Tears Of Polaris {4th Chapter}

C’mon Marcus. Let’s get in. Your friends are waiting inside”, EunHye membujuk anaknya itu untuk masuk ke dalam Panti Asuhan miliknya, tapi langkah Marcus seakan tertanam dalam-dalam ke tanah. Dia menggeleng kencang dan berusaha untuk berontak dari genggaman tangan Ibunya, “I don’t want it!! Let me go home”, serunya.

EunHye mulai kewalahan untuk menghadapi anaknya itu, tapi pandangannya langsung beralih saat sekumpulan anak perempuan berlari saling kejar-kejaran dan tertawa senang, “See? Do you want to play with them?”, tanya EunHye sambil menunjuk kea rah mereka. Marcus menggeleng lagi, “NO!! I don’t need friends in my life!”, ucapnya skeptic. EunHye menggeleng heran, dia hampir saja menyerah saat langkah anak itu mendekat kea rah mereka.

Ayo main~”, ucap anak itu dengan senyum lebarnya dan memperlihatkan sederet giginya yang belum rapi tapi amat menggemaskan. Anak itu mengulurkan tangannya kea rah Marcus dengan perasaan ringan. Marcus menatap uluran tangan anak itu dengan pandangan datar.

EunHye mengelus kepala anak itu dengan lembut, “Nara-ya, sepertinya dia tidak mau bermain karena kelelah…”, ucapan EunHye langsung terputus saat Marcus menyambut uluran tangannya dan kini mereka beranjak ke sekumpulan anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran. EunHye benar-benar shock, tak bisa mengatakan apa-apa. Marcus, anaknya itu kini menyambut ajakan Nara untuk bermain? Dia menggeleng heran tapi tak urung tersenyum simpul, “Sepertinya Marcus sudah bisa memilih gadis yang tepat untuknya”.

Sementara itu, Nara menoleh kearah Marcus, “Naneun Nara-ieyo. Ireumi mwoya?”, tanyanya. Marcus hanya menjawab singkat, “Marcus Cho”

———

KRRINGGG..KRRRINGGG..

Shut up!”, erang Jiyoo pelan. Tangannya meraba-raba sekeliling, mencoba mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya. Setelah menemukan weker itu, Jiyoo langsung memencet tombol off sehingga dalam seketika, suasana dikamarnya kembali senyap.

Jiyoo baru saja akan memutuskan untuk tidur kembali ketika terdengar suara gaduh yang berasal dari jendela kamarnya. Ia langsung menoleh dengan kesal dengan oknum yang mengganggu tidurnya itu, “Just shut your…”, ucapannya langsung terputus dan seketika itu juga rasa kesalnya langsung menguap terbang jauh saat melihat wajah yang terpampang di kaca jendelanya.

“Pagi~”, ucapnya singkat tapi dapat membuat kesadaran Jiyoo langsung mucul 100%. Kini tangannya langsung mengangkat nampan yang berisi roti bakar dan susu coklat yang mengepul hangat, “Cepat buka! Aku kedinginan di sini~”, ucapnya dan Jiyoo langsung bangkit dari kasurnya untuk membukakan jendela kamarnya hingga Hyukjae bisa masuk ke dalam.

Hyukjae menatap Jiyoo yang masih memakai piyama dan menggeleng heran, “Aigoo~ anak gadis apa yang baru bangun tidur jam segini?”, ucapnya sambil mencubit pipi Jiyoo pelan. Jiyoo meringis, “Appo, Hyukjae-ya”, gumamnya dan mencoba untuk mempraktikkan hasil latihannya saat membaca kamus bahasa Korea semalam suntuk.

Hyukjae hanya tersenyum simpul dan menyodorkan segelas susu coklat hangat padanya, “Ini, minumlah dan segera mandi! Kau lupa janji kita minggu lalu untuk jogging bersama?”, tanya Hyukjae. Jiyoo tampak blank dan hanya bisa menggumam heran, “Minggu lalu?”, dia menatap ke pakaian training yang dikenakan Hyukjae, pantas saja dia berpenampilan sporty seperti ini.

Hyukjae mendecak pelan dan mengacak rambut Jiyoo, “Nara-ya, kau memang pelupa!”, katanya dan membuat Jiyoo tersentak sejenak. Ahh..ya, aku Kwan Nara. Choi Jiyoo pabo~! Jangan sampai lupa bahwa kini kau adalah Kwan Nara. Ingat-ingat itu, Jiyoo.

Akhirnya Jiyoo hanya tersenyum simpul, “Ah, ya..mianhae. Aku lupa”, ucapnya pelan dan menatap ke segelas susu yang disodorkan oleh Hyukjae. “Itu..chocolate?”, tanya Jiyoo masih dengan aksen Inggris yang melekat. Hyukjae mengangguk singkat, “Yap, susu coklat. Ini susu kesukaan…”

“Aku tak suka susu coklat”, sela Jiyoo dan membuat ekspresi wajah Hyukjae langsung berubah. “Aku suka susu strawberry”, tambahnya dan makin membuat Hyukjae heran. “Kau..suka susu strawberry?”, ulang Hyukjae memastikan ucapannya.

Jiyoo mengangguk singkat dan beranjak mengambil handuk yang tergantung di lemari bajunya, “Baiklah. Aku akan mandi sekarang~ jadi, segera keluar dari kamarku”, usir Jiyoo sambil mendorong tubuh Hyukjae untuk keluar dari kamar. Hyukjae yang masih bingung, hanya mengikuti segala arahannya dengan pandangan blank. Hyukjae mengerutkan keningnya, mencoba mengingat ucapan Nara beberapa hari yang lalu.

“Aku benci strawberry. Lagipula kau aneh, mana ada pria sejati yang suka dengan susu strawberry?”

Hyukjae menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggumam pelan, “Aishh, perempuan memang sulit dipahami. Keinginannya itu selalu berubah-ubah”, ucapnya sambil memakan roti bakar yang tadi dibawanya. Tapi tak lama kemudian, matanya langsung membulat dan ia menjerit pelan, “Aiyaaa, kenapa aku memakannya?! Padahal ini sengaja kubuat untuknya~!”.

—————-

Marcus melangkah dengan semangat sambil membawa dua rantai kalung yang diujungnya teruntai kerang mungil berwarna putih. Dia berniat untuk memberikan kalung itu untuk seseorang yang berarti untuknya dalam 1 minggu belakangan ini.

Nara~!!”, panggil Marcus pada gadis yang asyik menggambar di bawah pohon rindang tak jauh dari tempatnya berada. Nara menoleh dan segera melambai semangat, “Marcus! Ayo kesinii~”, teriaknya kencang.

Marcus berlari dengan langkah ringan dan segera duduk di samping gadis kecil itu, “Sedang menggambar apa?”, tanyanya sambil mengintip ke arah gambar yang dibuat oleh Nara. Sang empunya gambar hanya tersenyum lebar dan menunjukkan hasil karyanya itu pada pria disampingnya, “Jja Jangg~!”, serunya semangat.

Kini Marcus melihat gambar sepasang pasangan yang berdiri berdekatan. Salah satu objek memakai gaun putih yang panjang dan anggun sedang objek lainnya memakai kemeja hitam yang membuatnya gagah. Marcus menatap gambar itu dengan heran, “Ini..apa?”. Nara berujar pelan, “Ini adalah gambaran mimpiku saat aku sudah dewasa nanti”, ucapnya santai. Marcus makin heran, “Mimpi?”

Nara mengangguk, “Aku ingin jadi pengantin yang memakai gaun yang saaangat indah”, ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Marcus hanya mengangguk pelan, “Oh, begitukah?”.

Tentu saja. Dan kau, apa mimpimu, Marcus?”, tanya Nara dan Marcus menggumam sambil berpikir sejenak, “Aku…ingin memakai kemeja hitam yang gagah dan berdiri di sampingmu yang tengah memakai gaun yang sangat indah”, ucapnya ringan dan membuat senyum Nara langsung terkembang lebar. “Bagus, Marcus! Aku setuju~”.

Marcus berkata singkat, “Kalau begitu bagaimana jika kita menikah sekarang?”, tanyanya semangat. Nara langsung mengangguk mengiyakan, “Tapi, tak ada cincin~”, gumamnya sedih.

Marcus langsung mengeluarkan sepasang kalung yang dibawanya dan langsung menunjukkannya pada Nara, “Aku punya barang yang lebih bagus daripada cincin, Nara”, ucapnya sambil memasangkan kalung itu ke leher Nara. “Bersedia menjadi pengantinku sampai kita mati nanti?”

Ya, aku bersedia”

———————

“Ayolahh~ lama sekali!!”, ucap Hyukjae sambil menyenderkan tubuhnya di pintu kamar Nara. Dia mengetukkan kepalanya beberapa kali kea rah pintu untuk mengusir rasa bosan yang menyerangnya karena menunggu temannya ini selesai mandi. “Kau bersemedi disana, Nara-ya?”

“Aiyaa, kau berisik sekali”, ucap Jiyoo sambil membuka pintu dan membuat Hyukjae yang sedang bersender di pintu langsung jatuh kea rah belakang dan membuat kepalanya terantuk lumayan kencang. “Aishh, tak bisakah kau membuka pintunya dengan lebih hati-hati?”, sungut Hyukjae sambil mengelus kepalanya pelan. Jiyoo hanya mencibir dan menguncir rambutnya kea rah belakang sehingga membuat gaya kuncir kuda, “I’m ready~”, ucapnya dan tersenyum lebar.

Hyukjae benar-benar merasa jantungnya terasa berhenti berdetak untuk sejenak saat melihat senyuman gadis di hadapannya ini. Senyuman itu..sangat berbeda dengan senyuman yang dilihatnya semejak 8 tahun lalu, senyuman ini mungkin dapat membuatnya gila. Dan akan makin membuatnya gila karena ia tak bisa memiliki senyuman itu semenjak ada pria tak dikenalnya bernama Marcus yang lebih berhak memiliki senyuman gadis ini.

“Halooo~”, ucap Jiyoo sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Hyukjae. “Lee Hyukjae~ masih sadar?”, tanyanya lagi sambil mendekatkan wajahnya kea rah Hyukjae, dan hal itu malah makin membuat wajah Hyukjae memerah. “Wajahmu memerah. Kau demam?”, tanyanya sambil menempelkan keningnya ke kening Hyukjae dan berusaha mengukur suhu tubuh mereka berdua. Jiyoo menggeleng dan menggumam, “badanmu tak panas, dingin malahan. Tapi kenapa wajahmu memerah?”, Jiyoo mulai heran dan menggaruk kepalanya bingung. “Atau..kita tak usah jogging saja?”, tanyanya khawatir.

Hyukjae langsung sadar dan menggeleng kencang, “Aniyaa, aku tak apa-apa. Ayo kita berangkat~!”, serunya dan berbalik berjalan mendahului Jiyoo yang masih menatapnya khawatir. “Kau yakin akan baik-baik saja?”.

Hyukjae menghela nafas sejenak dan menghembuskannya perlahan, ‘kau akan baik-baik saja?’. Sesungguhnya ia ingin menjawab ‘tidak, aku tak pernah baik-baik saja semenjak aku tahu Marcus’lah yang ada di pikiranmu saat ini’. Tapi seperti biasa, Hyukjae hanya bisa tersenyum dengan senyuman palsunya dan terkekeh pelan kea rah gadis di hadapannya itu, “Keurom, aku akan baik-baik saja. Selalu akan baik-baik saja”

—————-

Donghae melirik ke luar balkon, dia melihat Hyukjae dan Nara sedang berlari-lari kecil sambil mengobrol seru. Donghae tersenyum kecil dan segera mengambil handphone’nya yang tergeletak di atas kasurnya, ia memencet beberapa nomor yang akhir-akhir ini dapat dia hafal di luar kepala. Ia menunggu nada sambung selama beberapa detik sebelum akhirnya suara di seberang sana menyahut pelan, “Yoboseyo, Donghae-ya?”.

“Haejin-ah! Misi A sedang berlangsung. 2 target berjalan menuju taman untuk jogging”, jelas Donghae semangat. Dan suara di seberang sana langsung mendesis senang, “Jinjja? Bagus, kalau begitu..ayo kita lakukan misi kita ini”, seru Haejin cepat.

“Cepat ganti bajumu dan aku akan menjemputmu di rumahmu. Berdandanlah yang cantik untukku~”, ucapnya ringan dan segera mematikan handphone’nya kemudian memasukkan benda itu kedalam sakunya. Dia mendesah pelan dan melirik kea rah Nara & Hyukjae yang bayangannya mulai menghilang di tikungan jalan, “Hyukjae-ya, jangan marah padaku, tapi aku hanya ingin membantumu menggapai cintamu”, ucapnya santai dan beranjak kea rah lemari kemudian memilih baju training untuknya. “Ahh, apa Haejin akan suka baju berwarna biru?”

—————————————

Siwon masih menyetir mobilnya dengan waspada. Matanya tak pernah berhenti menatap segela penjuru jalan, berharap ada sosok adiknya sedang berjalan dengan santai dan telefon yang tadi masuk ke apartemennya hanyalah candaan dari orang tak dikenal.

Tapi itu semua tak akan pernah terkabul. Di sekeliling jalan yang dilihatnya itu sama sekali tak menampakkan sosok adiknya yang kini sangat dikhawatirkannya. Sama sekali tak ada petunjuk tentang keberadaannya.

Siwon memukul setir mobil dengan geram dan menggigit bibirnya, mencoba untuk tak menangis. Bagaimanapun juga, dia hanya manusia biasa..dia ingin menangis saat ini. Dia merasa bahwa dia adalah kakak yang gagal bagi seorang Choi Jiyoo, adik yang amat disayanginya.

Siwon menoleh ke sampingnya dan melihat sosok Ririn sedang tertidur pulas di bangku penumpang. Sepertinya dia benar-benar lelah karena mereka sudah mengelilingi kota Seoul selama seharian penuh tanpa henti. Siwon tersenyum sekilas, ia benar-benar bersyukur bahwa gadis ini ada di sampingnya dan dapat memberikannya dukungan pada saat yang sangat ia butuhkan. Biarpun baru beberapa hari mengenalinya, tapi Siwon merasa gadis ini mulai memberikan arti lebih bagi hidupnya. Dalam hati, Siwon benar-benar bersyukur dapat mengenalinya dulu.

Kini Siwon meminggirkan mobilnya ke bahu jalan dan setelah mobilnya berhenti, Siwon langsung melepaskan jaket tebal miliknya dan menyampirkannya di tubuh Ririn yang sedang tertidur. Ririn sempat tersentak sejenak tapi kemudian kembali tertidur lelap, Siwon terkekeh melihat kelakuan Ririn yang sangat menggemaskan. Dia mengelus rambut Ririn perlahan dan mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu, Siwon kembali mengemudikan mobilnya ke jalan raya untuk menemukan petunjuk keberadaan adiknya itu.

Tanpa Siwon sadari, Ririn tersenyum tipis dan menggenggam jaket tebal milik Siwon dengan perasaan bahagia.

————————————

Donghae dan Haejin kini melangkah pelan sambil menjaga jarak dari pasangan yang ada di depan mereka. Pakaian yang dikenakan Haejin dan Donghae kali ini benar-benar mencerminkan bahwa mereka adalah detektif sekaligus stalker handal, tapi malah menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka.

Haejin memandang jaket coklatnya, “Apa ada yang salah dengan penampilan kita?”, tanyanya heran saat seorang wanita menatap kea rah mereka berdua dengan pandangan yang tak dapat dijelaskan. Donghae hanya mengangkat bahu ringan dan merangkul leher Haejin dengan ceria, “jangan pedulikan dia. Mereka pasti hanya iri dengan kenyataan bahwa kita berdua itu cocok. Kau cantik dan aku tampan”, ucapnya penuh percaya diri dan membuat Haejin melayangkan jitakan ringan ke kepala Donghae.

Haejin kembali memandang Hyukjae dan Nara yang kini sedang membeli sebuah gulali ukuran besar, “Yaa~ mereka berdua itu cocok. Aku heran kenapa mereka berdua tidak jadian saja?”, gumam Haejin dengan pandangan heran. Lagi-lagi Donghae hanya menggumam ringan, “Karena saudaraku itu pabo. Tak sepertiku yang pintar dan bisa langsung membuatmu jatuh cinta”, lanjutnya.

Haejin memandang Donghae dengan pandangan jijik, “Ibumu melahirkanmu dengan gen percaya diri yang berlebihan ya?”, tanyanya. Donghae pura-pura berpikir keras dan menjawab, “Uhmm, tidak~ tapi sepertinya gen ketampanan yang ada di tubuhku ini terlalu banyak, Haejin-ah. Kau juga setuju kan?”, tanyanya sambil mencubit pipi Haejin lembut.

Haejin langsung menjulurkan lidah saat mendengar perkataan Donghae, “Dasar pria narsis”, ucapnya tapi tak urung membuat senyum Haejin kembali terkembang. Donghae juga ikut tertawa pelan, “That’s me, si narsis yang mempesona”

——————————–

Zhoumi menenggak kaleng bir di dashboard mobil dengan pandangan bosan. Dia mengemudikan mobil tanpa arah yang jelas, selama seharian penuh ia hanya berkeliling kota Seoul tanpa tujuan. Sesekali ia mampir ke beberapa club malam, tapi setiap kali ada gadis yang mendekatinya ia langsung beranjak pergi dan kembali berkeliling kota Seoul dengan mobil milik Kyuhyun ini. Entahlah, otaknya kali ini hanya terisi oleh sosok gadis yang ada di rumahnya itu. Choi Jiyoo, entah kenapa ia sangat tertarik dengan gadis itu. Amat sangat tertarik, hingga ia tak berminat untuk ‘bermain’ dengan gadis yang ada di sekelilingnya.

Tapi Kyuhyun mengganggunya, ya..tak pernah berhenti mengganggunya. Jika saja bukan karena ingin memanfaatkan otak dan fungsi’nya, Zhoumi tak akan pernah rela bekerjasama dengan anak itu. Karena anak itulah yang menghancurkan kehidupan keluarganya dan membuat Ibunya depresi saat mengetahui bahwa suaminya itu telah mempunyai anak dari perempuan lain : KYUHYUN CHO.

Dan anak itu dapat tinggal dengan segala kemewahannya yang diberikan oleh Ayahnya sedangkan Zhoumi tinggal di rumah kecil itu dengan Ibunya yang sakit-sakitan. Hingga pada akhirnya Ibu Zhoumi meninggal, jiwa liar yang ada di diri Zhoumi kini tak bisa lagi terbendung. Seluruh jiwanya kini benar-benar dipenuhi oleh rasa iri dan dendam atas segala hal yang didapatkan oleh ‘adik’nya itu.

Maka bukan salahnya jika Zhoumi yang membunuh Ayah’nya itu demi membuat Kyuhyun merasakan perasaan yang dulu pernah dialaminya. Maka bukan salahnya jika Zhoumi yang meracuni otak Kyuhyun untuk mengikuti segala keinginannya dan memanfaatkan kondisi Kyuhyun yang sedang labil dan emosi kepada Choi corp atas kematian Ibunya untuk memberikan keuntungan kepada dirinya sendiri.

Zhoumi terkekeh pelan dan menenggak bir itu lagi. Dia benar-benar puas kepada dirinya sendiri karena telah bisa menipu Kyuhyun Cho untuk menjadi budaknya. Amat sangat puas.

Lampu merah menyala dan Zhoumi menghentikan mobilnya tepat di barisan terdepan area zebra cross. Dia menatap ke depan dengan pandangan kosong sambil menyesap kaleng bir di tangannya, tapi matanya langsung membelalak lebar saat dia melihat sepasang wanita dan pria yang melintas di depan mobilnya sambil tertawa berbarengan.

Yang menarik mata Zhoumi adalah sosok wanita itu, dia…sangat serupa dengan Choi Jiyoo yang ada di rumahnya. Zhoumi mengerjapkan matanya beberapa kali, tetapi sosok itu tetap sama..wanita itu sama seperti Jiyoo.

Zhoumi mengambil handphone’nya dan segera menelfon Kyuhyun, tak akan pernah ia maafkan Kyuhyun jika ternyata yang ada di depannya ini benar-benar sosok Choi Jiyoo.

————————

Marcus kembali melangkah menuju Panti Asuhan milik Ibunya dengan langkah bahagia sehingga kerang yang tergantung di kalung yang ia kenakan juga ikut bergerak sesuai dengan irama langkahnya. Dia tak sabar ingin bertemu dengan Nara dan memberikan hadiah lain yang sudah ia persiapkan semenjak beberapa hari yang lalu, sekaligus menjadi hadiah terakhir karena ia akan kembali ke Canada pada lusa mendatang.

Marcus berkeliling di sekeliling panti, tapi ia masih tak menemukan sosok Nara. Dia tak ada dimanapun, hanya ada anak-anak panti lainnya yang sama sekali tak dikenalnya. Marcus merasa hatinya menjadi gusar, ada banyak firasat buruk yang menghampirinya saat ini juga.

Marcus, what’re you doing?”, tanya EunHye saat melihat Marcus yang kelihatan linglung mencari sesuatu. Marcus menatap Eunhye dengan tegas, “Where’s Nara?”, tanyanya to the point. Eunhye mendekati Marcus dan mengelus kepalanya pelan, “Nara is adopted by a family, they came yesterday and they brought Nara along with them”, ucapnya lembut.

Marcus langsung merasa dunianya berputar saat itu juga. Tidak, segalanya terlalu tiba-tiba hingga dia tak bisa percaya bahwa segala ini adalah kenyataan. Marcus kembali menatap Eunhye, “You lying to me!”, ucapnya skeptic dan segera meninggalkan Eunhye.

Marcus berlari ke belakang panti, kea rah sebuah pohon rindang tempatnya melihat Nara menuliskan segala impiannya dulu. Marcus menghela nafas dan terisak kencang, semua ini tak adil!! Dia sudah mengabulkan permintaan Nara untuk menjadikannya pengantin. Tapi kenapa Nara mengingkari janjinya dengan meninggalkannya tiba-tiba seperti ini?

.“Bersedia menjadi pengantinku sampai kita mati nanti?”

Ya, aku bersedia”

Kenapa kau mengingkarinya, Nara?

Kenapa?

——————————

DRRRRTT…DRRRTTT

Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali dan mulai sadar dari tidurnya karena handphone’nya bergetar, tanda ada seseorang yang menelfonnya. Dia langsung mengangkat telefon itu dan berkata dengan gumaman pelan, “Yoboseyo~?”

“Kau ada di rumah?”, suara berat di sana langsung bertanya tanpa basa-basi. Kyuhyun mengangguk pelan tapi kemudian menyadari bahwa orang di seberang tak akan mengetahui gerakannya ini, “Ah, yaa..aku di rumah, hyung”, jawabnya lemas sambil menguap pelan.

“Dia masih ada bersamamu kan?”, tanya Zhoumi cepat. Kyuhyun menggumam, “Hmm, aku kunci pintunya semenjak kemarin, jadi dia pasti masih ada di dalam kamar”, jawabnya.

“Cepat periksa sekarang juga!”, ucapnya singkat dan segera memutuskan pembicaraan. Kyuhyun menatap handphone’nya dengan heran tapi akhirnya beranjak kea rah kamar dan membuka kunci kamar dengan pasti. Yang menyambut matanya saat itu masih sama, seorang gadis yang terkulai lemas di kursi dengan tangan dan kaki yang diikat. Gadis itu sedang tertidur pulas, membuat Kyuhyun agak bingung dengan pertanyaan : bagaimana bisa dia tertidur dengan posisi seperti itu?

Lagi-lagi malaikat yang ada di diri Kyuhyun memiliki peran yang sangat kuat sehingga tanpa sadar di mendekat kea rah Jiyoo dan melepaskan ikatan di kaki dan tangannya. Tiba-tiba badan Jiyoo langsung oleng karena ikatan yang menahan tubuhnya itu tiba-tiba terlepas sehingga badannya oleng ke depan, tapi dengan sigap Kyuhyun langsung memeluk Jiyoo sehingga kini dia tengah berada di pelukan Kyuhyun yang tengah berdebar kencang.

Kyuhyun mencoba mengusir segala perasaan berdebarnya dan kembali melepaskan ikatan yang tersisa di kakinya itu tanpa mempedulikan degupan jantungnya yang berdebar seribu kali lebih cepat dari yang biasanya. Hingga akhirnya semua ikatannya terlepas, Kyuhyun kini menggendong tubuh Jiyoo untuk berbaring di kasur yang ada di kamar itu.

Kyuhyun melihat keringat yang mengalir di dahi Jiyoo, sepertinya dia mulai kepanasan karena jaket tebal milik Kyuhyun masih tersampir di tubuhnya. Lagi-lagi malaikat yang ada di jiwa Kyuhyun seakan menghipnotisnya untuk membantu Jiyoo, entah karena apa tapi sepertinya ia merasa itu adalah kewajibannya.

Kyuhyun membuka retsleting jaketnya dan membiarkan tubuh Jiyoo merasakan udara di sekelilingnya. Tapi mata Kyuhyun langsung terpaku ke benda yang menyembul dari saku seragam Jiyoo, seperti sebuah…kalung perak. Kyuhyun merasakan hal yang aneh saat melihat kalung itu, sepertinya dia amat mengenali bentuk rantai kalung itu.

Tanpa sadar, tangan Kyuhyun mengambil rantai kalung itu dan tak lama kemudian juga terlihat sebuah kerang kecil ikut menggantung indah di rantai kalung itu. Kyuhyun merasa segalanya benar-benar gelap hingga dia tak bisa mengerti apa yang sedang terjadi sekarang. Gadis yang ada di hadapannya ini adalah Choi Jiyoo, tapi kenapa dia memiliki kalung yang pernah ia berikan pada Nara? Kyuhyun yakin ini adalah kalung milik Nara karena tak ada lagi yang menjual kalung seperti ini dimanapun juga.

“Ini…bohong kan?”, gumamnya lirih dan dia merasa lututnya lemas dalam seketika. Sungguh ajaib lututnya masih bisa menopang tubuhnya untuk berdiri. Kyuhyun mendekati gadis yang tengah berbaring di kasur itu dan mengelus pipinya, “Kau..siapa?”

Gadis itu tersentak bangun karena sentuhan tangan Kyuhyun, dia tampak kaget saat melihat Kyuhyun yang ada di sampingnya, “Mau apa kau?!!”, tanyanya sambil menjauhkan dirinya. Kyuhyun masih bingung dengan apa yang harus dilakukan olehnya, sebenarnya siapa gadis dihapannya ini?!

Nara melihat kalungnya kini tengah digenggam oleh Kyuhyun, “Ya!! Itu kalungku!”, ucapnya sambil merebut kalung itu dari genggaman tangan Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun masih shock, tak bisa berkata apa-apa, “Kalungmu? Nara…?”, lirih Kyuhyun pelan sekali. Nara menatap Kyuhyun tak percaya saat mendengar namanya keluar dari bibir pria itu.

Kyuhyun mengharapkan jawaban ‘tidak’ atau ‘bukan’ yang keluar dari mulut wanita itu, tapi harapannya langsung musnah seketika saat gadis itu menjawab dengan nada heran, “Bagaimana kau bisa tahu namaku?”. Rasanya dia benar-benar seperti orang bodoh sedunia. Dia ingin berteriak dan memeluk gadis di hadapannya ini tapi dia juga ingin membunuh dirinya sendiri saat ini juga karena telah tanpa sadar menyiksa gadis yang amat dicintainya sejak 12 tahun lalu itu.

Nara masih heran saat melihat pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda yang amat dikenalnya. Benda yang amat sangat ia rindukan dan ia harapkan pemiliknya muncul dihadapannya saat ini juga. Tapi kenapa kalung ini mesti muncul di tangan penculiknya sendiri?!

“Kau…Marcus?”

————————-

Hyukjae memperhatikan gadis di sampingnya ini tertawa dengan bahagia. Hyukjae sama sekali belum pernah melihat sosok Nara yang tertawa selepas ini selama 8 tahun dia berteman dengannya. Dan hal ini membuatnya bahagia karena setidaknya dia bisa membuat senyuman gadis ini terkembang saat dia sedang bersamanya, bukan bersama Marcus.

Tapi kening Hyukjae kembali bertaut saat dia menyadari bahwa di pergelangan tangan Nara kini tak terpasang gelang yang pernah diberikan oleh orangtuanya saat ulang tahunnya yang ke 12. Hyukjae menggumam pelan sambil tak melepaskan pandangannya dari pergelangan tangan Nara, “Tanganmu..tak apa-apa? Tak merasakan sesuatu yang aneh?”, tanyanya.

Jiyoo melirik sekilas ke pergelengan tangannya dan menatap Hyukjae heran, “Tidak ada apa-apa. Waeyo?”, tanyanya sambil memakan gulali yang tadi dibeli oleh mereka berdua.

Hyukjae merasa pusing seketika. Segala yang terjadi selama beberapa hari ini memang terlalu aneh, amat sangat aneh. Hyukjae merasa..gadis ini bukanlah Nara, dia adalah sosok orang lain. Oke, dia mungkin bisa melupakan tentang janji jogging bersamanya seminggu yang lalu, tapi tak mungkin Nara yang asli bisa melupakan gelang yang pernah diberikan oleh orangtuanya, karena setahu Hyukjae..Nara selalu menjaga 2 barang yang dianggapnya sangat berharga : Kalung pemberian Marcus serta Gelang pemberian Orangtuanya.

Hyukjae menggenggam tangan Jiyoo dengan kasar, dia merasa bahwa kecurigaannya kali ini harus terbukti. “Kau Kwan Nara, ‘kan?”

Gadis di depannya ini tampak kaget untuk sejenak tapi kemudian menjawab dengan lirih, “Yyya..Ya”.

“Kapan tanggal lahir Kwan Nara?”

“Uhmmp, itu…”

“Siapa nama orangtua Kwan Nara?”

“Aku…”

“Kemana gelang pemberian orangtua Kwan Nara yang biasanya selalu melingkar di tangannya?”

“Hyukjae-ya…”

“JAWAB PERTANYAANKU!!”, teriak Hyukjae tanpa bisa menahan emosinya lagi, sedangkan gadis itu masih menunduk dalam. Tak bisa berkata apa-apa.

“Kau…sebenarnya siapa? Kau..bukan Nara,’kan?”

————–

T.B.C

4 thoughts on “Tears Of Polaris {4th Chapter}

  1. KYUNARA BERSATUUUUU! marcus cho dan chrystal kwan :3
    ahhhh HyukJae galaaak!! takuuut >.<
    semakin penasaran nih,berarti yang disukai hyuk jiyoo dong kalo dia CLBK sama nara yang padahal jiyoo *oke aku bingung sendiri sama kata2ku -_-
    lanjuuuuut!😀

  2. m-mweoya???? jd kyuhyun itu adik zhoumi tp lain ibu????? what the *!!! aigoo…shock dahh..

    tp -tp lega dehh,akhirnya kyuhyun tau gadis yg ada didepannya itu adalah nara..#tepok tangan#
    sekarang tinggal bagsimana cr melindungi nara atau jiyoo dr tangan zhoumi??

    dan satu lg,akhirnya hyukjae menyadari gadis yg ada didepannya itu bkn nara..#tepok kaki#

  3. YeeeeeEeeeeyyyy nara & kyu akhirny saling mngenal lg.. Jd kyu bs lindungin nara dr zhoumi. Tryt zhoumi tu jahat to. Ckckckck. Mga aj kyu bs scptny sadar. Tu hyukjae akhirny jg sadar kl jiyoo bkn nara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s