya dan membuat Jiyoo tersentak sejenak. Ahh..ya, aku Kwan Nara. Choi Jiyoo pabo~! Jangan sampai lupa bahwa kini kau adalah Kwan Nara. Ingat-ingat itu, Jiyoo.

Akhirnya Jiyoo hanya tersenyum simpul, “Ah, ya..mianhae. Aku lupa”, ucapnya pelan dan menatap ke segelas susu yang disodorkan oleh Hyukjae. “Itu..chocolate?”, tanya Jiyoo masih dengan aksen Inggris yang melekat. Hyukjae mengangguk singkat, “Yap, susu coklat. Ini susu kesukaan…”

“Aku tak suka susu coklat”, sela Jiyoo dan membuat ekspresi wajah Hyukjae langsung berubah. “Aku suka susu strawberry”, tambahnya dan makin membuat Hyukjae heran. “Kau..suka susu strawberry?”, ulang Hyukjae memastikan ucapannya.

Jiyoo mengangguk singkat dan beranjak mengambil handuk yang tergantung di lemari bajunya, “Baiklah. Aku akan mandi sekarang~ jadi, segera keluar dari kamarku”, usir Jiyoo sambil mendorong tubuh Hyukjae untuk keluar dari kamar. Hyukjae yang masih bingung, hanya mengikuti segala arahannya dengan pandangan blank. Hyukjae mengerutkan keningnya, mencoba mengingat ucapan Nara beberapa hari yang lalu.

“Aku benci strawberry. Lagipula kau aneh, mana ada pria sejati yang suka dengan susu strawberry?” Continue reading

Tears Of Polaris {3rd Chapter}

Hyukjae membuka tirai kamarnya yang menghadap langsung ke jendela kamar Nara. Dia melihat lampu di kamar gadis itu masih mati, belum menyala. Aneh, biasanya Nara langsung pergi ke kamar setelah pulang dari tempat les dan kemudian mengobrol dengan Hyukjae di atas jembatan kayu yang menghubungkan kamar mereka berdua.

Hyukjae mendesah pelan dan kembali menutup tirai jendelanya, “Mungkin sedang makan”, gumamnya pelan dan merebahkan diri di atas ranjangnya. Pandangannya langsung tertuju ke langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, otaknya masih sibuk memikirkan Nara, gadis yang…ah, entahlah, Hyukjae sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri.

Entah apa yang terjadi pada gadis itu, tapi ia merasa bahwa hari ini gadis itu terlihat berbeda. Amat sangat berbeda. Dan perbedaan yang terjadi pada Nara hari ini membuat perasaannya makin tak menentu dan mungkin…sedikit berdebar saat melihatnya.

Hyukjae menggeleng cepat, “Aniya, Hyukjae! Andwae~ Kau boleh suka siapapun selain dia. Kau…tak boleh melanggar janjimu”, gumamnya sambil mengepalkan tangannya. Pikirannya kembali ke kejadian 4 tahun yang lalu, kembali ke saat dimana dia melakukan sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

——– Continue reading

Tears Of Polaris {2nd Chapter}

P.S : Tears Of Polaris {TOP} ini dimulai dari chapter Introduction, jadi jika ada reader yang baru membaca dari chapter 1, harap membaca chapt Introduction juga.  Karena chapt itu nggak kalah penting dari chapter lainnya. :]  Gomawo~ *bow*

——————-

Langkah Hyukjae dan Jiyoo terhenti di depan sebuah ruangan.  Hyukjae mengecek jam tangannya lagi, “Aish, gawat!  Terlambat 10 menit”, rutuknya.  Jiyoo masih menatap ruangan di depannya dengan penasaran, sebenarnya kemana pria ini membawanya pergi?

Hyukjae menarik tangan Jiyoo dan menyuruhnya berdiri di balik punggungnya, “Biar aku yang akan menghadapi Jang Sensei, Nara-ya.  Kau tak usah takut!”, ucapnya.  Jiyoo mengerutkan keningnya dengan heran, memangnya hal apa yang harus dia takuti?  Mereka bukan sedang akan masuk ke kandang macan, bukan?

Hyukjae membuka pintu ruangan itu dengan perlahan dan sosok tubuh tegap itu langsung menyambut mata Jiyoo.  Seorang pria asing yang bertubuh agak gemuk dan memakai jas abu-abu itu kini sedang berdiri menghadap papan tulis sambil memegang sebuah spidol.  Pria asing itu menatap Hyukjae dan Jiyoo lekat-lekat dan kemudian tersenyum lebar, “Ah, are you the student from this class?  C’mon, just get in.  Class’ve started since ten minutes ago”, ucap pria itu.

Hyukjae terlihat agak shock sedangkan Jiyoo memiringkan kepalanya dengan heran, “I think he’s not scary”, bisik Jiyoo pada Hyukjae.  Hyukjae masih heran tapi dia melihat Donghae melambai pada mereka dari dalam ruangan, Donghae menunjuk 2 buah bangku kosong yang ada di sebelahnya, “Sini, duduk di sini!”, desisnya.  Dengan menahan segala rasa heran yang ada di pikirannya, Hyukjae berjalan kea rah bangku yang ditunjuk Donghae sedangkan Jiyoo hanya mengekor dibelakangnya.

“Dari mana kalian? Kenapa bisa terlambat?”, tanya Donghae saat Hyukjae baru menghempaskan tubuhnya di kursi.  Hyukjae menunjuk Jiyoo dengan telunjuknya, “Menunggu sang putri selesai berdandan di toilet taman”, ucap Hyukjae santai sedangkan Jiyoo masih membuka-buka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis.

Donghae memanggil Jiyoo, “Kau..berdandan?”, tanyanya tak percaya saat melihat bibir Jiyoo yang dipoles lipstick pink dan pipinya yang ditaburi bedak.  Jiyoo memiringkan kepalanya, masih agak bingung dengan apa yang diucapkan Donghae.  Sebenarnya dia masih agak kurang paham dengan bahasa Korea karena hampir sepanjang hidupnya ia habiskan di Los Angeles, “Hah?”, tanya Jiyoo. Continue reading