{JunRim} P.O.T.R.E.T (Picture is Never Lies)

Jika camera adalah duplikat dari dirimu,

maka lensanya adalah matamu, dan tombol potretnya adalah hatimu.

Lihatlah dengan sederhana, dan tekan tombolnya.

Biarkan keindahan itu tetap terlihat asli tanpa memikirkan noise, iso, props, shutter, composites atau apa pun.

Cukup satu ‘klik’ dan simpan keindahan itu dengan apa adanya.

Itulah arti dari mencintai sebuah objek..”

#### Continue reading

Advertisements

Diary Of Boys Sitter {ENDING}

Leeteuk’s Car, 22 Desember 2009, 09.10am

“Akhirnya~ aku bisa kembali ke dorm!”, ucapku semangat sambil memasang sabuk pengaman pada kursi di samping pengemudi. Leeteuk hanya tersenyum simpul dan menyalakan mesin mobil. “Siap kembali ke rumah anda, tuan putri?”, ucap Leeteuk sambil mengacak rambutku pelan. Aku mengangguk semangat.

Mesin mobil mulai dinyalakan dan mobil beranjak meluncur di jalan raya. Aku menatap jalanan dan tersenyum tak henti saat membayangkan suasana dorm dan tingkah para member. Aku benar-benar tak sabar untuk segera sampai dorm. Aku tak sabar untuk segera menghabiskan sisa waktu’ku bersama mereka.

Aku memejamkan mataku sejenak, menarik nafasku dalam-dalam dan aku bisa melihat KwangHee yang ada di hadapanku. Ia menangis berlutut padaku, seakan menyesal atas segala yang terjadi padaku.

Aku membuka mata dan kembali menatap jalanan, “Aniyo, KwangHee. Gwenchana. Kau telah memberikan waktu pada Onnie dan Onnie akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin. Demi kau, para Oppadeul dan demi Jinki”, bisikku pelan.

Leeteuk menatapku heran, “Kau barusan bilang apa, Nara?”. Aku menggeleng pelan, “Aniyo~, bukan apa-apa. Ayolah Oppa, ppalii~ aku tak sabar bertemu dengan yang lainnya!!”.

=== Continue reading

Diary Of Boys Sitter {13th Diaries}

Kyochoon Hospital, 16 Desember 2009, 20.32pm

“Stop, Minho!!”, ucapku tergesa dari belakang bangku kemudi. Tanganku masih menggenggam tangan Nara yang makin dingin, wajahnya makin pucat. Terkadang ia mengerang kesakitan sambil mengcengkram tanganku, dia selalu berkata “Dingin”. Aku benar-benar bingung, jaketku dan jaket Minho sudah kusampirkan di tubuhnya, tapi ia masih tetap dingin? Sebenarnya dia kenapa?

Minho mengerem mobil dengan mendadak dan membuat kepalaku teranduk headrest bangku kemudi. “Aigoo~”, gerutuku. Minho hanya nyengir bersalah dari kaca spion. “Mianhae, hyung”, ucapnya dan mematikan mesin mobil. Aku mencibir sekilas dan menatap Nara cemas, “Nara..Nara!”, ucapku sambil menepuk pipinya pelan, tapi ia sama sekali tidak bereaksi.

“Hyung, dia sudah pingsan”,ucap Minho cemas. Aku menyentak kesal dan segera membopong tubuh Nara ke dalam rumah sakit. “Hyung!! Andwaee~ wajahmu bisa dikenali orang-orang!!”, seru Minho sambil menyamakan langkahnya denganku. Aku menatap Minho bingung, “Tapi..bagaimana dengan dia?”, ucapku panic. Nafas Nara mulai memburu, sepertinya dia benar-benar kesakitan!

Minho masih diam, sedangkan aku menatap ragu ke arah rumah sakit. Rumah sakit itu sedang penuh oleh pengunjung, jika aku nekat masuk ke sana..mereka pasti akan mengenali’ku!!. “Minho-ya, bagaimana sekarang?”, tanyaku bingung. Minho mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi tiba tiba pandangannya mulai fokus ke satu arah. Aku mengikuti arah pandangannya itu, ada sebuah mobil putih yang sedang menuju kea rah kami bertiga. Mobil putih? Aniyo, itu bukan mobil Van milik SuJu sunbaenim? Lalu siapa? Aigooo~ Andwae!! jangan bilang kalau itu wartawan?!!

Minho langsung menarik pundakku untuk kembali masuk ke dalam mobil dan bersembunyi. Aku hanya bisa mengikuti semua yang Minho lakukan. Rasanya kepalaku hampir mau meledak karena semua kejadian ini!! Aku sudah benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi!! Continue reading