-Contest Fiction- Sweet Memories

Original Fanfiction By : Effie Farida N (@secretev)

Don’t Forget to leave a comment~

Ur words are precious for us as the author of this story ^^

***

Suatu pagi di NamSoon Senior High School, suasana masih tampak sepi, hanya terlihat segelintir siswa yang berjalan perlahan menuju kelas mereka, penjaga kantin yang baru membuka kiosnya, serta penjaga sekolah yang sibuk menyapu dedaunan di halaman sekolah tersebut yang cukup luas, diiringi oleh gemerisik merdu ranting-ranting di pohon, serta seekor kucing yang sedang mengendap-endap mengamati seekor burung yang tampak sedap untuk ia makan. Dari segelintir siswa tersebut, tampak seorang siswi berambut pendek acak-acakan berlari ke arah kelasnya, lalu setibanya di depan ruangan dengan papan penunjuk bertuliskan ‘XI SOCIAL 2’, ia langsung berseru pada teman-temannya yang sudah duduk di bangku masing-masing sambil bercengkrama.

“Hei kalian siapapun makhluk-makhluk yang baik hati, aku pinjam peer mat dong, belum sama sekali nih.” Ujar gadis itu menghampiri gerombolan siswa pria yang setahunya cukup rajin.

“Nih, nyalinnya yang semangat yaaa, banyak noh yang harus dikerjain.” Sahut teman prianya sambil menyodorkan buku catatannya.

Gadis itu mengucapkan terimakasih singkat, lalu segera duduk di kursinya dan membuka buku catatan itu. Namun, tak sampai semenit, ia langsung berseru, “Walaaaah, banyak amat ni tugas, nanti kalo isi pulpennya abis gimana? Cuma bawa satu pula, payah nih.” Sambil mengacak-acak rambutnya, yang kini terlihat seperti gorilla.

“Makanya, udah dibilangin dari kemaren, mending poto punya aku aja, kamu gak mau denger, yasud.” Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya, membuat gadis itu terlonjak.

“Ya maaf, aye kan kaga tau tugasnya sebanyak ini, situ kaga bilang. Lagian kemaren kan hape aye lowbat.” Kilah gadis itu, mengucapkan kata-kata yang melenceng dari kata-kata yang tertera di kamus resmi bahasa nasional negara, mengungkapkan bahwa gadis itu sudah frustasi.

“AYO KWAN NARA, HWAITIIING!!” gadis itu menyerukan namanya dengan keras, membuat teman-temannya langsung mengeluh, yang tak ia tanggapi sama sekali.

—–

Bel masuk sudah berdentang, Nara semakin mempercepat aktivitas rahasianya a.k.a menyalin jawaban peer, karena ia memperkirakan bahwa guru sebentar lagi akan menginjakkan sepatu di dalam kelasnya. Meski pelajaran matematika yang sedang ia salin tugasnya berada di jam pelajaran kelima, yaitu setelah istirahat pertama, tapi jika guru telah datang, hal tersebut akan membuat gadis itu kesulitan menyalin tugas, dan ia tak mau mengambil risiko ketahuan melakukan hal terlarang.

Saat sedang berkonsentrasi menyalin jawaban, ia mendengar derap langkah memasuki kelas, dan suara pintu kelas yang ditutup. Ia segera mendongakkan kepalanya dengan khawatir,  namun betapa kesalnya ia ketika ia melihat bahwa yang baru saja memasuki kelas adalah salah satu teman prianya, yang sedang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengecoh beberapa murid yang sedang menyalin tugas seperti Nara.

Lelaki itu mengarahkan tatapannya pada Nara, yang hanya balas menatap dengan datar, lalu kembali menyalin tugas. Tak sudi diacuhkan, pria itu menghampiri meja Nara dan berdiri di sisi sambil mengamati kegiatan yang sedang Nara lakukan.

“Heeeeh, itu peer, kerjain di rumah dong.” Ledek pria itu.

Nara masih melanjutkan menyalin, membalas, “Suka-suka aye lah, sono dikau ngobrol sama temen-temenmu aja.”.

Lelaki itu tampak agak kesal dengan jawaban Nara, hingga memutuskan untuk bergabung dengan kerumunan teman-temannya yang sedang membicarakan … yah, kau tahu lah apa yang dibicarakan lelaki sambil  berbisik di pojokan kelas.

Tak lama kemudian, guru memasuki kelas sambil membawa setumpukan kertas yang memancarkan aura berbahaya, membuat murid-murid langsung bergidik ngeri. Guru itu membagikan dua lembar kertas pada tiap siswa, lalu setelah selesai ia menatap murid-muridnya dengan senyum kemenangan.

“Baiklah, anak-anak tiriku tercinta, kini tiba saatnya kalian mendapat ujian mendadak. Silakan tarik napas, hembuskan, ambil pulpen, balikkan kertasnya, dan …” guru itu sengaja member jeda berlebihan, lalu melanjutkan, “kerjakan sekarang seluruh soal di kertas itu dalam waktu 60menit!” seru guru itu, membuat seluruh siswa di kelas itu menarik napas tertahan sampai-sampai masker oksigen di pesawat udara berpindah ke ruangan itu.

Ruangan seketika menjadi sunyi, hanya terdengar suara kertas yang berulangkali dibolak-balik oleh para siswa, suara pulpen yang menggores lembar kertas itu, dan beberapa suara bisikan halus, meski tak sehalus sutera.

Nara sedang berkonsentrasi mengerjakan jawabannya, ketika ia mendengar suara yang memanggil namanya. Nara menoleh ke arah kanannya, dan mendapati bahwa tepat di sampingnya terdapat lelaki yang tadi mengganggunya sedang menatapnya dengan tatapan tolong-aku-yang-sangat-kesulitan, yang langsung diacuhkan oleh gadis itu dengan mudah. Lelaki itu tetap berusaha memanggil Nara berulang kali, sampai akhirnya ada yang menyahuti panggilannya. Namun, itu bukan suara Nara, melainkan guru pria yang sedang menatapnya dari meja guru.

“Cho Kyuhyun, syukurilah apa yang sudah didapat. Bapak tahu bahwa mejamu sudah reyot, dan meja Nara masih kokoh, bahkan bersih dari coretan, namun itu bukan berarti kau boleh tak mensyukuri mejamu dan berusaha mengerjakan tesmu di meja Nara.” Sindir guru itu.

Lelaki itu, yang dapat kita ketahui bernama Kyuhyun, langsung meluruskan posisi duduknya yang awalnya miring karena berusaha melihat isi jawaban Nara. “Bukan gitu, Pak. Saya hanya berusaha mencari kelemahan meja Nara dibanding meja saya, sehingga saya bisa makin percaya diri dengan meja saya.” Kilah Kyuhyun.

“Dasar kau ini. Bapak bingung, kau itu berhasil ikut olimpiade matematika dan lolos sampai tingkat nasional, tapi untuk pelajaran lain otakmu seperti melapuk seperti kayu yang digigiti rayap.” Ujar guru itu berpura-pura berpikir.

“Itu artinya Tuhan Maha Adil, Pak. Saya kan udah memiliki wajah yang menawan, dan kemampuan seni yang menggiurkan, kalau otak saya encer sampai bisa keluar dari telinga, itu akan membuat orang lain iri dan dapat mendatangkan marabahaya bagi keselamatan saya, Pak.” Balas Kyuhyun, mengeluarkan ocehannya yang seperti biasa tak berarti.

Selutuh teman sekelasnya langsung ribut menanggapi ucapan Kyuhyun, sehingga guru pria itu harus menenangkan mereka, agar waktu untuk mengerjakan tes tak terbuang percuma. Saat guru itu sedang lengah, Kyuhyun menyodorkan kepalanya ke arah lembar jawaban Nara, dan dengan segera menyalin tulisan yang tertera di sana. Nara hanya menatapnya dengan datar, karena ia tak memiliki waktu untuk berdebat dengan Kyuhyun.

Enam puluh menit telah berlalu sejak tes dimulai, guru tersebut mulai menyuruh para siswa untuk mengumpulkan lembar jawabannya, dan tak lama kemudian, ia keluar dari kelas dengan makin banyak kertas di tangannya. Nara bersender lelah di kursinya, namun segera duduk tegak untuk menyalin peer yang masih tersisa 2/5 bagian lagi. Saat sedang menyalin, ia melihat ada bayangan yang menutupi sisi mejanya, lalu mendongak dan mendapati Kyuhyun berdiri di sana.

“Makasih ya, Nara.” Ucap Kyuhyun sambil tersenyum lebar, dijawab dengan anggukan Nara.

Kyuhyun pun berjalan mengikuti teman-temannya yang hendak keluar dari kelas, namun sebelumnya ia mengelus puncak kepala Nara pelan, membuat Nara terhenti sejenak dari kegiatan menyalinnya, namun dua detik kemudian kembali melanjutkan, seolah tak ada yang terjadi.

—–

Setelah guru yang mengajarkan pelajaran matematika keluar dari kelas, Nara bernapas lega, karena dari dulu ia memang tak pernah menyukai pelajaran itu, dan hal tersebut didukung dengan kemampuannya yang tak mencukupi dalam mengerjakan soal hitungan. Setelah merasa cukup tentram, ia mengeluarkan PSPnya dari tas dan langsung terfokus dalam permainan yang sedang menjadi favoritnya. Namun, belum lama bermain, ketua kelas mereka memberitahukan bahwa pelajaran seni akan diadakan di ruangan tempat guru mereka bertapa, yaitu sebuah ruangan yang cukup luas dan tampak seperti studio music dengan berbagai alat music modern maupun tradisional yang terpampang di sisi ruangan.

“Baiklah anak-anak, seperti yang mungkin sudah kalian dengar dari kakak kelas kalian, tiap tahun, seluruh murid kelas 2 akan melaksanakan kegiatan teater kelas, dan kalian akan tampil di gedung pertunjukkan pada akhir tahun ajaran. Bapak harap kalian dapat melaksanakannya dengan baik dan tentunya mengharumkan nama baik sekolah kita, karena pertunjukkan kalian turut disaksikan oleh khalayak umum.” Jelas guru kesenian mereka, Park Sungsaengnim

Seluruh murid kelas itu langsung sibuk memberikan pendapatnya sebagai tanda partisipasi, namun Nara yang pada dasarnya tak suka berada di keramaian hanya duduk di sisi ruangan sambil memainkan PSPnya. Tak lama kemudian, seseorang yang telah ditunjuk sebagai sutradara kelas menyuruh teman-temannya diam sementara ia mengutarakan beberapa hal yang telah diputuskan.

“Oke temen-temen, jadi nanti tim kreatif bakal bikin ceritanya dulu, terus sesudah disetujui sama Park Sungsaengnim, kita adain casting ya dan diharapkan semua dating untuk berpartisipasi.” Seru sang sutradara kelas.

Nara mendengarkan, namun ia agak mengernyit ketika diungkapkan bahwa seluruh siswa kelas harus turut serta dalam proses casting. “Yaah, masa aye suruh acting? Emangnya aye bisa apaan? Grawr ah.” Pikir Nara, dan kembali focus pada cinta-dalam-hidupnya a.k.a PSP.

—–

Enam minggu telah berlalu, dan beberapa proses dasar teater telah selesai, baik pembuatan naskah,  susunan panitia, maupun casting yang diikuti Nara dengan setengah hati. Hari itu, sepulang sekolah, sutradara kelas mereka meminta agar mereka berkumpul sejenak untuk membicarakan sesuatu.

“Hey kalian, dari hasil casting yang udah dilaksanain minggu kemaren, kita udah dapet pemeran-pemerannya, tapi maaf ya kalo ada yang ga kebagian peran atau perannya ga sesuai yang diharapkan.” Ujar sutradara kelas mereka, Chaesa.

Nama-nama mulai keluar dari daftar, ada yang merasa senang, ada yang mengernyit heran, dan berbagai ekspresi wajah lain. Kemudian tiba saatnya nama Nara dipanggil.

“Kwan Nara, … sebagai tukang palak.” Ucap Chaesa, membuat semua teman sekelas mereka langsung tertawa terbahak-bahak sedangkan Nara berseru kaget dengan mimik yang membuat temannya makin merasa sakit perut akibat tertawa.

“Waaah, keren juga kamu, Nara, cuma kamu loh yang beralih gender dari cewe ke cowo, dan karena kelas kita memutuskan ga pake pria melambai, jadi secara keseluruhan Cuma kamu doing yang ganti gender.” Ujar sahabatnya, Rinrin sambil menahan tawa.

“Tapi tapi, emangnya aku se sangar itu ya sampe dijadiin tukang palak?” Tanya Nara gak terima.

“Kamu kan emang sangar, neng, wakakak. Udah, terima aja, masih lebih mending kok daripada aku yang jadi kunti.” Sahut Rinrin sambil menggenggam rambutnya yang memang berbentuk keriting mengembang dan panjang.

“Lalu untuk pangeran keempat diperankan oleh Cho Kyuhyun.” Ucap Chaesa.

Nara hendak mendengus ketika mendengar nama lelaki menyebalkan itu disebut sebagai salah satu pemeran utama, namun  dalam hati ia memang mengakui bahwa Kyuhyun memiliki wajah yang mempesona. Akhirnya, daripada merasa kesal dengan perannya sebagai tukang palak, ia ijin pamit terlebih dahulu dari forum kelas dan menuju rumahnya.

—–

Beberapa minggu kemudian, bel pulang sekolah telah berbunyi, dan Nara bersiap untuk keluar dari kelas, namun langkahnya tertahan karena Kyuhyun berdiri di depannya. Tangan Kyuhyun menyentuh pipi Nara yang langsung ditepis dengan dingin oleh gadis itu. “Ih Nara jutek banget sih ke aku.” Ucap Kyuhyun, yang tak ditanggapi oleh Nara.

“Nara, mau belajar bareng ga di rumahnya Jinsang? Buat besok ulangan nih.” Ajak Soohyun, sahabatnya yang lain.

“Hayu hayu aja aku mah, asal pulangnya ga malam.” Sahut Nara.

Nara dan Soohyun kemudian keluar dari sekolah dan menaiki transportasi umum yang mengantar mereka ke depan perumahan tempat teman mereka Jinsang tinggal. Setibanya di rumah teman pria mereka, kedua gadis itu mengistirahatkan badan sejenak sebelum mulai belajar dengan temannya yang lain.

Tiba-tiba Nara menjadi siaga ketika mendengar suara obrolan orang yang tak asing di telinganya. Benar saja, tak lama kemudian tampak sosok Kyuhyun memasuki rumah Jinsang bersama teman-teman gengnya. Kyuhyun dan keempat temannya tampak kaget melihat kehadiran dua sosok gadis itu, tapi pada akhirnya bersikap seperti biasa.

Setelah menunggu beberapa orang lainnya, mereka mulai membahas materi yang hendak keluar dalam ujian. Namun, karena jumlah orangnya melebihi yang diperkirakan, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi dua kelompok. Semuanya belajar dengan cukup serius, bahkan Kyuhyun dan teman-temannya yang notabene tergolong anak nakal.

Beberapa jam berlalu dan akhirnya mereka telah selesai membahas seluruh materi. Nara merenggangkan tubuhnya, lalu melihat jam tangannya dan langsung terlonjak kaget karena waktu telah menunjukkan pukul 18.45 . Nara menatap keluar rumah, dan wajahnya tampak miris saat menyadari bahwa langit sudah gelap, sedangkan daerah rumahnya cukup berbahaya dengan adanya geng motor.

“Nara, kamu seriusan mau pulang sendiri? Minta anter deh, ini udah malem, bahaya.” Ucap Soohyun dengan pandangan khawatir.

“Ya mau gimana lagi, yang laen kan pada ga searah rumahnya sama aku.” Sahut Nara lemas.

Soohyun langsung bertanya pada teman-teman mereka yang kebetulan membawa kendaraan, dan tibalah pada satu orang yang mengiyakan tanpa banyak alasan.

“Tuh, Nara, si Kyuhyun udah mau nganterin. Sono balik, hati-hati yaaa.” Kata Soohyun.

Nara menghampiri Kyuhyun yang sudah menaiki motornya, lalu berdiri di sisinya. “Kyuhyun, bener gapapa kamu nganterin aku?” Tanya Nara.

“Iya gapapa, ayo cepetan nanti keburu malam.” Sahut Kyuhyun.

Mereka kemudian melaju ke arah rumah Nara dalam diam, karena merasa canggung, meski sesekali terdengar pembicaraan singkat di antara keduanya. Tak jauh dari rumah Nara, tanpa sengaja jalan yang seharusnya mereka lalui terlewat, sehingga harus mengambil rute yang lebih jauh. Nara merasa bersalah karena tak sempat memberitahu arahnya terlebih dahulu, kemudian ia meminta maaf.

“Kamu grogi ya dibonceng aku, jadinya ga bisa berkata-kata.” Gurau Kyuhyun, yang membuat Nara meluncurkan pukulan pelan ke punggung pria itu.

Akhirnya, mereka tiba di rumah Nara, dan setelah Nara mengucapkan terimakasih dan memasuki gerbang, Kyuhyun pun melaju menghilang dalam kegelapan. Nara menatap kepergian Kyuhyun sejenak lalu beranjak memasuki rumah.

—–

Suatu hari, kelas mereka memutuskan untuk mengadakan forum di ruangan kelas, karena kebetulan hari itu seluruh guru sedang mengadakan rapat, sehingga mereka dapat menggunakan waktu itu secara bermanfaat.

“Hey kalian, sini dong ngumpul, kita mau ngebahas beberapa hal tentang teater kelas. Ayo ayo yang lagi main kartu, lagi ngerumpi, maen games. Kyuhyun, Nara, simpen dulu lah PSPnya, nanti di rumah main lagi.” Ujar Chaesa.

Kyuhyun dan Nara langsung menoleh satu sama lain, dan ternyata mereka memang sedang melakukan aktivitas yang sama, karena keduanya memang dikenal sebagai gamers yang cukup expert. Kyuhyun tersenyum miring pada Nara yang langsung mengalihkan kepalanya dan berjalan menuju kerumunan.

Ternyata, saat itu Chaesa berinisiatif untuk mempererat kekompakkan kelas mereka, yang dirasa kurang, dengan memberi tiap orang waktu untuk mengutarakan pendapatnya mengenai kelas mereka, maupun jika merasa memiliki masalah dengan murid lain. Setelah cukup banyak orang yang memberi pendapat, seluruh kelas dapat mengambil kesimpulan bahwa geng Kyuhyun dan geng Nara merupakan kubu yang paling mencolok di kelas mereka.

Jika melihat geng Kyuhyun, tak diragukan bahwa kubu itu tampak mencolok karena kubu itu dihuni oleh para murid pria yang cukup popular dan tergolong murid nakal. Sedangkan untuk geng Nara, Nara sendiri harus berpikir cukup keras untuk menemukan jawabannya, karena setahunya, mereka berusaha untuk tak mencari masalah dengan murid lain dan menjaga komunikasi tetap lancar. Namun, ternyata di situ lah masalahnya, yaitu murid lain berpikir bahwa Nara dan teman sekubunya berusaha menjaga jarak dengan murid lain, sehingga Nara memutuskan dalam hati bahwa ia akan mulai mencari masalah dengan murid lain.

“Eh, Nara udah ngomong belum?” Tanya Kyuhyun, yang sempat keluar ruangan sejenak untuk melaksanakan tugas-yang-menurutnya-penting-padahal-sebenarnya-useless yaitu merokok.

Pada saat itulah, tiba giliran Nara untuk berbicara, dan setelah menghirup napas panjang, ia mulai mengeluarkan pendapatnya.

“Pertama, aku mau nanya dulu, ada ga yang ga suka sama aku, tapi selain tentang kubu? Soalnya kalo tentang kubu kayanya udah sering dibahas dan aku cape ngedengernya.” Ujar Nara, yang langsung ditenangkan oleh teman-temannya, karena mereka menganggap bahwa nada bicara Nara penuh emosi yang siap meledak.

Karena tak ada yang menunjukkan tanda-tanda hendak berbicara, Nara pun melanjutkan ucapannya, dan ia tak segan mengucapkan beberapa kata yang cukup kasar, agar teman-temannya bisa mengerti maksud pembicaraannya.

“Nah, selain itu, bukannya aku mau pilih-pilih temen, tapi aku bukan tipikal orang yang akan menghampiri orang, melainkan harus dihampiri oleh orang lain, jadi sori kalo gara-gara itu kalian nganggep aku jutek. Dan buat orang-orang yang merokok, misalkan Kyuhyun dan teman-temannya, maaf aja kalo aku rada sensi sama kalian, karena ada … kejadian menyakitkan di masa lalu.” Ujar Nara dan tanpa sadar kian lama emosinya makin memuncak, sehingga saat ia mengucapkan kalimat terakhir, setetes air mata jatuh ke pipinya.

Semua orang kini terdiam, karena ini untuk pertama kalinya mereka melihat sosok Nara yang biasanya dingin, riang dan tampak tak memiliki masalah dalam hidupnya, meneteskan air mata, meski Nara berusaha segera menghapusnya.  Soohyun dan Rinrin yang sudah cukup lama bersama Nara, menyadari bahwa pengganjal di hati Nara kian memuncak sehingga gadis itu tak sanggup menahan emosinya.

“Nara, boleh kami tahu ada kejadian apa dulu?” Tanya Chaesa pelan.

Nara menarik napas sejenak dan menengadahkan kepalanya ke atas, berusaha mencegah airmatanya turun lagi, karena ia tak suka dianggap lemah oleh orang lain.

“Kakak laki-lakiku, meninggal 2tahun yang lalu, saat berumur 21tahun, karena … kanker paru-paru akibat merokok.” Jawab Nara pelan. “Jadi, aku berharap kalian segera sadar bahaya dari merokok, atau paling enggak, jangan merokok di hadapan orang lain.” Sambung Nara.

Di dalam hati, ia menambahkan, ‘Agar aku tak kehilangan orang-orang yang mengisi hariku.’, karena sejak kematian kakaknya, Nara hidup sendirian dalam kesepian. Kedua orangtuanya sibuk bekerja dan menetap di luar negeri, sehingga ia tak memiliki siapapun untuk berbagi cerita. Di kelasnya yang sekarang, Nara sudah merasa memiliki ikatan yang kuat dengan teman-temannya, yang menyebabkan emosinya bisa meluap-meluap, karena ia tak ingin kehilangan teman-temannya yang berarti dalam hidupnya.

Setelah itu, salah seorang teman pria nya mengungkapkan bahwa ia dan teman-temannya menghargai keinginan Nara dan akan berusaha memenuhinya, dan ia mengatakan hal lain yang membuat hati Nara nyaman dan tersenyum tulus.

“Ayo ayo, upload ke twitter noh, kejadian langka.” Celetuk salah satu teman mereka.

“HEEEEHH, JANGAAAAAAN!!” seru Nara mendadak, karena ia tak mau kelemahannya tersebar makin luas, membuat teman-temannya langsung tertawa melihat reaksi Nara.

Tak lama kemudian seluruh anggota kelas telah selesai mengutarakan pendapat masing-masing, dan dikarenakan langit telah semakin redup, mereka memutuskan untuk menyudahi forum.

Setibanya di rumah, Nara memainkan PSPnya sejenak lalu beranjak menuju laptopnya untuk mengerjakan tugas. Karena merasa bosan, Nara memutuskan untuk membuka twitter dan mengecek timeline. Tiba-tiba, matanya terhenti ketika melihat suatu tweet.

GaemGyu : eomma ngasih cara-cara buat berhenti ngerokok, boleh juga tuh😀

Nara terpaku melihat tweet dari Kyuhyun, yang tampak berhubungan dengan hal yang tadi Nara bicarakan di forum kelas. “Kok bisa pas gitu timingnya, ya?” pikir Nara.

—–

Keesokan harinya, Nara memasuki kelas dengan riang dan melihat ke sekeliling kelas untuk mengamati mimic teman sekelasnya. Namun, tatapannya terhenti saat melihat sosok Kyuhyun yang sedang tertidur di meja.

“Nape tu anak berasa galau gitu?tumben biasanya jumpalitan ke sekeliling kelas.” Batin Nara bingung, namun ia tak terlalu mempermasalahkannya.

Saat sedang belajar, Chaesa diminta untuk mengerjakan soal di depan kelas, lalu ketika sang guru sedang mencari nama lain, teman-teman serentak menyerukan nama Jinsang, yang baru beberapa minggu yang lalu mulai menjalin hubungan. Awalnya sang guru tampak agak bingung, namun kemudian akhirnya beliau mengerti.

“Wajar saja, ini kan memang masa muda kalian, bersenang-senang termasuk pacaran kan tak dilarang.” Ujar sang guru.

“Bukan masalah masa muda, Bu, tapi mereka tuh rada bertolak belakang, misalnya sifat, yang satu rada rajin, yang satu rada nakal.” Celetuk salah seorang teman mereka.

“Hmm … menurut Ibu ini masih biasa. Kalau Kyuhyun sama Nara pacaran, itu baru ajaib.” Kata guru tersebut, menyebabkan seisi kelas meledak dalam riuh tawa, sementara Nara hanya tersenyum miris.

Memang, Nara dan Kyuhyun dapat dikatakan sungguh berlawanan dalam sikap. Nara, merupakan murid yang cukup disayang guru, mengacu pada otaknya yang dapat digunakan untuk menampung materi berbagai mata pelajaran dengan baik, selain matematika tentunya. Sedangkan Kyuhyun, … yah, ia merupakan salah satu murid yang dikenal hampir seluruh guru dan mungkin murid di sekolah itu, karena hampir tiap upacara hari senin, ia selalu dipanggil ke depan lapangan dan dihukum push up karena membuat keonaran yang mengganggu jalannya upacara. Dengan kata lain, mereka berdua dikenal, namun dalam bidang yang jelas berbeda.

Tapi jangan salah, ada hal yang membuat mereka tampak kembar, yaitu sifat evil mereka. Di balik perilaku sopan Nara pada guru, ia sering menjahili teman-temannya bahkan dianggap sangar dan cukup disegani. Kalau kita melihat Kyuhyun, dalam sekali tatap kita dapat menyimpulkan bahwa di balik sikap playboynya, tampak aura gelap yang dapat keluar jika orang membuat masalah dengannya. Jadi, mereka bisa disebut sebagai pasangan evil.

—–

Hari demi hari berlalu, tak terasa mereka telah melewati acara gladi kotor teater kelas yang diadakan 6minggu sebelum acara yang sesungguhnya dilaksanakan. Saat sedang melakukan penilaian, mereka jelas-jelas menunjukkan wajah kecewa karena hasil yang mereka tampilkan tak cukup bagus. Mereka mulai mengeluarkan pendapat masing-masing untuk memperbaiki penampilan mereka berikutnya.

“Menurut aku mestinya scene 4 dihilangin aja deh, rada ga penting gitu, apalagi tukang palak, maksudnya apa coba?” ujar Kyuhyun mengomentari.

Nara, yang berperan sebagai tukang palak, hanya bisa diam dan tak membalas komentar Kyuhyun. Karena selain ia malas berdebat, ia juga merasa bahwa yang pria itu katakan ada benarnya, meski tak perlu segamblang itu. Akhirnya, diputuskan bahwa mereka akan melakukan sedikit perombakan pada naskah sehingga latihan dihentikan untuk sementara.

Tiga hari kemudian, Chaesa mendatangi Nara yang sedang mencatat materi dari papan tulis ke buku catatannya. Setelah melepas kacamatanya, yang ia gunakan untuk memperjelas penglihatannya yang cukup rusak dikarenakan kebanyakan bermain PSP, Nara menoleh ke arah Chaesa dengan tatapan bertanya.

“Nara, kau jadi salah satu dari tiga pemeran utama putrid sebagai pasangan Jaesuk, ya, karena Heerin harus mengikuti kejuaraan olahraga sampai 2bulan lagi, lagipula tokoh tukang palak ditiadakan. Ah, aku tahu jika kau akan merasa cukup kesulitan, karena kau juga menjadi pianis dalam band kelas. Tapi aku tahu kau pasti bisa berakting dengan baik, sebaik kau bermain piano dengan indah. Bagaimana?” ungkap Chaesa.

Nara tampak berpikir sejenak mengenai baik dan buruknya ia mengambil peran itu, karena sejujurnya ia tak terlalu suka berakting. Namun, tak lama kemudian ia memutuskan untuk menerimanya sebagai partisipasinya dalam membantu kelas.

—–

Dua minggu sebelum pertunjukan teater itu dilaksanakan, kelas XI SOCIAL 2 memutuskan untuk mengadakan acara menginap bersama, namun mereka masih ragu dalam persiapannya karena tak ada tempat pasti yang bisa digunakan.

Nara sedang membaca komik yang ia beli dari toko buku langganannya, ketika Jinsang menghampirinya. Nara menaruh pembatas buku lalu menatap pria itu.

“Nara, kami dengar keluargamu memiliki sebuah vila di dekat pegunungan, bisakah kami menggunakannya untuk acara kelas?” Tanya Jinsang.

Nara terdiam, agak kaget karena temannya bisa mengetahui hal itu, padahal ia sudah berusaha keras menyembunyikan status sosialnya sebagai pewaris tunggal perusahaan otomotif milik keluarganya. Ia berpikir keras, apakah ia harus membantahnya, atau tidak. Akhirnya, Nara menghubungi kedua orangtuanya terlebih dahulu, dan setelah mendapat persetujuan, Nara menyanggupi permintaan Jinsang.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba, seluruh siswa kelas itu sudah sampai di vila keluarga Nara yang cukup mewah, namun mereka semua masih sulit mempercayai bahwa anak pemilik vila mewah ini sedang berada di hadapan mereka memakai celana pendek dan jumper, sangat tak sesuai dengan image wanita glamour yang ada dalam bayangan mereka. Nara merasakan tatapan teman-temannya merasa risih.

“Aish kalian ini! kalau kalian hanya ingin berdiri di sana sambil memandangiku seperti kucing yang melihat ikan paus tersangkut di pohon, lebih baik kalian kembali ke rumah masing-masing.” Seru Nara kesal, dan hal itu berhasil membuat mereka berpencar ke berbagai tempat.

Selagi teman-temannya melakukan aktivitas bebas, Nara berjalan agak jauh dari vila menuju suatu hutan yang cukup rindang, dan mulai memotret hal yang ia anggap menarik, karena ia memang tertarik dalam bidang fotografi. Cukup lama ia melihat pemandangan sampai tak sadar bahwa hari sudah makin gelap, dan ia menyadari satu hal, ia tak tahu arah pulang.

“Oh tidak, masa aku tersesat di wilayahku sendiri? Dan handphoneku tak mendapat sinyal. Sungguh tak keren.” Gerutu Nara.

“Tentu saja tak keren, jika hal seperti ini kauanggap keren, maka bisa kupastikan bahwa kau mengidolakan masyarakat pribumi.” Ujar suara dari belakang, yang membuat Nara terlonjak.

“Ah, Kyuhyun, syukurlah kau ada disini. Apa kau tahu jalan kembali ke vila?” Tanya Nara.

“Mungkin seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, Nara.” Sahut Kyuhyun dingin.

Karena tak ingin membuang tenaga untuk berdebat, maka mereka memutuskan untuk mencoba mencari arah kembali ke vila, dan hal tersebut cukup sulit dilakukan mengingat langit sudah gelap dan mereka tak membawa alat penerangan. Kadang mereka berbincang, namun hal itu jarang dilakukan karena mereka harus tetap waspada pada lingkungan sekitar.

“Kau yakin ini arah yang benar?” Tanya Nara ragu.

“Jadi kau meragukan instingku yang sungguh tajam layaknya pisau yang baru diasah? Aku sungguh yakin bahwa firasatku kali ini benar, … kurasa.” Jawab Kyuhyun.

“Kalau begitu mengapa nada terakhirmu mencurigakan begitu?” sindir Nara.

“Eung, sudahlah, lihat saja jalannya, kalau nyasar, yasudah.” Sahut Kyuhyun yang langsung mendapat timpukan di kepala dari Nara.

Mereka meneruskan langkah secara perlahan, namun tiba-tiba mereka mengernyitkan wajah ketika mendengar gemerisik dedaunan yang tak wajar, karena angin hanya bertiup dengan pelan, takkan sanggup menggetarkan ranting dengan keras. Nara tak berani menatap langit, sehingga gadis itu memutuskan untuk menyenggol lengan Kyuhyun agar melakukannya, namun Kyuhyun pura-pura melihat ke arah lain.

Lama kelamaan, terdengar suara bisik beberapa orang yang cukup samar, tapi itu berhasil membuat bulu kuduk mereka berdua berdiri, karena mereka memperkirakan bahwa hanya mereka yang sedang berada di hutan itu, dan hal itu didukung oleh topic yang dibicarakan bisikan samar itu.

“Aku tiba-tiba teringat masa ketika kita masih hidup, kita bisa saling menyentuh satu sama lain dan mengekspresikan rasa cinta kita.” Ujar suara pria.

“Ya, aku juga menyesali hal itu. Namun, dengan begini kita mendapat hal-hal menarik untuk dilakukan, seperti menjahili para manusia agar tersesat dalam hutan, seperti yang kita lakukan pada sepasang manusia yang kini sedang mendengarkan pembicaraan kita.” Sahut suara wanita.

Nara dan Kyuhyun langsung saling melirik satu sama lain, dan tanpa aba-aba mereka segera berlari bersama, menjauhi sumber suara itu. Cukup lama berlari, mereka sudah tak bisa mendengar percakapan mencurigakan tadi. Mereka terdiam untuk menarik napas, namun hal itu tak berlangsung lama, karena tak lama kemudian dua sosok transparan berbaju putih menghalangi langkah mereka, menatap Nara dan Kyuhyun dengan tatapan tajam, namun  senyuman kedua makhluk transparan itu memancarkan aura kelicikan.

“Akhirnya kita dapat bertatapmuka langsung dengan para manusia, setelah sekian lama hanya bisa mengamati dari kejauhan.” Ujar sosok wanita.

“Ya, tapi kini apa yang dapat kita lakukan pada mereka? Kita harus menghadiahi mereka sesuatu yang istimewa, karena mereka telah bersedia bertemu dengan kita dengan senang hati.” Sambung sosok pria sambil menatap pasangannya.

Nara dan Kyuhyun hanya saling menatap sambil menelan ludah, lalu kembali menatap sosok yang sedang berbincang di hadapan mereka.

“Ehm… jadi apa yang harus kami lakukan agar kami bisa … mengucapkan selamat tinggal pada kalian?” Tanya Kyuhyun pelan.

“Kami sudah memutuskan hal yang sangat menakjubkan bagi kalian, dan cukup mudah untuk dilakukan. Kalian hanya perlu mengucapkan hal yang mengganjal di hati kalian, dan harus jujur.” Usul sosok wanita.

“Memangnya apa yang seharusnya kami katakan? Hubungan kami baik-baik saja, kok.” Sahut Nara pelan.

“Ah tidak, kami tahu lebih dalam dari kalian sendiri. Hmm… mungkin lebih baik jika kami memberi kesempatan pada pria itu dulu.” Kata sosok pria sambil menunjuk Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam sejenak, tampak bahwa ia memang memiliki sesuatu yang mengganjal hati, namun Nara tak bisa menduga apa yang ungkin dikatakan oleh Kyuhyun, sehingga saat Kyuhyun membuka mulut, Nara hanya bisa menganag lebar dan menatap tak percaya.

Kwan Nara, saranghaeyo. Would you be my girlfriend?” ungkap Kyuhyun sambil menatap mata Nara, membuat Nara langsung memekik kaget.

“Hah? Tapi, sejak kapan?” Tanya Nara masih bingung. Seketika ia melupakan kehadiran kedua sosok transparan yang langsung melihat mereka sambil tersenyum tipis.

“Sejak 7bulan yang lalu. Apa perilaku yang kutunjukkan masih kurang untuk membuatmu menyadarinya?” balas Kyuhyun.

“Bukan gitu, aku kira … yah, biasanya kan kamu emang suka skinship sama cewe-cewe gitu, jadi aku pikir kau juga cuma iseng ke aku.” Jawab Nara pelan.

“Aku ga pernah skinship ke cewe lain sejak 5bulan yang lalu, bahkan aku jarang ngobrol dengan siswi lain, karena perhatianku seluruhnya tercurah padamu.” ujar Kyuhyun.

Nara terdiam dan kembali memikirkan kejadian-kejadian yang terjadi antara ia dan Kyuhyun. Memang, setelah ia amati, Kyuhyun makin jarang bergaul dengan wanita, lebih sering ada di kelas, dan…berusaha untuk berhenti merokok. Semua hal itu sesuai dengan tipe pria harapannya.

“Jadi, bagaimana, Nara?” Tanya Kyuhyun gugup, karena ini pertama kalinya ia menyatakan cinta pada wanita, selama ini ia selalu menjadi pihak yang menerima pernyataan cinta.

“Hmm … maaf.” Ucap Nara, membuat Kyuhyun menjadi suram, lalu Nara melanjutkan, “Bukannya aku tak menyukaimu, aku bahkan sudah menyukaimu sejak 9bulan yang lalu dan sampai sekarang pun masih. Mungkin kau bisa melihatnya dari sikap dinginku padamu, yang tampak berbeda dari caraku memperlakukan temanmu yang lain.

“Hanya saja, aku sudah membuat janji pada diri sendiri bahwa aku takkan menjalin hubungan sebelum berumur 17tahun, yang akan kudapat ketika kita lulus sekolah. Lagipula, orangtuaku juga pernah memintaku untuk focus pada pendidikan, dan baru boleh berpacaran jika aku sudah memasuki suatu universitas secara pasti, dan aku bersedia untuk melaksanakan perintah orangtuaku. Jadi … kini pilihan tergantung padamu, apa kau hendak menungguku, atau tidak. Aku takkan memaksamu untuk bersamaku.” Ungkap Nara.

Kyuhyun terdiam sambil menunduk, tampaknya berpikir, sementara Nara menunggu jawaban yang keluar dari mulut Kyuhyun, karena sebenarnya jika ia tak memegang janji, ia mungkin menerima Kyuhyun saat itu juga. Namun, Nara sadar bahwa ia harus berpikir rasional mengenai masa depannya.

“Baiklah, aku sudah memutuskan.” Ujar Kyuhyun, membawa Nara kembali dari lamunannya. Kyuhyun melanjutkan, “Aku akan menunggumu sampai nanti kita lulus, namun aku tak ingin kita menjalani hubungan tanpa status, karena aku takkan rela jika ada orang lain yang akan merebutmu. Maka…” , Kyuhyun melepaskan kalung yang dihiasi ukiran kayu berbagai bentuk dari lehernya, lalu mendekat ke arah Nara untuk memasangkannya.

“Kutitipkan salah satu benda kesayanganku padamu, sehingga kau akan selalu ingat bahwa kau sudah berjanji padaku. Jika kau mencoba melupakannya, kau akan mendapat balasan dari Raja Iblis ini.” bisik Kyuhyun sambil memasangkan kalung itu, membuat Nara bergidik sejenak.

“Arasseo, akan kuusahakan. Ah, apa aku perlu memberimu sesuatu yang kumiliki juga?” Tanya Nara bingung.

Kyuhyun tertawa kecil, lalu menjawab, “Haha, tak usah, aku bisa menjaga diriku khusus hanya untukmu.” Sambil menatap mata Nara.

Nara menatap mata Kyuhyun dan merasa gugup, sehingga ia memutuskan untuk memalingkan wajah ke arah sosok transparan dan merasa kaget karena kedua sosok itu telah menghilang, dan di hadapan mereka tampak pemandangan vila Nara dari kejauhan. Mereka saling menatap bingung, namun memutuskan untuk mencoba melupakan kejadian itu, dan membuka topic pembicaraan. “Sebaiknya kita segera kembali ke vila, siapa tahu mereka sedang mencari kita.” Ujar Nara, yang diiyakan oleh Kyuhyun.

Setibanya di vila, seluruh teman mereka tak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang terjadi, karena sebenarnya mereka sudah lama menyadari ketertarikan di antara Nara dan Kyuhyun, namun tak berani mengatakannya pada duo iblis itu, hanya membiarkan mereka menyadarinya sendiri, karena memang itu lah yang seharusnya dilakukan untuk menggapai cinta.

—–

Waktu demi waktu berlalu, tak terasa setahun telah dilalui oleh mereka semua, dan tibalah saat pengumuman ujian masuk universitas. Kyuhyun tersenyum bahagia karena ia berhasil diterima di jurusan impiannya, namun ia tampak bingung mencari keberadaan Nara. Tak lama kemudian, Nara muncul di hadapannya, tapi dengan senyum kaku terpampang di wajahnya. Kyuhyun yang merasa khawatir segera menanyakan apa yang terjadi.

“Aku … diterima di jurusan impianku.” Ujar Nara pelan.

“Syukurlah kalau begitu, tapi mengapa kau harus murung begitu?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Universitas yang akan kumasuki bukan di Seoul, melainkan di luar negeri, aku mendapat beasiswa.” Kata Nara menundukkan kepala.

Kyuhyun tampak tertegun mendengar berita mendadak itu. Ia merasa kesal mengapa Nara tak memberitahunya dari dulu, namun ia mengerti bahwa ini juga keputusan yang sulit bagi Nara.

“Jadi, kita takkan bisa bersama?” Tanya Kyuhyun.

“Itu … terserah kau saja. Aku memberimu pilihan, lagi-lagi. Kita bisa memulai hubungan ini dengan Long Distance Relationship, kau bersedia menungguku hingga aku kembali baru kita menjalin hubungan, atau … kita tak usah menjalin hubungan sama sekali.” Ucap Nara pelan, dan hampir tak terdengar di poin terakhir.

Kyuhyun terdiam untuk berpikir, sehingga Nara hanya memainkan jari tangannya sambil tetap menundukkan kepala.

“Mana yang kaupilih dari pilihan yang kauberikan?” Tanya Kyuhyun.

“Aku ingin agar kita bisa bersama, namun jika kau merasa bahwa itu bukan pilihan yang terbaik … itu terserah kau saja.” Jawab Nara.

“Baiklah kalau begitu …” Kyuhyun menarik napas panjang, sementara Nara menahan napas, lalu pria itu melanjutkan, “Jika aku sanggup menunggumu selama 20bulan, kurasa menunggu sebentar lagi bukanlah hal yang tak terlalu sulit, asalkan kau menaruh kepercayaan padaku.”.

“Aku mempercayaimu, selalu.” Ucap Nara tegas.

“Kalau begitu … aku siap menantimu, karena aku takkan ingin mengecewakanmu.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum. “Asalkan kau jangan mencoba untuk mendekati pria lain saat kau sedang kuliah, karena jika kau melakukannya, mungkin akan terjadi hal-hal menakjubkan yang akan terjadi padamu yang akan kausesali kelak.” Tambah Kyuhyun sambil menatap tajam.

“Aku akan memegang kata-kataku sepenuh hati seperti kecintaanku pada PSP.” Kata Nara.

“Jadi kau membandingkanku dengan PSP, yang pada kenyataanya merupakan benda mati, begitu, Kwan Nara?” sindir Kyuhyun tersenyum sinis sambil mengepalkan tangannya dan menekan buku-buku jarinya.

“Tentu saja, kau tahu pasti bahwa aku mencintai PSPku sepenuh jiwa, yang berarti itu juga berlaku padamu, Cho Kyuhyun.” Ucap Nara, dan begitu Kyuhyun memahami artinya, Kyuhyun langsung tampak salah tingkah dan memalingkan wajah.

Setelah itu, Kyuhyun mengantarkan Nara pulang ke rumah, dan menerima fakta bahwa Nara akan meninggalkan Seoul 3hari lagi. Kyuhyun merasa sedih, namun ia menegaskan dalam hati bahwa ia harus bisa bertahan demi Nara, sehingga ia hanya tersenyum menyemangati Nara.

—–

Hari itu, Nara berangkat ke bandara bersama Kyuhyun. Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam, Kyuhyun berusaha focus pada jalanan, sedangkan Nara menikmati pemandangan yang mungkin takkan ia lihat selama beberapa tahun. Namun, mereka berdua memikirkan hal yang sama, akan seperti apa hubungan mereka kelak.

Setibanya di bandara, Nara melakukan check-in dan menyerahkan seluruh kopernya untuk dimasukan ke dalam bagasi pesawat. Beberapa menit kemudian, ia memasuki ruang tunggu didampingi Kyuhyun, yang mendapat izin khusus karena pengaruh orangtuanya, dan mereka duduk di kursi di sisi jendela, meski ruang itu cukup sepi. Sekali lagi, mereka hanya terdiam, menikmati masa mereka bersama dalam keheningan yang menenangkan. Lalu, terdengar suara dari speaker yang memberitahukan bahwa pesawat yang dinaik Nara hendak melakukan take-off, dan seluruh penumpang diharapkan segera memasuki pesawat.

“Kurasa ini sudah saatnya aku pergi. Terimakasih telah mengantarku sampai bandara.” ujar Nara, ketika mereka berdua telah berdiri dan kini saling berhadapan.

Kyuhyun menarik napas panjang, lalu menarik Nara ke dalam pelukannya. “Aku akan sungguh merindukanmu.” Bisik Kyuhyun pelan, sambil mengelus lembut puncak kepala Nara.

Nara melingkarkan tangannya ke punggung Kyuhyun, dan mengistirahatkan kepalanya di bahu pria itu. “Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, setibanya di sana, aku akan mulai menghubungimu lagi dan jangan sampai kita putus komunikasi.” Sahut Nara  memberi solusi.

“Rasanya tetap takkan sama. Aku hanya bisa membaca kalimatmu, mendengar suaramu, atau melihat wajahmu. Namun, aku tak akan bisa sepenuhnya merasakan kehadiranmu di sisiku.” Ujar Kyuhyun, mengeratkan pelukannya.

Nara juga merasakan hal yang sama, namun ia tetap harus berjuang untuk menggapai cita-citanya. Nara merasakan matanya mulai membasah, tapi ia segera menarik air matanya kembali, karena ia berjanji ia akan menjadi wanita yang tegar.

“Janganlah kau berpikir bahwa ini perpisahan kita untuk selamanya, karena jika kau melakukannya, perlahan hatimu akan mulai memutuskan tali yang terikat dengan hatiku, dan kita tak ingin hal itu terjadi.” Kata Nara.

“Memelukmu seperti ini membuatku makin sulit melepasmu.” Bisik Kyuhyun sambil tersenyum pahit meski Nara hanya bisa merasakannya.

“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku? Sebagai kenangan momen ini. Tolong senandungkan lagu yang sering kita dengar bersama, aku selalu mengagumi suaramu.” pinta Nara.

Kyuhyun berpikir sejenak, lalu mulai menggumamkan suatu nada samar yang langsung tertangkap dalam telinga Nara. Nara menutup matanya mencoba menikmati suara indah lelaki yang telah merebut hatinya, dan tak terasa air mata yang tadi ia tahan mengalir di pipinya, bersamaan dengan momen indah yang pernah mereka lalui bersama terulang dalam pikirannya. Meski  mereka jarang melakukan hal yang romantis, namun mereka saling mengetahui bahwa mereka ingin menunjukkan diri mereka apa adanya, bukan sebuah kepura-puraan hanya untuk mempertahakan cinta di dalam hati.

Dua menit kemudian, Kyuhyun telah selesai bersenandung dan mereka kembali terdiam. Nara melepaskan tubuhnya dari pelukan Kyuhyun, dan mencoba menghapus airmatanya, namun tangannya ditahan oleh Kyuhyun.

“Aaaah, aku tak mau ada yang melihatku tampak lemah seperti ini.” ucap Nara.

“Menangis bukan merupakan kelemahan seorang wanita, melainkan senjata terakhir yang akan dikeluarkan ketika emosinya sudah tak terbendung lagi. Lagipula, jika kau menganggapnya sebagai kelemahan, aku akan merasa bahagia jika kau dapat membiarkan aku melihat sisi lain dirimu, sehingga aku bisa menopangmu dalam kesulitan.” Balas Kyuhyun bijak.

“Aiiiisssh, kau membuatku ingin meneteskan airmata lagi.” Kata Nara yang merasa terharu dengan kata-kata Kyuhyun.

“Kalau begitu, tunggu sebentar, akan kuambilkan ember sebagai tempat penampung.” Gurau Kyuhyun. Nara memukul pelan bahu pria itu.

“Baiklah, aku benar-benar harus pergi sekarang. Sampai jumpa.” Ujar Nara, lalu ia melangkah ke arah lorong untuk memasuki pesawat, meninggalkan Kyuhyun yang menatap kepergiannya dengan sendu.

—–

Enam tahun kemudian …

Kyuhyun telah menjadi penyanyi terkenal yang tergabung dalam sebuah boyband bernama Super Junior. Ternyata, setelah kepergian Nara, Kyuhyun mengikuti audisi di sebuah agensi, dan bakat menyanyi yang menakjubkan membuat Kyuhyun segera diterima menjadi trainer bahkan tak lama kemudian debut bersama grupnya ini. Sementara Nara, ia melanjutkan bisnis keluarganya di Los Angeles, karena dulu ia memang melanjutkan pendidikan universitasnya di negara itu, dan ia pernah tinggal disana selama 7tahun sampai ia berumur 10tahun. Selama 6tahun setelah mereka berpisah, mereka sama sekali belum pernah bertemu, namun mereka tetap bersabar.

Malam itu, Kyuhyun tiba di dorm setelah selesai melaksanakan perform di suatu siaran televisi. Ia membuka laptop dan menghubungkan koneksi internetnya untuk mengecek email dari Nara. Tak ada. Aneh, biasanya Nara selalu mengirimkan email paling tidak satu tiap harinya. Kyuhyun pun berpikiran bahwa Nara sedang sibuk mengurus pekerjaannya.

Namun pikiran itu seketika berubah ketika ia melihat email lain yang masuk ke akunnya, yang langsung membuat ia terlonjak, karena email itu memuat foto Kyuhyun dengan Nara yang dulu tanpa sengaja terpotret oleh teman mereka, dan foto lainnya yaitu Nara … terduduk di kursi dengan tangan terikat ke belakang dan wajah yang dipenuhi memar.

Kyuhyun segera melihat tulisan dalam email itu, ‘kupikir mungkin kau mengenal gadis ini. jika ya, datang ke taman di dekat stasiun televisi tempat kau melakukan perform tadi. jika kau tak mengenalnya, mungkin aku akan menghabisi gadis ini, karena ia takkan berguna untukku.’, dan segera setelah itu ia segera bergegas keluar dari kamarnya dan menuju tempat yang dimaksud.

Setibanya di sana, Kyuhyun segera melihat ke sekeliling, namun ia tak menemukan siapapun di taman yang sepi dan remang tersebut. Kyuhyun hendak melangkahkan kakinya untuk mencari di tempat lain, ketika hidungnya tiba-tiba dibekap saputangan dan pandangannya memudar.

—–

 Kyuhyun membuka matanya perlahan karena sinar matahari yang menembus jendela dan menyinari ruangan tempat ia berada, lalu ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa ia tak berada di ruangan yang ia kenal. Ia bangun dari kursi yang menjadi tempatnya tertidur semalaman, kemudian melangkah menjauh, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar dering handphone yang ternyata tergeletak di sisi kursi. Ia mengambil dengan ragu, kemudian mengangkat panggilan tersebut.

“Kau sudah sadar rupanya, maaf aku harus membawamu dengan cara seperti ini.” ujar suara pria dari seberang telepon.

“Siapa kau ini sebenarnya? Dimana Nara?” Tanya Kyuhyun gusar.

“Tenanglah, aku tak berniat menyakitimu selama kau melakukan apa yang kuinginkan. Mengenai siapa diriku, kini bukan waktu yang tepat untuk membocorkannya. Tentang lokasi gadis itu … mungkin aku akan memberitahumu setelah kau melaksanakan misi dariku. Kau tak boleh menolaknya, atau balasan akan diterima oleh gadis itu.” Ujar suara itu terdengar dingin.

“Baiklah, apa yang harus kulakukan?” Tanya Kyuhyun meredakan emosinya.

“Mudah saja. Kau hanya perlu membawa koper yang ada di pojok ruangan menuju tempat yang kuminta, lokasi tempat itu ada di peta yang kutaruh di atas koper. Kau sama sekali tak boleh membuka isi koper tersebut, kecuali aku perintahkan. Jika kau sudah mengerti, sebaiknya kau segera melakukannya sekarang.” Sambungan telepon pun terputus.

Kyuhyun masih tampak gusar mengenai hal yang meninpanya, namun ia memutuskan untuk tak banyak mengeluh dan segera menyelesaikan tugas ini sehingga ia bisa menyelamatkan Nara secepat mungkin. Kyuhyun keluar dari ruangan yang terdapat di sebuah rumah sederhana, dan segera melangkahkan kakinya sesuai arah yang ditunjukkan dalam peta, meski ia tampak cukup kaget karena mendapati dirinya berada di tengah hutan yang tak familiar.

Berjam-jam Kyuhyun telah melangkahkan kakinya, bahkan peluh telah membasahi tubuhnya, namun ia harus tetap bersikap waspada, karena ia telah beberapa kali terancam bahaya, mulai dari jebakan tali yang dikaitkan di pohon, yang untungnya berhasil ia hindari karena warna tali yang cukup mencolok, sampai beberapa pria berpakaian hitam yang mencoba menyerangnya, dan untungnya berhasil ia gagalkan dengan memukul kepala pria-pria itu dengan koper yang bebannya cukup berat.

“Apa-apaan berbagai kendala tadi? Sebenarnya siapa orang yang mengancamku ini? ia berkata bahwa ia takkan menyakitiku, namun terlihat jelas bahwa ia hendak memasukanku dalam bahaya.” Gerutu Kyuhyun

Akhirnya, Kyuhyun tiba di suatu rumah yang tampak sederhana seperti tempat tadi ia berada. Kyuhyun mengamati sekitar, kemudian memutuskan untuk menelepon nomor yang tadi menghubunginya, namun sambungan diputuskan dari pihak seberang. Setelah menyiapkan diri, Kyuhyun melangkah perlahan memasuki rumah tersebut. Baru melangkahkan kaki sejauh 5meter, pintu keluar tiba-tiba terbanting menutup dan terdengar suara kunci. Kyuhyun mengumpat sejenak lalu melangkah memasuki lorong yang gelap itu.

Tiba-tiba, Kyuhyun ditarik ke samping dan sebuah benda dingin menyentuh lehernya. Kyuhyun melihat sekilas benda itu, dan ia memastikan bahwa pisau yang terasah dengan tajam sedang menempel di nadi lehernya. Dengan tangan yang ditahan di belakang, Kyuhyun diarahkan menuju sebuah ruangan yang tampak gelap, dan didorong menabrak dinding, masih dijaga oleh seseorang yang menodongkan pisau ke arahnya.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka dan tampak suatu sosok memasuki ruangan itu lalu berjalan mendekati Kyuhyun, namun Kyuhyun tak bisa mengenali orang itu karena tak ada sumber cahaya.

“Kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik.” Ujar sosok itu.

“Sekarang lepaskan aku dan biarkan aku bertemu Nara!” seru Kyuhyun.

“Ah, sayangnya tak semudah itu, masih ada hal lain yang harus kaulakukan. Tapi baiklah, jika kau ingin melihat gadis itu. Hey, bawa ia kemari.” Suruh sosok itu pada seseorang di belakangnya.

Pintu kembali terbuka dan tak lama kemudian orang suruhan itu muncul kembali sambil menarik sosok lain, yang langsung Kyuhyun kenali sebagai Nara.

“Nara, apa kau baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun khawatir.

“Kyuhyun-ah …” sahut Nara pelan, lalu terdengar suara Nara meringis.

“Apa yang telah kaulakukan padanya?” ujar Kyuhyun kasar pada sosok di depannya.

“Tak ada pertanyaan. Sekarang, misi terakhirmu, bukalah koper yang tadi kau bawa, tapi lakukan dengan hati-hati, karena isinya agak sedikit berbahaya.” Ucap sosok itu.

Orang yang menodongkan pisau melepaskan penjagaannya pada Kyuhyun, lalu Kyuhyun mengambil dan membuka koper itu, dengan membelakangi yang lain, berdasarkan suruhan sosok itu. Setelah membuka koper itu secara perlahan, ia melihat isinya, dan ia langsung terlonjak kaget, karena tulisan yang terpampang jelas disana.

“HAPPY BIRTHDAY CHO KYUHYUN”

Kyuhyun langsung berdiri dan membalikkan tubuhnya, dan kembali terkejut karena Nara sudah berdiri di depannya sambil memegang kue tart dengan lilin yang telah disulut api sambil tersenyum senang, dan mulai melantunkan lagu Happy Birthday.

“SAENGIL CHUKAE HAMNIDA, SAENGIL CHUKAE HAMNIDA, SARANGHANEUN CHO KYUHYUN, SAENGIL CHUKAE HAMNIDA!! Ayo make a wish terus tiup lilinnya.” Seru Nara riang.

Kyuhyun diam sambil menutup mata, mengucapkan impiannya di dalam hati, lalu membuka mata dan meniup lilin yang menyala sampai semuanya redup. Setelah itu, lampu di ruangan tersebut langsung dinyalakan dan tampak hiasan di dinding bertuliskan “Happy Birthday Cho Kyuhyun.” serta hiasan-hiasan lain, bahkan kursi dan meja makan yang ditata dengan apik. Kyuhyun memandang kagum pada Nara yang masih tersenyum lebar.

“Apa … kapan kau kembali? Tadi kupikir … kau … aaaargh aku bingung, jadi semua ini rencanamu?” Tanya Kyuhyun.

“Aku kembali dua hari yang lalu, dan tidak, semua ini bukan rencanaku, melainkan rencana ayahku yang sudah mengetahui hubungan kita. Mulai dari fotoku dengan makeup memar, kau yang dibius di taman, halangan-halangan di perjalananmu kemari, sampai orang yang tadi menahanmu. Tenang saja, yang ia gunakan bukan pisau asli, melainkan permen yang berbentuk seperti pisau, jika kau belum merasakan lengket di lehermu.” Jelas Nara sambil menunjuk ayahnya, yaitu sosok pria yang dari awal menelepon dan berbicara dengannya.

Kyuhyun segera membungkukkan badan hormat pada ayah Nara. “Ah, ajusshi, maaf jika tadi ucapan saya keterlaluan.” Ujar Kyuhyun meminta maaf.

“Tak apa, malah saya jadi menyadari bahwa kau sangat mengkhawatirkan Nara. Sebagai ayah, saya melakukan hal ini agar anak perempuanku bisa mendapatkan lelaki yang layak untuknya, dan aku memutuskan bahwa kau berhak mendampinginya.” Ucap ayah Nara, Kwan HyonSaeng.

Setelah itu, ayah Nara pamit pergi dan kini hanya ada Kyuhyun dan Nara yang ada di ruangan itu. Mereka berjalan menuju meja dan mulai menyantap kue tart itu bersama.

“Jadi, apakah kau akan tinggal disini atau hanya berkunjung sementara?” Tanya Kyuhyun berharap, sambil tetap menyantap kue tart.

“Aku akan tinggal disini, karena urusanku di Los Angeles sudah selesai, dan ayahku memintaku untuk mengurus perusahaan disini.” Jawab Nara.

“Hmm … kalau begitu, bagaimana dengan hubungan kita?” Tanya Kyuhyun.

“Aku sih sebenarnya sudah berniat baik, namun begitu mendengar berita-beritamu dengan artis wanita, kupikir aku mulai mempertimbangkan ulang keputusanku.” Sahut Nara tampak berpikir.

“YAH, kau kan tahu bahwa semua itu hanya rekayasa agensiku saja.” Ujar Kyuhyun mencoba memberitahu fakta yang sebenarnya.

“Maka dari itu, aku tak jadi merubah keputusanku.” Kata Nara.

“Jadi … ?” Kyuhyun ingin memastikan.

“Hih, kau masih saja lemot seperti biasa, tentu saja aku ingin menjalin hubungan denganmu, babo.” Sahut Nara agak kesal.

“Iya iya, aku kan hanya ingin memastikan. Kalau begitu, sekarang kita resmi?” Tanya Kyuhyun.

“Ehm … tapi kurasa aku belum menerima pernyataan cinta dari seorang Cho Kyuhyun yang tampan.” Ujar Nara pura-pura tak mengerti, sambil menyebut julukan mereka masing-masing.

Kyuhyun menarik napas, lalu menatap dalam mata Nara, “Kwan Nara sayang, aku mencintaimu, dari dulu perasaanku tak pernah berubah. Meski kita tak memiliki kemujuran yang sama, dan sifat kita yang bertolak belakang, namun aku menyadari bahwa cinta tak hanya diukur dari hal-hal yang tampak jelas, melainkan hati yang merupakan unsur terpenting dalam menjalin hubungan. Dan selama ini menunggumu, aku yakin bahwa kau lah yang terbaik untukku. Would you be my girlfriend?” Tanya Kyuhyun sambil tersenyum.

Nara berusaha mencerna kata-kata Kyuhyun, dan seketika wajahnya langsung menjadi merah padam. Ia segera menjawab ‘I do’, lalu menundukkan kepala untuk menyembunyikan mimic malu dan bahagia yang terlihat jelas di wajahnya. Dalam hati ia berpikir, “I know that all the things I’ve done with him have became some sweet memories, but this time would be the most sweet memory I won’t forget.

Kyuhyun menjulurkan tangan kanannya untuk meraih wajah Nara dan mengangkatnya sehingga mereka bertatapan. Kyuhyun mengelus lembut pipi Nara, lalu berkata, “Aku sungguh senang dapat bersamamu lagi.” yang membuat wajah Nara semakin memerah, namun kemudian Kyuhyun menambahkan ucapannya yang membuat raut wajah Nara berubah drastis.

“Meski aku merasa agak terganggu dengan jerawat di pelipis kananmu itu.” Sambung Kyuhyun, membuat Nara menepis tangan Kyuhyun dan berseru, “Cho Kyuhyun, mati kaaaauuuuu!!!”.

-the end-

6 thoughts on “-Contest Fiction- Sweet Memories

  1. Pingback: -Announcement- Jadwal Publish Fiction Contest! « ♛ Chocolate's Crown ♛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s