-Contest Fiction- My Fake Boyfriend

Original Fanfiction By : Kay_Keren (@Wookayevil)

Don’t Forget to leave a comment~

Ur words are precious for us as the author of this story 🙂

***

Namaku Kwan Nara. Siswi dari Namsoon High School. Aku kelas 2 SMA sekarang. Aku baru saja mendapatkan rapor kemarin dan hari ini merupakan hari dimana kelas kami dibagi setelah kenaikan kelas 1. Aku menelusuri sekian banyak ruangan kelas 2. Mata ku terhenti di kelas 2-2. Kwan Nara, Kwan Nara, Kwan Nara. Dapat! Kumasuki ruangan kelas itu

“Ya, Lee Hyukjae! Kenapa kita sekelas lagi?” teriakan powerful nan membahana menerobos telingaku ketika aku memasuki ruang kelas. Tampak seorang yeoja sedang meneriaki seorang namja yang duduk dibelakangnya. Aku tersenyum singkat. Masih bingung akan menduduki kursi yang mana. Lagipula, aku belum menemukan teman sekelasku yang juga masuk dikelas ini.

Yeoja tadi tersenyum memandangku dan mengisyaratkan aku duduk dikursi tepat disebelahnya. Aku meneriam ajakan tersebut. Kuletakkan tas yang tersandang di bahuku dan mencoba berkenalan dengan mereka berdua.

“Annyeong, naneun Kwan Nara imnida, dari kelas 1-2. Bangapseumnida.” Sapaku sembari menjulurkan tangan, agar terlihat sedikit ramah.

“Naneun Choi Jiyoo imnida, aku dari kelas yang bersebelahan dengan kelasmu kemarin, kelas 1-3. Ini Lee Hyukjae, namja dengan gusi maju 15 sentimeter.” Ujar yeoja tersebut tak kalah ramahnya, menyambut uluran tanganku, sekaligus memperkenalkan temannya.

“Heits, jangan salah! Begini-begini aku ditaksir banyak yeoja lho!” kata Hyukjae. “Panggil saja aku Eunhyuk!” sambungnya lagi.

Senang rasanya mendapatkan teman baru. Mereka berdua ramah dan menyenangkan, meski sedikit berisik karena kerjanya berantem terus. Jiyoo dan Hyukjae, pasangan yang serasi sepertinya.

Seorang namja dengan gaya sedikit berantakan masuk ke kelas ini. Namanya Cho Kyuhyun. Aku mengenalnya meski ia tak mengenalku. Semenjak kelas 1 aku mengaguminya. Well, bukan dalam artian aku menyukainya, tapi aku penasaran karena gayanya yang sedikit misterius untukku. Seperti ada magnet yang menarik diriku untuk ingin mengetahui lebih banyak mengenainya. Continue reading

Advertisements

(OneShot) Chocolate – Strawberry (Ms.Chocolate’s POV)

REWARD : 5 POINT
Hanya untuk 3 orang dengan comment terbaik 🙂

***

Di dunia ini, selalu ada sebuah hal yang tak terkira manisnya. Dan bagiku, hal itu adalah persahabatan.

Namun, di dunia ini juga selalu ada hal yang membuatku merasa terhenyak tak percaya akan sebuah rasa perih yang tak terkira. Dan bagiku, hal itu adalah persahabatan.

Ini hanyalah sekelumit curahan hati yang hina.
Seberkas kenangan mengenai sebuah hal yang sangat manis sekaligus sangat menyakitkan.
Sebuah untaian kata tak bermakna.
Sebuah hal yang selalu mengingatkanku pada ‘dia’. Continue reading

{KyuNara Scene} How Deep Is Your Love?

“Jika berbicara tentang romantis, tentu saja itu adalah Donghae”, ucap Haejin sambil memakan potato crispy yang ada di hadapannya.

Nara mengalihkan pandangannya dari PSP yang ada di tangannya, “Jika berbicara tentang Game, tak ada yang bisa mengalahkan Kyuhyun”, ucap Nara dengan bangga.

Jiyoo segera menjitak kepala Nara dan menempatkan diri untuk duduk di sampingnya, “Ya!! Untuk hal game, memang tak perlu diragukan lagi”, ucap Jiyoo senewen.  Nara hanya memeletkan lidah ke arah sahabatnya itu dan berkata ringan, “Lalu, apa kelebihan Eunhyuk?”, tantangnya.

Jiyoo menatap Nara dan Haejin dengan tak percaya, “Yaaa~ untuk apa bertanya lagi? Lee Hyukjae adalah main dancer Super Junior!”, Jiyoo menjetikkan jarinya dengan ekspresi penuh kemenangan.

Tapi Nara dan Haejin menatap Jiyoo dengan datar, “Donghae lead dancer dan kemampuannya tak kalah hebat dari Eunhyuk”. Nara menambahkan, “Kyuhyun juga lead dancer, dan dia juga main vocal”.

Jiyoo langsung menggaruk kepalanya dengan bingung, sibuk mencari jawaban mengenai kelebihan kekasihnya itu. “Ehmm, itu…”

“Aish, sudahlah!  Tak akan ada habisnya jika kita membicarakan kelebihan mereka karena kita pasti menilainya secara subjektif”, gumam Nara yang mulai jengah dengan pembicaraan ini.  Haejin dan Jiyoo mengangguk setuju, “Lalu apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa menilai secara objektif?”, tanya Jiyoo.

Nara menaruh PSPnya disamping kursi dan menatap kearah 2 sahabatnya itu, “Bagaimana jika..kita mengadakan triple date dan melihat sebagaimana ‘perhatian’nya pasangan kita terhadap kita?”. Haejin masih bingung, “Maksudmu?”.

“Ya, begini maksudkuKau, Haejin, siapa yang berani jamin jika Donghae itu romantis?  Mungkin saja itu hanya cerita karanganmu untuk membuat kami iri.  Makanya, kita adakan triple date ini untuk menyaksikan apakah Donghae sebegitu perhatiannya padamu?”, jelas Nara.  Jiyoo mrngangguk paham, “Arasseo, jadi..ini semacam pembuktian atas semua cerita kita barusan?”.

Nara mengangguk dan menatap Haejin lagi, “Paham?”, tanyanya.

Haejin mengerjapkan matanya beberapa kali dan bergumam pelan, “Sedikit”.  Nara dan Jiyoo menghela nafas jengah, “Kau saja yang jelaskan hal ini padanya”, cetus Nara pada Jiyoo.  Jiyoo menatap Nara heran, “Lalu apa yang akan kau lakukan?”.

“Menyelesaikan level terakhir di game ini”, ucap Nara datar sambil kembali menggenggam PSPnya. Continue reading

Tears Of Polaris {ENDING}

Nara masih bersemangat mengelilingi seluruh penjuru panti ini.  Dia merasa amat senang bisa kembali ke tempat pertama kali dia dibesarkan, terlalu banyak memori untuknya.  Sesekali dia menjerit histeris saat menemukan benda yang dikenalnya hingga membuat Kyuhyun khawatir, “Kau kenapa?  Ada apa?”, tanya Kyuhyun sambil bergegas kearah ruang tengah karena mendengar teriakan Nara.

Nara hanya tersenyum lebar, “Ini…aku menemukan gasing milikku saat berumur 5 tahun.  Aigoo~ternyata masih ada disini!!”, ucapnya semangat sambil memperlihatkan sebuah gasing berwarna coklat yang ada di tangannya dan membuat Kyuhyun melongo parah.  “Hanya karena itu?”

Sedangkan Jiyoo juga masih mengelilingi bangunan, tapi dengan maksud yang berbeda.  Dia sangat lapar, selama 1 hari disekap…perutnya sama sekali belum terisi oleh apapun.  Tangannya membuka setiap rak lemari yang ada di dapur, berharap ada makanan berjenis apapun yang dapat dikonsumsinya.  Tapi…nihil, yang ada di rak hanya debu atau beberapa ekor tikus yang sedang menggerogoti kayu rak lemari itu.

Karena tak berhasil menemukan apapun, akhirnya Jiyoo memutuskan untuk menghampiri Kyuhyun dan Nara yang sedang berbincang seru, mungkin membicarakan masa nostalgia mereka?  Entahlah…Jiyoo tak tahu dan tak ingin tahu mengenai hal itu.  Jiyoo menepuk bahu Kyuhyun pelan, “Kyuhyun-ssi, kau punya makanan?”, tanyanya langsung.

Kyuhyun menoleh dan menunjuk kea rah dapur, “Cobalah periksa ke dapur, mungkin ada sedikit bahan makanan untuk kita makan”, ucapnya ringan dan membuat Jiyoo menggumam, “Ya, sebenarnya ada bahan makanan untuk kita, tapi…kau lebih suka tikus panggang atau tikus rebus?”, ketusnya dan membuat Kyuhyun dan Nara mengernyit heran, “Maksudmu?”.

Jiyoo mendesah kesal, “Di rak lemari dapur itu hanya ada kawanan tikus.  Kau mau kubuatkan tikus panggang?”, jelasnya dan membuat Nara mengangguk paham, “Oh…Kukira kau benar-benar suka makan tikus, Jiyoo-ssi”, gumam Nara polos.

Kemudian Nara menengok kea rah Kyuhyun, “Marcus, bukankah di halaman belakang panti ini ada kebun kentang?”, tanya Nara, Kyuhyun mengangguk singkat.  “Kurasa lebih baik jika kita makan kentang bakar.  Bagaimana, Jiyoo-ssi?  Gwenchana?”, tanyanya pada Jiyoo.  Jiyoo hanya membalas, “Aku akan makan apapun, asalkan bukan tikus panggang atau tikus rebus”, ucapnya ringan.

Nara segera bangkit dari duduknya dan menarik tangan Jiyoo dengan semangat menuju kebun kentang yang ada di belakang panti, “Tunggu apalagi? Kkaja!”, serunya dengan semangat, dan Jiyoo hanya mengikuti langkah Nara dengan lunglai.

Dari belakang, Kyuhyun hanya tersenyum melihat kelakuan kedua gadis itu, “Wajah mereka memang sama persis, tapi kelakuannya…benar-benar seperti dua kutub yang berbeda”.

********************************** Continue reading

Tears Of Polaris {7th Chapter}

“Arghh!!”, Kyuhyun meringis kesakitan saat Nara mengoleskan obat ke luka tusukan di lengannya.  Nara langsung menjauhkan tangannya dari lengan Kyuhyun, “Ah, Mianhae!!”, ucap Nara hati-hati.  Kyuhyun hanya tersenyum miris, “Hanya…sedikit sakit”, ucapnya menenangkan Nara.

Jiyoo melirik pasangan itu dari kaca spion di depannya, ke Kwan Nara lebih tepatnya.  Dia masih memperhatikan wajah Nara dan membandingkannya dengan wajahnya, amat sangat terlalu mirip.  Pantas saja jika Hyukjae salah mengenalinya dan menganggap dirinya adalah Kwan Nara yang dikenal olehnya.

Jiyoo mengalihkan pandangannya dan kembali fokus ke jalanan di depannya, “Ah, Kyuhyun-ssi.  Mana rah yang harus kita ambil?”, tanyanya saat mobilnya kini berada di antara 2 tikungan yang berbeda.  Kyuhyun melirik heran kea rah Jiyoo, “Kau..bisa berbicara bahasa Korea?”, tanyanya tak percaya, karena setahunya keluarga Choi ini sudah berdomisili tetap di Los Angeles.

Jiyoo hanya mengangkat bahunya dengan santai, “Just a little bit”, ucapnya sambil melirik kearah Nara sekilas.  Dia tak ingin mengatakan bahwa dia bisa berbahasa Korea karena ingin lebih dekat dengan Lee Hyukjae, sahabat gadis di belakangnya itu.  Nara memiringkan kepalanya dan tersenyum simpul, “Johta.  Jika begitu, kita tak punya kesulitan untuk berkomunikasi.  Benar bukan, Jiyoo-ssi?”

Jiyoo hanya mengangguk singkat dan kembali menatap Kyuhyun, “Left or Right?”, tanyanya cepat.  Kyuhyun berpikir sejenak, “Lebih baik kita ke…kiri?  Ah, tidak…kanan saja.  Tapi, mungkin lebih baik jika kita ke kiri?  Atau kanan?”, gumamnya bingung.  Nara dan Jiyoo menatap jengah kearah pria ini.

“Ke kanan saja”, ucap Nara dan Jiyoo berbarengan dan sempat membuat mereka berdua tersentak kaget.  Kyuhyun hanya mengangkat bahunya ringan, “Yasudah, jika itu keputusan kalian…kita ke kanan saja, Jiyoo-ssi”, putus Kyuhyun.

Jiyoo kembali menatap ke depan dan mengganti persneling mobil sehingga mobil melaju pelan dan berbelok kea rah kanan menuju ‘Apgeujjong’.  Dia masih merasa heran dengan kejadian barusan, saat dirinya dan Nara mengatakan hal yang sama.  Rasanya itu bukan sekedar kebetulan, tapi seperti…kontak batin?

Entahlah, otak Jiyoo sudah terlalu pusing untuk memikirkan hal seperti itu.

****************** Continue reading

Tears Of Polaris {6th Chapter}

“Wuahh~Apartement’nya besar sekali”, Donghae mendecak kagum saat melihat gedung Apartement yang ditempati oleh keluarga Choi.  Haejin langsung menyenggol lengan Donghae, “Tutup mulutmu, jangan kampungan seperti itu, Donghae-ya”, sela Haejin cepat dan membuat Donghae hanya terkekeh ringan kemudian segera menggenggam tangan Haejin, “Jika kita menikah nanti, aku pastikan jika kita akan tinggal disini, Haejin-ah”, ucapnya semangat dan membuat pipi Haejin bersemu merah.

Hyukjae mendecak kesal karena harus melihat adegan roman picisan yang kacangan di hadapannya, “Sudahlah, hentikan hal itu. Kalian membuatku mual. Jinjja!!”, gerutunya dan membuat Haejin menyentakkan tangan Donghae karena malu.  “Kau selalu saja iri, Hyukjae-ya”, ucap Donghae pada Hyukjae yang terlihat tak peduli.

Hyukjae melihat kertas yang sedang digenggamnya, ‘Sheraton Apartement’. Dia menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia hanya berharap bahwa Jiyoo ada di sini supaya dia bisa mengetahui keberadaan Nara sekaligus ingin memberitahu tentang perasaannya yang sesungguhnya pada gadis itu.

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?  Berdiri mematung seperti ini?’, tanya Haejin dan membuat Hyukjae segera melangkah cepat ke dalam apartement menuju lobby.  Haejin menatap Donghae dengan heran, “Ada apa dengan sepupumu itu?”, tanyanya karena daritadi dia melihat gelagat Hyukjae yang terasa aneh.  Donghae mengangkat bahunya santai, “Sepertinya seorang wanita telah mengubah hidupnya, sama sepertiku yang berubah karenamu”, ucapnya dan membuat Haejin meninju bahunya pelan.  “Kau tak pernah berubah, tetap narsis dan tukang gombal”, gerutu Haejin dan membuat Donghae meringis kesakitan karena tinjuan Haejin.

“Hei~!  Cepat masuk!!”, teriakan Hyukjae membuat mereka berdua menghentikan guyonannya dan beranjak menghampiri Hyukjae yang benar-benar menyesali nasibnya yang harus mencari Nara dan Jiyoo bersama pasangan gila ini.

——*———————-*———————*—– Continue reading