Sweet 13 Sweat {4th Drop}

..London, 1 Desember 2010..

Yes, we’ll check for it, Sir.  Okay, maybe it will take..uhm, just a few hour, I think”, ucap Donghae dengan telefon yang kini tengah menempel di telinganya.  Tangannya sibuk menuliskan sesuatu yang sukar dimengerti, bahkan olehnya sendiri.  Entahlah, ini adalah kebiasaannya jika dia sedang merasa tertekan dengan pekerjaan yang digelutinya.  “I got it, Sir.  Okay, we’ll send our staff to check it.  Yes, thank you”, ucapnya mengakhiri pembicaraannya dan langsung mengembalikan gagang telefon itu kembali ke tempatnya.

Donghae memijat tengkuknya yang terasa pegal dan menghembuskan nafas kesal beberapa kali. Setelah beristirahat beberapa menit, dia  mengetik suatu alamat website di komputernya, “You have no email”.

Okay~”, ucapnya agak kesal sambil menyender ke kursi kerjanya.  Sudah hampir sebulan ini, (semenjak Donghae meninggalkan Korea) Raena tak lagi mengiriminya e-mail.  Semua email yang Donghae kirimkan padanya, tak ada satupun yang dibalas oleh gadis itu.

Donghae mendesah kecewa dan mengambil sebuah kotak berwarna coklat yang berada di laci meja kerjanya.  Sebuah cincin berwarna perak terlihat mengkilat angkuh ketika ditempa sinar matahari yang masuk dari sela jendela ruang kerja milik Donghae.   Dia mengalihkan pandangan ke kalendernya dan tersenyum simpul, hanya tinggal menunggu seminggu lagi hingga saatnya dia kembali ke Korea dan menyematkan sebuah cincin lain ke jari manis Raena.

Sebuah cincin yang akan mengikat mereka berdua untuk sehidup semati.

Donghae menggelengkan kepalanya dengan penuh kebingungan, “Ah~ottokhaejyo?”, tanyanya pada dirinya sendiri.  Dia masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat dia melamar Raena.  Apa dia harus berlutut sambil menyerahkan kotak cincin itu layaknya ksatria di drama kolosal?  Atau dia harus menyerahkannya begitu saja, tanpa ada surprise apapun?

Donghae mendecak beberapa kali dan mengusap lehernya yang tiba-tiba berkeringat.  Tapi tangannya tak sengaja menyentuh kalung dengan bandul yang berbentuk setengah hati di ujungnya, kalung yang dibelinya bersama Haejin saat mereka masih berada di Korea.

Tangannya masih memainkan rantai kalung yang dipakainya itu, pikirannya pun masih melanglang membayangkan kejadian satu bulan yang lalu.  Tentang percakapannya dengan Haejin..

“Kapanpun kau butuh teman untuk berbagi cerita..tak peduli dimanapun atau kau sedang bersama siapa, pikirkan saja tentangku.  Aku pasti akan segera datang ke tempatmu”

Donghae terkekeh ringan.  Ya, seandainya ada Haejin disini, seandainya ada Haejin saat ini, seandainya ada Haejin disampingnya, dia pasti tak akan kebingungan tentang hal ini.  Haejin pasti bisa memberikan saran yang sangat berarti untuknya.

Tangannya kini memegang ujung bandul kalung yang berbentuk setengah hati itu dan dia menggumam pelan, “Lee Haejin, I need You.  Jeongmal.  Aku butuh bantuanmu saat ini juga”.

Beberapa detik berselang, Donghae malah tertawa agak keras sambil menggelengkan kepalanya.  Dia benar-benar merasa bodoh, kelakuannya tadi seperti anak kecil yang diceritakan bahwa Santa Claus akan datang pada saat Christmast Eve untuk membagikan hadiah pada anak yang berbuat baik.  Padahal bagaimana mungkin seorang Lee Haejin dapat menyebrangi samudra dan benua dalam waktu beberapa menit setelah dia mengucapkan bahwa Donghae membutuhkannya?  “Aish, Lee Donghae..neo neomu baboya”.

Kini matanya melirik kea rah jam dinding yang tergantung diujung ruangan, pukul 12 siang.  Sudah waktunya makan siang, pantas saja jika perutnya terasa lapar.  Akhirnya tangan Donghae kembali mengambil gagang telefon dan memencet beberapa nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.  Nomor telefon restoran Korea langganannya.  Entahlah, kali ini rasanya dia sangat rindu dengan kampung halamannya itu jadi tak ada salahnya jika dia memesan delivery order yang bertemakan makanan Korea, bukan?

“Ya, satu paket bulgogi dan jangan lupa dengan kimchinya, ahjumma”, ucap Donghae mengingatkan lagi tentang pesanannya.  Sang pemilik restoran menggumam paham kemudian segera memutuskan sambungan telefon.  Donghae menaruh kembali gagang telefonnya dan berniat untuk melanjutkan kembali pekerjaannya saat tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang.

“Wah, cepat sekali servicenya”, puji Donghae saat membayangkan bahwa pegawai delivery order itu sudah sampai di kantornya.  Dia bangkit dari kursi kerjanya dan mengambil beberapa lembar uang dollar dari dalam dompetnya, dia sengaja mengambil uang lebih sebagai tip.  Karena tak biasanya restoran ini memberikan pelayanan yang cepat bagi pelanggannya.

Akhirnya Donghae berjalan menuju pintu dan membukanya dengan sumringah, “Wow~ You’re so fast tod…”, ucapan Donghae langsung terhenti saat dia melihat wajah seorang gadis yang amat dikenalnya kini terpampang di depan pintu kerjanya.  Dia memakai kemeja berwarna biru dan dengan celana jins berwarna senada.  Rambutnya yang diikat kebelakang, menambah gayanya yang berkesan casual.  “Haejin?”

Bulgogi~!!”,  seru Haejin sambil mengacungkan sekotak tempat makan ke hadapan Donghae.  “Aku juga tidak lupa membawa Kimchi”, tambahnya lagi.   Donghae masih menganga tak percaya dengan kehadiran gadis ini, “Bagaimana bisa kau kesini?  Padahal tadi aku baru saja memikirkan tentangmu, Haejin-ah!”,.

Haejin mengernyitkan alisnya dan kemudian tersenyum lebar, “Ah, jinjja?  Kau memikirkanku?  Uhm, itu berarti aku tidak melanggar janjiku untuk segera datang ke tempatmu jika kau sedang memikirkanmu ‘kan?”, tanyanya dengan senyum lebar yang memperlihatkan sederet gigi putihnya.  Donghae mendecak kagum dan memeluk Haejin dengan bahagia, “Johta~!  Kau memang sahabat terbaikku, Haejin-ah”, serunya dan segera menarik tangan Haejin untuk segera masuk ke dalam kantornya.  “Ayo masuk!”

“Waaaw~”, Haejin menganga kagum melihat segala desain interior di ruangan milik Donghae.  “Tak kusangka kau sesukses ini di London, Donghae-ya”, ucap Haejin santai.  Tak ada jawaban dari Donghae, ternyata dia sudah sibuk memakan bulgogi yang tadi dibawakan oleh Haejin.

“Yaa~kau ini.., jangan dimakan dulu.  Makanlah dirumah, sisakan untuk Nara ahjumma dan Jinki Ahjusshi.  Ah~ untuk Crystal juga!”, Haejin beranjak menuju meja Donghae dan segera berniat mengambil kotak makan itu.  Tapi percuma, Donghae jauh lebih lincah dibandingkan dia.  “Lee Donghae!  Jangan main-main!!”.

Donghae menjawab dengan mulut penuh daging dan potongan kimchi, “Arha..arha.  Thak akhuan akhu habbiskhan.  Tenangh sajha~”, gumamnya tak jelas.  Haejin menggeleng sambil tersenyum simpul saat Donghae lagi-lagi menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya sendiri, tampaknya dia benar-benar lapar.

Tapi tak lama kemudian, Donghae menyadari keanehan yang terjadi.  “Haejin-ahh, apha yangh sedhang kauuh lakukhanh di London?”, tanyanya heran.  Haejin tak menjawab dan kini duduk di samping Donghae, “Habiskan dulu makanmu, baru bicara.  Dasar kau ini, masih saja seperti anak kecil~”, katanya seraya menjitak kepala Donghae pelan.

Donghae mengangguk paham dan mengunyah daging dimulutnya hingga kini tersimpan dengan sempurna di perutnya, “Dalam rangka apa kau ke London?”, tanyanya jelas.

“Bertemu denganmu.  Bukankah sudah kubilang, jika kau membutuhkan aku..aku pasti akan segera datang ke tempatmu?  Dimanapun, kapanpun dan tak peduli sedang apapun”, jawab Haejin tenang dan tersenyum menatap Donghae.

“Aish~kojittmal.  Katakan saja ada apa yang sebenarnya”, Donghae menyenggol lengan Haejin dengan sikutnya dan memandangnya dengan ekspresi menggoda.  Haejin terkekeh, “Aku sedang melakukan test wawancara di salah satu universitas di sini.  Jika lulus, aku bisa mendapatkan beasiswa di London.  Bukankah itu hebat?”, tanyanya bangga.  Donghae menatapnya kagum dan segera mengacak rambut sahabatnya itu dengan lembut, “Aigoo-ya, daebak~!”.

Haejin menepis tangan Donghae, khawatir tatanan rambutnya rusak.  “Ah~kau merusak komposisi keindahan rambutku~!”, gerutunya.  Donghae agak terhenyak mendengar perkataan sahabatnya, “Mwoya?!  Sejak kapan kau peduli dengan rambutmu?  Lagipula salahmu sendiri karena memiliki rambut yang sangat enak untuk diacak-acak olehku~”, goda Donghae, kini makin semangat untuk mengacak-cak rambut sahabatnya itu.

“YA~!  LEE DONGHAE, KEUMANHAE!!”

*******

“Waaah~”, lagi-lagi Haejin hanya bisa menganga saat melihat rumah milik keluarga Lee.  Rumah bergaya eropa dengan halaman yang terhampar luas itu langsung membuat Haejin merasa menjadi putri di dalam cerita dongeng.  Ditambah lagi dengan beberapa pelayan berkebangsaan Inggris yang bersikap segan kepada Donghae, makin membuatnya yakin bahwa kini dia sedang berada di alur hidup Cinderella.

“Ini sudah kelima kalinya kau mengatakan ‘wahhh~’ dengan ekspresi seperti itu.  Pertama di kantorku.  Kedua, ketiga dan keempat, saat dalam perjalanan pulang ”,  ucap Donghae sambil memarkirkan mobilnya di garasi.  Haejin tersenyum kaku, agak merasa malu.  “Aniya, segala hal disini tampak baru bagiku”, katanya membela diri.

Donghae mengangguk paham, “Baiklah, akan kuajak kau jalan-jalan setelah kau beristirahat sejenak”, utusnya sambil melepaskan sabuk pengaman miliknya.  Haejin melakukan hal yang sama dan beranjak keluar dari mobil, “Jinjjayo?  Jalan-jalan?”, tanyanya sumringah.

Donghae menatap Haejin dengan tajam, “Kau tak percaya kata-kataku, Lee Haejin?”.  Haejin langsung menutup mulutnya dan mengangguk paham, “Aniya~ aku selalu percaya dengan setiap kata yang diucapkan oleh Tuan Muda Lee Donghae”, ucapnya mencoba meyakinkan Donghae.

“OPPA~!!”, suara teriakan itu langsung membahana saat Donghae dan Haejin baru saja menginjakkan kakinya di ambang pintu masuk.  “WATCH YOUR STEP!”, teriakan itu kembali terdengar, kali ini dibarengi dengan suara langkah yang tergesa.  Haejin mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara.

Tak lama kemudian, seorang gadis manis berperawakan mungil dengan kulit putih merona sedang menuruni tangga dengan memakai hotpants dan T-Shirt berwarna putih yang agak longgar.  Tangan gadis itu kini sedang menutupi sebelah matanya, entah karena apa.  “Perhatikan langkahmu!  Jangan sampai kau menginjak lensa kontak yang baru saja ku beli~!”, ucapnya sambil mengelilingkan pandangan ke seluruh penjuru rumah.

Donghae menunduk sekilas dan membungkuk untuk mengambil sesuatu yang tergeletak di lantai, “maksudmu benda ini?”, tanya Donghae sambil menunjukkan sebuah lensa kontak berwarna biru mengkilat.  Gadis itu memekik senang, “Great~!  Gomawo, Oppa”, ucapnya dan segera mengambil lensa itu kemudian memasangkannya ke matanya.  Donghae menghela nafas agak dongkol, “sudah kubilang, lebih sering makan wortel, Crys”.

Crystal mengangkat bahunya dengan ringan, “Ini bukan tentang wortel, my lovely brother.  Ini tentang MODE.  You know MODE?  FASHION~”, ucapnya penuh kebanggaan.  Haejin agak mengernyit melihat kelakuan gadis ini, “Hah?”, desisnya tanpa sadar hingga membuat Crystal sadar bahwa kakaknya itu tidak pulang seorang diri.

“Oppa, who’s she?  Pacar barumu?”, tanya Crystal asal dan membuat wajah Haejin langsung memerah.  Donghae menjitak kening Crystal pelan, “Kau lupa?  Dia ini Lee Haejin.  Dulu dia sering bermain denganku dan Raena”, jelasnya.

Crystal diam sejenak, masih berusaha mengingat-ingat sesuatu.  “Really?  Aku hanya ingat bahwa kau selalu membicarakan mengenai Raena onnie, tidak pernah sekalipun membicarakan tentang Haejin onnie padaku.  Aish, you are so mean, brother”, ucap Crystal sambil menyikut lengan Donghae yang terlihat salah tingkah.

Sementara itu, Haejin hanya bisa diam terpaku setelah mendengar perkataan Crystal.  Omongan gadis itu seperti membuatnya ingat bahwa dia bukan siapa-siapa di dalam cerita cinta ini.  Semua perkataannya seakan membuat Haejin dihempaskan ke dasar bumi terdalam.  Padahal sebelumnya, dia merasa amat bahagia karena kali ini dia bisa bersama dengan Donghae tanpa ada Raena di sampingnya.  Tapi semuanya benar-benar sudah tak berarti sekarang, karena tak peduli dimanapun..di dalam otak Donghae hanya tertulis satu nama, Im Raena.

“Ah~ tapi aku senang berkenalan denganmu, Haejin onnie.  Jagalah Oppaku baik-baik”, ucapnya sambil mengedipkan matanya kea rah Haejin yang mengangguk kaku.   “Oke, sekarang aku akan pergi dulu.  Bye, Oppa~”, Crystal kini beranjak meninggalkan Haejin dan Donghae sambil melambaikan tangannya.  Donghae menatap kepergian adiknya itu dengan mata terbelalak, “Ya~!!  Mau kemana kau dengan pakaian seperti itu?!”, tanyanya khawatir.

Crystal menatap Donghae dengan pandangan jengah, “Clubbing~?  Oh, C’mon Oppa, I’m 18 now”, ucapnya kesal, terkadang kekhawatiran kakaknya itu sering membuatnya sebal.

Donghae mendekati Crystal dan melepaskan mantelnya, dia menyampirkannya ke bahu adiknya itu.  “Bajumu terlalu mengundang perhatian pria lain!  Ganti baju sekarang atau tak kuizinkan kau clubbing, Crystal Lee”, ancam Donghae.  Crystal mendesah kecewa, “Memangnya aku harus memakai apa?  Baju training, hah?”.

“Apapun asal bukan celana itu”, ucap Donghae sambil melirik ke hotpants yang dikenakan oleh Crystal.  Memang tak bisa dipungkiri jika celana yang dipakai Crystal itu memang terlalu pendek untuk dikenakan oleh gadis berusia 18 tahun.

“Aish!”, Crystal menghentakkan kakinya dengan kesal dan segera meninggalkan Donghae menuju kamarnya yang ada di lantai dua, “Kau sangat menyebalkan, Aiden Lee!”.

“Ini semua demi kebaikanmu, Crystal Lee!”, seru Donghae agak kencang. Haejin berusaha menahan senyumannya saat melihat kelakuan Donghae yang tampak seperti seorang Ayah yang protektif terhadap anak gadisnya.  “Maaf atas kejadian memalukan itu”, ucap Donghae sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Haejin menggeleng, “Gwenchanha.  Aku salut dengan tindakanmu tadi.  Kadangkala menjadi tegas itu perlu”, ucapnya.  Donghae tersenyum senang dan kini menggandeng tangan Haejin menuju kamarnya, “Ayo, kuantarkan kau ke kamarmu”.

“Ahjumma dan Ahjusshi?”, tanya Haejin saat dia tak melihat keberadaan orangtua Donghae.

“Mungkin sedang jalan-jalan.  Akhir-akhir ini, Appa sedang menjalani masa puber keduanya.  Jadi dia selalu mengajak Umma jalan-jalan sore hari.  Aish~ aku geli membayangkannya”, Donghae langsung bergidik ngeri saat mengucapkan kata-kata itu.

Hingga saatnya mereka tiba di kamar tamu yang disediakan khusus untuk Haejin, “Ini keenam kalinya”, sela Donghae saat melihat Haejin menganga lagi.  “Baiklah Lee Haejin-ssi, silakan beristirahat.  Setelah kau puas beristirahat, silakan datang ke kamarku dan aku akan mengantarkanmu untuk berkeliling kota LONDON!”

“Kenapa tidak sekarang saja?”

******

“Ah~jinjja!  Kukira kau lelah setelah perjalanan dari Korea ke London”, ucap Donghae sambil menuruni tangga menuju lantai satu.  Haejin mengikuti di belakangnya, “Mianhae, aku kira tadi bisa bertemu dengan ahjumma dan ahjusshi dulu.  Ternyata mereka tak ada di rumah”, sahut Haejin sambil membetulkan letak tas di bahunya.

Donghae mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan, tapi Haejin buru-buru mencegahnya, “Tunggu!  Jangan naik mobil~”, pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya dengan pandangan memelas, “Aku ingin kita naik kereta”.

Mwoya?!”, seru Donghae tak percaya.  “Kereta?  Maksudmu kita akan mengelilingi London naik…kereta?  Trem?  Subway?”, Donghae masih mencoba memastikan ucapan sahabatnya itu.  Haejin mengangguk semangat, “Keurae!  Sepertinya akan lebih asyik jika kita naik kereta”.

“Sebenarnya boleh-boleh saja, hanya…”, Donghae terlihat agak ragu.  Haejin yang sudah tak sabar, langsung menarik tangan Donghae dengan semangat, “Kau setuju ‘kan?  Ayo berangkat~  Apa lagi yang harus kita tunggu?”.

******

“Ini yang kumaksud tadi, Haejin-ah”, ucap Donghae saat mereka telah tiba di stasiun kereta dan menunggu kedatangan kereta selanjutnya.  Kini mereka berdua sedang berdesak-desakan dengan warga London lainnya yang juga ingin menggunakan fasilitas kereta sebagai alat transportasinya.  “Di hari-hari seperti ini, stasiun kereta pasti penuh”, lanjut Donghae sambil mengelap dahinya yang berkeringat karena udara yang terasa pengap.

Haejin langsung memasang wajah bersalah, “Mianhae.  Aku tidak tahu hal ini, kukira stasiun kereta di London ini sama seperti stasiun kereta di Korea.  Tak kusangka akan seramai ini”, ucapnya sambil menyerahkan selembar tissue untuk sahabatnya itu.  Donghae menerima tissue dari Haejin dan akhirnya tersenyum manis, “Ah~biarlah.  Lagipula sudah lama aku tidak naik kereta.  Terakhir kali aku naik kereta itu saat SMA”, jelasnya.

Haejin mengangguk paham, “Keurae.  Ayahmu membelikanmu mobil pada saat kau masuk Universitas kan?”, ucapnya tanpa sadar sambil menutup retsleting tasnya.  Donghae langsung menatapnya heran, “Bagaimana kau…”

Haejin menengadahkan kepalanya dan menatap Donghae balik, “Mwo?”.

Ani.  Bukan apa-apa”, ucap Donghae sambil mengibaskan tangannya dengan panic.  Otaknya masih agak bingung dengan perkataan Haejin barusan…

Ayahmu membelikanmu mobil pada saat kau masuk Universitas kan?”

Bagaimana dia bisa tahu hal itu?

“Ah, keretanya datang!!  Palli~ Palli~ Palli~!!”, tiba-tiba saja Haejin menarik tangan Donghae yang tengah melamun memikirkan hal barusan.

“Lee Donghae, kenapa kau melamun terus?  Ayolah~ kau harus menjadi tour guide yang baik untukku!”, ucap Haejin saat mereka sudah berada di dalam kereta, kini tangannya sedang bersedekap di depan dadanya dan wajahnya terlihat agak sebal dengan sikap Donghae yang terlihat agak linglung.

Donghae hanya tersenyum seadanya dan memijat keningnya yang terasa agak pusing, “Entahlah, rasanya…terlalu banyak pertanyaan di dalam otakku sekarang”.

Kini mereka berdua telah berada di dalam kereta yang akan membawa mereka ke London Eye London, sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di London.  Tapi keadaan di dalam kereta ini pun tak kalah sesaknya dengan keadaan di stasiun tadi, hingga membuat Haejin merasa agak risih.  Bahkan mereka berdua harus berdiri di peron kereta karena tak kebagian tempat duduk, ditambah lagi disekelilingnya banyak pria asing yang menatapnya dengan heran (mungkin karena wajahnya yang berkesan sangat Asia).  Lama-kelamaan dia merasa menyesal karena memaksa Donghae untuk naik kereta dan berdesak-desakan seperti ini, padahal mereka bisa berjalan-jalan dengan nyaman menggunakan mobil milik Donghae.

Donghae yang melihat wajah Haejin yang menjadi muram, langsung mencubit pipinya dengan gemas, “Aigoo~pipimu tembam sekali!”, candanya.  Haejin memukul-mukul tangan Donghae beberapa kali, “Ya~!  Sakit, Lee Donghae!”.

“Haha, habisnya..pipimu ini benar-benar seperti marshmal…”

“Next Station, London Eye London”

Suara pemberitahuan tentang pemberhentian stasiun selanjutnya telah terdengar.  Donghae melepaskan cubitannya dari pipi Haejin dan mengelus kepalanya lembut, “Mianhae~”, ucapnya ringan.  Haejin manyun dan mengusap-usap pipinya yang memerah, “Yaa~ kau ini..dasar!”, gerutunya dan dibalas dengan kekehan Donghae.  “Bersiaplah, kita akan segera turun”, kata Donghae dan menggenggam tangan Haejin.

Haejin merasa seluruh tubuhnya terasa memanas saat tangannya terpaut dengan tangan sahabatnya itu.  Hatinya sangat berbunga saat dia bisa merasakan genggaman kokoh dari pria ini, tapi otaknya menyuruhnya untuk berpikir lurus dan mengingat segala hal yang terjadi sebelumnya. “Sudahlah, aku bisa berjalan sendiri dan tak akan tersesat.  Kau tak usah khawatir”.  Perlahan, Haejin mulai melepaskan tangannya dari genggaman tangan Donghae.

Donghae mengangguk paham dan memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya sedangkan Haejin lebih memilih memegang tali tas jinjingnya.  Cukup sudah, Haejin harus menyadari perannya.  Dia tak boleh terlalu menikmati keadaan ini.  Dia harus ingat pada kenyataan bahwa pria di hadapannya ini hanyalah sahabatnya, tak ada yang bisa mengubah kenyataan itu.

Tangan Haejin meraba kalung berbentuk setengah hati yang melingkar di lehernya sedangkan matanya menangkap ada rantai kalung yang sama tengah melingkar di leher Donghae.

“bersedia menjadi sahabatku untuk selamanya kan?”.

Haejin menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang seakan ingin meluap dari kantung matanya.  Seandainya film Harry Potter itu nyata, sungguh..Haejin ingin meminjam jam pemutar waktu milik Hermione.

Haejin ingin kembali ke 13 tahun lalu, saat semua kebohongan ini bermula.

Haejin ingin menuliskan namanya sendiri di tiap e-mail yang dikirimkannya untuk Donghae.

Haejin ingin menceritakan segala tentang dirinya tanpa takut kebohongannya terbongkar.

Haejin ingin cerita ini hanya berlaku pada dua nama : Lee Donghae dan Lee Haejin.

******

“Bagaimana?  London itu menakjubkan, bukan?!”, tanya Donghae antusias.  Haejin mengangguk mengiyakan sambil menyesap colanya.   “Tempat ini terlalu hebat.  Aku jadi bingung untuk menjelaskannya dalam kata-kata”, ucap Haejin sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan, masih mengangumi setiap hal di London ini.

Donghae tersenyum bangga dan akhirnya mengingat sesuatu, “Ah~ masih ada satu tempat lagi yang paling menakjubkan!  Kau pasti akan menyukai tempat itu~”, Donghae kembali menggenggam tangan Haejin dan menariknya untuk menyebrangi jalan raya.  “Ayo cepat~”.

Haejin mengikuti langkah Donghae yang lebar tapi dia merasa kesusahan karena sepatu berhak ini membuatnya sukar untuk melangkah, “Berhenti, Hae-ya.  Sebentar!”, ucapnya dan membuat Donghae menghentikan langkahnya.  Kemudian Haejin segera melepaskan sepatunya dan menentengnya dengan sebelah tangannya, “Oke, semua siap!”.

Donghae menganga lebar, “Siap?  Dengan telanjang kaki seperti itu?”

Haejin segera mendorong tubuh Donghae untuk melangkah maju, “Apa boleh buat.  Sepatuku tidak bisa bersahabat untuk diajak lari-lari seperti tadi”, jelasnya.  Donghae mendesah singkat dan mengambil sepatu itu dari tangan Haejin.  “Ya ya ya, mau apa kau, Lee Donghae?”.

Donghae tak menjawab dan langsung mematahkan kedua hak sepatu itu hingga kini sepatu milik Haejin telah menjadi sepatu ceper, “See? Mudah kan?”, tanya Donghae sambil menyerahkan kedua sepatu itu kembali pada pemiliknya.  Haejin melongo tak percaya, “APA YANG KAU LAKUKAN PADA SEPATUKU?!”

“Taman?”, tanya Haejin saat mereka telah tiba di tempat yang dikatakan Donghae tadi.  Donghae mengangguk semangat, “Dulu…saat aku masih beberapa bulan di London, aku masih belum punya teman.  Dan biasanya aku menghabiskan waktu disini.  Melakukan apa saja, seperti menggambar, main gitar, dan lainnya”, jelasnya.

“Oh, jadi ini tempatnya?”, ucap Haejin dengan nada paham.  Donghae mengangguk mengiyakan, “Ah~tapi hal paling menakjubkan dari taman ini ada di situ”, kata Donghae sambil menunjuk kearah pohon maple yang berdiri kokoh di tengah taman, “Kau tahu berapa umur pohon itu?”.

Haejin menggeleng, “Kau tahu sendiri jika aku lemah di pelajaran sejar…”

“1000 tahun.  Lalu ada mitos lain yang mengatakan bahwa jika kita mengatakan satu permohonan dengan penuh ketulusan dan dari hati yang paling dalam di bawah pohon itu, maka permohonan kita akan terkabul”, jelasnya.

“Oya?”, tanya Haejin tak percaya.  “Tapi…permohonanku tak mungkin bisa terkabulkan.  Jadi untuk apa aku berharap lagi?”, tanya Haejin skeptis.

“Eyy~ apa yang kau katakan?  Tak ada yang mustahil di dunia ini ‘kan?”, ucap Donghae mencoba menghiburnya.  Haejin tersenyum simpul, “Tetap saja ada beberapa hal yang mustahil, Lee Donghae.  Memangnya kau bisa hamil?”, ucapan Haejin langsung membuat Donghae kehilangan kata-kata dan menggaruk kepalanya dengan bingung.  “Ahh~ aku akan membeli cemilan untuk kita berdua.  Kau diam saja di bawah pohon itu ya?”, katanya salah tingkah.

Haejin terkekeh saat melihat Donghae yang berjalan menjauh menuju para pedagang cemilan.  Sahabatnya itu memang selalu menghindar jika dia sudah kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan lawan bicaranya.  Akhirnya Haejin berjalan menuju pohon maple itu  dan duduk tepat dibawahnya.

Suasana di sekeliling taman memang tak terlalu ramai, hanya ada beberapa Ibu yang sedang mendorong keranjang bayinya dan beberapa anak kecil yang asyik bermain.  Mereka berbincang dengan bahasa Inggris yang sangat fasih, bahkan Haejin merasa kesulitan untuk mengetahui apa yang tengah mereka perbincangkan.

Dalam hati, Haejin merasa simpati dengan Donghae kecil 13 tahun yang lalu.  Bagaimana perasaannya saat dia berada di negeri orang lain yang sama sekali tak dikenalnya, tanpa bisa berkomunikasi dengan siapapun?  Donghae kecil sama sekali tak bisa berbicara Bahasa Inggris, Haejin amat tahu itu.

Tiba-tiba saja Haejin merasakan semua perasaan Donghae saat 13 tahun lalu itu merasuk ke dalam relung jiwanya.  Saat dia duduk di bawah pohon ini sendirian, tanpa teman.  Saat dia hanya bisa menatap ke sekeliling dan mendengar kata-kata yang bahkan tidak dipahaminya sama sekali.  Saat dia hanya bisa menggambar dan memainkan gitar sewaktu dia merasa kesepian.

Kini Haejin menyadari sebagaimana berartinya e-mail yang dia kirimkan secara berkala itu bagi seorang Lee Donghae.

DRRTT..DRRTT..

Handphone Haejin bergetar seraya dengan ringtone yang unik, suara music dari partitur yang pernah Donghae kirimkan untuknya 10 tahun yang lalu.  Haejin mengambil handphonenya dengan tergesa, “Aigo~ kenapa aku lupa men’silentnya?”, rutuknya kesal.  Untung saja saat ini Donghae sedang tak ada disampingnya hingga dia tak menyadari bahwa Haejinlah yang menggunakan music dari partitur yang pernah Donghae kirimkan untuk Raena.  Ya, untung saja.

“Ya, Omma?”

*****

Donghae berjalan menuju pohon maple dengan langkah ringan.  Di tangannya, dia membawa 2 cup cappuccino dan setangkup hot dog berukuran jumbo.  Donghae tersenyum geli saat membayangkan wajah Haejin yang menganga lagi saat melihat ukuran hot dog jumbo yang dibawanya ini.

Donghae mengitarkan pandangannya, mencoba mencari sosok Haejin.  “Ah~ itu dia”, gumamnya saat melihat Haejin sedang duduk di satu sisi pohon dan menatap lurus ke depan.  Menatap beberapa Ibu dengan bayinya dan beberapa anak kecil yang tengah bermain dengan gembira.

Tiba-tiba saja Donghae mempunyai ide untuk mengejutkan sahabatnya itu, jadi dia memutar kearah belakang dari posisi Haejin yang sekarang.  Dengan langkah perlahan, Donghae mencoba tak menimbulkan suara.  Hanya tinggal beberapa langkah lagi hingga ke tempat Haejin, tiba-tiba ada suara yang amat dikenalnya berbunyi nyaring.

Suara ini..musik dari lagu yang pernah dia kirimkan untuk Raena!

Lalu kenapa suara ini bisa terdengar sampai kesini?  Apa otak Donghae yang terlalu merindukan Raena hingga kini dia tak bisa berpikir normal dan terus-terusan mengingat segala tentang gadis itu?

Tapi semua pertanyaannya langsung terjawab saat dia melihat Haejin yang tersentak karena suara itu dan tergesa-gesa merogoh sesuatu dalam tasnya.  Ternyata dia mengambil sebuah handphone, tapi ringtone itu?  Donghae bingung tentang ringtone itu!!.  Bagaimana caranya hingga musik dari partitur yang dia kirimkan untuk Raena, kini bisa menjadi ringtone handphone Haejin?

Donghae benar-benar merasa bahwa segalanya berputar dan membuatnya amat pusing.  Seribu pertanyaan berkecambuk di otaknya, ada apa dibalik semua ini?

“Mungkin…dia merasa berdebar karena bertemu dengan pria yang dinantinya selama 13 tahun?  Lagipula e-mail dan kenyataan adalah 2 hal yang berbeda bukan?  Mungkin saja Raena membutuhkan waktu untuk mengatur perasaannya saat berada dihadapanmu, makanya dia terlihat berbeda dengan semua hal yang telah kau pikirkan”

Jawaban itu..seakan-akan dia mengetahui segalanya.  Semua yang terjadi selama 13 tahun!

“Aku diberitahu tentang novel Love Story ini dari rekomendasi seorang teman.  Dan, ceritanya sangat menarik”.

Dia memiliki novel Love Story yang bahkan tak dimiliki oleh Raena!

“Pasti Haejin sedang berada di tempat persembunyiannya.  Di bawah pohon anic yang ada di taman di dekat sini, mungkin”.

Raena bilang bahwa tempat persembunyian favoritnya adalah di bawah pohon maple, sama sepertiku!  Tapi kenapa Haejin yang sering pergi ke tempat itu?

“Ne, H.O.T-happiness.  Aku sangat suka lagu ini”

Raena membenci lagu-lagu lama, dan Raena lebih menyukai dance dibandingkan mendengarkan lagu.

“Ah~benar, ini sudah hari ketiga.  Kau harus mengerjakan proyek barumu, ‘kan?”

Haejin mengetahui hal sepele itu.

“Ayahmu membelikanmu mobil pada saat kau masuk Universitas kan?”

Haejin mengetahui segalanya yang tidak diketahui oleh Raena.

*******

“Ya omma~ aku akan makan tepat waktunya dan tidak akan tidur terlalu larut!  Ya ya ya ya, aku tahu!  Oke, bye~.  Jangan telefon aku lagi, biar aku yang akan menelfon Umma nanti”, Haejin segera mematikan sambungan telefon itu dan mengorek telinganya yang tiba-tiba terasa tuli setelah mendengar nasihat Ibunya itu.  “Aish~gendang telingaku!”, keluhnya.

Saat Haejin ingin mematikan handphonenya, terdengar langkah yang diseret dari arah belakang tubuhnya.  Haejin memalingkan wajahnya dan melihat Donghae mendekatinya dengan langkah berat dan terkesan dipaksakan.  Di tangannya dia melihat 2 cup cappuccino dan sebuah hot dog, “Aigoo~kenapa kau tidak bilang jika butuh bantuan?”, tanya Haejin sambil beranjak kea rah Donghae dan mengambil semua barang bawaannya.  “Waaa~hot dognya besar sekali~!”

Bukannya senang melihat ekspresi kagum dari wajah Haejin, Donghae langsung mengeluarkan handphonenya dan segera menekan dial call milik Haejin.  Ia menempelkan speaker itu ke telinganya dan mendengar nada sambung mulai terdengar.

Tepat saat itu pula nada music dari partitur 13 tahun itu kembali terdengar.

Haejin langsung terpaku di tempatnya dan menatap handphonenya dengan nanar dan menengok kea rah belakang, ternyata benar..Donghae tengah menelponnya dan menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.  Marah, kecewa, bingung dan sedih.  Itulah yang bisa Haejin tangkap dari ekspresi wajahnya.

Novel Love Story..”

Haejin mendengar lirihan Donghae itu.  Entah kenapa, alih-alih takut karena kebohongannya terbongkar..Haejin malah merasa sakit saat melihat ekspresi sedih dari pria yang dicintainya itu.

H.O.T..”

Kini Haejin menaruh cappuccino dan hot dog itu di tanah.  Wajahnya masih menunduk dalam, masih belum berani menatap mata Donghae.

Semua isi email itu, tak ada satupun yang diketahui oleh Raena..”

Haejin menggigit bibir bawahnya, hingga dia bisa merasakan darah mengalir dari bibirnya itu.  Sungguh, dia rela menyakiti dirinya sendiri asalkan pria di hadapannya ini tak memasang wajah sedih seperti sekarang.

Tapi kenapa kau tahu segalanya, Lee Haejin? Kenapa?  KENAPA?!”, kesabaran Donghae telah sampai pada batasnya.  Emosinya sudah tak bisa dikendalikan.  Rasanya dia telah melakukan hal yang sia-sia, menyatakan cinta pada seorang gadis yang tidak dicintainya.  Dan menyakiti gadis yang telah menemaninya selama 13 tahun terakhir ini.

“Lee Haejin, tolong…”, ucapan Donghae terputus saat kepalanya lagi-lagi terasa pusing.  Dia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengatur emosinya, “Tolong..jelaskan apa yang sudah terjadi.  Aku yakin kau pasti punya alasan yang jelas untuk ini”.

Haejin menggeleng lemah, “Tidak ada alasan apapun.  Aku memang jahat”, jelasnya singkat dan malah membuat Donghae makin kecewa.  “Aku hanya gadis pengecut yang tak berani mengungkap kebohongannya”.

“Selama 13 tahun..semua e-mail itu..kau?”, tanya Donghae tak jelas.  Tapi Haejin benar-benar mengerti apa yang diucapkan oleh pria ini, “Ya”, jawabnya singkat sambil masih tetap menunduk lemah.

Donghae menggelengkan kepalanya tak percaya kemudian segera menggenggam lengan Haejin dengan erat, “Ini sebuah kesalahan, Haejin-ah.  Aku mencintai gadis yang selalu mengirimiku e-mail selama 13 tahun, bukan Raena!”, jelasnya dengan penuh pandangan memelas.  Haejin menggeleng lagi, “Ani, kau mencintai Raena bukan aku”.

“Apa maksudmu?!  Aku selalu mencintai kau, gadis yang mengirimi…”

Lihat saja, tanggal 7 November nanti..aku akan langsung mengenali sosokmu saat kau menjemputku di bandara!”, ucapan lirih dari bibir Haejin itu langsung membuat Donghae terhenyak.  “tapi apa kenyataannya, Lee Donghae?  Kau beranjak kearah Raena dan sama sekali tak memandangku”.

Donghae menghela nafas dengan berat, “Tapi semua itu karena…”

“Kau selalu berasumsi bahwa Raena telah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik”, lanjutnya dengan suara yang makin melemah.  Haejin  berusaha menahan tangisnya dengan sekuat tenaga, “Kau tak pernah berpikir bahwa mungkin saja seorang Lee Haejin bisa berubah menjadi Im Raena”.

Haejin menyeka air mata di ujung matanya, “Semua sudah terlambat.  Raena sudah mencintaimu dan dia bukan tipikal gadis yang bisa melepaskan pria yang dicintainya.  Aku tak bisa merebutmu dari dia”.

Donghae menggeleng lagi, “Maldo andwae!  Jangan paksa aku untuk mencintai seseorang yang tidak kucintai!!”.

Haejin menengadahkan kepalanya, emosinya juga telah memuncak.  “Dan jangan paksa aku untuk mengkhianati sahabatku sendiri!”.

Para pengunjung di taman itu mulai berbisik saat melihat pertengkaran mereka berdua.  Donghae tak bisa berpikir apa-apa lagi saat dia merengkuh leher Haejin dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir gadis di pelukannya ini.  Haejin terhenyak kaget dengan sikap Donghae yang tiba-tiba.  Dia mencoba berontak melepaskan diri tapi pada kenyataannya dia langsung terpaku saat dia merasakan bahu Donghae bergetar dan ada air mata yang membasahi pipinya.  Pria ini menangis..untuknya?

“Kau tahu?  Seorang pria hanya diperbolehkan menangis sebanyak 3 kali selama hidupnya.  Dan kesempatan 1 kali itu sudah terbuang olehmu, Lee Haejin”, ucap Donghae sambil melepaskan tangannya dari leher Haejin.  Kini tangannya beralih menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, “Jadi kau paham sebagaimana berharganya kau untukku?”

No..neomu jeongmal baboya.  Jinjja, Lee Donghae!”, Haejin memukul-mukul dada Donghae  dengan kesal.  Donghae tak melawan sama sekali dan malah membiarkannya, tapi pada akhirnya dia merengkuh kepala Haejin dan mendekapnya erat.  Donghae membiarkan gadis ini menangis sepuasnya, membiarkan dia melepaskan segala rasa tertekannya atas semua perlakuannya sendiri.

“Mianhae.  Jeongmal mianhae”, bisiknya tepat di telinga Haejin.

Dia tak menjawab apa-apa tapi hanya mengangguk lemah, “Kau..memaafkanku?!”, tanya Donghae tak percaya.  Haejin mengangguk lagi, kali ini sambil tersenyum kecil.  Donghae langsung tersenyum lebar dan kembali memeluknya erat, seakan tak ingin melepaskannya.

“Akan kujelaskan semuanya pada Raena.  Dia pasti bisa mengerti.  Kau tenang saja”, ucap Donghae menjawab segala kekhawatiran Haejin yang hanya bisa mengangguk pasrah.  “Lalu..kurasa sebaiknya kita segera pergi dari sini.  Orang-orang mulai menganggap kita gila”.

Donghae dan Haejin segera melepaskan pelukannya kemudian membereskan  barang-barang mereka yang tadi tergeletak begitu saja di bawah pohon maple.  Haejin membiarkan Donghae membawa cappuccino dan hotdog mereka yang tadi terlantar dan dia langsung mengambil tas juga handphonenya.  Tapi matanya langsung menyipit saat ada satu SMS yang masuk ke handphonenya. Tangannya membuka SMS itu, ternyata dari Raena.

Baru beberapa baris matanya membaca teks sms itu, lutut Haejin langsung bergetar.  “Andwae..andwae..andwae”, lirihnya.  Donghae menghampiri Haejin yang terlihat panik, “Waeyo?”.

Belum sempat Haejin menjawab pertanyaan Donghae, tiba-tiba handphone Donghae berbunyi.  SMS dari Raena.

Ayahku meninggal.  Aku tak punya siapa-siapa lagi kecuali kau dan Haejin.  Aku mohon, cepatlah kembali ke sini.  Aku sangat membutuhkanmu.  Jangan tingggalkan aku, Donghae-ya

Donghae menahan nafas, sangat shock.  “Ini..tidak mungkin.  Haejin-ah, kita harus menjelas..”.  Belum selesai Donghae mengucapkan kata-katanya, Haejin sudah berlutut memohon di kaki pria itu, “Aku mohon..jangan tinggalkan dia, Lee Donghae-ssi. Dia hanya memiliki kau di dunia ini”.

Donghae menatap sosok gadis yang dicintainya ini.  Hatinya terasa sakit saat melihat dirinya yang rela berkorban demi seorang sahabat yang dicintainya, bahkan melebihi cintanya sendiri.

Arasseo.  Aku akan tetap bersama dengan Raena.  Aku akan berkorban demimu, Lee Haejin.  Tapi aku tak mau berkorban sendirian didalam masalah ini.  Kau juga harus melakukan hal yang sama, berkorbanlah sepertiku.”

“Hah?”, Haejin masih belum mengerti dengan ucapan pria di hadapannya ini.  “Maksudmu?”

“Carilah pria lain dan jalinlah hubungan cinta dengannya”

*****

–T.B.C–

39 thoughts on “Sweet 13 Sweat {4th Drop}

  1. Suka banget onn ♪───O(≧∇≦)O────♪
    Ntah kenapa aku jadi Sebeeeeeeeeeeel banget sama Raena (>_<)
    Donghae juga Lola banget onn
    Saya jadi Sebel sendiri =..=
    Lanjutannya sangat di tunggu onn
    Endingnya sama kayak filmnya kan Onn ?

    • Waaaah, makasih yaa :’)
      Hahaa~😄 raena emang jd tokoh antagonis d sni, kayak tina d film aslinya ^___^
      Hae..emang telmi sih. .___. *plak
      Hahaa

      Lanjutannya, sabar yaa ^___^
      Buat endingnya..masih dirahasiakan. Haha

  2. aku nungguin lanjutan ni ff tau ching , harus lanjut ya. Yg WGM kyunara juga penasaran. I’M KYUNARATION loh hahaha

      • Mwo ?? Kasetnya ilang onn ?? *pingsansaya

        Beberapa hari yang lalu kan film ini ditayangin di TPI onn

        Saya nonton lho *bangga.com o(^▽^)o

        Dan menurut saya, saya lebih suka FF Onnie dibanding film aslinya hehheheehehee tulisannya Onnie lebih menyayat hati pula

        Pokoknya Onnie DAEBAK !!!

        Saya jadi kyunaration sekarang ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

      • Iyaa TT.TT
        Kaset disc keduanya ilang TT^TT
        Jd cuma pas bagian raj nyuruh si pooja bwt cri pengganti dia aja –__–

        Iyap, kmaren emang ada di TV tapi banyak yg dipotong TT.TT
        Udah gitu, bnyak iklan pula. Makanya ga enjoy nntonnya😦

        Haha, makasih yaa udh brsdia bca ff ni ^___^ *hug
        Makasih jga udh mau jd kyunaration ^^ :*

  3. chinguuuuu lanjutin ff yang ini dong plis banget ya ampun penasaran ;_; ini terinspirasi dari film india ya?._. *abis baca komen2 diatas* *sumpah gue sksd abis-_-*

    • Haha, bnyak yg pengen lnjutin ff yg ni yaa? :3
      Gomawo ^___^

      Haha, iyaa..
      Dri film india ‘mujhse dosti karoge’ .___.v
      Seru loh filmnya *promosi*

      Gapapaa😄
      Sksd disini ga dilarang sama sekali kok😀 santai ajaa. ^^ salam kenal yaa😀

  4. Huhuhu…nara,aku plg penasaran ma ff mu yg ini…
    Lanjutkan donk ff ini… penasaran bgt ma kelanjutan haejin-donghae…

    Oh ya I’m kyunaration…
    Nara hwaiting…

  5. Hah…, sad…
    Cerita nya bagus…
    Kasihan haejin.., baru jg mendpt kbahagiaan.. Tp cuma sebentar…
    Lanjut…
    Lanjut…

  6. aaaahhhhh
    penasaran bgt smaa lanjutannya sumpah!

    Raena lama2 nyebelin!! Haejin berkorban bgt bgt bgt itu!
    gak sabar nunggu lanjutannya!

  7. eonnie…….. ayo lanjutin ceritanya T-T
    aku lbh suka donghae-haejin, drpd donghae-raena kyknya feelnya ga dpt gt *sok tau*

  8. Eonnnn…. Lanjutin ya ya ya????….. Aaaaaa so sweet… Eomma.. Eon, un udh selesai kan? Berarti wgm bisa lanjut nh? Yeayyyy… Oia yang ini juga kudu di lanjutin…tetap semangat!*bawabawapompom*

  9. nah, ini dia ff yg paling bikin aku mati penasaran!!! *lebe bgt dah -___-*
    lanjutin donk eon, dah dari jaman bahola nih nunggunya… –”
    penasaran tingkat akut!!
    udah selesai kan UNnya eon??
    lanjutin yg WGM ma yg ini yaaaa… yah? yah? jeballll~~~ *muluk” sambil sujud* T~T

  10. waaa………..bgus bgt.
    Lee haejin bner2 shbat sjti..
    ska ska ska,..
    dtunggu lnjutanx y ^^

  11. Cha… *sok kenal bgt*
    ini masi TBC?
    Belom sembuh?
    Diobatin atuh…
    kan sayang kalo belum mati-mati (?)
    #readerstressnunggulanjutanFF

  12. aaaaaaa ayo cepet lanjutkan ff nya
    ff ini buat aku galau setengah mati aaaaah ayo cepetan
    hae pasti akhirnya sama haeijin kan ekekekekek aku dukung hae sama haejin ^^

  13. onnie , mianhae.. aku baca FF ini n baru koment di part ini . sumpah deh . aku suka bgt sama ff ini .
    ngmg2 kpn lanjut lagi onnie ?
    ff nya bagus , tata bahasa nya juga enak di baca . hehe

  14. ini FF uda ampir staon yah >.<, kapan dilanjutin yah?padahal dah lama bgt lho kutunggu2 TT.TT
    please donk dilanjutin *deep bow*

  15. onnie crtanya keren bngt.tapi kalo blh aku saranin, crita ini kya film india apa gtu pernah nonton yg pemainnya rani mukhreje ma krtik roshan. Maaf onnie sblmnya,aku suka bngt ma ff ini tapi crtanya pengen dbdain dr film itu.gomawo onnie.mianhe nyaranin gtu.

  16. onnie . . . .lanjutannya manaaaaaaaa #nodonghotdog
    lanjutin dong onnie . . . . . . PLEASE jangan digantung gitu critanya
    PLEASE . . PLEASE . . PLEASE . . . #nariknarikbajuonnie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s