Tears Of Polaris {3rd Chapter}

Hyukjae membuka tirai kamarnya yang menghadap langsung ke jendela kamar Nara. Dia melihat lampu di kamar gadis itu masih mati, belum menyala. Aneh, biasanya Nara langsung pergi ke kamar setelah pulang dari tempat les dan kemudian mengobrol dengan Hyukjae di atas jembatan kayu yang menghubungkan kamar mereka berdua.

Hyukjae mendesah pelan dan kembali menutup tirai jendelanya, “Mungkin sedang makan”, gumamnya pelan dan merebahkan diri di atas ranjangnya. Pandangannya langsung tertuju ke langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, otaknya masih sibuk memikirkan Nara, gadis yang…ah, entahlah, Hyukjae sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri.

Entah apa yang terjadi pada gadis itu, tapi ia merasa bahwa hari ini gadis itu terlihat berbeda. Amat sangat berbeda. Dan perbedaan yang terjadi pada Nara hari ini membuat perasaannya makin tak menentu dan mungkin…sedikit berdebar saat melihatnya.

Hyukjae menggeleng cepat, “Aniya, Hyukjae! Andwae~ Kau boleh suka siapapun selain dia. Kau…tak boleh melanggar janjimu”, gumamnya sambil mengepalkan tangannya. Pikirannya kembali ke kejadian 4 tahun yang lalu, kembali ke saat dimana dia melakukan sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

——–

April 2006, Seoul…

Hyukjae membuka jendela kamarnya dan berjalan menyebrangi jembatan kayu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Nara. Dia mengetuk jendela kamar Nara dan tak lama kemudian sesosok wajah langsung tersenyum kearahnya. “Waeyo?”, tanya Nara padanya.

Hyukjae menunjukkan buku paket Bahasa Inggris yang ada di tangannya, “Bisa membantuku mengerjakan PR?”, ucapnya . Nara mencibir pelan tapi akhirnya dia membuka kaca jendelanya lebih lebar supaya Hyukjae bisa masuk ke dalam kamarnya. “Masuklah”, ucapnya dan Hyukjae langsung melompat senang.

Hyukjae langsung duduk di atas tempat tidur Nara tanpa sungkan, dia memang sudah menganggap bahwa kamar Nara adalah kamarnya sendiri dan Nara sendiri juga tak pernah ambil pusing tentang sikapnya ini.

Jadi, apa yang mau kau tanyakan?”, tanya Nara sambil mengambil buku paket Bahasa Inggris milik Hyukjae. Hyukjae hanya menggumam pelan sambil mengelus perutnya, “Itu..tidakkah kau merasa bahwa otak kita akan berfungsi lebih lancar jika ada cemilan?”.

Nara menatap Hyukjae tak percaya dan memukul kepalanya dengan buku paket Bahasa Inggris itu, “Ya! Kau mau menanyakan PR atau malah ingin menumpang makan cemilan?”, tanya Nara. Hyukjae hanya meringis pelan sambil mengusap kepalanya, “Hei~ Aku hanya menyarankan saja”, ucapnya pelan.

Nara mendengus kesal tapi akhirnya beranjak dari kasurnya, “Arayo, tunggulah sebentar”, ucapnya dan membuat senyum Hyukjae langsung terkembang lebar. Sahabatnya yang 1 ini memang tak pernah bisa menolak permintaannya.

Hyukjae mendesah dan merebahkan tubuhnya ke kasur, matanya mengelilingi seluruh penjuru kamar tapi akhirnya berhenti di meja belajar milik Nara. Dia melihat meja itu agak berantakan dengan beberapa kertas yang berserakan. Hyukjae penasaran dengan hal itu dan akhirnya beranjak kea rah meja belajar. Tak ada yang istimewa dengan kertas-kertas itu, tapi yang paling menarik perhatiannya adalah semua kertas itu bertuliskan 1 nama yang ditulis besar-besar : MARCUS.

Hyukjae terhenyak saat melihat nama itu dan dia merasa dadanya…sesak? Ah, tidak, dadanya tidak sesak tapi hatinya merasa…cemburu? Ani~tidak mungkin, dia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya, lalu kenapa dia merasakan rasa sesak ini kepada sahabatnya sendiri? Tidak, tidak..ini hanya shock semata karena tahu bahwa sahabatnya kini telah menaruh perhatian kepada seseorang. Ya, tidak lebih.

Snack yang ada dirumahku hanya tinggal ini, Hyukjae-ya”, ucap Nara sambil membawa beberapa bungkus snack dan sebotol minuman ringan. Hyukjae langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh kea rah Nara, “Ya, gwenchana”,ucapnya singkat dan kembali duduk di kasur. Nara mengangkat alisnya heran saat melihat Hyukjae yang tiba-tiba murung tapi ia hanya mengangkat bahunya, biarlah..sahabatnya itu memang sering uring-uringan mendadak dan tanpa alasan.

Hyukjae mendesah kencang dan membuka buku paket bahasa Inggrisnya tanpa minat, “Nara-ya..”, panggilnya dan membuat si empunya nama langsung menoleh. “Siapa Marcus itu?”, tanya Hyukjae cepat, bahkan ia sendiri pun tak menyadari bahwa kata-kata itu telah keluar dari mulutnya. Hyukjae merutuk dirinya sendiri, bukankah jika bertanya seperti ini maka akan menyiratkan bahwa dia cemburu pada Nara? Arggh, Lee Hyukjae pabo!!!

Nara memiringkan kepalanya, “Marcus?”, gumamnya dan melirik kea rah meja belajarnya, “Ahhh~ Marcus yang disitu?”, tanyanya sambil menunjuk kea rah kertas yang berserakan di meja belajarnya. Hyukjae mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya, sungguh..dia amat malu dan ingin menggali lubang untuk menyembunyikan dirinya sekarang juga!!!

Marcus itu temanku saat masih di Panti Asuhan. Kau tahu kan bahwa aku bukan anak kandung keluarga Kwan?”, tanya Nara memastikan dan Hyukjae lagi-lagi hanya bisa mengangguk.

Marcus itu…anak pemilik Panti Asuhan tempatku berada dulu. Entah siapa nama aslinya, tapi yang aku tahu, Ibunya selalu memanggilnya dengan nama Marcus. Dia hanya mampir ke Seoul selama beberapa bulan karena sesungguhnya dia tinggal di Canada bersama Ayahnya dan selama beberapa bulan itu, aku selalu bermain dengannya. Dia..anak yang baik, amat sangat baik”, jelas Nara sambil menerawang, seakan menghayati setiap kenangan yang terjadi di masa lalunya.

Dan kau…suka padanya?”, tanya Hyukjae dengan refleks. Tanpa pikir panjang, Nara langsung mengangguk cepat, “Tentu saja. Aku saaangat suka padanya dan aku yakin suatu saat nanti kami akan bertemu lagi karena kami sudah berjanji untuk menikah”, ucapnya sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan seuntai rantai yang tergantung sebuah kerang kecil, “Ini tanda pernikahan kami sewaktu masih kecil. Hanya sebuah kerang yang digantungkan ke sebuah rantai kalung. Hahaha~ sangat konyol bukan?”, gumamnya.

Hyukjae menelan ludahnya dengan susah payah, dan menatap Nara yang tersenyum manis sambil menatap kea rah kalung itu. Rasanya hati Hyukjae benar-benar remuk. Terlalu sakit baginya untuk melihat senyuman itu, karena sekarang ia tahu bahwa senyuman itu bukanlah untuk dirinya.

Aku yakin kalian akan bertemu lagi. Karena kalian sudah berjanji dan janji itu tak boleh diingkari, bukan begitu?”, tanya Hyukjae sambil mengacak rambut Nara lembut. Nara mengangguk yakin dan terkekeh pelan, “Ya~ Arayo. Aku akan menikah dengan seorang pria bernama Marcus dan kau dengan Donghae akan kujadikan pengiring pengantin pria. Hei~ bukankah itu hebat?!”, tanyanya semangat.

Hyukjae ingin menggeleng kencang tapi yang bisa dilakukannya kali ini hanyalah mengangguk lemah dan tersenyum getir, “Tentu saja, aku akan melakukan apapun yang bisa menjadi kebahagiaanmu”, ucapnya lirih karena pita suaranya seakan tercekat.

Nara tersenyum dan memeluk Hyukjae dengan sayang, “Aigooo~ sungguh sebuah anugrah terbesar bagiku karena bisa memiliki sahabat sepertimu, Hyukjae-ya”, ucapnya senang. Hyukjae mengangguk singkat sambil menepuk bahu Nara pelan, “Arayo. Aku memang sahabat yang baik”

Kita akan jadi sahabat selamanya, kan?”, kini Nara mengulurkan jari kelingkingnya tapi Hyukjae masih memandangnya dengan ragu. Tapi kemudian jari kelingkingnya kini bertaut di jari Nara dan ia menggumam pelan, “Ya, tentu saja. Best Friend Forever”.

Dan saat itu Hyukjae baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam kehidupannya : mengatakan “YA” disaat seharusnya dia berkata “TIDAK”

—————

Jiyoo masih menatap figura foto yang terpajang di ruang tengah itu dengan rasa heran yang membuncah. Segalanya terlalu rumit, amat sangat rumit. Siapa gadis yang ada di foto itu? Kenapa wajahnya amat sangat mirip dengannya? Apakah gadis itu adalah Kwan Nara yang dikenal oleh Hyukjae hingga ia tak curiga bahwa dirinya adalah sosok yang berbeda dengan Kwan Nara?

Jiyoo menjambak rambutnya dan jatuh terduduk, sebenarnya kebetulan apa ini?. Dia pernah mendengar bahwa ada 7 orang dengan wajah serupa yang tersebar di seluruh dunia ini, dan mungkin saja Kwan Nara adalah salah satu dari 7 orang itu, bukan?

Jiyoo menggeleng kencang dan menggigiti kukunya dengan gusar, “Ani, dia bukan hanya sekedar gadis yang berwajah sama sepertiku”, gumamnya. Dia merasa gadis itu memiliki satu hubungan lebih dengannya, hubungan yang terikat. Hanya itu yang dapat dia simpulkan sekarang.

Jiyoo mencoba bangkit dan menenangkan dirinya. Dia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Don’t have sudden panic when a sudden problem comes, Jiyoo. It won’t give you sudden solution”, ucapnya sambil menepuk pipinya. Setelah melakukan hal itu, dia beranjak mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah dan baru menyadari bahwa rumah ini…sangat sepi. Tak ada siapapun selain dirinya.

Jiyoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggumam heran, “Where’s her parents? Aren’t they should be here?”. Tapi akhirnya dia mengangkat bahunya dan mendesah pelan, “Who care about that thing?”. Dia mengangguk pelan dan tersenyum simpul, “Yaa~ jika Kwan Nara sudah kembali, maka aku juga akan kembali menjadi Choi Jiyoo. Bukankah itu hal yang mudah?”, gumamnya santai. “Dan yang paling penting, disini tak ada Choi Siwon, si manusia sok sempurna itu”

Akhirnya Jiyoo menaiki tangga menuju lantai 2 dan menemukan sebuah kamar bertuliskan, “NARA ROOM’S” yang terpampang di sebuah kamar. Jiyoo menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu kamar dengan perlahan.

Jiyoo menyalakan lampu kamar dan yang menyambut matanya kali itu adalah sebuah kamar yang dicat berwarna coklat krem dan beberapa furniture sederhana yang ada di dalamnya. Ada beberapa boneka Pucca yang terletak di pojok kasur dan beberapa kertas yang tertempel di dinding berupa jadwal pelajaran, jadwal kegiatan, beberapa foto Nara beserta Hyukjae dan Donghae dan sebuah kertas kaligrafi bertuliskan “MARCUS”.

Jiyoo menatap tulisan Marcus itu dengan pandangan heran, “Is it her boyfriend name?”, tanyanya lebih pada dirinya sendiri. Pandangannya kemudian beralih pada meja belajar yang ada di kamar itu dan melihat sebuah kamus Bahasa Korea tergeletak diatasnya. Jiyoo mendekati meja itu dan mengambil kamus tersebut. Pikirannya kembali teringat ke kejadian tadi sore,

Berhentilah menggunakan Bahasa Inggris, Nara-ya. Kau mau mengejekku terus-terusan?”

Senyuman di bibir Jiyoo kembali terkembang tipis dan ia menghela nafas pelan sambil membuka kamus Bahasa Korea itu, “Its not bad to learn your own country language, Choi Jiyoo”, bisiknya pada dirinya sendiri.

Dan baru pada kali itu Jiyoo menyadari bahwa dia ingin melakukan sebuah perubahan untuk menyenangkan hati orang lain. Untuk Lee Hyukjae.

———–

Siwon beranjak keluar dari lobby apartement dengan langkah tergesa. Pikirannya sudah tak bisa berpikir dengan jernih, segalanya benar-benar terasa rumit baginya. Dia tak berani memberitahukan hal ini pada Ayahnya yang memiliki jantung lemah, dia tak ingin nyawa Ayahnya harus dipertaruhkan untuk hal ini. Dan pada akhirnya dia meyakinkan Ibunya untuk merahasiakan hal ini dari Ayahnya dan Siwon sendiri akan berusaha menemukan Jiyoo sebelum Ayahnya tahu tentang kasus penculikan ini.

Siwon-ssi”, seru seorang gadis sambil berlari menghampiri Siwon. Siwon menoleh dengan gusar dan akhirnya memaksakan seulas senyum nampak di wajah tampannya itu, “Ah, Ririn”, ucap Siwon seadanya dan kembali berjalan gusar. Ia tak ingin waktunya terbuang percuma demi keselamatan adiknya itu.

Ririn mulai berlari kecil untuk menyeimbangi langkah besar Siwon, “Where are you going?”, tanyanya. Siwon menekan alarm mobilnya dan langsung membuka pintu, “I need to find my sister, she’s kidnapped”,ucapnya singkat. Ririn tampak terkejut sejenak tapi kemudian dia langsung menggenggam lengan Siwon, “Hei, you’re newbie in Korea, right? I think you need a navigator”, ucapnya ringan.

Siwon mengangkat alisnya sejenak, “But, doesn’t you workin’ now?”, tanyanya sambil menatap ke arah blazer resepsionist yang dikenakan Ririn saat itu. Ririn tersenyum tipis dan kemudian membuka blazernya sehingga Ririn hanya memakai sebuah kaus ‘You-can-see’ beserta rok span hitam selutut yang biasa ia pakai untuk bekerja. “C’mon, Driver. Lets go!! Don’t waste our time”, serunya dan segera naik ke dalam kursi di sebelah pengemudi. Siwon hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya dan kemudian ikut naik ke dalam mobil lalu langsung menancap gas.

So, where will we go now?”, tanya Ririn sambil memasangkan sabuk pengamannya. Siwon mulai mengacak rambutnya dengan frustasi, “Beritahu saja semua tempat yang berpotensi bagi seorang penculik untuk menyembunyikan korbannya”, ucap Siwon dengan gusar. Ririn memijit keningnya sejenak, “Ahh~ I think we should go to… AAAA~ SIWON-SSI, WATCH OUT!!!”.

Siwon yang terkejut dengan teriakan Ririn, secara refleks langsung menginjak pedal gas. Setelah itu, dia menyadari bahwa di depan mobilnya ada sepasang siswa yang memakai seragam SMA juga sedang shock karena mobil Siwon hampir menabrak mereka.

Siwon memencet klakson dengan kencang dan langsung berteriak kea rah mereka berdua, “Use your eyes, dude!!”, teriaknya kasar sehingga membuat si siswa pria kelihatan geram tapi dengan segera ditahan oleh si siswi perempuan sehingga sang pria bisa meredam emosinya dan segera beranjak melewati zebra cross menuju trotoar.

Setelah itu Siwon kembali menancap gas untuk mencari keberadaan adiknya, Choi Jiyoo.

——–

Donghae dan Haejin berjalan beriringan setelah berbelanja bersama untuk mencari kado ulang tahun untuk Ayah Haejin. Mereka berjalan sambil tertawa pelan saat Donghae melontarkan beberapa lelucon yang membuat Haejin geli. “Lalu, kenapa air laut itu asin?”, tanya Donghae. Haejin diam sejenak dan mengangkat bahunya pelan, “Molla, bukankah itu sudah takdir bahwa air laut itu mesti asin?”, tanya Haejin balik.

Donghae menggoyangkan jari telunjuknya dan memasang wajah intelek, “No, No, No~ Selalu ada alasan dibalik sebuah kejadian, Haejin-ah”, ucapnya semangat. Haejin langsung menatap Donghae penasaran, “Oya? Kalau begitu, kenapa air laut bisa asin?”

“Karena ikan-ikan yang ada di laut itu letih berenang sehingga mereka berkeringat. Dan keringat ikan-ikan itu bercampur dengan air laut. Makanya air laut itu rasanya asin”, ucap Donghae dan membuat Haejin mendorong bahunya pelan, “Ya~! Teka-teki yang amat tidak masuk akal, Donghae-ya”, seru Haejin tapi tak urung lelucon Donghae itu membuat Haejin tertawa lagi.

Kini mereka berjalan santai melewati zebra cross tapi tiba-tiba saja suara decitan nyaring mobil itu langsung terdengar di telinga mereka. Ternyata ada sebuah mobil jeep mewah yang terhenti tepat hanya berjarak beberapa centimeter dari tempat Donghae dan Haejin berdiri sekarang.

Seorang pria yang ada di dalam jeep itu langsung berteriak kencang, “Use your eyes, dude!!”, teriaknya kasar dan membuat Donghae langsung geram. “Kau….”, seru Donghae kesal tapi tangan Haejin langsung menahan langkah Donghae, “Sudahlah, masalah ini tak perlu diperpanjang”, ucap Haejin tenang dan dia membungkuk singkat kepada pemilik jeep itu untuk meminta maaf.

Donghae mencoba menahan emosinya dan beranjak menuju trotoar sedangkan mobil jeep itu keembali melaju kencang. Haejin mendesah kencang, “Ya~ jangan kekanakkan seperti itu, Donghae-ya. Masalah seperti barusan tak usah diperbesar”, ucapnya sambil menoyor kepala Donghae pelan.

Donghae hanya mengangguk singkat dan tersenyum simpul, “Baiklah, ratu~”, godanya dan langsung membuat wajah Haejin memerah. Pria yang satu ini memang selalu tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik.

“Ngomong-ngomong, dimana Hyukjae?”, tanya Haejin penasaran. Donghae mengangkat bahunya santai, “Kau tahu sendiri bahwa dia adalah pengawal pribadi Kwan Nara. Jadi dia tak akan ikut bersamaku jika Nara tak ikut juga”, jelasnya dan membuat Haejin mengangguk paham. “Bukankah itu tandanya Hyukjae menyukai Nara?”, tanya Haejin

Donghae mendesah pelan, “Ahh~ entahlah. Saudaraku yang satu itu memang bodoh! Dia bilang bahwa dia sudah cukup puas dengan hanya menjadi sahabat bagi Nara”, katanya. Haejin mengerutkan keningnya heran, “Hyukjae berbeda sekali denganmu ya?”, tanyanya sambil menatap kea rah Donghae dan Donghae langsung merangkul leher Haejin kemudian mejitak kepalanya pelan.

Mereka tertawa sejenak sampai akhirnya Haejin berkata, “Jika Hyukjae tak mau bertindak lebih agresif, bagaimana jika kita yang membantu mereka untuk lebih ‘dekat’?”

Donghae tersenyum simpul saat mendengar usul gadis ini. “Hmmm, ide bagus~. Aku juga gemas melihat mereka berdua”. Haejin terkekeh pelan, “Jadi kau setuju untuk menjadi mak comblang mereka berdua?”

Donghae mengangguk cepat, “Tentu saja!”

———-

Nara terkulai lemas di atas kursi. Tubuhnya benar-benar seperti tak bertulang. Kaki dan tangannya masih diikat oleh tali yang cukup besar sedangkan mulutnya ditutup dengan selotip yang tak kalah besarnya.

Dengan tubuh yang lemas, dia masih mencoba mencari cara untuk melepaskan ikatan tangannya itu tapi hasilnya nihil, ikatan tangannya itu sama sekali tak berubah dari posisinya semula. Nara mendesah pelan dan akhirnya bersender pasrah ke belakang kursi. Sudah, tenaganya sudah benar-benar habis sekarang.

Ia mendongakkan kepalanya dan menerawang kea rah langit-langit kamar. Saat ini otaknya benar-benar dipenuhi oleh satu tanda tanya besar tetapi berisi banyak sekali pertanyaan, “Siapa 2 pria itu?” , “ Kenapa mereka menculiknya?”, “Siapa Choi Jiyoo yang tadi disebutkan oleh salah satu pria itu?”

Sekeras apapun Nara memeras otaknya, tetap saja ia tidak menemukan jawaban. Segalanya benar-benar terasa rumit baginya. Nara mencoba memejamkan matanya dan berharap bahwa segala yang terjadi hari ini hanyalah mimpi belaka dan saat ia membuka matanya, ia akan menjalani kehidupan seperti Kwan Nara yang penyendiri, Kwan Nara yang selalu ditemani oleh Hyukjae dan Donghae, Kwan Nara yang selalu menunggu kedatangan orang tuanya.

Nara mendesah lagi saat menyadari bahwa handphone’nya tertinggal di tas miliknya yang terjatuh di toilet saat pria ini menyerangnya. Kali ini dia hanya bisa pasrah pada kemampuan berpikir Lee Hyukjae, semoga saja dia menemukan tas miliknya dan dapat dengan cepat menyadari bahwa sahabatnya ini tengah diculik oleh oknum tak dikenal. Saat Nara masih sibuk berpikir, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sosok pria itu kembali muncul dihadapannya.

Kyuhyun melangkah pelan sambil membawa sepiring makanan serta segelas air putih untuk tawanannya itu. Awalnya ia tak ingin mengurusi gadis ini lagi, tapi setelah dipikir-pikir ia tak boleh membuat gadis ini mati terlebih dahulu sebelum Choi Corp hancur, karena gadis ini adalah kartu As untuk membungkam dan mengecam langkah keluarga Choi.

Kyuhyun menarik sebuah bangku lainnya ke depan gadis itu. Dia menaruh piring dan gelas itu di sampingnya dan kemudian ia membuka selotip yang menutupi mulut gadis ini dengan kasar. “AWWWW~!”, teriak gadis itu saat mulutnya sudah bebas dari selotip. Kyuhyun tetap tak peduli dan kini ia kembali mengambil piring itu dan mulai menyendok nasi.

Nara menggeleng lemas dan menghindar dari arahan sendok yang dipegang oleh Kyuhyun. Dia merasa lemas, tapi anehnya ia sama sekali tak ingin makan atau minum. Tenggorokannya benar-benar terasa pahit saat ini.

Kyuhyun terlihat jengah saat gadis di hadapannya ini tak mau membuka mulutnya juga, akhirnya dia memaksa dengan menjejalkan sendok berisi nasi itu ke dalam mulut Nara. Nara yang tak memilik tenaga untuk melawan, hanya bisa tersedak dan terbatuk-batuk setelah menelan makanan yang diberikan secara paksa oleh Kyuhyun.

Melihat Nara yang tersedak, ekspresi wajah Kyuhyun terlihat agak berubah. Terlihat seperti merasa…menyesal atau bersalah? Entahlah, perasaannya kali itu benar-benar campur aduk. Terlalu bingung untuk menjelaskan perasaan saat itu.

Akhirnya Kyuhyun menaruh kembali piringnya dan beranjak berdiri kemudian berjalan ke belakang kursi tempat Nara diikat. Perlahan namun pasti, Kyuhyun melepaskan ikatan yang ada di tangan Nara. Nara terlihat agak terkejut melihat sikap Kyuhyun, mana ada penculik yang melepaskan ikatan tawanannya? Apa dia tak takut bahwa Nara memiliki insiatif untuk kabur kapan saja?

Kyuhyun kini menaruh piring itu di atas paha Nara dan berkata pelan, “Kau..makanlah sendiri”. Nara memiringkan kepalanya dengan heran saat melihat Kyuhyun keluar dari kamar dan meninggalkannya sendiri. Kini ia menatap piring di hadapannya itu dengan hati ringan dan mulai menyendok sesuap demi sesuap nasi yang ada di piring itu. “Pria aneh”, ucap Nara dalam hati.

Kyuhyun keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Dia mengacak rambutnya dengan frustasi, lagi-lagi dia melihat sosok gadis kecil bernama Nara yang dulu dikenalnya muncul di dalam sosok seorang Choi Jiyoo. Saat melihatnya tersedak tadi, Kyuhyun merasa takut bahwa dia akan melukainya, sama seperti perasaannya 12 tahun yang lalu.

Dia mendesah pelan dan merogoh sakunya perlahan. Dia mengeluarkan seuntai kalung yang diujungnya tergantung sebuah kerang kecil dan tertawa miris saat otaknya kembali mengingat memori masa kecilnya dulu. “Bagaimana kabarmu, Nara? Masih mengingat janji kita 12 tahun yang lalu?”

Sementara itu Nara masih asyik menyuap nasi ke dalam mulutnya, tapi tiba-tiba dia teringat akan satu hal dan dia langsung merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan seuntai rantai perak dengan kerang berwarna putih yang menjuntai diujungnya. Nara menatap kalung itu dengan perasaan lega, “Syukurlah kalung ini tetap ada bersamaku”, ucapnya lega. Tapi kemudian pandangannya berubah menjadi redup dan senyum tipis terulas di bibirnya, “Marcus, tolong aku. Aku…ingin bertemu denganmu. Sekali saja, aku benar-benar ingin bertemu dan memenuhi janji kita 12 tahun yang lalu”, ucapnya lirih.

Nara menghela nafas dalam-dalam dan kembali memasukkan kalung itu dengan hati-hati ke dalam saku seragamnya, kini ia mulai meminum segelas air yang sudah disiapkan oleh Kyuhyun. Tak lama kemudian, Kyuhyun langsung masuk ke dalam kamar dan begitu melihat piring itu sudah tandas, maka ia kembali mengikatkan tangan Nara dengan tali yang sudah disiapkan tadi.

Nara hanya bisa diam dan mengikuti segala yang dilakukan pria ini. Dia sudah terlalu lelah untuk berontak, kini dia hanya bisa berharap bahwa orangtua serta 2 sahabatnya itu bisa segera menyadari bahwa dirinya sedang diculik.

Kyuhyun beranjak mengambil piring dan gelas itu kemudian berniat untuk keluar kamar, tetapi langkahnya tertahan saat gadis itu memanggil dirinya, “Hei”, ucapnya lirih. Kyuhyun menoleh cepat dan menatap gadis itu, “Mwo?”, tanya Kyuhyun singkat.

Nara mendesah pelan sebelum akhirnya berkata singkat, “Terima kasih”.

Tapi satu kata singkat itu benar-benar membuat Kyuhyun frustasi. Perasaannya tak bisa lagi diidentifikasi. Sosok gadis di hadapannya ini benar-benar seperti memutar semua ingatannya mengenai sosok yang amat dicintainya.

Kyuhyun hanya menggumam pelan dan dia kembali beranjak keluar kamar dan mengunci pintu kamar tempat Nara berada. Sedangkan Nara kembali mendongak menatap langit-langit ddan bergumam, “Lee Donghae, Leee Hyukjae, cepat temukan aku!”

—————–

T.B.C

4 thoughts on “Tears Of Polaris {3rd Chapter}

  1. hiyaaaa~~
    kyuhyun itu nara! teman kecilmuu naaak~~! cepetan sadar >.<
    ihhh so sweet ya janjian mau nikah trus masih nunggu🙂 ahhhh KyuNara disini bukan KyuNara yang menyeramkan xD /dihajar
    melihat sosok lain seorang KyuNara ~^^~

  2. kwkwkw…donghae pabo,mana ada air laut adin krn ikannya capek berenang lalu berkeringat…ckckck..ada-ada ajj..

    hmm..another surprise.ternyata nara bkn anak kandung kwan…bener2 kejutan,misterius nihh..
    harusnya kyuhyun liat klung milik nara donk..biar ketauan identitasnya…aigoo..penasaran saia..

  3. Aigooooo nara, itu marcus ada ddpnmu. Wkwkwk. Moga aj mreka b2 scra g sngja lht rantai berbandul kerang itu. Jd bs kenal satu sm lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s