Tears Of Polaris {7th Chapter}

“Arghh!!”, Kyuhyun meringis kesakitan saat Nara mengoleskan obat ke luka tusukan di lengannya.  Nara langsung menjauhkan tangannya dari lengan Kyuhyun, “Ah, Mianhae!!”, ucap Nara hati-hati.  Kyuhyun hanya tersenyum miris, “Hanya…sedikit sakit”, ucapnya menenangkan Nara.

Jiyoo melirik pasangan itu dari kaca spion di depannya, ke Kwan Nara lebih tepatnya.  Dia masih memperhatikan wajah Nara dan membandingkannya dengan wajahnya, amat sangat terlalu mirip.  Pantas saja jika Hyukjae salah mengenalinya dan menganggap dirinya adalah Kwan Nara yang dikenal olehnya.

Jiyoo mengalihkan pandangannya dan kembali fokus ke jalanan di depannya, “Ah, Kyuhyun-ssi.  Mana rah yang harus kita ambil?”, tanyanya saat mobilnya kini berada di antara 2 tikungan yang berbeda.  Kyuhyun melirik heran kea rah Jiyoo, “Kau..bisa berbicara bahasa Korea?”, tanyanya tak percaya, karena setahunya keluarga Choi ini sudah berdomisili tetap di Los Angeles.

Jiyoo hanya mengangkat bahunya dengan santai, “Just a little bit”, ucapnya sambil melirik kearah Nara sekilas.  Dia tak ingin mengatakan bahwa dia bisa berbahasa Korea karena ingin lebih dekat dengan Lee Hyukjae, sahabat gadis di belakangnya itu.  Nara memiringkan kepalanya dan tersenyum simpul, “Johta.  Jika begitu, kita tak punya kesulitan untuk berkomunikasi.  Benar bukan, Jiyoo-ssi?”

Jiyoo hanya mengangguk singkat dan kembali menatap Kyuhyun, “Left or Right?”, tanyanya cepat.  Kyuhyun berpikir sejenak, “Lebih baik kita ke…kiri?  Ah, tidak…kanan saja.  Tapi, mungkin lebih baik jika kita ke kiri?  Atau kanan?”, gumamnya bingung.  Nara dan Jiyoo menatap jengah kearah pria ini.

“Ke kanan saja”, ucap Nara dan Jiyoo berbarengan dan sempat membuat mereka berdua tersentak kaget.  Kyuhyun hanya mengangkat bahunya ringan, “Yasudah, jika itu keputusan kalian…kita ke kanan saja, Jiyoo-ssi”, putus Kyuhyun.

Jiyoo kembali menatap ke depan dan mengganti persneling mobil sehingga mobil melaju pelan dan berbelok kea rah kanan menuju ‘Apgeujjong’.  Dia masih merasa heran dengan kejadian barusan, saat dirinya dan Nara mengatakan hal yang sama.  Rasanya itu bukan sekedar kebetulan, tapi seperti…kontak batin?

Entahlah, otak Jiyoo sudah terlalu pusing untuk memikirkan hal seperti itu.

******************

Siwon memperhatikan papan perjalanan di depannya, ‘Apgeujjong’.  Dia mendesah pelan dan memutuskan untuk meminggirkan mobilnya ke bahu jalan untuk beristirahat sejenak, dia benar-benar lelah.  Hampir 2 hari dia tak tidur karena harus mencari adiknya itu, dan hampir selama 2 hari ini otaknya benar-benar seakan mau meledak karena kebingungan yang terus menerpa dirinya.

Siwon menyenderkan bangkunya ke belakang sehingga dia bisa membiarkan tubuhnya untuk relaks sementara waktu, dia memejamkan matanya dan yang terlintas di benaknya adalah wajah adiknya, Choi Jiyoo.  Dimana dia sekarang?  Apa dia baik-baik saja?

Siwon memijit keningnya yang menjadi pusing seketika, “Aishh, Choi Jiyoo~!”, geramnya kesal dan membenturkan kepalanya beberapa kali ke setir mobil.  Sungguh, dia sangat ingin menangis, tapi…tidak, jika dia menangis sekarang maka tak akan ada yang bertahan lagi.  Tak akan ada yang bisa memberi harapan tentang nasib Jiyoo selain dirinya sendiri, maka dari itu dia harus kuat.

Siwon mengangguk singkat dan menyenderkan kepalanya ke samping jendela mobil.  Tak ada mobil yang lewat disitu karena memang jalan ini adalah jalan kecil.  Tapi di tengah kekosongan ini, Siwon merasa tenang.  Ya, amat sangat tenang.

Tak lama kemudian, ada sebuah mobil sedan melintas di sampingnya.  Mobil itu sempat berhenti di bahu jalan tepat di hadapan mobilnya, tapi kemudian mobil itu kembali berjalan cepat, meninggalkan Siwon sendirian di tengah kekosongan ini.

Siwon memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak, mungkin tidur selama beberapa menit akan membuat otaknya kembali segar.

*************************************

Nara menengok kearah jalanan yang mereka lewati, “Kenapa sepi sekali?”, gumamnya heran saat dia menyadari bahwa tak ada mobil yang melintas di jalanan ini selain mobilnya.  Kyuhyun menengok ke luar, “Tenanglah, tak akan terjadi apa-apa”, ucapnya singkat.

Jiyoo masih setia mengendarai mobil ini dan tiba-tiba matanya menemukan sebuah mobil jeep yang terparkir di bahu jalan, sepertinya pemiliknya sedang beristirahat.  Dia menengok ke arah Kyuhyun dan Nara, “Mau bertanya padanya?”, tanyanya sambil memarkirkan mobilnya ke bahu jalan.  Kini mereka berhenti tepat di depan mobil itu, “Kurasa lebih baik begitu, lebih baik kita tanyakan tentang arah menuju jalan raya”, ucap Nara pelan.

Kyuhyun menggeleng cepat, “Andwae~!  Berbahaya jika kita berhenti di jalanan sepi seperti ini, ladies. Mungkin saja mobil itu hanya jebakan untuk mengelabui pendatang baru seperti kita.  Lebih baik kita segera pergi dari sini dan berusaha sendiri untuk menemukan jalan raya’nya”, ucap Kyuhyun yakin.

Nara dan Jiyoo menatap Kyuhyun dengan ragu, “Kenapa kau bisa seyakin itu?”, tanya Nara memastikan.

Kyuhyun tersenyum tipis, “Aku adalah salah satu criminal, Nara-ya.  Dan aku tahu apa saja trik yang dilakukan oleh para criminal, mencuri mobil seseorang di tengah jalanan gelap seperti ini juga adalah salah satu hal yang pasti akan dilakukan oleh orang yang memiliki otak criminal”, jelas Kyuhyun.

Jiyoo dan Nara saling berpandangan, “Keurae”, gumam Nara pelan.  Kyuhyun tersenyum lagi dan mengelus rambut Nara, “Jadi, ayo kita segera berangkat lagi, Jiyoo-ssi.  Kita pasti bisa menemukan jalan raya itu dengan cara kita sendiri”, ucapnya sambil menatap kea rah Jiyoo.

Jiyoo menghela nafas dalam-dalam dan mengikuti arahan Kyuhyun untuk segera meninggalkan tempat itu.  Dia menengok sekilas kea rah mobil jeep yang ada di belakangnya itu dari kaca spion, Jiyoo merasa dia mengenali mobil jeep itu, rasanya seperti mobil…Siwon?

Tapi Jiyoo membuang jauh-jauh segala pikirannya itu.  Di dunia ini, mobil jeep tak hanya dimiliki oleh Siwon saja, kan?  Lagipula untuk apa kakaknya itu mencari dirinya?  Mungkin saja kini Choi Siwon sedang asyik berkencan dengan pacar barunya itu…siapa namanya?  Park Ririn?

Jiyoo mengangguk sejenak dan tangannya bergerak untuk mengganti persneling mobil, hingga kini mobil sedan berwarna biru yang dikendarainya ini kembali melaju di jalan kecil menuju Apgeujjong.

*************************

“Apa rencana kita selanjutnya?”, tanya Haejin kearah Hyukjae dan Donghae yang masih diam di bangkunya masing-masing.  Donghae mengangkat bahunya pelan dan melirik kepada Hyukjae, “Hyukjae-ya, kurasa lebih baik jika…kita melaporkan hal ini kepada polisi.  Setidaknya Nara sudah bisa masuk ke dalam Daftar Pencarian karena dia sudah hilang semenjak 2 hari yang lalu”, usulnya.

Hyukjae menggeleng pelan, “Andwae, itu…terlalu berbahaya.  Mungkin saja Nara sedang berada dalam kondisi dimana tak boleh ada oknum berwajib yang mengurus hal ini”, gumamnya.

Haejin menengok kearah kamar Nara sekilas dan menyadari satu hal, “Orangtua Nara…kemana?”, tanyanya dan langsung membuat Donghae dan Hyukjae menganga hebat, “Aigo!!  Kenapa kita bisa lupa?!  Orangtua Nara!”, seru Hyukjae dan segera mengambil  handphone’nya dan menelfon Tuan Kwan.

Donghae langsung berlari kearah Haejin dan berniat untuk  memeluknya, tapi Haejin segera menghindar hingga membuat Donghae langsung manyun.  “Aku hanya ingin memberikan hadiah atas kepintaranmu, Haejin-ah”, sungut Donghae dan membuat Haejin terkekeh pelan, “Jangan mencari kesempatan di tengah kesempitan”.  Donghae makin terlihat sebal, tapi kemudian dia menggumam pelan, “Tapi, ini agak aneh.  Mereka berdua sudah tak pulang semenjak Nara menghilang.  Kemana perginya orangtua Nara?”.

Hyukjae tak mempedulikan 2 orang itu dan masih berkonsentrasi ke handphone’nya.  Dia masih menunggu hingga nada sambung itu terhenti, “Yoboseyo, Minhwan Ahjusshi?”

Hyukjae tiba-tiba menjadi diam seribu bahasa, hingga membuat Donghae dan Haejin langsung menatapnya khawatir, “Waekurae?”, tanya Donghae cepat.  Hyukjae mengangkat tangannya, mengisyaratkan Donghae untuk diam.

“Animida, saya tetangga dekatnya.  Bukan keluarganya, tapi anda bisa memberitahukan segala keadaan tuan dan nyonya Kwan pada saya”, ucap Hyukjae tegas.  Haejin dan Donghae mulai merasakan hal yang tak mengenakkan dari nada suara Hyukjae, “Hyukjae-ya, ada apa?”, tanya Haejin khawatir.

Hyukjae tak kunjung menjawab, sampai akhirnya dia berkata, “Baiklah, kami akan menjemput jenazah mereka berdua sekarang juga.  Terima kasih, Ahjusshi”, lirih Hyukjae sambil menutup flip handphone’nya dan memutuskan pembicaraan.

Haejin langsung menutup mulutnya tak percaya dan menatap Donghae yang masih terdiam, “Jenazah?”, ucap Donghae dengan getir.  Hyukjae mengangguk lemah, “Mereka kecelakaan saat sedang mengendarai mobil, kemarin.  Sejak kemarin, polisi berusaha menghubungi handphone Nara, tapi tak pernah tersambung”, jelasnya sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.

“Yang pasti, sekarang kita harus menjemput jenazah Minhwan Ahjusshi dan YeonA Ahjumma”, ucap Donghae sambil menepuk bahu Hyukjae yang hanya bisa mengangguk lemah.

Hyukjae merasa segalanya makin menjadi buram, tak ada kejelasan dan kepastian.  Tak ada satupun petunjuk bagi mereka untuk mencari keberadaan kedua gadis itu, lalu sekarang apa yang harus mereka lakukan?

******************************

Zhoumi merekatkan plester penyembuh itu ke kepalanya.  Dia meringis pelan saat plester itu mengenai luka memarnya, “Aishh, gadis tolol!”, rutuknya di depan cermin.  Dia benar-benar kesal saat ini, rencananya gagal total.  2 gadis itu kabur bersama adiknya yang tak berguna.  Tak ada hal yang lebih mengesalkan dibanding kejadian ini.

Zhoumi beranjak menuju kamarnya untuk memikirkan hal yang harus dia lakukan selanjutnya.  Dia benar-benar frustasi kali ini, segala yang terjadi benar-benar sudah diluar rencananya. “Aish, sialan!  Kenapa aku membocorkan rahasia itu padanya?”, gumamnya sambil mengacak rambutnya sendiri.  Dia merutuk perbuatannya saat mabuk tadi, ya…dia membocorkan rahasia bahwa dialah yang membunuh ayah mereka.  Tentu saja Kyuhyun akan mengamuk dan mengkhianatinya.

Sebelum masuk ke kamarnya, Zhoumi memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tempatnya menyekap 2 gadis itu.  Zhoumi mendecak kesal saat melihat ruangan itu kosong melompong.

Dia berpikir makin keras, sebisa mungkin dia harus segera menemukan cara untuk menemukan mereka bertiga dan kembali mengambil alih Choi Jiyoo dari tangan Kyuhyun.  Dia tak ingin uang tebusan yang akan diberikan oleh keluarga Choi itu melayang begitu saja, dan untuk melancarkan segala rencananya itu…dia tak akan ragu untuk menyingkirkan Kyuhyun dan gadis lainnya itu dengan caranya sendiri.

Pandangan Zhoumi terhenti di atas kasur yang digunakan untuk menyekap salah satu dari gadis itu, dia melihat sebuah benda mungil yang menarik perhatiannya.  Zhoumi beranjak mendekat kearah kasur dan mengambil benda itu, “handphone?”, gumamnya pelan dan membalik handphone itu.  Terdapat ukiran nama ‘Angela Choi’ yang tertulis manis di bagian belakang handphone itu.

Senyum tipis langsung terulas di bibirnya, kini dia memiliki rencana baru.

Zhoumi beranjak ke ruang tengah sambil membawa handphone itu di tangannya dan langsung mengambil handphone miliknya untuk menelfon seseorang yang mengawali segala niatannya ini, “Yoboseyo, kediaman keluarga Choi?”

Senyum Zhoumi makin terkembang lebar saat dia mendapatkan respon sesuai harapannya.  Ya, ternyata tak sulit untuk melakukan sebuah kejahatan.

*************************

HyeonA mondar mandir di ruangan tengah apartement’nya dengan perasaan gundah.  Tangannya masih menggenggam telefon portable miliknya, dia benar-benar bimbang dengan keputusan yang harus diambilnya sekarang.  Apakah dia harus meminta bantuan polisi atau terus-terusan diam seperti sekarang? Jika dia memanggil polisi, maka keselamatan Jiyoo akan terancam.  Tapi jika tidak, maka nasib Siwonlah yang harus dikhawatirkan.  Anak lelakinya itu masih tak memberikan kabar padanya sejak kemarin, dan itu membuat HyeonA amat cemas.

Setelah berfikir lama, akhirnya HyeonA memutuskan untuk meminta bantuan polisi.  Apapun yang terjadi, HyeonA hanya ingin masalah ini cepat selesai dan sepertinya polisi lebih berpengalaman dalam menghadapi masalah seperti ini.

Dia mengangguk sejenak dan segera berniat untuk menelfon polisi, tapi tiba-tiba telefon di tangannya berdering kencang.  HyeonA menghela nafas sejenak sebelum menyapa lemah, “Hallo?”

Yoboseyo, kediaman keluarga Choi?”, ucap suara diseberang sana.

“Ah, ya.  Siapa disana?”

Saya menelfon anda dengan menggunakan handphone yang di bagian belakangnya bertuliskan Angela Choi.  Apakah dia adalah keluarga anda?”.

HyeonA merasakan berbagai harapan kembali muncul disekitarnya.  Orang ini menemukan handphone milik Jiyoo?  “Ya!  Dia anak saya.  Dimana anda menemukannya?”

Suara di seberang sana sempat diam sejenak, seperti ragu untuk melanjutkan omongannya.  Tapi kemudian dia menjawab, “Ah, bagaimana jika saya datang ke rumah anda?  Saya ingin membicarakan hal lainnya yang saya ketahui kepada anda, karena sepertinya…saya merasakan ada hal yang aneh saat saya menemukan handphone ini”, jelasnya dan membuat HyeonA langsung kalap, “Baiklah.  Baiklah, anda boleh segera datang ke sini.  Sheraton Apartement, nomor 1315”.

Algessemnida, saya akan segera datang kesana”, suara diseberang sana langsung memutuskan telefon dan membuat HyeonA langsung duduk berlutut.  Dia benar-benar bersyukur, setidaknya dia sudah menemukan satu petunjuk mengenai keberadaan anak kesayangannya itu.

Tapi tanpa dia ketahui, segurat senyum penuh kemenangan telah terkembang lebar di seberang sana.

************************************

Nara menatap jalanan lewat jendela yang ada di sampingnya.  Dia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.  Di fikirannya kini, tersirat banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya.  Bagaimana kabar orangtuanya?  Bagaimana kabar Hyukjae dan Donghae?  Apa mereka mencari keberadaan dirinya?

Tapi pikiran Nara langsung buyar saat kepala Kyuhyun menyender ke bahunya, ternyata dia sudah tertidur pulas.  Syukurlah, setidaknya luka tusukan di lengannya itu tak terlalu membawa dampak yang membahayakan untuknya.  Nara mengelus rambut pria di sampingnya ini dengan penuh rasa sayang, dia menyadari bahwa dirinya amat sangat mencintai Marcus Cho biarpun 12 tahun telah berlalu.

“Ah, Jiyoo-ssi.  Bisa berhenti sejenak?  Aku ingin pindah ke bangku depan dan membiarkan Marcus tidur dengan nyaman di belakang”, bisik Nara pelan agar tak membangunkan Kyuhyun.  Jiyoo hanya menggumam sejenak dan beranjak meminggirkan mobilnya ke bahu jalan, lalu Nara segera keluar dari bangku belakang setelah menyelimuti tubuh Kyuhyun dengan sweater miliknya kemudian beranjak pergi ke bangku sebelah pengemudi.  “Ah~oke!  Begini lebih baik”, gumam Nara sambil memakai sabuk pengaman.  Jiyoo hanya mendelik sejenak dan kembali melajukan mobilnya ke jalan kecil di daerah Apgeujjong.

Selama beberapa saat, tak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka.  Hingga akhirnya Nara bertanya, “Bagaimana kabar Hyukjae?”.

Jiyoo tampak gugup sejenak tapi dia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya itu, “Ah, dia…baik-baik saja, mungkin”, jawabnya singkat dan membuat Nara mengangguk sekilas, “Syukurlah”, gumam Nara sambil tersenyum simpul.

Nara benar-benar merindukan sahabatnya itu, dia benar-benar sangat ingin bertemu dengannya dan memeluknya dengan erat.  Nara ingin bercerita tentang segala kejadian yang dialaminya saat ini, Nara ingin mengenalkan Marcus padanya, Nara ingin…ah, terlalu banyak yang ingin dia lakukan terhadap sahabatnya yang satu itu.

Jiyoo menatap gadis di sampingnya itu sekilas, dia sedang menatap keluar jendela sambil tersenyum tipis, seperti sedang mengkhayalkan sesuatu.  Apa dia memikirkan…Hyukjae?

“Nara-ssi…”, panggil Jiyoo hingga Nara menoleh pelan. “Kau…menyukai Hyukjae?”, tanyanya langsung to the point. Nara sempat terlihat bingung dan alisnya langsung bertaut heran, “Suka?  Pada Hyukjae?  Hahaha~”, Nara malah tertawa pelan dan menatap kearah Jiyoo, “Anii, bahkan didalam mimpipun aku tak pernah membayangkan bahwa aku menyukai Hyukjae.  Aku hanya menyayanginya…sebagai sahabat”, lanjutnya, “Karena hatiku sudah ada dalam genggaman tangan pria yang sedang tertidur di belakang itu sejak 12 tahun yang lalu”, ucapnya sambil mengerling kearah Kyuhyun.

Nara bisa melihat ekspresi lega yang muncul dari wajah Jiyoo, dan hal itu membuat rasa penasaran di diri Nara menjadi muncul, “Mengapa kau menanyakan hal itu padaku, Jiyoo-ssi?”, tanyanya menyelidik.

Jiyoo langsung menelan ludah dengan gugup dan mengangkat bahunya pelan, “Nothing.  Aku hanya ingin bertanya padamu saja”, jawabnya, “Karena kelihatannya kalian sahabat yang sangat dekat”.

Nara masih memandang curiga kearah Jiyoo, sepertinya ada hal yang dirahasiakan olehnya.  “Oh~ lalu apa pendapatmu mengenai Hyukjae?  Dia namja yang menyenangkan, bukan?”, pancingnya.

Jiyoo menggumam mengiyakan dan mendesah pelan, “Dia pria yang baik.  Dia juga pria yang pintar melucu, selalu bisa membuatku tertawa di kondisi seburuk apapun.  He’s…one of a kind”, jawab Jiyoo sementara Nara hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya, “Ahh~begitukah?”, gumamnya.

Nara hanya bisa berteriak dalam hati, dia tahu bahwa gadis di sampingnya ini menyukai Hyukjae tapi ah…mungkin bukan menyukai, tapi mencintai sahabatnya itu.  Nara bisa melihat tatapan mata Jiyoo saat menceritakan kepribadian Hyukjae, pandangan yang hanya bisa diekspresikan oleh seorang gadis yang sedang jatuh cinta.  “Aiyaa, Lee Hyukjae…bagaimana bisa kau memikat hati seorang wanita hanya dalam waktu 2 hari?”, desis Nara pelan.

“Kau bicara apa tadi?”, tanya Jiyoo karena mendengar gumaman Nara barusan.  Nara hanya menggeleng sambil tersenyum simpul, “Animida~  Aku hanya bersenandung saja barusan”, kilahnya cepat.  “Ahh~lihat!  Itu jalan raya!”, seru Nara saat melihat sebuah jalan luas yang terhampar di depan mata mereka.

Jiyoo langsung kembali berkonsentrasi mengemudi, “Yes!  Finally…”, ucap Jiyoo puas dan segera menginjak gas dengan lebih kencang hingga membuat tubuh Nara terdorong ke bangkunya, “Jiyoo-ssi!!  Pelan-pelan saja~  Aku masih ingin hidup~!!”

*****************************************

Hyukjae membungkukkan tubuhnya kearah polisi di hadapannya, “Baiklah, kamsahamnida atas bantuannya”, ucap Hyukjae lemah.  Polisi itu hanya mengangguk singkat dan memberikan selembar kertas padanya, “Jenazahnya ada di Rumah Sakit Kyongchoon.  Kami sudah melakukan autopsi kepada kedua jenazah, dan kematian mereka memang murni kecelakaan”, jelas polisi itu.

Hyukjae mengangguk pelan, “Algessemnida.  Kami akan segera menjemput jenazah mereka berdua”, ucapnya singkat.  Polisi itu menepuk bahu Hyukjae dan mengucapkan rasa berduka cita, lagi-lagi Hyukjae hanya bisa mengangguk.

Kemudian Hyukjae menghampiri Haejin dan Donghae yang masih berdiri di depan mobil milik keluarga Kwan yang hancur karena kecelakaan tersebut.  Kondisi mobil itu sangat…parah.  Entahlah, Hyukjae tak bisa mendeskripsikan kondisi mobil karena saat ini mobil itu hanya terlihat seperti kaleng soda yang hancur terinjak.

“Ini…mengerikan.  Aku tak bisa membayangkan saat kecelakaan itu terjadi”, gumam Donghae sambil mengelus kap mobil yang hancur seperti bagian mobil lainnya.  Haejin menyeka air matanya dan beralih menatap Hyukjae yang masih terdiam, “Kau…tak bilang pada polisi itu mengenai kondisi Nara dan Jiyoo?”, tanyanya tak percaya saat dia melihat mobil polisi itu melaju meninggalkan mereka.

Hyukjae menggeleng, “Nan molla, Haejin-ah.  Aku sudah tak tahu harus berbuat apalagi.  Jinjja, otakku seakan ingin meledak sekarang juga!”, gumamnya lirih sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.  Donghae menatap sepupunya itu dengan iba, tapi dia sendiri juga bingung dengan hal yang harus dilakukan untuk menghibur Hyukjae.  Otak Donghae juga seakan mulai tidak bisa berpikir jernih karena semua kejadian ini.

Hyukjae menatap kearah Donghae dan Haejin yang menatapnya khawatir, “Sudahlah, lebih baik kalian berdua pulang ke rumah. Apalagi kau, Haejin…orangtuamu pasti cemas karena anak gadisnya belum pulang hingga jam segini”, cetusnya.

Haejin melirik ke jam tangannya, memang sudah pukul 11.00PM.  Wajar saja jika orangtuanya menelfonnya sedari tadi, “Ah, keurae.  Aku memang harus pulang”, gumamnya pelan.  Hyukjae meninju bahu Donghae pelan sambil mengerling kea rah Haejin, “Kau…antarkan dia pulang”, ucapnya ringan sambil tersenyum simpul.

Donghae menggaruk kepalanya ragu, “Lalu bagaimana denganmu?”, tanyanya khawatir.  Hyukjae mengangkat bahu dengan ringan, “Aku bisa melakukannya sendirian.  Aku akan ke rumah sakit untuk mengurus jenazah Kwan Ahjusshi dan Ahjumma, dan kau…teruslah berusaha mencari data mengenai Choi Jiyoo, mungkin saja data itu akan memberikan satu petunjuk mengenai keberadaan Nara”, ucap Hyukjae dan membuat Donghae mengangguk pelan.

“Tidak apa-apa jika kau kutinggal sendiri?”, Donghae mulai cemas jika mengingat kondisi Hyukjae yang mendekati tahap frustasi, tapi Hyukjae langsung menggeleng cepat, “Ya~!  Aku bukan anak TK, Donghae-ya”, sungut Hyukjae sambil mendorong tubuh Donghae kea rah Haejin, “Sudah~ cepatlah antarkan dia pulang”, serunya.

Donghae dan Haejin sempat melambaikan tangan kea rah Hyukjae dan segera dibalasnya dengan lambaian singkat.  Setelahnya, Hyukjae kembali menatap mobil milik keluarga Kwan itu…sungguh, Hyukjae tak bisa membayangkan perasaan Nara saat mengetahui jika kedua orangtuanya meninggal tiba-tiba seperti ini.  Arghhh, apa yang harus dia katakan pada sahabatnya itu?

Tapi tiba-tiba sosok gadis lain kembali masuk ke pikiran Hyukjae, “aishh…Choi Jiyoo, tak bisakah dia berhenti mengganggu pikiranku untuk sekali saja?”, gumam Hyukjae sambil menghentakkan kakinya dengan geram.  Otaknya kini tak bisa berpikir jernih karena gadis itu terus-terusan mengganggu laju kerja berpikirnya.

Hyukjae memutuskan untuk beristirahat sejenak dan beranjak pergi ke swalayan 24 jam yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang.  Kakinya melangkah tanpa tujuan tapi ternyata malah berhenti di rak minuman.  Mata Hyukjae menatap nanar ke setiap barisan minuman itu, tapi saat melihat sebuah susu strawberry terpajang di satu sudut rak, otaknya seakan berputar untuk mengingat segala memori tentang gadis itu.

When you’re sad or in a pain, take a glass of strawberry milk now and then…smile again”

Hyukjae mengingat saat gadis itu memberikannya sekotak susu strawberry dalam perjalanan jogging mereka, Hyukjae mengingat senyumannya, Hyukjae mengingat suara tawanya, Hyukjae mengingat…segala tentangnya.

***********************************************

Zhoumi menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu apartement bernomor 1315.  Dalam hati, dia mendengus kesal melihat segala kemewahan yang dimiliki oleh keluarga Choi ini.  Kenapa segala hal di dunia ini tak pernah ada yang adil?  Kenapa harus kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya?  Kenapa harus ada orang miskin sepertinya?  Kenapa harus ada orang kaya seperti keluarga Choi yang sialan ini?

Akhirnya Zhoumi memencet tombol bel apartement itu, dan tak lama kemudian seorang wanita separuh baya langsung menyambut matanya.  “Annyeonghaseyo”, sapa Zhoumi dengan ramah (keramahan palsu tentunya).

Wanita paruh baya itu langsung tersenyum berbinar, “kau orang yang tadi menelfon kemari?  Orang yang menemukan handphone anakku?”, tanyanya cepat.  Zhoumi hanya mengangguk pelan dan merogoh sakunya kemudian mengeluarkan sebuah handphone berwarna putih metalik, “Ini milik anda, nyonya?”, tanyanya dengan ekspresi tak tahu.

HyeonA langsung merebut hanphone itu dan mengecek segala kondisinya, “Ya!  Ini milik anak saya!  Dimana anda menemukannya?”, tanyanya antusias.  Zhoumi mendehem pelan, “Bisa kita bicara di dalam saja?  Tampaknya tidak sopan jika kita berbicara di depan pintu seperti ini”, ucap Zhoumi dan membuat HyeonA menganga lebar, “Oh My God, sorry~!  Ayo, silakan masuk”, HyeonA mempersilahkan Zhoumi untuk masuk dan dia langsung masuk ke dalam apartement tanpa ragu.

Mata Zhoumi langsung mengelilingi segala penjuru ruangan, cihh…semua peralatan disini adalah merek brand terkenal.  Zhoumi benci melihatnya, amat sangat benci.

“Lalu, dimana anda menemukannya?”, tanya HyeonA lagi, seakan tak sabar.  Zhoumi menoleh pelan dan langsung tersenyum, “Ah, saya menemukannya tepat di pinggiran kota MyeongDong”, jawabnya berbohong, karena tujuan utamanya datang ke apartemen ini adalah untuk mencari informasi mengenai keberadaan Choi Jiyoo, dan Zhoumi pikir…mungkin saja orangtua ini telah mengetahui lebih jauh mengenai keberadaan anaknya itu.  Mungkin saja Jiyoo memberi kabar pada orangtuanya melalui telefon umum, atau melalui apapun…ah, Zhoumi tak peduli mengenai hal itu.

HyeonA mengangguk singkat dan kembali menatap Zhoumi dengan penuh penasaran, “Lalu, hal mencurigakan yang anda bilang di telefon tadi…?”, tanyanya.  Zhoumi pura-pura berusaha mengingat hal itu dan mendecak cepat, “Ah~pada saat saya menemukan handphone ini, saya juga melihat ada sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi.  Entahlah, tapi saya berpikir mungkin saja terjadi…penculikan?”, tanyanya mencoba memancing informasi dari HyeonA.

HyeonA mendesah cepat, “Ya, dia diculik dan sekarang anak lelaki saya sedang mencari keberadaannya”, jelas HyeonA tanpa curiga sedikitpun.  Zhoumi mulai gencar bertanya, “Jinjja?  Kenapa anda tak lapor polisi saja?”

HyeonA menggeleng, “Mereka bilang, nasib Jiyoo akan terancam jika saya menelfon polisi”, ucapnya.  Zhoumi hanya mengangguk paham, “Lebih baik, anda segera menelfon anak lelaki anda dan memberitahu bahwa handphone Choi Jiyoo telah ditemukan, sekaligus menanyakan kabarnya.  Mungkin saja terjadi hal yang tak mengenakkan padanya”, Zhoumi mulai melancarkan teknik andalannya untuk memancing informasi dari seseorang.  Dan terbukti, HyeonA sudah jatuh ke dalam perangkapnya.

HyeonA langsung menelfon ke ponsel Siwon dan untunglah Siwon mengangkat telefonnya, “Siwon-ah, where are you?”

In Apgeujjong? Ah, you know? Someone bring Jiyoo’s cellphone!  And his name is,…”, tanya HyeonA sambil membalikkan badannya untuk menanyakan nama pria yang tadi membawakan handphone Jiyoo.  Tapi, ternyata pria itu sudah tak ada dimanapun.

Sedangkan diluar apartement, Zhoumi langsung berjalan cepat menuju lift sambil menyeringai lebar.  Dia sudah memegang satu petunjuk untuk memulai segala pencariannya, Apgeujjong.  Tangannya merogoh ke dalam saku jaketnya dan dia bisa merasakan laras pistol itu telah menanti mangsanya, Cho Kyuhyun.

*******************************

Nara memandang jalanan di sekitarnya ini dengan perasaan heran.  Rasanya dia amat sangat familiar dengan pemandangan ini, segala hal yang ada di jalanan ini seakan mengingatkannya akan satu hal dari masa lalu.

“Kiri atau kanan?”, tanya Jiyoo saat mobilnya lagi-lagi menemukan 2 tikungan dengan arah yang berlawanan.  Nara masih memandang jalanan di depannya itu, “Belok kiri”, jawabnya singkat dan Jiyoo langsung mengarahkan setirnya kearah kiri.

Nara masih penasaran, rasanya bau udara ini amat dikenalnya.  Tapi Nara tak bisa mengingat tentang jalanan ini, karena jalan raya ini seperti baru dibangun sedangkan yang diingatnya kali ini adalah suatu hal dari masa lalu yang bahkan tak bisa diingatnya.  Arghh, entahlah…Nara bingung bagaimana harus menjelaskan perasaannya kali ini.

“Kenapa wajahmu seperti itu?”, tanya Jiyoo saat melihat kening Nara yang berkerut, sekan berusaha mengingat sesuatu.  Nara menoleh sekilas dan segera menggeleng cepat, “Tidak, aku hanya…mengingat suatu hal yang tak bisa kuingat”, ucapnya galau dan membuat Jiyoo menjadi heran, “Hah?”

Nara menatap jalanan di depannya dan langsung berkata cepat, “Kanan, Jiyoo-ssi”, membuat Jiyoo langsung membanting setirnya kearah kanan.  Jiyoo menatap Nara dengan heran, “Kau pernah lewat jalan ini sebelumnya?”, tanyanya.  Nara hanya mengangkat bahu, “Molla.   Aku juga tak tahu.  Rasanya aku pernah melewati jalan ini dulu, duluuu sekali”, gumamnya sambil kembali memperhatikan jalanan di sekitarnya, “Ah, ke kanan lagi!”

Begitulah seterusnya, Nara terus menunjukkan petunjuk arah jalan pada Jiyoo hingga akhirnya mobil mereka memasuki sebuah gang yang cukup luas dan sangat sepi.  Jiyoo menatap ragu kearah Nara, “Kau yakin ini jalan yang tepat?  Kurasa lebih baik jika kita kembali ke jalan raya, Nara-ssi”, ucap Jiyoo.

Nara menggeleng, “Gwenchana.  Ini jalan yang tepat”, ucap Nara yakin.  Jiyoo masih ragu, “Kenapa kau bisa seyakin itu?”, tanyanya memastikan.  Nara hanya tersenyum simpul, “Di saat seperti ini, tak ada yang bisa kita yakini selain ucapan hati kita sendiri kan, Jiyoo-ssi?”, guraunya.  Jiyoo ikut tersenyum pelan, gadis di sampingnya ini memang…unik.  Segala hal yang diucapkannya kadang-kadang tak didasarkan dengan logika, tapi entah kenapa Jiyoo merasa segala hal yang diucapkan oleh Nara itu benar adanya.  Aishh, Jiyoo juga heran sendiri dengan hal ini.

Akhirnya lampu mobil mulai menyorot sebuah bangunan yang cukup luas dengan halaman yang luas pula.  Nara makin merasa segalanya menjadi jelas sekarang, bangunan ini…adalah panti asuhan tempatnya dirawat dulu.  Nara langsung menepuk bahu Jiyoo dengan bertubi-tubi, “Hentikan mobilnya, Jiyoo-ssi!  Hentikan sekarang~”, jeritnya dengan histeris.  Jiyoo langsung menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan itu kemudian Nara langsung berlari keluar dari mobil dan beranjak menuju bangku belakang, tempat Kyuhyun tertidur.

“Marcus, Ireona!!  Bangunlah~”, seru Nara sambil menepuk pipi Kyuhyun dengan cukup keras hingga Kyuhyun terbangun dengan ekspresi malas, “Ahh~mwoyaa~?”, gerutunya pelan.  Nara langsung melebarkan kelopak mata Kyuhyun dengan kedua jarinya, “Kita…ada di Pyonggang!!”, serunya semangat dan membuat kesadaran Kyuhyun langsung muncul 100%, “Mwo?  Pyonggang!?”, serunya tak percaya dan langsung keluar dari mobil untuk memastikan ucapan Nara.

Ternyata benar, yang ada di hadapannya kali ini memang adalah sebuah bangunan dengan papan nama : Panti Asuhan Pyonggang yang terpajang di depannya.  Kyuhyun menatap Jiyoo dengan tak percaya, “Bagaimana bisa kita sampai disini?”.

Jiyoo mengangkat bahu, “Nara yang memberitahu arah perjalanan”, ucapnya sambil mengedikkan kepalanya ke arah Nara yang masih asyik memperhatikan bangunan itu, “Entahlah, aku juga heran kenapa aku bisa mengarahkan mobil hingga sampai disini, padahal aku hanya pernah sekali melewati jalanan ini.  Saat aku diadopsi keluarga Kwan.  Mungkin ini yang namanya…naluri?”, ucap Nara santai.

Kyuhyun mendesah pelan, “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”, tanya Kyuhyun bingung.  Jiyoo menjawab singkat, “Kurasa akan baik jika kita beristirahat dulu.  Toh sepertinya pria gila itu tak akan bisa mengejar kita sampai kesini.  Ini kan tempat yang lumayan terpencil”.

Kyuhyun menggeleng lagi, “Tidak bisa.  Aku tak memegang kunci panti ini. Tapi…”, tiba-tiba Kyuhyun teringat satu hal yang penting, “Choi Corp yang merebut hak tanah panti asuhan ini.  Seharusnya kau memiliki kunci panti ini kan, Jiyoo-ssi?”, tanya Kyuhyun sambil menatap Jiyoo yang kebingungan, “Me? Choi Corp?  Ah~tidak, aku sama sekali tak mengurusi hal apapun tentang perusahaan, hal itu diurusi oleh kakakku”, jawab Jiyoo.

Nara menatap Kyuhyun dengan heran, “Marcus, kau lupa tempat kita menyimpan harta karun?”, tanyanya sambil menarik lengan baju Kyuhyun menuju ke sebuah pohon pinus yang besar menjulang.  Nara segera menggali tanah di bawah pohon itu dengan tangannya, tapi kemudian dia melirik Kyuhyun dan Jiyoo, “Ingin jadi penonton, hah?”, tanyanya dan langsung membuat mereka berdua langsung ikut menggali.

Beberapa menit kemudian, mereka menemukan sebuah kotak  kayu berukuran sedang yang tertimbun di dalam tanah.  Marcus membuka kotak itu dan munculah beberapa benda yang terlihat kumal dan kusam : sebuah kertas gambar dengan gambar seorang pengantin, gasing kayu, mahkota yang terbuat dari ranting kayu dan sebuah kunci.

Nara segera mengambil kunci itu dan tersenyum nakal kea rah Kyuhyun, “ternyata ada gunanya kan kita mencuri kunci ini dari lemari Ibumu?”, tanyanya dan beranjak menuju pintu rumah.  Tak lama kemudian, pintu yang terkunci itu sudah bisa terbuka.  “Ayo masuk~!”, seru Nara dengan semangat.

Jiyoo hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan Nara yang terlihat seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainannya yang dulu sempat hilang, dia melirik kearah Kyuhyun, “Apa dia selalu begitu sejak kecil?  Selalu hiperaktif?”, tanyanya penasaran.

Kyuhyun mengangguk singkat dan terkekeh pelan, “Tapi sifat ‘tak bisa diam’nya itulah yang membuatku sadar bahwa aku masih bisa mencintai seseorang bernama Nara”, jawabnya dan membuat Jiyoo langsung meledek ringan, “Aiyaa, so sweet!  Gosh, rasanya aku seperti nyamuk pengganggu ditengah masa nostalgia kalian”, ucapnya santai sambil melangkah menuju ke dalam panti asuhan, meninggalkan Kyuhyun yang melongo mendengar perkataan Jiyoo barusan.

“Ya~Choi Jiyoo! Apa maksud kata-katamu tadi?!”

***********************************

DRRRTTT…DRTTTT..DRRRTTTT

Handphone Siwon bergetar, menandakan ada sebuah SMS masuk.  Siwon mengerjapkan matanya sejenak dan memperhatikan kondisi di dekitarnya, dia masih berada di dalam mobil di daerah Apgeujjong.  Masih dalam misinya untuk menemukan Choi Jiyoo, adiknya.

Siwon mengambil handphonenya yang diletakkan di atas dashboard dan membuka flip handphone : [1 INBOX]

From : Dad..!

Today, 11:09PM

Siwon-ah, tolong bantu Ayah untuk mengecek kondisi panti asuhan Pyonggang.  2 hari lagi, Ayah akan mengirimkan kontraktur untuk memugar bangunan itu, dan kita akan segera membangun perusahaan cabang baru disitu.  Ok?  Thanks

To : Dad..!

Today, 11:11PM

Ok, Dad.  Aku akan mengecek keadaan bangunan itu besok pagi.


 

Siwon menutup flip handphonenya dan kembali meletakkannya diatas dashboard.  Dia menguap lebar dan memutuskan untuk tidur sebentar lagi.  Mungkin dia akan melanjutkan pencariannya di pagi hari, kali ini dia hanya ingin…tidur.

Di tempat yang berbeda, Zhoumi sedang mengemudikan mobil antic miliknya menuju arah Apgeujjong.  Berharap dapat mengejar ketertinggalannya dalam menemukan 3 tikus sialan itu.  1 detikpun sangat berarti baginya untuk mengejar 2 gadis dan adiknya itu, dan dia tak ingin menyia-nyiakan hal itu sedikitpun.

***********************************

T.B.C

4 thoughts on “Tears Of Polaris {7th Chapter}

  1. haduuuuh kenapa sulit banget ketemu siwon yak?
    KyuNaraJi buruan lariiii~~ sebelum kekejar mimi ><
    onnie kenapa Nara kasian banget sih? TT3TT
    huweee ga bisa bayangin gimana Nara kalo tau keadaan umma-appa nya.
    dia seneng ketemu orang yang dicintai + dicari2
    sekarang kelhilangan orang tua😥 *peluk Nara*

  2. demi apapun……gmana reaksi nara klu tahu orang tuanya sdh meninggal???

    ya ampuunn..cobsan apa lg yg hrs diterima nara coba? meskipun dia sdh bertemu dgn kembarannya dan kekasihnya,tetep ajj dia menyayangi ortunya kan???…

    aigo…mana zhoumi jd makin bringas gtu lg..

  3. Ya ampuuuun, yaa ampuuuuun.. Dh g sabar ni nnggu zhoumi dpenjara. Ayooooo cptn ke panti asuhan siwooooon, adikmu ada dsnaaaaa.. Kira2 gmn ya kl nara th ortu asuhny mninggal??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s