-Contest Fiction- My Fake Boyfriend

Original Fanfiction By : Kay_Keren (@Wookayevil)

Don’t Forget to leave a comment~

Ur words are precious for us as the author of this story🙂

***

Namaku Kwan Nara. Siswi dari Namsoon High School. Aku kelas 2 SMA sekarang. Aku baru saja mendapatkan rapor kemarin dan hari ini merupakan hari dimana kelas kami dibagi setelah kenaikan kelas 1. Aku menelusuri sekian banyak ruangan kelas 2. Mata ku terhenti di kelas 2-2. Kwan Nara, Kwan Nara, Kwan Nara. Dapat! Kumasuki ruangan kelas itu

“Ya, Lee Hyukjae! Kenapa kita sekelas lagi?” teriakan powerful nan membahana menerobos telingaku ketika aku memasuki ruang kelas. Tampak seorang yeoja sedang meneriaki seorang namja yang duduk dibelakangnya. Aku tersenyum singkat. Masih bingung akan menduduki kursi yang mana. Lagipula, aku belum menemukan teman sekelasku yang juga masuk dikelas ini.

Yeoja tadi tersenyum memandangku dan mengisyaratkan aku duduk dikursi tepat disebelahnya. Aku meneriam ajakan tersebut. Kuletakkan tas yang tersandang di bahuku dan mencoba berkenalan dengan mereka berdua.

“Annyeong, naneun Kwan Nara imnida, dari kelas 1-2. Bangapseumnida.” Sapaku sembari menjulurkan tangan, agar terlihat sedikit ramah.

“Naneun Choi Jiyoo imnida, aku dari kelas yang bersebelahan dengan kelasmu kemarin, kelas 1-3. Ini Lee Hyukjae, namja dengan gusi maju 15 sentimeter.” Ujar yeoja tersebut tak kalah ramahnya, menyambut uluran tanganku, sekaligus memperkenalkan temannya.

“Heits, jangan salah! Begini-begini aku ditaksir banyak yeoja lho!” kata Hyukjae. “Panggil saja aku Eunhyuk!” sambungnya lagi.

Senang rasanya mendapatkan teman baru. Mereka berdua ramah dan menyenangkan, meski sedikit berisik karena kerjanya berantem terus. Jiyoo dan Hyukjae, pasangan yang serasi sepertinya.

Seorang namja dengan gaya sedikit berantakan masuk ke kelas ini. Namanya Cho Kyuhyun. Aku mengenalnya meski ia tak mengenalku. Semenjak kelas 1 aku mengaguminya. Well, bukan dalam artian aku menyukainya, tapi aku penasaran karena gayanya yang sedikit misterius untukku. Seperti ada magnet yang menarik diriku untuk ingin mengetahui lebih banyak mengenainya.

“Kyu, duduk sini aja, sebelah namja-gusi-maju!” ajak yeoja itu riang.

Cho Kyuhyun pun duduk tepat dibelakangku. Sementara Jiyoo dan Eunhyuk sedang sibuk berolok-olok ria. Aku mencuri-curi pandang kepada dirinya. Dadaku sedikit berdesir. Rasanya menyenangkan kalau orang yang kau ingin kenal sekarang berada begitu dekat denganmu kan?

Seorang yeoja masuk lagi kedalam ruang kelas kami. Aku tak begitu mengenalnya, namun parasnya tak begitu cantik menurutku. Malah terkesan jelek. Namun aku bukan tipe yang senang memilih-milih teman. Siapa saja patut mendapatkan teman kan?

Dia mendatangi tempat duduk kami yang berada di pojok ruangan. Kyuhyun tenggelam dalam kesibukannya membaca buku. Dari judulnya sepertinya itu adalah cara membuat sebuah karakter game menjadi lebih jago berkelahi. Eh bukan, itu namanya cheat atau kunci pintas permainan. Hahaha dia sering curang ya kalau bermain game?

Aku kembali mengahadap ke depan. Bangku-bangku mulai terisi, dan para penghuni kelas mulai berdatangan. Aku belum mengenal wali kelas kami. Membayangkan bagaimanakah nantinya guru yang akan mendampingi kami selama setahun ke depan, dihadapi oleh para orang tua kami saat mengambil rapot, juga yang akan memprotes kami saat kelas kotor, dan sebagainya. Penasaran….

Tiba-tiba yeoja yang tidak begitu menarik tadi mendatangi kami. Ia langsung memperkenalakan dirinya pada kami. “Annyeong, namaku Lim Soojin.” Katanya. Ia menjulurkan tangan pada kami berempat. Namun tangan Kyuhyun begitu erat digenggamnya. Yeoja ini pasti naksir Kyuhyun.

Wajar kalau ada yang mengincarnya. Kyuhyun tinggi, putih dan sepertinya cerdas. Kesan misterius menambah pesonanya. Aku bahkan senang memandanginya. Lagipula, ia bukan tipe namja pengecut dari wajahnya. Bolehlah dibilang tampan.

Aku mencoba membayangkan bagaiman jika Kyuhyun disandingkan dengan Soojin ini. Entahlah, seolah tak adil. Kyuhyun tampan, sang yeoja aneh. Bukan maksudku mengolok, namun ia memiliki rambut yang pendek dan tipis, dengan dahi lebar yang sangat menonjol. Leher pendek dan tubuh pendek. Tak cocok menurutku.

Kyuhyun melepas genggaman tangannya dengan kikuk dan langsung pergi keluar. Ia sepertinya tak menyukai tingkah sang yeoja yang overacting. Dengan santainya Soojin duduk diantara aku dan Jiyoo. Ia membisikkan sesuatu dan Jiyoo tersenyum lemah. “Aku usahakan.” Bisiknya pelan, namun masih bisa kudengar.

Soojin lalu pergi ke tempatnya duduk kembali. Kyuhyun juga masuk ke kelas karena wali kelas kami datang. Ternyata yang menjadi wali kelas kami adalah guru Sejarah Korea. Gurunya mengasyikkan dan ramah. Ia mengatur struktur organisasi kelas dan jadwal piket kelas, juga menerangkan berbagai pengaturan yang akan ia buat bagi anak didiknya yang bermasalah.

Hati ini memang buka hari yang efektif belajar-mengajar. Kami hanya disuruh membersihkan kelas yang kotor, membereskan berbagai peralatan belajar yang dibagikan, seperti misalnya, buku paket, spidol kelas, juga penghapus papan tulis, dan lain sebagainya. Aku dan Jiyoo kebagian tugas menyapu kelas. Ada yang membersihkan jendela dan merapikan bangku.

“Jiyoo-ya, Soojin menyukai Kyuhyun ya?” tanyaku. Entah mengapa pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Aku tak bisa menariknya kembali.

“Iya, norak banget ya cara nunjukin rasa sukanya?” jawab Jiyoo. Untungnya dia tidak mengomentari pertanyaanku. Aku bahkan belum berkenalan secara resmi dengannya.

Aku mengangguk. “Kalau menurutku sih mereka tidak cocok.” Ujarku sambil terus menyapu kelas.

“Sama. Kyu ganteng, dianya yang ngeganjel. Wajahnya agak kurang gitu dah….” Sahut Jiyoo.

“Jangan ngomongin orang ah, nggak enak.” Aku mengganti topik pembicaraan. “Kayaknya kamu sama Eunhyuk itu cocok deh.” Godaku.

“Whoaaa, jangan gitu dong! Masa kamu rela, kalau aku pacaran dengan namja gusi maju?” jawabnya. Terlihat jelas kalau wajahnya memerah. Sebenarnya Eunhyuk tak begitu jelek kok. Hanya kekurangannya ya itu, gusinya menonjol. Jadi kalau ia tersenyum, senyumnya menampakan gusi, bahkan saat ia hanya tersenyum sedikit, akan terlihat gusinya.

Kami berdua, aku dan Jiyoo maksudnya, bertukar nomor handphone. Agar lebih mudah saat menanyakan PR atau hanya untuk bergosip.

Keesokan paginya, aku datang ke kelas. Seperti biasa Jiyoo dan Eunhyuk sudah mulai ribut mengenai jam pelajaran pertama. Jam pertama kami adalah Matematika. Sungguh betapa membosankannya belajar dengan guru ini. Ahn songsaenim benar-benar mengajar kami secara datar. Tanpa intonasi, juga sangat pelan. Ah, aku berharap ini cepat selesai.

Aku memperhatikan kebelakang. Kyuhyun sangat semangat belajar matematika. Ia mencatat dengan giat, bertanya mengenai banyak soal, dan denga semangat menyerahkan tugasnya yang sudah ditulis rapi. Aku, Jiyoo dan Eunhyuk malah menyontek punyanya. Haah, dasar tak tahu diri.

Selanjutnya pelajaran Geografi. Guru yang mengajar kami merupakan guru kami semasa kelas 1 dulu. Aku menyenangi pelajaran ini, tidak dengan gurunya. Jin saem selalu menyuruh kami mencatat semua kata yang keluar dari mulutnya. Aku menoleh kebelakang, mengobrol dengan Eunhyuk yang tangannya sudah sakit saat menulis. Kusodorkan bungkus permen karet yang terbuka padanya.

“Mau?” tawarku.

Tanpa suara Eunhyuk mengambil permen karet itu. Ia membisikkan teriam kasih dan langsung mengunyahnya. Kyuhyun terlihat ragu untuk mengambilnya ketika tanganku terjulur.

“Ambil saja.” Bisikku.

Sama halnya dengan Eunhyuk, ia mengambil permen karet itu dan mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum singkat menjawabnya. Sedangkan Jiyoo sudah memamahbiak dari tadi.

Pelajaran itu selesai. Kami berempat tertawa lega. Jin saem tak sadar kalau kami makan permen dan rasanya mendebarkan saat harus menyembunyikan hal tersebut. “Kalian berdua belum kenalan ya?” tanya Jiyoo kepadaku dan Kyuhyun.

Kami mengangguk kompak. “Kenalkan ini Cho Kyuhyun yang merupakan temanku semasa SMP, Kyu, ini teman baru kita namanya Kwan Nara.” Jiyoo dengan luwes memperkenalkan kami.

Aku menyambut uluran tangan Kyuhyun dan bersalaman dengannya. Dari permen karetlah kami berkenalan. Awal yang lucu bukan?

Hari-hari berlalu. Aku menemukan banyak kesamaan dengan aku dan Jiyoo, juga dengan Kyuhyun. Kami sama-sama senang menonton film barat, sama-sama senang mendengarkan musik dan sama-sama senang bermain game. Rasa penasaranku sudah menghilang.

Hari ini kami belajar Bahasa Inggris. Sejak 2 hari yang lalu, Soojin mengungkapkan perasaanya pada Kyuhyun lewat Jiyoo. Aku kasihan melihat Kyuhyun. Soalnya Kyuhyun sepertinya tak menyukai Soojin? Bagaimana ia bisa menolak yeoja itu?

“Nara-ya, boleh tidak kalau aku meminta nomor handphonemu?” tanyanya.

Aku menyodorkan kertas bertuliskan deretan nomor yang kuhapal mati. Pelajaran kali ini terasa membosankan. Akhirnya, sang guru keluar. Bukan, bukan karena sudah pulang, namun karena  ada panggilan mendadak katanya oleh kepala sekolah. Kelas kami langsung ribut dan heboh. Aku langsung mengeluarkan handphoneku dan memasang earphone, mendengarkan musik bersama dengan Jiyoo yang juga ikut menumpang. Sebenarnya tidak diperbolehkan membawa handphone ke sekolahan. Namun, para siswa jarang mengindahkan peringatan ini.

Punggungku dicolek dari belakang ketika aku masih mendengar musik. Kyuhyun. “Ada apa?” tanyaku.

“Boleh aku minta tolong?”

“Tolong apa dulu?”

“Begini, kan Soojin baru saja menyatakan perasaannya kepadaku, tapi aku bingung, bagaimana aku bisa menolaknya. Aku nggak suka dia.”

“Yah, gampang, bilang saja kau tidak suka seperti tadi.”

“Nara, sepertinya itu terlalu menyakitan.”

“Jadi maumu?”

“Bagaimana kalau kita berpura-pura pacaran?”

“Hah? Berpura-pura pacaran?”

“Ya, dengan begitu aku tak perlu menolaknya dengan kata-kata.”

“Ide yang bagus.” Jiyoo dan Euhyuk ikut nimbrung. Aku mencerna permintaan Kyuhyun. “Lagipula, aku juga sudah lelah untuk mencomblangi mereka berdua.” Sambung Jiyoo lagi. Aku pun mengangguk setuju.

“Ya sudahlah, aku mau membantumu.”

“Terima kasih ya?” ia menggenggam tanganku mengungkapkan rasa terima kasihnya. Aku agak kaget, namun kunikmati saja ini sebagai bagian dari hubungan pura-pura kami.

Kami tak pernah menyatakan kalau kami berdua menjadi sepasang “kekasih”. Dalam tanda kutip, hanya pura-pura. Namun tingkah kami memang menunjukkan hubungan yang akrab, makin dekat dan mirip orang pacaran. Jadilah kami digosipkan pacaran.

Sekarang, aku dan Kyuhyun lebih dekat dari yang sudah-sudah. Kami sering bercanda dan mengobrol bukan hanya berempat seperti biasanya, namun berdua. Hanya aku dan Kyuhyun. Sering SMSan dan sering mengobrol berdua. Apalagi kalau Soojin mendatangi tempat duduk kami, maka kami akan bercanda berdua saja.

Seringnya dia menghubungiku, membuatku bingung. Kan kepura-puraan itu hanya untuk disekolah? Mengapa hubungan ini berlanjut sampai ke luar sekolah?

Kadang ia hanya menanyakan PR, kadang ia menanyakan kabar, minta ditemani mengobrol atau bercerita mengenai beberapa film baru, game yang dimainkannya, atau hanya berbicara ngalor-ngidul mengenai keadaan politik dalam negeri.

Soojin menanggapi dengan santai sepertinya. Aku tak begitu memperhatikan, namun ia jarang mendatangi kami lagi. Kita lihat saja selanjutnya.

***

Hari ini aku, Kyuhyun, Jiyoo, Eunhyuk dan Soojin akan datang ke rumah Kyuhyun untuk mengerjakan sebuah tugas kelompok.

Kami sudah berkumpul di depan rumah besar itu. Aku tak menyangka bahwa rumah Kyuhyun sangat besar. Jiyoo yang notabene merupakan teman Kyuhyun sejak SMP, menekan bell. Dering bell yang nyaring menggema bahkan sampai keluar rumah. Seorang yeoja yang cantik dan lebih pendek dariku keluar membukakan pintu. Wajahnya cantik dan berseri-seri. Dia tersenyum menyilakan kami masuk. Masih dengan wajah cerianya ia membawakan minum dan duduk mengajak kami mengobrol.

“Jiyoo, mana yang namanya Nara?” tanyanya frontal. Aku mengacungkan tangan. Kenapa tiba-tiba nanya begini?

“Oh jadi ini ya pacarnya Kyuhyun?” ia tertawa agak licik. Aku seram melihat wajahnya itu, meski kadang kuakui Kyuhyun sering tersenyum seperti itu.

“Hayo, pacarnya Kyuhyun yang lain marah tuh!” bisik Soojin sambil menyikutku, dengan tatapan meremahkan pada yeoja itu. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya. Kalau memang ia cemburu, maka buyarlah segala kepura-puraan kami selama ini. Kami harus menjelaskannya pada pacarnya ini. Dan akhirnya Soojin akan tahu. Aduh, bagaimana ini?

“Jiyoo, kenalkan aku pada teman-teman kalian dong!” pintanya pada Jiyoo.

“Ne, ini Kwan Nara, ini Soojin dan ini namja-gusi-maju. Kau tak perlu berkenalan dengannya kan?” Eunhyuk hanya menyengir mendengar perkenalan itu. Ia sibuk menyeruput air jeruk yang dibuatkan yeoja itu untuk kami.

“Aku Kwanghee. Senang bertemu dengan kalian teman-teman Kyuhyun.” Katanya tersenyum manis lagi. Kesan jahat dan licik hilang dari wajahnya.

“Mana Kyuhyunnya? Kok nggak dipanggilin sih?” tanya Soojin dengan nada memerintah. Sepertinya ia mengira bahwa yeoja ini adalah salah satu dari pelayan di rumah besar ini. Aku sih tidak mengira begitu. Yang aku takut, ia adalah pacar Kyuhyun yang sedang berkunjung kemari. Ia memang meminta kami kerja kelompok di sini, katanya ingin lebih mengenal keluarga Kyuhyun, supaya tidak canggung lagi. Alasan aneh. Kan dia belum tentu yakin dengan perasaan Kyuhyun padanya?

Dengan agak curiga, ia melirik Soojin. Wjahnya berubah lagi menjadi kesal dan berdiri, dengan suara yang powerful, ia berteriak, “Cho Kyuhyun! Ada yang mencarimu!”

Terdengar bisikan sumbang dari mulut Soojin, “Kok pembantu manggil tuannya begitu?”

Yeoja itu menoleh tajam kearah Soojin, dan menatap horror, sementara Soojin balas memelototi yeoja itu.

“Sebentaar Cho Kwanghee! Kau kira membersihkan hasil kerjamu ini tidak sulit? Bantu akuuuu!” jawab Kyuhyun dari ruangan di tingkat 2.

“Salahmu sendiri, kalah suit bodoh! Ayo kita naik menuju ke lantai 2?” ajaknya setalah menghina Kyuhyun.

“Jiyoo, ini siapanya Kyuhyun? Kamu kenal nggak?” bisikku penuh rasa ingin tahu.

“Kembarannya.” Jawab Jiyoo singkat sementara kami sedang menaiki tangga tersebut.

Aku tercekat kaget. Soojin, kau dalam bahaya! “Kok nggak mirip?”

“Memang mereka kembar cewek-cowok nggak identik. Makanya nggak mirip. Satu-satunya yang mirip adalah sifat keras kepalanya.” Jiyoo menatapku datar. Lalu balik melihat kearah Soojin yang dengan gagah berjalan di depan kami. Aku mengendikkan bahu, tak mengerti. Jiyoo tersenyum dan membentuk gerakan seperti orang memenggal kepala dan menunjuk ke arah Soojin.

Keras kepala? Menurutku Kyuhyun adalah orang yang lembut kok. Care dan perhatian pada wanita, ia juga sering menuruti nasihatku saat ia bertanya mengenai bagaimana caranya mengatasi si Soojin yang aneh ini.

Kami tiba di sebuah ruangan yang besar, penuh dengan berbagai buku yang tersusun rapi dalam rak. Tubuh Kyuhyun banjir peluh, sedang menyapu potongan-potongan kertas yang bertaburan. Jelas aja susah, kan lantainya di lapisi karpet, masak disapu?

Aku mengambil alih sapunya. “Kok disapu? Ginian mah pake penyedot debu kali? Kamu punya gak?” tanyaku.

Kyuhyun terpana kaget. Kwanghee nyengir, dan berkata, “Ckckck, pasangan baruuu!” dan meninggalkan kami.

Soojin menatapku dengan tajam mendengar ocehan Kwanghee itu. Sepertinya ia sudah bertanya kepada Jiyoo mengenai Kwanghee, dan mengira kalau selama ini aku dan Kyuhyun hanya melakukan pendekatan. Sekarang dia sadar kalau aku sudah berstatus sebagai kekasih. Dia tak tahu kalau status itu palsu. Ya, kekasih palsu.

Kwanghee menarik tangan Kyuhyun dan tampak berbicara dengan nada merendahkan pada Kyuhyun mengenai kami. Sepertinya tentang Soojin sih, bukan kami. Mengenai perlakuan Soojin yang memang agak tidak mengenakkan.

Kami mengerjakan pekerjaan kelompok itu denga alot. Karena ada atmosfir yang tidak enak antara Kyuhyun dan Soojin. Memang dasar tidak tahu malu, ia malah mendekati Kyuhyun. Dan mengadu mengenai pelototan Kwanghee.

“Jangan pernah menghina adik kembarku, atau kau kuusir dari rumah ini.” Katanya dingin setelah mendengar aduan Soojin yang genit itu. Aku agak kasihan dengannya. Tapi, mau bagaiman lagi. Lancang sih.

Semejak itu, Soojin semakin gencar mendekati Kyuhyun untuk meminta maaf dan itu semakin membuatnya gerah. Kadar kebencian Kyuhyun juga bertambah kadang aku iseng mengerjainya.

Seperti hari ini. Aku baru tahu kalau tanggal lahir Kyuhyun dan Soojin hanya beda 2 hari. Alhasil aku mencandainya habis-habisan.

“Jangan sebut namanya lagi!” ia membekapku dari belakang. Tubuh kami bertempelan. Entah mengapa, rasa kagum yang sempat aku rasakan, muncul lagi dan kadarnya makin bertambah. Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Sepasang mata memandang kami dengan sendu. Aku tahu itu Soojin. Soojin-ya, maafkan aku…

Kami masih saja terus berhubungan lewat SMS. Ini berlangsung selama 3 bulan. Kadang, untuk menyempurnakan hubungan kami, aku agak marah dengannya, atau gantian dia yang marah. Masalahnya hanya karena kami saling tidak membalas SMS. Setiap hari aku berharap, ada sebuah kata cinta terucap dari mulutnya.

***

Hari ini, aku marah besar kepadanya. Entah mengapa aku merasa diabaikan. Aku menanyakan mengenai PR dan ia tak membalasnya. Aku tak menggubrisnya lagi, walau ia meminta maaf padaku. Well, biar dia tahu rasanya diabaikan.

Namun, semakin hari aku semakin merindukannya. Aku dan dia tak lagi berhubungan. Yang aku dengar dari teman-teman, ia pacaran lagi dengan seorang teman sekelas kami yang namanya Jung Kyuri. Beberapa anak bertanya mengenai kelanjutan hubunganku dengan dia. Aku hanya menjawab tidak ada. Memang sejak awal tak ada hubungan apa-apa kan?

Tapi, aku terluka. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku menyesal telah ikut dalam permainannya. Harusnya aku juga tak pernah jatuh cinta kepadanya. Perhatiannya, kelembutannyalah yang membuatku jatuh cinta, aku cukup bodoh untuk terpesona padanya. Aku rasa aku patah hati. Cinta yang tadinya bohong-bohongn, berubah menjadi benaran.

Soojin? Semenjak melihat pemandangan itu, ia tak pernah lagi mendekati Kyuhyun. Ia jadi pendiam dan kemudian memilih untuk pindah ke sekolah lain. Mungkin ini balasan karena aku dualu mempermainkan perasaannya?

***

“Nara-ya, kita akan pindah ke Mokpo minggu depan, umma seudah mengatur kepindahan sekolahku.” Kabar itu terasa menyesakkan dada. Aku sama sekali belum menyampaikan salam perpisahan kepada teman-teman. Terutama seorang Cho Kyuhyun.

“Umma, kenapa harus minggu depan? Aku bahkan belum berpamitan dengan teman-teman.”

“Halmoni makin memburuk keadaannya sayangh, kita harus segera pergi.”

Dan begitulah. Dengan tangisan aku memohon pada umma untuk meninggalkanku disini. Jujur aku mencintai Kyuhyun dan ingin membahagiakannya. Namun melihat hubungannya dengan Kyuri, aku menyerah. Mungkin memang Kyurilah orang yang dicintainya. Aku hanya sempat meng-SMS Jiyoo untuk pamit dan tak lagi mendengar mengenai kabar seorang Cho Kyuhyun.

Di sekolah baru ini, aku mendapat banyak teman. Ada Lee Haejin, Park Ririn dan juga Park Jungsoo. Yang terakhir ini merupakan kakak kelasku, selain juga kakak dari Ririn. Parasnya tampan, lembut dan baik hati. Kadang kami bertiga sering ditraktirnya eskrim. Aku menyukai caranya berurusan dengan banyak wanita yang menyukainya. Ia tegas tak seperti Kyuhyun yang lebih memilih mempermainkan perasaan mereka, Jungsso, atau yang akrab disapa Leeteuk ini dengan ramah mengungkapkan perasaan tidak sukanya. Selain itu, ia adalah orang yang supel, banyak teman dan pandai pula.

Aku mengagumi Leetuk oppa, begitu ia memintaku memanggilnya. Namun rasa kagum itu berbeda dengan rasa cinta yang tumbuh kepada Kyuhyun yang berasal dari kekaguman juga. Sulit untuk melupakan seorang Cho Kyuhyun bagiku. Kadang aku malah melanggar janjiku untuk tidak lagi mencari tahu mengenainya. Aku bertanya pada Jiyoo dan Eunhyuk, (yang sekarang bena-benar sudah jadian) mengenai dia. Sekarnag ia menjadi seorang playboy. Makin banyak yeoja yang di pacarinya. Aduh aku tak kan mampu menyebut semuanya. Akan makin menyakitkan hati kalau aku mengingatnya. Kadang aku menangis tanpa sebab, mengingata hubungan kami kemarin. Namun, ia juga tak mencoba menghubungiku.

Sejujurnya, aku masih sangat menyayangi Kyuhyun. Jadi, apapun yang dilakukannya disana, aku hanya dapat menyetujuinya dari sini.

***

Hari duka itu pun tiba ketika halmoniku harus meninggalkan dunia untuk selamanya. Aku paling dekat dengan halmoni. Aku sering bercerita mengenai Kyuhyun, dan beliau biasanya tersenyum dan berkata, ”Cintailah dia yang mencintaimu sepenuh hati. Dia berada didekatmu dan cobalah melupakan seorang yang kau sayangi di Seoul itu sana.”

Aku bingung mengingat ucapannya, ditambah lagi suasana hatiku sedang kacau karena ornag yang aku sayangi sudah tiada. Aku hanya duduk di dekat jendela kamar dengan sedih, memeluk kedua lututku.

“Aku berjanji pada halmoni untuk menjagamu selamanya.” Suara itu mengagetkanku. Ya, itu adalah Leeteuk oppa, yang sedang berdiri di depan pitu kamarku. Selain aku, Leeteuk oppa juga dekat dengan halmoni.

“Maka dari itu, aku ingin menjadi orang nomor 1 di hatimu, menjadi bahu tempat aku menyandarkan seluruh bebanmu hari ini.” Sambungnya lagi. Ia merengkuh tubuhku dan mendekapku erat.

Tangisku yang tak bersuara makin menjadi ketika mengingat kata-kata terakhir halmoni. Inikah yang dimaksud halmoni? Leeteuk oppa yang menyukaiku?

“Kwan Nara, maukah kamu menukar hatimu dengan hatiku?” sambungnya

“Mungkin kau tak perlu menjawabnya di hari ini. Hari lain kau bisa menjawabnya. Namun untuk hari ini, biarkan aku tanpa diminta menjadi penjaga hatimu.”

Aku menumpahkan segala emosiku kepada Leeteuk oppa. Hari itu, kami duduk berdua, ia mendengarkan aku mencurahkan segala isi hatiku yang terdalam. Segalanya mengenai Kyuhyun, juga halmoni yang meresahkanku.

Selesai bercerita, aku merasa lega. Aku belum dapat menjawab ajakan Leeteuk oppa untuk menjadi seorang yeojachingunya. Aku masih mencintai Kyuhyun sepenuh hati. Belum ada terlintas dalam pikiranku untuk mencintai orang lain lagi. Namun, entahlah kalau Leeteuk oppa bisa membuatku jatuh cinta kepadanya.

***

Raporku hilang, dan sebagai gantinya kau harus kembali ke Namsoon untuk mrminta rapot baru dan rekap data nilaiku disana. Dengan suasana hati tak tentu, aku harus kembali ke sana lagi. Sekolah itu merupakan kenangan yang tak terlupakan, dengan Kyuhyun disana. Aku merasa senang, sedih, sekaligus takut. Semua bercampur aduk menjadi satu. Senag bertemu dengan teman-teman lagi, sedih saat menyadari dia sudah memiliki seorang yang disayanginya, takut rasa itu akan meledak lagi dalam diriku.

Jadi dengan berbagai pertimbangan, aku mengajak Leeteuk oppa ikut kembali kesana. Sebagai, yah, pacarku. Pacar palsu maksudnya. Ia tak keberatan. Aku malu sebenarnya memanfaatkan dirinya, namun aku tak ingin rasa cinta kepada Kyuhyun itu menjadi-jadi, membautku sedih lagi. Dengan ada Leeteuk oppa sebagai backingku, aku akan merasa lebih aman.

Dia. Dia berdiri tepat didepan kantor administrasi ketika aku datang. Perasaanku aku ingin mendatanginya, memeluknya erat-erat dan mengatakan cinta. Namun itu tak kulakukan, mengingat dia bukanlah milikku. Sebenarnya ada sedikit penyesalan, mengapa aku tak mengungkapkan isi hatiku padanya saat itu. Langsung. Aku terlambat menyadari cinta itu.

Dengan ramah, kusapa dia. “Annyeong Kyuhyun-sshi!”

Wajahnya terkaget memandangku. Ia menatapku lekat-lekat. “Kau, Kwan Nara bukan?” tanyanya.

“Ne, permisi aku mau masuk kedalam.” Ucapku. Namun tanganku digenggam erat olehnya. Celaka, Leeteuk oppa sedang mencari parkiran jadi ia tak berada disampingku sekarang. Air mataku ingin meleleh rasanya.

“Bisa kita bicara sebentar?” ujarnya.

“Tidak bisa, aku harus menyelesaikan administrasi. Aku mau mengambil salinan raporku.”

Aku berkelit. Aku tak ingin mengingat rasa yang pernah ada dalam hatiku kepadanya. Disaat aku menyukainya, dia menghindariku. Sakit bukan?

Untungnya, Leeteuk oppa datang. “Apa yang kau perbuat dengan pacarku?” tanyanya pada Kyuhyun.

“Hyung, aku mohon, aku pinjam Nara sebentar saja. Aku ada perlu dengannya.” Pinta Kyuhyun

Leeteuk oppa memandangku, memintaku meutuskan. Apakah aku mampu berbicara dengan Kyuhyun atau tidak?

“Nara, please ada sesuatu yang belum selesai antara kita.”

Ne, nati setalah aku mengambil salinan raporku.”

“Nanti aku jemput di depan minimarket yang disebelah kiri sekolah ya?” kata Leeteuk oppa.

Aku mengangguk lalu masuk ke dalam kantor dan mengurus segala berkasku. Selesai itu, Kyuhyun menungguku dengan tas tersandang rapi.

“Kau mau kemana? Bukannya masih jam sekolah?”

“Aku sudah izin. Ayo kita pergi.” Ajaknya sembai menggandeng tanganku.

Kami tiba di sebuah kafe. Dia memesankanku sebuah cake coklat dan coklat panas. Dengan tenang ia menyeruput cappucinonya. Kami sama-sama diam hingga akhirnya ia membuka suara.

“Kenapa kamu nggak pamitan dulu?”

“Karena mengucapkan selamat tinggal adalah kata-kata yang akan menyakitkan kedua belah pihak. Aku nggak mau menyakiti perasaan kalian.”

Bohong. Aku tak ingin menyaiti perasaanku sendiri sebenarnya.

“Sejujurnya aku mencintaimu Kwan Nara. Maukah kau jadi seorang yeojachinguku?”

Aku tersentak kaget. Ingin aku menjawab ya. Namun itu jelas akan melukai yeojachingunya.

“Nggak Kyu, kan aku udah punya namjachingu. Lagian dari dulu status kita nggak akan berubah. Pacar palsu. Nggak bakal jadi pacar asli.”

“Yah, kita kan bias backstreet Nara.”

“Memang sejak kapan kumu suka sama aku?”

“Sejak dulu. Sejak kita sekelas dulu. Salahku nggak bilang kalo aku sayang kamu sejak dulu.”

“Kamu tahu kenapa aku minta kamu jadi pacar palsuku? Karena aku suka kamu dan pengen jadi pacarmu. Cuma kamu terlalu cuek. Aku jadi nggak berani, takut kalau kamu nggak suka sama aku.” Ia melanjutkan.

Percuma. Semua sudah berlalu. Ia masih belum memutuskan hubungan dengan yeojachingunya yang keberapa entah.

“Semua udah terlambat Kyu. Kamu udah punya yeojachingu. Gitu juga aku.”

“Udah sore aku mau pulang. Perjalanan sini Mokpo kan enggak dekat.” Lanjutku lagi

Aku melangkahkan kaki menuju ke luar, kembali ke tempatku dan Leeteuk oppa janjian. Aku meninggalkannya sendiri.

“Setidaknya ungkapkan dulu perasaanmu waktu itu padaku.”

“Ya, dulu aku saying kamu Kyu, ketika kamu mulai mengabaikan aku dan beralih ke yeoja lain. Tapi sudah terlambatkan?”

Aku meninggalkannya dan menuju ke tempat kami, aku dan Leeteuk oppa janjian.

“Kita pulang atau jalan-jalan dulu?” Tanya Leeteuk oppa.

“Terserah oppa.”

“Ayo kita jalan-jalan ke Lotte World dulu, mengembalikan moodmu yang berkurang drastis.”

Selama seharian itu, kami bermain. Cukup menggembirakan buatku. Meski ternyata otakku tak juga menghilangkan sikap kepengecutan Kyuhyun.

Aku membeli sebuah kartu pos, menulisnya untuk Kyuhyun, orang yang pernah mengisi hatiku. Lalu kumasaukkan kedalam kantung jaketku. Mungkin nanti aku akan mengeposnya, kapan-kapan.

Malam mulai menjelang. Sebelum tempat itu tutup, Leeteuk oppa menarikku ke tempat informasi. Dengan semangat ia merebut mic sang informan dan meneriakkan kalimat.

“Aku menyukai yeoja yang berada di sampingku sekarang. Namanya Kwan Nara. Bagaimankah tanggapannya? Apakah dia mau menjadi yeojachinguku?” Leeteuk oppa meyodorkan mic itu kepadaku untuk menjawab pertanyaannya. Sepertinya dialah ornag yang tepa untukku.

“Ne, aku akan mencoba belajar mencintainya.” Aku teringat ucapan halmoniku. Cintai dia yang mencintaimu. Leeteuk oppalah yang berani menyatakan cintanya padaku.

“Ayo pulang.” Katanya sembari meninggalkan pejaga stand informasi itu dengan melongo.

Hari ini hari yang sangat indah, meski kami harus pulang malam hari. Aku rasa aku mencintai Leeteuk oppa juga.

“Oppa, kenapa mobil di depan jalannya oleng begitu?”

“Nggak tahu. Aduh mana mau hujan lagiii, bagaiman ini? Kita balap aja ya?”

“Terserah.”

Motor itu melaju dengan kencang, namun naas, sebuah truk juga melaju menghantam mereka dari arah yang berlawanan.

Aku merasakan benturan, lalu semua menjadi putih dan panas. Dan aku tak sadarkan diri.

***

Kyuhyun POV

Seseorang mengetuk pintu rumahku. Dengan malas aku meneriaki Kwanghee yang memang sedang berada di rumah. Disahutinya dengan teriakan juga.

Ternyata tamu itu untukku.

“Apa benar anda Saudara Kyuhyun?”Tanya tamu itu yang berpakaian polisi.

“Ya, benar. Ada apa?”

“Anda mengenal Saudari Kwan Nara?”

“Ya.”

“Saudari Kwan Nara meninggalkan sebuah surat untuk anda.”

Aku menerim sebuah kartu pos yang disodorkan polisi itu. Sebuah kartu bertuliskan ucapan selamat tinggal?

“Kyu, kau minta ucapan selamat tinggal kan? Ini aku buatkan maaf ya, kalau memaksa. Hehehe… maaf aku harus pergi kembali ke Mokpo.

Selamat Tinggal.

Dengan Cinta

Kwan Nara.

Dadaku sesak saat membacanya. Semalam aku bermimpi mengenainya. Semua kenangan kami berdua seakan terlintas di otakku.

“Saudari Kwan Nara sudah meninggal semalam, dan surat itu tertuju pada anda. Terimakasih atsa kerja sama anda.”

Setelah mendengarnya semua gelap bagiku. Dia sudah meninggal?

***

Kwan Nara, aku menyesal tak mengatakan cinta padamu lebih dahulu. Semua kini terlambat. Aku tak akan bisa membalikkan waktu dan mengungkapkan cinta padamu. Namun, agar kau tahu aku selalu mencintaimu. Tulus.

Seorang namja meninggalkan segunduk tanah di belakangnya. Yes, a regret will always come late…

***

-END-


17 thoughts on “-Contest Fiction- My Fake Boyfriend

  1. Pingback: -Announcement- Jadwal Publish Fiction Contest! « ♛ Chocolate's Crown ♛

  2. yah sad ending..😥
    kirain pas nara balik ke seoul dy bakal jadian am kyu..
    ternyata gag..

    at least, cerita nya daebak..🙂

  3. sad ending mamen T.T
    tapi nice FF thor~

    kukira nanti bakal jadian -,- ternyata tidak xDD

  4. kenapa harus meninggal naranya >.< padahal mereka berdua udah lucu banget (?)

    ah.. tapi daebak, ff-nya kerasa kaya asli

  5. nara meninggal??
    btw bkan kyunara yang biasanya saling lempar-lempar barang ya?hehehehee. .
    tpi ffnya bagus kok. .

  6. nggak >.< nggak mungkin kwan nara meninggal, dia akan terus bersama kyuhyun…
    kirain dari judulnya bakal comedy gak taunya angst romance gini T.T
    banyak typo nih author hehe

  7. pda protes knapa nara meninggal? oh itu tanya kan pada authornya!
    *saya cuman numpang lewat*
    #kicked
    annyeong reader! saia adalah author koplak yang mencoba membuat ff. buanyak banget yang typo ya? itu kelemahan saya, jadi tolong dimaafkan. #bow 360 derajat

    pertanyaannya:
    1. kok leeteuk gak diceritain mati apa enggak? karena saya gak smpat ngetik part leeteuk. saya pikir, dgn adanya kecelakaan itu reader tahu kalo nasibnya sama kayak nara… tp kalo g2 saya kasi tahu dah di komen ini!
    2. kenapa nara mati? karena authornya maunya g2! XDXDXD
    *yang ini gak bole di protes*
    3. kenapa kyunara gak jadian? karena saya pengennya mereka gak jadian! masa kyunara mulu sih! tadinya saya malah pengen masukin nickhun disini…
    4. kenapa kyu gak ngungkapin perasaannya ke nara? karena tema ffnya begitu! udh dijelasin kok di ffnyaa…

    ywdh segitu dulu… yang mau nanya mention saya aja yaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s