-Contest Fiction- Because Of Mokpo

Original Fiction by : Nurul Ayu Oktaviani (@Nony921021)

Don’t Forget to leave a comment~

Ur words are precious for us as the author of this story🙂

***

Ting Tong.. Ting Tong..

Hah, untung tepat waktu.

Aku baru saja memasuki gerbong kereta api dengan melompat cepat setelah sukses berlari sprint dari tempat penjualan tiket di depan.

Aku akan menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam menuju Mokpo, entah apa yang akan aku lakukan di sana. Aku jenuh dengan rutinitas harianku sebagai editor di sebuah penerbitan sehingga aku memutuskan untuk mengambil cuti selama tiga hari.

Apa aku merasa cukup? Jelas tidak. Tapi, apa daya karena kantor tidak mengijinkan pekerjanya mengambil cuti lebih dari tiga hari kecuali cuti hamil dan melahirkan.

Aku melewati koridor yang masih dilalui beberapa orang, menoleh ke kanan dan kiri mencari tempat duduk yang dirasa nyaman.

Kulihat seorang gadis duduk sendirian di seat 3-A. entah mengapa aku tertarik untuk duduk bersamanya.

“Annyeong, bolehkah aku duduk di sini?” pintaku sopan pada gadis itu.

Gadis itu mendongakkan kepalanya. Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah terperangah.

Aku tahu jika aku tampan tapi tak perlu seperti itu juga melihatku.

“Hei,” Aku mengibaskan sebelah tanganku di depan wajahnya, “boleh aku duduk di sini?”

Ia sedikit tersentak lalu mengangguk kaku. Aku pun memposisikan diri untuk duduk di depannya lalu mengambil I-Pod dan earphone-ku setelah meletakkan tas besar yang tadi kusangga di dekat kaki.

Aku memasang earphone setelah memilih beberapa lagu favoritku. Beberapa detik kemudian aku sudah memejamkan mata sembari menyilangkan tangan di dada. Ini adalah waktu istirahat yang sangat berarti.

SREK.. SREK.. SREK.

Aku membuka mataku yang belum sampai lima menit tertutup. Kulihat yeoja di depanku sedang kebingungan. Ia menggeser-geser kopernya.

Aku mengernyitkan dahi dan menutup mata lagi, tak peduli.

SREK..SREK.. SREK..

“Aish, baboya!” gerutu gadis itu. Aku membuka mata dengan kesal.

“Ada apa?” tanyaku sembari melepas earphone.

Gadis itu menengadah, matanya mengerjap, “Kacamataku.. kacamataku hilang.”

Aku mengangkat salah satu sudut bibirku, “Kau yakin mencari kacamata?” Ia mengangguk cepat, “Itu,” Aku menunjuk puncak kepalanya.

“Ah?” Ia meraba kepalanya, “Ah ne ne.” ucapnya malu karena ternyata kacamatanya singgah di kepalanya.

Aku mendesah pelan dan memilih playlist lagu lagi, kulirik gadis itu sudah memakai kacamatanya dan mulai mengeluarkan buku tebal berwarna hijau tosca dengan semburat kuning dari dalam tas selempang yang ia letakkan di sampingnya.

“Jangan membaca buku jika dalam perjalanan.” kataku spontan.

Ia menatapku, “Waeyo?”

Mataku berputar, “Kau ini, sudah tahu memakai kacamata. Masih mau memperburuk kondisi matamu dengan membaca di tengah perjalanan seperti ini?” terangku balik bertanya padanya.

Ia langsung menutup bukunya kasar dan melepas kacamatanya, menyimpan keduanya ke dalam tas lalu ia menopang wajahnya yang kini sudah menghadap jendela dengan murung.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Suaranya terdengar sedikit berlebihan, menyedihkan. Aku diam, berpikir.

“Mau mendengarkan lagu bersamaku?” tawarku sembari menggoyang-goyangkan sebelah earphone-ku.

Wajahnya terlihat shock ketika aku mengatakannya, “Sebaiknya kita berkenalan terlebih dahulu sebelum kau berpikir yang macam-macam tentangku,” ucapku seolah bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan raut wajahnya.

Aku mengulurkan tanganku, “Naneun Cho Kyuhyun imnida. Kau?”

Antara takut dan malu ia membalas jabat tanganku, “Kwan Nara imnida.”

Aku mengangguk pasti, “Baik, aku seorang editor di sebuah penerbitan ternama di Seoul. Dan jika boleh kuterka, kau pasti masih anak sekolahan. Maka, kau harus memanggilku oppa.” kataku dengan lancang mengeluarkan ilmu sok tahu-ku.

Ia membelalakan matanya lalu memandangku sinis, “Semuda itukah wajahku? Aku ini seorang mahasiswa semester 2. Dengar itu.”

“Tapi, tetap saja kau lebih muda dariku. Jadi, panggil aku oppa, ok?” jawabku tak mau kalah.

Ia mengangkat sebelah alisnya, “Aku tidak janji akan memanggilmu oppa.”

“Ya sudah,” aku mengangkat bahu sekilas.

Ia kembali menyangga wajahnya, “Jadi, kau mau mendengarkan lagu bersamaku atau tidak?” tawarku sekali lagi.

Gadis itu diam, tapi beberapa detik kemudian mulai beranjak pelan, duduk di sampingku.

Aku tersenyum ketika melihatnya menunduk malu. Tanpa banyak bicara, aku mengulurkan sebelah earphone-ku padanya.

“Haaah..” desahnya ketika baru beberapa saat mengenakan earphone-ku. Aku yang baru memasang alat itu mengernyit bingung, “Wae?”

“Yesung – It Has To Be You. Mellow sekali seleramu.”

Aku menyipitkan mata dengan menahan kesal, “Kalau tak mau dengar, ya sudah. Kembali ke tempatmu.”

Tapi ia tidak bergeming. Ia malah membenarkan posisi duduknya. Aku kembali menyilangkan tanganku di depan dada dan menutup mata sembari menyandarkan kepalaku ke bantalan kursi.

Baru satu lagu selesai kudengarkan, aku merasa ada beban yang menghampiri tubuhku. Aku yakin aku belum tertidur dan bermimpi. Lalu kubuka mataku pelan dan kulihat Nara sudah tertidur di bahu kananku.

Ah anak ini, tidak sampai sepuluh menit saja ia sudah tertidur. Pelor sekali.

Aku kembali pada posisiku dan segera menyambut kematian kecilku yang diiringi deru kereta api yang semakin melaju kencang.

“Hooamm..” Aku mengucek mataku sebentar dan melihat jam kulit yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, “Baru pukul 15.10. Perjalanan masih panjang.”

Kulirik ke sebelah kananku, yeoja itu masih tertidur lelap.

Semoga gadis ini tidak memberi cinderamata berbau khas pada bajuku seperti yang kulakukan pada semua bantal yang kupakai, ucapku dalam hati penuh harap.

Mendadak perutku terasa berbunyi nyaring, lapar sekali dan aku baru ingat aku belum makan nasi sedari tadi pagi.

Tanganku berusaha menggapai tas besar yang ada di dekat kakiku, namun tak sampai. Yang kudapat hanya udara kosong.

Aish, gadis ini menyusahkan sekali. Aku jadi tidak bisa mengambil roti untuk mengganjal lambungku yang lemah ini. kalau aku bangunkan bagaimana? Aish, tak enak membangunkannya, tidurnya lelap sekali. Aku mana tega berlaku seperti itu.

Aku mengacak rambut frustasi karena tak ada yang bisa aku lakukan selain diam menunggu Nara terbangun dari tidurnya yang sepertinya kelewat nyenyak karena kereta sudah akan sampai lima menit lagi, ia tak juga bangun.

Sedikit merasa tidak enak karena akan membangunkannya, aku hanya mencolek punggung tangannya, “Nara, sebentar lagi sampai.” bisikku.

Ia tetap pada posisinya dan aku semakin gusar, “Nara, ayo bangun. Kajja.”

Aish, anak ini minta kucincang-cincang sepertinya.

Aku menarik nafas dalam-dalam, “KWAN NARA, KEBAKARAN!! KEBAKARAN!!” teriakku asal tanpa memerdulikan pandangan orang-orang sekitar yang melihatku aneh.

Taktikku ternyata sangat jitu. Nara langsung terlonjak duduk tegap sembari menengok kanan-kiri dengan cepat, “Kebakaran? Dimana?”

“Tidak ada kebakaran.” ucapku pelan sembari mengambil tas besarku dan memangkunya, bersiap untuk turun.

Ia memandangku bingung, “Apa tidurmu nyenyak, Kwan Nara?” tanyaku dengan berusaha membulatkan mataku yang sipit ini dengan sinis, “Susah sekali membangunkan tidurmu yang seperti orang mati tadi.”

“Aww!!” erangku ketika tulang keringku dihantam sneakers-nya tanpa permisi.

Ia menyipit, “Mengataiku sekali lagi, kau cari mati denganku, Cho Kyuhyun!”

Aku berdecak kesal, “Kita sebentar lagi sampai,”

Ting Tong.. Ting Tong..

“Ah, tidak. Kita sudah sampai.” ralatku ketika mendengar suara khas itu lagi.

“MWO??” Ia langsung membereskan tasnya dengan repot.

“Gomawo untuk lagunya.” ucapnya seraya membungkuk cepat berkali-kali dan langsung bangkit untuk beranjak keluar ketika kereta sudah benar-benar berhenti. Tak berapa lama aku menyusulnya.

Aku turun dari kereta dengan hati riang. Aroma air asin sudah menggoda hasratku untuk segera menghampirinya untuk bermain. Tapi, tidak sekarang. Sebentar lagi malam, apa yang bisa aku lakukan di pantai jika sudah malam selain memandanginya?

Aku melengangkan kaki keluar dari stasiun, hendak mencari tempat yang tepat untuk bermalam. Namun, niat itu kuurungkan setelah melihat yeoja menyusahkan itu sedang mengeluarkan isi  tasnya dengan terburu-buru. Tak lama, ia memasukkan kembali isi tasnya dan mengeluarkan isi kopernya.

Nara terdiam lama di posisinya sambil menunduk dan aku pun menghampirinya.

“Ada yang bisa kubantu?”

Nara mengangkat wajahnya yang kulihat basah dengan air mata, “Ponselku hilang.”

Aku membelalakkan mataku, “Jinjayo? Mengapa bisa terjadi? Tadi tak ada yang menghampiri tempat duduk kita selama di kereta. Aku yakin itu.” Aku berlutut, melihat-lihat isi kopernya yang penuh dengan dress.

Nara tidak meresponku, “Jangan pikir bahwa aku yang mengambilnya.”

Seketika Nara menggeleng, “Ani.. Tadi aku sempat ke toilet sebentar dan seluruh tasku kuletakkan di depan pintu karena toilet sedang kosong jadi kupikir tidak akan ada yang hilang. Tapi,” ceritanya terpotong. Ia malah menangis lagi.

“Dasar ceroboh, cepat masukkan kembali barang-barangmu itu.” Nara membereskan lagi barang-barangnya dan segera menyusut air matanya.

Tanpa pikir panjang, aku menyeret kopernya setelah ia berdiri.

“Aish, pencuri! Mau kau bawa kemana koperku!?” teriak Nara sembari mengejarku.

“Duduk saja di sini. Aku pergi.” kataku ketika sampai di bangku panjang yang kosong di samping stasiun.

Sebelum pergi, aku melihat Nara yang mengerucutkan bibirnya. Ia duduk dengan wajahnya yang kalut dan bingung.

Aku berjalan pelan melewati orang yang berlalu-lalang, menghampiri seseorang. Berkali-kali aku menarik nafas, mempersiapkan diri.

“Minum ini,” kataku pada gadis yang masih duduk di bangku panjang tadi sendirian sembari memegang kopernya, “Kau pasti haus dan kedinginan.”

Nara mengambil gelas kertas berisi cappucinno yang kutawarkan dan menyesapnya pelan.

Aku duduk di sebelahnya sembari melepas beban dari pundakku, “Jadi, apa yang kau lakukan sekarang?”

Nara hanya menggeleng.

“Aish, kau ini. Begini, apa tujuanmu ke Mokpo?” tanyaku menghadapnya.

“Sepupuku akan menikah lusa di sini Aku sudah berjanji akan menghadirinya. Orang tuaku sudah pergi terlebih dahulu ke sini untuk membantu persiapannya. Aku menyusul karena ada jadwal kuliah, begitupun kakakku yang memiliki pekerjaan di kantornya.” ceritanya panjang lebar dengan menundukkan kepala.

“Dompetmu tidak hilang kan?” Ia mengangguk, “Kalau begitu, mengapa kau harus berdiam diri di sini? Cepat pergi ke rumah sepupumu itu.”

“Tadi kau yang menyuruhku duduk di sini,” jawabnya polos.

Aku mengacak-acak rambutku, “Aish, sudahlah. Sekarang, pergi ke rumah sepupumu sebelum malam semakin larut.”

“Tidak bisa, Aku baru pertama kali ke Mokpo. Lagipula aku tidak tahu rumahnya dan alamatnya aku catat di ponselku.”

“Mwo?!” Aku jadi ikut-ikutan bingung dan berpikir keras.

“Telepon orang tuamu. Minta mereka untuk menjemputmu di sini.”

Ia menggeleng untuk kesekian kalinya, “Tak ada nomor ponsel yang aku ingat kecuali nomor ponsel oppaku.”

“Ya sudah, “ Aku mengeluarkan ponselku dari saku mantel, “Telepon oppamu sekarang.”

Nara mengambil ponselku dan beranjak sedikit dari bangku, menelepon oppanya.

“Gomawo,” Nara membungkuk sembari mengembalikan ponsel itu, “Oppa akan mengirimkan alamat sepupuku ke ponselmu. Jadi, kumohon tunggulah sebentar di sini.”

Aku mendesah namun tak lama ponselku bergetar, sebuah pesan masuk.

“Ah ini sepertinya dari oppamu. Tertera sebuah alamat di sana.” Aku menunjukkan ponselku padanya.

Ia membaca pesan itu dan menyerahkan ponsel itu ke tanganku lagi.

“Tidak kau catat alamatnya? Kau sudah hapal?”

Lagi-lagi ia menggeleng, “Percuma. Aku tidak tahu-menahu mengenai jalanan di Mokpo, Kan sudah kubilang jika aku baru sekali ini ke sini.” Ia melipat-lipat bibirnya, “Mungkin kau bersedia mengantarku ke rumah sepupuku itu?” pintanya malu-malu yang membuatku tercengang hebat.

“Aku juga tidak tahu jalanan di Mokpo. Ini kali keduakui ke sini jadi belum hapal jalan.” Aku berpikir lagi, “Suruh oppamu menjemputmu atau minta oppamu menelepon keluargamu yang di sini untuk segera menjemputmu.”

“Tadi oppa bilang, ia baru bisa ke sini besok siang setelah rapatnya selesai dan itu berarti ia akan sampai di sini sore menjelang malam dan keluargaku yang di sini tidak akan bisa dihubungi jika sudah menyangkut acara pernikahan. Semua orang pasti sibuk.”

“Jadi, maksudmu?”

“Oppa bilang, jika aku tidak menemukan alamatnya dimana, aku disuruh menginap di hotel saja.”

Aku mengangguk paham, “Ya sudah, menginaplah di hotel. Eh tapi, apa oppamu tidak khawatir? Padahal kau kan sendirian di tempat asing seperti ini.”

“Aku bilang padanya bahwa aku bersama temanku dan aku akan bersama temanku sampai aku bertemu oppa.”

“Temanmu? Siapa?”

“Kau.”

“Aku? Aish, kau tahu? Aku ke Mokpo untuk liburan, melepaskan penat dari pekerjaanku. Tapi ternyata begitu sampai di Mokpo, aku dihadapkan pada sebuah tanggung jawab, menjaga bayi besar yang menyusahkan sepertimu.”

Nara cemberut, ia tak tahu harus berkata apalagi.

“Ok, ok. Jangan menghias wajahmu dengan mimik seperti itu, membuatku merasa bersalah saja. Baiklah, kalau kau mau ikut bersamaku, kau harus mengikuti peraturanku. Tenang, aku tidak akan macam-macam padamu. Mengerti?”

Ia mengangguk dan kami pun beranjak meninggalkan pelataran stasiun yang mulai sepi.

“Akh,” erangku sembari memegangi perut sisi kiri yang terasa perih.

“Waeyo, Kyu? Gwenchana?” tanyanya. Suaranya terdengar lebih panik dari suara eommaku jika melihatku seperti ini.

“Akh, maag-ku kambuh lagi.”

“Maag? Kau belum makan sejak kapan?”

“Tadi pagi”

“Aigoo.. Ayo kita cari tempat makan. Ah itu ada kedai yang masih buka. Ayo kita ke sana. Kau masih bisa berjalan kan?”

“Ne.” Aku berjalan terseok-seok menahan sakit sementara Nara sibuk menyeret kopernya dan juga membopong tubuhku. Kasihan sekali dia.

“Sudah tahu kau punya maag, mengapa tidak makan dengan teratur?” tanya Nara ketika kami sudah menghabiskan separuh nasi campur dan jajangmyun.

“Ini juga karenamu. Kau tidur di bahuku sepanjang perjalanan di kereta dan itu membuatku sulit bergerak untuk melakukan apapun.” jawabku tanpa menatapnya.

“Mianhae, Kyu. Jeongmal mianhae.”

“Ah ne ne, tak usah dipikirkan. Jangan membuatku bersalah lagi.”

Kami melanjutkan makan diselingi dengan percakapan ringan sehingga aku dapat mengetahui sedikit seluk-beluk tentangnya. Sesekali tawa menggelegar memenuhi kedai ketika kami membicarakan tentang sepasang ahjusshi dan ahjumma di pojokan kedai yang terlihat sangat mesra.

“Baiklah, ini sudah larut malam. Sebaiknya kita pergi tidur.” ucapku sembari menghembuskan nafas pelan dengan memejamkan mata ketika kami melewati jalan trotoar yang sudah sangat sepi.

“Memang kita akan tidur dimana?”

Aku menunjuk ke arah bawah, pantai. Ia tampak bingung tapi aku tak ingin menjelaskannya. Maka, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang kumaksud.

“Ah, pantai..” ujarku dengan merentangkan tangan setelah menjatuhkan tasku ke atas pasir.

“Sebenarnya, kita akan tidur dimana?” tanyanya dengan nada bingung.

“Di sini.” “Di sini? Maksudmu?”

Aku berputar, menghadapnya, “Aku tidak suka menginap di hotel jika sedang berlibur. Aku lebih senang camping! Kita akan mendirikan tenda di pantai ini.”

“MWOYA? JINJAYO?” Aku mengangguk penuh senyum.

“Kau ingat kan kalau kau harus mengikuti peraturanku? Nah, inilah peraturanku.” Nara terlihat bingung, ia menggosok kepalanya yang kuyakini sebenarnya tidak gatal sama sekali.

“Tenang, kau akan tidur dengan sleeping bag di dalam tenda dan aku di luar tenda.”

Ia mengangguk setuju dan dengan segera Nara membantuku memasang tenda walaupun sebenarnya ia tidak banyak membantu. Tak lama kemudian, aku membuat api unggun kecil di sekitar tenda dengan dahan-dahan yang kutemukan seadanya dan Nara merapikan barang-barangnya di dalam tenda.

“Baru kali ini aku melakukan hal seperti ini.” ucapnya tiba-tiba dari dalam tenda. Separuh seleting penutup tenda sengaja ia buka, aku di luar -lebih tepatnya di sampingnya- melihat siluetnya yang melakukan hal sama seperti yang kulakukan. Memeluk kedua lutut sembari melihat ke pantai lepas.

“Mwo?”

“Iya, baru kali ini aku bermalam di pantai dalam sebuah tenda dengan seorang namja yang tidak kukenal sama sekali. Dan yang paling penting,” kata-katanya sedikit tertahan, “baru kali ini aku melihat yang kusuka dengan seorang namja. Hanya berdua.”

“Yang kau suka?”

“Aku menyukai bintang dan pantai. Aku bisa melihat keduanya hari ini juga karenamu. Suasana hatiku benar-benar sempurna hari ini.”

Bisa kurasakan ia tersenyum sekarang, entah mengapa aku ikut tersenyum membayangkannya.

Tak ada suara apapun yang bisa kudengar sekarang selain debur ombak yang mencium tepian pantai. Akupun tertidur dalam sleeping bag dengan senyum yang tak henti mengembang.

“Nara~ bangun, palli.” ucapku setengah sadar sembari melongokkan kepalaku ke dalam tenda. Kulihat ia sedikit menggeliat namun kembali tidur.

Aku mengguncang tubuhnya dengan cukup kencang agar cepat terbangun, “Nara, ayo bangun.”

“Ngg..” Ia baru membuka separuh matanya dan dengan cepat kutarik seleting sleeping bag-nya agar ia segera membuka matanya dengan benar.

“Cepat keluar, jangan lupa pakai selimutmu.” Akupun beranjak keluar dan sedikit melakukan pemanasan sekedar untuk melemaskan otot yang tegang seharian kemarin.

“Aku masih mengantuk, Kyunnie. Ini masih terlalu pagi, bahkan mataharipun belum muncul.”

Aku menjentikkan jariku, “Maka dari itu, ayo kita tunggu matahari itu muncul. Kita akan melihat matahari terbit!” Aku begitu antusias mengatakannya.

Kulihat Nara hanya mengangguk dan duduk di atas pasir, sesekali air laut menjilat ujung-ujung kakinya, membuatnya semakin mengeratkan selimut coklat yang disandangkan di punggungnya.

Aku mengambil kamera SLR dan menggantungnya di leher, segera duduk di samping kirinya.

“Aku juga baru kali ini melakukan hal ini.”

“Ngg?” Nara menengok ke arahku. Wajah baru bangun tidurnya manis sekali.

Aku tersenyum, “Baru kali ini aku melihat hal yang kusuka dengan seorang yeoja yang tidak kukenal sama sekali.”

“Apa yang kau suka? Pantai?”

“Bukan hanya itu, tapi,” Aku menunjuk ke pantai lepas.

Perlahan semburat kuning menyembul dari garis lurus di ujung sana, seolah muncul dari dasar laut. Sinarnya lembut dipadu dengan gradasi warna yang ‘ia’ bawa dengan sisa warna langit malam. Sangat indah.

Sama indahnya dengan senyum yang dilakukan Nara sekarang melihat apa yang kutunjuk. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membidiknya dengan kamera kesayanganku.

Ia menoleh karena tersadar sedang dipotret, tapi ia bukannya menolak seperti kebanyakan gadis. Ia malah tersenyum ke arah kamera dan akupun tak menyia-yiakannya.

Jepretan-jepretan berikutnya adalah fotonya dengan berbagai mimik wajah dengan latar belakang kesukaanku, pantai dan matahari terbit.

Ia duduk kembali di posisinya, “Gomawo, Kyunnie.”

“Cheonmane, Nara-ya.”

Aku merasakan sesuatu hinggap di bahuku. Namun kali ini aku tidak merasakannya sebagai beban, malah aku menikmatinya. Ia tertidur lagi di bahuku.

“Palli, Nara-ya.” teriakku padanya.

“Ada apa?”

“Ayo kita beli es krim di sana.” tunjukku pada salah satu kedai di sepanjang jalan yang sedikit ramai siang itu.

“Dua es krim coklat, satu pancake keju susu, dan satu gelas Choco Mint. Gomawo.” ucapku pada waitress yang menghampiri meja kami. Pelayan itupun beranjak menyiapkan pesanan.

“Banyak sekali pesananmu, Kyu? Kau yakin akan menghabiskannya?”

“Tenang saja, Nara. Tak usah mengkhawatirkan itu.”

Ia memandangku bingung hingga semua pesanan kami datang. Dua es krim coklat ukuran jumbo dengan stroberi di masing-masing porsi, pancake keju susu extra large, dan Choco Mint bergelas sedang.

“Waw,” Hanya itu yang terlontar dari bibir Nara ketika melihat semuanya.

Aku hanya tersenyum, “Kita habiskan es krimnya dulu, lalu pancake dan terakhir, ini.” Aku menunjuk si gelas sedang.

“Enak!” serunya ketika memulai suapan es krimnya. Nara pun menghabiskan es krimnya dengan cepat, tak mau kalah denganku.

Nara menggigit ujung garpunya, “Rasanya aku tak sanggup jika harus mencoba pancake yang ‘waw’ ini.” ucapnya lesu.

“Cicipi dulu, baru komentar.” Aku pun mulai memotong pancake dan memakannya. Nara mengikuti.

“Huah, lezat.” Ia pun memakan hampir tiga perempat pancake, memakan jatahku juga.

Setelah makanannya habis, Nara bersandar di kursinya, “Haaah, aku haus.”

“Ini minumnya, sangat menyegarkan.”

“Jinja?” Akupun dengan cepat mengambil sedotan yang berada di sisi gelas itu.

“Kau mau coba atau tidak terserah padamu. Yang jelas, ini sangat enak dan akan segera kuhabiskan!” Aku langsung menyeruput minuman itu.

Nara yang kaget merasa tak mau kalah, ia segera mengambil sedotannya dan ikut mencelupkan sedotannya di gelas itu. Menyeruput cepat seakan sedang berlomba bersamaku.

“Bisakah kita memesannya lagi?” kata Nara setelah melihat gelas itu kosong.

Aku menggeleng, “Ani. Minuman ini hanya boleh dipesan dengan sekali pesan karena jumlahnya terbatas. Itu yang kutahu ketika pertama kali datang kemari.”

Nara cemberut lagi, “Aish, jangan seperti itu. Ya sudah, ayo kita pergi dari sini. Aku akan membawamu berkeliling di dareah sekitar sini sebelum oppamu datang.”

Kami bangkit dan aku segera membayar sejumlah nominal yang disebutkan sang penjaga kasir.

Kami berjalan pelan menyusuri beberapa toko di sepanjang jalan, namun tiba-tiba Nara terhenti, ia memegang perutnya.

“Ada apa, Nara?”

“Mual, aku selalu seperti ini jika terlalu banyak minum.”

Aku membelalakkan mataku, “Mengapa kau tak mengatakannya padaku sebelumnya? Aish, kau ini. Ini namanya kau menyusahkanku, tahu?”

“Maaf,” ucap Nara pelan dan ia pun berusaha memuntahkan apa yang ditelannya tadi ke dalam tempat sampah terdekat.

“Sudah, sudah, tak apa.” Aku pun memijat tengkuknya walau sebenarnya tak ada sesuatu berarti yang keluar dari mulutnya.

Nara menyeka keningnya yang berpeluh, “Sudahlah, naik ke punggungku.” ucapku sembari berjongkok di depannya, “Kau pasti tidak akan kuat berjalan, cepat naik. Kau masih mau kuajak jalan-jalan, tidak?”

Ia tak menjawabku tapi langsung naik ke punggungku. Dengan susah payah aku menggendongnya sambil memegang kopernya. Belum lagi menggendong tas selempangku juga.

“Bisa kau ke sana, Kyunnie?” kata Nara setelah aku berjalan sudah agak lama, hampir satu jam.

“Ne, ne.” Aku sudah tak sanggup untuk berbicara banyak. Energiku akan semakin terbuang jika berjalan sambil berbicara.

Nara memintaku menurunkannya di sebuah toko bunga setelah menyakinkanku ia cukup kuat untuk berjalan sendiri. Ia berkeliling sebentar dan berhenti agak lama di kerumunan bunga chamomile, entah apa yang sedang ia lakukan. Aku hanya menunggunya di depan.

“Kau tunggu di sini, aku ke toilet dulu sebentar.” Aku pun berdiam diri di depan florist itu, sesekali mataku berkeliling melihat bunga-bunga yang penuh warna di sana. Mendadak sebuah panggilan masuk ke ponselku.

Selang lima belas menit kemudian, ia kembali dengan wajah yang lebih segar.

“Baiklah, sepertinya acara jalan-jalannya harus segera kita sudahi,” ucapku ketika melirik jam tangan, “sebentar lagi, oppamu sampai. Ayo kita ke stasiun.”

Nara tidak merespon banyak. Ia hanya mengambil kopernya dan langsung berjalan cepat meninggalkanku.

Kami duduk di bangku panjang dalam stasiun. Lebih banyak mengunci rapat mulut kami. Entah mengapa aku enggan berbicara padanya, lebih tepatnya enggan menyadari bahwa itu mungkin menjadi percakapan terakhir kami.

“Nara-ya!!” teriak sebuah suara dari kejauhan. Aku dan Nara menoleh dan kudapati seorang namja seumuran denganku bersama yeoja cantik di sampingnya menghampiri kami.

“Oppa~” Nara berhambur memeluk oppanya, “Ah ya, oppa, kenalkan ini dia temanku, Cho Kyuhyun,” Aku membungkuk, “dan Kyu, ini oppaku, Kwan Jae Soo.” Laki-laki itu tersenyum padaku lalu membungkuk sopan.

“Kamsahamnida Kyuhyun-ssi karena telah menjaga adikku yang menyusahkan ini selama dua puluh empat jam,” Ia kembali membungkuk.

“Hahaha, gwenchana.”

“Ah, Ji Eun onnie ikut?” Nara menghampiri yeoja yang berdiri di samping Jae Soo lalu merangkul sebentar dan melepaskannya, “Aish, oppa, kemari.” Nara menyeret Jae Soo menjauh dariku dan Ji Eun.

Mereka berbicara sedikit brutal sepertinya. Dapat kulihat Nara beberapa kali mendapat serangan jitak dari oppanya dan Jae Soo sendiri mendapat tendangan di tulang kering seperti yang kualami waktu itu.

“Ngg, Kyuhyun-ssi,” Tiba-tiba Jae Soo menatapku ketika ia kembali dari perbincangannya.

“Ne?”

“Dongsaengku ini marah padaku karena tak jadi menemaninya sepanjang pernikahan sepupu kami nanti karena aku membawa Ji Eun, yeojachinguku,” Jae Soo melihat sebentar Ji Eun dan tersenyum.

“Kau tega membiarkanku mati gaya di pernikahan Eun Mi onnie nanti sendirian,” sergah Nara dengan wajah cemberutnya.

“Maka dari itu, Kyu, aku mohon bantuanmu.” Aku dan Nara sama-sama terkejut.

“Bisakah kau menemaninya sepanjang acara pernikahan nanti, Kyuhyun-ssi?”

“Oppa!” teriak Nara sembari menendang tulang kering Jae Soo untuk kesekian kalinya dan aku hanya mengerjapkan mata tak percaya.

“Sudahlah Nara-ya. Jadi, bagaimana, apa kau bisa?”

“Ngg, mianhae, aku tidak bisa.” jawabku lemah. “Waeyo?”

“Atasanku menelepon tadi sore dan memintaku untuk segera kembali ke Seoul karena  ada rapat mendadak yang harus kuhadiri dan aku telah menyetujuinya.”

Jae Soo mendesah pasrah, “Baiklah, tak apa. Nara-ya, sebaiknya kau terima nasibmu untuk mati gaya sepanjang pernikahan Eun Mi nanti.” ucap Jae Soo sembari mengacak-acak rambut panjang Nara yang tergerai.

Aku melihat jam tanganku, “Sepertinya kereta menuju Seoul akan berangkat sebentar lagi, aku harus segera masuk gerbong.” Aku mengambil tas besarku dan menyampirkannya di bahu.

“Maaf aku tidak banyak membantu, Jae Soo, Ji Eun,” Aku membungkuk, “dan Nara, mianhaeyo. Ah ya, jangan ceroboh dan minum terlalu banyak.” Aku menepuk kepalanya pelan.

Nara diam, ia menunduk.

“Baiklah, annyeong.”

Namun ketika aku hendak melangkahkan kakiku, Nara memelukku erat, “Sampai jumpa, Kyunnie.” Sedikit isakan tertahan terdengar dan aku hanya dapat tersenyum.

“Ah ya, semoga kita bisa bertemu lagi.” Setelah puas memelukku, ia melepaskannya dan melambaikan tangan ke arahku ketika aku sudah duduk di kereta yang dekat dengan jendela.

Perlahan, kereta mulai melaju. Memisahkanku dengan seseorang yang membuatku tersenyum setiap mengingatnya.

Aku mengaduk isi tas dan mengambil kamera SLR-ku, menyalakannya.

Satu per satu aku kembali melihat foto-foto hasil jepretanku dengan dua hal yang aku sukai. Ah tidak, sepertinya aku menyukai tiga hal dalam beberapa frame mulai sekarang.

Pantai, matahari terbit, dan Kwan Nara.

Aku berjalan mantap dengan tuxedo yang menghiasi penampilanku hari ini. Aku sengaja berpakaian kelewat rapi karena ini adalah pertemuan yang sangat penting. Aku tidak boleh melanggar janjiku pada atasan.

Aku memasang senyum termanis yang kumiliki sembari menghampiri klien dengan mini dress berwarna krem di antara orang-orang yang ramai memenuhi ruangan. Rambutnya yang sedikit ikal di ujung tergerai, hanya dijepit pada salah satu sisi. Cantik.

“Sepertinya ada yang mati gaya hari ini~” ucapku pada sang klien.

Ia menengok dan langsung terkejut, “Kyuhyun?! Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah kau seharusnya di Seoul?”

“Ani, Nara-ya,” Nara-lah klienku. Klien hatiku. “Aku sudah membuat perjanjian dengan atasanku untuk bisa mengijinkanku tidak mengikuti rapat hari ini dengan syarat aku harus lembur tiga hari ke depan. Jadi, kau tak boleh membuatku menyesal telah kembali untuk sekedar menemanimu. Arasseo?

“Ne, ne. Ara.” ucapnya girang.

“Kau tidak merindukanku?” kataku spontan. Entah mengapa aku ingin mengatakan itu.

Nara mengernyitkan hidungnya, “Tidak.”

“Oh begitu? Baiklah,” Aku beranjak pelan tapi Nara memelukku, seperti yang ia lakukan kemarin di stasiun.

“Tidak, Kyunnie. Aku tidak merindukanmu. Aku hanya sangat merindukanmu.” Aku tersenyum puas dan dapat kuterka pasti wajahnya merah sekali di pelukanku sekarang.

Dapat kurasakan pelukannya yang begitu erat mengitari pinggangku hingga ia merasakan sesuatu di balik punggungku, “Kyu, kau bawa apa?” ucapnya sembari melepaskan pelukan tadi.

Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku yang sedari tadi bersembunyi, “24 chamomile untuk 24 jam yang kita lalui seharian kemarin.”

Satu buket chamomile pink sengaja aku bawa karena aku tahu ia menyukai chamomile ketika ia berdiam lebih lama di kerumunan bunga ini kemarin.

Nara tersenyum lebar dan mengambil buket bunga itu, “Gomawo, Kyunnie. Ini sangat indah.”

“Cheonmane, Nara-ya. Terima kasih juga untuk ini,” Aku mengangkat pergelangan tangan kananku, menunjukkan gelang perak dengan bandul-bandul kecil bersimbol matahari dan bintang.

“Kau kan yang memasukkannya ke saku mantelku kemarin ketika memelukku? Ayo mengaku padaku.”

Nara mengangguk lalu menyembunyikan wajah merah padamnya dengan berpura-pura mencium aroma buket bunga yang kuberikan.

“Ah, tak sia-sia aku memberitahu Kyu dimana acara ini berlangsung. Akhirnya ia datang juga untuk menemanimu,” Jae Soo datang bersama Ji Eun yang membalut tubuhnya dengan dress panjang berwarna soft pink.

Aku menyeringai sembari menggosok kepalaku.

“Jagi, sepertinya ada calon pengantin baru yang akan mendahului kita,” ucap Ji Eun terkekeh.

“Wae?”

Ji Eun hanya menunjuk dengan dagunya sambil melirik buket yang dipegang Nara.

“Aish, adikku sudah besar ternyata. Ya sudah, kalian nikmati saja pestanya. Aku keluar dulu dengan Ji Eun.” Jae Soo berlalu tapi ia berbalik lagi, “Oh ya Kyu, jujur saja, adikku ini sungguh menyebalkan dan sering melayangkan tendangan mautnya,”

“Oppa!”

Jae Soo tersenyum, “Tapi, dia bisa berubah menjadi sangat manis jika bersama orang yang ia sayang.”

“Oppa~ sudah sana pergi. Membuat aku malu saja.”

Aku melihat Nara yang salah tingkah di-cap seperti itu, “Intinya, kau tidak akan menyesal memilih adikku.” ujar Jae Soo dan Jae Soo dan Ji Eun pun berlalu.

“Jaga baik-baik tulang keringmu, Kyunnie!” teriak Jae Soo setelah menjauh beberapa meter dari kami yang ditinggal dengan kecanggungan.

“Jangan dengarkan oppaku, Kyu. Dia hanya bercanda.”

Aku menyipit, “Sepertinya dia tidak bercanda karena aku pernah merasakan tendangan mautmu itu.”

“Kyunnie!”

“Aww!!” teriakku tertahan ketika untuk kedua kalinya tulang keringku mendapat serangan yang kali ini dari high heels-nya.

“Jangan macam-macam denganku! Aku tak peduli jika harus menendang tulang keringmu, Kyuhyun!”

“Dan aku tak akan segan-segan membekap mulutmu jika kau berani melakukan itu lagi, Kwan Nara!”

“Membekapku?!”

“Ne, dengan bibirku.” jawabku santai dengan tatapan ayo-kau-mau-jawab-apa-lagi

“CHO KYUHYUN!!”

***

-END-

34 thoughts on “-Contest Fiction- Because Of Mokpo

  1. NAH INI DY! *apa’a?* hahaha.. Oke. BACA!😄
    Sblm’a mw promo lgi dsni #PLAKK..
    Seongrin.wordpress.com
    Lgi bwt pnilaian d tmpt kursus nih. Ayolah, coment asl ja, ga usah bca jga gpp. *heh?*

  2. aigoo~😄
    mari komen..komen..komen.. *nari cabi*
    ONNIE~ mian ga bales sms -____- pulsa abis.
    iyapp, qu emang ade kelasnya teh gita😄 tanya aja, dia jga pasti kenal qu deh🙂
    sama2 persatuan kpopers di skola. haha😄

    balik komen ke cerita..
    aiyaaa, nara jadi cewek lola bener dahh *tabok*😄
    masa kacamata nempel di jidat aja ampe lupa gtu? cekacekaceka -___-
    terus tumben2 banget kyu baek ampe segitunya. hahahaha😄
    tapi onn..rada kagok juga bayangin kyu jadi editor yang kemana-mana pake jas, huwee..kebayangnya malah kyu versi terlalu ganteng dan bisa bkin mimisan *dies*

    itu kakanya nara beneran ga peduli banget deh, sante banget nyuruh adenya tinggal seharian ama cwo ga dikenal~! *tabok abangnya* haha
    tapi disini bayangin muka abangnya nara itu jadi kayak bayangin muka khun, onn😄
    uwawawawa~ >___<

    tetep yaaa tetep, mau pake baju apa aja (ga peduli casual, ga peduli dress) nara ttep aja bisa holot ke kyu😄
    hahahaa :3

    aniwei, tinggal sehari ama kyu di pantai..yakin ga bakal ngapa2in tuh, onn? *toel2 kyunara*
    hahaha XDD
    aigoo, qu juga mupeng bayangin adegan yang ituuu TT.TT
    pokoknya ceritanya jjang~!!
    sering2 bikin FF ya onnie sayang😄

  3. Nara nya pemalu iih~~
    ahahaha..kagak evil lagi dah..tapi tetep seneng nendang2 ya xD
    aigoo~ Kyu ternyata suka ngiler? *ngakak* *dicekek Kyu*
    aiyaa~ penyakit kita samaan Kyu, maag *bangga*

  4. waaaaaaah so sweet banget KyuNara-nya!
    mupeng deh ngebayangin seharian penuh sama si kyu, di mokpo lagi!
    itu kakaknya naraaa, percaya bgt ya sama orang yg ga dikenal?
    kalau nara diapa-apain gimana hayoh?

    like this ff!

  5. aigo aigo aigoooo ~ *gaya ajjuma2 gahol
    keren fanficnya , daebak yg bikin ini ff .. siapa sih siapa ?? *toel toel icha eonn
    chukae yah, semoga menang deh ~ nara lu tetep ajah galak yah mau jadi anak sekolah mau jadi mahasiswa! tobat atuh euy (?) hehehe semangat ya buat icha eonni sama yg bikin ff ini🙂

  6. @arin : jd blm baca ? #plakk

    @icha : huahahaha *nari gurita* gomawo😀 kyunara’y itu gabungan sifat aku . cita” ak tuh jd editor *ga nanya* dr pelupa , polos , tp suka nendang” + cemberut gt , ngiler , gampang mrasa b’salah , itu ak smw *curhat*
    iya kan abang’y jg tau ade’y udah gede jd jgn manja #plakk
    yakinlah ga ngapa”in di pantai , kan bobo’y pake sleeping bag , kalo ga pake sleeping bag … ya mungkin t’jd sesuatu pd mrka skdar utk mnghangatkan tubuh yg rindu belaian selimut #ditendangkelaut
    emg editor hrz pk jas ya ? *garuk”pala* aku byangin cm pk kmja tngan pndek + jeans loh , kan editor gahoel😀
    ak jarang bikin ff sayang , bikin ff cm buat ikt kontes aja . tp cerpen” ato cerber yg pemeran’y bkn bias mah byk , ada di fb + blog ak . mampir” lah ya~ *hug hug*

    @adelaide : iya kyu tkng ngiler , tiap hr ak cuci sarung bantal gara” dy ilerin mulu . bau’y , beuuuuuh bau jjanjangmyun cmpur alkohol #dijambakkyu

    @mya : kalo nara diapa”in ? biarin aja . suru eomma’y produksi dede bayi lg , buat ade baru #plakk😀 gomawo yaaa :*

  7. @arin : jd blm baca ? #plakk

    @icha : huahahaha *nari gurita* gomawo😀 kyunara’y itu gabungan sifat aku . cita” ak tuh jd editor *ga nanya* dr pelupa , polos , tp suka nendang” + cemberut gt , ngiler , gampang mrasa b’salah , itu ak smw *curhat*
    iya kan abang’y jg tau ade’y udah gede jd jgn manja #plakk
    yakinlah ga ngapa”in di pantai , kan bobo’y pake sleeping bag , kalo ga pake sleeping bag … ya mungkin t’jd sesuatu pd mrka skdar utk mnghangatkan tubuh yg rindu belaian selimut #ditendangkelaut
    emg editor hrz pk jas ya ? *garuk”pala* aku byangin cm pk kmja tngan pndek + jeans loh , kan editor gahoel😀
    ak jarang bikin ff sayang , bikin ff cm buat ikt kontes aja . tp cerpen” ato cerber yg pemeran’y bkn bias mah byk , ada di fb + blog ak . mampir” lah ya~ *hug hug*

    @adelaide : iya kyu tkng ngiler , tiap hr ak cuci sarung bantal gara” dy ilerin mulu . bau’y , beuuuuuh bau jjanjangmyun cmpur alkohol #dijambakkyu

    @mya : kalo nara diapa”in ? biarin aja . suru eomma’y produksi dede bayi lg , buat ade baru #plakk😀 gomawo yaaa :*

    @dyra : gomawoyoooo , kecupbasah dulu ahh :*:* hug hug deep huuuuuug😀

  8. nara benarkah itu dirimu, ajaib panggil kyu kyunie,,, kekekekeke

    romantissss….
    Mau nyempil di pantai bareng mereka ah….
    Kekeke

  9. Dsini mereka bukan evil couple lagi..
    tapi suka og..
    ceritanya bagus..

    Oppanya nara bener” tegaan banget ma adexnya..
    tapi malah bikin kyunara punya kesempatan b2.
    kekekeeee

  10. hehh?
    Nara manis bgt dsini, evilnya muncul d part akhir doank😀
    Kyu juga, gak nyangka doyan maen k pantai Mokpo😀

  11. baca kemaren komen sekaraaang~ #plakk!!
    hahaa nara lola ttep aja evil.nya masiih melekaat .. juteknya kaga ilang-ilang yee queenevil~ >///<
    garagara berkunjung ke kampungnya si ikan pirang romantiis kyu jadi ketularan soswiiitt~ #ditendang
    hohohoo .

  12. the other side of nara kekekekeke, yaollog lollanya ga ketulungan trus doyan nendang kaki?? ckckckck..

    tapi seru jg ya nginap di pantai ama cowok secakep kyu hahahaha *ngarep*

  13. ke pantai bikin tenda? *gubrak* kagak masuk angin tuh? tar dikerokin deh yah kan bagus tuh bikin tulang biar tambah kaya tengkorak😄 *reader ngalur gidul*

    mau donks dibekap kyu pake bibir,, ihihihiiii,, kanapa si nara ga dibekap pake bibir atuh? kan lumayan saya bisa liat kyunara skinship,, abis ama yang punya jaranggggggg banget kasi kyunara skinship *seremmmmm dapet death glarenya kyunara#kaburrrrrrr*

    lah,, pokonya bgus,, cukup bikin saya senyum gaje kagak jelas XDXDXD

    fighting!!!

  14. mau komen :3 widihhh mokpo i’m in love #plakk
    ceritanya lucuuuu! Naranya tetep brutal as usual xD tapi bagaimana dengan kyunnie?
    Sumpah yaolohhh baik bener si kyuhyun, aku jadi dia nara aku tinggal deh habis muntah2 #plakk
    romantissss! Pas adegan kyu foto si nara .__. Aduh iri oh iri #plakk
    si nara pikun yaaaa,wakakaka.
    Camomile? Jadi inget kanginnnn *nangis ngesot*
    suka lah onnie :* lucu, bikin senyum2. Kyu pantes jadi potografer..
    Onn boleh saran kan?🙂 kalo pergantian waktu atau tempat dikasih *** atau – aja onn.. Hehehe,biar tambah jelas aja kok🙂 yg lain udah kereeeen ^^

  15. akku kira ikan mas koki bakal nyempil d’ff ini???
    hahaha…kyu baikkk bangetz dah,jadi agak susah byangin’a…XDD
    aigoo ini ff’a so sweet:)
    akku senyum” sndiri bacanya???/

  16. semuanya , gomawo yaaa udah pd bacaaa dan ksh komen ~(^3^)~ *kecup basah sambil nari gurita*

    @rihnyuk : makasih sayang buat saran’y *deep hug* td’y aku jg mw ksh pmbatas tp cm ga t’lalu ngerti pngertian one shot , jd dsatuin aja😀 dikira ak ga boleh ganti bgtu *alasan! -> ditimpuk bata*

  17. Pingback: -Announcement- Jadwal Publish Fiction Contest! « ♛ Chocolate's Crown ♛

  18. Gara2 diawal ngomongin mokpo aku kira bakal ada donghae yg tiba2 muncul dr laut mokpo *??* hahaha~

    Aish~~ seandainya kwan nara bs jd manis kyk gini sm kyu lbh lama..

  19. Gara2 diawal ngomongin mokpo aku kira bakal ada donghae yg tiba2 muncul dr laut mokpo *??* hahaha~

    Aish~~ seandainya kwan nara bs jd manis kyk gini sm kyu lbh lama…

  20. Ahahaha…. Keren2! Pertama q fikir oppanya Nara itu Donghae oppa.. =.=a
    tapi masa iya jadi Kwan Donghae? *ditendangNara

    Trus itu si Kyuhyun knpa jadi baek bgt?? Evilnya kemanain? ._.a

    keseluruhan oke bgt ini ff… DAEBAK author..

    Nb: Icha eon, mianhe~ sebenernya q udah jadi KyuNaration udah lama, tp baru bisa komen di blog eon.. >0< mianhe~! *dicekikKYUNARA

    WGM-nya ditunggu ya eon..😀

  21. ciee love at first sight ceritanya, keren ceritanya jadi bayangin adegan di princess hours deh, speechless bagus nih cerita ffnya coba aja hubungan kyunara kaya gini terus behh rinwon kalah ini mah ^^v hehe jangan deh image kyunara kan udah evil couple jangan diubah *labil*

  22. kyu… Aku mau dong di bekap. Hahaha. Dasar evil. Kerjaannya nyakitin orang aja. Hahaha *ngelirik nara*

  23. Time to comment….
    Ceritanya, bagus koq… Cuma Kyuppa disini koq beda ma aslinya ya?? *ya iyalah namanya juga cerita… readers babo ini mah*… kekekeke… tumben Kyuppa ngga bawa2 PSP… *hedeh, ini readers lemot amat… namanya juga dlm cerita*. Trus nara nya kejam ah… masa hobinya nendang2 gthu… qn kasiian Kyuppanya di tendang2 (walaupun cuma 2 kali sih)… Anyway, jadi pengen ngerasain gimana rasanya camping seharian ma Kyuppa di tempat yang romantis gila *baca : pantai* sambil liad bintang and matahari terbit… Huwaaa…. Ngebayangin aja uda bikin muka merah… Apalagi beneran terjadi yah?? *pingsan mungkin*…
    Eh mianhae… Jadi curhat sendiri… kekeke… *bow*
    Untuk keseluruhan sih bagus ceritanya….
    Cuma itu abangnya si Nara ngga terlalu santai ngebiarin Nara nginep ma orang asing??
    Terus, si Nara ngga takut di apa apain Kyuppa padahal kan mereka baru ketemu dan baru kenal beberapa jam? o.O *halah koq jadi elu yang khawatir seh?? Nara ama abangnya aja nyante, elu yang sewot… ett dah….*
    1x lagi mianhaeyeo author Kwan Nara… Readersmu yang satu ini emang terlalu cerewet dengan komen yang ngga pentingnya… #dijitak pake high heels sama auhor nara.
    nah, karena ngga mau nambah dosa (?) dengan komen seperti ini terus, aq udahin deh dengan ucapan “Gomawo atas FFnya… Mianhae qlo komen ku ngga sesuai dengan harapan author nara… Tapi,aku akan mencoba untuk menjadi readers yang lebih baik lagi dengan mampu memberi komentar yang lebih bermutu kepada authornya *halah bahasa mu ribet banget cyn…..*
    *bow berkali kali*

  24. Ehm.. Ehm.. So sweet bgt, tp yah tetep yg nama’y KyuNara pasti ke’evilannya selalu ada. Hhaha
    Nara pelupa, masa kacamata d’jidat gk tau.. Hhaha
    FF’y bagus,, kata2’y aku suka ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s