Sweet 13 Sweat {2nd Drop}

“Jadi, akan kemana kita sekarang?”, tanya Donghae dengan semangat saat mereka bertiga baru saja menaiki mobil milik Haejin.  Haejin dan Raena saling berpandangan sejenak, “Kemana?  Kau tidak lelah? Kurasa lebih baik kita segera ke rumahku dan membiarkan kau beristirahat.”, tanya Haejin sambil menoleh ke belakang.

Donghae hanya tersenyum lebar dan menggeleng cepat, “Tentu saja tidak~! Aku masih semangat!!”, jawabnya santai.  Raena mengangguk dan segera berkata pada Haejin, “Ya sudahlah, jika itu keinginan Mr.Inggris ini maka..siapa yang bisa menolak?”.  Donghae menyeringai senang, “Thank you, Miss Universe”, ucapnya dan membuat Raena mendelik angkuh, “Jangan pernah mencoba untuk menggodaku”.

Haejin mencoba untuk tersenyum simpul dan mulai menyalakan mesin mobilnya, “Baiklah, kurasa lebih baik kita mampir ke sebuah restoran bulgogi.  Kudengar kimchinya juga enak.  Kau pasti suka, Donghae-ya”, ucap Haejin ringan dan dijawab oleh anggukan Raena.  “Oh, maksudmu yang ada di pinggiran Myeongdong itu?”

Tanpa mereka berdua sadari, senyuman di wajah Donghae lambat laun berubah menghilang dan menatap ke arah Haejin dengan tak percaya, “Bagaimana kau bisa tahu..?  Bulgogi?”, desisnya pelan dan membuat Haejin menoleh dari kaca spion untuk menatap Donghae, “Hmm?”, tanya Haejin.

Donghae menggeleng cepat dan tersenyum simpul, “Anii, bukan apa-apa”, jawabnya.  Raena langsung mendelik tajam ke arah Donghae, “Hei, Mr.Inggris..apa kau sedang menggoda Haejin?  Baru saja kau menggodaku dan tiba-tiba sudah berganti menggoda Haejin?  Dasar playboy!”, gerutu Raena sambil menggembungkan pipinya dan membuat Donghae tersenyum manis, “Aku tidak akan pernah berpaling dari seorang gadis yang telah menemaniku selama 13 tahun.  Kau percaya itu kan?”

Haejin menginjak pedal gas mobil sambil tersenyum miris, 13 tahun?  Itu adalah aku, Donghae-ya.

******

“Hmm!!  So delicious~  Aku sangat rindu dengan rasa khas ini”, ucap Donghae semangat dan membuat Haejin tersenyum simpul, “Jinjja?”, tanyanya dan dijawab dengan anggukan yakin dari Donghae.

Raena hanya diam sambil membalas SMS dari seseorang.  Donghae menatapnya dengan curiga, “Hei, Miss Universe..kau sedang terang-terangan selingkuh dihadapanku?”, tanya Donghae cemburu.  Raena memeletkan lidahnya, “Bukan urusanmu, Mr. Inggris”.

Haejin terkekeh pelan, “Hyukjae lagi?”, tanyanya dan dijawab dengan anggukan Raena, “Kami harus latihan dance sebelum pentas seni sekolah akan dimulai.  Ah~aku capek”, sengutnya.

Donghae langsung menatap penasaran, “Pentas seni?  Kau tak pernah mengatakan hal itu di e-mail”, ucapnya dan membuat Haejin tersedak daging yang sedang dikunyahnya sedangkan Raena hanya menjawab dengan santai, “Tidak semua hal didunia ini harus kuceritakan padamu ‘kan?”, jawabnya angkuh dan membuat Donghae makin menjadi penasaran dengan gadis yang ada dihadapannya ini, “Ah, kau memang tak bisa berhenti membuatku penasaran dengan segala hal tentangmu”, ucap Donghae kagum.

Haejin makin merasa hatinya teriris jika terus mendengar percakapan ini, “Aku..ke toilet dulu”, ucapnya dan beranjak ke belakang meninggalkan Donghae dan Raena berdua.

Sepeninggal Haejin, Donghae mengedarkan pandangannya ke sekeliling karena Raena masih sibuk dengan handphone’nya dan nampak jika dia tak ingin diganggu.  Hingga tiba-tiba mata Donghae menemukan sosok seorang gadis yang sedang membaca sebuah novel bersampul merah muda, “Hei, lihat itu, Raena-ya”, seru Donghae semangat sambil menunjuk gadis itu.  Raena menoleh dan kemudian memasang wajah kesal, “Ingin membuatku cemburu dengan menunjuk gadis cantik lainnya, Mr. Inggris?”.

Donghae terkekeh dan menggeleng, “Bukan gadis itu yang kumaksud, tapi novel yang sedang dibacanya.  Itu..Love Story!”, ucapnya antusias.  Raena mengernyitkan alisnya dengan heran, “Love Story?  Lalu?  Kau tahu sendiri jika aku benci cerita yang panjang seperti novel.  Itu adalah hal yang membosankan.”, jelas Raena sambil kembali menyesap minumannya.

Raut wajah Donghae langsung berubah, “Lalu?  Kau tak tahu apa maksudku, Raena-ya?  Itu..novel Love Story..”, ucap Donghae terbata, otaknya terasa berputar.  Rasanya segala hal yang terjadi kali ini terasa amat aneh.

Baru saat Raena akan menanyakan hal itu lagi, tiba-tiba Haejin sudah kembali bergabung ke meja makan dan membuat Raena segera bangkit dari duduknya, “Aku harus pergi sekarang.  Hyukjae menungguku untuk latihan dance sebelum pentas seni”, ucapnya seraya merapikan rambutnya dan membuat Donghae menatapnya kecewa, “Lalu bagaimana denganku? Kau mau meninggalkanku?”, tanyanya merajuk.

Raena langsung memeluk bahu Haejin dengan dekat, “Kau akan ditemani oleh teman terbaikku sedunia, Mr.Inggris.  Jadi jangan merajuk seperti itu”, ucapnya dan membuat Haejin terkekeh pelan saat melihat kelakuan mereka berdua.  “Ok, aku pergi sekarang~  Annyeong, Haejin-ah”, pamit Raena sambil menciumi pipi Haejin.  “Bye, Mr.Inggris”, ucap Raena sambil melambaikan tangannya kea rah Donghae yang membalasnya dengan tidak rela.  Tak lama kemudian sosok Raena telah hilang dibalik pintu keluar restaurant itu.

Haejin menoleh kearah Donghae yang masih terlihat kecewa dengan kepergian Raena, “Hei~cheer up, boy!”, ucapnya seraya menjentikkan jarinya di depan wajah Donghae dan membuat senyum Donghae kembali tersirat tipis, tapi kemudian dia mendesah lagi.  “Aku…merasa aneh dengan semua kelakuannya, Haejin-ah.  Dia berbeda dengan semua yang dikatakannya di e-mail”, gumam Donghae sambil menatap mata Haejin lekat-lekat dan membuat Haejin harus berupaya ekstra untuk menahan rasa gugupnya atas semua rahasia yang dia sembunyikan dari pria ini.

“Oh ya?  Apa yang kau rasakan berbeda?”, tanya Haejin pura-pura tak tahu.  Donghae menghela nafas lagi dan menghembuskannya perlahan, “Everything”, jawabnya singkat.

Haejin tersenyum simpul dan menaruh dagunya dengan tumpuan kedua tangannya, “Mungkin…dia merasa berdebar karena bertemu dengan pria yang dinantinya selama 13 tahun?  Lagipula e-mail dan kenyataan adalah 2 hal yang berbeda bukan?  Mungkin saja Raena membutuhkan waktu untuk mengatur perasaannya saat berada dihadapanmu, makanya dia terlihat berbeda dengan semua hal yang telah kau pikirkan”, jelasnya sambil balas menatap Donghae yang tengah memikirkan setiap kata-kata yang diucapkan Haejin hingga akhirnya dia tersenyum lega, “Ahh~ya!  Mungkin saja begitu”, ucap Donghae gembira.

Haejin ikut tersenyum saat melihat guratan garis di bibir Donghae tertarik dengan indah dan makin membuatnya berdebar.  Dia menyadari bahwa dirinya amat mencintai pria di hadapannya ini.  Sungguh, dia rela melakukan apapun untuknya, bahkan jika harus mengorbankan perasaannya sendiri untuk membuatnya bahagia.  Ya, biarpun dia harus mengorbankan segala penantiannya selama 13 tahun ini.

Donghae segera menggenggam tangan Haejin dengan semangat, “Haejin-ah, bagaimana bisa kau mengetahui dan mengerti semua perasaan dan rasa penasaranku ini?!  You’re amazing!!”, ucap Donghae.  Haejin hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Bukankah kau pernah bilang bahwa aku adalah teman terbaikmu?  Jadi, aku pasti mengerti semua hal yang sedang kau resahkan”.

Donghae mengangguk paham dan mengelus kepala Haejin dengan lembut, “Ya~aku bangga memiliki teman baik sepertimu, Haejin-ah.  Sangat bangga!!”.

Haejin mendesis pelan, “Just best friend, right?”.  Donghae memiringkan kepalanya dengan heran, “Tentu saja.  Kau adalah teman terbaikku.  Memang apalagi yang kau harapkan?”

Haejin menggeleng lemah dan memaksakan untuk tersenyum senang, “Tidak.  Aku tak mengharapkan apa-apa.  Cukup menjadi teman baikmu saja pun sudah membuatku bahagia”.

*****

Haejin menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang cukup megah dan nampak asri, “Kita sampai~”, ucapnya sambil melepaskan sabuk pengamannya dan mematikan mesin mobilnya.  Donghae memperhatikan rumah itu dengan pandangan berbinar, “Aigo~rumahmu masih saja tak berubah ya?  Masih tetap sama seperti 13 tahun yang lalu”, katanya.

Haejin ikut memperhatikan rumahnya, “Tidak juga, setidaknya cat rumahku sudah berubah semenjak terakhir kali kau kesini.  Itu berarti ada perubahan ‘kan?”, ucap Haejin sambil tersenyum jahil dan membuatnya mendapatkan cubitan gemas di pipi dari Donghae.  “Sudahlah, ayo segera turun!.  Umma dan Appa pasti sudah menunggumu”, ajak Haejin dan Donghae hanya mengikuti kata-kata sahabatnya itu.

Baru saja beberapa langkah kaki Haejin dan Donghae memasuki rumah, tiba-tiba saja ada teriakan nyaring yang mengagetkan mereka, “DONGHAE~ANAKKU!!!”.

Dari arah dapur, muncullah seorang pria bertubuh tegap yang membawa mangkuk yang penuh terisi oleh nasi dan seorang wanita yang memakai celemek berwarna biru yang langsung menghampiri Donghae.  “Ah, annyeonghaseyo Kyuhan ahjusshi, JooAn ahjumma.  Long time no see”, sapa Donghae sopan sambil memeluk Kyuhan dan JooAn.

Kyuhan mendecak kagum saat melihat kondisi Donghae sekarang, “Aigo~bagaimana bisa Donghae yang dulu cengeng kini sudah tumbuh mejadi pria gagah?”, tanyanya menggoda dan membuat Donghae terkekeh pelan, “Kamsahamnida, ahjusshi”.

“Bagaimana kabar Jinki dan Nara?  Baik-baik saja?”, tanya JooAn.  Donghae mengangguk cepat, “Ne, Umma dan Appa baik-baik saja.  Sebenarnya mereka ingin sekali ikut kesini, tapi mereka tak bisa meninggalkan  Crystal yang sedang ujian sekolah.  Anak itu memang manja dan tak mau ditinggal oleh Umma dan Appa”, jawab Donghae.

Kyuhan mengenyitkan alisnya, “Crystal?  Crystal?  Crys.. ahh, yaa, Crystal, adikmu ‘kan?  Aigo~sudah berapa umurnya sekarang?”.

“Dia sudah kelas 3 SMA, ahjusshi”, jawab Donghae dengan sopan.  Kyuhan menggumam sedih, “Aigo~waktu berlalu tanpa kita sadari ya?  Bahkan anak-anak yang dulu cengeng ini sudah menjadi dewasa”, ucapnya sambil menatap Haejin dan Donghae yang tertawa pelan.

“Sudahlah Appa, biarkan dia beristirahat.  Tamu kita ini pasti kelelahan setelah perjalanan dari London kesini”, ucap Haejin sambil mendorong bahu Donghae untuk segera meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terlihat antusias untuk menanyainya banyak hal.

“Orangtuamu masih tetap ramah ya?”, ucap Donghae dan dijawab dengan anggukan kepala Haejin, “Ya~dan aku bersyukur tentang hal itu”, balas Haejin.

Saat mereka berdua sedang berjalan menuju kamar ruang tamu yang berada ddi lantai 2, tiba-tiba mata Donghae tertarik ke kamar milik Haejin, “Haejin-ah, boleh aku masuk ke kamarmu?”, izin Donghae.  Haejin menatapnya heran, “Untuk apa?”.

“Aku.,hanya ingin melihat ruangan dimana Raena selalu membalas e-mailku”, ucapnya polos dan membuat Haejin merasakan perih di hatinya kembali mencuat, “Ah~begitu?  Baiklah, kau boleh masuk.  Keundae mianhae, kamarku agak berantakan”, ucapnya sambil membukakan pintu kamarnya.

Kamar itu bernuansa biru safir yang indah dan disetiap penjuru terdapat tumpukan rak buku yang terisi oleh buku-buku pelajaran maupun novel fiksi.  Donghae mendecak kagum saat melihat tumpukan buku di kamar Haejin, “Kau..masih suka membaca buku-buku seperti ini?”, tanyanya sambil mengangkat sebuah buku yang berjudul, ‘The Progress of Earth’.

Haejin mengangguk dan tersenyum lebar, “Aku masih suka membacanya.  Waeyo?  Salahkah?”, tanyanya dan dijawab oleh gelengan kepala Donghae.  “Anii, tak heran jika kau menjadi juara kelas saat kita masih kecil dulu”, ucapnya pelan dan membuat Haejin terkekeh pelan, “Gomawo atas pujianmu”.

Pandangan Donghae teralih ke sebuah komputer yang ada di sudut ruangan yang menghadap langsung kearah jendela, “Itukah komputernya?”, tanyanya antusias dan Haejin mengangguk dengan lemah, “Ne.  Disitulah Raena selalu membalas email’mu”, jawabnya pahit.

Donghae mengangguk-angguk sambil mengelus layar monitor computer itu.  Haejin menatapnya dari pinggir dan melihatnya tersenyum senang sambil memejamkan matanya, seakan membayangkan satu hal yang membuatnya amat bahagia.  Hal itu tak urung membuat Haejin tersenyum juga.

Tapi tiba-tiba mata Donghae terbuka dan langsung menatap kea rah Haejin, “Haejin-ah, kenapa kau tak pernah mengirimkan email untukku?  Selama 13 tahun ini, hanya Raena yang selalu mengirimkan email dan kau sekalipun tak pernah mengirimkan email padaku”, tanya Donghae dengan raut wajah sedih.

Haejin menggaruk kepalanya sejenak, “Aku…agak sibuk, Donghae-ya.  Aku harap kau bisa paham dengan kondisiku”, ucapnya dan tersenyum kearah Donghae.  Di dalam hati, Haejin ingin berteriak bahwa sebenarnya bukan Raena yang selama 13 tahun ini selalu duduk di depan layar computer dan menunggu setiap email balasan dari Donghae dengan perasaan berdebar, yang selalu melakukan hal itu adalah Lee Haejin.  Bukan Im Raena.

Donghae mengangguk paham dan secara tak sengaja, matanya menangkap sebuah buku berwarna merah muda yang tergeletak disamping computer, “Hei~! Love Story!  Ini novel kesukaanku!  Tak kusangka jika kau juga menyukai novel ini”, ucap Donghae antusias.

Haejin mengangguk, “Aku diberitahu tentang novel ini dari rekomendasi seorang teman.  Dan, ceritanya sangat menarik”.  Donghae mengangguk mengiyakan, “Ya~ Pengarangnya sangat amat tahu bagaimana menceritakan cerita ini dari sudut pandang seseorang yang sedang jatuh cinta.  Kau juga tahu, Haejin-ah?  Disini ada 3 faktor utama yang menjadikan cerita ini menarik…Jatuh Cinta, Sakit Hati dan Kebohongan”.

Haejin merasa bahwa semua factor dalam cerita itu adalah hal yang sedang terjadi pada dirinya saat ini, “Ya, 3 faktor itu benar-benar terasa nyata untukku.  Amat sangat terasa nyata”.

*****

Raena berjalan dengan langkah tergesa ke arah rumah Haejin.  Dia melihat mobil milik sahabatnya itu sudah terparkir di depan rumah dan menandakan bahwa sang pemilik pasti sudah berada di rumah.  Dia menyapa sejenak kepada Kyuhan dan JooAn yang sedang asyik menonton TV di ruang tengah, “Ahjusshi, Ahjumma~ Haejin ada di kamarnya?”, tanya Raena dan dijawab dengan anggukan kompak dari pasangan suami istri itu, “Ne, kau langsung saja ke kamarnya”.

“Kamsahamnida”, ucapnya dan segera beranjak menaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamar Haejin berada.   Disana dia melihat Haejin dan Donghae sedang mengobrol dan sesekali tertawa agak kencang, entah karena alasan apa.  Raena merasa hatinya agak sakit saat melihat Donghae yang seperti itu.  Donghae yang tertawa bersama gadis lain, terlebih bahwa gadis itu adalah sahabatnya sendiri.  Sebenarnya apa yang terjadi dengan hatinya?

“Ehem~”, Raena berdehem sejenak sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar Haejin, “Apa aku mengganggu kalian?”, tanyanya basa-basi.  Donghae langsung terlihat sumringah sedangkan Haejin hanya tersenyum simpul dan melambaikan tangannya untuk mengisyaratkan agar Raena segera masuk ke dalam kamarnya.  Kini mereka bertiga berkumpul di kamar Haejin.

“Darimana saja kau, Miss Universe?”, tanya Donghae tepat saat Raena baru duduk di sofa berwarna coklat yang ada di sudut kamar.  “Waeyo? Rindu padaku, Mr. Inggris?”, tanya Raena menantang Donghae.  Haejin langsung bangkit dan berpura-pura mengambil buku ensiklopedi miliknya dari rak buku supaya tak perlu bergabung ke dalam pembicaraan kedua orang itu.  Karena semakin dia berada di situ, semakin dia merasakan hatinya sakit.

“Bukan begitu, Haejin-ah?”, tanya Raena tiba-tiba dan membuat Haejin terkesiap kaget.  “Hah?  Mwo?”, tanyanya balik.  Raena mendesah jengah, “Aigoo~kau tak mendengar ucapanku tadi?  Aish, kau memang suka melamun jika sudah membaca buku, Haejin-ah”, ucap Raena kesal.

Haejin terkekeh sejenak, “Mianhae.  Kau tahu kebiasaanku jika sudah memegang buku ‘kan?”, tanya Haejin ringan dan kembali menaruh bukunya ke rak.  Donghae hanya tersenyum simpul melihat gaya bersahabat 2 gadis ini.

“Si Mr. Inggris ini tak percaya jika Hyukjae itu hanya temanku.  Dia mengira bahwa Hyukjae adalah pacarku.  Bodoh sekali bukan?”, tanya Raena dan dijawab dengan kekehan Haejin.  Haejin merangkul bahu Raena dengan akrab, “Raena belum pernah pacaran, Donghae-ya.  Sama sepertiku”, ucap Haejin dan didukung dengan anggukan Raena.

Donghae tersenyum lega, “Baguslah.  Berarti kesempatan untukku masih terbuka dengan lebar”, gumamnya pelan.  Raena memang tak mendengar dengan jelas, tapi Haejin dapat mendengar semuanya dan mengetahui dengan jelas kepada siapa kata-kata itu ditujukan.

Bukan untuknya, tapi untuk sahabatnya.

Bukan untuknya yang telah menemani Donghae selama 13 tahun, tapi untuk seorang gadis yang berpura-pura menjadi dirinya selama beberapa saat.

Dan Haejin tahu bahwa hatinya benar-benar telah hancur.  Pengorbanannya telah sia-sia.

******

.. Haejin’s House, 8 November 2010..

Donghae melangkah keluar dari kamarnya sambil tersenyum riang.  Inilah pagi pertamanya di Seoul dan dia berniat menghabiskan hari ini dengan sempurna.  Ya, untuk sebuah misi rahasia yang telah ia rencanakan semenjak dia berada di Seoul.

Dia mendengar suara dentingan sendok dan garpu yang bertemu dengan piring Kristal, sepertinya keluarga Lee sedang sarapan.  Dia memeriksa penampilannya sekali lagi di cermin dan tersenyum mantap, “You are the best, Lee Donghae” sebari mengucapkan kata motivasi yang selalu ia ucapkan setiap pagi.

Tak lama kemudian, Donghae telah menuruni tangga dan beranjak menuju ruang makan.  Tapi ternyata hanya ada Kyuhan dan JooAn yang sedang berbincang mengenai hal yang tak ia pahami.  Donghae kembali melongokkan kepalanya ke atas, tapi sosok Haejin memang tak ada di kamarnya.  Kemana perginya dia?

“Ah~kau sudah bangun, Donghae-ya?  Ayo sarapan”, ajak JooAn saat melihat Donghae yang masih sibuk melongok ke atas.  Donghae mengangguk paham, “Ye, ahjumma.  Kamsahamnida”, ucapnya sopan dan duduk di meja makan bundar.  “Kau lebih suka roti bakar atau sereal, Donghae-ya?”, tanya JooAn menawarkan.

“Apa saja, Ahjumma”, jawabnya sopan dan langsung disela oleh Kyuhan, “di rumah ini tak menyediakan apa saja, Donghae-ya”, ucapnya ringan sambil mengacak rambut Donghae pelan.  Donghae tertawa dan menatap JooAn, “Sereal, please”, ucapnya.

JooAn menghidangkan semangkuk sereal beserta susu kepada Donghae.  “Makanlah yang banyak, Donghae-ya”, ucap JooAn halus.  Donghae mengangguk paham dan mulai memakan serealnya.

“Ah, dimana Haejin, Ahjusshi?”, tanya Donghae penasaran.  Kyuhan melipat korannya dan menjawab santai, “Pasti dia sedang berada di tempat persembunyiannya.  Di bawah pohon mapple yang ada di taman di dekat sini, mungkin”.

Donghae hampir saja tersedak saat mendengar jawaban Kyuhan, “Pohon..mapple?”, tanyanya tak percaya.  Di email yang dia kirimkan, pohon maple adalah tempat favorit Raena saat dia sedang ingin menyendiri, lalu kenapa Haejin juga tahu tempat itu?

“Dia sendirian disana?”, tanya Donghae dengan perasaan berdebar.  Rasanya semua kecurigaannya kemarin makin beralasan, mungkinkah…

“Tidak, biasanya dia disana berdua dengan Raena.  Mereka memang tak bisa dipisahkan”, ucap JooAn menyela.  Seketika itu juga semua perasaan curiga di hati Donghae langsung menghilang.  Ya, itu adalah tempat persembunyian milik mereka berdua, Haejin dan Raena.  Jadi tak heran kan jika Haejin ada di situ?  Aish, Lee Donghae..kau sangat bodoh!  Bagaimana bisa kau tak mempercayai Raena, gadis yang telah menemanimu selama 13 tahun itu?.

Donghae mengangguk paham dan segera menyelesaikan melahap serealnya.  Rencananya ini harus terlaksana secepatnya, sebelum segalanya terlambat.  Donghae tak ingin menyiakan waktu sedikitpun untuk hal ini.

Done~.  Jal moggosemnida.  Kamsahamnida atas makananannya, Ahjumma, Ajusshi.  Sekarang aku ingin menyusul Haejin.  Boleh ‘kan, Ahjusshi?”, tanya Donghae meminta izin pada Kyuhan.  Kyuhan mengangguk tanpa ragu, “Tentu saja.  Siapa yang mau melarangmu, Donghae-ya?”, tanyanya heran.

Donghae segera berangkat ke taman yang berada tak jauh dari rumah keluarga Lee.  Disana, dia melihat sebuah pohon maple yang berdiri kokoh dipinggir taman dan Haejin yang tengah duduk sambil menyandar di batang pohon itu dengan mata terpejam.  Dia memakai earphone dan kepalanya sesekali bergerak pelan mengikuti irama lagu yang mengalun dari i-podnya.

Kini Donghae beranjak mendekati Haejin dan menyentuh bahunya pelan, “Hei~ Haejin-ah”, panggilnya dan membuat Haejin segera membuka matanya dan sempat tersentak kaget saat Donghae telah ada di hadapannya.  “Apa yang kau lakukan disini?”, tanya Haejin penasaran.

Donghae tersenyum polos dan segera menggenggam kedua tangan Haejin dengan erat, “Temani aku mencari cincin tunangan, Haejin-ah.  Aku ingin melamar Raena”.

Seketika itu juga, Haejin merasa lagu yang mengalun dari earphone’nya itu berubah menjadi simphoni yang bisa membelah hatinya menjadi kepingan yang luluh dihembus oleh angin.

“Oh ya? Benarkah? Dia..pasti senang mendengarnya”.

******

“Bagaimana dengan yang ini?”, tanya Donghae antusias sambil menunjukkan sebuah cincin emas yang berkilau.  Haejin segera menggelengkan kepalanya dan menyuruh Donghae mengembalikan cincin itu ke tempatnya, “Di zaman sekarang, tak ada gadis yang mau diberi cincin berwarna emas kuning seperti itu.  Kau seharusnya membeli cincin dari emas putih”, saran Haejin.  Donghae mengangguk-angguk paham.

“Mungkin lebih baik jika kau memberikannya yang ini”, ucap Haejin sambil menunjuk sebuah cincin dari emas putih yang bertahtakan beberapa mata berlian yang terlihat indah, “See?  Simple tapi berkesan sweet dan indah”, jelasnya lagi.

Donghae mengambil cincin yang ditunjuk oleh Haejin dan segera menggenggam tangan kiri Haejin dengan erat, “Bantu aku latihan~”, pintanya dengan penuh aegyo.  Haejin mengernyitkan alisnya, “Latihan?  Mwo?”

Donghae tak menjawab pertanyaan Haejin dan tiba-tiba saja dia sudah memasangkan cincin berwarna putih itu ke jari manis Haejin, “Apakah kau mau mendampingiku seumur hidupku?”, ucapnya dan membuat lutut Haejin seakan tak kuat menopang tubuhnya lagi, terlebih saat dia melihat mata Donghae yang menatap dalam kea rah matanya.  “Ahh, aku..”

“Kuulangi sekali lagi, maukah kau mendampingiku, Im Raena?”

Nama yang diucapkan dari bibir Donghae itu seakan membuat Haejin dipaksa untuk kembali ke kenyataan.  Im Raena, Im Raena, Im Raena, Im Raena, Im Raena.  Jebal, tak adakah sedikit ruang dihatimu supaya seseorang bernama Lee Haejin dapat masuk dan berada sedikit saja di tahta hatimu?

Haejin menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum perih, “Ya~aku bersedia menemani Lee Donghae seumur hidupku”.  Ya, Aku sebagai Lee Haejin.  Aku sebagai orang yang telah menemani hari-harimu selama 13 tahun.  Aku sebagai orang yang mengetahui segala hal tentang Lee Donghae lebih dari siapapun.  Aku yang adalah bukan sebagai Im Raena.

“Benarkah Raena akan menjawab seperti itu?”, tanya Donghae ragu.  Haejin tersenyum perih sambil melepaskan cincin yang ada di jari manisnya kemudian menyerahkannya kembali ke tangan Donghae, “Ayolah~laki-laki tak boleh pesimis!!”, ucapnya sambil mencubit pipi Donghae dengan gemas dan membuat Donghae terkekeh kemudian memeluk Haejin dengan erat, “I Love You, Lee Haejin!!  Kau memang temang terbaik~!!”

“I Love You Too, Lee Donghae.  I always love you”.

Donghae melepaskan pelukannya dan segera membayar cincin emas putih itu ke kasir sedangkan Haejin hanya menatap hampa ke setiap jejeran perhiasan yang berbaris rapi.  Dari arah kasir, Donghae memperhatikan Haejin yang terdiam memperhatikan sesuatu.  Akhirnya Donghae membisikkan sesuatu kepada petugas kasir itu, “Tolong cek apa yang sedang dia lihat dan bawa baarang itu kemari”.

Petugas itu menurut dan melihat bahwa Haejin tengah menatap kearah sebuah kalung berbentuk hati yang dapat terbelah menjadi dua, supaya masing-masingnya dapat berada di pasangannya dan dirinya.  Petugas itu segera membawa kalung itu kepada Donghae, “Nona itu sedang memperhatikan ini, Tuan”, jelas petugas itu.

Donghae mengangguk dan memperhatikan kalung hati itu, ternyata kalung itu dapat terbelah menjadi dua.  Tiba-tiba Donghae tersenyum senang, “Baiklah, aku juga beli yang ini”.

Haejin masih diam membisu, dia tak memperhatikan apapun lagi disekitarnya.  Kini baginya, segalanya sudah hancur karena sebuah kebohongan yang menurutnya amat kecil.  Hal ini terlalu membuatnya sakit.  Amat sangat sakit.

“Jeng..jeng..jeng”, tiba-tiba saja sudah ada seuntai kalung yang menggantung di hadapannya.  Diujung rantai kalung itu tergantung bandul berbentuk separuh hati, “Apa ini?”, tanya Haejin heran sambil menatap kearah Donghae.

Donghae masih tak menjawab tapi dia menunjuk kea rah kalung berbentuk sama yang kini telah melingkar di lehernya, “Tanda persahabatan antara kau dan aku.  Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa mengerti perasaan hatiku, maka dari itu aku menitipkan sebagian hatiku untukmu”, ucap Donghae santai sambil mengalungkan kalung itu ke leher Haejin yang masih terkesiap kaget.

“Kau memang teman terbaikku, Lee Haejin.  Gomawo”, ucapnya sambil mengelus rambut Haejin dengan lembut.  Haejin hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.  Donghae melanjutkan ucapannya, “Tapi, untuk kali ini..aku merasa bahwa kau bukanlah teman baikku.  Tapi kau adalah sahabatku.  Sahabat terbaaaik bagiku dan bagi Raena”.

“Jadi…”, Donghae mengulurkan tangannya kearah Haejin, “bersedia menjadi sahabatku untuk selamanya kan?”.

Haejin menatap uluran tangan itu dengan hampa tapi tangannya beranjak naik dan menerima jabatan tangan yang kokoh itu, “Ya, tentu saja aku bersedia”

 

— T.B.C–

12 thoughts on “Sweet 13 Sweat {2nd Drop}

  1. I was recommended this blog by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my difficulty. You’re wonderful! Thanks!

  2. Somebody necessarily assist to make significantly articles I would state. That is the very first time I frequented your web page and thus far? I amazed with the analysis you made to make this actual publish amazing. Excellent activity!

  3. It is perfect time to make some plans for the future and it’s time to be happy. I’ve read this post and if I could I want to suggest you few interesting things or suggestions. Perhaps you can write next articles referring to this article. I desire to read even more things about it!

  4. Just desire to say your article is as surprising. The clarity in your post is simply cool and i can assume you’re a professional on this subject. Fine along with your permission allow me to take hold of your feed to stay up to date with approaching post. Thank you one million and please keep up the gratifying work.

  5. Koq., kya film india ya??
    Apa trinspirasi dri sna.,??
    .
    Eonnie,FF’ny kren…..
    Tpi ksian ma haejin’ny.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s