Tears Of Polaris {6th Chapter}

“Wuahh~Apartement’nya besar sekali”, Donghae mendecak kagum saat melihat gedung Apartement yang ditempati oleh keluarga Choi.  Haejin langsung menyenggol lengan Donghae, “Tutup mulutmu, jangan kampungan seperti itu, Donghae-ya”, sela Haejin cepat dan membuat Donghae hanya terkekeh ringan kemudian segera menggenggam tangan Haejin, “Jika kita menikah nanti, aku pastikan jika kita akan tinggal disini, Haejin-ah”, ucapnya semangat dan membuat pipi Haejin bersemu merah.

Hyukjae mendecak kesal karena harus melihat adegan roman picisan yang kacangan di hadapannya, “Sudahlah, hentikan hal itu. Kalian membuatku mual. Jinjja!!”, gerutunya dan membuat Haejin menyentakkan tangan Donghae karena malu.  “Kau selalu saja iri, Hyukjae-ya”, ucap Donghae pada Hyukjae yang terlihat tak peduli.

Hyukjae melihat kertas yang sedang digenggamnya, ‘Sheraton Apartement’. Dia menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia hanya berharap bahwa Jiyoo ada di sini supaya dia bisa mengetahui keberadaan Nara sekaligus ingin memberitahu tentang perasaannya yang sesungguhnya pada gadis itu.

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?  Berdiri mematung seperti ini?’, tanya Haejin dan membuat Hyukjae segera melangkah cepat ke dalam apartement menuju lobby.  Haejin menatap Donghae dengan heran, “Ada apa dengan sepupumu itu?”, tanyanya karena daritadi dia melihat gelagat Hyukjae yang terasa aneh.  Donghae mengangkat bahunya santai, “Sepertinya seorang wanita telah mengubah hidupnya, sama sepertiku yang berubah karenamu”, ucapnya dan membuat Haejin meninju bahunya pelan.  “Kau tak pernah berubah, tetap narsis dan tukang gombal”, gerutu Haejin dan membuat Donghae meringis kesakitan karena tinjuan Haejin.

“Hei~!  Cepat masuk!!”, teriakan Hyukjae membuat mereka berdua menghentikan guyonannya dan beranjak menghampiri Hyukjae yang benar-benar menyesali nasibnya yang harus mencari Nara dan Jiyoo bersama pasangan gila ini.

——*———————-*———————*—–

..I cant live without you, my all is in you..

Handphone Ririn berbunyi untuk kesekian kalinya dan untuk kesekian kalinya juga Ririn me’reject telefon itu, sehingga membuat Siwon melirik dengan penuh penasaran.  “Siapa?”, tanya Siwon.

Ririn menoleh dan memiringkan kepalanya karena bingung, “Siapa? Apanya?  Maksudmu ini?”, Ririn mengangkat handphone’nya dan menunjukkannya kepada Siwon.  Ia mendesah pelan dan akhirnya tersenyum tipis, “Bukan siapa-siapa, hanya rekan kerjaku.  Sepertinya mereka agak…panic, karena aku tak masuk shift kerja sejak kemarin”, jelas Ririn sambil memainkan handphone’nya di tangannya.  “Ah, tapi kau tak usah khawatir karena…”

I think it much better if you’re back to home, Ririn-ah”, ucap Siwon tiba-tiba sehingga membuat Ririn langsung menoleh kaget, “Hah?”, tanyanya tak percaya.  Siwon tetap memandang lurus ke depan, memilih untuk tak menatap mata Ririn, “Yah, menurutku itu lebih baik.  Aku tak ingin merepotkanmu lagi”, lanjutnya pelan.

Ririn menggeleng cepat, “Ah~ I’m okay, Siwon-ssi. Tenang saja, aku ikhlas menolongmu”, jawabnya.  Tapi Siwon hanya mendesah dengan nafas berat dan membelokkan mobilnya untuk berhenti di bahu jalan, kemudian dia menatap Ririn dengan tegas, “Listen!  I don’t know when I can find Jiyoo. Mungkin saja aku akan menemukannya besok, lusa atau bahkan seminggu lagi dan aku tak ingin kau juga bingung memikirkan hal ini”, jelas Siwon sedangkan Ririn hanya balas menatap Siwon dengan pandangan yang sukar untuk dijelaskan.  “So, please Ririn-ah.  Just…forget about it, and live your life normally”, tekan Siwon sekali lagi tapi Ririn masih diam di tempatnya, tidak mengatakan apa-apa.

“Tidak!”, Ririn menjawab singkat sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.  “Bagaimanapun usahamu untuk menyuruhku menyerah berjuang bersamamu, tak akan pernah mempan, Siwon-ssi.  Tidak-akan-pernah-berhasil!!”, Ririn mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan penuh penekanan sehingga membuat Siwon menatapnya tak percaya.  “Karena aku adalah yeoja yang keras kepala”.

Siwon mengerjapkan matanya beberapa kali sambil membuka mulutnya dengan linglung, benar-benar bingung harus mengatakan apa.  Gadis di hadapannya ini benar-benar…unik.  Entahlah, Siwon juga tak tahu harus mengatakan apa untuk mengekspresikan perasaannya kepada gadis ini.  “Ririn-ah, please…anggap saja kau tak pernah bertemu denganku”, ucap Siwon untuk terakhir kalinya tapi Ririn hanya memandang kedepan sambil menggelengkan kepalanya, “Big No~! Tidak akan pernah! Never! Shireo~!  Nehi’~! Harus berapa bahasa lagi yang harus kukatakan supaya kau mengerti ucapanku, tuan muda Siwon?”, tanya Ririn sambil melirik tajam kearah Siwon.

Pada akhirnya Siwon hanya bisa terkekeh pelan dan lagi-lagi senyumannya itu timbul karena tingkah gadis ini, “Kau…aneh.  Benar-benar aneh, Ririn-ah”, ucap Siwon sambil mengacak rambut Ririn dengan lembut.  “Tapi, aku suka dengan keanehanmu itu”.

Ririn mengangguk pelan dan tersenyum simpul, “Keanehanku inilah yang membuatku spesial.  Bukan begitu?”, tanyanya dan membuat Siwon hanya bisa menyunggingkan senyum lebarnya.  Tapi kemudian Siwon menyela, “Tapi, kau benar-benar harus kembali ke rumah, Ririn-ah”, ucapnya.

“Wae~?!”, tanya Ririn kesal dan langsung dijawab dengan ekspresi aneh Siwon, “Bukankah…kau harus mandi setelah seharian berada di mobil?”

——*———-*———–*————*——

Kyuhyun melangkah menuju ruang tengah dengan perasaan gusar.  Dia benar-benar tak tahu bagaimana caranya untuk melindungi Nara dari Zhoumi.  Apalagi setelah Zhoumi membawa gadis yang mirip dengan Nara itu ke rumah, dan Kyuhyun yakin bahwa dia adalah Choi Jiyoo yang sesungguhnya.  Dia sudah tak bisa berpikir jernih lagi, tiba-tiba segalanya terasa amat sangat rumit baginya.  Kenapa 2 gadis itu harus ada di hadapannya sekarang?  Apa Tuhan ingin mempermainkannya?!

“Sedang apa kau disitu?  Cepat kemari!”, seru Zhoumi dan membuat Kyuhyun segera menghampiri Zhoumi yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah.  Kini mereka berdua duduk berhadapan dan tiba-tiba atmosfir suasananya mulai tak mengenakkan bagi Kyuhyun.  “Hyung, ada yang ingin kutanyakan padamu…”, tanya Kyuhyun ragu.  Zhoumi mendelik tajam, “Mwo?”, jawabnya dingin.

“Itu…gadis yang tadi kau bawa pulang, bagaimana bisa kau menemukannya?”, tanya Kyuhyun hati-hati dan membuat Zhoumi menatapnya curiga, “Apa hubungannya denganmu?”.

Kyuhyun langsung menelan ludah dengan gugup, “Ahh, animida.  Aku hanya..terkejut, karena 2 gadis itu sangat mirip”, jawab Kyuhyun sambil mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya.  Zhoumi hanya terkekeh pelan dan menaikkan kedua kakinya keatas meja, “Aku tak mau tahu karena itu bukan urusanku.  Yang aku tahu, salah satu diantara mereka adalah Choi Jiyoo dan dialah target kita, Kyuhyun-ah”, ucap Zhoumi sambil menyeringai licik.

Kyuhyun mulai merasa tak nyaman dengan pembicaraan ini, “Lalu, apa yang akan kau lakukan pada gadis yang bukan Choi Jiyoo, hyung?”, tanyanya penasaran dan segera dijawab oleh pisau lipat yang dikeluarkan oleh Zhoumi dari dalam saku celananya.  “Mudah saja, hanya dengan 1 tusukan dan segala pertanyaanmu itu akan terjawab”, jawabnya dengan ringan sambil menatap kea rah pisau lipat yang digenggamnya.

Kyuhyun hanya bisa diam menyembunyikan segala rasa takutnya akan keselamatan nyawa Nara.  Yang dia bisa pastikan sekarang, dia harus membawa kabur Nara dari sini SECEPATNYA.  Tapi bagaimana caranya?

“Ah~hyung, bagaimana jika kita minum-minum hari ini?  Untuk merayakan keberhasilan kita menculik Choi Jiyoo dan bahkan mendapatkan ‘bonus’ gadis lainnya”, ucap Kyuhyun sambil tersenyum lebar, mencoba menyembunyikan segala rasa gugupnya.  Zhoumi menatap Kyuhyun sekilas, “Ide bagus, tapi kau yang traktir kan?”, tanya Zhoumi ringan.  Kyuhyun mengangguk cepat, “Tentu, aku yang traktir”, jawabnya singkat.

Zhoumi kemudian tersenyum licik, “Setelah minum-minum, aku ingin ‘bermain’ dengan gadis itu.  Gadis yang memakai seragam.  Dan kau jangan ganggu aku, Kyuhyun-ah”, ucapnya sambil memperingati Kyuhyun yang hanya bisa mengangguk pelan, “Arasseo, hyung.  Aku tak akan mengganggu kalian”, ucapnya getir, menahan segala gejolak dalam dirinya untuk menghajar Zhoumi saat itu juga.  Saat ini, misinya adalah untuk membawa kabur Nara setelah membuat Zhoumi mabuk berat.  Dan Kyuhyun berharap idenya ini berjalan lancar.

————*———————-*———————*——-

Nara masih memandangi gadis yang tertidur itu dengan penuh rasa penasaran.  Wajah mereka amat sangat mirip, itulah yang menjadi pertanyaan di benaknya sedari tadi.  Terlalu kebetulan jika mereka hanyalah salah satu dari 7 fenomena ‘orang yang berwajah mirip’, rasanya Nara merasakan hal yang lain pada gadis ini.

Tapi tak lama kemudian Nara menyadari hal yang lain, ‘Gadis itu memakai sweater miliknya!’.  Ya, tak salah lagi, itu adalah sweater’nya.  Karena sweater itu adalah rajutan asli yang diberikan dari Donghae dan Hyukjae sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke’17.  Mereka berdua merajutnya sendiri, jadi tak mungkin jika gadis ini membeli sweater itu di tempat lain karena sweater ini hanya ada 1 di dunia.

Tiba-tiba Nara merasa kepalanya menjadi pusing.  Satu demi satu pertanyaan kembali menumpuk di otaknya.  Belum habis pertanyaan mengenai identitas gadis ini, muncul lagi 1 pertanyaan : kenapa gadis ini memakai seluruh perlengkapan pribadi miliknya?!

Nara tak  bisa menahan semua rasa penasarannya lagi.  Akhirnya dia mencoba untuk maju dan membuat kursinya tertarik ke depan sedikit demi sedikit, sebisa mungkin dia berusaha untuk tak menimbulkan suara yang mencurigakan supaya 2 penculiknya itu tak menyerangnya.

Setelah berusaha keras, akhirnya dia berhasil berada tepat di samping kasur yang ditempati oleh Jiyoo.  Karena kedua tangannya yang terikat, akhirnya Nara hanya bisa menendang sisi kasur beberapa kali dengan harapan bahwa gadis itu segera bangun dan menjelaskan semua hal yang yang telah terjadi kepadanya.

–*—————-*——————*—————-*—–

Jiyoo merasa tubuhnya seperti diguncangkan oleh sesuatu, tidak cukup kencang memang, tapi itu dapat membuatnya sadar dari tidurnya.  Dia mengerjapkan matanya untuk sejenak dan menyadari bahwa dia berada di tempat yang tak dikenalnya.

“Hmmmp! Hmmp!”, terdengar suara dari sampingnya dan Jiyoo menoleh pelan.  Dia sangat terkejut saat melihat sosoknya yang lain sedang duduk dengan tubuh terikat tali dan mulut yang ditempel oleh selotip yang cukup besar.

Baru pada saat Jiyoo akan menanyakan keberadaannya sekarang, dia menyadari bahwa tangannya telah terikat ke selusur kayu tempat tidur sehingga ia kini tak dapat berbuat banyak.  “Aishh~ Bloody hell!!  What’s goin’ in here?!”, tanyanya pada gadis yang mirip dengannya.  Tapi gadis itu hanya menjawab dengan gumaman karena mulutnya terkunci oleh selotip itu.

Jiyoo mencoba untuk menenangkan dirinya sejenak, biarpun sama sekali tak tahu dengan apa yang terjadi saat ini.  Tapi pandangannya masih tertuju ke gadis yang di depannya, “You…look similar with me.  Who are you?”, tanya Jiyoo yang kini sudah mengembalikan aksen Inggrisnya yang sejak kemarin tidak ia gunakan karena dia ingin membahagiakan Hyukjae.

Nara benar-benar bingung harus melakukan apa untuk menjawab pertanyaan Jiyoo.  Dia tak bisa berbicara dan tangannya tengah diikat di kursi, dia benar-benar tak bisa melakukan apa-apa.  Tapi kemudian dia memiliki sebuah ide sederhana, “Hmmp! Hmmp!”, Nara menggumam sambil menggerakkan kepalanya untuk membentuk inisial huruf namanya.  Dimulai dari huruf ‘N’.

Jiyoo menatap gadis dihadapannya ini dengan heran, sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?  Menggerakkan kepalanya seperti itu?  Ahh~gadis gila.  “I’m asking to you, who are you?”, tanyanya lagi dan gadis itu makin menggumam kencang juga menggerakkan kepalanya dengan lebih semangat dari sebelumnya.  Jiyoo memandangi gerakan kepala gadis itu, dan dia menyadari bahwa gadis itu membuat gerakan yang membentuk huruf, “N?”, ucap Jiyoo pelan dan membuat gadis itu mengangguk senang.

Kemudian gadis itu membuat gerakan lain yang membentuk huruf, “A?”

Lalu, “R?”

Dan yang terakhir, “A?”

Jiyoo membelalakkan matanya tak percaya saat gadis itu mengangguk dan matanya seakan membentuk eye smile yang manis biarpun mulutnya sedang dibekap oleh selotip, Nara?  Are you Nara? Kwan Nara?”

——-*—————-*——————-*—–

Hyukjae, Donghae dan Haejin kini berdiri di depan sebuah pintu apatement nomor 1315.  Donghae masih menganga kagum menatap keadaan sekelilingnya dan mebuat Haejin harus menyenggol bahunya lagi, “Sudah kubilang, jangan kampungan!!”, desis Haejin sambil mencubit pinggang Donghae yang langsung mengaduh kesakitan.

Hyukjae mencoba tak peduli dengan pasangan di sampingnya dan segera memencet bel.  Tak lama kemudian, pintu apartement itu terbuka dan muncullah sesosok wanita paruh baya dengan penampilan yang lesu dan kuyu.  “Who are you?”, tanyanya tak semangat.  Hyukjae, Donghae dan Haejin langsung saling bertatapan dengan pandangan, ‘BAHASA INGGRIS LAGI?!’.

Hyukjae mendorong bahu Donghae untuk berbicara tapi Donghae langsung berbisik pada Haejin, “Haejin-ah~ gunakan kemampuan tes TOEFL-mu!!  Ayo~hwaiting!”, ucapnya sebari mendorong tubuh Haejin untuk maju dan berhadapan dengan wanita tua itu.  Haejin yang awalnya ingin menolak hanya bisa tersenyum kaku saat melihat wanita dihadapannya itu menatap mereka jengah, “We..are..Nara, ahh..ani!! We are Jiyoo’s friend.  Can we meet she..ahh, bukan!!  Can we meet her?”, ucap Haejin terbata setelah bersusah payah menemukan kosakata yang tepat untuk melengkapi kalimatnya barusan.

Wanita tua itu hanya mendesah cepat dan menggumam pelan, “She’s not here. Just..go, now!  I won’t be disturbed!”, ucapnya dan langsung menutup pintu apartement’nya dengan kasar sehingga membuat mereka bertiga tersentak kaget.  Kemudian merreka kembali berpandangan, “Ciri khas orang Amerika, sangat sinis terhadap tamunya.  Bahkan kita tak dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya”, ucap Donghae sambil mengangkat bahunya.

Hyukjae menggigiti kukunya, suatu kebiasaan dikala dia sedang kalut dan bingung dengan apa yang harus dilakukan.  “Jigeum ottokhae?”, desisnya pelan dengan raut wajah yang sudah mulai frustasi.

Donghae menatap sepupunya itu dengan prihatin.  Dia tahu bahwa keberadaan Nara sangat berharga untuknya, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa gadis yang disukainya saat ini juga ikut menghilang, yaitu Choi Jiyoo.  Dia tak bisa membayangkan bagaimana kalutnya perasaan Hyukjae.

Donghae segera merangkul leher Hyukjae dan mengacak rambut sepupunya itu dengan gemas, “Ya~!! Kenapa mesti bingung?  Biarpun kita tak punya informasi apapun, tapi asalkan ada kau, aku dan si cantik jelita ini, kita pasti bisa menemukan Nara dan Jiyoo”, ucapnya sambil tersenyum kearah Haejin yang wajahnya kembali memerah karena disebut ‘cantik jelita’.

Hyukjae hanya tersenyum simpul kearah Donghae dan Haejin yang balas tersenyum kepadanya.  Yahh~biarpun kadangkala pasangan ini selalu membuatnya jengkel, tapi tak urung keberadaan mereka berdua bisa membuat Hyukjae sedikit tenang karena ia menyadari dia tak sendirian di arena ini.

“Jadi, menurutku..lebih baik kita pulang ke rumah dan membicarakan mengenai strategi yang harus kita lakukan selanjutnya”, ucap Donghae dan langsung disetujui oleh Haejin & Hyukjae.  “Lalu, tunggu apalagi? Kkaja~!!”

——-*—————-*—————*———–*———-

HyeonA menutup pintu apartementnya dengan kasar dan mencoba untuk tak mempedulikan keberadaan 3 anak muda diluar sana.  Dia benar-benar dilema saat ini, di satu sisi dia ingin sekali berbicara dengan mereka bertiga dan memberitahu mengenai keadaan Jiyoo yang diculik oleh seseorang.  Tapi di sisi lainnya, dia tak ingin memperparah keadaan dengan membiarkan semakin banyak orang yang mengetahui kenyataan bahwa Jiyoo diculik, karena jika semakin banyak orang yang tahu maka mungkin saja mereka akan melaporkan hal ini pada polisi dan hal itu tentu saja membahayakan kondisi Jiyoo.

HyeonA melangkah ke ruang tengah dengan lunglai dan berbaring di sofa dengan nafas yang berat.  Rasanya dia akan memberikan apapun dalam hidupnya asalkan anak gadis kesayangannya itu bisa kembali di sisinya dan berkumpul bersama keluarganya.  Itulah satu-satunya keinginannya saat ini.

TING..TONG..TING..TONG..

Bel kembali berbunyi dan membuat HyeonA mendesah pelan, “sepertinya 3 anak muda itu masih juga belum menyerah”,pikirnya.  Dia kembali melangkah lemas ke depan dan membuka pintu.  Tetapi senyumnya langsung terkembang saat melihat Siwon berdiri di luar sana dengan wajah yang terlihat amat lemas, “Siwon-ah!! My son~  Are you ok?”, tanyanya sambil memeluk Siwon untuk sejenak.

Siwon hanya mengangguk singkat dan balas memeluk HyeonA.  I’m Ok, mommy.  I’m just..tired”, ucapnya pelan dan beranjak masuk ke dalam rumah.  Dia langsung duduk dan menyenderkan seluruh tubuhnya di sofa ruang tengah.  HyeonA menatap Siwon dengan penuh harapan, “How’s about Jiyoo?”, tanyanya.

Siwon mendesah kecewa dan memijat keningnya yang terasa berat, “I’m sorry, mommy.  I can’t find her yet.  She’s…gone”, ucapnya tanpa memandang wajah Ibunya yang pasti terasa amat kecewa.  “But, don’t worry, Mommy.  I’ll find her, but not in a short time”, janjinya sambil menggenggam tangan Ibunya itu.

HyeonA mencoba kuat dan tersenyum tipis pada Siwon.  Setidaknya anaknya itu telah berusaha mencari adiknya yang bahkan…bukan adik kandungnya.  HyeonA  merasa berdosa karena menyembunyikan hal ini pada mereka berdua.

KRINGG..KRRINGG.,

Telefon rumah berbunyi dan membuat HyeonA langsung berderap mengangkat telefon itu, berharap kabar mengenai Jiyoo.  Tapi harapannya langsung terbang saat mendengar suara berat diseberang sana, “Ah, yes honey?”, lirih HyeonA dan membuat Siwon segera menghampiri HyeonA.  Is it Daddy?”, bisiknya dan dijawab oleh anggukan HyeonA.

How’s LA, Honey?  Ah, ya~ We’re fine here.  Siwon beside me, and Jiyoo…”, ucapan  HyeonA langsung terputus dan sepertinya dia benar-benar bingung untuk mencari kata-kata yang tepat.  Jiyoo…”.

Siwon segera merebut gagang telefon dari Ibunya dan berbicara cepat pada Ayahnya itu, “Hi, Daddy.  What’s up?  We’re really miss you, you know?  Ah, yaa~I’m fine and Jiyoo is happy now.  She’s get a new friends and now she’s hangout with them.  Aren’t you happy to hear that?”, ucap Siwon, mencoba untuk mengelabui Ayahnya.  Dia tak ingin membuat Ayahnya itu shock karena mendengar kabar bahwa anak hadisnya kini telah diculik dan jaminan untuk mendapatkannya kembali adalah dengan menghancurkan perusahaannya sendiri.

Siwon hanya bisa menggumam mengiyakan segala ucapan dan nasihat yang diucapkan Ayahnya dari seberang telefon, sedangkan HyeonA sudah jatuh berlutut sambil bersender di rak lemari kayu di belakangnya.  “Yes, daddy.  I know, I’ll take care of her”.

Setelah telefon itu berakhir, Siwon kembali beranjak mengambil jaket’nya dan berdiri di hadapan Ibunya, “Mommy, just calm down.  I’ll find her for us.  I cross my heart for that”, ucapnya sambil menggenggam tangan HyeonA dengan erat.  Kemudian dia kembali pergi meninggalkan rumah untuk mencari keberadaan adiknya itu.  Ya~!!  Angela Choi, where are you now?!!”

——*——————-*————————-*———-

Ririn segera keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan harus semerbak karena dia baru saja mandi, setelah Siwon menawarkan untuk mengantarkan ke rumahnya untuk membersihkan tubuhnya yang sejak kemarin memang harus bertarung dengan rasa lelah karena harus mengelilingi Seoul seharian penuh.

Just stay there and wait for me, ok?”, ucap Ririn saat mobil Siwon sampai di depan rumahnya.  Siwon hanya mengangguk singkat dan mengacak rambutnya lembut, “Mandi yang bersih~!”, ingatnya dan membuat Ririn hanya terkekeh pelan.

Dan disinilah Ririn sekarang, duduk di depan meja riasnya sambil bersenandung pelan.  Dia benar-benar senang karena telah menemukan pria baik seperti Choi Siwon dan dia bertekad untuk tak akan pernah melepaskannya lagi, apapun yang terjadi.

Setelah beberapa menit, Ririn selesai memakai baju dan berhias sekilas.  Dia bersenandung pelan saat beranjak menuju pintu depan, tapi…dia benar-benar shock saat matanya tak menemukan mobil jeep milik Siwon terparkir di halaman rumahnya!!

Ririn benar-benar panic sekarang, matanya mengelilingi segala penjuru rumahnya, berharap menemukan sosok Siwon tengah tersenyum manis padanya.  Tapi percuma, di sana tak ada siapapun selain dirinya.   Tapi matanya menangkap keberadaan sebuah kertas yang ada di atas meja di luar rumahnya dan ditahan oleh vas bunga.  Ririn mengambil kertas itu dan membacanya pelan, ini..tulisan Siwon?

Ririn-ah..

I know you’re tired, and I hate that.. I hate to know you’re tired..

Now, just take a bit rest..

Go take a nap, go to watch your favorite movie and do your favourite things..

You must know, I’ll not leave you..

I just don’t want you too tired to think my problem..

And when my problem is solved (when I found Jiyoo), I’ll comeback to you and show you the most beautiful side of world..

So, just wait for that time, will you? (^w^)

 

Hug, kisses and love,

 

Choi Siwon.

Ririn hanya bisa mendesah dengan nafas berat dan melipat kertas itu dengan galau, “Do my favourite thing?  Don’t you know, my favourite thing is to see you smile, Choi Siwon”.

——*——————-*——————–*————

Kyuhyun berjalan dengan langkah resah.  Di tangannya, dia membawa beberapa botol soju dan beberapa bungkus cemilan.  Dia melangkah dengan cepat, takut jika Zhoumi melakukan hal yang membahayakan kondisi kedua gadis itu.  Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa menjadi menyesal karena telah memutuskan untuk bergabung dengan usul Zhoumi ini.  Kini di otaknya sama sekali tak ada pikiran mengenai dendam pada Choi Corp, yang ada di pikirannya kini adalah untuk menyelamatkan Nara dan juga Choi Jiyoo.

Tak lama kemudian, Kyuhyun sampai di rumahnya dan segera menuju ruang tengah.  Dalam hati, dia amat bersyukur saat melihat Zhoumi yang masih santai membaca beberapa majalah, “Hyung, ini soju’nya”, ucapnya mencoa untuk bersikap wajar dan menaruh belanjaannya di meja.  Zhoumi memeriksa botol-botol itu dan langsung menyeringai lebar, “Baguslah jika kau tahu jenis soju kesukaanku”, ucapnya sinis.  Kyuhyun hanya mengangguk dan beranjak menuju dapur.  “Aku akan mengambil pembuka botol dulu di dapur”, ucapnya.

Setelah mengambil pembuka botol, langkah Kyuhyun berbelok menuju kamar tempat Nara dan Jiyoo disekap.  Dia mencoba masuk tanpa menimbulkan suara supaya tidak dicurigai oleh Zhoumi, dan yang dilihatnya kali itu adalah Jiyoo yang sudah sadar serta posisi Nara yang sudah berada di samping ranjang Jiyoo.  “Kalian..sedang apa?”, tanyanya heran.

Jiyoo yang kaget melihat Kyuhyun berniat untuk berteriak tapi dengan cepat langsung ditahan oleh bekapan tangan Kyuhyun, “Ya!!  Diamlah~!  Kau harus ikuti semua ucapanku”, desisnya tepat di telinga Jiyoo.  Jiyoo menatap Kyuhyun dengan penuh tanya, “Why should I?”, tanyanya heran.  Kyuhyun yang merasa tak punya waktu untuk menjelaskan hal yang sebenarnya pada Jiyoo, menatap kea rah Nara untuk meminta bantuan.  “Nara-ya, jelaskan semua yang terjadi padanya”, ucap Kyuhyun sambil melepaskan selotip yang menempel di mulut Nara sehingga Nara bisa berbicara dengan bebas sekarang.

“Ya~ kau tak tahu bagaimana tersiksanya saat mulutnya disumpal oleh selotip, Marcus Cho!”, keluh Nara pada Kyuhyun yang terkekeh pelan.

Tapi kemudian Kyuhyun menatap Nara dengan tegas, “Kau bersiap-siaplah dengan Jiyoo, Nara-ya.  Kita akan kabur malam ini”,ucapnya sambil melepaskan segala ikatan yang ada di diri Nara.  Nara menatap Kyuhyun tak percaya, “Malam ini?!”, tanyanya tak percaya. Tapi Kyuhyun hanya mengangguk singkat, “Wish me luck, ucapnya seraya mengecup kening Nara pelan.  “Percayalah padaku”, ucapnya sebelum sosoknya menghilang di balik pintu kamar.

Nara masih heran dengan apa yang terjadi, mala mini mereka akan kabur?  Bagaimana caranya?!

“Hei”, panggilan Jiyoo membuat Nara menoleh untuk sejenak.  “Can you explain about anything that happens to us now?”, ucapnya.  Nara mendesah pelan dan beranjak melepaskan ikatan yang ada di tangan dan kaki Jiyoo, “Pria tadi, dia hanya salah target penculikan.  Harusnya dia menculikmu, tapi entah mengapa…dia malah menculikku”, jelas Nara sambil tetap berkonsentrasi melepaskan ikatan itu.

Nara kembali menoleh kearah Jiyoo, “Dan kau, kenapa kau memakai pakaianku?”, tanyanya heran.  Jiyoo hanya melirik ke sweater yang dipakainya dan tersenyum simpul, “It because…”

Dan mengalirlah cerita selama mereka berdua mengalami kejadian yang membuat mereka ‘tertukar’.  Tentang kejadian penculikan Nara & pertemuannya dengan Marcus.  Tentang kejadian Jiyoo yang berpura-pura menjadi Nara dan pertemuannya dengan Hyukjae.  Hanya ada 1 kata yang dapat menggambarkan perasaan mereka kali ini, mereka ‘COCOK’.

——*———————*——————–*————*———-

Sudah hampir 2 jam Kyuhyun melayani Zhoumi dan pada akhirnya kini Zhoumi sudah mabuk berat.  Kyuhyun bisa melihat wajah kakak tirinya itu kini merah padam dan kini dia mulai meracau tak jelas.  Tapi yang paling membuatnya shock adalah saat dimana Zhoumi mengatakan hal yang tak dapat dipercayainya, “Kau sama bodohnya seperti Ayahmu”.

Kyuhyun mendelik heran, “Apa maksud Hyung?”, tanyanya memastikan.  Zhoumi melanjutkan ucapannya, “Kalian berdua sama-sama mempercayaiku yang ingin mencelakai kalian.  Hahaha~ sungguh amat bodoh”, seru Zhoumi sambil kembali menenggak isi botol sojunya.

Kyuhyun hanya bisa diam, dia mulai merasakan ada hal yang tak beres mengenai ucapan Kakak tirinya ini.  Zhoumi seperti tak peduli dengan ekspresi Kyuhyun dan kembali berbicara, “Kau kira siapa yang membunuh Ayahmu yang bejat itu?  Itu aku, Kyuhyun-ah!!  Hahaha~  Kau kaget bukan?  Kau kaget bukan?”, tanyanya seakan menggoda Kyuhyun yang sama sekali tak mengetahui apapun mengenai kebenaran itu.

Kyuhyun benar-benar naik pitam.  Dia tak pernah menyangka bahwa idenya untuk membuat Zhoumi mabuk malah akan menguak kebenaran seperti ini. Seluruh darahnya menggelegak hebat, rasanya dia benar-benar bodoh karena sudah bekerjasama dengan orang yang bahkan telah membunuh Ayahnya sendiri.  Belum sembuh rasa shock mengenai kenyataan itu, Zhoumi kembali berseru, “Lalu, siapa yang membuat Ibumu tertekan dan merasa seperti dikejar oleh malaikat pencabut nyawa, Kyuhyun-ah?  Yaa~Itu aku!!”.

Kini Kyuhyun tak bisa menahan segala amarahnya.  Dia langsung melayangkan tinjunya ke wajah Zhoumi hingga ia tersungkur ke lantai, “KAU..BERENGSEK!!!”, teriaknya kencang.  Zhoumi menyeka darah yang keluar dari bibirnya yang sobek dan menatap Kyuhyun dengan pandangan penuh nafsu untuk membunuh, “Ya, aku tak menyangka bahwa aku akan membunuh seluruh keluarga Cho”, gumamnya dan mengeluarkan pisau lipat miliknya dari dalam saku celananya.

Zhoumi melompat menyerang Kyuhyun, rasanya seluruh tenaga Zhoumi seperti terisi penuh karena pengaruh soju itu seakan memberinya kekuatan yang tak terkira untuk menyerang Cho Kyuhyun, satu-satunya musuh yang tersisa untuknya.  Sedangkan Kyuhyun yang tenaganya kalah dibandingkan Zhoumi, hanya bisa tersungkur dan mencoba menahan laju pisau lipat milik Zhoumi yang terarah ke perutnya.

“Sebagai dongsaeng, seharusnya kau tak boleh melawan perkataan Hyung’mu, Kyuhyun-ah”, ucap Zhoumi sambil menyeringai sinis.  Kyuhyun masih mencoba melawan dan berteriak kencang, “Aku tak pernah sudi mempunyai kakak sepertimu!!”.

Zhoumi terkekeh pelan, “Baguslah jika kau tak mengaku sebagai dongsaeng’ku.  Itu berarti aku akan bisa membunuhmu tanpa beban”, ucapnya singkat dan mengayunkan pisaunya kea rah lengan Kyuhyun.  “ARGHHH~!”, teriakan Kyuhyun terdengar seiring dengan pisau yang menancap ringan di lengannya.

“Kita mulai dari yang ringan, baru kemudian mulai ke sajian utama”, ucap Zhoumi sambil mengangkat pisaunya dari lengan Kyuhyun dan kini mengarahkannya ke jantung Kyuhyun, “Tenang saja adikku, hyung tak akan membiarkanmu merasakan penderitaan itu terlalu lama”, ucapnya dan segera mengayunkan pisaunya ke jantung Kyuhyun.

“ARGGGHHHH!!”

——*——————-*—————-*————-*———-

Nara kini melihat sosok Zhoumi yang rubuh tepat di atas tubuh Kyuhyun dan tangannya yang kini memegang sebuah bat baseball membuatnya tak sadar untuk sejenak, “Apa..yang sudah..kulakukan?!”, tanyanya tak percaya.

Kyuhyun menyingkirkan tubuh Zhoumi dari atas tubuhnya dan menggumam pelan, “Kau sudah menyelamatkanku, Nara-ya”, ucapnya sambil memegang lengannya yang mengeluarkan darah yang cukup deras.

Jiyoo keluar dari kamar sambil membawa kotak P3K kea rah Kyuhyun dan Nara, “Here!!  Use this!  Fastly, before you get infection, seru Jiyoo tapi Kyuhyun langsung menggeleng kencang, We can heal this later.  Now we must go fastly!!”, ucapnya seraya mengambil kunci mobil miliknya yang tersimpan di samping TV.  Dia menyerahkan kuncinya pada Nara, “Ini, kau yang menyupir”, ucap Kyuhyun.

Nara langsung blank, “Kau bercanda?  Naik sepeda pun aku tak bisa, Marcus!”, serunya.  Tapi Jiyoo langsung mengambil kunci itu dari tangan Kyuhyun, I’ll drive and you heal his pain!”, ucapnya sambil menyerahkan kotak P3K itu kepada Nara.  “Ayo!!  Cepat pergi sekarang sebelum dia terbangun!”, seru Kyuhyun sambil menarik tangan Nara dan Jiyoo untuk segera pergi dari rumah itu.

So where will we go now?!”, tanya Jiyoo saat dia sudah berada di bangku kemudi.  Nara dan Kyuhyun menjawab kompak, “Kemana saja~!  Yang penting cepat pergi dari sini!!”

——-*——————*——————*————

3 jam kemudian…

Zhoumi mengerjapkan matanya beberapa kali dan meringis kesakitan saat kepalanya berdenyut-denyut hebat.  Dia menyadari bahwa kepalanya itu memar dan tumbuh benjolan besar.  Dia melirik ke segala penjuru rumah, dan yang dilihatnya hanya rembesan darah lengan Kyuhyun dan sebuah bat baseball yang tergeletak begitu saja.

Zhoumi melangkah pelan ke kamar tempat 2 tawanannya itu disekap, tapi tak ada siapapun di sana.  Hanya ada tali tali yang seakan menjadi saksi bisu bahwa dua gadis itu menghilang melarikan diri.

Zhoumi meninju pintu kamar itu dan segera kembali menuju kamarnya kemudian segera mengacak isi laci lemarinya.  Tak lama kemudian, dia menemukan sebuah benda yang membuat senyumnya terkembang lebar.  Sebuah pistol yang terlihat mengkilau karena ditempa oleh cahaya lampu kamarnya.

“Kalian..tak akan bisa lari dariku”.

——–*——————–*——————*—————

T.B.C


4 thoughts on “Tears Of Polaris {6th Chapter}

  1. etdaaaah .___.
    ni sumpah kenapa bang mimi ku jadi serem banget ya? mukanya bang mimi emang licik sih *dicekek* tapi dia baik kok sama akuuu u.u /plakk
    HYUK JAE TUNGGU AKUUUU!! *berlagak jadi jiyoo*
    ehhh suka sama karakter jiyoo :*

  2. Yeeeeeeyyyy mreka bs loloooooooooossss.. Bs sdkit lega nih. Tp zhoumi msh jd ancaman mrekaaaaaaa.. Knp td zhoumi g diikat aj siiiiihhhhh?? Huuuuhhh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s