-Contest Fiction- Not This Time, But Next Time

     Author : Zee a.k.a Nanami

     Genre  : Fantasy, Romance, Comedy (?)

     Leght : OneShot

     Rating : Semua Umur

     Cast  :

  • Cho Kyuhyun as Prince Cho
  • Kwan Nara as Princess Nara
  • Kwan Miina as Princess Miina
  • Kwan Nayoung as Princess Nayoung

     POV : Author, Nara, Miina

     Title : Not This Time, But Next Time.

Don’t Forget to leave a comment~

Ur words are precious for us as the author of this story🙂

***

Author’s POV

     Alkisah disebuah negeri nun jauh disana. Negeri tempat para Princess cantik menjalankan tugasnya dengan riang. Di Negeri itu sedang diadakan pesta keberhasilan kerja semua penghuni Sky High. Semua bersuka cita, namun nampaknya tidak untuk seorang Princess cantik, berwajah polos, bertubuh semampai, berambut panjang dengan aksen bunga lily pada rambutnya yang indah. Ia nampak murung disaat semua orang sibuk dalam keramaian pesta yang diadakan di negeri itu.

“Kwan Nara, apa yang sedang kau lakukan disini?” suara indah bak bidadari mengagetkannya yang sedang melamun.

“Unnie… hah…” Princess berparas cantik dan polos itu nampak menghela nafas panjang setelah sebelumnya menatap wajah Unnie-nya dengan pandangan putus asa.

“Ada apa? Kalau ada yang bisa kubantu, pasti kubantu, Nara-ya..”

“Miina Unnie, aku bingung. Apa yang harus kulakukan?” Princess cantik yang dipanggil Nara itu berkata dengan gusar dan pandangan wajah yang kosong.

“Ada apa, Nara-ya? Unnie tidak mengerti apa yang kau maksudkan.” sahut Unnie-nya mencoba tenang. Nara terus menggeleng-geleng tidak percaya, berkata “Aku tidak mau terus menerus, berulang-ulang” membuat Unnie-nya tak sabar lagi.

“Katakan. Ada apa? aku jadi pusing sendiri melihatmu seperti ini, Nara-ya.” Miina memegang bahu adiknya dengan pandangan iba, berusaha menahannya agar tidak bergerak-gerak tak jelas.

Nara nampak menimbang-nimbang ucapan Unnie-nya, akhirnya ia memutuskan untuk bercerita mengenai masalah yang ia hadapi.

“Unnie… kau tahukan, Appa terus menerus memintaku menikah. Kali ini dia tidak lagi becanda ingin aku menikah. Tadinya, aku menolak. tetapi perkataan Umma menghentikan langkahku untuk terus menolak. Umma bilang, hidupku tak lama lagi. Jika aku tak segera menikah maka aku pun akan lenyap, sama seperti salju yang aku ciptakan.”

Ya, Kwan Nara adalah salah satu dari 3 Princess yang bertugas mengatur cuaca. Si Maknae, Nara sebagai pengatur turunnya Salju. Lain lagi dengan Unnie-nya, Kwan Miina. Seorang dengan wewenang mengatur panas yang akan sampai kebumi. Satu orang lagi bagian dari mereka bertiga, Unnie keduannya, Kwan Nayoung,  tugasnya mengatur hujan yang jatuh kebumi. Mereka adalah Princess utama Sky High Kingdom. Calon penerus tahta Kerajaan.

“Unnie, Nara-ya. Apa yang sedang kalian lakukan disitu?” teriak seorang Princess bertubuh kecil nan montok tengah berlari-lari kearah mereka berdua. Rambutnya yang panjang tertiup angin dan diterpa cahaya matahari sore, membuatnya berkilauan.

Nara menatap Miina dengan pandangan memohon ‘Tolong-jangan-dulu-katakan-pada-Nayoung-Unnie-soal-ini’ . Miina mengerti dan menjawab pertanyaan Nayoung yang sekarang sudah berdiri didepannya dengan tenang.

“Aish, Nayoungie. kau jangan berlari-lari seperti itu, kalau kau jatuh bisa menggelinding seperti bola nanti.”

“Ih, Unnie.” Nayoung berteriak kesal, mulutnya digembungkan, membuatnya persis seperti ikan mas koki saat ini. Miina terbahak.

“Hahaha. Cuma becanda, Youngie. Kami cuma sedang mengobrol saja, agak bosan didalam.” Nayoung hanya manggut-manggut mendengar penjelasan singkat Miina. Tanpa Nayoung sadari Nara menghembuskan nafas lega.

Mereka bertiga akhirnya ngobrol tak jelas hingga matahari pun mulai larut tenggelam.

 ***

Kamar Nara, 11:00 pm

Nara masih terus melamun, memikirkan kata-kata Appa-Ummanya tadi sore. Ia harus menikah atau ia akan lenyap.

‘Tok tok tok’ ketukkan dipintu kamarnya membuyarkan apa yang sedang ia lamunkan. Ia menengok sekilas kearah pintu.

“Nara-ya, ini Unnie.” suara yang sangat familiar, suara Unnie-nya yang sudah seperti Umma kedua bagi seorang Kwan Nara. Kwan Miina.

“Masuklah Unnie,  pintunya tidak kukunci.”

Miina masuk, menghampiri adiknya yang sedang memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Nara masih tak  bergeming, diacuhkannya Unnie yang kini sudah duduk disampingnya. Hening. Beberapa saat berlalu, mereka masih sama-sama diam.

“Unnie, apa kau pikir aku egois?” tanya Nara tiba-tiba.

“Aku tak bisa menilai jika kau belum menceritakan detailnya padaku, Nara-ya.”

“Unnie, aku akan menikah. seminggu dari sekarang. Aku tak tahu dengan siapa aku akan dinikahkan. Aku tak ingin tahu, tak mau menikah saat ini. Aku ingin menikmati waktuku yang selama ini selalu saja padat. Menurunkan salju dari hari ke hari. Padahal, aku belum mengenal satupun pria yang menjadikanku alasan untuk menolak pernikahan ini. Bayangkan aku akan menikah tanpa pernah sekalipun melihat wajah calon suamiku. Otthoke???”

Miina termenung, Ia pun bingung hendak menjawab apa. Ia adalah anak tertua, tetapi Appa-Umma tidak pernah mendesaknya untuk menikah. Ia tak pernah tau alasan mereka harus menikah, karena sebagai Princess mereka akan lenyap jika waktunya tiba. Sekarang, adik bungsunyalah yang justru merasakan duluan apa yang seharusnya ia rasakan.

“Umma berkata sambil menangis, Umma tak ingin melihatku lenyap begitu saja. Tapi Unnie, tak bisakah aku diberi waktu untuk berpikir? Mengapa aku tak bisa menolak? Bukankah Unnie yang tertua yang seharusnya menikah lebih dulu? Kenapa aku Unnie? Kenapa??” Nara mengatakan segala isi hatinya dengan emosi yang meluap-luap. Ia menangis menjadi-jadi, Miina memelukknya sambil ikut menangis.

“Nara-ya, sejak kita dilahirkan, bakat kita, elemen yang ada didalam tubuh kita telah memilih kita sebagai tempatnya. Aku, jika aku bisa memilih. Aku akan memilih menjadi Salju untukmu. Namun, aku tak bisa. Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu.” Keduanya menangis.

—————————————————-^_^——————————————————–

Taman Istana, 10:00 am, Nara’s POV

Salju adalah air yang jatuh dari awan yang telah membeku menjadi padat dan seperti hujan. Salju terdiri atas partikel uap yang kemudian mendingin di udara atas, jatuh kebumi sebagai kepingan empuk, putih dan seperti kepingan lembut Kristal salju. Tetapi, tak ada manusia yang tahu, akulah yang berada dibalik semua salju-salju itu. Aku tersenyum.

Salju begitu indah. Orang-orang diseluruh dunia menyukainya. Aku tahu. Anak-anak bermain bersama diatas salju. Menunggu hadiah-hadiah mereka tiba dengan suka cita. Hari dimana banyak keluarga berkumpul bersama, bernyanyi, dan menceritakan kisah mereka yang indah bersama keluarga. Berbagi kasih, berbagi mimpi.

Aku tidak tahu itu hari apa. Yang aku tahu, mereka akan tersenyum riang jika salju mulai turun. Akupun ikut tersenyum.

Aku tidak ingin menyesal menjadi seorang Princess. Ini hal yang seharusnya aku banggakan. Bukan Kwan Nara yang malah bersedih disaat semua orang ingin aku bahagia. Apa yang Umma-Appa lakukan juga demi diriku. Lagi-lagi kau tersenyum.

“Nara-ya!” aku berbalik dan mendapati Nayoung Unnie sedang berlari-lari kecil kearahku. Senyum merekah diwajahnya yang cantik.

“Nara-ya, kau akan menikah kan? Aigoo, kau mendahuluiku, Nara-ya. Hahaha” Unnie nampaknya tidak tahu, apa dampak buruknya jika aku tak menikah. Aku cuma tersenyum.

“Kenapa kau begitu murung? Apa kau tak ingin menikah?” tanyanya khawatir.

Aku menggeleng lemah. Tersenyum getir.

“Aku akan membantumu. Ikutlah denganku.” Nayoung Unnie menarik tanganku kuat-kuat, diajaknya aku ketempat yang tak pernah sekejap pun terpikir olehku.

———————————————————^_^—————————————————

Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kau lihat jika berada disini.

Ini tempat yang indah.

Sangat Indah.

Aku bahkan tidak bisa menjelaskan apa saja yang aku lihat ini.

“Nara-ya. Kau lihat. Ini adalah Pulau yang aku temukan 10 tahun yang lalu dalam keadaan kekeringan. Sekalinya kau masuk kedalam Pulau ini. Kau tidak akan bisa terlacak oleh siapapun.” Nayoung Unnie tersenyum. Seolah mengerti apa yang aku pikirkan.

“Tapi, jika aku hendak keluar dari sini bagaimana Unnie?”

“Disana kau lihat disana. Naiklah keatas pohon kacang tersebut. ia kan membawamu sampai diatas. Maka kau akan keluar dari sini.” Aku melihat pohon itu dengan takjub. Pohon Kacang Panjang yang menjulur keatas dan terus tumbuh. Disamping kanan kirinya terdapat berlian, buah dari pohon tersebut.

“Arrayo Unnie.” aku kemudian melangkahkan kakiku kearah bebatuannya, cantik sekali. Pearl Sapphiere Blue, kurasa batu-batu itu memang Pearl Sapphiere Blue. Aku masih takjub. Akupun hanya melambai tanpa berbalik saat Nayoung Unnie pamit pulang.

Sepertinya jika aku berada disini beberapa hari tidak masalah. Batinku, masih tetap memerhatikan sekelilingku dengan takjub.

BRUUUUK!

Sssskkksskksskk. Aku mendengar suara orang terjatuh, kemudian suara orang berjalan dalam semak-semak. Benar saja. Semak-semak yang jaraknya tak jauh dari tempatku berdiri sekarang sedang bergerak-gerak seperti seseorang atau sesuatu tengah melewatinya. Tiba-tiba muncul sesosok pria dengan wajah angkuh dan pakaian formal suatu kingdom dari dalam semak-semak itu.

“Ya! Siapa kau bocah? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya padaku dengan wajahnya yang angkuh dan pandangan matanya yang tajam.

“Kau? Bertanya padaku?” aku menjawabnya dengan pertanyaan. Menirunya, angkuh.

“Apa kau bodoh? Kau tidak melihat mahluk lain seperti kita yang berbicara padamu selain aku kan? Tentu saja kau.” terangnya masih dengan gayanya yang arogan dan wajah angkuhnya.

“Aku, melakukan apa yang ingin kulakukan. Bukan urusanmu menanyaiku seperti itu. Dan jangan menganggapku bodoh. Harusnya aku yang mengataimu bodoh, Tuan.” jawabku sengit

“Kuberitahu yaa, jika kau benar tidak bodoh.. apa tujuanmu berada ditempat ini. Kau takkan bisa keluar dari sini sampai seminggu kedepan, kau tahu? bodoh.”

“Jinjjayo?? Hahahaha. Apa kau ingin aku terkejut lalu berteriak dan menangis? Kau pasti sedang bercanda. Kita saja baru bertemu. Tak perlu repot-repot menasehatiku.” aku tertawa mendengar pekataannya barusan. Tentu saja aku bisa keluar, kan ada pohon kacang itu. Hahaha.

“Baiklah, terserah kau saja. Aku malas mengurusi orang bodoh sepertimu. Asal kau tahu saja, sepertinya mahluk seperti kita yang berada disini hanya kita berdua.” katanya cuek dan berjalan menjauh.

Aku memikirkan kata-katanya, ah tidak tidak tidak. Mana mungkin aku percaya begitu saja pada pria bodoh dan kasar sepertinya. Aku segera berjalan kearah pohon kacang panjang dan berusaha memanjatnya. Hampir sampai kepuncak tetapi tiba-tiba saja pohon kacang itu berbelok, seolah layu. Untungnya aku berpegangan erat-erat tadi. Aku mendongak, melihat keatas pohon kacang. Banyak petir menyambar-nyambar, hujan sangat deras. Nampaknya sedang hujan badai diluar sana. Hatiku mencelos, sepertinya memang tidak bisa keluar dari sini sekarang dan sampai seminggu kedepan. Hujan badai memang berlangsung sekitar seminggu. Nayoung Unnie hanya menjalankan tugas pastinya, hujan badai ini baru yang kedua kalinya terjadi makanya mungkin dia lupa memberitahuku saat kami tiba tadi.

——————————————————-^_^———————————————————

Akhirnya aku memutuskan untuk menerima keadaan dan mencari jalan keluarnya nanti saja. Soalnya aku sangat lapar sekarang.

Aku terus saja berjalan, melewati jembatan kecil bertahta emas, melewati hamparan bunga sakura berkelopak permata. Dan aku akhirnya melihat sesuatu yang bisa dimakan. Pohon apel.

Aku memetiknya, duduk dibawah pohon kemudian memakan apel lezat itu dengan tenang. Hingga sesuatu mengenai kepalaku dan aku meringgis sebentar.

“Ya! Siapa yang berani melemparku hah? Apa kau cari mati?” kesalku

“Ternyata nyasar kekepalamu ya gadis bodoh. Sudahlah, anggap saja kayu itu gertakan kecil agar otakmu bangun dari kebodohan.” pria itu, pria angkuh dan arogan yang tadi. Berkata-kata seenaknya, seraya mengambil kayu setengah lingkaran yang  tadi  mengenai kepalaku . Dan apa katanya tadi? Aku Bodoh? Brengsek. Amarahku sudah sampai keubun-ubun.

Aku secara refleks mengangkat tangaku keatas dan mengayunkanya. Menghempaskan butiran-butiran salju dingin kearahnya. Jika saljuku mengenainya mungkin dia akan beku seketika. Tapi, apa yang terjadi? Kenapa yang kudengar malah suara tawa? Apa tadi dia menghempaskan salju milikku?

“Hahahaha. Kau memang benar-benar gadis bodoh. Kau takkan menang melawanku. Angin akan menyingkirkan salju-saljumu itu.” Ia terus saja tertawa dan aku semakin kesal dibuatnya. Saat aku hendak mengangkat tanganku lagi….

“Makanlah dulu, kau pasti sangat lapar. Kita lanjutkan nanti saja. Hahaha.” ia melemparkan sebuah apel padaku kemudian berbalik dan berjalan menjauh. Emosiku sedikit mereda, karena tak dapat kupungkiri aku sangat lapar. Hah~ takkan kubiarkan kau menertawakanku lagi pria bodoh. Memalukan. Ya, aku yang memalukan gara-gara rasa lapar ini. -____-‘

——————————————————^_^——————————————————-

Sudah satu jam berlalu sejak pria bodoh itu meninggalkanku. Aku sudah kenyang. \(^o^)/

Tapi sekarang aku harus kemana dan aku harus ngapain? Sepi sekali disini. Membosankan. Tepat setelah satu kata terakhir itu aku batinkan terdengar kegaduhan luar biasa dari arah jam 12 tempatku berdiri sekarang. Puluhan banteng berlari kearahku dengan hentakan kakinya yang menggebu-gebu, menimbulkan debu-debu kecil berterbangan disekitar kawanan itu saat berlari. Sontak aku mengangkat tanganku dan menerbangkan bola-bola salju kekawanan banteng tersebut. Kawanan itu menghindari lemparan bola saljuku dan membelah menjadi dua kawanan yang terus berlari menghindari salju yang kulemparkan. Mereka melewatiku. seolah tidak melihatku berdiri didepan mereka. “Cish~ gadis bodoh. Mengapa kau masih berdiri disitu hah? Cepatlah menghindar sebelum kawanan banteng itu kembali menyerangmu.” Sayup-sayup aku mendengar suara itu, suara pria bodoh tak tau aturan dan angkuh. Perlahan sosoknya muncul diantara debu-bedu halus yang berterbangan, sisa hentakan keras kaki  kawanan banteng tadi.

“Apa urusanmu hah? Tak perlu mengurusiku.” aku kesal, sepertinya kami perlu berkenalan agar ia tak menanggil namaku dengan ‘bodoh’ lagi.

“Ehm, Kwan Nara imnida. Kau?” akhirnya aku memutuskan untuk memperkenalkan diri lebih dulu. “Cho Kyuhyun imnida.” balasnya singkat. “Baiklah, kurasa kau sudah paham sekarang, Aku sudah memberitahu namaku. Jadi, jangan-panggil-aku-bodoh-lagi.” ucapku lanatang dan penuh penekanan pada tiap kata dikalimat terakhir.

“Hahaha. Oke, Kwan Nara sayang.” aku langsung mendelik sebal dengan ucapannya barusan.

“Aku bahkan baru saja mengenalmu, apa-apaan kau memanggilku begitu hah?” aku protes.

“Apa kau lebih suka aku panggil bodoh, Nona Nara?” balasnya sengit. “Aku tak peduli, terserah aku mau memanggilmu apa dan kurasa memang jauh lebih baik memanggilmu Kwan Nara sayang dibanding memanggilmu dengan gadis bodoh.” lanjutnya diiringi dengan gelak tawa.

“Kau-pria-brengsek-Tuan-Cho.” desisku penuh dengan nafsu membunuh dan melemparkan sepatu yang kukenakan kearahnya, refleksnya sangat bagus, jadi sepatu itu hanya melayang diudara kosong tanpa sempat sedikitpun mengenai kepala seorang Cho Kyuhyun.

“Heh, Kau pikir aku ini siapa? Aku ini Prince Cho. Berani-beraninya kau melemparkan sepatu bututmu itu kearahku. Lihat ini.” ia memunggut dan kemudian PLUUNG, sepatuku sudah berendam di danau berisi air yang sangaaat bening, hingga dasarnya pun terlihat dari permukaan. Ia lalu membuang muka cuek seolah tak terjadi apa-apa. Cish~

“Ya! CHO KYUHYUN BRENGSEK!!!!”

 ***

Author’s POV

Yah, begitulah awal perkenalan mereka. Sekarang dua orang bodoh, yang tidak saling mengetahui status masing-masing itu sedang berjalan tak tentu arah, Sesekali mereka saling berteriak dan mulai memaki. Namun, kelakuan mereka itu terlihat soalah mereka “sangat akrab”.

“Sebenarnya itu tadi apa?” tanya Nara saat mereka tengah melewati semak belukar yang sehalus sutera.

“Apa yang ‘apa’ mana yang kau maksud?” tanya Prince Cho acuh.

“Aish~ kawanan banteng itu. Kau kan yang menyuruh mereka berlari kearahku?” tuduh Nara sembari menatap Prince Cho menantang.

“Aiyaa~ kau memang bodoh ya~ Aku itu menyelamatkanmu!” Prince Cho kesal, karena sedari tadi namapaknya ia selalu dituduh yang tidak-tidak oleh gadis itu.

“Bagaimana mungkin? Kau keluar dari persembunyianmu sambil tertawa-tawa tadi. Ck~” Nara tetap tidak percaya ucapan Prince Cho barusan.

“Terserah kau sajalah.” Prince Cho sedang malas berdebat. Ia nampak kelelahan. Seketika ia berhenti tak jauh dari sebuah pondok sederhana dan menunjukkannya pada Nara yang masih saja bingung tempat seperti apa ini.

Prince Cho berjalan mendahului Nara dan mengajaknya masuk kepekarangan pondok tersebut. Nara mengekor dibelakangnya dengan ragu. “Kenapa kita kemari?” tanya Nara. “Hari sudah semakin gelap, kita butuh istirahat.” jelas Prince Cho singkat. “Bukan itu maksudku, kita memangnya akan tinggal bersama hah?” jerit Nara tertahan bersamaan dengan terbukanya pintu dan Prince Cho dengan cuek melangkahkan kakinya masuk kedalam pondok itu.  Nara masih mematung didepan pintu. Ia blank .

“Masuklah jika kau tak ingin diserbu kawanan banteng itu lagi.” ajak Prince Cho yang sekarang tengah menerbangkan debu dan mengumpulkannya menjadi satu pada satu tempat.

“Tidak sebelum kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Nara tetap kukuh pada pendiriannya.

“Terserah kau, jika kau mau mencari tempat lain untuk tinggal. Kurasa hanya ini satu-satunya tempat yang ada. Karena aku sudah berkeliling untuk memeriksa.” lagi-lagi Prince Cho menjawab dengan enteng dan perkataannya ampuh membuat Nara kembali berpikir untung-ruginya.

Akhirnya Nara memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat seisi pondok dengan ‘waspada’. Kalau-kalau Prince Cho akan ‘menyerangnya’. Jika dilihat-lihat dengan seksama, dari dalam pondok ini tidak terlihat seperti pondok. Ia memiliki dinding berlapis Ruby yang berkilau. Topaz sebagai pelapis meja dan kursi serta pelapis ukiran pinggiran tempat tidur. Banyak permata dan batuan mahal lainnya yang begitu indah mendominasi pondok ini. Sangat luas, padahal dari luar pondok ini terlihat kecil. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya tempat macam apa ini. Mengapa banyak hal menakjubkan dan seolah tidak pada tempatnya? Dari pohon kacang panjang berbuah berlian hingga pondok aneh ini. Tapi Nara terlalu bingung untuk menanyakannya, dan Prince Cho juga sepertinya akan menghindari pertanyaan itu. Kini ia sedang melewati lemari-lemari kaca yang didalamnya terdapat banyak hiasan-hiasan cantik.

“Nara-ya. awaaas?!!” Nara menoleh dengan cepat ketika teriakan Prince Cho sampai pada telinganya. Namun, sedetik kemudian Prince Cho sudah berada diatasnya dengan posisi Nara yang merunduk dan seolah bersandar pada dada Prince Cho, sedangkan tangan kanan Prince Cho mengarah keatas membentuk pusaran angin yang kini tengah menahan lemari kaca yang nyaris menghantam Nara.

“Aih~ gadis bodoh. Apa yang kau lakukan sampai tidak berhati-hati? Nyaris saja.” sekarang lemari itu telah berdiri pada tempatnya semula. Prince Cho sudah kembali berdiri dan berjalan menjauhi Nara sambil marah-marah. “Ya! Aku tidak menyentuh lemari itu sama kali. Berhenti mengataiku!” hardik Nara. Setelah itu Nara terdiam cukup lama, hingga tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia diam, terpikir akan sesuatu.

——————————————————-^_^———————————————————

Nara’s POV

Aku bingung. Sebenarnya apa yang terjadi. Sekarang aku mulai sadar ada yang tidak beres. Saat Nayoung Unnie membawaku kemari seharusnya aku curiga ketika ia meninggalkanku begitu saja. Aku mencoba berpikir jika Unnie lupa kalau bulan ini saatnya hujan badai, makannya ia malah meninggalkanku disini dengan berkata aku bisa pulang kapan saja jika menaiki pohon kacang panjang tersebut, namun ia tidak pulang dengan menaiki pohon kacang tapi lagsung menghilang entah kemana. Anehnya lagi, pohon itu layu karena diluar sedang hujan badai. Kawanan banteng, sungguh aneh kenapa kawanan banteng itu berlarian kearahku tapi tidak melukaiku. Pondok aneh ini. Dan yang terpenting, darimana munculnya pria yang mengakui dirinya sebagai seorang pangeran tapi kelakuannya tidak demikian. Hah~ kenapa semuanya jadi aneh begini? Padahal niat awalnya aku hanya ingin menenangkan pikiran. Aarrgh~ aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi. Kesal!! Sekarang aku malah terjebak dengan pria bodoh aneh tidak jelas tapi tampan. Hah? Apa tadi? Aku memikirkan bahwa ia tampan? Tidak tidak tidak Kwan Nara sadarlah. Hmm~ ada suara seseorang… merdu sekali… Kutajamkan pendengaranku dan berjalan dnegan dituntun suara merdu yang sedang kudengar. Hingga aku sampai pada balkon belakang pondok ini. Mataku terbelalak tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aish~ ternya orang itu.

“Kenapa? Kau jatuh cinta padaku sekarang?” tanyanya percaya diri tanpa menoleh kearahku.

Pleetaak!

Rasakan kipas kayu yang mendarat dikepalamu Prince Cho yang tampan. Hahahaha. Aku segera berlari dan menggurung diri dalam kamar. Sepintas kudengar ia berteriak, “Awas kau, Kwan Nara sayang.” Cish~

***

06:00 am

“Hooamh~ sudah pagi ya?” aku mengerjapkan mataku, menyesuaikan dengan sinar yang masuk kemataku yang telah tertutup beberapa jam ini.

Aku beranjak keluar kamar, mencium aroma tidak enak dari arah dapur. Selangkah lagi masuk dapur dan DHUAAARR. Kompor meledak dan menimbulkan asap yang mengumpal memenuhi dapur. Terdengar suara seorang batuk-batuk tak jelas.

“Oh~ jadi ini biangnya?” sindirku.

“Sudah jangan banyak komentar. Cepat bantu aku merapikan semuanya.” suruhnya.

“Hanya dalam mimpimu.” kataku kemudian berbalik arah. Tapi…..

“Auuuwww. Apa yang kau lakukan bodoh? Apa yang kau lakukan pada rambutku?! Singkirkan tanganmu sialan. Kubunuh kau brengsek.” ._.

Begitulah pagi yang dimulai dengan hancur berantakan. Aku tak tau ternyata setelah pagi yang hancur dan berantakan ini ada yang lebih hancur dan berantakan lagi lebih dari ini.

 ***

Seminggu Kemudian, Sky High Kingdom, Miina’s POV

“Saatnya membawa mereka kembali.” Appa mengatakan ‘mereka’ dengan jelas. Aku hanya diam dan mataku tak henti memerhatikan keadaan sekitar yang tengah sibuk menyambut kepulangan ‘mereka’.

Rasa bersalah menjalari pikiranku. Aku tak menyangka akan terlibat dengan hal gila seperti ini. Ya, ‘mereka’ adalah Nara dan Kyuhyun. Mereka akan dibawa kemari untuk menikah tanpa mereka ketahui. Aku tidak tega melihat Nara yang akan terluka dengan keputusan Appa ini. Umma hanya bisa mendukung keputusan Appa karena ini jelas-jelas demi kebaikan Nara. Aku yakin ini akan sedikit rumit untuk dijelaskan kepada Nara yang keras kepala.

Kriing~ kriiing~ kriiing~

Suara kereta datang, mereka telah sampai.

“Ya. Apa-apaan ini? Kalian sedang mempermainkanku ya??” itu suara Nara. “Berhenti berteriak. Kita akan tahu tanpa kau berteriak sekalipun, bodoh.” satunya lagi, aku yakin adalah suara Kyuhyun. Prince’s Wind Kingdom yang dijodohkan dengan Nara. Aku segera berlari menghampiri mereka berdua yang terkejut dengan kedatanganku. Nara dengan matanya yang penuh dengan pertanyaan dan Kyuhyun yang diam saja tanpa ekspresi.

“Aku tidak akan bertanya, tapi aku yakin Unnie akan menjelaskan apa maksud semua ini.” Nara mengatakannya dengan pandangan dingin dan sorot mata penuh tanda tanya.

“Tentu Nara-ya. Sekarang kau dan Kyuhyun masuk dulu. Semua telah menunggu didalam.” aku membujuknya dan ia pun masuk kedalam ruang pertemuan. “Hmm~ bahkan kau telah mengetahui namanya, Unnie-ya.” desisnya pelan, namun masih terdengar olehku. Aku hanya menghela nafas panjang dan mengikutinya berjalan.

Semua anggota keluarga telah berkumpul. Kulirik Nara dan Kyuhyun yang bersikap setenang mungkin. Appa melihatku dan mengisyaratkan agar aku segera memberikan penjelasan kepada keduanya. Kutarik nafas panjang dan memulainya.

“Sebelumnya, aku minta maaf padamu dan Kyuhyun, Nara-ya. Aku akan menjelaskan semua yang terjadi. Saat kau berada di taman seminggu yang lalu,  Nayoung telah mengetahui semuanya. Tidak tidak, jangan melihatku seperti itu. Bukan aku yang mengumbarnya. Appa yang menceritakannya pada Nayoung dan menjalankan rencana ini.  Aku tahu setelah kau telah berada di Pulau itu. Nara-ya, Nayoung membawamu kesana bukan tanpa tujuan. Appa yang menyuruhmu berada disana agar kau tidak kabur dari acara pernikahan. Appa sangat memahami watakmu. Jadi ia menempatkanmu disana setelah Kyuhyun juga ditempatkan disana. Kyuhyun juga sama sepertimu.  Ia tidak tahu apa-apa ketika tiba disana, tetapi ia tahu keadaan tempat itu dan keberadaannya disana ia anggap sebagai tugas dari Appa-nya untuk menjaga Pulau itu selama seminggu.” kulirik Kyuhyun, sekilas wajahnya sedikit berubah menjadi lebih keras. “Hmm~  makanya Appa tidak khawatir meninggalkanmu disana karena tahu Kyuhyun juga berada disana. Kau jangan salahpaham sama Kyuhyun, Nara-ya~ . Ia yang melindungimu selama disana.” Kyuhyun memalingkan mukanya yang terdapat sedikit rona merah disana. “Ya, saat kau tiba disana, ia terus memperhatikanmu. Kau tahu, ia melemparmu dengan ranting pohon saat kau hendak makan apel agar kau tidak berada dibawah pohon apel itu. Ular di atas kepalamu saja kau tak tahu, Nara-ya.” aku berhenti sebentar, wajah Nara kaget. “Lalu, saat kawanan banteng itu nyaris menyerangmu, kau lihatkan mereka membelah menjadi dua kawanan? Itu karena Kyuhyun yang menghembuskan angin kencang agar kawanan banteng itu membelah dua. Makanya ia terlihat muncul setelah kawanan banteng itu menjauh.” aku tersenyum, kemudian kulanjutkan lagi penjelasanku. “Saat lemari itu jatuh, ia yang tengah memperhatikanmu seketika melompat untuk melindungimu. Paginya, ia bangun lebih awal untuk membuatkanmu sarapan.” aku sedikit terkikik pada bagian ini. “Tapi, ia tak tahu memasak sama sekali. Karena apinya tak keluar-keluar, ia melempar tabung gasnya dengan pisau kuat-kuat dan kompor itu meledak.” sekarang wajah Kyuhyun sudah semerah kepiting rebus. Nara masih bengong dengan pandang wajah blank. “Lalu……” , “Ya. Unnie , hentikan.” tiba-tiba saja Nara memintaku berhenti.

“Unnie, katakana kepadaku sekarang, dia siapa?” tanyanya sambil menunjuk kearah Kyuhyun.

“Dia adalah Cho Kyuhyun, Prince’s Wind Kingdom, calon suamimu.” jawabku.

***

Author’s POV

Segalanya berputar-putar didalam kepala Nara saat ini. Semua kejadian demi kejadian terputar layaknya film dan membuatnya pusing. Ditambah lagi penuturan Unnie-nya bahwa Prince Cho adalah calon suaminya. Ia semakin pusing dan mulai menggerang. Prince menatapnya dengan takut-takut. Semua orang sekarang melihatnya. Namun, suaranya seakan tercekat dan ia tak dapat berkata apapun. Segalanya berputar, tidak hanya didalam kepalanya melainkan dunia disekitarnya pun berputar dan ia seolah tersedot kedalam sebuah pusaran angin. Yang dilihatnya terakhir kali adalah senyuman Prince Cho, senyuman yang menenangkan seolah berkata padanya bahwa ia akan baik-baik saja.

***

Seoul, Kwan Nara’s Room, 02:00 am

“Hah..hah..hah…” Nara terbangun dari mimpinya. Mimpinya yang aneh. Kyuhyun dan Nara dijodohkan tetapi sebagai Prince Cho dan Princess Nara. Ia akan menikah tapi tiba-tiba ia terbangun dari mimpinya. Ia segera duduk dan mencari-cari segelas air dimeja samping tempat tidurnya kemudian menegaknya habis tanpa ampun. Masih berusaha mengatur nafasnya, ia bersandar pada bantalnya. Sejenak ia berpikir. “Menikah? Haha. Nara-ya, Neo Baboya.” ia menjitak kepalanya berulang kali sambil tertawa hambar.

Drrrtt drrrtt ddrrrtt

Sesuatu sedang bergetar-getar disisi tempat tidurnya, Handphone LG Lollipop Merah miliknya bergetar-getar tanpa bunyi karena memang ia men-silent-nya sebelum tidur.

Master Of Evil calling…

Kyuhyun meneleponya, tengah malam begini? Nara menangkatnya dengan ragu.

“Yeoboseyo…”

“Nara-ya, kau bangun?” tanya Kyuhyun diseberang sana dengan nada suara khawatir.

“Eung~ ada apa telepon tengah malam begini?” Nara yang menangkap rasa khawatir pada nada suara Kyuhyun mencoba bersikap tenang.

“Haha, tidak ada apa-apa. Kwan Nara sayang, aku merindukanmu.”

“Nado.” detik berikutnya sambungan telepon interlokal itu terputus. Nara memutuskan telepon secara sepihak dan sekarang wajahnya sudah bak kepiting rebus. Senyuman tersungging diwajah cantiknya. Ia seakan lupa mimpi yang sempat membuatnya gelisah tadi.

 ***

Super Junior M  Dormitory, Kyuhyun’s Room

Raut wajah senang terpampang jelas diwajah Kyuhyun. Setibanya di kamar tadi ia langsung menelepon kekasihnya. Ia merasa khawatir karena selama penerbangannya dari Seoul ke China tadi ia tertidur dan bermimpi hampir menikah dengan Nara, namun bukan dengan sosoknya sebagai Cho Kyuhyun saat ini. Ia khawatir sosok itu bukan dirinya, tetapi orang lain yang mirip dengannya. Entah kenapa setelah menelepon Nara, rasa khawatirnya hilang seketika. Berganti dengan rasa bahagia.

Memang bukan saat ini, tapi suatu saat pasti akan terjadi pada kita berdua, Kwan Nara sayang. Sesaat kemudian ia telah tertidur diatas kasur empuknya dengan senyum yang mengembang diwajahnya yang tampan.

Kita bisa saling memahami dengan cara kita sendiri,

rasa sayang yang ada padamu dan aku baru sekedar awal,

 Esok jika saatnya tiba,

aku yakin kita bisa bersama dengan lebih wajar,

aku akan membawamu ketempat dimana semua orang dapat melihat,

dan menunjukkan bahwa rasa sayangku nyata dan terus bertambah.

Setelahnya, kita akan memiliki keluarga kecil kita sendiri.

untuk lebih dan lebih lagi berbagi kasih sayang sampai maut memisahkan kita.

Kwan Nara sayang~

 

-E.N.D-

 

Mianhaeyo m(-_-)m atas ketidak jelasan FF yang saya buat ini. Saya hanya ingin ikut serta meramaikan FF Contest-nya Icha, tidak bermaksud rusuh atau apa.😄

Saya tidak terlalu banyak berharap FF ini kan menang. Kalau Icha suka FF-nya udah lebih dari cukup buat saya. Ini juga sebagai ucapan terima kasih Icha udah ngebuat FF yang keren-keren buat dibaca. Saya pribadi merasa sangat sangat terhibur membaca FF2 karya Icha. Makasih banyak yaa Icha. ^^

Tolong Comment, Kritik dan Saran yang membangun atas FF saya ini. Hehe. Gomawo. ^^

21 thoughts on “-Contest Fiction- Not This Time, But Next Time

  1. Pingback: -Announcement- Jadwal Publish Fiction Contest! « ♛ Chocolate's Crown ♛

  2. Keren!!!
    Prince Kyuhyun pasti tampaaaan…
    Princess nara juga pasti cantik..
    Jadi ngebayangin mereka nikah gimana ya??
    Mereka udah serasi banget…
    Ffnya bagus,keren…
    daebak!!!I like it^^

    • O.o? beneran berat ya bahasanya?
      nanti saya akan berusaha lagi deh buat yang lebih ringan buat dibaca🙂
      tapi serius, belum bisa nulis yang selain bahasanya kayak diatas *nunjuk2
      hehehe

      makasih yaa saeng udah baca dan comment ^^

    • O.o? beneran berat ya bahasanya?
      nanti saya akan berusaha lagi deh buat yang lebih ringan buat dibaca🙂
      tapi serius, belum bisa nulis yang selain bahasanya kayak diatas *nunjuk2
      hehehe

      makasih yaa saeng dah baca dan comment ^^

  3. ff nya Daebak🙂
    aku suka endingnya, kayak di film2….
    tapi kenapa mereka keburu bangun, kan tanggung udah mau nikah,,, hhe percuma kan aku udh jauh2 dri Korea ke ‘sky high kingdom’ buat hadir di pernikahan KyuNara…*plak
    pkokny keren deh… ^____^

    • wah makasih yaa ^^
      hehe iya soalnya inti ceritanya kan mereka cuma mimpi
      dan yang terpenting mimpinya itu suatu hal yang belum pernah mereka pikirkan sama sekali😀
      so, Kyu hanya bisa sabar aja dulu hingga saat itu tiba
      hehe

      sekali lagi makasih yaa udah baca dan comment ^^

  4. Yaaaah… Ternyata mimpi toh.
    Keren banget deh itu si prince cho~
    Haduhaduu… Itu kata2 yg di kotak keren deh.🙂
    Bagus kok ffnya, imajinatif.

  5. wah wah padahal mimpinya jangan berenti disitu. berakhir sampe mereka nikah ^^

    haha…
    tapi keren ceritanya, fantasiii ^^

  6. ffnya keren 0.0
    eh, itu mimpi ? ._.
    yaampuun aku kira aku kira wkwk
    sumpah, bacanya melongo
    kwan nara yang (ehm) evil /pletak jadi princess -___-
    cho kyuhyun disini yaang juga evil jadi prince -,-
    tapi aku sih ngbayanginnya gini unn, princess pake sepatu yah ? wkwk

    • iya itu mimpi
      wkwkwk

      iya makanya Kyu nganggep orang yang mirip dia dalem mimpi itu kayak bukan dia
      Nara juga, kebagusan mah jadi princess *tabok
      wkwkwk
      saya ngebayanginnya sepatu kaca kayak punya Cinderella itu loh😄

      makasih yaa udah baca dan comment ^^

  7. awalnya ganiat baca kak xD
    panjang begeeettt al.a,,
    tapi setelah dibaca the only one thing in ma head is “it’s the perfect story i’ve ever read fom u xD”

    endingnya kuraaangg >.<
    maunya samapi benar" end,,
    tapi keren kok🙂

    • aduh rin makasih *tersipu2

      iya panjang banget ya buat oneshot? O.oa
      hehe
      endingnya kurang? otakku udah mampet rin, gak nyampe buat bikin ending yang lebih
      wkwkwk *bakar

      makasih yaa udah baca dan comment ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s