Tears Of Polaris {1st Chapter}

Sunday, 6 September 2010…

(Incheon Airport)

Jiyoo melepaskan kacamata hitam yang menggantung sempurna di hidungnya yang mancung.  Dia mengibaskan tangan ke arah wajahnya dan mengeluh pelan, “Ah, so hot in here!”, ucapnya.  HyeonA menghampiri anaknya itu sambil membawa koper miliknya, “Jiyoo-ya..say hello to your mother country”, ucap HyeonA seraya mengelus rambut Jiyoo.  Jiyoo hanya mengangguk pelan dan masih mengibaskan tangannya dengan tak sabar.  “Make it fast, Mommy.  I can’t hold it anymore.  It’s so hot!”, tambahnya.

HyeonA menatap Jiyoo dengan bingung, entah sejak kapan anaknya ini menjadi amat manja.  Padahal dahulu dia adalah anak yang penurut, mungkin inilah dampak pubertas remaja?  Ah, entahlah..HyeonA juga tak tahu jawabannya.

Siwon berjalan pelan dari arah departemen kedatangan sambil menggeret kopernya dengan santai.  Dia terkekeh pelan saat melihat wajah Jiyoo yang memerah karena kepanasan, “You look like a holly crab”, dengus Siwon sambil menenggak colanya.  Jiyoo menatap Siwon dengan beringas, dan menatap Siwon dengan sinis, “Yeah, I know it, Mr. Perfect”, ejeknya.

HyeonA menenangkan mereka berdua yang mulai berpandangan sinis.  Kyuhan yang baru saja datang langsung merasa heran dengan sikap Siwon dan Jiyoo.  “Ada apa dengan kalian?”, tanya Kyuhan.  Jiyoo dan Siwon tak menjawab dan sibuk dengan urusan masing-masing, Kyuhan dan HyeonA menggelengkan kepala berbarengan. “Sudahlah, kalian ini bersaudara, give a little respect to other, please.  Siwonnie? Jiyoo-ya?”

Siwon menggumam pelan sedangkan Jiyoo malah bersenandung sambil mendengarkan lagu yang mengalun dari i-pod’nya.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya 2 taksi yang mereka pesan tiba dan Kyuhan pergi bersama HyeonA.  Sebagai anak, maka Siwon dan Jiyoo terpaksa pergi dengan memakai taksi yang sama.

Siwon mendahului langkah Jiyoo dan mengambil tempat duduk di belakang.  Tanpa pikir panjang, Jiyoo langsung mengambil inisiatif untuk duduk di bangku samping supir.  Baginya itu tak masalah asalkan dia tak duduk bersebelahan dengan Siwon.

Siwon mendengus lagi saat melihat Jiyoo yang duduk di depan, “You look like a navigator, Jiyoo-ya“.

Jiyoo terkekeh sinis sambil memasang sabuk pengamannya, “and you look like a person who doesn’t do anything, Mr. Choi Siwon“.

Siwon menatap Jiyoo tak percaya dan akhirnya memutuskan untuk mencoba tak memperdulikan ucapannya barusan.  Siwon mengeluarkan handphone’nya dan memasang earphone ke telinganya.

Tapi tanpa disadari, tangannya membuka folder foto yang ada di handphonenya.  Fotonya saat masih kecil bersama dengan Jiyoo.  Segurat senyum tampak di bibir Siwon dan dia menatap Jiyoo yang menatap jalanan di sampingnya dengan tak berminat.  Siwon menghela nafas berat dan menaruh kembali handphone itu di sakunya.

Lagu H.O.T yang berjudul happiness mengalun di earphone’nya.  Lagu yang dulu amat disukai oleh mereka berdua.  Lagu yang selalu Jiyoo nyanyikan saat Siwon putus cinta, dan lagu yang selalu dia nyanyikan saat adiknya itu sedang murung.

Siwon mendesah pelan dan memutuskan untuk memandang pemandangan Korea yang sudah lama ditinggalkannya.  Matanya sesekali melirik ke arah Jiyoo yang masih menatap keluar dengan pandangan kosong, “Can’t we turn back the time? I miss my little sweet sister“.

—–

Nara meregangkan tubuhnya sejenak dan menuangkan segelas susu coklat untuk dirinya sendiri.  Setelahnya, dia berjalan menuju mesin pemanggang roti dan menunggu beberapa saat hingga akhirnya roti itu terpanggang sempurna.

Nara melirik sekilas ke arah garasi rumah, mobil orangtuanya tidak terlihat di situ.  Dia mendesah pelan, apakah mereka masih belum pulang sejak kemarin? Atau malah mereka sudah pulang, hanya saja mereka sudah kembali berangkat ke kantor?

Entahlah, Nara mencoba tak peduli dan kembali berjalan menuju kamarnya, kebetulan ini adalah hari Minggu dan ia berniat untuk bermalas-malasan setelah 6 hari disiksa di sebuah tempat bernama : Sekolah.

Tapi tepat saat tangannya telah membuka kenop pintu kamarnya, seruan kencang itu langsung terdengar dan membuat Nara agak terkejut, “HAPPY SUNDAY!!”.

Di atas kasurnya itu kini sudah ada 2 laki-laki seusianya dan mereka tengah menatapnya ceria, “Morning, Nara-ya!”, seru salah seorang laki-laki itu sambil mendekati Nara dan mencomot selembar roti panggang yang dibawa Nara.

“Donghae-ya, lemparkan satu untukku!”, seru laki-laki lainnya pada Donghae.  Tepat sebelum Donghae berniat mengambil roti itu, Nara langsung mengangkat piringnya dan menjauhkannya dari jangkauan tangan Donghae.  “Ini milikku”, ucap Nara datar dan beranjak duduk di kasurnya, bersebelahan dengan laki-laki yang tadi berbicara pada Donghae.

Donghae mencibir sebal tapi malah ikut duduk di kasur, “Bagaimana kabarmu dalam seminggu ini?”, tanya Donghae semangat.  Nara mengangkat bahunya santai, “Yaah, seperti yang kalian lihat..aku masih bernafas dan masih hidup”, ucapnya ringan.

“Jinjja? Kau tak rindu pada kami?”, tanya pria yang duduk di sebelah Nara. Kali ini dia mengambil segelas susu coklat milik Nara dan menenggaknya.  Nara membelalak lebar, “Ya!! Hyukjae-ah, jangan diminum. Itu milikku!!”, serunya.

Hyukjae berhenti meminum dan mendecak kesal dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan, “Ini..coklat?!”, ucapnya.  Nara mengambil gelas susu itu dengan cepat, “Tentu saja! Kau tak lihat warnanya?”, ucap Nara kesal karena susunya tinggal setengah gelas lagi.

Hyukjae mencibir, “kenapa bukan strawberry?”, tanyanya sebal.  Nara menjitak kepala Hyukjae pelan, “Aku benci strawberry. Lagipula kau aneh, mana ada pria sejati yang suka dengan susu strawberry?”, tanya Nara heran.  Donghae bertepuk tangan senang dan mengacak rambut Nara, “Keurae!! Aku setuju!  Di dunia ini tak ada pria sejati yang minum susu strawberry”, ucap Donghae semangat.

Lee Hyukjae dan Lee Donghae, dua sepupu dari keluarga Lee yang tinggal di sebelah rumah keluarga Kwan ini memang teman dekat Nara. Hubungan mereka bertiga amat dekat.  Lee Donghae adalah tetangga asli Nara tetapi beberapa tahun yang lalu Lee Hyukjae yang merupakan sepupu Donghae datang dan tinggal di rumah keluarga Donghae untuk menyelesaikan pendidikannya di Seoul.

Hyukjae dan Donghae juga membuat sebuah jembatan kayu yang menghubungkan balkon kamar mereka ke kamar Nara.  Entah bagaimana caranya, tapi mengunjungi Nara di pagi hari adalah kebiasaan yang dilakukan kakak beradik itu sejak masih kecil.  Maka tidak heran jika hari inipun, mereka berdua bisa tiba-tiba muncul di kamar Nara.

“Lalu, mana oleh-oleh untukku?”, tanya Nara sambil menodongkan tangannya ke arah mereka berdua.  Donghae dan Hyukjae saling berpandangan, “oleh-oleh?”, ulang mereka.

Nara mengangguk cepat, “Kalian berlibur seminggu di Hawaii, dan seharusnya kalian membawakan oleh-oleh untukku!!”, seru Nara.  Hyukjae dan Donghae menggaruk kepalanya pelan, “Ahh, benar juga..”, ucap mereka ragu.

Nara menggembungkan pipinya sebal, “Sudah kuduga. Kalian tak membawakan oleh-oleh untukku”.

Donghae diam sejenak tapi tak lama kemudian, dia beranjak dari kasur dan berdiri tepat di depan Nara. “Jja jjang!!”, serunya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.  Nara menatap Donghae heran, “Ige mwoya?”.

Donghae tersenyum lebar, “Inilah oleh-oleh untukmu!”, ucapnya semangat. Nara mengangkat alisnya bingung, “Maksudmu, oleh-oleh itu adalah dirimu sendiri?”, tanyanya.  Donghae mengangguk cepat, “Keurae! Kau harus bersyukur bahwa aku bisa sampai ke Korea dengan selamat”.

Nara mendesah kesal dan beralih menatap Hyukjae, “Bagaimana denganmu?”.

Hyukjae menurunkan majalah yang sedang dibacanya, “Hmm? Mwo?”, tanya Hyukjae.

Nara menatap Hyukjae tak percaya, “Jangan bilang bahwa kau juga lupa dengan oleh-oleh untukku?”.

Hyukjae menggaruk pipinya, “Uhmm, mianhae.”, ucapnya pelan.  Nara langsung menatap Donghae dan Hyukjae dengan beringas, “Kalian~ tegaaaaa!!”, teriak Nara kesal sambil menjambak rambut Donghae.

Hyukjae yang tak ingin nasibnya seperti Donghae, langsung beranjak pergi dari kamar Nara dan berjalan menuju dapur rumahnya.  Dia sudah sangat hafal dengan rumah Nara, karena dia dan Donghae seringkali berputar-putar tak tentu di rumah Nara yang cukup luas ini. Baginya, rumah Nara sudah seperti rumahnya sendiri dan Nara juga tak masalah dengan sikapnya ini.

Dia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol cola, tapi matanya langsung tertarik ke sebuah cake yang ada di dalam kulkas.  Cake coklat dengan berhiaskan lilin bermotif angka 40.

Hyukjae mengeluarkan handphone’nya dan mengecek tanggal hari ini.  Hatinya mencelos saat menyadari bahwa kemarin adalah hari ulang tahun Ibu Nara, dan sekarang kue itu masih tersimpan rapi di dalam kulkas. Apakah Nara menyiapkan semua hal ini? Lalu orang tuanya kemana dihari penting seperti ini? Dan yang pasti, kenapa Nara masih bisa tersenyum?

Dia menggelengkan kepala dengan perasaan miris.  Dia kasihan dengan Nara yang selalu tersenyum dan menyembunyikan rasa sedihnya itu.  Dia tahu bahwa Nara tak pernah ingin membuat orang di sekelilingnya merasa khawatir, maka ia pasti akan tersenyum di depan orang banyak tanpa menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

Dia menutup kulkas dan menenggak cola itu perlahan.  Otaknya masih memikirkan Nara, entah sejak kapan dia merasa harus menjaga Nara sebagai Kakak, seperti ia menjaga Donghae, adik sepupunya.

——

2 taksi itu berhenti di sebuah apartement mewah yang menjulang megah.  Kyuhan dan HyeonA turun dari taksi dan diikuti oleh Jiyoo dan Siwon yang turun dari taksi belakangnya.

Jiyoo menatap apartement di depannya dengan tak tertarik, “Kita tinggal disini?”, tanyanya datar.  Siwon mengunyah permen karetnya sambil menyipitkan pandangannya karena sinar matahari yang terlalu terik.  “Nice occasion, daddy“, ucapnya pada Kyuhan dan membuat ayahnya itu tersenyum senang.

Jiyoo mendelik ke arah Siwon yang menatap ke arahnya dengan pandangan penuh kemenangan, “Try to get more attention, huh?”, dengus Jiyoo.

Setelah menyelesaikan urusan administrasi taksi, HyeonA menghampiri keluarganya.  “Oke, let’s go in“, ucapnya sambil menuntun langkah mereka untuk masuk ke dalam gedung.

Sesampainya di lobby, Kyuhan langsung berbicara dengan resepsionis apartement ini.  Jiyoo melihat Siwon terus mengikuti Ayahnya, tentu saja dengan dua alasan :

1.  Mencari perhatian Ayahnya

2. Tebar pesona pada resepsionis itu. (Jiyoo sempat melihat papan nama resepsionis itu : Park Ririn)

Beberapa saat kemudian, Kyuhan membawa kunci apartement itu dan beranjak ke arah Jiyoo dan HyeonA yang sedang duduk di bangku tunggu.  “Ayo berangkat”, ajak Kyuhan sambil menggeret koper milik istrinya, sedangkan Jiyoo menarik kopernya dengan enggan.

Kyuhan menengok ke arah Siwon yang masih berbincang dengan resepsionis itu. “Siwon-ah, Let’s go“, seru Kyuhan dan Siwon seperti pamit pada Ririn.  Tangan Siwon sempat mengisyaratkan, ‘Call me tonight’ dan Ririn hanya tersenyum tersipu sambil mengangguk singkat.

Jiyoo berdehem pelan saat Siwon berjalan di sampingnya, “She’s your next victim, right?  Ah, poor her“, ucap Jiyoo sinis.

Siwon langsung menjitak kepala Jiyoo dengan kencang dan membuat Jiyoo mengaduh kesakitan, “Ya!! Choi Siwon!!”.

Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang tengah memperhatikan langkah mereka berempat dari luar apartement.  Dan pandangannya terfokus pada sosok Jiyoo yang mulai lenyap di balik elevator.

Sosok itu mengeluarkan handphone’nya dan memencet beberapa nomor dengan cepat, dia menempelkan handphone itu ke telinganya.  “Hyung, aku sudah melihat target.  Kapan kita harus melakukan aksi kita?”

Suara berat di seberang sana menjawab dengan singkat, “Besok.  Lakukan segalanya dengan sempurna, Kyuhyun-ah.  Pastikan segalanya berjalan lancar supaya kita bisa meminta tebusan yang setara dengan nasib gadis itu”.

Kyuhyun menggumam mengiyakan dan segera mengakhiri pembicaraannya.  Dia kembali memperhatikan apartement itu dan mengeluarkan selembar foto dari sakunya.  Foto seorang wanita separuh baya dengan puluhan anak kecil itu langsung menyambut matanya.  Foto Ibunya yang sedang bersama dengan anak panti asuhan yang dikelolanya.

Kyuhyun menggeratakkan giginya dan kembali menaruh foto itu ke dalam saku, pandangannya kembali tertuju ke apartement itu dan otaknya tertuju ke keluarga Choi.

Choi Corp yang menginginkan lahan milik yayasan Ibunya untuk membangun sebuah perusahaan baru..

Choi Corp yang membuat Ibunya sakit karena bingung memikirkan nasib anak -anak panti asuhannya..

Choi Corp yang telah membuat Cho Eunhye meninggal..

Kyuhyun merasakan pandangannya buram dan matanya memanas setiap kali mengingat hal itu.  Hal yang tak adil, kenapa Ibunya yang berhati mulia harus meninggal hanya karena sikap orang yang gila harta itu?

Ia menggeleng kencang untuk mencegah air matanya kembali jatuh, dan menggumam pelan, “Cho Kyuhyun, kau harus membalas perlakuannya.  Demi Umma, dan demi Panti Asuhan Pyonggang”.

—–

Monday, 7 September 2010…

“Kamsahamnida, sonsaengnim”, ucap seisi kelas dengan kompak sambil membungkukkan badan dengan hormat, sementara Kim sonsaengnim berjalan pelan keluar kelas sambil membawa tumpukan buku pengajaran miliknya.

Nara memasukkan alat tulisnya ke dalam tas dan segera menutup resleting tasnya.  Beberapa temannya menghampiri ke arahnya dan mengajaknya pergi berkaraoke di Myeongdong, tapi Nara menolak dengan halus.

“Waeyo, Nara-ya? Ayolah, kau jarang sekali bermain bersama kami”, ucap Jisun, masih berusaha membujuk Nara.  Nara hanya tersenyum simpul dan menggeleng pelan, “Mianhae, aku ada jadwal Les hari ini”, jawabnya.

Teman-temannya yang lain mengangguk paham tapi kemudian mendesah pelan, “Ahh, memang anak pintar itu tak boleh bersenang-senang”, ucap temannya yang lain.  Nara terkekeh dan menatap temannya itu, “Tidak juga.  Mau bertukar tubuh denganku?”, tanya Nara.  Temannya langsung tertawa, Nara juga ikut tertawa.  Tapi itu hanya tawa palsu, rasanya amat bodoh saat ia mentertawakan masalah dirinya sendiri.

“Baiklah, tapi lain kali kau harus ikut dengan kami. Oke?  Sekali-kali kau harus menjadi anak nakal, Nara-ya!”, ucap teman-temannya sambil menepuk pundak Nara.  Nara hanya mengangguk singkat dan tersenyum sambil melambai singkat, “Have fun, Guys”, serunya.

Akhirnya teman-temannya itu beranjak pergi meninggalkannya sedangkan Nara masih berdiri di depan mejanya dan mengeluarkan handphone miliknya. Dia mengecek jadwalnya hari ini dan melihat ada jadwal les Bahasa Jepang.

Nara menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.  Lama-lama dia bisa mati kebosanan jika terus-terusan seperti ini.  Hidup yang sangat terorganisir seperti ini malah membuatnya makin merasa miris.  Dia benar-benar seperti boneka yang dikendalikan oleh sebuah system program yang sudah teratur rapi.

Tapi apa boleh buat, inilah jalan hidupnya.  Sebisa mungkin ia mengikuti keinginan orang tuangnya dan tak pernah mencoba untuk mengecewakannya, karena ia tahu bahwa orang tuanya itu mati-matian bekerja untuk membuatnya menjadi orang yang berhasil.  Dan ia masih merasa beruntung bahwa pasangan keluarga Kwan itu mau menerimanya sebagai anak.

Nara menepuk pipinya dengan agak kencang dan akhirnya tersenyum simpul, “Hwaiting, Nara”, ucapnya semangat dan segera menyampirkan tasnya ke pundak.  Dia berjalan ringan menuju luar kelas dan ternyata Hyukjae sudah menunggunya di depan kelas.

Dia bersender di dinding sambil menatap langsung kea rah pintu kelas Nara.  “Akhirnya keluar juga”, gumam Hyukjae saat melihat Nara keluar dari kelas.  Nara menggaruk telinganya dan melihat ke sekelilingnya dengan pandangan bingung, “Mana Donghae?”, tanyanya.  Tumben sekali Donghae tak bersama dengan kakaknya ini.

“Kenapa harus menanyakan orang yang tak ada?”, tanyanya sambil berdiri di samping Nara dan beranjak melangkah pelan.  Nara mengenyitkan alisnya, “Justru karena dia tak ada, makanya aku menanyakan hal itu”, ucapnya heran.

Hyukjae mengangguk pelan dan mengangkat bahunya ringan, “Dia sedang mendekati anak kelas Bahasa, kau tahu sendiri kan..jika dia sudah tertarik ke satu wanita maka dia akan mengejarnya sampai dapat?”, tanya Hyukjae.  Nara menggumam paham dan menatap Hyukjae penasaran, “Oya? Siapa yang berhasil menaklukkan hati Donghae?”.

Hyukjae menengadahkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Uhmm, Lee Haejin?  Itupun jika aku tak salah dengar”, jawabnya.  Nara membulatkan mulutnya, “Oh, Haejin?  Ya ya ya, aku tahu dia.  Tak kusangka Donghae bisa menyukai dia”, ucap Nara sambil terkekeh.

Nara dan Hyukjae menghabiskan perjalanan menuju tempat les dengan mengobrol berdua.  Kadangkala Hyukjae melakukan hal konyol yang membuat Nara tertawa terbahak.  Tapi tiba-tiba saja Hyukjae menepuk keningnya, “Aigo~ Aku lupa!  Aku harus membelikan obat titipan Ahjumma”, ucapnya.  Nara memiringkan kepalanya, “Oh ya?  Kalau begitu, belilah obat itu sekarang.  Lagipula aku ingin ke toilet di taman, daritadi aku ingin buang air kecil karena terus-terusan tertawa, tahu”, ucap Nara.

Hyukjae mengangguk paham dan beranjak pergi ke sebuah apotek berada di tikungan jalan tempatnya berada sekarang sedangkan Nara pergi ke arah taman dan segera bergegas masuk ke dalam toilet.

Setelah menyelesaikan urusannya, Nara keluar dari bilik toilet dan berdiri di depan kaca wastafel.  Dia merapikan rambutnya sejenak dan memoleskan lipgloss tipis ke bibirnya.  Tiba-tiba dia melihat seorang wanita masuk ke dalam toilet tanpa menengok ke arahnya dan segera masuk ke dalam bilik toilet.  Nara memperhatikan wanita itu sejenak tapi akhirnya mengangkat bahu, mencoba untuk tak peduli.

Nara menunduk sejenak untuk menaruh lipgloss’nya ke dalam tas tapi saat Nara akan mengangkat kembali kepalanya, dia merasa wajahnya seperti dibekap oleh sesuatu yang membuatnya amat pusing.  Nara ingin berontak melawan, tapi percuma! Rasa kantuk yang amat hebat seperti menyerangnya dan membuat tubuhnya lemas.  Tangannya seakan tak memiliki kekuatan lagi sehingga tas yang tadi dipegangnya kini terjatuh begitu saja.

Dia tak bisa menahan rasa kantuk dan pusing yang menyerangnya secara bertubi-tubi.  Akhirnya Nara memejamkan matanya dan yang bisa diingatnya kali itu hanyalah kegelapan yang seakan menghimpit dirinya.

——

Jiyoo membuka tirai kamarnya dan menatap pemandangan kota Seoul yang mulai sibuk.  Dia menghela nafas dalam-dalam dan kembali berbaring ke kasur.  Dia mengambil remote TV yang ada di sampingnya dan memencet tombol power sehingga TV yang ada di kamarnya langsung menyala.

Dia mengganti channel TV tanpa minat, begitu saja seterusnya hingga akhirnya Jiyoo mendecak kesal karena tak menemukan acara yang menarik.  Jiyoo bangkit lagi dan beranjak keluar kamar menuju dapur, dia melihat Ibunya sedang memasak makan malam untuk keluarganya.  “Ah, Jiyoo-ya, help me just for a moment please”, ucap Ibunya saat melihat anak gadisnya keluar dari kamarnya.

Jiyoo menggeleng dan segera mengambil jaket baseball milik Siwon yang tergeletak di sofa, “Sorry Mom.  I want to take a walk outside”, ucapnya singkat dan keluar dari apartementnya.  HyeonA menggeleng heran dan hanya bisa mengelus dada saat melihat kelakuan anaknya itu.

Jiyoo melangkah lunglai ke arah elevator dan menekan tombol untuk turuk ke lantai dasar.  Dia menatap bayangannya sendiri yang terpantul di kaca elevator, dia benar-benar bosan dengan hidupnya ini.  Dia benci dengan orangtuanya, dia benci dengan kakaknya dan dia benci dengan dirinya yang tak memiliki teman karena keluarganya yang selalu berpindah-pindah rumah.  Dia benar-benar seperti hidup sendirian.  Dia hanya ingin merasakan sesuatu hal yang baru, tapi sepertinya Tuhan tak pernah mengizinkannya untuk mengalami hal itu.

TRING!

Pintu elevator terbuka dan Jiyoo melangkah dengan berat untuk keluar dari elevator.  Saat dia telah sampai di Lobby, matanya tertarik kea rah pria yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita.  Jiyoo menyipitkan matanya dan memfokuskan pandangannya, “Siwon?”, gumamnya saat menyadari bahwa sosok pria itu adalah kakaknya.

Siwon tengah duduk bersama dengan resepsionis yang ditemuinya kemarin, Park Ririn.  Tapi kali ini Ririn terlihat berbeda, dia tak memakai blazer kerjanya dan hanya memakai t-shirt yang menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah.

Jiyoo mencibir melihat mereka berdua.  Oke, kakaknya sudah menemukan ‘mainan’ baru sedangkan dirinya masih seperti orang linglung yang bahkan bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya?  Bertambah lagi hal yang membuatnya makin membenci Choi Siwon.

Akhirnya tanpa mencoba untuk peduli, Jiyoo melangkah melewati Siwon dan Ririn.  Siwon yang melihat adiknya melintas, langsung memanggilnya, “Jiyoo-ya! Where are you going?”, tanyanya.  Jiyoo menoleh pelan dan menatapnya dengan pandangan sinis, “It’s none of your business, Mr Choi Siwon”, ucapnya ketus dan kembali melangkah pergi.

Ririn menatap Siwon dengan penasaran, “She’s your sister?”, tanyanya.  Siwon mengangguk pelan, “Yeah, but she’s always kinda get angry easily to me.  I don’t know why. Padahal dulu dia adalah adik yang menggemaskan untukku”, ucap Siwon sambil menggelengkan kepalanya.  Ririn menatapnya iba tapi Siwon langsung mengalihkan pembicaraan, “Sudahlah. Daripada membicarakan tentang dia, bagaimana jika nanti malam kita kencan?”.

Jiyoo menatap ke arah jalanan dengan pandangan kosong.  Dia tak tahu harus melangkah kemana dan tak tahu arah tujuannya.  Tapi dia memutuskan untuk terus berjalan, terserah kakinya ingin melangkah kemana.

Setelah agak jauh berjalan, Jiyoo merasa ada sebuah mobil yang mengikuti langkahnya kemanapun dia pergi.  Dia mencoba tak peduli dan masih menyusuri jalanan kota Seoul.  Kadangkala di singgah di sebuah toko untuk membeli jajangmyun atau ddukboki, hanya sekedar untuk mengingat masa kecilnya yang indah, tak seperti sekarang.

Jiyoo merasa agak kelelahan setelah daritadi berjalan kaki mengelilingi daerah yang bahkan belum dikenalnya sama sekali, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke toilet yang ada di taman tempatnya berada sekarang.  Untuk sekedar cuci muka dan menyelesaikan urusan pribadinya.

Dia masuk ke dalam toilet tanpa memperhatikan apapun di sekelilingnya dan langsung masuk ke dalam bilik toilet.  Di dalam bilik toilet, dia mendengar ada suara yang terjatuh tapi lagi-lagi dia mencoba untuk tak mempedulikan hal yang bukan urusannya.

Setelah selesai, Jiyoo keluar dari bilik toilet dan beranjak kea rah wastafel untuk mencuci muka dan tangannya.  Tapi pandangannya langsung tertarik kea rah sebuah tas yang terjatuh di dekatnya, dia mengambil tas itu dan memerhatikannya sejenak.  “Kenapa ada tas di toilet?”, gumamnya pelan.

Jiyoo menengok ke sekelilingnya, tapi tak ada siapapun di toilet ini selain dirinya.  Dia membuka tas itu dan melihat beberapa buku pelajaran di dalamnya.  Kwan Nara, nama itulah yang tertulis di tiap buku pelajaran itu.  Jiyoo menggaruk kepalanya pelan, bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya dia memutuskan untuk membawa tas ini ke pos polisi terdekat, mungkin saja pemiliknya sedang mencari-cari tas ini.  Jiyoo mengangguk yakin dan segera menyampirkan tas itu ke pundaknya dan keluar dari toilet.

“Akhirnya keluar juga”, ucap suara di sampingnya.  Jiyoo tersentak kaget saat melihat seorang pria dengan seragam sekolah sedang bersandar di dinding.  “Aigo~ kau lama sekali! Bahkan aku yang membeli obat di tikungan sana pun masih lebih cepat dibandingkan kau”, ucap pria itu sambil mengecek jam tangannya.  Jiyoo mengangkat alisnya dengan heran, “Hah?”, tanyanya tanpa sadar.

Pria itu menatap Jiyoo dengan bingung, “Kau tak bilang bahwa kau membawa baju ganti”, ucapnya sambil menatap ke baju yang dikenakan Jiyoo.  Jiyoo makin bingung, “Who are you?”, tanyanya pelan.

Pria itu mengangkat alisnya heran, “Apa itu pelajaran yang akan ditest oleh Jang sensei hari ini?  Namaewa Lee Hyukjae desu. Arigatou gozaimasu”, jawabnya.  Jiyoo dapat menarik kesimpulan bahwa nama pria ini adalah Lee Hyukjae.  Tapi yang menjadi pertanyaannya kali ini, sejak kapan dia mengenali pria bernama Lee Hyukjae ini?!

Hyukjae mengecek jam tangannya dan terlihat agak terkejut, “Aigo!!  Kita akan terlambat! Kkaja~       !”, serunya sambil menarik tangan Jiyoo untuk segera pergi ke tempat yang tak diketahui oleh Jiyoo.

Tanpa disadari, seulas senyum tergurat di bibir Jiyoo.  Dia merasa, dia akan merasakan pengalaman baru yang dulu amat diidamkannya.

——-

Kyuhyun menyenderkan tubuh gadis di pelukannya itu ke bangku mobilnya.  Gadis itu masih terlelap karena obat bius yang tadi dibekap olehnya.  Kyuhyun beranjak mengelilingi mobil dan duduk di bangku kemudi, dia sempat melirik ke gadis di sampingnya itu dan masih menatapnya geram.

Dialah gadis yang ikut serta dalam menyiksa Ibunya, dan melakukan tindakan ini adalah salah satu hal yang memang seharusnya dilakukan.  Demi Ibunya dan demi anak-anak Panti Asuhan milik Ibunya.

Kyuhyun membuka flip handphonenya dan memencet beberapa nomor.  Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya telefon itu diangkat dari seberang, “Yoboseyo, hyung?  Aku sudah melakukan plan A.  Dia sudah ada bersamaku”, ucap Kyuhyun.

“Bagus, sekarang bawa dia ke markas kita.  Setelah itu baru kita akan melakukan plan B”, ucap suara di seberang dan segera memutuskan pembicaraan.  Kyuhyun menutup flip handphone’nya dan menaruhnya di dashboard mobil.

Dia menyetel starter mobil dan lagi-lagi dia menatap gadis itu, “Salahkanlah Ayahmu yang tamak itu, Choi Jiyoo”.

——-

TBC

6 thoughts on “Tears Of Polaris {1st Chapter}

  1. weeeeh? si kyu jadi penculik? o.O
    tapi tetep yaaaa yang di culik si nara .___.
    itu hyung nya siapa?
    uweeeeh~~
    jiyoo keren kayanya xD mau dong jadi jiyoo *gara2 hyuk*
    etdaaaah jiyoo jutek banget ya? kasian siwonnya. tapi emnag nggak enak sih punya osdara yang hampir sempurna -_-

  2. O.o..ririn jd resepsionis?? daebak,new story diblognya nara..keren dahh..

    ok,intinya jiyoo dan nara memeiliki wajah yang sama,makanya kyuhyun salah tangkap nihh..

    peranyaannya adalah ‘koq bisa ya?’

    gk ush basa-basi run to next chapt..

  3. Lhooohhhh, nara sm jihyo kembar ta? Kx kyu sm hyukjae g sadar kl yg lg sm mreka tu bkn kenalan mreka? Aigoooooo~ bkin pnasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s