Sweet 13 Sweat {3rd Drop}

9 November 2010, Gongjji University Hall

Oh My God, bagaimana penampilanku?  Sudah cukup menarik?”, tanya Raena gugup.  Kali ini mereka berdua sedang ada di backstage dalam acara pentas seni yang diadakan oleh Universitas Gongjji.  Dan sebagai salah satu pesertanya, Raena sangat merasa gugup. Haejin yang sedang menemaninya pun hanya bisa mengangguk mengiyakan dan membetulkan posisi poni rambut Raena yang agak bergeser, “Kau selalu cantik, Raena-ya.  Tenanglah, everything’s gonna be okay”, ucap Haejin menenangkan.  Raena mengangguk paham biarpun hatinya masih berdebar kencang.

Menyadari ada satu hal yang kurang, Raena memandang sekelilingnya dengan heran, “Kemana Mr. Inggris itu?  Dia tak akan menonton penampilanku?”, tanyanya penasaran.  Haejin tersenyum perih saat membayangkan semua hal yang terjadi kemarin di toko perhiasan.  Sungguh, saat ini dia tak ingin membicarakan semua hal mengenai Lee Donghae.

“Entahlah, mungkin dia…ada keperluan?  Aku juga tak tahu”, kilah Haejin mencoba menghindari pertanyaan itu.  Raena mengangguk pelan dan menggembungkan pipinya, “See? Dia bahkan tak bisa menonton penampilanku.  Huh~!  Lelaki macam apa dia?”, keluhnya.  Haejin tak menjawab dan memilih untuk mengintip keadaan di luar backstage dari balik pintu, tapi dia menajamkan pandangannya saat melihat Donghae yang tengah berbicara dengan seorang pria lainnya.  Haejin menyadari bahwa pria itu adalah, “Hyukjae?”

Haejin tak melepaskan pandangannya dari mereka berdua, dia melihat Donghae menepuk bahu Hyukjae dengan akrab kemudian Hyukjae mengacungkan jempolnya dan tersenyum yakin.  Donghae mengangguk senang dan membungkuk singkat kearah Hyukjae, hingga akhirnya keduanya saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.  Haejin masih menerka-nerka setiap kemungkinan dari isi pembicaraan mereka berdua.  Mungkinkah…?

“Ah~Hyukjae-ssi, tunggu sebentar..”, Haejin menahan langkah Hyukjae saat dia masuk ke dalam ruang backstage.  Hyukjae menoleh, “Aigo~Haejin-ssi.  Annyeong~!  Lama kita tak berjumpa”, sapanya dan dijawab dengan senyum simpul Haejin.  “Ada perlu apa?”

Haejin menelah ludahnya dengan gugup dan melanjutkan kata-katanya dengan ragu, “Apa..yang sedang kau..bicarakan..dengan Donghae?”.

Hyukjae memiringkan kepalanya dengan heran, “Hee? Tadi?  Kami hanya membicarakan mengenai misi rahasia untuk Raena.  Bukankah kau sudah tahu hal ini?”, tanya Hyukjae memastikan.  Haejin makin merasakan bahwa semua dugaannya itu benar adanya, “Mengenai..Raena?”, desisnya lirih.  Hyukjae mengangguk semangat, “Ne.  Kau lihat saja aksinya nanti”, jelas Hyukjae dan menepuk bahu Haejin dengan pelan dan segera berlari menuju Raena yang sedang melakukan scretching sebelum penampilan mereka dimulai.

Sepeninggal Hyukjae, Haejin kembali mengintip ke luar backstage dan melihat Donghae sedang memegang sebuah kotak beludru kecil berwarna merah, dia bisa melihat kilauan cahaya yang terpancar dari sebuah benda yang ada dalam kotak itu . Segurat senyuman yang selalu Haejin idamkan kini tengah tergambar sempurna di bibir Donghae.  Dan untuk kesekian kalinya, Haejin hanya bisa merintih perih dalam hati.

Isi dari kotak itu bukanlah miliknya.

Senyuman itu bukan untuk dirinya.

Dan setiap bagian dari hati seorang Lee Donghae tak pernah tersirat sedikitpun mengenai Lee Haejin.

Selalu tentang Im Raena.

Masih tentang Im Raena.

Dan tetap tentang Im Raena.

*****

Seorang MC berjalan santai ke tengah panggung.  Haejin agak antusias melihat penampilan ini karena inilah waktu untuk penampilan Raena.  Sedikit demi sedikit, Haejin mulai bisa mengusir bayang Donghae untuk sejenak dan kembali fokus pada penampilan sahabatnya ini.  MC itu mendekatkan microphone ke bibirnya, “Oke, selanjutnya adalah penampilan dari juara festival ini selama 2 tahun berturut-turut~!  Ada yang bisa menebak siapakah mereka?”

Dalam sekejap saja, seluruh penjuru aula terasa sesak  oleh teriakan para penonton, termasuk Haejin.  “Im Raena~! Lee Hyukjae~!”, nama 2 orang itu makin terdengar riuh saat sosok Raena dan Hyukjae mulai tampak dari balik panggung dan bersiap-siap ke tengah panggung untuk menunjukkan penampilan mereka.  Raena sempat melambai sekilas pada Haejin yang sedang menatapnya antusias, “Hwaiting~”, desis Haejin sambil mengepalkan tangannya ke udara dan dibalas dengan anggukan Raena.

Tidak usah menunggu lama, inilah penampilan dari Hyukjae dan Raena~!  The floor is yours, guys!”, ucap sang MC sambil berjalan meninggalkan panggung.  Tepat sesaat setelah sosok MC menghilang di balik layar panggung, lampu di seluruh penjuru aula langsung dimatikan dan membuat beberapa penonton berteriak histeris.  Ada yang ketakutan tapi ada pula yang menyadari bahwa ini adalah bagian dari konsep penampilan Raena dan Hyukjae.

Di atas panggung, Raena langsung menggenggam tangan disampingnya dan berbisik, “Do our best, Hyukjae-ya.  Kita pasti bisa~!  Perlihatkan hasil latihan kita selama 3 bulan ini.  Arasseo?”.   Tapi sosok disampingnya hanya diam membisu ditengah kegelapan aula.  Raena mendengus kesal dan kembali menatap lurus kea rah penonton, biarpun masih di tengah kegelapan, “Ya~!  Aku tahu bahwa kau seringkali demam panggung, tapi setidaknya jawablah kata-kataku ini.  Aissh, neo jinjja…”.

Sebelum kata-kata Raena selesai diucapkan, tiba-tiba lampu menyala dan membuat pandangan Raena harus beradaptasi untuk beberapa saat tapi dia bisa menangkap tatapan heran dari semua penonton.  Tatapan itu bukan untuknya, namun untuk seseorang disampingnya.  Hyukjae?

Raena menoleh secepat kilat dan merasa dengkulnya benar-benar lemas saat matanya melihat sosok pria yang memenuhi malamnya semenjak beberapa hari ini sedang berdiri di sampingnya, di posisi yang seharusnya ditempati oleh Hyukjae.  “Neo..Donghae?”, gumam Raena tak percaya.

Donghae hanya tersenyum manis dan menoleh sekilas ke belakang dan mengacungkan jempolnya kearah seseorang.  Raena mengikuti arah pandangan Donghae dan ternyata itu adalah..“Hyukjae?!  Sejak kapan dia ada disana?”, katanya heran.

Sedangkan di barisan depan penonton, Haejin menggigit bibirnya dengan penuh pandangan kecewa kearah panggung.  Dia tahu bahwa sebentar lagi, hal yang paling dia takutkan akan segera terjadi, pasti..dan tak akan pernah bisa dia hentikan.  “Lee Donghae, sadarlah..jebal, andwae..andwae..”, desisnya pelan ditengah teriakan riuh para penonton disekitarnya.

Donghae mendekatkan microphone ke bibirnya dan menatap kea rah Raena yang masih menatapnya heran, “Im Raena, Im Raena, Im Raena..”, cukup hanya dengan 3 kata yang diucapkan Donghae, maka seluruh penjuru aula langsung menjadi sunyi senyap dan membuat Haejin menutup telinganya dengan rapat, berharap dirinya bisa menjadi tuli untuk beberapa saat.

Keumanhae, jebal.  Hentikan..”, desis Haejin sebari berusaha menahan gemuruh di dadanya yang semakin sakit.

I wanna love you.. I wanna have you..

Untuk pertama kalinya, Haejin mendengar nyanyian Donghae.  Dia sama sekali tak menyangka bahwa suara berat pria itu bisa menjadi sangat merdu.  Tapi lagi-lagi dia harus menyadari bahwa nyanyian itu bukan untuknya, tetap bukan untuknya dan tak akan pernah ditujukan untuknya.  Tak ada lagi rasa sesak yang lebih menyakitkan dibandingkan hal ini.

Lampu kembali dimatikan dan sebuah lampu sorot kembali dinyalakan kemudian menyorot kearah Hyukjae.  Dia berjalan perlahan sambil membawa sebuket bunga kearah Donghae dan Raena yang berada di tengah panggung.  Setelah menerima buket yang diantarkan oleh Hyukjae, Donghae mulai menyanyikan lirik sebuah lagu.

Neon nae yejande (keuge euichyeodo)

You’re my girl (I want to tell it loudly)

Neomanisseumyeon, I’ll be Okay

As long as I can see you, I’ll be Okay

Ijen naega neol jigyeo julke

Now I’ll be protecting you

 

Baby, you know because

I wanna love you, I cant live without you

Du nuneul gamgo nae du soneul jabgu

Close your eyes and only hold onto my hands

 

I wanna have you, I really need you

 

Jigeum idaero modeungeol beoryeodugo

Like this we don’t need to care about anything else

 

I wanna love you, I cant live without you

 

Neon geujeo naegero dagaseo myeondwae

You only need to be close to me

I wanna have you, nae modeungeol julke

I wanna have you, belong to you

Ijeneun neoege yaksokhalke

I promise that my everything will belong to you

 

Tepat saat music pengiring lagu berhenti, Donghae mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dan membukanya di hadapan Raena.  Tentu saja Raena terhenyak tak percaya saat melihat sebuah cincin berwarna perak itu berkilau indah dan menyilaukan matanya, “Ige mwoya?”, tanyanya sambil menatap lurus kearah Donghae.

Donghae mengernyitkan alisnya dan terkekeh pelan, “Bukankah lagu itu sudah mewakilkan semuanya?”, tanyanya dan meraih tangan kanan Raena kemudian segera memasangkan cincin itu ke jari manis gadis dihadapannya ini.

Be mine?”

Haejin menatap lurus kea rah panggung, pandangannya sudah benar-benar kosong.  Tapi indera pendengarannya tetap bisa mendengar semua hal yang terjadi saat ini, dan satu kata yang terucap dari bibir Donghae itu telah bisa membuat jiwanya seakan dicabut secara tiba-tiba.  Sekilas Haejin masih bisa menangkap kilatan cahaya dari kalung perak berbentuk setengah hati yang dikenakan oleh Donghae saat itu.  Tanpa Haejin sadari, tangannya memegang kalung berbentuk sama yang juga sedang dikenakannya..

“Jeng..jeng..jeng”, tiba-tiba saja sudah ada seuntai kalung yang menggantung di hadapannya.  Diujung rantai kalung itu tergantung bandul berbentuk separuh hati, “Apa ini?”, tanya Haejin heran sambil menatap kearah Donghae.

Donghae masih tak menjawab tapi dia menunjuk kea rah kalung berbentuk sama yang kini telah melingkar di lehernya, “Tanda persahabatan antara kau dan aku.  Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa mengerti perasaan hatiku, maka dari itu aku menitipkan sebagian hatiku untukmu”, ucap Donghae santai sambil mengalungkan kalung itu ke leher Haejin yang masih terkesiap kaget.

“Kau memang teman terbaikku, Lee Haejin.  Gomawo”, ucapnya sambil mengelus rambut Haejin dengan lembut.  Haejin hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.  Donghae melanjutkan ucapannya, “Tapi, untuk kali ini..aku merasa bahwa kau bukanlah teman baikku.  Tapi kau adalah sahabatku.  Sahabat terbaaaik bagiku dan bagi Raena”.

“Jadi…”, Donghae mengulurkan tangannya kearah Haejin, “bersedia menjadi sahabatku untuk selamanya kan?”.

Haejin menatap uluran tangan itu dengan hampa tapi tangannya beranjak naik dan menerima jabatan tangan yang kokoh itu, “Ya, tentu saja aku bersedia”

Tapi seluruh ingatan Haejin tentang kejadian kemarin itu langsung buyar seketika saat dia melihat Raena mengangguk malu-malu dan wajah Donghae yang terlihat sangat bahagia.  Dalam seketika, seluruh penjuru aula menjadi sangat riuh oleh teriakan penonton yang memberikan selamat.  Tapi semua hal itu malah membuat hati Haejin semakin sakit.

Donghae langsung beranjak memeluk Raena dengan erat.  Secara tidak sengaja, pandangan matanya bertemu dengan mata Haejin yang menatap kosong kearah panggung.  Donghae tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya kea rah Haejin, “Gomawo~”, ucapnya tanpa suara.

Entah kekuatan magis apa yang mendorong seluruh syaraf yang ada di tubuh Haejin saat dia mengangkat tangannya dan ikut bertepuk tangan dengan penonton lainnya.

Entah siapa yang mengendalikan mimik wajahnya hingga dia bisa tersenyum perih seperti sekarang.

Entah bagaimana caranya dia bisa menangis bersamaan dengan kedua hal yang telah terjadi diatas?

Menangis sambil tersenyum perih dan bertepuk tangan atas kebahagiaan pria yang kita cintai?

Tak ada hal lain yang lebih menyakitkan selain ini.

Percayalah..

******

“Siap? Hana..dul..set”, Hyukjae memberikan aba-aba sambil mengatur tata fokus kamera digital miliknya.

“Cheese~!!”, ucap Donghae dengan penuh semangat sedangkan disebelah kanan dan kirinya terdapat Raena yang tengah memegang piala yang mengkilat dan Haejin yang mengepalkan tangannya keudara sambil tersenyum ceria.

“Johta~.  Hasilnya bagus!”, ucap Hyukjae sambil memperlihatkan hasil fotonya pada mereka bertiga.  Donghae hanya tersenyum sambil mengacak rambut Haejin dengan lembut dan merangkul bahu Raena dengan mesra, “Mana mungkin hasilnya tidak akan bagus jika seorang pria tampan berfoto dengan 2 gadis paling cantik di dunia? Haha~”, ucapnya membanggakan diri sehingga membuat Raena menatapnya jijik dan Haejin yang terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.

“Ups, pacarku menelpon!  Sepertinya dia marah karena aku belum menemuinya lagi.  Gotta go~”, ucap Hyukjae sambil melambaikan tangannya kea rah mereka bertiga dan dibalas dengan lambaian singkat.

Haejin mengambil kamera digital dari tangan Donghae dan melihat sendiri hasil foto-foto itu, ternyata hasilnya memang bagus.  Wajah mereka bertiga terlihat sangat bahagia dan cheerfull.  Bahkan Haejin heran mengapa dia masih bisa tersenyum selebar ini padahal hatinya sangat sakit tak terkira.

“Katakan kau mencintaiku”, bisikan suara itu langsung membuat pendengaran Haejin kembali menjadi tajam.  Dia yakin pasti kedua sahabatnya itu sedang berbicara mesra dan sebaiknya dia segera pergi sebelum sakit hatinya itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya mati seketika.

Haejin menarik nafas dalam-dalam dan mempersiapkan senyuman lebarnya sebelum dia membalikkan tubuh kea rah Raena dan Donghae, “Hei~ tolonglah..jangan bermesraan disini.  Masih banyak tempat romantic lainnya”, gurau Haejin sambil mengembalikan kamera digital itu ke tangan Donghae yang nyengir kaku dan Raena terlihat mendukung 100% dengan apa yang dikatakan Haejin.

Haejin menggeleng skeptis dan melirik jam tangannya, “Ommona, sudah jam segini?  Aigo, aku belum mengerjakan paper dari Jang sonsaengnim!  Ya sudah, aku pulang duluan ya”, ucap Haejin panic dan segera berlari meninggalkan mereka berdua.

Raena dan Donghae tak tahu, bahwa beberapa menit kebelakang tadi Haejin mati-matian berusaha  menahan air mata yang terasa berontak untuk mengalir dari pelupuk matanya.  Haejin mencoba untuk tersenyum di depan keduanya dan mencoba menjadi sahabat yang baik.  Haejin bersikeras untuk menjadi sosok yang memerankan karakternya di dalam naskah persahabatan dengan sempurna.

Dia menggigit bibirnya dengan kuat saat tangannya sedang membuka handle pintu mobilnya dan begitu punggungnya telah menyentuh sandaran kursi, saat itu pula air matanya tak bisa lagi ia bendung.

Semua rasa ini terlalu menyakitkan.

******

Sepeninggal Haejin, Raena dan Donghae masih berdiri termangu di hadapan masing-masing.  Donghae mendekatkan tubuhnya kea rah Raena dan berbisik, “Katakan kau mencintaiku”.

Raena mendengus kesal dan terkekeh, “Kau kira aku sudah masuk ke pesonamu, Mr. Inggris?”, ejeknya.  Donghae tersenyum simpul dan merengkuh leher Raena yang jenjang dan mendekatkannya ke wajahnya, “Katakan sekarang atau akan kuhukum bibirmu yang tak mau mengatakan hal itu?”, tawarnya dan membuat Raena membelalak lebar.  “Arayo~ Arayo!!  Saranghamnida.  Lee Donghae saranghamnida~!”, ucap Raena panik dan memejamkan matanya rapat-rapat saat dia mulai bisa merasakan hembusan nafas Donghae di sekitar wajahnya.

Donghae tersenyum sekilas dan mengalihkan bibirnya ke kening Raena dan kembali memeluknya dengan lembut, “Kamsahamnida, Im Raena.  Kau tidak akan pernah tahu seberapa aku bahagia saat ini.  Sungguh ajaib tentang semua sihir yang diberikan Im Raena kepada Lee Donghae”.

Raena mengangguk pelan dan menggigit bibirnya dengan kaku. Dia menyadari bahwa dia bersalah karena merebut pria yang selalu menemani hari-hari sahabatnya sendiri sejak 13 tahun yang lalu, tapi apa boleh buat..tidak ada batasan antara benar dan salah jika kita berbicara mengenai cinta, bukan?.

Lagipula ia yakin bahwa Haejin dapat dengan mudah mendapatkan pengganti Donghae jika dia memanfaatkan semua harta dan otak yang dimilikinya dengan baik.  Ya, dan Raena akan membantu Haejin untuk mencari pengganti Donghae sebagai pengganti rasa bersalahnya

“Ah, benar~ aku lupa mengatakan sesuatu padamu”, ucap Donghae sambil melepaskan pelukannya dan menatap Raena serius, “Aku harus kembali ke London besok”.

“BESOK?! KENAPA CEPAT SEKALI?”, teriak Raena taak percaya.  Donghae mengernyikan alisnya heran, “Bukankah sudah kubilang bahwa aku hanya akan berada di sini selama 3 hari?”, yakin Donghae.

Raena menggeleng kencang, “Kau tidak pernah mengatakannya padaku!!  Dimana? Kapan?”.

“E-mail”, ucapan singkat Donghae membuat Raena memutarkan bola matanya dengan jengah, “Aishh, yaa..aku lupa bahwa ada e-mail itu..”, desisnya kesal.  Namun dia kembali memandang Donghae dengan manja, “Tinggallah disini beberapa hari lagi~”.

Donghae menggeleng, “Tidak bisa, aku masih punya proyek yang harus aku tangani.  Apalagi itu berhubungan dengan karirku di masa dep…”

Belum selesai Donghae mengucapkan kata-katanya, Raena sudah berjalan menjauh sambil mendengus kesal, “Ya~!  Urusi saja semua karirmu itu, Lee Donghae!”, ucap Raena sebal dan membuat Donghae segera menyusulnya sambil terkekeh pelan, “Buang ekspresi manyunmu itu jika tak ingin kucium, Miss Universe”, goda Donghae.

Tapi Raena tetap tak mengacuhkan kata-katanya dan berjalan cepat meninggalkan Donghae.  Dengan sigap, Donghae langsung menarik tangan Raena dan menggenggamnya dengan erat, “Aku akan kembali kesini secepatnya.  Mungkin..1 bulan nanti aku akan kembali kesini”, jelasnya.

Raena masih manyun, “Dan kau rela meninggalkan aku sendirian 1 bulan disini?”

“Bukankah masih ada Haejin?”, tanya Donghae dan dijawab dengan anggukan Raena, “Ah, ya.  Aku hampir saja lupa dengan sahabat terbaikku itu.  Ah, sahabat macam apa kau yang selalu membuatku sedih?!”, tanya Raena geram dan dibalas dengan tatapan teduh dari mata Donghae.

“1 bulan lagi, aku bukan lagi sahabatmu…”, bisik Donghae pelan dan membiarkan ucapannya menggantung, “Jagiya”, lanjutnya dan membuat Raena terkejut sejenak.

Entah sejak kapan, nama Lee Donghae bisa terukir dalam di hati seorang playgirl seperti Im Raena.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus cepat kembali ke Korea.  1 bulan!!”

*****

..Haejin’s house, 7 November 2010, 08.00PM.

Donghae menaiki tangga menuju kamar yang sedang ditempatinya.  Sesekali dia menggaruk kepalanya dan tersenyum bahagia saat mengingat ekspresi manja Raena yang memintanya untuk tidak kembali ke London.

Kemudian dia menghembuskan nafas perlahan setiap mengingat perjalanan dalam mengenalnya selama 13 tahun ke belakang.  Selama itu, dia selalu merasa bahwa dia sudah mengetahui semua hal mengenai seorang Im Raena.  Biarpun beberapa hari ini dia menyadari ada beberapa hal yang berbeda mengenai Im Raena di e-mail dengan di kehidupan nyata, tapi..biarlah, Donghae tak terlalu memikirkan hal itu.

Yang penting, dia sudah bertemu dengan gadis yang selalu mengisi harinya semenjak 13 tahun yang lalu.

 

Yaksokdwen shigani wassuhyo

The time came for us to meet

Geudae ape issuhyo

You are in front of me

Dooryuhwoome woolgo ijjiman

Crying with nervousness

 

Sayup-sayup Donghae bisa mendengar suara yang langsung membuatnya menajamkan pendengarannya.  “H.O.T?”, desisnya pelan dan mencari-cari sumber suara.  Hingga akhirnya dia berhenti tepat di depan kamar Haejin yang pintunya terbuka.  Ternyata suara lagu itu berasal dari kamar sahabatnya ini.

Donghae melongokkan kepalanya ke dalam kamar, dia melihat Haejin sedang duduk di depan meja belajarnya sambil membaca sebuah buku novel bersampul merah jambu.  Donghae mengetuk pintu kamar beberapa kali hingga membuat Haejin menoleh, “Haejin-ah, boleh aku masuk?”, pintanya.

Haejin mengangguk pelan sambil melepaskan kacamata tipisnya, “Silakan saja.  Tak usah bersikap formal seperti itu padaku, Donghae-ya”, ucapnya santai.  Donghae nyengir lebar dan berderap masuk ke kamar Haejin.  Dia langsung berdiri dengan pose tegap dan tersenyum penuh arti hingga membuat Haejin agak bingung, “Mwohae?”, tanyanya heran.

“Tidak ingin mengucapkan selamat untukku?”, tanyanya bangga.  “See? I’m the real man, right?  Melamar gadis di hadapan orang banyak?  Woww..Kau tidak bangga memiliki sahabat sepertiku?”, lanjutnya dan membuat Haejin terkekeh pelan.

“Arayo, Mr. Perfect.  Kau sangat tampan saat sedang menyanyi”, puji Haejin tulus.  Donghae kembali nyengir dan mengelus rambut Haejin dengan lembut, “Gomawo”.

Tapi telinga Donghae kembali mendengar untaian nada yang mengalun dari penjuru kamar ini, dia menatap Haejin penasaran, “H.O.T, geurae?”, tanyanya dan membuat Haejin mengangguk semangat, “Ne, happiness.  Aku sangat suka lagu ini”, jelasnya dan pupil mata Donghae langsung melebar, “Heh?  Bagaimana bisa?  Aku dan Raena juga menyukainya.  Aigo~kita bertiga memang sangat berjodoh, Haejin-ah”.

Haejin menggeleng lemah, “Ani, jodoh itu adalah tentang seorang pria dan seorang wanita.  Tidak pernah ada komposisi lain, harus seperti itu.  Jika berbicara mengenai kita bertiga, itu bukanlah jodoh tetapi…”

“Takdir”, ucap Haejin dan Donghae bersamaan.  Setelahnya, mereka berdua tertawa kecil.

“Terlalu banyak kesamaan diantara kita”, gumam Donghae sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan badannya bersender di dinding kamar.  “Bahkan seringkali aku merasa bahwa aku lebih mengenalmu, dibandingkan dengan aku mengenal tentang Raena”, tambahnya dan membuat Haejin menggigit bibirnya dengan resah, takut segala kebohongannya akan terbongkar.

“Tapi..terlalu banyak kesamaan itu menandakan bahwa mereka sama sekali tak berjodoh.  Bukan begitu?”, tanya Donghae sambil menerawang ke langit-langit kamar.  “Karena kesamaan yang kita miliki, tak akan membentuk sebuah bentuk dimana kita harus saling melengkapi.  Karena kesamaan kita, kita tak akan pernah bisa bergabung dan selalu bertolak belakang seperti 2 kutub magnet yang sama..”, jelas Donghae lirih

“Tapi kesamaan itu bisa membuat kita saling menutupi kekurangan masing-masing ‘kan?”, sela Haejin sambil beralih menatap Donghae dengan ceria.  “Dan itulah guna seorang sahabat.  Keurae?  Menutupi kesedihan sahabat untuk menciptakan sebuah kebahagiaan yang baru, biarpun itu berarti harus mengorbankan perasaan kita sendiri”,  Haejin tetap tersenyum ceria, mencoba berusaha supaya Donghae tak mengetahui semua perasaannya.

Donghae menatap Haejin agak lama dan kemudian mendecak kagum, “Aigo~Lee Haejin..kau memang selalu tahu cara untuk membuatku speechless.  Kau tahu?  Kadangkala aku berharap bahwa Raena bisa sepertimu, menjadi seseorang yang mengerti aku dalam segala hal.  Tapi..”.

“Kenyataannya aku bukanlah dia”, Haejin mendesah pelan dan bangkit dari kursinya kemudian beranjak menuju Donghae kemudian menepuk pipinya agak kencang, “Jadi..berhentilah membandingkanku dengan Raena.  Aku adalah aku, dan dia adalah dia.  Aku adalah sahabatmu dan dia adalah cinta sejatimu.  See? 2 hal yang berbeda kan?”, jelas Haejin dan membuat Donghae tersenyum simpul.  “Kamsahamnida, Lee Haejin”

“Gwenchanha”.

Tiba-tiba Donghae menepuk tangannya, mengingat satu hal yang seharusnya dia sampaikan sejak awal, “Besok aku akan pulang ke London”, ucapnya.

Haejin diam sejenak, seperti berusaha mengingat sesuatu, “Ah~benar, ini sudah hari ketiga.  Kau harus mengerjakan proyek barumu, ‘kan?”, pastinya, tapi setelah mengatakan hal itu..dia langsung mengutuk dirinya sendiri.  Mengapa dia mengatakan hal itu?  Itu sama saja seperti menggali lubang kuburnya sendiri!!

Donghae mengenyitkan alisnya dengan heran, “Bagaimana..kau bisa..tahu?”, ucapnya terbata, masih penasaran.

Haejin berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya dan mengangkat bahu sewajarnya, “Aku sering membaca e-mail yang kau kirimkan pada Raena.  Wajar kan?”, ucapnya mencoba santai biarpun jantungnya berdegup setengah mati.

Donghae mengangguk paham dan menggaruk kepalanya lagi, “Aishh, kau saja bisa ingat dengan kejadian ini tapi mengapa Raena sendiri malah tidak tahu dengan hal ini?”, keluh Donghae.  Haejin tersenyum kemudian menjitak dahi Donghae pelan, “Setiap manusia memiliki sebuah sifat alami bernama L.U.P.A.  Jadi ada kemungkinan bahwa Raena sedang L.U.P.A kan?”, tanya  Haejin sambil menggelengkan kepalanya maklum.

Donghae nyengir dan mengangguk mengiyakan semua ucapan Haejin, “Ah, kau..ya~Lee Haejin, mengapa kau bisa mengerti tentangku begitu dalam?  Aigoo~kau harus ikut denganku ke London!  Supaya aku punya teman untuk berbagi cerita saat aku sedang stress”, serunya dan membuat Haejin tertawa kecil.

“Kapanpun kau butuh teman untuk berbagi cerita..tak peduli dimanapun atau kau sedang bersama siapa, pikirkan saja tentangku.  Aku pasti akan segera datang ke tempatmu”, ucap Haejin bijak.  Donghae menatap Haejin ragu, “Jinjja?”

Haejin mengangguk yakin, “Promise”, ucapnya sambil mengulurkan janji kelingkingnya kea rah Donghae.  Donghae segera menyambut uluran jarinya dan tersenyum manis, “Janji adalah hutang.  Kau selalu tahu hal itu ‘kan?”, godanya singkat.

“Arayo.  Janji adalah hutang dan jika hutang itu tak bisa kubayar…”

Donghae berpikir sejenak, “Kau harus menjadi sahabatku untuk selamanya”, ucapnya akhirnya.

“Sahabat?  Selamanya?”, gumam Haejin memastikan.  “Tak ada lagi yang bisa diubah mengenai perjanjian hutang itu?”, ceknya.  Donghae menggeleng, “Tidak ada tawaran.  Sekali sahabat tetap sahabat”, jelasnya lagi.

Haejin meringis pelan dan menggumam, “Yaa~Raena saja bisa berubah jabatan.  Dari sahabat menjadi calon kekasihmu.  Naega wae?”, tanya Haejin, pura-pura mencibir.

Donghae mencubit pipi Haejin dengan gemas, “Karena kau sangat spesial bagiku, maka aku tak pernah ingin menjadikan hubungan persahabatan kita menjadi sebuah hubungan yang penuh resiko.  Kau juga setuju ‘kan?”, tanyanya semangat.  Haejin menelan ludahnya dengan berat dan mengangguk lemah, “Aku selalu menyetujui semua hal yang bisa membuatmu bahagia.  Jinjja”, ucap Haejin dan membuat Donghae tersenyum puas.

“Hoammph”, Donghae menguap sejenak dan menoleh kea rah jam dinding yang menggantung di kamar Haejin, “Jam 9?  Tumben sekali aku sudah mengantuk jam segini”, keluhnya dan membuat Haejin segera mendorong tubuh Donghae untuk keluar dari kamarnya, “Itu tandanya kau kelelahan, Mr. Perfect.  Jadi cepatlah kembali ke kamarmu dan segera beristirahat.  Besok kau harus menjalani penjalanan panjang menuju London”, ucap Haejin mengingatkan.

Donghae mengangguk dan melambai pelan kea rah Haejin, “Annyeong, my besties~!”, ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.  Donghae tak tahu bahwa jantung Haejin seakan mau copot saat dia manatap kedipan mata Donghae.  Tapi Haejin hanya balas melambai, “Bye..”

“I’ll miss you, Lee Donghae”, ucap Haejin lirih saat pintu kamar Donghae telah ditutup rapat, begitupun juga dengan semua buku kenangan yang Haejin miliki mengenai seorang namja bernama Aiden Lee.

****

TBC

3 thoughts on “Sweet 13 Sweat {3rd Drop}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s