Tears Of Polaris {2nd Chapter}

P.S : Tears Of Polaris {TOP} ini dimulai dari chapter Introduction, jadi jika ada reader yang baru membaca dari chapter 1, harap membaca chapt Introduction juga.  Karena chapt itu nggak kalah penting dari chapter lainnya. :]  Gomawo~ *bow*

——————-

Langkah Hyukjae dan Jiyoo terhenti di depan sebuah ruangan.  Hyukjae mengecek jam tangannya lagi, “Aish, gawat!  Terlambat 10 menit”, rutuknya.  Jiyoo masih menatap ruangan di depannya dengan penasaran, sebenarnya kemana pria ini membawanya pergi?

Hyukjae menarik tangan Jiyoo dan menyuruhnya berdiri di balik punggungnya, “Biar aku yang akan menghadapi Jang Sensei, Nara-ya.  Kau tak usah takut!”, ucapnya.  Jiyoo mengerutkan keningnya dengan heran, memangnya hal apa yang harus dia takuti?  Mereka bukan sedang akan masuk ke kandang macan, bukan?

Hyukjae membuka pintu ruangan itu dengan perlahan dan sosok tubuh tegap itu langsung menyambut mata Jiyoo.  Seorang pria asing yang bertubuh agak gemuk dan memakai jas abu-abu itu kini sedang berdiri menghadap papan tulis sambil memegang sebuah spidol.  Pria asing itu menatap Hyukjae dan Jiyoo lekat-lekat dan kemudian tersenyum lebar, “Ah, are you the student from this class?  C’mon, just get in.  Class’ve started since ten minutes ago”, ucap pria itu.

Hyukjae terlihat agak shock sedangkan Jiyoo memiringkan kepalanya dengan heran, “I think he’s not scary”, bisik Jiyoo pada Hyukjae.  Hyukjae masih heran tapi dia melihat Donghae melambai pada mereka dari dalam ruangan, Donghae menunjuk 2 buah bangku kosong yang ada di sebelahnya, “Sini, duduk di sini!”, desisnya.  Dengan menahan segala rasa heran yang ada di pikirannya, Hyukjae berjalan kea rah bangku yang ditunjuk Donghae sedangkan Jiyoo hanya mengekor dibelakangnya.

“Dari mana kalian? Kenapa bisa terlambat?”, tanya Donghae saat Hyukjae baru menghempaskan tubuhnya di kursi.  Hyukjae menunjuk Jiyoo dengan telunjuknya, “Menunggu sang putri selesai berdandan di toilet taman”, ucap Hyukjae santai sedangkan Jiyoo masih membuka-buka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis.

Donghae memanggil Jiyoo, “Kau..berdandan?”, tanyanya tak percaya saat melihat bibir Jiyoo yang dipoles lipstick pink dan pipinya yang ditaburi bedak.  Jiyoo memiringkan kepalanya, masih agak bingung dengan apa yang diucapkan Donghae.  Sebenarnya dia masih agak kurang paham dengan bahasa Korea karena hampir sepanjang hidupnya ia habiskan di Los Angeles, “Hah?”, tanya Jiyoo.

Hyukjae menengahi pembicaraan mereka, “Sudahlah, mungkin insting ‘princess’ sedang muncul dalam tubuhnya”, ucapnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis.  Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya heran, “sepertinya hari ini akan ada badai karena Kwan Nara yang kita kenal sudah mulai mengenal alat-alat kosmetik”, sahut Donghae sambil mengelus dadanya.

“Keundae, kenapa ada turis ini di kelas kita? Bukankah seharusnya jadwal hari ini adalah Bahasa Jepang?  Aku sampai takut jika Jang Sensei akan mengamuk jika aku dan Nara datang terlambat”, kata Hyukjae heran.  Donghae menjawab tanpa menoleh, “Molla, tapi ada kabar bahwa Jang Sensei sedang ambil cuti untuk mengurus pernikahannya.  Jadi jadwal hari ini diubah menjadi Bahasa Inggris”.

Hyukjae mengangguk paham tapi kemudian menggidik ngeri, “Matilah aku!  Kau tahu sendiri jika bahasa Inggrisku hancur berantakan, Hae-ya”, ucap Hyukjae.  Donghae terkekeh pelan dan menepuk pundak Hyukjae dengan iba, “Terimalah nasib burukmu ini, Hyukjae-ah”.

Hyukjae mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah sahabatnya itu.  Gadis di sampingnya masih memperhatikan papan tulis tanpa ekspresi dengan pandangan kosong.  Hyukjae  tersenyum kecil saat melihatnya menguap kecil dan mengucek matanya dengan bosan, rasanya setiap hal yang dilakukan olehnya hari ini terlihat amat menarik.  Tapi ia segera menggeleng dan menepuk pipinya sendiri, “Ani, Hyukjae-ya!!  Dia dongsaengmu.  Ingat!! Hanya dongsaeng~!”

Jiyoo menguap  pelan dan menggaruk pipinya sejenak, dia menatap bosan ke arah papan tulis dan pria itu kini sedang menjelaskan struktur kalimat hortatory & analytical expotition.  Jiyoo mendesah kesal dan merutuk dalam hati, dia sudah mempelajari semua hal ini semenjak masih SD di Los Angeles.  Lalu kenapa siswa di Korea baru mempelajari hal ini di kelas 3 SMA?  Bukankah ini hal yang memalukan untuk mempelajari materi yang setaraf dengan murid SD?

“Nara! Nara-ya~”, bisik Hyukjae sambil menyenggol lengan Jiyoo.  Jiyoo tersentak dari lamunannya dan menoleh ke arah Hyukjae.  “Pria itu memanggilmu dari tadi”, desisnya sambil menunjuk kea rah pria asing itu.  Jiyoo mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat pria asing itu sedang menatap ke arahnya, “Are you Kwan Nara?”, tanyanya.

Jiyoo bingung harus menjawab apa, apa dia harus mengaku bahwa dia adalah Choi Jiyoo, bukan Kwan Nara?

Jiyoo menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering dalam sekejap.  Dia mengangguk dengan ragu, “Yes, sir. I’m Nara, Kwan Nara”, ucapnya singkat.  Dia merasa sudah terlanjur basah, jadi kenapa tak mandi sekalian?  Terlalu terlanjur jika dia mengaku sekarang bahwa dia adalah Choi Jiyoo.

Pria itu mengangguk paham dan akhirnya menanyakan sesuatu pada Jiyoo, “Oke, Ms. Kwan Nara, can you explain to us about Hortatory exposition?”

Jiyoo menghela nafas dan menjawab dengan tenang, “It used to persuade the reader or listener that something should or should not be the case.  The structure is Thesis, Arguments and Recommendation”.

Hyukjae dan Donghae menatap Jiyoo tak percaya, “Ini..Kwan Nara kan? Sejak kapan dia pintar cas-cis-cus bahasa Inggris?!”, bisik Donghae pada Hyukjae.  Hyukjae menggeleng heran dan langsung menyentuh kening sahabatnya itu, “Kau tak apa-apa? Gwenchana? Apa di toilet taman tadi kau kerasukan setan turis yang terbunuh di sana, Nara-ya?”, tanyanya khawatir.

Jiyoo menepis tangan Hyukjae dan kembali memperhatikan gurunya itu, “My answer Is correct, Mister?”, tanyanya dengan yakin.  Gurunya langsung bertepuk tangan dan memuji Jiyoo tanpa henti.  Sedangkan Hyukjae dan Donghae hanya bisa tercengang melihat temannya itu tersenyum penuh kemenangan pada mereka berdua.

So Mr. Lee Hyukjae, can you explain about news item?”, kini guru itu langsung beralih pada Hyukjae yang tersentak kaget.  Hyukjae menatap Donghae dengan penuh permohonan untuk meminta bantuan, tapi Donghae hanya mengangkat bahu.  Ahh, saudaranya itu memang sama parahnya seperti dia dalam Bahasa Inggris.

Hyukjae beralih kea rah Jiyoo, tapi Jiyoo balas menatapnya dengan tatapan penasaran yang amat besar dan tersenyum simpul padanya. “C’mon.  I know you can”, bisik Jiyoo memberi semangat.  Hyukjae meneguk ludahnya dengan penuh usaha, rasanya pita suaranya tiba-tiba tak berfungsi dan benar-benar tercekat.  Argh, kenapa nasibnya harus selalu sial dalam pelajaran Bahasa Inggris?!

Akhirnya dia meneguk ludahnya lagi dan berkata singkat, “Yeah, nice weather, mister”.

————-

Kyuhyun menghentikan mobilnya tepat di sebuah bangunan sederhana.  Dia menengok kearah gadis yang masih tertidur di sampingnya.  Dia masih pingsan,  pikir Kyuhyun.

Kyuhyun membuka flip handphone’nya itu dan kembali menghubungi ‘kawan’nya, “Yoboseyo, hyung?  Aku sudah sampai di depan rumah Hyung.  Bantu aku mengeluarkannya dari mobil.  Aku takut ada orang lain yang curiga jika hanya aku yang membopongnya sendirian”, jelas Kyuhyun.

Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari dalam rumah dan beranjak mendekati mobil milik Kyuhyun.  Pria itu mengetuk kaca mobil dan memberi isyarat untuk menurunkan kaca mobilnya.  Kyuhyun mengikuti arahannya dan kini ia langsung bertatap muka dengan kawan’nya itu.

“Dimana dia?”, tanya pria itu.  Kyuhyun menunjuk bangku penumpang di sebelahnya, “Itu dia, Choi Jiyoo”.

Pria itu mengangguk paham dan mengeluarkan selembar foto dari dalam sakunya.  Dia membandingkan wajah gadis di dalam mobil itu dengan gadis di dalam foto dan mengangguk pelan, “Bagus, kau telah melakukan hal ini dengan baik.  Sekarang ayo bawa dia masuk ke dalam rumah”, ucap pria itu dan berjalan mengelilingi mobil.

Kyuhyun melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh ‘korban’nya itu, dan pria lainnya segera memasangkan sweater bertudung di tubuhnya untuk menyembunyikan wajah Nara dan menghilangkan kecurigaan tetangga di sekitar rumahnya.

Pria itu mulai mengangkat tubuh Nara dan kini ia langsung membopong tubuhnya ke dalam rumah sedangkan Kyuhyun bertugas mengawasi keadaan sekitar. Setelah yakin tak ada siapapun di sekelilingnya dan merasa aksinya ini tak diketahui oleh siapapun, dia langsung ikut masuk ke dalam rumah.

Kyuhyun baru akan menutup pintu rumah saat melihat pria itu berjalan keluar dari kamar tidurnya sambil menepuk-nepuk bajunya.  Ia bergumam pelan, “Bau obat biusnya sangat tercium, Kyuhyun-ah.  Sepertinya kau terlalu banyak menuangkan chloform”, gumam pria itu dan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tengah.

Kyuhyun mengangkat bahunya tak perduli, “Entahlah, aku melakukan segalanya diluar kesadaranku”, ucap Kyuhyun tenang.  Ia beranjak kearah kamar dan mengecek keadaan korbannya, sekarang yang ia lihat adalah sesosok tubuh yang sedang duduk dan terkulai lemas di sebuah bangku kayu dan tangannya diikat oleh beberapa utas tali yang tebal.  Mulutnya ditutup oleh selotip besar sehingga Kyuhyun yakin dia tak akan pernah bisa berteriak jika kesadarannya sudah kembali.

“Sedang apa kau disana?”, tanya pria itu.  Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan dan menutup pintu kamar sekaligus menguncinya.  Dia melengos pelan dan menghampiri temannya, “Jadi, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, ZhouMi hyung?”

ZhouMi terkekeh pelan dan melemparkan handphone’nya pada Kyuhyun, “segera beritahu keluarga Choi bahwa nasib anak gadisnya yang manis ada di tangan kita”, jawabnya sinis.

————

Siwon masuk ke dalam apartement dengan langkah ringan, dia tak bisa berhenti tersenyum setelah kencannya dengan Ririn membuahkan hasil yang cukup memuaskan.  Dia bersiul pelan dan mulai melepaskan sepatunya kemudian meletakkannya di rak sepatu.  “I’m home, Mommy”, ucapnya.

Dia melangkah ke ruang tengah dan melihat Ibunya sedang menyiapkan alat makan di atas meja makan, “Oh, kau sudah pulang?”, tanya HyeonA, Siwon mengangguk dan menggantungkan jaketnya di coat hanger.  Dia mengelilingkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tapi tetap tak menemukan objek yang dicarinya, “Where’s Jiyoo?”, tanyanya penasaran.

HyeonA menaruh piringnya dan menatap Siwon, “Take a walk outside, she said”, jawab HyeonA.  Siwon mengangguk paham dan mendekati HyeonA yang tengah menata hidangan, “Mommy, do you know why she’s always angry to me?”, tanya Siwon.

HyeonA menatap Siwon sambil tersenyum simpul dan mengacak rambut anaknya itu, “You just’ve to treat her better, Siwonnie”, kata HyeonA dan Siwon masih belum bereaksi banyak saat mendengar perkataan Ibunya itu.

Siwon bingung, benar-benar bingung.  Sebenarnya apa yang membuat adiknya itu selalu ketus padanya?  Rasanya dia sama sekali tak pernah berlaku aneh ataupun melakukan sebuah kesalahan yang fatal pada Jiyoo, tapi kenapa dia selalu saja merasa bahwa Jiyoo menganggapnya seperti musuh yang harus dibasmi dan dijauhi?

Siwon mengacak rambutnya, merasa frustasi.  Akhirnya dia memutuskan untuk membantu HyeonA untuk menata hidangan sebelum tiba waktunya makan malam, tapi tiba-tiba otaknya mengingat sesuatu yang menjadi tanda tanya besar di otaknya sejak dulu.

Mommy, can I ask you something?”

HyeonA menggumam mengiyakan sambil masih mengaduk sup jamur buatannya.  Siwon menghela nafas sebelum memutuskan untuk mengatakan, “Jiyoo is my real sister, right?”.

Tangan HyeonA yang sedang mengaduk sup kini langsung terhenti saat mendengar pertanyaan anaknya itu.  Dia beralih menatap Siwon yang menatapnya dengan pandangan penasaran, “Bagaimana bisa kau mempunyai pikiran untuk menanyakan hal itu?”, tanyanya.  Siwon hanya mengangkat bahu, “Aku hanya ingat sekilas bahwa aku pertama kali melihat Jiyoo di dalam keranjang rotan di tanganmu”, jawabnya.

“Dan aku tak pernah mengingat bahwa kau pernah mengandung Jiyoo”, tambahnya.

HyeonA mengelap tangannya di celemek yang ia kenakan dan menghampiri Siwon, “Siwonnie, sometimes in life..we forget the things we should remember and remember the things we should forget”, jawab HyeonA sambil mengelus pipi Siwon.  “Jadi, lupakanlah segala hal yang dulu pernah kau ingat sebagaimana kau melupakan hal yang seharusnya kau ingat”.

Siwon menatap Ibunya dengan heran, “Pardon?”, tanyanya memastikan

HyeonA tersenyum simpul, “Yang harus kau ketahui sekarang hanyalah Choi Jiyoo sudah menjadi bagian dari keluarga kita semenjak 17 tahun yang lalu, dan kau harus memperlakukannya dengan baik.  Got it?”, ucapnya.

Siwon masih belum mengerti apa yang dikatakan Ibunya itu, tapi dia memutuskan untuk mengangguk mengiyakan.  Mungkin lain waktu dia akan menemukan jawabannya sendiri mengapa perlakuan adiknya itu selalu berbeda padanya.

By the way, where’s she?”

KRRIINGG..KRRINGGG

Telefon di apartement bordering nyaring.  Siwon saling berpandangan dengan HyeonA tapi akhirnya HyeonA melepaskan celemeknya dan beranjak menuju telefon, “Maybe it’s from her”, ucapnya.

Siwon hanya tersenyum melihat tingkahnya dan dia berniat untuk mencicipi sup jamur buatan Ibunya, tapi tiba-tiba saja teriakan histeris Ibunya langsung terdengar.  Ia bergegas menuju tempat HyeonA dan ia melihat HyeonA sedang menangis dan berkata dengan nada berat dan nafas yang sesak, “Baiklah, akan kuturuti semua permintaanmu asalkan jangan sakiti Jiyoo.  Perlakukan dia dengan baik”.

Siwon langsung merasa dunianya berputar dalam sekejap, dia langsung berlari menuju HyeonA dan merebut gagang telefon dari tangannya.  “Siapa kau?!  Dimana Jiyoo sekarang?”, bentak Siwon kalap.

Suara berat disana menjawab dengan dingin, “Dia masih baik-baik saja hingga saat ini.  Tapi jika kalian mencoba macam-macam dengan menghubungi polisi, maka aku tak bisa menjamin kau masih bisa melihat Choi Jiyoo dalam keadaan hidup”.

Siwon menelan ludah dengan takut dan akhirnya mencoba sedikit bersikap tenang, “Baiklah, apa yang kau inginkan?”.

Suara di seberang menjawab dengan angkuh, “Melihat Choi Corp hancur”.

Siwon menggeleng tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, “Hah? What are you talkin’ about? That’s nonsense!”.  Suara diseberang hanya terkekeh pelan dan menjawab singkat, “Akan kubuhungi kau kembali saat aku sudah mendengar berita tentang kehancuran Choi Corp”.

Siwon hanya bisa berdiri mematung saat telefon itu terputus sedangkan HyeonA mulai menangis histeris.  Siwon menjambak rambutnya, frustasi.  Dia mengambil handphone’nya dan memencet dial number milik Jiyoo, tapi hasilnya nihil.  Telefon itu sama sekali tak tersambung kepada pemiliknya.

Siwon menggigit bibirnya dengan kesal, otaknya tak bisa berpikir jernih lagi.  Kini pikirannya hanya tertuju pada adiknya itu.  “Jiyoo-ya, eodiya?!!”

—————-

Nice weather?!  Hahahahaha~!”, Jiyoo masih tertawa terbahak sambil memegangi perutnya.  Donghae juga ikut tertawa tapi tak separah Jiyoo karena dia tahu bahwa dirinya tak lebih baik jika dibandingkan dengan saudara sepupunya itu.

Hyukjae menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap Jiyoo dengan pandangan memohon, “Nara-ya, sudahlah~  Hentikan tawamu itu, kau membuat banyak orang melihat kea rah kita!”, seru Hyukjae sambil menutup kepala Jiyoo dengan topi baseball miliknya.

Jiyoo menyeka air mata yang muncul di pelupuk matanya, dan masih terkekeh pelan, “But, what did you say before is too funny!  Nice Weather?!  Hahahaha~”, Jiyoo lagi-lagi tertawa kencang, dan tanpa disadari, Hyukjae juga ikut terkekeh pelan sambil mengacak rambut sahabatnya itu.

Donghae menatap mereka berdua dari belakang sambil tersenyum penuh arti, “Ah~Tampaknya aku harus menjadi comblang bagi mereka”, ucapnya datar dan menghela nafas dalam-dalam.

Tapi tiba-tiba handphone Donghae bordering dan tampak sebuah nama yang membuat senyum Donghae langsung terkembang lebar, “Yoboseyo, Haejin-ah?”

Tepat saat mendengar nama Haejin, Hyukjae langsung menoleh ke belakang dan melihat Donghae yang sedang semangat 100%.  “Ya, aku juga sedang di situ.  Kau sedang apa di sana? Apa? Mencari kado untuk ayahmu?  Baiklah, aku akan segera ke sana~  Tunggu aku!”, ucap Donghae dan segera menutup flip handphonenya.

Dia menatap kea rah Hyukjae dan tersenyum lebar, “Yaa~Hyukjae-ah, aku pergi dulu menemui cintaku!!!  Annyeong~”, Donghae langsung berlari dengan gaya layaknya seorang Superman yang ingin menyelamatkan cintanya.  Hyukjae melengos dan kembali menatap ke depan, tapi Jiyoo menatap kepergian Donghae dengan heran, “Where’ll he go?”, tanyanya.

Hyukjae mengangkat bahu dan menjawab datar, “menemukan cintanya”, ucap Hyukjae dan berekspresi seolah-olah akan muntah setelah mengatakan hal itu.  Jiyoo memiringkan kepalanya, msih belum mengerti, “Pardon?”, tanyanya lagi.

Hyukjae menatap Jiyoo lagi, kali ini dengan pandangan yang sudah-amat-muak, “Nara-ya, sampai kapan kau mau berbicara bahasa Inggris terus-menerus?!  Sampai kapan kau mau mengejekku, Nara-ya?”, tanyanya.

Jiyoo terlihat seperti mencerna sebentar setiap kata yang diucapkan oleh Hyukjae dan akhirnya mengangguk paham, dia menagkupkan kedua tangannya kea rah Hyukjae dan berkata, “Jwosonghamnida, Hyukjae-ssi”, ucapnya kaku.

Jiyoo tersenyum manis dan mengedipkan matanya beberapa kali sehingga membuat Hyukjae langsung memalingkan mukanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, “Ya!! Sejak kapan kau berlatih aegyo seperti itu?”

Jiyoo hanya mengangkat bahu dan memilih untuk tak berbicara sepanjang perjalanan ke rumah Kwan Nara, setidaknya ia tak ingin kebohongannya ini terungkap.  Dia mulai menikmati dirinya yang menjadi Kwan Nara.  Dia menikmati memiliki teman seperti Hyukjae & Donghae.  Ia menikmati dirinya yang baru ini.

Jiyoo merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan handphone’nya.  Ternyata tidak aktif karena baterainya yang sudah habis, dan sialnya dia tak membawa charger’nya.  Jiyoo menghela nafas berat dan kembali memasukkan handphone itu ke dalam saku.  Sudahlah, toh tak akan ada yang berniat mencarinya.  Jiyoo yakin akan hal itu.

Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah masing-masing, untunglah Jiyoo melihat ada sebuah rumah yang dipasangi papan nama bertuliskan “Kwan’s”, maka ia yakin bahwa ini adalah rumah Kwan Nara, orang yang sedang ia jalani perannya.

Jiyoo sempat bingung sejenak untuk mencari kunci pintu rumah tapi Hyukjae tiba-tiba berteriak dari lantai 2, “kau selalu saja lupa menyimpan kunci rumah, Nara-ya.  Bahkan kau tidak ingat bahwa kau menitipkan kunci rumahmu padaku?”, serunya sambil menggoyangkan segantung kunci kea rah Jiyoo.

Jiyoo mendesah lega dan berseru, “Give it to me~!”, serunya.  Tapi langsung dibalas dengan cibiran dari Hyukjae, “kau mengejekku lagi, hah?”, tanyanya.  Jiyoo menutup mulutnya refleks dan berpikir sejenak, “Tolong..kuncinya..lempar”, ucap Jiyoo terbata karena bingung dengan kosakata apa yang harus dia gunakan saat ini.

Hyukjae tersenyum simpul dan akhirnya beranjak turun ke bawah dan menyerahkan kunci rumah Nara pada Jiyoo, “Ini.  Cepatlah beristirahat dan jangan lupa untuk terlalu tersenyum.  Jika ada hal yang ingin kau ceritakan padaku, kau bisa langsung menelfonku dan aku akan segera ke kamarmu.  Oke?”, ucapnya dan mengacak rambut Jiyoo pelan.  Jiyoo yang tidak mengerti sepenuhnya dengan hal yang dikatakan Hyukjae hanya mengangguk pelan dan tersenyum simpul.

Hyukjae kembali ke rumahnya sedangkan Jiyoo juga masuk ke dalam rumah milik keluarga Kwan.  Setelah masuk ke dalamnya, Jiyoo merasa segala hal yang ada di rumah ini sangatlah tidak asing, segalanya amat familiar untuknya.  Dia diam sejenak dan berpikir keras, dan tiba-tiba dia teringat akan satu hal, “Ini..rumahku 12 tahun yang lalu?!”, tanyanya lebih pada dirinya sendiri.

Dia menganga tak percaya saat meyakini bahwa rumah ini adalah rumah yang sama dengan yang ditempatinya 12 tahun yang lalu.  Memang ia tak bisa mengingat dengan jelas tentang ingatannya saat masih berusia 5 tahun, tapi ia yakin bahwa ini adalah rumahnya dulu.

Pandangan Jiyoo terhenti tepat di sebuah foto yang terpajang anggun di dinding ruang tengah.  Foto sebuah keluarga.  Sepasang suami istri dan seorang anak gadis yang…amat mirip dengan dirinya.  Ya, gadis itu memang mirip dengannya tapi itu bukanlah Jiyoo.

Ia memegang keningnya yang seakan berdenyut kencang.  Apa-apaan ini?  Sebenarnya apa yang terjadi dengan masa lalunya?  Kenapa semuanya bisa terjadi amat kebetulan seperti sekarang ini?  Lalu, siapa sebenarnya Kwan Nara itu?

————-

Nara membuka matanya perlahan.  Rasanya kepalanya benar-benar pusing dan nafasnya masih sesak, amat sesak.  Mulutnya seakan dikunci rapat-rapat dan kakinya benar-benar kaku, tak dapat digerakkan.

“Selamat sore, Putri Tidur”, ucap sebuah suara.  Nara langsung mendongakkan kepalanya dan melihat ada seorang pria dengan hidung mancung dan wajah lonjong sedang menatap ke arahnya dengan pandangan sinis.  “Tidurmu nyenyak?”, tanyanya lagi, kali ini sambil mendekati Nara dan menyeringai tajam.

Nara membelalakkan matanya saat menyadari bahwa kaki dan tangannya telah diikat dengan kuat sedangkan mulutnya telah ditutup dengan selotip besar.  “Hmmmmpp! Hmmpp!”, Nara mencoba berteriak tapi percuma, yang keluar dari mulutnya hanyalah gumaman tak jelas.

Pria itu mendekati Nara dan kini ia memegang pipi Nara, “Sayang sekali gadis secantik kau harus diperlakukan seperti ini”, ucapnya dan mendekatkan wajahnya kearah Nara.  Nara mencoba berontak dan menggelengkan kepalanya dengan kuat, tapi tetap saja kekuatan pria ini jauh lebih kuat dibandingkan dirinya.  Ia makin panic saat tangan pria itu mulai turun dari pipi ke lehernya dan Nara mulai bisa merasakan nafas pria itu di sekeliling lehernya.

“Hmmmmpp! Hmmpp!!”, air mata mulai keluar perlahan dari mata Nara saat kancing seragam bagian atasnya dibuka oleh pria itu.  Tapi pria itu seakan tak peduli dengan teriakan Nara.  “Diamlah, Choi Jiyoo! Aku tak akan kasar padamu, asalkan kau menurut padaku”, sentak pria itu.

Tapi tepat saat pria itu berniat untuk melakukan hal yang lebih jauh, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul sesosok pria lainnya. “Hyung, aku sudah menghubungi keluarganya dan sepertinya mereka terkej….”, omongan pria itu terhenti saat melihat Nara yang menangis sedangkan ZhouMi masih berada di hadapannya.  “Hyung, kau tak melakukan hal itu kan?”, tanyanya.

ZhouMi mendecak kesal dan akhirnya keluar dari kamar sambil mendorong tubuh Kyuhyun, “Aish, kau merusak moodku, Kyuhyun”, ucapnya. “Kau jaga dia, jangan sampai kabur!  Aku pinjam mobilmu, Kyu”, ucap Zhoumi setelah mengambil kunci mobil milik Kyuhyun dan sosoknya kini menghilang di balik pintu.

Sepeninggal ZhouMi, Kyuhyun menatap kearah Nara yang masih terengah-engah dan menangis terisak.  Kyuhyun memperhatikan baju seragam Nara yang kancingnya terbuka dan segera mendengus keluar kamar.  Dia mengambil jaket miliknya yang ada di sofa dan kembali ke kamar kemudian segera menyampirkan jaket itu ke tubuh Nara untuk menutupi tubuhnya.

Nara terhenyak saat menyadari bahwa pria itu menutupi tubuhnya dengan jaket dan kini ia juga mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka air mata dan keringat Nara.  Pandangan mata pria itu saat menyeka wajahnya, sangatlah datar tanpa ekspresi.  Tapi Nara benar-benar merasa damai saat  melihat pandangan pria itu.

Kyuhyun menaruh kembali saputangannya kedalam saku dan menatap Nara dengan pandangan kosong.  Dia heran dengan apa yang telah dilakukannya barusan : membantu musuhnya sendiriAishh, dia pasti sudah gila karena telah melakukan hal itu!  Tapi entah kenapa, dia merasa tak tahan melihat air mata yang keluar dari mata Choi Jiyoo karena itu mengingatkannya akan seseorang.

Seseorang dari masalalunya, seseorang yang amat dicintainya dan kini berada entah dimana.  Seseorang yang bernama Nara, temannya saat masih di Panti Asuhan milik Ibunya.

——–

T.B.C

4 thoughts on “Tears Of Polaris {2nd Chapter}

  1. omonaaaa~~
    jadi kwan nara itu temen masa kecilnya si kyu ya?
    onnie saya boleh kan ya berimajinasi jadi jiyoo:)
    kkkkk~ baby boo! nice weather! you are so gorgeous xD lol
    bagus onn penasaran sama ceritanya.. rinwon sama jinhae tetep yaaa eksis dimana-mana x)

  2. hoaaaaaaaa…ternyata jiyoo n nara kembar toh..n ternyata nara sahabat kyu waktu kecil…

    aisshh..gk tau knapa mimi dpt peran yg agak2 ehemm.. yadong dikit cucok ya..#plakk..

    ok,chapt 3…XDD

  3. Yaaaaaaaa, brti critany mreka brtukar tmpt?? Aigoooo kyu, dy emg cnta prtamamu, wkwkwk. Brti sbnrny yg hyuk cinta tu nara ato jiyoo ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s