(OneShot) Cake, Cafe, and My Lovely Pattisier

Bintang..
Bulan..
Jika kau harus memilih diantara 2 hal itu, mana yang akan kau pilih?

==

..10 Juli 2009..

 

Hyeo Rie, apa kamu tahu?
Saat seseorang mati, sesungguhnya mereka tidak benar-benar mati..
Karena hati yang mereka miliki akan selalu bersama orang yang mereka cintai..

Jadi, Hyeo Rie..
Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Ok?
Aku tak akan pernah dan tidak akan berniat sedikitpun untuk meninggalkanmu..
Karena masih ada banyak hal yang belum kulakukan untukmu..
Aku masih belum mengajakmu ke taman ria dan membelikanmu kembang gula kesukaanmu..

Tapi, tolong, Hyeo Rie..
Kamu harus tetap hidup dan melewati hari-hari dengan senyuman ceriamu..

Maafkan aku yang tak akan berada di sisimu lagi saat kau menangis..
Maafkan aku karena tak akan bisa tertawa bersamamu lagi..

Tapi jangan sedih, Hyeo Rie..
Karena aku akan selalu berada di sampingmu, biarpun aku tak bisa tertawa bersamamu atau menghiburmu..
I love you, Park Hyeo Rie..

Love,
Choi Minho

Aku meremas kertas surat itu dengan perasaan hampa. Air mataku mulai menetes dan membentuk sungai kecil di pipiku.

Aku melihat ke sekelilingku dan mulai meraba-raba ruang hampa, tapi tak kudapatkan apa-apa. Aku tersenyum perih dan melirik sekilas kea rah surat itu, “Ya!! Choi Minho, kau ada di mana sekarang? Bukannya kau bilang bahwa kau selalu ada di sampingku? Tapi mana buktinya? Mengapa aku tak menemukanmu sekarang? Mengapa aku tak bisa menggenggam tanganmu? Mengapa, Choi Minho?”

Aku menghela nafas sejenak sebelum akhirnya aku berbaring lemah di kasurku. Lagi-lagi aku hanya menatap nanar ke arah surat yang kini sudah basah karena air mataku, “Mengapa kau pergi ke tempat yang tak bisa kugapai, Oppa?”

==
..17 Juli 2009, 10.30am, ChangNam High School..

“Hyeo Rie-ya”, sapa seseorang sambil menepuk bahuku. Aku menoleh enggan tapi terpaksa tersenyum saat tahu siapa yang menyapaku barusan.

“Oh, annyeonghaseyo, Sungmin Sunbae”, ucapku pelan dan tersenyum sekilas. Setelahnya, aku kembali memperhatikan lapangan basket yang ada di hadapanku. Di sana sudah ada beberapa siswa yang sedang bermain basket dengan semangat. Aku tersenyum perih, kalau Minho masih ada..pasti dia juga sudah bergabung bermain basket dan tertawa riang saat berhasil mencetak skor.

“Heii, Hyeo Rie-ya~”, ucap suara itu lagi sambil mencubit pipiku dengan gemas. “Kenapa denganmu? Sudah sejak semingggu yang lalu kau terus-terusan murung seperti ini. Bahkan saat latihan mingguan ekskul pun kau masih murung seperti ini”, tanyanya sambil menatapku penasaran. Aku meringis pelan dan mengelus pipiku yang masih sakit karena dicubit barusan.

“Animida, gwenchana”, ucapku sambil mencoba untuk tersenyum, tapi yang ada malah seringai yang aneh. (==,) Sungmin masih menatapku curiga. “Jinca?”, tanyanya lagi. Aku mengangguk yakin.

“Lalu sedang apa kau disini?”, Tanya Sungmin mengikuti pandangan mataku yang masih tertuju kea rah lapangan basket. Aku menghela nafas pelan. “Sedang mengenang sesuatu yang tak mungkin pernah kembali”, ucapku sambil terkekeh dan tersenyum miris. Sungmin makin menatapku bingung.

Tapi, dari belakang tubuh Sungmin, aku melihat beberapa yeoja sedang berbisik sambil menunjukku dan Sungmin.

Aigoo~ kenapa aku bisa lupa hal penting seperti ini?? Seorang kkotminam namja seperti Sungmin, namja pintar, lucu, tampan, ketua ekskul music di sekolah, ketua OSIS pula, sedang duduk berdua dengan seorang yeoja yang sama sekali tak memiliki keistimewaan apa-apa sepertiku? Pantas saja jika banyak siswi lain yang merasa heran dan curiga. (>0<) Apalagi hubunganku dengannya hanyalah seorang ketua ekskul dengan wakilnya saja. Nggak ada hubungan apapun. (=.=)a

“Sunbae, bukankah kelasmu sudah mau masuk?”, tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya. Sungmin melirik sekilas ke jam tangannya dan menjawab ringan, “Aniyo, masih ada 10 menit lagi”.

Ughh, Sungmin Sunbae.. Kau mau membuatku dibunuh oleh siswi lainnya yang cemburu denganmu ya?
<(=0=)>

“Ohh, arasseo. Kalau gitu, aku duluan ya, Sunbae?”, pamitku sambil merapikan rokku dan beranjak meninggalkan Sungmin yang menatap kepergianku dengan penuh penasaran.

==
..17 Juli 2009, 01.26pm, Expalicious café..

Aku melirik ke jam tanganku, uhhmp..masih ada 4 menit lagi. Untunglah aku belum terlambat. (^0^)a

“Annyeonghaseyo”, sapaku saat memasuki café. Pandanganku langsung bertemu dengan 2 yeoja yang sedang membersihkan meja bar dan mengelap jendela. “Ahh, mianhae. Aku nggak tahu kalau ternyata ada jadwal membersihkan café dulu”, ucapku sambil menaruh tas dan segera mengambil celemek milikku.

2 yeoja itu hanya tersenyum simpul dan kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing, “Gwenchana, HyeoRie-ya. Ini hanya inisiatifku dengan JiYoo saja. Kelihatannya café ini sudah agak berantakan, jadinya aku dan JiYoo mencoba untuk merapikannya”, ucap Nara sambil menaruh biji kopi ke sebuah toples. JiYoo hanya mengangguk singkat dan meneruskan mengelap jendela.

Aku masih menatap mereka dengan penuh rasa bersalah, “Mianhae ya. Tapi lain kali, beritahu aku kalau ada tugas tambahan seperti ini. Ok?”, ucapku sambil memakai celemekku dan berjalan menuju pintu masuk dan membalikkan papan tanda CLOSED menjadi OPEN .

Aku menghela nafas dalam-dalam dan beranjak kea rah mesin kasir. Memang sudah tugasku untuk menjaga kasir setelah sebelumnya menjadi pelayan *semenjak Minho masih ada*, Nara membuat minuman, dan JiYoo yang mengantarkan pesanan untuk pelanggan. Tapi kali ini, ada 1 hal yang kurang..yaitu pembuat cake. Pembuat cake itu telah keluar dari café ini dan pergi ke tempat yang sangat jauh, hingga tak bisa kembali lagi ke dunia ini. Yaa, orang itu adalah Choi Minho, pacarku.

“Eh, HyeoRie,kau tahu? Katanya si pembuat cake yang baru akan segera datang untuk menggantikan Minho oppa”,ucap JiYoo dan membuyarkan segala lamunanku tentang Minho. Aku menatapnya heran,”Jinca?”, tanyaku tak percaya. JiYoo mengangguk yakin, “Tadi Jinki Oppa berbicara dengan Nara. Jadi, aku mendengarnya sedikit”, ucapnya sambil menunjuk kea rah Nara yang masih asyik merapikan peralatannya untuk membuat jus dan minuman lainnya.

Jinki, kekasih Nara itu adalah pemilik café ini. Keluarganya sangat kaya raya dan dia juga keturunan keluarga Lee yang sangat jago membuat cake. Bahkan katanya sebelum Minho menjadi pegawai disini, Jinki oppa yang membuat cake di café ini. Dan setelah Minho meninggal *arggh, aku benci mengatakan kata-kata ini.. (>.<)* Jinki oppa lah yang menggantikan membuat cake untuk sementara.

“Kira-kira orangnya seperti apa ya? Semoga saja tidak jauh berbeda dengan Minho Oppa”, ucap JiYoo sambil tersenyum padaku. Aku hanya tersenyum tipis.

Tak jauh beda dengan Minho? Apakah ada cowok lain dengan 1001 kepribadian seperti cowok bernama Choi Minho yang kukenal?

==
..8 November 2008, 03.34pm, Expalicious café..

“Mohon bantuan dan bimbingannya”, ucapku sambil membungkuk dalam untuk menyapa rekan kerjaku di café ini, Minho, Nara, dan Jinki. Mereka tersenyum senang menyambutku, kecuali cowok bernama Choi Minho!! Wajahnya begitu datar dan agak menyeramkan *biarpun penampilannya keren sihh..*. (>.<)>

“Selamat datang di café ini, HyeoRie”, ucap Jinki sambil menepuk bahuku lembut. “Kau ditempatkan sebagai pelayan untuk mengantarkan pesanan para pelanggan. Nikmati pekerjaanmu”, ucapnya sambil menyerahkan celemek dengan border Expalicious café di depannya. Aku mengangguk paham dan segera memakai celemek itu dengan hati gembira.

“Kau pasti senang sekali ya, HyeoRie?”, Tanya Nara saat aku masih sibuk mengamati lingkungan café. Aku tersenyum kaku dan mengangguk malu-malu. “Aku juga seperti itu saat baru masuk ke sini”, jelasnya sambil mengelap gelas minuman. Aku memandangnya tertarik, “Jadi, kau bertugas sebagai bartender??”, tanyaku. Nara hanya mengangguk singkat, “Yahh..begitulah”, ucapnya singkat dan menaruh gelasnya itu ke tempat semula.

Aku menatap heran, “Kalau begitu, siapa yang membuat cake ini? Aku kira kau yang membuatnya, kan di café ini hanya ada 1 perempuan”, ucapku. Nara hanya tersenyum simpul dan mengedikkan kepalanya kea rah dapur, “Dialah yang membuat semua cake ini”.

Aku melirik penasaran kea rah dapur, siapa sih cowok yang bisa membuat cake yang kelihatan enak ini?. Dari belakang, aku bisa melihat sesosok cowok yang sedang mengaduk adonan kue. Posisinya membelakangiku, jadi aku belum bisa melihat wajahnya. Uhhmp..mungkinkah dia itu, Jinki oppa?

Tapi mulutku langsung menganga lebar saat mengetahui bahwa yang membuat cake di café ini adalah Minho, sang raja setan yang berwajah datar!! Arggh, mengapa cake seindah ini bisa dibuat oleh cowok aneh seperti itu? (O.o)

Aku langsung kembali ke Nara dengan wajah masih shock, “Yang buat semua cake inii..MINHO?”, tanyaku tak percaya. Nara mengangguk kalem, “Cake buatan dia enak loh. Coba deh”, ucapnya sambil mengambil salah satu cake dari etalase toko.

“Ehh, andwae! Ini kan barang dagangan toko”, tolakku. Nara memandangku enteng dan langsung berteriak, “Jagiya, aku ambil cheese shortcake nya satu, ya?”, teriaknya dan langsung dibalas oleh jawaban dari dalam ruangan Jinki Oppa, “Ne, yeobo”.

Aku membelalakkkan mata, “Kalian pacaran??”.

Nara mengangguk singkat, “Mulai sekarang kau mesti terbiasa dengan segala hal di café ini”, ucapnya singkat dan kembali menekuni tugasnya.

Aku masih memandang cheese shortcake yang ada di tanganku. Tanpa sadar, aku berjalan lagi menuju dapur dan kembali memperhatikan Minho yang kini sedang menghias cake. Wajahnya saat menghias cake itu..sangat berbeda dengan saat dia menyapaku tadi. Dia tersenyum!!! Aku masih nggak percaya melihatnya, Raja setan itu tersenyum saat sedang menghias cake!! Apa dunia akan kiamat?? (>0<)

Aku menatap cheese shotcake yang masih kupegang. Kucoba menggigit cake itu dan mengunyahnya perlahan, “Enak..”

==
..17 Juli 2009, 02.30pm, Expalicious café..

KLING..KLING..

“Osso Osseyo”, sapa kami bertiga serempak. Dan kulihat Jinki Oppa datang sambil membawa beberapa kantong belanjaan. “Oh, annyeong ladies. Makin hari kalian makin cantik saja”, ucapnya sambil menatapku dan JiYoo menggoda.

BRAKKK

“AAWW!!”, ringis Jinki oppa sambil mengelus kepalanya yang terkena serangan sepetu kets milik Nara. “Jagiya, kau masih cemburu pada HyeoRie dan JiYoo?”, Tanyanya sambil membawa sepatu kets itu kepada Nara dan menyerahkannya kembali dengan pose seorang pangeran yang memberikan sepatu kaca pada putrinya. =P *Hoekk..muntahh di tempat!!!*

KLING..KLING..

“Osso Osey..”, tiba-tiba sapaanku berhenti saat melihat pelanggan yang datang kali ini. Seorang cowok yang memakai topi dan kacamata itu sangat amat kukenal. Apalagi senyumannya itu..amat familiar untukku.

“Ahh, Sungmin!! Kenapa kau baru datang?”, ucap Jinki oppa sambil menghampiri Sungmin sunbae. Sungmin hanya mengangguk singkat, “Mianhae, tadi aku mesti mengurusi rapat OSIS dulu”, jawabnya singkat. Jinki oppa mengangguk mendengar ucapan Sungmin barusan, dan kemudian dia beranjak menatap kami semua.

“Yorobeun, ini dia pembuat cake yang akan menggantikan Minho, Lee Sungmin. Dia sepupuku juga. Jadi jangan ragukan kemampuan memasaknya ya?”, ucap Jinki oppa. Sungmin hanya mengangguk sambil tersenyum, “Mohon batuan dan bimbingan kalian”, ucapnya.

MWO?

Kenapa dia yang mesti menggantikan Minho? Aku sudah bosan dengan melihatnya di sekolah, di ekskul, dan sekarang mesti lebih sering melihatnya di café ini?? (>.<)

==

..17 Juli 2009, 06.43pm, Expalicious café..

“HyeoRie, sejak kapan kau kerja part time disini?”, Tanya Sungmin saat dia sedang merapikan cake buatannya di etalase toko, dan aku bisa merasakan bahwa ada banyak bisikan para yeoja di café ini sambil menunjuk kea rah Sungmin. Huuft, pasti mereka sudah mulai tertarik pada Sungmin. (=.=)a. Pantas saja hari ini banyak sekali pelanggan seusia kami yang datang ke sini, pasti ini imbas dari adanya Sungmin. (=-=)

“Hampir setahun, Sunbae”, jawabku sambil menghitung ulang uang yang ada di kasir. Sungmin mengangguk-angguk paham tapi kemudian menatapku dalam, “HyeoRie, jangan panggil aku sunbae. Disini aku itu hoobae-mu. Ok?”, ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan kembali menuju dapur.

Aissh, wajahku memanas!!! (>0<)

Aku menatap ke arah cake yang kini sudah tertata rapi di etalase toko. Penampilannya sama persis seperti cake buatan Minho, tapi akankah rasanya sama seperti cake yang selalu dibuat Minho?

Tapi tiba-tiba, Nara dan JiYoo sudah menghampiriku sambil membawa sebuah cheese shortcake, “Mau? Tadi kami dikasih oleh Sungmin”, ucap JiYoo dengan mulut penuh cake, sedangkan Nara menyodorkan cake itu padaku. Entahlah..ini lebih terasa seperti de javu bagiku.

Aku mengambil cake itu dari tangan Nara, dan menggigit kue itu pelan. Tapi tiba-tiba air mataku langsung berjatuhan tanpa bisa kukendalikan.

Aku langsung berderap menuju dapur, dan kulihat Minho sedang menghias cake itu dengan senyumannya yang hangat. Tanpa sadar, aku langsung memeluk tubuh tegap itu dari belakang dan menangis terisak di punggungnya. “Minho Oppa, akhirnya kau kembali”, ucapku lirih sambil tetap memeluknya.

Tangannya kini menggenggam tanganku yang masih melingkar di pingganggnya, “HyeoRie-ya, aku Sungmin”, ucap suara itu dan kembali menyadarkanku yang masih memeluknya hangat.

Akulangsung melepaskan pelukanku dan menunduk dalam tanpa berani menatap Sungmin. “Mianhae, sunbae”, ucapku sambil membungkukkan badanku. “Cake mu tadi mengingatkanku pada seseorang. Rasa cake nya sama persis seperti yang buat tadi”, jelasku sambil masih membungkukkan badanku.

“Apa dia itu Minho?”, ucapnya singkat.

==

..17 Juli 2009, 09.00pm, Expalicious café..

“Kami pulang dulu”, ucapku dan Sungmin berbarengan. Nara dan Jinki mengangguk singkat sambil melambaikan tangannya pada kami berdua. \(^0^)/

Dan disinilah kami berdua, berjalan canggung satu sama lain, bingung memulai percakapan. (>=<) Lagipula kenapa rumah kami itu mesti searah sih?? Jadinya kami mesti pulang bareng, ‘kan? (=X=)

“HyeoRie-ya..”, ucap Sungmin membuka pembicaraan. Aku hanya menggumam pelan menjawab ucapannya barusan. “Siapa Minho yang kau sebut barusan?”, tanyanya. Aku menghela nafas dalam.

Sudah kuduga, dia pasti akan menanyakan hal ini setelah aku memeluknya sembarangan tadi..

“Ceritanya panjang loh, sunbae”, ucapku mengingatkannya terlebih dahulu. Sungmin hanya tersenyum simpul. “Well, rumah kita berdua juga masih jauh kok”, ucapnya ringan.

Mungkin ini saatnya aku mengingat kembali segala tentang Minho..

“Minho itu…”

==

15 November 2008, 03.45pm, Expalicious café ..

“Minho”, panggil Nara dari balik meja bar’nya. Minho yang sedang menghias kue pun menoleh pelan, “Ne?”, tanyanya singkat.

“Apakah kau bisa menjaga kasir untuk sementara? Jinki Oppa sedang sakit, sedangkan aku belum mengajarkan HyeoRie menggunakan mesin kasir ini”, ucap Nara sambil mengaduk cappuchino pesanan pelanggan. Minho mengangguk singkat dan berjalan pelan menuju kasir. “Gomawo”, ucap Nara setelahnya.

Aku segera menghampiri Nara, “Tidak apa-apa menjadikan si raja setan itu sebagai kasir? Bagaimana kalau nanti banyak pelanggan yangt merasa ketakutan saat melihatnya melotot?”, tanyaku khawatir pada Nara. Nara hanya tersenyum simpul dan mengedikkan bahunya. “Dia nggak separah itu kok, HyeoRie”, jawabnya ringan.

KLING..KLING..

“Osso Osseyo”, ucapku ramah menyambut tamu yang datang. Tapi ternyata tamu yang datang itu adalah seorang anak kecil berusia 5 tahun yang masih memakai seragam TK nya. Aigoo~~ kiawaa!! (>0<)

“Oppa, aku mau beli strawberry cream puff”, ucap anak itu dengan ceria, sedangkan Minho masih menatapnya datar.

“Berapa?”, Tanya Minho dengan suara beratnya. Aigoo~~ aku tau kau memang raja setan, tapi lebih ramahlah pada anak kecil seperti ini!!

Anak itu mengangkat tangannya dan membentuk angka 4, “Untuk aku, ayah, ibu, dan kakakku”, ucapnya masih dengan wajah imut. Aishh..lucu sekaali anak inii~ (>///<)

Minho mengambil kue-kue itu dari etalase toko dan membungkusnya dengan kotak kertas khas toko kami, dan menyerahkannya dengan wajah datar (T.T), “20ribu won”, ucapnya berat. Anak itu mengangguk singkat dan mengeluarkan 10 keping uang 500 pada Minho.

Aigoo~~ itu kan hanya 5ribu won!! Arrgh, jangan marahi anak kecil itu, Minho!! Tidakk..raja setan pasti nggak akan mengampuni anak kecil ini!!

Tapi reaksi Minho sama sekali tak kusangka sebelumnya, dia malah tak berkata apa-apa dan menyerahkan kotak kue itu pada anak kecil itu, “Terimakasih atas kedatangan anda”, ucapnya masih dengan wajah datar. Anak kecil itu mengangguk senang dan berkata riang, “Aku suka sekali kue-kue yang ada di toko ini, rasanya sangat enak!!”, ucapnya ceria.

Dan untuk pertama kali, MINHO TERSENYUM TULUS!! Wajahnya ituu..sangat tampan dan mempesona. Apakah itu adalah wajah dari sang raja setan, Choi Minho?? (0.o)

“Aku pulang dulu, Oppa”, ucap anak kecil itu dan pergi meninggalkan café kami dengan tawa senang. Minho mengangguk singkat dan menatap uang kepingan 5ribu won itu sejenak, tapi selanjutnya dia malah mengeluarkan dompetnya dan mengambil 3 lembar 5ribu won dari dompetnya itu. Lalu dia memasukkan uang 20ribu won itu ke dalam mesin kasir dengan wajah tenang.

“Bagaimana? Dia tidak seburuk yang kau bayangkan kan?”, Tanya Nara tiba-tiba. Aku mengangguk mengiyakan dan masih memandang Minho.

Mungkin dia bukan raja setan, sebenarnya dia adalah raja malaikat tapi memiliki wajah seperti setan.. (^.^)a

==

..17 Juli 2009, 09.24pm, JangGeun park..

Sungmin masih diam setelah mendengarkan ceritaku, sepertinya dia benaar-benar masih berusaha mencerna dan membayangkan seperti apakah Choi Minho itu. “Dia benar-benar cowok yang baik”, ucapnya setelah diam sekian lama. Aku mengangguk mengiyakan ucapannya, “Sangat amat baik”, tambahku lagi.

“Dia murid sekolah kita,’kan?”, Tanya SungMin lagi. Aku mengangguk, “Dia pemain cadangan di tim basket sekolah kita”, jawabku. Sungmin mengangguk, “pantas saja aku serasa pernah mendengar nama itu, Choi Minho”, ucap Sungmin lagi.

“Fisiknya lemah, makanya dia hanya dijadikan pemain cadangan”, jelasku. “Tapi, dia bertekad bahwa dia harus jadi pemain inti di pertandingan basket akbar tahun ini, jadi beberapa hari selanjutnya dia selalu latihan basket tiap malam di lapangan basket di dekat rumahku. Aku selalu menemaninya, karena dia telah jadi pacarku dan aku wajib mendukungnya”, aku mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritaku.

“Minho menunjukkan perkembangan yang sangat pesat saat itu, dia menjadi lebih semangat saat bermain basket dan di café pun dia selalu tersenyum. Benar-benar seorang Minho yang telah berubah”.

“Tapi, 9 Juli kemarin..seharusnya dia latihan basket di lapangan dekat rumahku. Aku menunggunya hingga larut malam, tapi dia tak kunjung datang. Karena khawatir, aku mencoba mencarinya. Tapi yang kutemukan saat itu bukanlah Minho yang sedang mendribble bola atau sedang tersenyum, tapi malah Minho yang sedang terbujur kaku di jalanan sepi”, suaraku mulai bergetar.

Aku benci mengingat ini semua!!

“Dia..gagal ginjal”, ucapku pada akhirnya. Sungmin masih terdiam dan kemudian mengelus kepalaku lembut.

Tangannya sangat hangat, sama seperti tangan Minho. Dan perasaan ini, sama seperti saat aku bersama Minho.
Apa Sungmin adalah reinkarnasi dari Minho?

“Tenanglah, jangan menangis lagi. Kau tak ingin membuat Minho menjadi khawatir karena kau selalu menangis untuknya,’kan?”, ucapnya sambil menarik kepalaku untuk bersender di bahunya. Aku mengangguk singkat dan masih menangis tanpa suara, sedangkan Sungmin hanya diam sambil menatap langit yang bertabur banyak bintang.

“HyeoRie-ya, lihatlah ke langit”, ucapnya dengan nada tenang. Aku langsung mendongakkan kepalaku ke atas dan kulihat banyak sekali bintang berkerlap-kerlip di sana. Sungmin langsung mengangkat tangannya dan menunjuk salah satu bintang itu, “Mungkin bagimu, Minho adalah salah satu dari kerlipan cahaya itu, ya?”, ucapnya santai dan masih tetap tersenyum senang. Aku melihat bintang yang ditunjuk Sungmin, memang itulah bintang yang paling bersinar diantara semua bintang yang ada. Persis seperti Minho.

“Minho-ssi, apa kau rela jika aku menggantikanmu untuk menjaga HyeoRie?”, tanyanya pelan sambil masih menatap langit dan langsung membuatku terkejut. Menggantikan untuk menjagaku?

“Sunbae? Apa maksudmu?”, tanyaku masih dengan rasa terkejut.

Sungmin berhenti menatap langit dan kemudian ganti menatapku, “Aku yakin kau pasti mengerti maksudku, HyeoRie”, ucapnya sambil tersenyum manis dan mengelus kepalaku lagi. “Tapi kau tak perlu menjawabnya sekarang, karena aku yakin di pikiran dan hatimu hanya ada nama Minho. Aku tak ingin kau menganggap dan melihatku sebagai sosok Choi Minho yang pernah menjagamu dulu, tapi aku ingin kau melihat dan menganggapku sebagai sosok Lee Sungmin yang akan dan tak akan pernah berhenti menjagamu”, jelasnya lagi sambil masih mengelus rambutku. Sedangkan aku masih terisak hebat mendengar kata-katanya itu.

“Aku siap menunggu sampai saat itu tiba, HyeoRie”, ucapnya lagi dan kali ini sambil mengecup kepalaku lembut. Aku masih tak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya segalanya ini bagaikan mimpi bagiku.

Tak lama kemudian, Sungmin berdiri dan menepuk bagian belakang celananya sejenak. “Uwaahh, sudah malam!! Ayo kita pulang, HyeoRie. Jangan sampai kau dimarahi orangtuamu gara-gara pulang terlambat”, ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap uluran tangan itu lama, tapi akhirnya aku mengangguk dan menerima uluran itu. Sungmin hanya tersenyum simpul.

Selama di perjalanan pulang, aku masih berjalan sambil sesekali menatap langit dan melihat bintang-bintang yang bertaburan dan berkelip dengan anggunnya.

Choi Minho, bagaimana pendapatmu tentang Lee Sungmin?

“Hei~ ngapain cengar cengir sendiri?”, ucap Sungmin yang menyadari bahwa aku sedang tersenyum geje sambil menatap langit. Aku menggeleng pelan dan kemudian tersenyum simpul padanya, “Kamsahamnida, Sunbae. Karena sudah bersedia menjagaku”, ucapku dengan senyum riang.

Sungmin ikut tersenyum dan kemudian mencubit pipiku lagi, “Aigoo~~ kau imut sekali kalau tersenyum seperti tadii..”, ucapnya dengan nada gemas. Aku hanya meringis sebal dan berjalan mendahuluinya, “Katanya mau ngejagain aku, tapi buktinya malah nyiksa!!”, ucapku ketus dan Sungmin langsung mengejarku sambil meminta maaf. (^0^)//

Lee Sungmin, benarkah kau bisa menggantikan posisi Choi Minho di hatiku? Tapi seperti yang kau bilang tadi, sepertinya kau harus siap menunggu untuk menggantikan posisi seorang namja bernama Choi Minho.

==
..1 Januari 2010, 02.56pm, Expalicious café..
*SungMin POV*

ULANG TAHUN KELABU!!! (=.=)>

Memangnya mereka tak sadar bahwa ini adalah hari ulang tahunku?? Daritadi sepertinya mereka sama sekali tak peduli padaku, Jinki sedang sibuk membantu JiYoo melayani pelanggan, Nara sibuk membuat minuman pesanan pelanggan, sedangkan HyeoRie? Dia sibuk mengecek uang yang ada di mesin kasir.

Masa iya tumpukan uang itu lebih menarik daripada wajahku? (=3=)

Aku masih menghias cake yang ada di hadapanku ini dengan rasa sebal. Arggh, masa iya mereka nggak tahu kalau ini adalah hari ulang tahunku?? (>=<) Ok lah, untuk Nara dan JiYoo..mereka masih bisa kumaklumi jika mereka lupa tanggal ulang tahunku. Tapi Jinki?? Dia sepupuku!!! Teman mainku sejak SD, masa iya bisa lupa??!!! (>X<) Dan yang paling parah, HyeoRie!!! Bukannya dia sendiri yang bilang, “Sunbae~ kau mau hadiah apa untuk ulang tahunmu minggu depan?”. Arggh, apa-apaan ini?? =p

Cake yang kuhias kini sudah rapi dan tertata bagus. Aku langsung membawanya ke etalase toko dan dengan sengaja bertanya ketus pada HyeoRie, “HyeoRie, sekarang tanggal berapa?”

HyeoRie menatapku sekilas, “Tanggal 1 januari, Sunbae. Memangnya kenapa?”, tanyanya dengan pandangan polos. Aishhh~ mereka benar-benar tak ingat kalau ini hari ulang tahunku?? (>=<) Rekan kerja macama apa mereka??!!

Aku langsung beranjak ke kamar mandi dan mencuci tanganku sampai bersih, aku masih menggumam sebal sambil menatap bayangan wajahku di cermin. Apa HyeoRie masih belum bisa melupakan Choi Minho? Kenapa sampai sekarang ia belum memberikan jawaban untukku?

Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Sudahlah, Lee Sungmin..bukannya kau sendiri yang bilang bahwa kau siap menunggu sampai kapanpun?? Jadi yah..kau memang mesti terus menunggu,’kan? (=.=)

Aku mengangguk yakin setelah memikirkan asumsi barusan. Ya, suatu saat dia pasti bisa melupakan Choi Minho dan melihatku sebagai sosok Lee Sungmin. (^0^)

Aku berjalan kembali menuju dapur dan bersiap membuat cake lainnya. Tapi, sebuah kotak yang ada di tengah meja dapur membuat perhatianku langsung tertarik. Aku mendekati kotak itu, bisa kulihat nama Lee Sungmin di atas kotak itu. Apa ini untukku?

Aku membuka kotak itu perlahan dan kulihat sebuah kue tart coklat yang cukup besar dengan hiasan bulan di tengahnya. Aku masih menatapnya heran. Bulan?

Tapi aku juga menemukan sebuah kertas di dalamnya. Setelah kubaca isinya, aku langsung tersenyum senang dan menatap HyeoRie yang ternyata juga sedang menatapku dari tadi. Dia mengangguk sejenak dan mengucapkan sebuah kata tanpa suara, “Saengil chukkae, Jagiya”.

Dear : Lee Sungmin

Saengil chukka, Sunbae..
Maafkan aku membuatmu terlalu lama menunggu untuk jawaban dariku..
Tapi mianhae, aku nggak bisa membiarkanmu menjadi bintang yang selalu menjagaku seperti Minho..
Bagiku, sosok Minho yang seperti bintang..nggak akan pernah bisa tergantikan..

Tapi, sebagai gantinya..biarkan aku melihat sosokmu sebagai sebuah bulan..
Yang akan selalu menerangi setiap langkahku saat bintang tak lagi bersinar..

==

*the end*

{Kwan Nara}

10 thoughts on “(OneShot) Cake, Cafe, and My Lovely Pattisier

    • Hahaha~😄
      Sungmin emang mukanya imuut, jd ga pantes dpet peran yg gaje..
      Wkwkwk~😄

      Anggep aja hyeori nya kamu say :3
      Hehe

      Makasih udh komen yaa :3

  1. *pingsan* wuahh!! sungmin kau memang setia \(^0^)/. akhirnya kau menunjukan kelebihanmu sehingga aku tidak berpindah hati pada yesung (?) author daebak..!!
    minho kan memang berwajah malaikat :3

  2. hiks..romantis to the max..^^d
    biarkanlah kw mnjadi bulan yg mnyinariku di saat bintang tak lagi bersinar…
    waaaa waaaaa
    sungmin emang cocok untk thema yg bginian…

  3. wah, kata-katanya romantis. . .

    ternyata sungmin emang pas sama cerita yang kayak gini
    dia perhatian banget. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s