Tears Of Polaris_Introduction

Seorang wanita melangkah perlahan sambil membawa dua buah keranjang yang berukuran cukup besar.  Dia tampak kelimpungan dan ketakutan dengan keadaan sekitarnya. Beberapa kali dia melirik ke dalam keranjang untuk memastikan bahwa ‘objek’ di dalamnya masih terlelap damai.

Lama dia berjalan, akhirnya dia menemukan sebuah rumah sederhana yang bertuliskan “Panti Asuhan Pyonggang“.  Wanita itu melirik lagi ke dalam keranjang yang dibawanya, terdapat sepasang bayi mungil  yang sedang tertidur pulas.  Wajah mereka benar-benar seperti pinang dibelah dua, mirip tanpa cela.

Akhirnya dia menurunkan sebuah keranjang itu di depan pintu Panti Asuhan dan menyelipkan secarik kertas di atas keranjang itu.

Siapapun utusan Tuhan yang baik hati

Rawatlah malaikat ini dengan baik

Jadikan dia seseorang yang manis

Tolong, Tolong rawat dia

Dan namakan dia Nara

Setelah selesai, gadis itu lagi-lagi menatap sang bayi dan mengelus pipinya perlahan.  Air mata perlahan mengalir dan membentuk sungai kecil di pipinya, “Maaf. Sekali lagi maaf, nak”, lirihnya dan segera beranjak pergi meninggalkan panti asuhan itu setelah menaruh satu keranjang bayi di depan pintu panti tersebut.

Dengan sisa sebuah keranjang di tangannya, kini ia melangkah pasti ke sebuah halte dan menaiki sebuah bus dengan tujuan Seoul. 

Setelah sampai di halte Seoul, dia berjalang ke suatu jalan yang sudah sangat ia hafal.  Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah rumah yang megah dan indah.  Dengan penuh rasa ragu, dia memencet bel dan tak lama kemudian muncullah seorang wanita di hadapannya. “Lee SaeRi?”, tanya wanita itu dengan nada ragu.

Gadis yang tengah membawa keranjang hanya mengangguk pelan sambil menelan ludahnya gugup. “Ne, HyeonA-ssi”, lirihnya pelan.

HyeonA berjalan cepat dan segera membuka pagar untuknya, “Aigoo. Aapa yang kau lakukan di tengah malam begini?”, tanyanya khawatir.  Saeri menggeleng cepat dan segera menyodorkan keranjang yang dibawanya pada HyeonA, “Jebal, HyeonA-ssi. Tolong aku”, bisiknya.

HyeonA tersentak kaget saat melihat ada seorang bayi di dalam keranjang itu.  “Ini..bagaimana bisa?”, tanyanya heran. 

Saeri menjawab lemah, “Aku tak bisa merawat mereka.”

Tiba-tiba dari dalam rumah, keluar lahseorang anak laki-laki berusia balita dan menatap HyeonA dengan polos, “Umma, ayo masuk! Nanti Umma masuk angin jika terlalu lama diluar”, ucap anak itu sambil berjalan tertatih menuju HyeonA.

HyeonA menatap Saeri dengan bimbang.  “Sebetulnya masih banyak yang ingin kutanyakan padamu, Saeri-ah. Tapi, aku tahu kau bukan tipe orang yang senang rahasianya terkuak”, ucap HyeonA pelan.  Saeri mengangguk sambil menundukkan kepalanya, “Mianhae, HyeonA-ssi”

“Uwaaa, ada adik bayi!!”, seru anak itu saat dia berhasil mengintip isi keranjang yang dipegang oleh HyeonA.  HyeonA menggenggam tangan anaknya dan berkata pelan, “Siwon-ah, ini adik baru’mu.  Tuhan mengabulkan doa’mu yang ingin memiliki adik”, ucap HyeonA lembut.

Saeri tersenyum simpul dan saat ada seorang pria yang keluar dari dalam rumah, dia langsung berbalik pergi sebelum mengucapkan, “Beri dia nama Jiyoo, HyeonA-ssi”.

HyeonA menatap kepergian Saeri dengan nanar dan akhirnya menatap Siwon yang sedang menatap ‘adik’ barunya itu dengan bahagia.  Tak lama kemudian, suami HyeonA datang menghampirinya dan melirik penasaran ke arah keranjang itu.  “Apa itu?”

HyeonA tersenyum simpul, “Anak kita, Choi Jiyoo.

—–

5 Years Later …

Sebuah pasangan suami istri memasuki panti asuhan Pyonggang dengan langkah ringan.  Tangan mereka berdua saling bertaut mesra dan senyum langsung mengembang lebar di wajah mereka saat mendengar dan melihat teriakan anak kecil yang hilir mudik di depan mereka.

“Yeobo, aku ingin anak perempuan”, ucap sang istri pelan.  Matanya masih tak bisa lepas memperhatikan anak-anak kecil itu.  Sang suami hanya tersenyum simpul dan ikut menggenggam tangan istrinya, “Yeobo, nada bicaramu seperti anak kecil yang menginginkan gulali”, jawabnya pelan dan membuat istrinya terkekeh pelan.

Seorang wanita separuh baya datang menghampiri mereka dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo, Tuan dan nyonya Kwan?”, tanyanya.  Pasangan itu mengangguk singkat.  “Cho EunHye imnida.  Saya pengurus panti ini”, ucapnya.

Pasangan Kwan tersenyum simpul, “Annyeonghaseyo, EunHye-ssi”.  Sedangkan mata sang nyonya Kwan langsung tertuju ke seorang anak perempuan yang sedang bermain boneka bersama temannya yang lain.  “Yeobo!  Itu..anak itu..”, ucapnya sambil menarik tangan suaminya.

Tuan Kwan mengikuti arah pandangan istrinya, “Yang mana?”, tanyanya.  Nyonya Kwan berkata dengan tak sabar, “Yang memakai baju merah.  Dia sangat lucu”.

Eunhye tersenyum simpul, “Dia Nara, nyonya.  Kenapa anda tak mencoba untuk berbicara dengannya?”, tawar Eunhye.  Tanpa menunggu aba-aba lagi, nyonya Kwan langsung menghampiri sekumpulan anak itu dan kini dia sedang mengobrol dengan Nara.

Tuan Kwan menggeleng sambil terkekeh, “Ahh, dasar perempuan itu”, ucapnya heran.  Eunhye menatap tuan Kwan, “bagi seorang perempuan, seorang anak adalah harta yang tak ternilai, Tuan”, sahutnya dengan nada geli.  Tuan Kwan mengangguk paham, “Yah, mungkin dia sangat merindukan kehadiran anak setelah 5 tahun pernikahan kami”, ucapnya.  Eunhye hanya mengangguk paham.

DRRTT..DRRRTT..DRRTTT

“Ah, permisi Eunhye-ssi”, izin Tuan Kwan sambil berjalan menjauh dari tempatnya semula.  Dia mengangkat telefon yang masuk ke handphonenya, “Yoboseyo?”

Yoboseyo, Tuan Kwan Minhwan.  Choi Kyuhan imnida

Minhwan diam sejenak dan kemudian mengangguk cepat, “Ah, ya..Kyuhan-ssi.  Ada perlu apa?”.

Saya ingin memberitahu bahwa rumah kami sudah kosong.  Peralatan sudah selesai diangkut.  Dan anda bisa segera menempatinya secepat…aigo, Jiyoo-ya, jangan ganggu.  Appa sedang sibuk”, tiba-tiba suara Kyuhan terdengar agak samar karena suara anak kecil yang berisik dibelakangnya.

Minhwan terkekeh pelan, “Allgessemnida, Minhwan-ssi.  Hari ini juga saya akan mengunjungi rumah anda untuk mengecek keadaannya”.   Kyuhan langsung membalas, “Hari ini? Ah, Jwosonghamnida, Minhwan-ssi.  Hari ini saya bersama keluarga saya akan langsung berangkat ke LA.  Jadi kami tak bisa menemani anda untuk mengecek keadaan rumah kami

Minhwan menggumam paham, “Tidak apa-apa.  Kami percaya pada anda.  Semoga anda sekeluarga selamat di perjalanan, Kyuhan-ssi”.  Kyuhan balas menggumam mengiyakan, “Baiklah, terima kasih atas kerja sama anda, Minhwan-ssi.  Semoga kita dapat bekerja sama dilain waktu”.

Minhwan mematikan telefonnya dan kembali menatap kea rah teras tempat istrinya berada.  Dan kini dia melihat istrinya itu tengah memeluk Nara dengan lembut dan Nara yang tengah tersenyum bahagia.  Minhwan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menggumam pelan, “Ah, aku akan jadi Ayah dari seorang Kwan Nara”, gumamnya sambil tersenyum simpul dan melangkah ringan mendekati istri dan (calon) anaknya itu.

—–

Kyuhan menutup flip handphone’nya dan menatap anak perempuan mungil di sampingnya dengan gemas, “Aigoo~ kau memang sangat nakal, Jiyoo-ya”, ucapnya gemas sambil menggendong anak kecil bernama Jiyoo itu.

Jiyoo tertawa senang saat berada di pangkuan Ayahnya, “Appa, ayo main!”, ucapnya cepat sambil merangkul leher Kyuhan.  Kyuhan mengacak rambut Jiyoo dengan lembut, “Kita akan bermain nanti setelah kita sampai di rumah yang baru.  Oke?’, ucapnya.  Jiyoo mengerucutkan bibirnya sebal, “Appa jahat!  Ummaa~ Appa tidak mau bermain denganku!”, Jiyoo mulai merengek kencang.

HyeonA yang turun dari tangga sambil membawa sebuah tas jinjing langsung menatap Kyuhan dengan ganas, “Kau membuatnya menangis lagi?”, tanyanya.  Kyuhan hanya tertawa lebar dan mencoba menenangkan Jiyoo yang masih merengek kencang.

HyeonA memijakkan kakinya di lantai dasar dan langsung menggendong Jiyoo, “Jiyoo-ya, ulljima~”, ucap HyeonA lembut dan membuat Jiyoo agak tenang.  Kyuhan menggaruk kepalanya heran, “bagaimana bisa dengan 1 kata itu kau bisa membuatnya berhenti menangis?”.

HyeonA tersenyum simpul, “Itulah yang membuat wanita lebih hebat daripada pria”, ucapnya bangga dan membuat Kyuhan mendaratkan cubitan pelan di pipi istrinya itu.  HyeonA melirik ke atas, “Siwon-ah!  Ayo kita berangkat~ kalau terlambat, kita akan segera ketinggalan pesawat”, serunya.

Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah tas besar berisi mainan kesayangannya.  HyeonA menggeleng heran melihat kelakuan anaknya itu, “Bukankah sudah Umma bilang untuk menaruh mainan itu bersama barang-barang kita yang lain, Siwon-ah?”.

Siwon terkekeh garing, “Aku tak bisa berpisah dari mainanku, Umma”, ucapnya sambil memeluk mainannya.  Kyuhan mengacak rambut Siwon dengan gemas, “Aigo~ anak Appa sangat tampan!”, ucapnya senang.  Siwon tersenyum kea rah Ayahnya, “Tentu saja!  Siapa dulu Ayahnya~”, balas Siwon.

HyeonA menggeleng heran dan beranjak pergi meninggalkan suami dan anak sulungnya itu.  “Hhh~ like father like son”, gumamnya pelan sedangkan Jiyoo sudah tertidur didalam gendongannya.  HyeonA tersenyum menatap anaknya itu dan mengecup keningnya lembut.

——

12 Years Later…

 

“Seoul?  Kita harus kembali ke Seoul?!”, tanya Jiyoo tak percaya.  Kyuhan dan HyeonA mengangguk tenang,  “Appa harus lebih konsentrasi untuk membuka lebih banyak cabang perusahaan di Korea”, ucap Kyuhan.

Jiyoo mendesah kesal, “Argh, daddy. I don’t want it.  Why don’t  you ask your employee to do that things for you?”, ucap Jiyoo sambil mengoleskan selai coklat ke rotinya.  HyeonA mengelus rambut Jiyoo dengan lembut, “Jika kau tak betah di sana, kau boleh kembali ke sini lagi, Jiyoo-ya”.  Jiyoo masih tak peduli dan menggigit rotinya dengan sebal.

Morning, Choi’s”, ucap Siwon seraya menuruni tangga dan melangkah menuju meja makan.  Dia mengacak rambut Jiyoo dari belakang dan langsung mendapatkan tatapan ganas dari sang empunya, “Choi Siwon!  How dare you?!”, sentak Jiyoo sambil merapikan kembali tatanan rambutnya sedangkan Siwon hanya terkekeh pelan dan duduk di sebelah Ibunya.

HyeonA menatap kedua anaknya itu sambil menggelengkan kepalanya dengan heran, “Don’t bother your Sister, Siwonnie”, ucapnya sambil menyerahkan serangkap roti tawar pada Siwon.  Siwon mengangkat bahunya dan mengambil selai strawberry, “But it’s fun, Mommy”, ucap Siwon sambil menatap adiknya yang tengah mencibir kesal sambil merapikan bandana rambutnya.

Kyuhan menatap Siwon, “Bagaimana kuliahmu?”.  Siwon tersenyum lebar, “Perfect!  As Usual, Daddy”, ucapnya tenang dan membuat Jiyoo mendelik ke arahnya. “Want to show off, huh?”, tanya Jiyoo pada Siwon.  Siwon mengangkaat bahu, “No.  Memang apa yang perlu dipamerkan?”, dia balas bertanya dan mulai menggigit rotinya.

Jiyoo menghela nafas dalam-dalam dan segera bangkit dari meja makan, “I’m done.  Gotta go now.  Bye, Mom.  Bye, Dad”, ucapnya.  HyeonA dan Kyuhan menggumam pelan sedangkan Siwon menatap adiknya itu dengan heran, “Ya!  Jiyoo-ya, don’t want say goodbye to me?

Jiyoo berbalik dan menjulurkan lidahnya ke arah Siwon, “Just  in your dream, Choi Siwon”, dan dia kembali beranjak menuju mobilnya yang terparkir di garasi.  Saat mobilnya telah melaju di jalan raya, Jiyoo segera menyalakan CD playernya dan mengalunlah nada manis gubahan Josh Groban.

Jiyoo mendesah pelan dan kembali memikirkan kejadian barusan.  Tentang keluarganya, ah..tidak, bukan tentang orang tuanya tapi tentang Siwon –lebih tepatnya-.   Siwon yang pintar, Siwon yang tampan, Siwon yang rajin, Siwon yang terkenal, Siwon yang sempurna.

Jiyoo merutuk pelan dan memukul setir mobilnya.  Kenapa dia amat sangat berbanding terbalik dengan Oppanya itu?  Kenapa ia tak bisa sepintar Siwon?  Kenapa ia tak bisa sesempurna dia?  Padahal mereka berdua adalah adik kakak, tapi rasanya perbedaan mereka terlalu jauh.  Sangat amat jauh.

Oke, orang tuanya memang tak pernah mempermasalahkan hal ini.  Mereka mau menerima Jiyoo apa adanya, dengan segala kekurangannya.  Tapi Jiyoo merasakan tekanan yang cukup besar saat menyadari bahwa kakak’nya jauh lebih sempurna darinya.  Dia ingin lepas dari tekanan ini, tapi bagaimana caranya?

“Aku tak ingin menjadi Choi Jiyoo.  Aku ingin menjadi orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan Choi Siwon”.

——

Nara membuka matanya dengan berat.  Dia mengerang sejenak dan segera melirik kea rah jam dinding yang tergantung di kamarnya, pukul 01.30 pagi!   Dia langsung bangun dengan semangat kea rah dapur dan mengeluarkan sebuah kue coklat yang berukuran cukup besar.  Setelah selesai menyusun lilin di atas kue itu, Nara langsung berjingkat tanpa suara kearah kamar orang tuanya.  Dia membuka kenop pintu tanpa suara dan…

“Umma!  Saengil Chukkaeyo!!”, teriak Nara ceria.  Tapi yang dia dapati hanya sebuah ruang kosong tanpa penghuni.

Nara terdiam sejenak dan kemudian menghela nafas dalam-dalam. “Masih belum pulang rupanya.”, desahnya kecewa dan kembali menutup pintu kamar orangtuanya dengan perasaan hampa.

Nara melangkah lunglai kea rah meja makan dan merebahkan dagunya di meja makan.  Dia menatap lilin yang masih menyala indah di atas kue coklat itu, dan lagi-lagi mendesah pelan.  Akhirnya dia mengeluarkan handphone’nya dan memencet beberapa nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.  Beberapa saat menunggu, akhirnya telefon tersebut diangkat, “Yoboseyo, Umma?”.

“Nara-ya, jangan telefon Umma dulu.  Umma sedang presentasi bersama Appa. Oke?”, dan telefon itu langsung berakhir tepat saat kata-kata itu selesai diucapkan.  Nara menatap layar handphone’nya dengan nanar.  Dia beralih membuka aplikasi SMS dan memutuskan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat.

Umma, saengil chukkaeyo~ ^^

Jaga kesehatan Umma, jangan terlalu kelelahan.

Sampaikan salamku untuk Appa juga.

Saranghae❤

Saat pesan itu terkirim, Nara menatap kue tart yang tadi ia bawa.  Lilin berhiaskan angka 40 terpajang manis di atas kue itu.  Nara mendesah pelan dan memainkan handphone di tangannya, tak tahu apa yang harus dilakukan.  Apa dia harus menunggu Umma dan Appanya hingga mereka pulang?  Tapi pertanyaannya, kapan mereka akan pulang?

Dia kembali menyadarkan dagunya di meja makan dan memainkan jarinya untuk menyentuh lilin itu. 

Rasanya sama sekali tak panas, apakah semua indra di tubuhnya sudah tak berfungsi?  Dia tak bisa merasakan perasaan apapun.

Dia ingin menangis, tapi untuk apa dia menangis?  Toh segala hal ini sudah menjadi hal yang biasa baginya.  Sendiri, menunggu dan hampa.

Entah sejak kapan orangtuanya menjadi sangat sibuk seperti sekarang.  Mungkin semenjak Ayahnya mendapat jabatan cukup tinggi di perusahaannya dan Ibunya yang kebetulan menjadi asisten Ayahnya, Nara menjadi amat terbiasa hidup sendiri.  Dan tak ada yang bisa disesali dari hal itu.  Baginya, segala yang terjadi saat ini tak akan pernah bisa dirubah.  Dan inilah takdirnya, hidup sendirian, sama seperti 12 tahun lalu saat dia masih tinggal di Panti Asuhan.

Nara bangkit dan duduk dengan tegap sambil menghadap kea rah kue coklat itu.  Dia menatap kue itu dan akhirnya mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil memejamkan kedua matanya.  Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum mengucapkan permohonan itu.  “Semoga Appa dan Umma tetap sehat.  Dan aku tak lagi sendirian, aku..”, kata-katanya terpotong dan dia terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin menjadi orang lain.  Bukan Kwan Nara yang selalu sendirian”, ucapnya tanpa sadar.  Rasanya alam bawah sadarnya sendiri yang mengucapkan kata-kata itu.  Tapi Nara merasa tenang dan puas saat dia berhasil mengucapkan kata-kata itu.  “Hoaahm~”, Nara menguap pelan dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan kembali menjalani hari-harinya yang penuh..kesendirian.

——

T.B.C

4 thoughts on “Tears Of Polaris_Introduction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s