Miracle Perfection : Satu.

SATU

“Yong Junhyung!”

Teriakan kencang itu seakan mengiringi pandangan mata Junhyung yang semakin kabur. Sekarang, semua yang ia lihat menjadi serba buram. Tidak hanya itu, kepalanya terasa sakit bukan kepalang dan hidungnya pun dapat mencium bau amis darah yang ia rasa mengalir dari berbagai sudut wajahnya.

Ia tahu itu. Sangat tahu.

“YA! Yong Junhyung! Kau tidak apa-apa? Jawab aku!” pria yang sejak tadi meneriakan nama Junhyung itu kini tengah berlari menghampiri posisi di mana Junhyung berada. Pria itu langsung mengguncangkan bahu Junhyung pelan, memastikan bahwa Junhyung masih hidup dan memiliki kesadaran, biarpun itu hanya sedikit.

“Junhyung-ah! Aku Kyuhyun! Cho Kyuhyun!” pria itu mengucapkan namanya lagi dan lagi karena Junhyung tak kunjung menjawab apapun. “Ya! Kau masih hidup, kan?”

Kyuhyun melihat Junhyung membuka matanya sekilas lalu menutupnya kembali. Setelah itu, terdengar erangan pelan dari mulut Junhyung yang terus menerus mengalirkan darah segar. Sudut bibirnya yang sobek itu membuat Kyuhyun agak ngilu melihatnya. Ia bahkan dapat melihat aliran darah segar mengalir dengan jelas walaupun suasana di gang ini tampak remang-remang karena tidak memiliki penerangan yang cukup.

Sayup-sayup, telinga Kyuhyun bisa mendengar bunyi sirine mobil polisi yang datang mendekat ke tempat mereka berada. Kyuhyun langsung merasakan bulu kuduknya meremang hebat. Ini adalah hal terburuk yang selalu ingin ia jauhi sejauh mungkin. Dan jika ia masih diam disini, Kyuhyun yakin hal terburuk itu akan menjadi sebuah kenyataan yang akan menghancurkan segalanya. As soon as possible.

“Aish! Kyuhyun merutuk pelan dan langsung meraih pundak Junhyung dengan sentakan yang agak kasar, tidak memedulikan tubuh sahabatnya yang sudah babak belur. Tanpa menunggu lama, Kyuhyun segera menggendong Junhyung di pundaknya dan meninggalkan gang itu secepat yang ia bisa.

“Kau.. tidak bisa.. lebih lembut, hah?”

Kyuhyun hanya bisa berdecak pelan mendengar lirihan suara Junhyung yang berbisik dari balik punggungnya itu. Kini Kyuhyun sedang berlari-lari kecil di pinggir trotoar yang sepi, dan hal tersebut membuat tubuh Junhyung yang tengah kesakitan itu menjadi semakin parah akibat goncangan dari langkah Kyuhyun.

“Rasanya.. tanganku patah.”

Kali ini Kyuhyun mendengus kecil saat mendengar roommate-nya itu kembali meringis kesakitan. “Aku menyesal,” ucapnya singkat dan membuat Junhyung menjadi sedikit penasaran, “aku menyesal kenapa sekelompok orang yang menghajarmu itu malah mematahkan tanganmu, bukannya mulutmu.”

“Kau ini berisik sekali,” lanjut Kyuhyun ringan dan membuat Junhyung membelalakkan matanya dengan kesal. Namun apa daya, ia tidak bisa membalas apapun karena semua tubuhnya sudah terasa remuk dan hancur. Tak bersisa.

“Masih untung aku tak membiarkanmu ditangkap oleh para polisi itu dan mengurungmu di penjara. Sudahlah, sekarang kau diam saja dan nikmati perjalanan ‘Kyuhyun’s Tour Travel’-mu ini,” sambung Kyuhyun lagi dan menghela napas panjang.

Junhyung hanya bisa diam memikirkan ucapan pria ini. Dia benar, jika polisi menangkapnya maka semuanya akan percuma. Semua hal yang sudah mereka bangun dan susun sedari awal akan menjadi percuma. Sama sekali tak berarti.

Arasseo,” jawab Junhyung singkat dengan suara beratnya.

Kyuhyun hanya tersenyum sekilas saat mendengar jawaban pria yang tangah digendongnya itu. Namun sekejap berikutnya, Kyuhyun langsung merinding hebat. “Ya, tidakah kau merasa kalau suasana ini terlalu romantis? Kenapa rasanya kita seperti sepasang kekasih, sih?”

Junhyung diam untuk sesaat. Namun saat akhirnya membuka mulut —bukannya menolak dan ikut merasa merinding ngeri— Junhyung malah semakin mendekatkan dagunya ke pundak Kyuhyun dan menggumam manis. “Kyuhyun oppa.

“Yucks.”

Setelah ini, Kyuhyun yakin akan meminta dekan untuk mengganti roommate-nya dengan mahasiswa lain.

Pria ini adalah bencana.

Dan ia serius.

***

“Ouch!”

Junhyung mengaduh pelan saat seorang pria berkulit agak kecoklatan itu kembali menempelkan perekat luka bergambar Pororo ke wajahnya yang penuh dengan luka. Seakan tidak memedulikan tatapan tajam yang diberikan oleh Junhyung kepadanya, ia malah fokus menempelkan perekat luka lain ke pipi Junhyung –kali ini yang bergambar Doraemon.

“Ya! Kim Jonghyun! Kau bisa kan melakukannya dengan lebih lembut?”

Pria yang dipanggil Kim Jonghyun itu hanya mengangkat bahunya ringan. “Kelembutanku hanya berlaku untuk wanita, Hyeong. Memangnya kau mau kuanggap sebagai wanita?” tanggapnya santai sambil menaik-turunkan alis dan hal tersebut sukses membuat Junhyung melayangkan pukulan manis untuknya.

Sementara itu, ada seorang pria lain yang memerhatikan mereka berdua dengan tawa kecil di wajah. Ia tengah duduk di bangku yang ada di depan meja belajar dengan sebuah gitar kayu coklat di tangannya. Jemarinya yang lentik bergerak lihai diatas senar gitar, seakan memang sudah dilahirkan untuk memainkannya.

“Myungsoo-ya.”

Panggilan dari arah kamar mandi itu segera membuat si pria menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Di depan pintu kamar mandi, kini terjulur sebuah tangan tanpa menunjukkan wajah si pemiliknya. “Sabun!” lanjut si pemilik suara —yang bisa diintifikasikan sebagai suara Kyuhyun– dengan nada tak sabar.

“Kami belum beli, Hyeong,” jawab Myungsoo ringan dan kembali fokus untuk menyetel nada senar gitarnya, “mianhaeyo.”

Aish!” Kyuhyun mengutuk pelan dan kembali menarik uluran tangannya ke dalam.

Tak lama berselang, Kyuhyun keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai kaus dalam berwarna putih, dan tentu saja hal ini membuat susunan otot miliknya yang baru saja terbentuk menjadi sedikit terekspos. Titik-titik air jatuh dari rambut Kyuhyun yang kini tengah dikeringkan oleh tangan kananya. Dan sebuah pemandangan sedikit mengerikan terlihat dari jemari kiri Kyuhyun yang menjinjing kaus biru penuh darah akibat kejadian yang dialami Junhyung tadi.

“Menjijikkan,” ucap Kyuhyun sambil menatap ke arah kaus di tangannya itu dengan pandangan jijik. Myungsoo yang juga melihat keadaan mengenaskan dari kaus Kyuhyun hanya bisa memberikan pandangan yang tak jauh berbeda.

“Selesai!” seru Jonghyun sambil bertepuk tangan dengan semangat dan menatap wajah Junhyung puas, “tanganku memang selalu menghasilkan hasil karya yang menakjubkan!”

Kyuhyun dan Myungsoo yang penasaran dengan pekikan Jonghyun  langsung menghampiri ke arah mereka berdua. Sedetik kemudian, tawa Kyuhyun dan Myungsoo langsung meledak hebat saat melihat wajah Junhyung yang kini terlihat seperti parade kartun manhwa yang ada di televisi.

Hello Kitty?” tawa Kyuhyun semakin membludak saat melihat perekat luka berwarna merah muda dengan gambar kucing manis telah menempel paten di dahi Junhyung.

Sementara itu, Myungsoo hanya bisa tertawa kecil dan menatap Jonghyun –roommate-nya itu– dengan tatapan kagum. “Ya, darimana kau bisa mendapatkan perekat luka dengan motif seperti ini?”

Jonghyun yang menganggap perkataan Myungsoo adalah sebuah pujian, langsung membusungkan dadanya bangga. Perekat-perekat imut seperti ini tidak usah dibahas darimana asalnya, yang penting dia bisa mengobati sedikit luka-luka Junhyung, kan?

Junhyung yang sejak awal sudah merasa bahwa wajahnya akan menjadi bahan ejekan oleh rekan-rekannya ini hanya bisa diam dan mengelus pipinya pelan. “Gomabda, Jonghyun-ah.” Biarpun adik tingkatnya itu membuat wajahnya terlihat konyol, tapi ia tetap harus berterima kasih karena dialah yang membantu mengobati lukanya.

No problem, Hyeong,” jawab Jonghyun ringan dan membuang bungkusan perekat luka itu ke dalam tempat sampah yang ada di sebelahnya. “Itu kan gunanya tema—”

TOK. TOK. TOK.

Suara ketukan di pintu kamar itu seakan membuat keempat pria yang ada di dalam langsung diam membeku di tempatnya masing-masing. Suara ketukan dengan ritme yang khas itu hanya dimiliki oleh satu orang di kampus ini.

Yah, lebih tepatnya orang yang merupakan mimpi buruk bagi mereka.

“Gitar! Gitar! Sembunyikan gitarnya!” bisik Kyuhyun dengan nada panik kepada Myungsoo yang seperti kebingungan harus melakukan apa. Dalam sekejap, Myungsoo langsung membuka lemari baju dan menaruh gitarnya di sana. Di sisi lain, Jonghyun langsung melipat meja keyboard-nya dengan tergesa dan menyembunyikannya di bawah kasur. Sebuah kotak kosong pun ditambahkan Jonghyun untuk menutupi benda tersebut agar kamuflasenya yang ia buat terlihat sempurna.

“Buku! Buku! Buku! Bawa buku kalian!” seru Kyuhyun panik. Myungsoo segera mengambil buku super tebal miliknya sedangkan Jonghyun langsung mengambil penggaris ukur dan juga pensilnya.

“Ya!” suara Junhyung kini menyadarkan ketiga pria yang tengah panik itu. Wajahnya benar-benar pucat pasi dan terlihat jelas bahwa ia takut dengan sebuah kejadian yang mungkin akan terjadi beberapa saat ke depan. “Bagaimana aku bisa menyembunyikan luka-luka ini?!” tanyanya sambil menunjuk semua perekat luka yang menempel di wajahnya.

Kyuhyun semakin panik. Sungguh, ia sangat menyesalkan usianya yang memang paling tua di antara ketiga temannya ini. Hal itu selalu saja menjadi harga mati bagi mereka untuk selalu mengandalkan Kyuhyun di saat apapun.

“Ya! Kau.. kau…,” Kyuhyun menoleh kesana kemari, berharap ada benda yang bisa menyelamatkan hidup mereka berempat.

TOK. TOK. TOK.

“Tidur saja!” putus Kyuhyun cepat dan segera menyelimuti tubuh Junhyung dengan selimut yang ada di kasur milik Myungsoo. Otaknya sudah terlalu pusing dan penuh sekarang, ditambah lagi rasa panik yang sewaktu-waktu bisa membuat Kyuhyun terkena serangan jantung mendadak. Kini yang ada di pikirannya hanya satu: jangan sampai wajah Junhyung terlihat!

“Jangan bergerak! Ingat itu!” seru Kyuhyun dan Junhyung hanya mengangguk kecil, mau tak mau ia memang harus patuh pada Kyuhyun dalam hal yang satu ini.

Sementara itu, Kyuhyun tak sengaja menyadari bahwa ia masih memakai kaus dalam saja, maka dalam sekejap ia langsung mengambil acak salah satu baju milik Jonghyun yang berada di dekatnya.

“Kim Myungsoo. Kim Jonghyun,” suara bernada berat dan serak itu seakan makin membuat suasana di dalam kamar menjadi horror, “saya tahu kalian ada di dalam.”

Myungsoo dan Jonghyun segera menatap Kyuhyun dengan pandangan memohon. Ini pertama kalinya mereka mengalami ‘kunjungan’ seperti sekarang ini, dan mereka tak tahu harus berbuat apa.

Kyuhyun menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Okay, calm down, ucapnya tenang dan memakai kacamata baca miliknya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, “serahkan padaku.”

Kyuhyun melangkah menuju pintu kamar dan membuka kenop pintunya secara perlahan. Dan seperti yang sudah ia duga, di balik pintu itu terdapat sosok seorang pria yang berumur lebih dari setengah abad dengan jubah berwarna coklat mewah yang melapisi tubuhnya. Kepalanya yang sudah dipenuhi oleh rambut berwarna putih itu semakin membuat usianya tampak sepuluh tahun lebih tua dan menambah kesan tegas di wajahnya.

“Ya, Lee gyosunim,” ucap Kyuhyun dengan penuh nada hormat sekaligus segan. Ia bisa menangkap ekspresi heran yang ada di wajah pria itu, namun ia berusaha tak memedulikannya dan tetap fokus dengan aktingnya. “Ada yang bisa kami bantu?”

Lee gyosunim menatap Kyuhyun tepat di matanya, berusaha mencari jawaban dan alasan dari keberadaan pria itu di kamar para adik tingkatnya. “Kenapa anda ada disini, Cho Kyuhyun-ssi? Ini bukan waktunya untuk bermain-main.”

Kyuhyun hanya mengerjapkan matanya sekali dan sama sekali tidak mencoba untuk menghindari pandangan mata Lee gyosunim. Ia tahu, jika ia membuang muka maka itu adalah akhir dunia dari mereka berempat. Oleh karena itu, ia hanya mengerjapkan matanya sekali dan mencoba untuk menahan semua rasa takut dan gugupnya saat berhadapan dengan pria paruh baya ini.

“Saya…,” Kyuhyun menoleh ke belakang dan melirik ke arah Jonghyun dan Myungsoo yang kini terlihat sibuk dengan ‘tugasnya’ masing-masing, “sedang membantu mereka belajar.”

“Oh, ya?” tanya Lee gyosunim dengan nada lambat-lambat. Dia menjulurkan kepalanya melewati pundak Kyuhyun sehingga kini ia bisa melihat keadaan di dalam kamar. Myungsoo tengah serius membaca buku Pendidikan Hukum Ekonomi Internasional miliknya sedangkan Jonghyun memilih untuk melanjutkan proyek studi arsitekturnya. Lee gyosunim mangangkat alis –ini semua terlalu tepat seperti ucapan Kyuhyun barusan.

Tapi ada satu sosok lain yang tidak ditangkap oleh mata Lee gyosunim. “Yong Junhyung,” pernyataan itu seakan memberikan kejutan listrik sebanyak ribuan volt terhadap keempat pria itu, “di mana dia?”

“Junhyung-ie,” Kyuhyun menggaruk pipinya yang tidak gatal, kebingungan mencari jawaban.

ZZZZ. ZZZZ. ZZZZ,” tiba-tiba saja terdengar suara dengkuran yang sangat keras dan membuat otak Kyuhyun seakan berputar cepat.

“Dia tidur!” jawab Kyuhyun dengan kecepatan kata 100 km/jam, “mungkin kelelahan.”

Lee gyosunim maju melangkahi Kyuhyun pelan. “Atau mungkin…”

Derap langkah kaki tegas itu seakan membuat atmosfir di dalam ruangan tampak semakin muram. Myungsoo dan Jonghyun dengan ragu-ragu menghentikan kamuflase yang baru saja dilakukan. Lee gyosunim tiba-tiba menyeringai ke arah Kyuhyun, “kalian menyembunyikan sesuatu dari saya.”

“Eh?” tanya Kyuhyun pura-pura bingung. “Hal apa yang perlu disembunyikan, Gyosunim?”

“Hal itu…”

Lee gyosunim membuka keranjang pakaian kotor milik Jonghyun dan Myungsoo kemudian segera mengambil baju yang ada di tumpukan paling atas. Saat pria paruh baya itu mengangkatnya, Kyuhyun, Myungsoo, dan Jonghyun seakan lupa dengan aktifitas bernapasnya. Mata mereka bertiga terbelalak lebar saat pria paruh baya itu mengangkat baju Kyuhyun yang berlumuran darah.

“Mungkin saja hal seperti ini kan?”

Junhyung merasakan kehidupannya berakhir saat ia mendengar langkah kaki berat perlahan datang menghampiri kasur. Dari balik selimut, Junhyung tak berhenti mengucapkan ribuan doanya. “Tuhan, Buddha, Yesus, Allah, Bunda Maria, Dewa, tolong aku. Tolong aku. Tolong—”

Namun semua doa Junhyung langsung terputus saat selimutnya terangkat tinggi dan sosok yang baginya lebih menyeramkan dari Hulk itu tengah menatapnya dengan tatapan puas. “Tidurmu nyenyak, Yong Junhyung-ssi?”

                Lee gyosunim dapat melihat banyak perekat luka yang menempel di wajah mahasiswanya itu. Lantas ia beralih menatap Kyuhyun, Jonghyun dan Myungsoo yang hanya bisa diam di tempatnya semula. Sama sekali tak berniat untuk kabur karena mereka tahu semuanya akan percuma, pada akhirnya mereka pasti akan kembali kesini lagi.

                “Jadi…,” Lee gyosunim menurunkan kembali selimutnya dan mengalihkan perhatiannya pada ketiga pria lain, “siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini?”

                Selama beberapa detik, tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut. Tak ada niat untuk mengelabui Lee gyosunim yang tengah mendelik ke arah mereka, karena mereka tahu, apabila mereka bersusaha menutupi fakta, sebuah neraka akan menghampiri mereka dengan perlahan.

                “Saya, Gyosunim.”

                Jonghyun dan Myungsoo melirik Kyuhyun tak percaya. “Saya yang membawa Junhyung kesini. Kedua anak ini…,” jeda Kyuhyun sambil menatap ke arah dua hoobae-nya itu, “tidak ada sangkut pautnya sama sekali.”

                “Baiklah,” ucap Lee gyosunim, terdengar tak begitu peduli. “Untuk dua orang yang merasa bertanggung jawab atas hal ini, temui saya di ruang dekan, besok pagi.”

                Tepat setelah mengatakan hal itu, Lee gyosunim segera membalikkan tubuhnya menuju pintu kamar. Tetapi saat kakinya akan melangkah keluar dari batas pintu kamar, tiba-tiba langkahnya berhenti dan matanya menatap lemari milik Myungsoo.

                “Jangan periksa. Jangan periksa. Jangan periksa,” bisik Myungsoo lirih, mengingat gitarnya yang ia simpan di dalam lemarinya itu, “cepat pergi. Cepat!”

                “Kim Myungsoo-ssi,” panggil Lee gyosunim pelan. Tangannya terangkat dan jari telunjuknya langsung menunjuk ke arah lemari Myungsoo. “Lemarimu…”

                Baik Kyuhyun, Junhyung, Jonghyun dan Myungsoo langsung menahan nafasnya secara serempak. Jika saat ini semuanya terbongkar, maka sekarang adalah akhir dunia bagi mereka berempat.

                Ne, Gyosunim?” sahut Myungsoo dengan suara yang sangat lirih.

                “Lemarimu…” ulang Lee gyosunim dan kali ini membuat semua pria itu meneguk ludah secara bersamaan. Baik, inilah waktu penentuan dari berakhirnya masa kuliah mereka. Inilah saat terakhir itu.

                “Belum terkunci.”

                “Hah?”

Keempat pria tersebut mengucapkan kata keheranan itu secara bersamaan seakan tak yakin bahwa kalimat itulah yang baru saja dikatakan oleh Lee gyosunim. “Lemari saya… apa?” tanya Myungsoo sekali lagi.

Kini jari telunjuk Lee gyosunim menunjuk lebih tepat ke arah lemari Myungsoo yang berwarna coklat mengkilat. Salah satu pintu dari lemari itu masih mengayun bebas tanda belum terkunci. “Belum terkunci.” ulang Lee gyosunim dan segera membuat Myungsoo melangkah menuju lemarinya kemudian mengunci pintunya rapat-rapat.

“Terima kasih, Gyosunim.” ucap Myungsoo sambil tersenyum kaku. Lee gyosunim hanya mengangguk kecil dan kembali menatap Kyuhyun yang terlihat lega bukan kepalang. “Cho Kyuhyun-ssi, Yong Junhyung-ssi. Jika urusan kalian sudah selesai, cepat kembali ke kamar kalian masing-masing.”

Ne, Gyosunim,” jawab Kyuhyun dan Junhyung cepat.

“Dan jangan lupa temui saya besok di ruang dekan,” tambah Lee gyosunim dan kembali dibalas oleh anggukan kedua pria itu. Pria paruh baya itu mengangguk-angguk puas sebelum akhirnya ia benar-benar melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar.

Kyuhyun menyembulkan kepalanya sedikit ke arah lorong asrama. Setelah yakin bahwa bayangan tubuh Lee gyosunim sudah menghilang di balik tikungan tembok, Kyuhyun langsung mengunci pintu kamar itu rapat-rapat dan menghela nafas lega. “Syukurlah! Tak ada yang ketahuan.”

Ucapan Kyuhyun itu segera diiyakan oleh anggukan dari ketiga temannya yang lain. “Aku tak tahu apa jadinya jika ia benar-benar membuka lemari dan menemukan gitarku,” ucap Myungsoo penuh dengan rasa lega.

Junhyung yang sedari tadi hanya diam, kini langsung mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Jonghyun yang melihat aksi Junhyung itu segera menahan tangannya. “Hyeong! Tubuhmu itu masih sakit semua, jangan berlaku kasar seperti itu.”

“Tempat ini tak ubahnya seperti neraka,” bisik Junhyung kesal, “tak ada musik. Tak ada kebebasan berekspresi. Kampus macam apa ini?”

“Dan tak ada wanita,” lanjutan kalimat yang ditambahkan oleh Jonghyun itu seakan membuat suasan tegang yang tadi terbangun menjadi kembali hancur berkeping-keping. Jonghyun yang merasa tak ada masalah dengan ucapannya, hanya bisa memandang ketiga temannya itu dengan heran. “Mwo? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Kampus khusus pria! Apalagi yang lebih parah dari itu, hah?”

Kyuhyun menggaruk pipinya dengan speechless, tak tahu harus mengatakan apa. Sebenarnya ia sependapat dengan kedua temannya itu tapi jika ia ikut-ikutan menambah pendapat, itu sama saja seperti memancing di air keruh, semuanya percuma saja.

Semua aspek ‘penyiksaan’ yang ada di kampus ini tak akan pernah berubah. Tidak akan pernah selama Lee gyosunim yang menjadi dekan kampus mereka ini.

“Ya sudahlah,” ucap Kyuhyun pasrah dan kini bangkit dari duduknya. “Ayo pulang, Junhyung-ah,” ucap Kyuhyun dengan agak lemas. Efek sehabis menggendong roommate-nya ini memang cukup besar, hingga ia merasa semua sendinya terasa pegal. Ditambah lagi sidak tiba-tiba yang baru saja dilewati berdampak besar pada kesehatan jantungnya.

“Pulang kemana?” tanya Junhyung tanpa ekspresi.

Kyuhyun memutarkan bola matanya dengan kesal. Kebodohan temannya ini memang selalu datang di saat yang tidak tepat. “Ke neraka,” jawab Kyuhyun asal.

Junhyung mengangguk-angguk tak peduli dan kini bergerak menuju pinggiran kasur. Namun hingga setelah Kyuhyun menunggu beberapa saat di batas pintu, Junhyung masih tak juga bergerak dari ujung kasur.

“Kenapa diam disitu? Ayo, cepat!”

Junhyung tak menjawab apapun. Ia hanya melirik ke arah kakinya yang benar-benar terlihat lemas dan terdapat banyak bengkak di sana-sini. “Kau pikir aku bisa berjalan dengan kondisi kaki seperti ini?”

Kyuhyun ikut melirik ke arah kakinya dan langsung mendengus kesal. “Sudahlah,” Kyuhyun kehabisan kesabarannya dan beranjak meninggalkan kamar Jonghyun dan Myungsoo tanpa menunggu Junhyung. “Pulang saja sendiri.”

“Ya! Cho Kyuhyun!” Junhyung berseru tak percaya saat Kyuhyun benar-benar meninggalkannya lebih dulu. Namun sebanyak apapun Junhyung memanggilnya, langkah kaki Kyuhyun semakin berderap menjauh dan tak memedulikan Junhyung lagi.

Mati satu tumbuh seribu, pepatah itulah yang selalu Junhyung terapkan di dalam kehidupannya. Jadi bila Kyuhyun memang meninggalkannya maka…

“Myungsoo-ya, Jonghyun-ah”, panggilan itu segera membuat Jonghyun dan Myungsoo menghembuskan nafas kesal secara bersamaan.

“Ayo, antarkan aku ke kamar.”

***

b e r s a m b u n g .

{Miracle Perfection} Special New Year: “New Stories” (2/3)

poster1 

Can you smile?

Can you sit here with me in the Beautiful Night?

I can’t tell you what The Reason that I choose you beside me is,

But I’m sure that you’re the one, theres No Other..

So, Can you promise to keep being my Angel?

(Infinite – B2ST – SHINee – Super Junior – EXO)

 

###

  Continue reading

{Miracle Perfection} Special New Year: “New Stories” (1/3)

POSTER

Dunia terlalu luas jika hanya untuk ditempati satu kisah.

Karena itu, setiap kisah tak pernah bisa berdiri sendiri.

Ia selalu punya kisah-kisah lain yang akan mengiringi perjalanannya.

Dan terkadang,

Tuhan memasukkan lebih dari sepasang kasih dalam sebuah kisah.

Agar kita paham dan memahami..

Bahwa Cinta punya banyak sudut pandang yang berbeda.

####

Continue reading