Tears Of Polaris {ENDING}

Nara masih bersemangat mengelilingi seluruh penjuru panti ini.  Dia merasa amat senang bisa kembali ke tempat pertama kali dia dibesarkan, terlalu banyak memori untuknya.  Sesekali dia menjerit histeris saat menemukan benda yang dikenalnya hingga membuat Kyuhyun khawatir, “Kau kenapa?  Ada apa?”, tanya Kyuhyun sambil bergegas kearah ruang tengah karena mendengar teriakan Nara.

Nara hanya tersenyum lebar, “Ini…aku menemukan gasing milikku saat berumur 5 tahun.  Aigoo~ternyata masih ada disini!!”, ucapnya semangat sambil memperlihatkan sebuah gasing berwarna coklat yang ada di tangannya dan membuat Kyuhyun melongo parah.  “Hanya karena itu?”

Sedangkan Jiyoo juga masih mengelilingi bangunan, tapi dengan maksud yang berbeda.  Dia sangat lapar, selama 1 hari disekap…perutnya sama sekali belum terisi oleh apapun.  Tangannya membuka setiap rak lemari yang ada di dapur, berharap ada makanan berjenis apapun yang dapat dikonsumsinya.  Tapi…nihil, yang ada di rak hanya debu atau beberapa ekor tikus yang sedang menggerogoti kayu rak lemari itu.

Karena tak berhasil menemukan apapun, akhirnya Jiyoo memutuskan untuk menghampiri Kyuhyun dan Nara yang sedang berbincang seru, mungkin membicarakan masa nostalgia mereka?  Entahlah…Jiyoo tak tahu dan tak ingin tahu mengenai hal itu.  Jiyoo menepuk bahu Kyuhyun pelan, “Kyuhyun-ssi, kau punya makanan?”, tanyanya langsung.

Kyuhyun menoleh dan menunjuk kea rah dapur, “Cobalah periksa ke dapur, mungkin ada sedikit bahan makanan untuk kita makan”, ucapnya ringan dan membuat Jiyoo menggumam, “Ya, sebenarnya ada bahan makanan untuk kita, tapi…kau lebih suka tikus panggang atau tikus rebus?”, ketusnya dan membuat Kyuhyun dan Nara mengernyit heran, “Maksudmu?”.

Jiyoo mendesah kesal, “Di rak lemari dapur itu hanya ada kawanan tikus.  Kau mau kubuatkan tikus panggang?”, jelasnya dan membuat Nara mengangguk paham, “Oh…Kukira kau benar-benar suka makan tikus, Jiyoo-ssi”, gumam Nara polos.

Kemudian Nara menengok kea rah Kyuhyun, “Marcus, bukankah di halaman belakang panti ini ada kebun kentang?”, tanya Nara, Kyuhyun mengangguk singkat.  “Kurasa lebih baik jika kita makan kentang bakar.  Bagaimana, Jiyoo-ssi?  Gwenchana?”, tanyanya pada Jiyoo.  Jiyoo hanya membalas, “Aku akan makan apapun, asalkan bukan tikus panggang atau tikus rebus”, ucapnya ringan.

Nara segera bangkit dari duduknya dan menarik tangan Jiyoo dengan semangat menuju kebun kentang yang ada di belakang panti, “Tunggu apalagi? Kkaja!”, serunya dengan semangat, dan Jiyoo hanya mengikuti langkah Nara dengan lunglai.

Dari belakang, Kyuhyun hanya tersenyum melihat kelakuan kedua gadis itu, “Wajah mereka memang sama persis, tapi kelakuannya…benar-benar seperti dua kutub yang berbeda”.

**********************************

Hyukjae kini berada di dalam bis yang mengantarnya menuju Rumah Sakit tempat jenazah Tuan dan Nyonya Kwan berada.  Dia melirik jam tangannya, pukul 03.00AM.  Ahh, pantas saja jika matanya benar-benar terasa amat berat dan dia terus-terusan menguap menahan kantuk.  Hyukjae menggosok matanya sejenak untuk mengusir segala rasa kantuknya dan menyenderkan kepalanya ke jendela di sampingnya.  Otaknya masih berputar cepat, bingung menebak-nebak keberadaan sahabat dan seorang gadis yang terus terusan mengganggu pikirannya.  “Yang pasti mereka masih ada di Korea kan?”, gumamnya pelan.

Dia mendesah lagi dan menghembuskan nafasnya ke jendela bus hingga kaca itu menjadi agak rabun karena uap dari nafasnya itu, jarinya malah menggoreskan satu persatu huruf yang kembali membentuk nama seseorang, “C-H-O-I…J-I-Y-O-O”.  Setelah menyadari bahwa dia menulis nama gadis itu lagi, Hyukjae langsung menggelengkan kepalanya kencang dan segera menghapus uap di jendela itu.  Dia mengetukkan kepalanya beberapa kali ke kaca jendela, mencoba fokus untuk berpikir.  “Hyukjae-ya, Fokus!!!  Tak ada waktu untuk ber-mellow ria seperti ini!”, gumamnya kepada dirinya sendiri, mencoba untuk memberikan sugesti.

Tidak lama kemudian, handphone Hyukjae berdering.  Diaa mengecek nama penelfon sebelum mengangkatnya, ‘Donghae?’, gumamnya dalam hati.

“Yoboseyo?”, sapanya lemah sambil menguap pelan.

Kau dimana?  Mau kutemani?”

“Anii, tak usah.  Aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan sampai di rumah sakit.  Kau istirahatlah, dan sampaikan pada wali kelasku bahwa aku tak sekolah hari ini, bilang saja aku sakit”, ucap Hyukjae sambil memijat keningnya yang tiba tiba menjadi pusing.

Donghae hanya menggumam pelan dan melanjutkan ucapannya, “Tadi aku habis menggeledah kamar Nara, dan aku menemukan banyak hal…”, ucap Donghae.  Hyukjae menjadi sedikit antusias, “Jinjja? Apa saja yang kau temukan?!”.

Uhmm, banyak.  Kebanyakan…aku menemukan pakaian dalam berwarna putih polos, lalu…”

“DONGHAE-YA!!!  KAU…?!”, Hyukjae berteriak dengan spontan hingga membuat supir bus itu terkejut dan membuat bus menjadi agak oleng.  “Ah, Jwosonghamnida, kisanim”, Hyukjae membungkuk meminta maaf saat supir itu mendelik tajam ke arahnya.

Hahaha, aku hanya bercanda.  Mana mungkin aku berbuat seperti itu pada Nara?  Aku hanya ingin memberikanmu hiburan saja”, gurau Donghae.  Hyukjae mendesah lega, setidaknya dia sudah menganggap bahwa Nara adalah adiknya sendiri maka dia sungguh tidak rela saat ‘rahasia pribadi’nya dibongkar seperti itu, “Lalu apa yang kau temukan?”, tanya Hyukjae.

Aku hanya menemukan…sebuah foto yang terlihat kusam, sepertinya foto dari bertahun-tahun yang lalu.  Aku yakin ada sosok Nara sewaktu kecil bersama beberapa anak lainnya dan dibalik foto ini…ada tulisan : panti asuhan Pyonggang”, ucap Donghae.

Hyukjae menyahut, “Lalu?  Apa ada hubungannya dengan kasus hilangnya Nara sekarang?”, tanyanya.  Donghae menggumam sejenak, “Entahlah, aku tak tahu.  Aku hanya melakukan perintahmu untuk mencari data apapun tentang Nara atau Jiyoo dan yang bisa kutemukan dari kamar Nara memang hanya foto ini, selain pakaian dalam itu…”, Donghae mengucapkan kalimat yang terakhir itu dengan suara amat pelan, nyaris berbisik.

“Hah?  Apa yang kau katakan?”, tanya Hyukjae karena suara Donghae yang menjadi samar.  Donghae hanya menjawab ringan, “Aniya, tak ada apa-apa.  Sudahlah, kau hati-hati di jalan, ok?  Akan kubuatkan surat izin untuk wali kelasmu”, ucap Donghae dan segera memutuskan pembicaraannya di telefon.

Hyukjae memasukkan handphone’nya kedalam saku, dan kembali menyenderkan kepalanya ke jendela bus.  Dia memejamkan matanya sejenak dan memikirkan kembali perkataan Donghae barusan, “Panti Asuhan Pyonggang?”, gumamnya pelan.

Tapi saat dia tengah sibuk berfikir, tiba-tiba supir itu meneriakkan nama Rumah Sakit tujuannya.  Akhirnya Hyukjae memutuskan untuk tak memikirkan tentang tempat bernama Pyonggang itu, yang ada di fikirannya sekarang adalah mengurusi masalah jenazah orangtua Nara, baru nanti dia akan mencoba memikirkan hal lain.  Ya, hal lain mengenai Panti Asuhan Pyonggang itu.

**********************

Zhoumi mengemudikan mobilnya menuju tikungan kearah Apgeujjong.  Sesekali dia melirik ke jam digital yang terpajang di dashboard mobilnya, pukul 03.30AM.  Sudah 2 jam berlalu sejak dia pertama kali berangkat untuk mencari keberadaan kedua gadis itu dan adiknya itu, dan sudah beberapa kali juga Zhoumi menguap menahan rasa kantuknya ditambah dengan sedikit rasa nyeri yang tiba-tiba sering muncul dari luka bekas pukulan di kepalanya itu.  Tapi demi memuaskan segala rasa nafsunya yang sudah membuncah, dia berusaha untuk tak mempedulikan rasa kantuknya dan masih melajukan mobilnya ditengah jalanan yang kosong dan sepi ini.

Zhoumi sempat kebingungan dan sedikit heran dengan jalanan yang kosong ini, karena sama sekali tak ada mobil ataupun kendaraan lain yang melintas.  Hal itu agak sedikit membuatnya cemas karena dia takut salah mengambil arah menuju Apgeujjong, dan jika dia salah arah…maka dia akan makin membuang waktunya untuk mengejar keberadaan mereka bertiga.  Zhoumi sangat tak menginginkan hal itu.

Tak lama setelah dia memikirkan hal itu, tiba-tiba lampu mobilnya menyorot sebuah mobil jeep yang terparkir di bahu jalan.  Lampu darurat di mobil itu menyala, menandakan bahwa mobil itu masih berpenghuni.  Zhoumi memutuskan untuk menanyakan arah yang tepat menuju Apgeujjong pada pengemudi mobil jeep itu, mungkin saja dia lebih tahu mengenai jalanan ini, karena jujur saja…Zhoumi baru pertama kali melewati jalan ini.

Akhirnya Zhoumi meminggirkan mobilnya dan berhenti tepat dibelakang mobil Jeep itu, kemudian dia keluar dari mobilnya dan mulai menghampiri mobil jeep itu.  Kaca mobil itu berwarna gelap hingga Zhoumi tak bisa mengetahui siapa sang pemilik mobil, karena tak memiliki pilihan lain…Zhoumi mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil beberapa kali hingga akhirnya kaca jendela mobil itu bergerak turun ke bawah dan menunjukkan siapa pemilik mobil jeep mewah ini.

JACKPOT!

**************************

Siwon mengerjapkan matanya beberapa kali dan mendengar ada suara ketukan di jendela mobilnya.  Dia menatap sekilas kearah jam digital di dashboard mobilnya, hampir pukul 04.00 pagi.  Hahh, sudah berapa jam dia tertidur?

Siwon mengerang sejenak dan akhirnya menoleh ke arah jendela di sampingnya.  Ada seorang pria dengan wajah lonjong dan hidung yang mancung sedang berdiri tepat di sampingnya, sedang mengeratkan mantel tebalnya karena udara diluar yang cukup menusuk tulang.  Siwon menguap pelan sambil menurunkan kaca jendelanya, “Ya?  Ada apa?”, tanyanya pelan.  Siwon bisa melihat ekspresi pria ini agak…terkejut?  Entahlah, Siwon memang paling tak bisa jika disuruh untuk menafsirkan ekspresi seseorang, dia tak berbakat dalam hal itu.

Pria disampingnya itu berdehem sejenak dan menggaruk kepalanya pelan, “Ah, Jwosonghamnida.  Saya kira anda tengah mendapat masalah karena mobil anda berhenti di jalanan sepi seperti ini”, ucapnya sambil tersenyum ramah.  Siwon hanya balas tersenyum sambil mengibaskan tangannya, “Ah, Its OK. Tak ada masalah yang berarti, saya hanya kelelahan dan memutuskan untuk tudur sejenak”, jelasnya dan membuat pria itu mengangguk paham.  “Baiklah, jika tak terjadi apa-apa pada anda, maka saya permisi saja.  Annyeonghaseyo”, ucapnya sambil membungkuk singkat.

Siwon balas menundukkan kepalanya pelan dan menatap kepergian pria itu, dia kembali ke mobilnya dan beranjak mengemudikan mobilnya hingga akhirnya menghilang di tikungan jalanan.  Siwon menguap lagi dan meregangkan tubuhnya sejenak, “Ah, benar…aku harus ke Pyonggang untuk memeriksa bangunan itu”, gumamnya pelan.

Setelah meneguk sedikit air mineral yang ada di bangku sebelahnya, Siwon menepuk pipinya beberapa kali untuk kembali memfokuskan pikirannya.  Kemudian setelah konsentrasinya kembali 100%, dia menggeser persneling kemudi dan melajukan mobilnya menuju Panti Asuhan Pyonggang.

*******************************

Niat awal Zhoumi untuk menanyakan arah jalanan, langsung menghilang begitu saja saat melihat wajah dibalik kaca jendela mobil jeep itu.  Hingga Zhoumi langsung berdalih menanyakan keadaan sang pemilik dan berbalik menuju mobilnya.

Zhoumi kembali menaiki mobilnya dengan perasaan senang yang membuncah, dia tak bisa menyembunyikan segala perasaannya hingga seringai khasnya kembali tergurat di wajahnya yang tegas.  Dia merasa segala jalan untuknya telah terbuka lebar, dia bertemu dengan Choi Siwon, kakak dari Choi Jiyoo.  Dan itu berarti sama saja dengan menemukan jalan untuk menemukan keberadaan 3 orang itu dengan lebih cepat.

Akhirnya Zhoumi mengemudikan mobilnya dan berbelok di sebuah tikungan kecil yang tak jauh dari tempat Siwon menghentikan mobilnya barusan.  Tikungan ini lebih berupa gang kecil dan gelap, sehingga saat Zhoumi mematikan lampu mobilnya…tikungan itu kembali menjadi gelap dan tak menunjukkan keberadaan mobil Zhoumi di dalamnya.

Zhoumi kembali memperhatikan ke belakang dan menunggu hingga mobil Siwon melintas di jalan raya.  Tak lama menunggu, akhirnya mobil Siwon kembali melintas dan Zhoumi segera memundurkan mobilnya keluar dari tikungan, matanya tak lepas dari mobil jeep milik pria itu.

************************

Nara dan Jiyoo menghampiri kearah Kyuhyun yang sedang berusaha membuat perapian dari kumpulan ranting dan daun yang ada di sekitar halaman panti.  Mereka membawa beberapa buah kentang berukuran besar di tangan mereka masing-masing, “Kita cuci dulu kentangnya.  Ayo, Jiyoo-ssi”, ucap Nara sambil mengajak Jiyoo kedalam panti, Jiyoo masih mengikuti langkah Nara dengan patuh.  Dalam hati, Jiyoo benar-benar merasa seperti seorang adik yang ‘harus’ patuh pada perkataan Nara.  Entahlah, padahal Jiyoo tak pernah merasakan perasaan segan seperti ini jika sedang berhadapan dengan Siwon.

“Nara-ssi…”, panggil Jiyoo saat mereka sedang membilas kentang itu di dalam baskom berukuran sedang.  Nara menggumam tanpa menoleh kea rah Jiyoo, dia masih berkonsentrasi pada kentang dihadapannya ini, “Hmm?”

“Kau…boleh memanggilku Jiyoo saja”, ucapnya pelan dan membuat Nara langsung menoleh cepat, “Heh?”, tanyanya tak percaya.  Jiyoo mengangguk, “Yah, kau tak usah memanggil Jiyoo-ssi.  Aku kira, lebih baik jika kita berbicara informal.  Bukan begitu, Nara-ya?”, ucapnya.

Nara hanya terkekeh pelan dan menggumam lagi, “Uhm, boleh saja, Jiyoo-ya. Hahaha~ kau tahu?  jika kita berbicara seperti ini, rasanya kita benar-benar seperti anak kembar”, ucap Nara sambil menumpahkan air yang ada di dalam baskom.

Jiyoo hanya menggumam mengiyakan dan tersenyum simpul, “Kurasa akan menyenangkan jika kita benar-benar dilahirkan kembar, Nara-ya”, Jiyoo mulai mengkhayal singkat, tapi Nara langsung menyenggol lengan Jiyoo, “Jika kita dilahirkan kembar, mungkin aku akan memanggilmu…”, Nara diam sejenak, seperti berpikir keras.

Twin?”, ucap Nara dan Jiyoo berbarengan.  Mereka sempat berpandangan tak percaya lalu kemudian malah tertawa bersama, “Ya~ kau mencuri ideku, ya?”, tanya Nara sambil menyemprotkan sepercik air kea rah Jiyoo.  Jiyoo hanya terkekeh pelan dan balas menyerang Nara, “Enak saja.  Kau tak tahu bahwa aku adalah si jenius Choi Jiyoo?”, balasnya.

Mereka tertawa untuk beberapa saat dan akhirnya kembali ke halaman panti sambil membawa keranjang yang berisi kentang yang telah mereka cuci.  Mereka sempat bersenda gurau saat sedang menghampiri Kyuhyun, hingga membuat Kyuhyun agak heran melihat sikap keduanya yang tiba-tiba menjadi dekat. “Ada apa dengan kalian berdua?”, tanyanya penasaran.  Nara dan Jiyoo hanya menggeleng pelan sambil terkikik berbarengan, “Aniya.  Tak ada apa-apa”, ucap Nara singkat dan dibalas dengan anggukan Jiyoo.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya api di perapian yang dibuat oleh Kyuhyun mulai menyala dan mereka mulai membakar kentang setelah menusukkannya ke dalam kayu untuk dijadikan pegangan pada saat membakar kentang itu.

Untuk beberapa saat, tak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka bertiga.  Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, sampai akhirnya Nara menyeletuk pelan, “Kau menyukai Hyukjae kan, Jiyoo-ya?”.

Jiyoo yang sedang menyantap kentang miliknya yang baru saja matang, tiba-tiba langsung tersedak saat mendengar ucapan Nara barusan.  “What’re you talkin’ about, huh?”, tanya Jiyoo tak percaya saat nafasnya sudah mulai teratur kembali.  Nara hanya terkekeh pelan dan melirik kearah Kyuhyun, “Marcus, aku tanya padamu : apa ciri-ciri dari seorang wanita yang sedang jatuh cinta?” , tanyanya singkat.

Kyuhyun hanya menjawab ringan, “Wanita itu akan tersedak saat mendengar nama pria yang dia sukai keluar dari mulut seseorang”.  Nara tersenyum simpul kearah Jiyoo yang masih menundukkan kepalanya. Nara berani bertaruh, pasti wajah gadis di hadapannya ini sedang memerah.  Aigoo~Lee Hyukjae…bagaimana bisa kau membuat gadis ini jatuh cinta padamu hanya dalam 2 hari?

“Kau tahu, Jiyoo-ya?  Hyukjae itu pria yang saaaaangat baik.  Aku berani jamin padamu bahwa dia akan menjagamu sebaik mungkin”, ucap Nara sambil beranjak duduk di sebelah Jiyoo.  Tapi Jiyoo langsung menggeleng kencang, “Tidak mungkin.  Dia pasti membenciku, karena aku sudah membohonginya.  Aku yakin itu”, lirih Jiyoo.  Nara mengerutkan keningnya, “Apa dia marah saat kau berbohong padanya?”, tanyanya dan dibalas oleh anggukan Jiyoo.

Kyuhyun mendehem pelan, “Uhm, sebagai laki-laki…aku ingin bertanya padamu, Jiyoo-ssi”, ucapnya singkat dan membuat Jiyoo mendongak menatap Kyuhyun.  “Bagaimana perasaanmu jika kau dibohongi olehku?”, tanya Kyuhyun.  Jiyoo diam sejenak, berusaha memikirkan jawaban hingga akhirnya menjawab, “It doesn’t matter for me.”.

Kyuhyun mengangguk  paham, “Lalu, bagaimana jika kau dibohongi oleh…siapa tadi namanya? Hyuk..jae?”, tanyanya memastikan.  Nara mengangguk mengiyakan omongan Kyuhyun, “Ya, Hyukjae.  Bagaimana perasaanmu?”.

Jiyoo berbisik lirih, “Aku akan…sedih dan menangis, mungkin”, ucapnya ragu.  Kyuhyun langsung menepuk tangannya, “Nah!  Itu dia!  Kenapa kau tak marah padaku saat aku membohongimu, tapi kau akan marah saat Hyukjae membohongimu?”, tanya Kyuhyun antusias.

Jiyoo sudah mengetahui jawabannya, hanya dia tak berani untuk mengucapkannya, “Itu karena…aku mencintainya dan aku ingin dia selalu jujur padaku”, ucap Jiyoo lirih.

Nara bertanya singkat, “Lalu kenapa Hyukjae marah padamu saat kau membohonginya?  Itu juga karena dia mencintaimu dan tak ingin kau berbohong padanya, Jiyoo-ya.  Percayalah padaku.  Kalian pasti saling mencintai”, ucap Nara sambil mengelus rambut Jiyoo dan mendekatkan kepalanya ke bahunya.

Jiyoo menggeleng pelan, “Tidak.  Itu…tak masuk akal”, ucap Jiyoo, masih mencoba untuk memungkiri segala ucapan Kyuhyun dan Nara.  Tapi Kyuhyun langsung menggumam pelan, “If  you love someone, you’ll trust your heart, not your head, Jiyoo-ssi”, ucapnya dan membuat Jiyoo langsung diam seketika. Tak bisa berkutik apa-apa.  Omongan mereka berdua…benar adanya.

Nara kembali mendekati Kyuhyun dan menyuruhnya mengeluarkan handphone’nya.  Kyuhyun menyerahkan handphone’nya pada Nara kemudian Nara kembali beranjak kearah Jiyoo.  “Kadangkala orang tak pernah sadar bahwa ada cinta di hadapannya, jadi sadarilah sekarang, Jiyoo-ya”, ucap Nara sambil memencet beberapa nomor di handphone milik Kyuhyun.

Setelah selesai, Nara langsung menyerahkan handphone itu ke tangan Jiyoo.  “Ini, telfonlah dia dan beritahu bahwa kita ada di sini.  Dan beritahu juga isi hatimu, Ok?”, ucap Nara sambil menjitak kepala Jiyoo pelan.  Tapi Jiyoo segera menggeleng kencang, “Aku…tak mau melakukannya”, ucapnya lirih.

Nara langsung mendengus pelan, “You want something but you don’t want to try.  It’s like you want to swim without getting wet, Jiyoo-ya.  Sudahlah, cepat telefon dia~”, paksa Nara dan segera mendorong tubuh Jiyoo untuk masuk ke dalam panti.  “Tenang saja, kami tak akan menguping!”, seru Nara sambil menutup kedua telinganya, seakan-akan tak mendengar apapun.  Jiyoo hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan, “Wish me luck, twin~”, ucapnya sambil mengacungkan tangannya.  Nara balas mengangguk pelan, “Hwaiting~!”.

Begitu Jiyoo sudah masuk ke dalam panti, Kyuhyun langsung menatap Nara penasaran, “Twin?”, tanyanya.  Nara hanya terkekeh pelan, “Wae?  Bukankah kami terlihat seperti pasangan kembar?”, gumamnya.  Kini Nara beranjak  kearah Kyuhyun dan kembali duduk di sampingnya,  “Kau tahu, kita seperti cupid ya?.  Menjodohkan mereka berdua.  Hahaha~”, tanya Nara sambil terkekeh senang.

Kyuhyun menjitak kepala Nara pelan, “Kalau kau cupid, berarti aku adalah evil.  Dan tugas evil adalah membunuh cupid”, guraunya.  Nara menggumam tak peduli, “Bunuh saja aku kalau kau berani.  Mana mungkin Marcus Cho berani membunuh Kwan Nara.  Iya kan?”, balasnya.

Kyuhyun terkekeh gemas dan langsung pura-pura mencekik leher Nara kemudian berteriak kencang, “AKU AKAN MEMBUNUHMU~!”.  Nara yang menyadari bahwa Kyuhyun hanya main-main, langsung berpura-pura tersiksa dengan cekikannya, tapi suara itu langsung membuat Nara dan Kyuhyun menoleh bersamaan.

“JIYOO-YA!!”

Kyuhyun meneguk ludahnya dengan berat saat melihat sosok pria bertubuh tegap itu berderap ke arahnya dengan penuh emosi, “Choi Siwon?”

*************************

Siwon menghentikan mobilnya tepat di depan panti asuhan Pyonggang.  Dia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman panti, dan hal itu agak membuat Siwon penasaran.  “Bukankah seharusnya tak ada yang menghuni panti ini lagi?”, gumamnya dan beranjak keluar dari mobil.  Dia memperhatikan mobil itu sebentar, tapi perhatiannya langsung teralih kea rah halaman belakang karena dia melihat cahaya dari arah situ, seperti cahaya…api?

Siwon mulai merasakan ada perasaan yang tak mengenakkan saat melihat cahaya itu, maka dia langsung berderap cepat menuju ke halaman belakang.  Dan saat dia sampai di situ, Siwon melihat sosok adiknya…ya, Choi Jiyoo ada di situ!  Bersama seorang pria yang sedang mencekik leher Jiyoo, dia berteriak, “AKU AKAN MEMBUNUHMU~!”

Siwon tak bisa diam lagi, apalagi saat melihat wajah Jiyoo yang seakan benar-benar tersiksa dengan cekikan pria itu.  Siwon segera berderap kearah pria itu, dan dalam sekejap…yang bisa diingat Siwon adalah, pria itu sudah tersungkur di atas tanah dengan darah yang mengalir dari bibirnya yang sobek.

“Hentikan!!”, Jiyoo menahan tangan Siwon untuk kembali melayangkan pukulan kea rah pria itu.  Emosi Siwon sudah benar-benar meluap, otaknya sudah tak bisa berpikir jernih lagi.  Yang ada dipikirannya kali ini adalah, dia harus membalaskan segala perlakuan pria ini ke adiknya dan kepada keluarganya.  Pria ini ingin membunuh Jiyoo dan telah membuat Ibunya frustasi memikirkan keadaan mereka berdua.  Entahlah, otak Siwon sudah tak bisa berfungsi dengan baik.

Siwon menepis tangan Jiyoo hingga membuat adiknya itu tersungkur ke tanah, “Kau…diamlah!!” seru Siwon pada Jiyoo.  Kini Siwon menarik kerah leher pria itu dan kembali meninju wajahnya sambil menggumam, “Menghancurkan Choi Corp, hah?!  Ingin membunuh Jiyoo, hah?!  Itu yang kau inginkan?!”.  Siwon berteriak tepat di hadapan wajah pria itu, tapi pria itu menggeleng lemah, “Buk..kan.  Ini hanya…salah…”

Tiba-tiba saja tubuh Jiyoo sudah memeluk tubuh pria itu dari belakang, seakan ingin melindunginya, “Aku mohon…hentikan!  Dia..tidak ber..salah”, erang Jiyoo.  Siwon bisa melihat pelipis dahi adiknya itu berlumuran darah, ahh..apa mungkin dia terantuk sesuatu saat tersungkur ke tanah tadi?!  Argh, apa yang telah dia lakukan?  Kenapa dia malah melukai adiknya sendiri?!

“Jiyoo-ya, kenapa…”, ucapan Siwon terputus saat melihat ada sosok pria yang muncul dari kegelapan dan menyeringai licik kea rah mereka.  Posisi badan Jiyoo dan  pria penculik ini memang tengah membelakangi sosok pria itu, hingga hanya Siwon yang dapat melihatnya.  Siwon mengingat sesuatu, dia adalah pria yang tadi menanyakan kondisinya saat dia ada di jalanan tadi!!!  Untuk apa dia ada di sini?  Tapi Siwon membelalakkan matanya tak percaya saat melihat tangan pria itu mengangkat sesuatu, benda itu…PISTOL?!  Terarah kearah…punggung JIYOO?!

Siwon segera memutarkan tubuh Jiyoo hingga akhirnya kini posisi mereka telah tertukar.  Dan yang bisa Siwon rasakan sesudahnya hanya rasa perih dan panas yang tiba-tiba menyerang punggungnya.  Siwon merasa tenaganya seakan dihisap habis oleh rasa perih itu, hingga akhirnya dia ambruk.

Siwon benar-benar merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku.  Rasanya seluruh syarafnya tiba-tiba menjadi tak berfungsi, luka dipunggungnya ini terlalu…sakit.  Kini dia bisa mencium bau darahnya sendiri, arghh..Siwon benci menjadi lemah seperti ini!.  Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Siwon bisa mendengar sayup-sayup suara Jiyoo berteriak memanggilnya.  Ya, Jiyoo memanggilnya, “Oppa~!!  Bertahanlah!!  Oppa~Aku mohon, bertahanlah!!”

Siwon merasa sangat senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut adik kesayangannya.  Sudah lama rasanya semenjak dia mendengar Jiyoo memanggilnya dengan sebutan “Oppa”.  Sungguh, hal sesederhana itupun dapat membuat Siwon merasa senang.  Amat sangat senang.

Siwon berusaha membuka matanya dengan segala kekuatan yang ia punya, dan yang bisa dilihatnya kali ini adalah sosok Jiyoo kecil yang menangis dihadapannya.  Sosok Jiyoo yang seakan tak ingin kehilangan dirinya.  Sosok Jiyoo yang…menangis untuknya.

Siwon benar-benar bahagia karena dapat melihat sosok adiknya itu telah kembali untuknya.  Segala perjuangannya selama 2 hari ini tak sia-sia biarpun pada akhirnya Siwon harus merasakan rasa perih ini. Entah kekuatan darimana yang dapat membuat tangan Siwon terangkat lemah dan mengusap air mata yang mengalir dari mata Jiyoo, “Kau…tahu, Angela?  Aku, Mommy dan Daddy…saaangat men..cintai..mu.  Amat…men..cin..”, ucapan Siwon terputus karena tiba-tiba kegelapan seakan menyekap dirinya dan membawanya ke sebuah ruang yang amat jauh dari keberadaan adiknya itu.

************************

Jiyoo masuk ke dalam panti dengan hati berdebar. Dia sengaja mencari bagian panti dimana dia tak bisa mendengar segala sesuatu yang terjadi di taman belakang, tempat Nara dan Kyuhyun berada.  Tentu saja, dia tak ingin mereka berdua menguping pembicaraannya.  Biarpun mereka berdua telah berjanji untuk tak menguping, tapi…lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan?

Dia menempelkan handphone milik Kyuhyun ini ke telinganya dan mendengar nada sambung menuju handphone pria itu.  “C’mon Jiyoo~  Relax!  Take a deep breath and…

“Yoboseyo?”, tiba-tiba suara di seberang sana langsung membuat mata Jiyoo membelalak hingga dia lupa untuk mengeluarkan nafasnya dan malah terbatuk-batuk karena terkejut.  “Yoboseyo?  Nuguya?”, suara di seberang sana menyapa lagi, tapi Jiyoo masih belum berani mengatakan apapun.  Rasanya mulutnya benar-benar terkunci.

“Yoboseyo?”, lagi-lagi Hyukjae mengulangi ucapannya dan akhirnya Jiyoo memberanikan diri untuk berkata, “Its Me”, ucapnya singkat tapi langsung dibalas dengan teriakan Hyukjae, “JIYOO?!!  CHOI JIYOO?!  KAU CHOI  JIYOO?! Aigoo~Cepat katakan, kau ada dimana sekarang?  Aku sangat mengkhawatirkanmu!!”, desak Hyukjae cemas tapi tak urung membuat senyum Jiyoo terkembang simpul, “Kau…mengkhawatirkanku?”, tanyanya memastikan.

“Ya!!  Aku sangat mengkhawatirkanmu!  Jadi sekarang cepat katakan dimana kau berada!!”, seru Hyukjae.  Jiyoo masih tak menjawab pertanyaan Hyukjae karena kini dia sedang berjingkrak kegirangan dan berteriak tanpa suara, “AAA~Dia mengkhawatirkanku!!!!”, desis Jiyoo kesenangan.  Sementara itu, Hyukjae masih kebingungan karena tiba-tiba Jiyoo menjadi tak bersuara, “Yoboseyo, Jiyoo-ssi?  Cepat beritahu keberadaanmu sekarang!”, desaknya lagi.

Akhirnya Jiyoo mencoba menenangkan dirinya lagi dan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, tapi tetap saja dia tak bisa berhenti tersenyum lebar.  “Aku…ada di panti asuhan Pyonggang.  Bersama Nara dan…Kyuhyun atau Marcus ya?.  Aku tak tahu, tapi Nara memanggilnya Marcus”, gumam Jiyoo bingung.  Jiyoo dapat mendengar Hyukjae terkejut sejenak, “Nara…ada bersamamu?”, tanyanya dan lebih terdengar seperti ucapan lega di telinga Jiyoo.

“Ya, kau pasti bahagia kan mendengar Nara baik-baik saja?”, tiba-tiba saja rasa cemburu yang ada di diri Jiyoo langsung meluap lagi ke permukaan.  Aishh, mengapa dia harus cemburu seperti ini?!

Hyukjae terdengar terkekeh pelan dan menjawab ringan, “Tentu saja aku lega mendengar kondisi sahabatku baik-baik saja, tapi…aku lebih senang dan bahagia mendengar suaramu secara langsung”, ucapnya dan membuat Jiyoo merasa ingin pingsan saat itu juga.  “Kau…bahagia?”, tanyanya tak percaya.

Hyukjae mendehem mengiyakan, “Wae? Tak percaya?”, tanyanya sambil terkekeh lagi.  Jiyoo balas tertawa pelan, tapi entah setan dari mana yang merasuki tubuhnya saat mulut Jiyoo tiba-tiba berkata, “Hyukjae-ya, aku sangat men…”

DDOORR

Suara yang nyaring itu langsung membuat Jiyoo tersentak dan langsung menoleh ke jendela, tapi sialnya kini Jiyoo berada di tempat dimana dia berada lumayan jauh dari halaman belakang, tempat suara itu berasal.  “Suara apa itu?”, tanya Hyukjae yang samar-samar bisa mendengar suara itu dari telefon.  Jiyoo berujar pendek, “Akan kuhubungi kau nanti”, ucapnya dan segera memutuskan pembicaraan dan berlari ke halaman belakang.

Tapi Jiyoo benar-benar tak bisa mempercayai penglihatannya saat dia melihat sosok pria itu terbaring di tanah dengan darah yang mengucur deras dari tubuhnya.  Sosok itu…“SIWON?!”, teriaknya sambil berlari kea rah tubuh yang terabring tak berdaya itu.

Jiyoo menatap wajah kakaknya itu yang kini tersenyum perih menahan sakit saat melihatnya, “Opaa~!!  Aku mohon, bertahanlah Oppa~!!”, Jiyoo mulai kalap dan berteriak tanpa henti.  Dia tak berani menyentuh tubuh Siwon, bukan karena takut dengan darah yang megalir dari tubuhnya tapi Jiyoo takut apabila dia menyentuh tubuh kakaknya itu, maka dia akan membuat Siwon makin kesakitan, “Oppa, bertahanlah!  Aku mohon!”.

Tiba-tiba tangan Siwon terangkat perlahan dengan gemetar dan menyeka air mata yang keluar dari matanya, “Kau…tahu, Angela?  Aku, Mommy dan Daddy…saaangat men..cintai..mu.  Amat…men..cin..”, ucapan Siwon terputus seiring dengan tangannya yang kini tergolek tanpa tenaga tepat dipaha Jiyoo.

Jiyoo menggeleng kencang dan menepuk-nepuk pipi Siwon beberapa kali, “Siwon!  Bangun!!  Aku bilang…bangun!!”, suara Jiyoo mulai melemah.  Tapi kini pandangannya langsung teralih ke sosok Nara yang kini tengah memegang sebuah pistol yang mengarah kea rah Kyuhyun dan pria gila yang tadi menyekap mereka berdua.

Jiyoo menggeleng lemah, “Nara-ya, hentikan!!  Jangan lakukan itu!! Nara-ya…!!”

*********************

Nara melihat sosok pria bertubuh tegap itu ambruk tepat dihadapannya, darah merah pekat benar-benar mengalir tanpa henti dari tubuhnya.  “Ini..ini…”, Nara bingung harus bagaimana.  Kenapa pria ini harus menolongnya?!  Bahkan Nara tidak mengenalnya sama sekali, tapi kenapa pria ini harus menolongnya?!

Kyuhyun menatap lurus kearah pria lainnya yang kini menghampiri mereka berdua dengan langkahnya yang panjang.  Pria itu…kawanan penculik yang pernah dihantam olehnya, bagaimana bisa dia ada disini?!

“Oke, aku salah sasaran.  Ini diluar rencana.  Tapi tak apa, toh kali ini aku sudah sama sekali tak mempedulikan uang tebusan itu.  Yang aku inginkan hanya…kalian harus mati”, desisnya dan kembali menodongkan pistolnya ke arah Nara.  Tapi dalam sekejap, Kyuhyun sudah menghantam tubuh pria itu dan meninju wajahnya dengan buas, “APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!”, teriak Kyuhyun sambil kembali meninju rahangnya hingga mulutnya mengeluarkan darah yang mengenai wajah Kyuhyun.

Nara masih diam, tak bisa melakukan apa-apa.  Seluruh otaknya benar-benar tak berfungsi dan masih dipenuhi pertanyaan mengenai pria yang bersimbah darah ini.  Tapi, pertanyaan itu langsung terjawab saat Nara melihat Jiyoo keluar dari dalam panti dan langsung berteriak kencang saat melihat pria yang tergelatk di tanah itu.

Nara mengerti semuanya, pria itu adalah keluarga Jiyoo.  Dan pria itu menyelamatkan nyawanya karena dia menyangka bahwa Nara adalah Jiyoo.  Dan itu berarti sama saja dengan kenyataan bahwa Nara’lah yang membunuh pria itu.  Arghh, otak Nara seakan ingin meledak sekarang  juga.

Nara memegang pelipisnya yang kini mengeluarkan darah makin banyak dan makin membuatnya pusing.  Rasanya tanah di sekelilingnya bergoyang tanpa henti dan membuatnya mual.  Lutut Nara sudah tak kuat menopang beban tubuhnya hingga akhirnya dia jatuh berlutut, tangannya masih memegang pelipisnya yang makin berdenyut hebat.

Nara bisa mendengar suara Jiyoo yang terisak dan teriakan Kyuhyun dengan pria itu yang sedang berkelahi hebat, tapi sungguh…Nara tak bisa melihat apapun saat ini.  Dia hanya bisa mendengar dan merasakan bahwa bumi ini berguncang hebat.  Apakah luka dipelipisnya ini berpengaruh amat besar terhadap seluruh system kerja syarafnya?

PRRAAKK

Nara melihat pistol berwarna hitam itu mendarat tepat di sampingnya dan kini dia menatap lurus ke depan, dia bisa melihat dengan jelas bahwa Kyuhyun tengah dihantam dengan hebat oleh tinjuan dari pria itu.  Nara tak bisa diam terus seperti ini!

Dengan segala tenaga yang tersisa, Nara mengambil pistol disampingnya itu dan menggenggamnya dengan tangan gemetar.  Rasanya seluruh tubuhnya menjadi panas seketika setelah memegang pistol itu.  Kini dia mencoba bangkit dengan terhuyung lemas.

Nara tak bisa melihat dengan jelas karena darah yang mengalir dari pelipisnya itu mulai menghalangi pendangannya, tapi dia sama sekali tak perduli.  Yang dia pedulikan kali ini hanyalah kata hatinya yang harus membalas semua yang terjadi atas Jiyoo dan Marcus.  Hanya itu yang ada dipikirannya sekarang.

“Nara-ya, hentikan!!  Jangan lakukan itu!! Nara-ya…!!”, Nara masih bisa mendengar bisikan Jiyoo sesaat sebelum Nara menekan pelatuk pistol itu.  Entah apa yang terjadi selanjutnya, Nara sama sekali tak mengetahui apapun karena tiba-tiba tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang yang terjal dan gelap hingga dia tak sadarkan diri.

********************************

Hyukjae mendengar suara nyaring itu dari telefonnya dengan Jiyoo barusan.  Hyukjae menggigiti kukunya dengan gelisah, dia merasakan ada hal yang tak mengenakkan dari bunyi nyaring itu.  Entahlah, perasaannya mengatakan bahwa itu adalah bunyi…pistol?!

Karena tak tahu dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya, akhirnya Hyukjae menekan nomor darurat di handphonenya, “Polisi?  Ada kejadian mencurigakan di Panti Asuhan Pyonggang! Tolong periksa kesana”, ucapnya cepat dan langsung mendapat respon tanggap dari pihak kepolisian.

Entah didorong dengan keinginan apa, Hyukjae juga meminta bantuan darurat dari pihak rumah sakit tempat dia berada untuk meminta ambulance dan mengantarkannya langsung ke Pyonggang.  Selama perjalanan kesana, Hyukjae hanya bisa berdoa supaya tak terjadi hal yang tak diinginkan olehnya terhadap kedua gadis yang disayanginya itu.

Beberapa lama kemudian, Ambulance bersama Hyukjae tiba di Panti Asuhan Pyonggang.  Hyukjae bisa melihat beberapa mobil polisi sudah lebih dahulu tiba di situ, dan langsung saja Hyukjae berlari kearah kerumunan yang ada di halaman belakang.  Sungguh…Hyukjae hanya bisa menganga lebar saat melihat keadaan halaman itu yang kini sudah penuh dengan percikan dan rembesan darah dimana-mana.

Tim Paramedis dari pihak kepolisian melewati Hyukjae yang masih kebingungan, mereka membawa tandu yang diatasnya terdapat seorang pria yang tergolek tak berdaya.  Bahkan Hyukjae masih bisa melihat darah pria itu mengalir dari atas tandu itu.

Hyukjae mengedarkan pandangannya ke segala arah dan akhirnya dia menemukan sosok seorang gadis yang diam termenung dan menatap kea rah perapian dengan pandangan kosong.  Tubuhnya kini diselimuti oleh selimut dan dia terlihat menggigil ketakutan, “JIYOO-YA?!”, teriak Hyukjae kencang sambil berlari menghampiri Jiyoo yang langsung mendongak dan mencari sumber suara yang memanggilnya barusan.

Tangis Jiyoo langsung meledak saat melihat pria itu berlari cemas ke arahnya, untunglah…pria ini memang selalu datang disaat yang tepat untuknya.  Disaat Jiyoo benar-benar membutuhkan sandaran untuk segala kekhawatirannya.  “Kau baik-baik saja?”, tanya Hyukjae dengan khawatir sambil memegang wajah Jiyoo, berharap tak terjadi apa-apa dengan gadis yang dicintainya ini.

Jiyoo menggeleng pelan dan segera memeluk Hyukjae dengan erat, “Kakakku…Hyukjae-ya.  Siwon…Kakakku”, isaknya didalam pelukan Hyukjae.  Hyukjae mengelus punggungg Jiyoo, mencoba menenangkannya, “Sudahlah, Jiyoo-ya.  Kau harus mendoakan supaya kakakmu tenang di alam sana.  Semoga dia masuk surga dan arwahnya bisa…”

“APA MAKSUDMU?!  KAKAKKU BELUM MATI!!  Dia hanya dalam kondisi kritis!!”, Jiyoo berteriak kencang sambil menatap Hyukjae dengan pandangan bengis.  Hyukjae terlihat bingung, “Heh?  Belum mati?  Lalu, siapa yang tadi dibawa oleh paramedis tadi?  Bukankah dia kakakmu?”.

Jiyoo menggeleng pelan dan menatap kearah Kyuhyun yang sedang menemani Nara yang tengah pingsan dan kini sedang diberi infuse dan perwatan oleh tim paramedis.  “Dia…”

******************************

Kyuhyun menyibakkan poni rambut Nara dan kembali membersihkan darah yang merembes dari pelipisnya dengan sangat hati-hati.  Dia tak ingin menyakiti gadis ini untuk kesekian kalinya.  Cukup sudah gadis ini berkorban untuknya, dan kini giliran Kyuhyun untuk menjaga gadis di hadapannya ini.

Kyuhyun masih merinding setiap membayangkan tubuh Zhoumi yang terbaring di depannya dengan darah yang mengalir deras, sedangkan tubuh Nara yang  juga tergolek lemah dengan pistol ditangannya.  Sudahlah, dia tak ingin membayangkan hal itu lagi.  Yang ada dipikirannya kali ini adalah masa depannya mungkin akan menjadi lebih cerah bersama gadis  bernama Kwan Nara.

******************************

-Epilog-

TTRINGG..TTRINGGG..

“Osso Osseyo~”, sapa Jiyoo dan Hyukjae berbarengan saat bel yang menandakan kedatangan pelanggan berbunyi merdu.  Senyum Jiyoo langsung menjadi hambar saat melihat kedatangan pelanggan yang datang ke tokonya, “Kenapa malah kau yang datang kesini?”, gerutunya saat melihat Siwon yang datang dengan dibantu oleh kursi roda yang didorong oleh Ririn, kekasihnya.

Siwon hanya terkekeh pelan, “Hei, kau tak tahu aturan yang mengatakan bahwa pelanggan adalah raja?”, gurau Siwon dan Ririn hanya terkikik kecil.  Jiyoo masih memanyunkan bibirnya dan menggerutu lagi, “Ya ya ya, ucapkanlah hal itu sesukamu, pria sok sempurna”, gumamnya.

Tapi Hyukjae langsung menarik tangan Jiyoo untuk menghampiri Siwon, “Kakak ipar, kenalkan…Lee Hyukjae imnida, akulah calon adik iparmu.  Mohon bantuannya”, seru Hyukjae dengan senyum berbinar dan membuat Siwon menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Hmm, not bad.  Jiyoo-ya, is he your ideal type?”, gumam Siwon sambil mengerling kearah Jiyoo yang mukanya langsung bersemu merah.   Jiyoo hanya mendesah kesal dan segera berbalik menuju meja bar, “Whatever you say, Mr. Choi Siwon”.

Siwon tertawa ringan dan menunjuk satu meja yang masih kosong ditengah penuhnya pengunjung café ini dan Ririn segera mendorong kursi roda Siwon menuju meja itu.  “Adikmu itu…tetap keras kepala ya?  Selalu saja menganggapmu sebagai pria yang sok sempurna”, gumam Ririn sambil terkekeh pelan.  Siwon balas terkekeh dan menjawab pelan, “Biarpun tingkahnya seperti itu, tapi aku tahu bahwa dia sangat menyayangiku.  Mengetahui kenyataan seperti itu saja sudah cukup membuatku bahagia, Ririn-ah”.

Sementara itu, Hyukjae mengikuti langkah Jiyoo yang terlihat kesal, “Jiyoo-ya, boleh aku bertanya sesuatu?”, tanyanya dengan polos.  Jiyoo hanya menggumam pelan sambil kembali memasukkan buah strawberry kedalam blender untuk memenuhi pesanan pelanggan yang mengantri, “Hmm?”.

“Itu…kakakmu tadi bicara apa?  Aku tak mengerti sama sekali bahasa Inggris yang dia ucapkan”, ucap Hyukjae dengan polos dan langsung membuat Jiyoo menganga parah.

ChocoBerry Café, kini berdiri diatas bangunan Panti Asuhan Pyonggang.  Pembangunan cabang perusahaan baru milik Choi Corp, dihentikan atas permintaan dari Siwon sendiri sebagai kepala perusahaan Choi Corp dan Siwon menyerahkan kepemilikan bangunan Panti Asuhan Pyonggang itu pada Choi Jiyoo, adiknya.

Jiyoo yang awalnya ingin menyerahkan segala asset kepemilikan itu kepada Kyuhyun, mendapat penolakan secara halus oleh Kyuhyun sendiri.  Maka dari itu, Jiyoo memutuskan untuk membangun sebuah Café yang bertemakan Coklat dan Strawberry, ide yang didasarkan dari 2 minuman kesukaan dirinya dan Twin’nya, Kwan Nara.

TRRINGG..TRRINGG..

“Osso Ossey…”, ucapan dan senyuman Hyukjae langsung menghilang saat melihat pelanggan yang masuk ke dalam café.  Haejin dan Donghae masuk ke dalam café sambil berpegangan tangan dengan mesra dan tersenyum kea rah Hyukjae dan Jiyoo yang menatap mereka dengan jengah, “What’s Up, Bro’?”, sapa Donghae pada Hyukjae sambil menepuk bahunya dengan akrab.

“Donghae-ya, sebelum kau masuk ke sini…kau harus lunasi dulu hutangmu yang minggu kemarin, kemarin lusa dan kemarin”, gumam Hyukjae dengan jelas dan membuat ekspresi Haejin langsung berubah drastic, “KAU…MENGHUTANG?!  MEMALUKAN!!”, Haejin histeris dan langsung menyentakkan tangan Donghae kemudian meninggalkannya sambil menangis terisak.

“Aishh~Lihat pembalasanku nanti, Lee Hyukjae”, ancam Donghae sebelum berlari mengejar Haejin yang sudah berlari pergi duluan.

Jiyoo hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Donghae dan Haejin, “Pasangan yang unik”, gumamnya pelan sambil mengelap gelas-gelas di rak dengan lap di tangannya.  Tapi Hyukjae langsung bersender di meja yang menghadap kea rah Jiyoo dan berkata dengan nada menggoda, “Tapi hanya kau dan aku pasangan terbaik di seluruh jagat raya ini.  Keuraechi?”, tanyanya dan  langsung mendapat balasan timpukan lap dari tangan Jiyoo.  “Perbaiki dulu vocabulary bahasa Inggrismu itu”, gumamnya sebal dan dibalas dengan cengiran Hyukjae.

“Ngomong-ngomong, dimana Kyuhyun dan Nara?  Bukankah ini sudah jadwal mereka untuk bertukar shift dengan kita?”, tanya Hyukjae sambil mengelilingkan pandangannya ke sekeliling café.   Jiyoo menunjuk kalender, “Hari ini tepat satu tahun peringatan kematian mereka”.

*********************************

Nara meletakkan sebuket bunga itu diatas makam kedua orangtuanya dan berbisik pelan, “Umma, Appa…Nara datang lagi ke sini.  Apa kabar kalian disana?  Pasti senang sekali ya bertemu dengan Tuhan yang baik hati? Hahh~Nara juga berharap supaya bisa cepat bertemu dengan Tuhan dan bisa kembali bertemu dengan Umma dan Appa”, desahnya sambil mengelus nisan orangtuanya itu.

Tapi Kyuhyun langsung berjongkok di sampingnya dan menggenggam tangannya dengan erat, “Dan sampai saatnya itu tiba, tolong izinkanlah Nara berada disini bersamaku, Umma, Appa”, bisik Kyuhyun kearah nisan, mengikuti hal yang dilakukan oleh Nara barusan.

Nara hanya tersenyum simpul dan menyenderkan kepalanya ke bahu Kyuhyun, “Umma, Appa, kalian tahu bahwa sekarang aku memiliki kembaran?  Ya, namanya Jiyoo.  Memang bukan kembaran asli, tapi…aku merasa nyaman saat bersama dengannya.  Dan aku harap, Umma dan Appa dapat menganggap Jiyoo sebagai anak kalian juga”, ucap Nara sambil masih tetap menggenggam tangan Kyuhyun.

Dia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “Aku…sangat rindu kalian.  Tapi, aku mohon…berikan aku dukungan dari ‘sana’ untuk bisa terus bertahan tanpa kehadiran kalian berdua.  Kadang aku sering merasa takut karena kalian tak ada disampingku, Umma, Appa.  Aku…takut..”, ucapan Nara mulai menjadi isakan kecil.

Kyuhyun mengelus kepala Nara dan mengecup rambutnya pelan, “Aku tahu bahwa aku tak bisa menggantikan keberadaan mereka berdua, tapi setidaknya…aku akan selalu ada di sampingmu, Nara-ya.  Aku yang akan menjagamu, biarpun aku tahu bahwa aku tak akan bisa menjagamu sebagaimana orangtuamu menjagamu dulu, tapi aku akan berusaha untuk itu.  Kau percaya kata-kataku ini kan?”, gumam Kyuhyun sambil masih mengelus kepala Nara dan sebelah tangannya lagi menggenggam tangannya dengan erat.

Nara mengangguk singkat dan menghapus air matanya kemudian tersenyum simpul, “Selama kalung ini masih ada di leher kita berdua, aku akan selalu percaya kata-katamu, Marcus Cho”, ucapnya sambil memegang kalung yang melingkar di lehernya dengan liontin kerang yang menjuntai diujungnya.

Kyuhyun tersenyum senang dan bangkit dari jongkoknya kemudian mengulurkan tangannya kearah Nara, “Ayo, kita sudah terlambat.  Pasti Jiyoo dan Hyukjae akan marah jika jadwal shiftnya molor terus”, ucap Kyuhyun ringan.

Nara menerima uluran tangan Kyuhyun dan membungkuk untuk terakhir kalinya kearah makam orangtuanya, “Umma, Appa, Nara pulang dulu.  Lain kali Nara akan kembali mengunjungi kalian dengan mengajak Jiyoo.  Dan kalian pasti akan kaget dengan wajah kami yang begitu mirip”, , ucap Nara sebelum meninggalkan makam orangtuanya.

Selama perjalanan menuju mobil milik Kyuhyun yang berada di luar area pemakaman, Kyuhyun menggumam pelan, “Nara-ya, kau tahu?  Jika seorang pria amat sangat mencintai kekasihnya, maka hal yang paling ingin dia lakukan adalah mengubah nama akhir gadis yang dia cintai itu”, gumamnya sambil makin mempererat genggaman tangannya.

Nara menoleh pelan, “Heh? Maksudmu?”, tanyanya masih bingung dengan maksud dari ucapan Kyuhyun barusan.

Kyuhyun mendesah pelan dan menoleh kearah Nara, “Nara Kwan itu adalah nama yang bagus dan indah, aku akui itu.  Tapi menurutku akan lebih indah saat namamu berubah menjadi Nara Cho.  Bukan begitu, Mrs. Cho?”, ucapnya dengan kerlingan nakal.

Nara langsung menganga lebar dan memukul bahu Kyuhyun dengan sebal,”Kau sama sekali tak sensitive!!  Masa’ kau melamarku di area pemakaman seperti ini?!!”

********************************

-The End-

23 thoughts on “Tears Of Polaris {ENDING}

    • Wahhh, makasih udh mau jd kyunaration :’)
      *shed tears*
      Hahaha, brrti dlu blum smpet baca di sjff ya?😀

      Emang bener, disini yg jd evil couple itu lbih k jiyoo-hyuk .____.
      Kyunara masih adem ayem di sini😀
      Hehehe

      Makasih udh komen yaa

  1. author~ skalian aja ya disini komen part 1-8 nyaa~😀
    weh~ bgus bgt thor, gw ketar ketir bakal ada yg mati dari salah satu org itu (nara, jiyoo, kyu, wonnie.)
    ternyata smuanya idup hahaha xD
    good job thor🙂

    • Wuahh, iya deh gapapa ^___^
      Yg pnting udh brsdia ngasih komen jga makasihh😀
      Hahaha~ pdahal knapa ga nara/jiyoo yg dimatiin yaa?😄 biar makin ngenes.. Haha~😄

      Makasih udh komen ^^ *bow

      • heheheh~
        author, saking saia gregetannya sampe” saia ngomong sndri. xD
        aplg wktu bgian Kyu mau dibunuh ama Zhoumi xDD
        untungnya Nara ngebantuin😀 saia srsa jadi Nara hahahah~ xD

        Sama-sama😀

  2. cerita nya disni,kyuhyun sama personil SUJU lain nya belum saling kenal ya?

    tapi seru banget.. gw degdegan baca cerita nyaa,gw kira nara yg bakalan matii *plak

  3. ohahahaa.. abis nyaa,aku baca dari love games mathematic sampe WGM(5th) di sjff2010. nah pas pindah kesini,baru liat dehh yg inii. hehe

    keren keren banget dehh ff nya onnie😀. di tunggu banget nihh ff lanjutan nya lagi ya onnie😀

  4. aahh~
    daebak!!
    alur critany bkin deg2an..ckck
    *speachless

    *setelah beberapa jam nangring d sni, akhirny selesai jg TOPnyaa🙂

    Lanjutkan thor!

    *next, bca ff laen dsni😀

  5. huweeee..
    untung deh wonnie ga mati. tadi udah ketar ketirrrr..
    mimi gege mati T.T *garuk tanah
    hyukkieeee! kamu kok pinter ya? xD suka sama jiyoo-hyuk jae x)
    nara sama kyuhyun romantissss!!
    nah lo hae byar utang xD lol
    oke kyu romantis tapi timing ga tepat banget -____- kuburan nak kuburaaaan

  6. huweeeeee…
    untung deh wonnie ga mati. tadi udah ketar ketirrr .__.
    mimi gege matiii TT3TT *garuk tanah
    hyukkieeeeeee~! kamu kok pintar ya? x)
    nara sama kyu romantissss! .___.
    nah lo fishy bayar utang! *bawa golok* lol xD
    oke kyu romantis tapi timingnya kenapa ga tepat ya? ini dikuburan naaaaak -__-

  7. huaaaaa,
    anyeong aku reders baru disni^0^
    hoho, ririn imnida!
    Ckckck
    sumpah aku SUKAAA BANGETTTT SAMA NI FF!!!
    Huwaaaa KEREN THOR!! Suka bnget pas adegan tembak2an, cafe, n kuburan tdi!!
    DEABAK!!!
    Oh iya, it tdi nara ma jiyonya gak tau gitu kmbaran kandung? Trus ibunya siapa it sera atau apa lupa d.indtroducena tdi, gmana?? Aku bingung^^#dlemparsndalmaauthor
    hhehe AUTHOR SEQUELNA DONG! YaDONG^@^ #Plak

  8. Eonni. Reader baru! Shim hyun ah / shelma imnida. Mian baru komen di ending part. Bacanya ngebut tadi xD
    FF nya daebak! Keren! Walaupun aku pas baca awalnya agak ribet. Tapi rame xD aku juga suka bahasanya xD pokoknya nice ff!

  9. annyeong author…..salam kenal y?
    aq reader baru d sni, dan baru beres baca ff ne…jd komen’a sekalian ajah. gpp kan??
    slut buat action’a. tu c zhoumi sadis banged.
    aq pikir d antara twins tu bakal ada yang dead.
    tapi syukur deh akhir’a Happy Ending.
    trs masi blm puas sama kyunara’a….masi ramean jihyuk malah..

    I Like it deh pokok’a…..

  10. Hallo author, aku reader baru disini. Salam kenal^^
    Sesuai dengan judulnya ada kata tears, ff ini bener-bener ngebuat nangis kak. Suka banget sama kisah kyunara dan eunhyuk jiyo. Cerita mereka unik banget, terutama eunhyuk jiyo yang malu-malu gitu haha
    Kalo cerita kyunara sendiri menegangkan banget. Ceritanya gak terlalu bertele-tele tapi tetep bagus banget!
    Kisah siwon dan *lupa nama-.-* itu romantis banget. Si cewek yang setia banget sama siwon dalam suka dan duka menunjukkan kalo cinta mereka cinta sejati #eaaaa
    Seneng banget pasti kalo jiyo punya kakak kayak siwon huaaaa terharu banget sama pengorbanannya siwon T_T
    Nice ff banget pokoknya kak:D sukses terus!

  11. finally happy ending…

    bru sadar ternyata saiaorg terkhir yg koment di ff ini..#plaak# kirain ff bru ternyata oh ternyata..hhh..slhkan email yg telat menyampaikan brita…

    yeahh..lbh baik telat dr pd enggak sma sekalikan…kkkk~

    keren dah endingnyaindah pd waktunya..#prook-prook#

  12. Ayeeeeeeeeeeeeee, mreka smw akhrny hdup bhgiaaaaaaaaaa.. Seneng deh dngrny. Tp nara & jiyoo blm th ya kl mreka b2 emg bnrn kembar kandung? Tp ywdlah gpp, yg pnting mreka bhgia smuaaaaa..

  13. Sumpah ff ini keren bgt !!!!
    Finally, happy ending
    Yah walaupun Zhoumi’y meninggal, tapi ga apa2 yg penting Nara,Kyuhyun, & Jiyoo selamat
    Kalo liat pasangan Donghae & Haejin suka senyum2 sendiri😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s