{KyuNara Scene} Irreplaceable

*****

“Siapa namanya?”

Cho Kyuhyun, sajangnim.”

Pria bertubuh agak tambun dan berkumis tipis itu mengangguk paham.  Beberapa kali dia mengetukkan pulpen ekslusif miliknya ke atas meja.  Sementara pria bertubuh kurus dihadapannya hanya diam menunduk, seakan takut untuk sekedar bertatap mata dengan pria bertubuh tambun itu.

“Sudah berapa lama?”

“Kira-kira sekitar…2 tahun.  Itu informasi yang saya dapatkan.”

“Cukup lama.  Tak kusangka dia bisa bertahan dengannya hingga selama itu.  Kau punya fotonya?”

Pria bertubuh kurus itu mengangguk dan menyerahkan selembar foto Kyuhyun, “Dia…anggota Super Junior, sajangnim.”

“Really?”, pria bertubuh tambun itu membalas singkat dan memperhatikan selembar foto di tangannya dengan seksama.  Detik berikutnya, dia menaruh kertas itu ke atas meja dan berkata singkat, “Bawa dia kemari.”

“Ne?”, tanya pria bertubuh kurus itu dengan tak percaya.  “Bawa kemari?  Tapi sajangnim, dia itu artis besar dan tak mudah untuk mencari jadwalnya yang koso…”

Ucapannya langsung terhenti saat pria bertubuh tambun itu mengangkat tangannya dan memberikan gesture yang seakan mengusirnya untuk segera pergi dari ruangan megah miliknya.  “Bawa – dia – kemari.  Itu yang kuinginkan.”

Pria bertubuh kurus itu menelan ludahnya dengan berat sebelum akhirnya dia mengangguk pasrah, “Saya mengerti, Kwan Sajangnim.”

*****

“Kwan…apa?”

“Nara, Umma.  Kwan Nara”.

Wanita separuh baya itu mengangguk paham, tangannya masih memasukkan beberapa telur ke dalam kantung plastik.  “Kau yakin itu namanya, Ahra-ya?”

Ahra mengangguk yakin, “Hyukjae yang memberitahukannya padaku.  Katanya gadis itu sangat…”, dia terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya namun wanita separuh baya itu sudah terlanjur penasaran.  “Sangat apa?  Katakan pada Umma, Ahra-ya”

“Sangat…menyeramkan. Menurut Hyukjae, Nara itu bisa menghancurkan dorm lantai 11 jika dia sudah marah.  Lalu dia sering menghina Kyuhyun dan mengejeknya habis-habisan.  Dan…”

“MWORAGO?!”, Wanita itu langsung membanting kantung telur itu ke dalam trolley yang dibawanya hingga telur itu langsung pecah.  “GADIS SEPERTI ITU YANG AKAN MENJADI ISTRI DARI PUTRAKU?!”

“Umma, sabarlah.  Belum tentu kabar itu benar-benar kenyataan ‘kan?.”

“BAWA GADIS ITU KE RUMAH KITA.  DAN ADIKMU TAK BOLEH TAHU TENTANG HAL INI!  AHRA-YA, LAKUKAN SEKARANG!”

*****

… 2 Februari 2011 …

Kyuhyun menaruh kopernya secara sembarangan dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya.  Sungmin yang melihat kelakuan maknaenya itu hanya bisa menggeleng heran dan mendecak kesal, “Kyuhyun-ah, bereskan dulu barang-barangmu!.”, serunya.

Kyuhyun menggeliat malas diatas kasurnya, “Besok pagi saja, hyung.  Aku mengantuk.  Jinjja~”, ucapnya dengan nada manja dan membuat Sungmin langsung menyerah.  Jika Kyuhyun sudah berbicara dengan nada seperti itu, tak akan ada member yang bisa memaksanya untuk melakukan hal yang lain.

“Kyuhyun-ah!  Ini medali milikmu”, tiba-tiba saja Eunhyuk sudah muncul di depan pintu kamar milik Sungmin dan Kyuhyun.  Dia melemparkan sebuah medali emas kearah maknaenya itu, “Kau meninggalkannya di mobil.”

Kyuhyun langsung menepuk dahinya, “Aigoo~ kenapa aku bisa lupa?”, rutuknya pada dirinya sendiri.  Sungmin menggeleng lagi, “Kau tak boleh menaruhnya sembarangan, Kyuhyun-ah.  Itu emas asli.”

Arayo”, ucap Kyuhyun sambil menaruh medali itu di kotak khusus miliknya.  “Pemberian dari ELF Indonesia ‘kan?”, tanyanya memastikan.  Sungmin menggumam mengiyakan, “Aku sampai kaget saat menerimanya.  Emas asli.  Itu hal yang sangat…”, ia tak melanjutkan ucapannya dan malah terlihat kagum.  “Wow~.”

Kyuhyun terkekeh geli saat melihat ekspresi wajah Sungmin, “Mungkin sekali-kali kita harus mendatangi Indonesia.  Sekedar untuk membalas hadiah dari mereka ini”, ucap Kyuhyun dan dijawab dengan anggukan Sungmin.  “Semoga ada kesempatan supaya kita bisa kesan…”

DDDRTTT..DDRTTT..

Handphone Kyuhyun bergetar dan berputar pelan diatas meja kamarnya.  Sungmin menggumam pelan, “Ratu Iblis?”

Bingo~”, jawab Kyuhyun singkat dan langsung mengangkat telefon dari gadis itu.  “Yobose…”

TREEKK!

MWOYA?!”, Kyuhyun menatap handphonenya dengan pandangan tak percaya.  “Gadis bodoh!  Kenapa cuma missed call?”, tambahnya.  Kyuhyun terlihat agak manyun tapi tangannya tetap menekan tombol call saat layar handphonenya menunjukkan nomor Nara.  Entahlah, Kyuhyun tak bisa memungkiri bahwa ia agak merindukan suara gadis itu, terlebih lagi pada sosoknya.

Perlu menunggu beberapa saat sebelum nada sambung itu berhenti dan diangkat oleh pemiliknya.  “Yobosey…”

“CHO KYUHYUN SIALAN!  KENAPA KAU MENGANGKAT TELEFON TADI?!  ITU PULSA TERAKHIR DI HANDPHONEKU!”.  Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, teriakan Nara sudah membahana dari speaker handphonenya hingga membuat Kyuhyun menjauhkan handphone dari telinganya secara refleks.  Bahkan Sungmin bisa mendengar suara nyaring gadis itu (.____.)

“Kurasa lebih baik aku keluar sekarang”, gumam Sungmin sambil membawa bantal pinknya sebelum perang dunia ketiga itu mulai berkobar dikamarnya.

Kyuhyun mendecak kesal, “Kau menelfonku duluan, otomatis aku harus mengangkatnya, Kwan Nara sayang”.  Dia benar-benar menyesal karena telah merindukan sosok gadis ini, jika pada kenyataannya dia malah disambut dengan teriakan nyaringnya.

“Cho Kyuhyun yang tampan, kau harus berpikir panjang!.  Aku ini masih SMA, jatah pulsa untukku itu tak sebanyak dirimu.  Lagipula kau harus berpikir jika…”

TREKK!

Kyuhyun langsung memutuskan sambungan telefonnya dan mendengus kesal, “Cish~  kali ini gara-gara pulsa, hah?”, desisnya pelan.

Kyuhyun mulai sangsi jika mereka berdua bisa bertingkah selayaknya pasangan kekasih pada umumnya.  Rasanya setiap saat dia merindukan sosok gadis itu, pada saat itu pula ada masalah yang menghampiri mereka berdua.  Mulai dari masalah Haneul, Game, Matematika, kesibukan mereka berdua, dan sekarang…pulsa?!

Dia menggaruk kepalanya dengan gemas kemudian langsung membuka aplikasi banking di handphonenya.  “50 ribu won, cukup ‘kan?”, tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.  Dia memasukkan nomor handphone gadis itu dan tak lama kemudian sejumlah pulsa itu telah berpindah tangan ke seorang gadis bernama Kwan Nara.

*****

TREKK!

Nara menganga tak percaya saat sambungan telefonnya diputus oleh Kyuhyun.  “MWOYA?!”, teriaknya kesal.  Dia mendengus kencang dan langsung mengacak-acak rambutnya dengan gemas, “Arghh!  Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini~”, serunya histeris.  Ia memutuskan untuk berbaring di kasur empuknya dan memejamkan matanya untuk sejenak.

Jujur, pada awalnya Nara berniat untuk menanyakan kabarnya selama Super Show di Singapore kemarin.  Banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Cho Kyuhyun.   Namun karena terlalu banyak, Nara bingung untuk menanyakan hal apa yang harus dia tanyakan terlebih dahulu. Dan entah kenapa, yang keluar dari mulutnya hanyalah omelan tidak berarti.  Padahal Nara ingin bertanya…

‘Apa kau tidur nyenyak di hotel?’.

‘Apakah ada stalker yang mengikutimu?’.

‘Apakah kau makan dengan teratur disana?’.

‘Apakah tenggorokanmu baik-baik saja?’.

‘Apakah…’

“Ya Tuhan, aku bisa gila!!”, kini Nara langsung menjitak kepalanya sendiri, untuk mendapatkan kesadarannya kembali.  “Kwan Nara, sadarlah.  Belum tentu Cho Kyuhyun yang tampan itu memikirkan dirimu selayaknya kau memikirkannya sekarang.  Ayolah, Kwan Nara.  Ambil nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan.  Ambil nafas dala…”

DDRTT..DDRRTTT..

Handphone  Nara bergetar, menandakan ada SMS yang masuk.  Ia bangkit dari tidurnya dan beranjak mengambil handphonenya dengan langkah gontai. Kepalanya masih terasa berputar, membuatnya merasa mual. Mungkin ini ada hubungannya dengan semua jadwal bimbingan belajarnya yang sangat padat.  Ditambah dengan jadwal pelajaran tambahan dari sekolahnya.

Nara merasa badannya benar-benar remuk.

Tapi apa boleh buat, Ujian Negara tinggal beberapa bulan lagi dan Nara tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk belajar.  Baginya saat ini, dia akan berusaha semaksimal mungkin.  Hingga pada saatnya dia menemui titik henti yang sangat tajam, baru pada saat itu dia akan menyerah.

Nara membuka flip handphonenya dan mendapati satu SMS dari Kyuhyun.  Namun detik berikutnya, ia langsung membelalak lebar saat matanya melihat beberapa angka nol yang terpampang di layar handphonenya.  “Hee?!  Ini angka nol’nya ada…”.

“EMPAT?!  50 RIBU WON?!”, tanyanya tak percaya.  Dia menggelengkan kepalanya dengan heran dan tersenyum sinis, “Cish~ kau kira aku gadis manja yang selalu meminta kekasihnya untuk mengisikan pulsa?  Cho Kyuhyun yang tampan, kau sangat bodoh. Jinjja~”.

Tak lama kemudian, Nara kembali mengirimkan pulsa itu kepada Kyuhyun dan langsung mematikan handphonenya.  Nara melemparkannya ke kasur dengan cukup kencang, sedangkan dia hanya duduk di meja belajarnya.

Untuk beberapa saat, dia hanya diam dan berpangku tangan di atas meja.  Pandangannya benar-benar kosong, namun kepalanya masih terasa berputar dan makin membuatnya mual.  Ia mencoba untuk memijat dahinya, sekedar untuk mengurangi rasa pusing yang seakan tak mau pergi darinya.

Tapi matanya tiba-tiba tertuju ke satu penjuru kamar yang di dindingnya terpajang kalender, “2 hari lagi ya?”, gumamnya pelan saat menyadari sebuah tanggal yang sudah dia lingkari dengan spidol, tepat di tanggal 3 Februari.  “Aish, apa yang harus kuberikan untuknya?”

Saat sedang sibuk berpikir, tiba-tiba Nara merasakan ada cairan hangat yang mengalir dari hidungnya dan sedikit tercium bau amis.  Dia menyeka hidungnya dan darah segar telah menyebar di tangannya.  “Geez, mimisan lagi?”, tanyanya heran dan langsung mengambil tissue untuk menyumbat hidungnya supaya darah mimisannya berhenti mengalir.

“Ini sudah ketiga kalinya aku mimisan di minggu ini.  Aigoo~ kurasa sudah saatnya aku cek ke dokter”, gumamnya pelan.

Akhir-akhir ini, Nara sering sekali mimisan.  Mungkin dikarenakan semua jadwal sekolah dan bimbingan belajar yang menyiksanya hingga membuatnya lupa untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri.

Nara mengambil jaket tebalnya dan langsung menyampirkannya ke tubuhnya.  Tak lupa dia mengenakan masker untuk melindungi hidungnya supaya tidak beku dan juga mengenakan sarung tangan yang lumayan tebal.

Baru saja ia membuka pintu rumahnya, angin salju yang dingin langsung menerpa tubuhnya.  “Ummaaa~ dingin sekali!”, keluhnya.  Namun dia tetap berencana untuk pergi ke dokter, setidaknya dia harus memeriksakan kondisinya ini sebelum semuanya menjadi semakin parah.

Setelah semuanya siap, Nara mengunci pintu rumah dan membuka pintu pagarnya. “Okay, semuanya sudah sia…ARGGHH!”

Nara tak tahu apa yang terjadi padanya di saat setelah dia selesai mengunci pintu pagar.  Sungguh, dia benar-benar tak sadar.  Yang pasti, ada bau khas yang sangat ia kenali.  Seperti bau yang selalu ia cium dari tubuh…Kyuhyun?

*****

DRRT..DRRTT..

“Kyuhyun-ah, ada SMS!”, seru Yesung pada Kyuhyun yang sedang mandi sambil bersenandung pelan.  Kyuhyun mematikan air dari shower dan melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi, “Arayo~ biarkan saja.  Pasti hanya SMS dari gadis bodoh itu”, ucapnya dengan ringan, kemudian dia kembali melanjutkan mandinya.

Yesung mengangkat bahunya dan meninggalkan kamar Kyuhyun dan Sungmin.  Dia beranjak kembali ke ruang tengah dan meneruskan menonton salah satu episode Running Man bersama member lainnya.  Baru saja beberapa saat ketika semuanya berjalan tenang dan damai, tiba-tiba saja Kyuhyun berteriak kencang.  “IGE MWOYA?!  DIKEMBALIKAN LAGI?!”

Yesung, Sungmin, Ryeowook dan Eunhyuk saling bertatapan heran, namun Ryeowook langsung mengangkat bahunya dengan ekspresi tak tahu.  “Kurasa…lebih baik kita tidak ikut-ikutan masalah mereka”, ucapnya, mencoba bijak dan langsung diiyakan oleh member lainnya.

Tapi tak lama kemudian, Kyuhyun keluar dari kamar dengan mengenakan semua peralatan menyamarnya.  Biarpun wajahnya ditutupi oleh masker, tapi member lainnya bisa melihat bahwa dimata Kyuhyun sudah tersirat hasrat untuk membunuh seseorang.  Dan orang itu tentu saja adalah…

Kwan Nara”, gumam Kyuhyun sambil mengikatkan tali sepatunya, “akan mati ditanganku!.”

Sungmin langsung menahan langkah maknaenya itu, “Ya!.  Sadarlah, dia itu perempuan, Kyuhyun-ah”.

Kyuhyun langsung menggeleng kencang, “Mana ada perempuan yang menolak pulsa yang diberikan oleh kekasihnya dan langsung mematikan handphonenya?  Dia itu ratu iblis, hyung!”, sahutnya dengan tak sabar dan langsung melewati Sungmin untuk keluar dari dorm.

Yesung mendecak heran, “Jadi kali ini, masalahnya gara-gara…pulsa?”, ucapnya saat sosok Kyuhyun sudah menghilang di balik pintu dorm.  Ryeowook, Eunhyuk dan Sungmin ikut heran menatap kelakuan pasangan kekasih itu.

“Tak adakah masalah yang lebih elit, KyuNara?”

*****

Kyuhyun keluar dari lift dengan langkah tergesa.  Dia tetap waspada dengan suasana di sekelilingnya, sebisa mungkin ia tetap tak ingin penyamarannya ini diketahui oleh khalayak ramai.  Dia membungkuk singkat saat melewati receptionist yang ada di front office, hanya untuk menunjukkan keformalan yang tak berarti.

Setelah berada di luar gedung, Kyuhyun langsung beranjak ke basement sambil mengeluarkan kunci mobilnya.  Namun tepat saat dia akan memencet tombol untuk membuka kunci mobil, tubuh Kyuhyun sudah ditarik secara paksa oleh seseorang.

Kyuhyun mencoba berontak sekuat mungkin, tapi rasanya mustahil karena tubuh yang sedang menariknya secara paksa itu benar-benar kekar dan kuat.  Sangat berbanding terbalik dan kontras jika dibandingkan dengan tubuh Kyuhyun yang kurus kering seperti saat ini (.____.)

“HHMMP!  HMMP!”, Kyuhyun melirik kesana kemari, sekedar untuk mencari bantuan.  Tapi percuma, di basement ini tak ada siapapun.  Terlebih lagi, Kyuhyun menyadari jika kamera pengawas di situ telah diakali oleh orang yang sedang menyekapnya sehingga Kyuhyun yakin jika security di situ tak akan menyadari bahwa dia tengah disekap oleh oleh tak dikenal ini.

“Diamlah dan jangan berisik!”, desis pria bertubuh kekar itu sambil menutup hidung Kyuhyun dengan selembar sapu tangan yang telah dilumuri oleh obat bius.  Kyuhyun tetap mencoba untuk berontak namun tak ada hasil yang signifikan.  Dia malah merasa pusing dan nafasnya menjadi sesak.  Sangat sesak.

Dan yang ia lihat selanjutnya hanyalah langit luas yang hitam pekat.

Terlalu gelap, hingga ia tak bisa melihat apa-apa.

*****

Lepph..phas..kan!”, suara teriakan Nara hanya terdengar samar karena mulutnya tengah dibekap oleh seseorang.  “Ya!  Appha..maumu?!”

Orang itu tetap tak mengatakan apapun dan malah menarik tubuh Nara untuk segera masuk ke dalam mobil yang ia parkirkan tak jauh dari situ.  Nara tetap tak mau menyerah dan masih berontak, “Lepas..”

“Diamlah!  Aku ini Ahra.  Cho Ahra!”. Desis suara dari orang yang tengah membekapnya.  Nara terlihat terkejut dan langsung terdiam terpaku, “Hee?  Cho Ah…”

Ne.  Noona dari kekasihmu”, sela Ahra sambil masih tetap menggandeng tangan Nara untuk segera masuk ke dalam mobilnya.  “Dan aku yakin jika kau adalah Kwan Nara ‘kan?”

Nara tak tahu harus berkata apa dihadapan gadis ini.  Ini adalah kali pertamanya bertemu dengan salah satu dari keluarga kekasihnya sendiri.  Biarpun Kyuhyun dan Nara telah berpacaran lebih dari 2 tahun, namun mereka tetap memilih untuk melakukan backstreet.  Termasuk pada keluarga mereka masing-masing. “Aku memang Kwan Nara.  Tapi…”

“Jangan coba untuk berbohong.  Aku tahu bahwa kalian berdua sudah berpacaran semenjak 2 tahun yang lalu”, ucapan tegas itu kembali membuat Nara bingung harus berbuat apa.  Kini dia hanya bisa duduk di bangku penumpang dengan ekspresi linglung, “Bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini?”.

Ahra menjawab dengan ringan sambil memasangkan sabuk pengamannya, “Aku punya banyak informan handal”.  Namun Nara langsung bisa menebak jika pelaku dari semua ini adalah member di lantai 11, karena tak adalagi orang yang lebih tahu mengenai hubungan mereka berdua selain para member itu.

Jinjja, Nara bersumpah akan melemparkan bom atom ke dalam dorm nanti! (>___<)

“Ah, allgessemnida”, jawab Nara singkat dan kemudian kembali diam seribu bahasa. Dia benar-benar bingung harus berkata apa lagi kepada calon kakak iparnya ini. Ahra melirik kearah gadis disampingnya itu, “Kau…masih sekolah?”, tanyanya.  Nara mengangguk cepat, “3 SMA.”

Tepat setelah Nara mengatakan hal itu, Ahra langsung mendecak heran dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.  “Adikku ternyata pedofil”, gumam Ahra sambil memindahkan persneling gigi mobilnya hingga kini mobil yang mereka naiki itu langsung melaju di jalan raya.

“Kita…mau kemana?”, desis Nara dengan suara mencicit.  Masih merasa segan.

Ahra menjawab ringan sambil tetap memfokuskan pandangannya ke jalanan, “Lihatlah sendiri dan jangan banyak bertanya.”

Nara langsung menelan ludahnya dengan berat saat mendengar ucapan bernada dingin yang keluar dari mulut Ahra.  Rasanya…dia seperti melihat duplikat dari seorang raja Iblis yang bernama Cho Kyuhyun.  Sama persis.

Ternyata memang benar, hidup Nara tak pernah lepas dari lingkaran Iblis. (.____.)

*****

Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, namun dia langsung kembali menutup kelopak matanya saat menerima sinar terang yang seakan menusuk retinanya.  “Aish~”, dia mengerang pelan dan memijat dahinya yang terasa amat pusing.  Sekilas Kyuhyun masih bisa mencium bau obat bius yang menghampiri hidungnya, biarpun samar.

Hingga akhirnya Kyuhyun membuka mata lebar-lebar dan menemukan dirinya tengah berada di sebuah kamar yang sangat mewah.  Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya dia bisa sadar dari semua keterkejutannya setelah melihat semua desain interior yang ada di kamar ini. Semuanya benar-benar Super Deluxe.

“Woaah~”, matanya masih menyusuri semua penjuru kamar yang ditempatinya dan tak berhenti mendecak kagum.  Tapi tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka lebar dan menampakkan sesosok pria bertubuh kurus yang berjalan ke arahnya, “Anda sudah sadar, Cho Kyuhyun-ssi?  Jika sudah, mari segera ikut dengan saya.  Sajangnim sangat tidak suka jika harus menunggu lama”, ucap pria itu dengan penuh nada hormat.

“Hee?”, Kyuhyun masih menggumam heran.  Dia menggaruk kepalanya sejenak, “Sajangnim?  Siapa orang yang sedang kau maksud?”, tanyanya penasaran.  Namun pria kurus itu hanya membungkuk singkat dan seakan memberi jalan bagi Kyuhyun untuk segera beranjak dari tempat tidurnya, “Akan saya antarkan anda untuk bertemu dengan sajangnim.”

Kyuhyun tak memiliki pilihan lain.  Dia bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak mengikuti langkah pria bertubuh kurus itu yang berjalan dengan langkah cepat dan lebar, “Ah, permisi…”, Kyuhyun terdengar bingung untuk memanggil nama pria itu.

“Lee Joomin”, jawab pria bertubuh kurus itu singkat.  Kyuhyun mengangguk paham, “Baiklah, Joomin-ssi…sebenarnya, dimana aku berada sekarang?”, tanyanya to the point.  Joomin masih berjalan dengan cepat, “Anda sedang berada di Tokyo”, jawabnya.  Kyuhyun langsung menganga lebar, masih tak percaya.  “TOKYO?!”

Joomin segera berbalik menghadap kearah Kyuhyun, “Tolong jangan berisik, Cho Kyuhyun-ssiSajangnim sangat tak menyukai jika ada keributan di rumahnya”, ucapan singkat yang keluar dari mulut Joomin itu langsung membuat Kyuhyun segera menutup mulut dengan kedua tangannya sambil mengangguk singkat.

Selama perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh Joomin (ke tempat Sajangnim itu berada), Kyuhyun hanya diam membisu dan matanya masih memperhatikan setiap penjuru rumah yang megah ini.

Seringkali alisnya mengernyit heran saat melihat beberapa lukisan dari cat minyak yang seakan menggambarkan paras wajah seseorang.  Kyuhyun merasa bahwa ia sangat mengenal setiap leukan garis wajah yang ada di lukisan itu.  Rasanya Kyuhyun amat mengenalnya.  Tapi

“Silakan masuk”, tiba-tiba ucapan Joomin itu langsung membuat Kyuhyun sadar dari semua lamunannya.  Kini di hadapannya sudah terbuka sebuah pintu yang terbuka lebar, “Sajangnim sudah menunggu anda di dalam.”

Kyuhyun hanya mengangguk singkat dan melangkah dengan ragu.  Begitu dia masuk ke dalam ruangan itu, matanya langsung disambut dengan sebuah meja panjang dan berbagai makanan lezat sudah terhidang di atasnya.  “Ige mwo…”

“Selamat datang, anakku”, suara bernada berat itu langsung membuat Kyuhyun tersentak kaget dan mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.  Dia mengelilingkan matanya dan menemukan sesosok pria yang bertubuh agak tambun itu muncul dari satu penjuru ruangan sambil merentangkan tangannya lebar-lebar, seakan menyambut kedatangannya.

Sementara itu, Kyuhyun masih mengernyit heran saat melihat sosok pria itu.  “Aaa~ anda…siapa?”, tanyanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaannya.  Pria itu tersenyum kecil dan segera merangkul pundak Kyuhyun dengan penuh keakraban, “Tak kusangka anakku bisa memikat hati seorang pria tampan sepertimu”, ucapnya bangga.

“Anak?”, gumam Kyuhyun pelan.  Sekilas dia memperhatikan setiap detail wajah pria ini.  Sunnguh, rasanya Kyuhyun sangat familiar dengan garis wajahnya, bentuk matanya, hidung mancungnya benar-benar refleksi cerminan dari diri…“NARA?!”

Pria itu tersenyum penuh wibawa, “Syukurlah jika kau sudah bisa mengenaliku tanpa aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu”, ucapnya dengan tegas dan langsung membuat Kyuhyun gugup setengah mati.  Dia bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir deras dari dahinya dan tangannya langsung bergetar hebat.

“Jangan gugup seperti itu.  Kau harus membiasakan diri denganku, Kyuhyun-ah”, ucap Kwan Hyonsaeng sambil merangkul bahu Kyuhyun dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang langsung menghadap ke meja makan.  “Lebih baik kita berbincang sambil makan malam.  Perjalanan dari Seoul ke Tokyo itu cukup melelahkan ‘kan?  Biarpun kau naik dengan jet pribadiku, tapi tetap saja…”

“JET PRIBADI?”, seru Kyuhyun tak percaya.  Dia tak menyangka bahwa keluarga kekasihnya ini memiliki jet pribadi.  Bahkan Kyuhyun menjadi bingung, apakah dia sedang berada di rumah keluarga Kwan atau malah rumah keluarga Choi?

Hyonsaeng mengangguk singkat, namun dia masih terlihat heran, “Apakah Nara tak bilang tentang hal ini?  Maksudku, mengenai keadaan sosial maupun ekonomi keluarga kami?”.

Kyuhyun menggeleng kencang, “Dia hanya bilang bahwa anda adalah wiraswasta yang sedang membuka cabang bisnis baru di Jepang”, jelasnya.  Hyonsaeng menggeleng sambil mendecak pelan, “Anak itu…masih belum saja berubah.  Dia masih takut untuk menujukkan status sosialnya sebagai pewaris tunggal perusahaan miliki keluarga kami”

“PEWARIS TUNGGAL?”, serunya lagi, kali ini lebih dengan ekspresi tak percaya dibandingkan sebelumnya.

Gadis yang bahkan tak bisa mengerjakan soal deret matematika itu akan menjadi pewaris tunggal dari sebuah perusahaan yang memiliki benefit yang menggiurkan?!

YANG BENAR SAJA?

*****

“Kita sampai”, Ahra memarkirkan mobilnya di dalam garasi dan mematikan mesin mobilnya.  Nara melepaskan sabuk pengamannya dan menatap Ahra dengan pandangan heran, “Onnie, bisakah kau beritahu dimana…”

“Sejak kapan aku memberikanmu izin untuk memanggilku dengan sebutan Onnie?”, ucapan singkat yang keluar dari bibir Ahra itu langsung membuat Nara menjadi sangat tidak percaya diri dan merasa dikucilkan.  “Panggil aku Ahra saja.”

Nara mengangguk pelan, “Ahra-ssi, bisa kau jelaskan dimana dan mengapa kita…”

Ahra langsung menyela ucapan Nara lagi, “Kita ada di rumah keluargaku dan kau akan bertemu dengan Ibuku.  Suatu hal yang mudah ‘kan?”, tanya Ahra sambil menutup pintu mobilnya dan berjalan mendahului Nara yang masih diam mematung.

Ibu?

Ya! Cepat masuk!”, Ahra melongokkan kepalanya dari balik pintu dan memberi instruksi bagi Nara untuk segera masuk ke dalam rumah.  Nara mengangguk singkat, “Ne, Onn…maksudku, arasseo, Ahra-ssi”, ucap Nara saat mengingat kembali ucapan Ahra barusan.  Dalam hati, Nara mengutuk pelan.  Jinjja, selama mengenal Cho Kyuhyun…dia selalu mengatakan bahwa noonanya, Cho Ahra adalah gadis yang ramah dan pengertian.  Tapi kenapa kenyataannya seperti ini?!!

Baru saja Nara menginjakkan langkah pertamanya di dalam rumah itu, ia langsung merasa bahwa aura yang ada di sana seakan menusuk seluruh tubuhnya.  Rasanya dia benar-benar gugup hingga tak tahu harus berbuat apa.  Sementara itu, Ahra terlihat tak peduli dan masih berjalan dengan langkah ringan menuju kearah dapur.  Ternyata di dapur, telah ada seorang wanita separuh baya yang menunggu sambil mengenakan celemek berwarna merah dan menatap kearah Nara dengan pandangan yang tajam, “Kau…Kwan Nara?”

Ne~”, Nara menelan ludahnya dengan berat dan mengangguk dengan takut-takut.

Wanita itu memandang ke arahnya dengan seksama dan meneliti setiap bagian tubuh Nara, “Kau tak secantik gadis yang lainnya”, ucapnya dengan nada datar dan membuat rasa percaya diri yang ada di diri Nara kini langsung terbang ke angkasa yang luas.  “Ne, saya memang…tidak cantik”, sahutnya pelan.

Namun wanita itu langsung melemparkan sebuah celemek berwarna biru itu kearah Nara yang masih terlihat lesu, “Karena kau tidak secantik mereka, maka tunjukkanlah hal yang membuatmu terlihat lebih istimewa.  Tunjukkanlah bahwa kau memang cocok untuk menjadi pasangan dari putra kesayanganku!!”

“Hee?”, Nara masih menganga heran sambil memegang celemek yang ada ditangannya, “Maksud anda…”

Tugas utama seorang istri adalah memasak.  Jadi, segeralah memasak makanan yang khusus kau buat untuk suamimu nanti!”

“EEHH?!”

******

“Jadi…”, Hyonsaeng mulai membuka pembicaraan.  “Sejak kapan kau berpacaran dengan anak kesayanganku, Kyuhyun-ah?.”

Kyuhyun menggumam pelan, “Rasanya…lebih dari 2 tahun”, jawabnya dengan ragu.  Hyonsaeng mengangguk paham, “Cukup lama kurasa”, sahutnya dan dibalas dengan anggukan Kyuhyun, “Sangat lama, menurut saya.”

“Lalu…kenapa kau tak berpikir untuk berkenalan denganku, Kyuhyun-ah?”, pertanyaan Hyonsaeng ini langsung membuat Kyuhyun terdesak kecil dan terlihat linglung untuk mencari jawaban.  “Saya…hanya takut, Kwan sajang…”

“Panggil aku Aboji.  Tak perlu menggunakan panggilan formal seperti itu”, sela Hyonsaeng sambil mengibaskan tangannya dan tersenyum kecil.  Kyuhyun mengangguk paham, merasa sedikit lega karena setidaknya suasana dalam pembicaraan ini tidak sekaku tadi.

“Saya hanya takut…tak bisa menjalankan segalanya sebaik anda, Aboji

“Nara selalu bilang bahwa sosok yang paling dicarinya adalah sosok seperti Ayahnya.  Dan saya belum yakin bahwa itu adalah saya, Aboji

“Saya merasa bahwa saya belum bisa menjaga Nara selayaknya yang telah anda lakukan.  Dan karena hal itu, saya merasa belum pantas untuk bertemu dengan anda”, jelas Kyuhyun dengan suara lirih.  Matanya menatap lurus ke arah Hyonsaeng, namun ia benar-benar merasa segan untuk menatap mata yang penuh wibawa itu.

Hyonsaeng mengangguk beberapa kali, “Belum pantas, ya?”, gumamnya lirih, “Itu alasan klasik yang selalu mereka katakan”.

Kyuhyun sedikit mengernyit heran saat mendengar ucapannya, “Apa maksud Abo..”, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Hyonsaeng langsung mengangkat gelas winenya kea rah Kyuhyun.  Seakan mengajaknya untuk bersulang.  “Untuk kebahagiaan kalian berdua”, ucapnya singkat dan tersenyum penuh wibawa.

Demi menjaga kesopanan, Kyuhyun ikut mengangkat gelasnya dan bersulang kecil.  “Untuk kebahagiaan kami berdua”, ulangnya dan segera meminum wine di dalam gelas itu.  Hyonsaeng juga ikut meneguk isi di gelas itu dan menatap lurus kearah Kyuhyun yang mendecak kagum dengan rasa dari wine yang telah diminumnya, “Woa~ rasanya sangat nikmat, Aboji”.

Namun detik berikutnya, Kyuhyun merasa tubuhnya menjadi gerah dan kepalanya menjadi benar-benar pusing.  Rasanya ada hal yang tidak beres karena Kyuhyun merasa semua gairahnya menjadi naik dan membuatnya serasa terbang ke awang-awang.  Sosok Hyonsaeng di hadapannya kini telah berubah menjadi bayangan samar yang

“Argh”, Kyuhyun mengerang kesakitan sambil menjambak rambutnya, masih mencoba mendapatkan kesadarannya kembali.  Tapi percuma.  Semua syaraf otaknya seakan menolak untuk bekerja kembali dan hanya membiarkan dirinya terjebak dalam rasa pusing yang tak terkira.

Kyuhyun tak bisa menahannya lebih lama lagi, hingga akhirnya dia terkulai lemas di atas meja makan dan nafasnya terlihat tersengal-sengal.

Hyonsaeng menatap semua kejadian tadi dengan seringai tipis dan kekehan kecil.  “Joomin!”, serunya cepat dan tak lama kemudian, Joomin sudah tiba di samping Tuan besarnya itu dengan penuh hormat.  “Ya, sajangnim?”

Hyonsaeng menunjuk kearah Kyuhyun yang tengah terkulai lemas dan mengerang pelan, “Bawa dia ke kamar.  Dan lakukan semua rencana yang sudah kususun”, ucapnya dan segera beranjak meninggalkan Joomin yang mengangguk patuh.

Bukan tanpa alasan jika Hyonsaeng melakukan semua hal ini, tapi dia ingin memastikan bahwa Kyuhyun adalah pria yang tepat bagi putrinya.  Itu saja.

*****

“Memasak?”, tanya Nara tak percaya.  Ibu Kyuhyun mengangguk cepat, “Jadi cepatlah memasak untuk makan malam dan…”, ucapannya terdengar menggantung, namun Nara sudah mendapatkan firasat yang tidak enak mengenai kelanjutan kalimat itu.  “Masih ada pekerjaan rumah yang menumpuk untuk dikerjakan”, lanjutnya dan mengerling ke salah satu arah.  Nara mengikuti arah pandangannya dan melihat Ahra sedang membawa setumpuk baju kotor di dalam keranjang.

“Hah?”, Nara masih menganga lebar saat melihat tumpukan cucian itu.  Ahra tertawa kecil saat melihat ekspresinya.  Ibu Kyuhyun langsung memberikan sebuah buku resep memasak miliknya ke tangan Nara, “Ini, kuberikan padamu.  Mungkin saja bisa dijadikan referensi untuk memilih menu makanan”, ucapnya singkat.

Nara menerima buku itu denga tidak rela, “Tapi, Ommonim…tidakkah ini terlalu…”, ucapan Nara terhenti saat dia melihat wanita itu melepaskan celemeknya dan menerima tawaran jaket yang diberikan oleh Ahra, “Kalian…mau kemana?”

“Kami tak ingin mengganggu konsentrasimu dalam mengerjakan semua tugas ini”,  jawab Ahra singkat dan segera mengambil kunci mobilnya.  “Kami pergi sebentar.  Dan kau…”

“Selamat bekerja”, ucap kedua orang wanita itu dengan kompak dan melambaikan tangannya dengan riang hingga akhirnya sosok mereka berdua menghilang di balik pintu rumah.  Tak lama setelahnya, deru mesin mobil sudah terdengar menjauh dan tiba-tiba semuanya terasa sunyi.

Nara masih diam di tempat dan menatap buku resep makanan di tangannya dengan pandangan nanar, “Ya Tuhan~”, desahnya sedih, “Atas dasar pertimbangan apa yang membuatmu menciptakan keluarga Iblis seperti ini?!”

*****

Kyuhyun mengerang pelan dan mengusap matanya dengan perlahan.  Kemudian dia mencoba mengerjapkan matanya beberapa kali, namun dia langsung merasa silau saat cahaya yang terang benderang itu langsung menyambut matanya.  “Aish~”, gerutunya kesal saat kepalanya terasa pusing lagi.

Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dan kembali menemukan bahwa dirinya tengah berada di kamar mewah yang ia tempati pertama kali saat ia datang kesini.  “Kenapa bisa ada disini lagi?”, tanyanya heran.  Seingatnya tadi, dia masih duduk bersama dengan Hyonsaeng, lalu kenapa dia bisa ada disini?.  Siapa yang membawanya kemari?

“Selamat malam, Tuan Muda tampan”, suara lembut dan bernada seduktif itu langsung menggema di telinga Kyuhyun.  Dia mengalihkan pandangannya ke satu arah dan menemukan sosok seorang wanita (yang bisa dibilang sebagai jelmaan malaikat) kini tengah keluar dari kamar mandi kemudian melangkah mendekatinya.

Tak bisa dipungkiri, Kyuhyun meneguk liurnya dengan berat saat melihat tubuhnya.  Gadis itu hanya memakai selembar kain tipis berwarna transparant yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas, dan hal itu membuat Kyuhyun bisa gila.

“Kau…lebih tampan dari yang terlihat di TV”, ucap gadis itu singkat dan duduk di samping Kyuhyun yang masih bingung dengan hal yang harus dilakukannya.  Rasanya kepalanya makin menjadi pusing dan rasa pusing itu malah membuat naluri pria yang dimilikinya makin berperan besar dalam mengedalikan seluruh syaraf otaknya.

“Tolong…menjauh”, ucap Kyuhyun pelan.  Tangannya masih memijat keningnya sendiri, mencoba kembali menemukan kesadarannya.  “Aku…sudah punya kekasih”

Gadis itu menggumam pelan, terlihat tertarik dengan kata-katanya barusan.  “Jinjjayo?  Aku juga sudah memiliki kekasih.  Tapi tak ada salahnya jika kita melakukannya, bukan?  Hanya untuk sekali ini saja dan selanjutnya…kau akan kembali pada kekasihmu kemudian berpura-pura seakan tak pernah terjadi apa-apa”, gadis itu makin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Kyuhyun dan berbisik tepat ditelinganya, “Kau pasti menginginkannya

*****

Hyonsaeng menatap semua kejadian itu dari kamera yang dipasang di kamar tempat Kyuhyun berada sekarang.  Dia memperhatikan semuanya dengan tatapan datar, namun tak bisa dipungkiri bahwa dia masih berharap bahwa pria itu bisa melewati semua hal itu.

Hyonsaeng masih berharap bahwa pria itu adalah seseorang yang benar-benar tepat untuk putri semata wayangnya.

Joomin mengetuk pintu ruang kerja milik Hyonsaeng hingga membuatnya mengalihkan perhatiannya sejenak, “Ya?”

Sajangnim, ini data diri milik Cho Kyuhyun”, ucapnya dan menyerahkan sebuah map yang mengkilat kearah Hyonsaeng.  Ia membuka map itu tanpa minat dan membolak-balik setiap data tentang pria itu, “1988?  Berbeda 5 tahun dengan Nara”, gumamnya pelan dan menggeleng heran.  “Tak kusangka, pedofil.”

“Dia anggota termuda di Super Junior, sajangnim”, Joomin memberikan sedikit tambahan informasi.  Hyonsaeng hanya mengangguk seadanya.  Dia masih memperhatikan isi dari lembaran kertas itu ketika Joomin terlihat tertarik dengan kejadian yang terjadi di TV yang tersambung dengan kamera CCTV di kamar yang ditempati oleh Kyuhyun, “Sajangnim…”

Hyonsaeng mengalihkan pandangannya kearah TV dan sinar matanya sedikit meredup.  Detik selanjutnya, dia segera melempar map itu ke lantai dan mendengus kesal.  “Ternyata kau belum pantas untuk mendapatkan putriku.”

*****

Nara membolak-balik halaman dari buku resep itu dan merasa bingung harus memilih yang mana.  Lagipula memasak untuk makan malam? (.___.)  Ya Tuhan, bahkan untuk dirinya sendiri pun Nara hanya memasak ramyun sebagai hidangan makan malam.  Lalu sekarang, makan malam apa yang harus dia hidangkan?

Dia membuka halaman selanjutnya dan menemukan gambar sebuah kue tart coklat yang terlihat sangat lucu dan indah.  Nara langsung tertarik saat melihat gambar itu dan segera membaca bahan-bahan yang dibutuhkan.  “Aaa~ semuanya tersedia!”, ucapnya senang.

Setelah mencari menu lainnya, akhirnya Nara memutuskan untuk membuat ddokbogi dan sup kepiting sebagai menu makan malam.  Dia mengambil semua bahan makanan yang diperlukan dan menjejerkannya diatas meja yang berada disamping kompor, namun pikiran Nara lebih fokus pada kue cake yang terus-terusan mengisi pikirannya.

“AWAWAW~!”, karena kurang berkonsentrasi, jari Nara terkena serpihan dari kulit kepiting yang menancap di tangannya. “Aigoo~!!  Kwan Nara, fokus!”, serunya sambil menepuk pipinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Ddokbogi dan sup kepiting sudah mulai dia olah di atas panci, tapi tak sengaja mata Nara tertuju ke tumpukan cucian yang menumpuk di hadapannya.  Dia mendesah pelan dan melangkah dengan langkah gontai, “Sejak kapan ada ratu Iblis yang beralih profesi menjadi Cinderella, ‘hah?”, gumamnya sebal.

Dia memasukkan semua cuciannya ke dalam mesin cuci dan memutarkan tombol untuk mengoprasikan alat itu.  Lalu Nara kembali ke dapur dan langsung tersenyum lebar saat melihat buku resep itu, “Chocolate Cake”, ucapnya saat membaca nama cake itu.

Tanpa menunggu lama, Nara segera mengeluarkan Loyang, mesin pengocok telur dan peralatan lainnya.  Tapi baru saja saat ia mulai memisahkan putih telur, Nara kembali mimisan.  Kali ini lebih parah dari sebelumnya.  “Aish~”, gerutunya sambil mengambil tissue dan menyumpalkannya ke hidungnya sendiri.

Kepalanya menjadi pusing lagi, namun dia tetap bersikeras untuk melanjutkan membuat cake.  Karena Nara ingin melihat senyum pria itu saat melihat hasil cake buatannya sendiri.  Apakah dia akan bahagia?  Apa dia akan tersenyum lebar?  Apakah dia akan…

“Aiyaa~ buat dulu cakenya dan baru kau bisa berkhayal mengenai hal itu, Kwan Nara”, kata Nara, seakan memberi sugesti kepada dirinya sendiri.  “Oke, yang pertama harus disiapkan…tepung terigu, lalu…”

*****

Ahra mematikan mesin mobilnya dan segera berbisik pada Ibunya, “Umma, aku rasa dia gadis yang baik.”  Ibunya mengangguk singkat, “Umma rasa seperti itu.  Lagipula dia tidak menyeramkan seperti yang kau bilang, Ahra-ya

Umma, informasi itu kudapat dari Hyukjae.  Jangan salahkan aku”, Ahra merengut sebal.  Ibunya terkekeh pelan, “Gwenchana.  Tapi sekarang apa yang harus kita lakukan?  Masak iya kita mengaku bahwa kita berpura-pura bersikap sinis padanya?”

Ahra menggumam pelan, “Mollayo.  Kurasa lebih baik kita mengaku saja.  Daritadi aku sudah tidak tahan untuk terus-terusan bersikap sinis padanya”.  Ibu Ahra mengangguk lagi,
“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi?  Kebohongan tidak akan pernah bertahan lama ‘kan?”

Setelah memutuskan hal itu, mereka berdua mulai masuk beriringan ke dalam rumah.  Tapi saat mereka baru saja membuka pintu utama, asap tebal dan bau gosong langsung menyapu wajah mereka.  “MWOYA?!”

Nara tergesa-gesa berlari menyambut keduanya dengan wajah penuh tepung terigu, rambut berbau asap gosong dan dengan hidung yang tersumbat oleh tissue.  “Ah, selamat datang”, sambutnya ramah.  Namun Ahra dan Ibunya masih heran, “Kau sedang apa?!”

“Me…masak?”, ucapnya ragu.  Ibu Kyuhyun masih heran, “Masakan apa yang membuat rumah ini menjadi hancur berantak…”

DUARR!

“Woaaa~gawat!! Gawat!!”, Nara langsung berlari kearah dapur dengan diikuti kedua orang yang sama khawatirnya dengan kondisi dapur mereka.  Alangkah terkejutnya saat mereka melihat dapur rumahnya sudah seperti kapal pecah.  Panci yang berserakan dimana-mana, telur yang pecah, ceceran tepung terigu, serpihan kulit kepiting, dan lain sebagainya.  “Supnya lumer!”, Nara berteriak histeris saat mengecek hasil sup kepiting yang dia buat.

Ahra dan Ibunya saling bertukar pandang dengan blank, tak tahu harus mengatakan apa pada gadis di hadapannya ini.  Mungkin mereka sudah sedikit mengerti mengapa para member menyebut dia sebagai Ratu Iblis.  Karena kediaman ratu Iblis yang sesungguhnya adalah di neraka, bukan di dapur (.____.)

TRING!

Tiba-tiba oven yang ada disitu ikut berdentang nyaring dan membuat perhatian mereka bertiga teralihkan pada oven itu.  Nara langsung membuka rak oven dan tersenyum lebar, “BERHASIL!!”, teriaknya kencang dan segera mengeluarkan seloyang kue berwarna hitam kecoklatan itu dari dalam oven.

“Itu…apa?”, tanya Ahra penasaran.

Nara menoleh ke arah kedua orang itu dan menunduk dalam, “Jwosonghaeyo.  Sebenarnya…dari tadi aku hanya fokus pada kue ini.  Bahkan aku lupa jika aku tengah memasak ddokbogi dan sup kepiting.  Jwosonghamnida”, ucapnya sebari membungkuk meminta maaf.  Ahra dan Ibunya langsung tersenyum kecil, “Itu…cake ulang tahun si Captain Cho?”, tanya Ahra lagi.

Nara mengangguk dengan enggan, “Sepertinya aku sudah gila karena memikirkan bahwa dia akan bahagia saat melihat kue ini.  Padahal aku yakin jika para fansnya akan memberi hadiah yang lebih berharga dibanding kue in..AAWW!”, Nara langsung meringis kesakitan saat Ahra menjitak kepalanya dengan cukup kencang.  “Ahra-ssi, kenapa kau menjitakku?!”

“Jangan berpikiran bodoh seperti itu.  Kyuhyun akan bahagia.  Aku berani jamin itu”, ucap Ahra sambil merangkul bahu Nara dengan akrab dan sedikit membuatnya merasa heran dengan sikapnya.  “Dan, jangan memanggilku Ahra-ssi.  Kau adalah calon adik iparku, jadi biasakanlah memanggilku Onnie”.

“Eh?”

Selamat datang di keluarga Cho, Kwan Nara”, ucap Ibu Kyuhyun dengan senyum ramahnya dan mengelus rambut Nara dengan halus.  “Jaga anakku baik-baik.  Aku yakin kau pasti bisa.  Arasseo?”

Ahra langsung melanjutkan, “Buatlah dia menjadi sedikit dewasa, Nara-ya.  Jangan terus-terusan main game.  Suruh dia untuk membuka usaha lain sebagai investasi kalian berdua jika Kyuhyun sudah tidak laku di pasar musik”, jelasnya bijak.  Nara terkekeh pelan, “Onnie, kau seperti menyumpahi supaya dia tak laku menjadi penyanyi.”

“Sudahlah, lebih baik sekarang kita menghias kue ini bersama-sama”, sela Ibu Kyuhyun sambil mengambil cake polo situ dari tangan Nara.  “Ahra-ya, ambil cream vanilla di kulkas.  Dan kau, Nara-ya, kabarilah Kyuhyun bahwa ulangtahunnya hari ini akan dihadiri oleh satu anggota keluarga yang baru”.

Nara tersenyum simpul dan mengangguk singkat.  “Ne, algessemnida”, jawabnya riang.  Nara segera membuka flip handphonenya dan meengetik SMS untuk pria itu.

To : MASTER OF EVIL

Kutunggu di Myongsan Park jam 00.00 malam ini.

MESSAGE SENT!

Ahra melirik kearah Nara yang baru saja selesai mengirimkan SMS, “Ciee~ asyiknya yang sedang dilanda asmara”

Onniee~~”

*****

Kepala Kyuhyun langsung terasa berputar saat gadis itu merengkuh lehernya dan segera mencium bibirnya dengan agresif.  Kyuhyun mencoba untuk berpikir jernih, tapi semua syarafnya menolak untuk melakukan semua itu.  “Hanya untuk malam ini”, ucap gadis itu dan makin membuat Kyuhyun merasa goyah.

Hanya untuk malam ini, dan ia akan kembali ke samping Nara.

Tak akan ada yang dirugikan.

Entah setan apa yang menyihir Kyuhyun saat tangannya meraih pinggang gadis itu dan makin mendekatkan jarak diantara mereka berdua dan mulai membalas ciuman gadis dihadapannya ini.  “Hanya untuk malam ini…”

‘Aku selalu percaya padamu, jadi kau harus percaya padaku’

Kyuhyun merasa suara itu berbisik pelan ditelinganya, namun semua itu masih belum cukup untuk membuat segalanya kembali normal.  Tangan Kyuhyun masih memeluk tubuh gadis itu dan makin mengeratkan jarak diantara mereka berdua.

Pernah berfikir untuk menikahiku?’

‘Masih banyak gadis yang lebih cantik darimu yang mengantri untuk kunikahi.  Bahkan mereka berbaris rapi hanya untuk sekedar bersalaman denganku, Kwan Nara sayang’

‘Sudah kuduga.  Kau sama sekali tak berpikiran panjang, Cho Kyuhyun yang tampan’

‘Memang.  Aku hanya berpikir bahwa esok hari aku akan tetap menjaga dan menyayangimu.  Dan keesokan harinya, aku akan tetap memikirkan hal yang sama.  Keesokan harinya pun begitu.  Akan terus begitu hingga saatnya kau bisa melakukan hal yang sama untukku’

‘Sejak kapan kau belajar menggombal seperti itu?’

‘Tapi aku yakin, kau pasti terharu saat mendengar kata-kataku barusan.  Dan kau akan berpikir, “Ahh~ Cho Kyuhyun itu pria yang sangat romantis”.  Benar ‘kan, Kwan Nara sayang?’

‘Cish~ teruslah bermimpi, Cho Kyuhyun yang tampan’

“HENTIKAN!”, Kyuhyun segera mendorong tubuh gadis itu untuk segera menjauh darinya.  Dia langsung menjambak rambutnya dan mengerang hebat, “BABOYA!  CHO KYUHYUN, KAU SANGAT BODOH!”

Gadis itu seperti tak menyerah untuk terus mendekati Kyuhyun, “Bukankah sudah kubilang?  Hanya untuk malam in…”

Kyuhyun bangkit tempat tidur dan kembali mengancingkan kemejanya, “Jebal, hentikan semua ini.  Aku hanya ingin kembali ke kehidupanku yang semula.  Kau…silakan cari pria lain”, ucapnya dengan nada dingin dan melangkah melewati gadis itu tanpa mempedulikan kondisinya sedikitpun.

Kyuhyun membuka pintu kamar itu dengan penuh perasaan gelisah.  Dan tepat saat dia membuka pintu kamar, sosok Joomin sudah menunggu di sana dengan membawa sepasang handuk.  “Sudah selesai?  Cepat sekali”, ucapnya dengan sedikit nada menggoda.  Kyuhyun langsung menghampirinya dan mengguncangkan bahunya dengan tidak sabar, “Dimana Aboji, Jomin-ssi?!  Beritahu dimana ruangannya!”

“Jangan panggil aku Aboji.  Anakku tak pantas mendapatkan pria tak tahu diri sepertimu”, suara berat itu langsung terdengar dari selusur tangga menuju lantai 2.  Kyuhyun menoleh dan melihat Hyonseung sedang berdiri tegas dan menatapnya dengan sinis, “Anakku berhak mendapatkan yang lebih baik darimu”

Kyuhyun meneguk ludahnya dengan berat dan melangkah dengan langkah yang diseret kearah Hyonseung, hingga akhirnya jarak diantaranya hanya terpisahkan oleh sedikit jarak yang tak berarti.  Kyuhyun tak tahu harus mengatakan apalagi, karena dia tahu bahwa dia ada di pihak yang salah.

Tak ada satupun Ayah di dunia ini yang ingin melihat putrinya bersama dengan seorang pria yang telah melakukan kesalahan seperti dirinya.  Kyuhyun paham akan hal itu.  Amat sangat paham.

Ia merasa lututnya benar-benar lemas dan seakan tak kuat untuk menopang seluruh berat tubuhnya.  Hingga akhirnya Kyuhyun berlutut di hadapan Hyonseung dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, masih belum berani menatap mata yang dipancari aura ketegasan itu.  “Aku…sangat mencintainya.  Dan aku yakin bisa menjaganya”, ucap Kyuhyun dengan suara lirih.  “Hanya dia yang bisa mengerti semua tentangku dan aku yakin bahwa aku bisa mengerti semua tentangnya”

Air muka Hyonseung masih belum berubah, “Kau bisa menjaganya lebih baik dariku?”

Kyuhyun diam sejenak, namun akhirnya dia menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk yakin.  “Ya, saya yakin bahwa saya bisa menjaganya lebih baik dari anda, Abo…maksudku, Kwan Sajangnim

Hyonseung mendesah pelan dan segera berbalik meninggalkan Kyuhyun dan kembali naik ke lantai 2, beranjak menuju ruang kerjanya.  Dia melirik sekilas kearah Kyuhyun yang masih diam berlutut di tempatnya semula, “Untuk apa kau masih diam disitu?!  Cepat pergi dan buktikan ucapanmu itu!”

Kyuhyun mendongak menatap Hyonseung yang seakan memberi instruksi untuk menyuruhnya pergi, “Pergilah dan jangan coba untuk menemuiku sebelum ada cincin yang melingkar di jari manis tangan kanan Nara”, ucapnya singkat dan menutup pintu ruang kerjanya dengan cepat.

Kyuhyun tersenyum lebar dan segera bangkit dari tempatnya semula, “Ne, Aboji!!”

*****

… 2 Februari 2011 …

Myongsan Park, 11.30 PM

Nara berdiri di sebuah tenda yang ada di kawasan Taman Myongsan.  Tangannya tengah membawa sebuah kotak berukuran sedang yang didalamnya terdapat kue buatannya sendiri.  Bibirnya tak pernah berhenti mengulaskan senyum lebar.  Dadanya terasa berdebar lebih cepat dari biasanya.

Dia melirik ke jam tangannya, masih 30 menit lagi.

*****

Kyuhyun masuk ke dalam pesawat dengan penerbangan untuk kembali ke Korea.  Dia langsung mendesah lega saat punggungnya menyentuh ke sandaran kursi.  Untunglah tak ada satupun penumpang yang menyadari keberadaannya disini sebagai Super Junior Kyuhyun, karena Kyuhyun masih menggunakan semua peralatan menyamarnya.

Iseng-iseng, Kyuhyun memeriksa handphonenya.  “Aish, baterainya habis”, rutuknya agak sebal dan kembali menaruh handphone itu dikantungnya.  Kyuhyun tak terlalu memusingkan masalah handphonenya, toh dia yakin bahwa tak aka nada yang khawatir mencarinya.  Apalagi umurnya akan bertambah 1 tahun lagi dalam beberapa menit ini.

Matanya menatap ke jam digital yang terpampang di koridor pesawat.  “3, 2, 1…”

Happy Birthday to you, Cho Kyuhyun”

*****

Nara melirik ke jam tangannya.  Hanya tinggal menunggu detik sebelum menuju jam 00.00 di tanggal 3 Februari, namun sosok Kyuhyun tak tampak sedikitpun di area taman ini.  Nara merasa kakinya sudah agak pegal dan tubuhnya menggigil kedinginan karena udara yang lumayan menusuk tulangnya.

Nara mendesah pelan saat jarum panjang itu berhenti tepat di angka 12.  “Kau…tak datang”

*****

… Seoul, 3 Februari 2010, 02.00 AM …

“Aku pulang!!”, Kyuhyun langsung membuka pintu dormnya dengan riang gembira.  “Mana hadiah untuk maknae yang lucu ini?”, tanyanya dengan penuh harap.  Tapi jangankan hadiah, bahkan tak ada satupun member yang menyambut kedatangannya ini.  “Hyungdeul?  Sungmin hyung?  Ryeowookie?  Yesung Hyung?  Eunhyuk hyung?”

Sama sekali tak ada yang menjawab panggilannya itu.

“Cish~ perayaan ulang tahun macam apa ini?”, katanya kesal dan memutuskan untuk langsung tidur di kamarnya.  “Sudahlah, lagipula umurku sudah 23 tahun.  Untuk apa mengharapkan ucapan selamat ulang tahun?”

Kyuhyun mengangguk yakin dengan asumsinya barusan dan segera merebahkan diri di kasurnya yang empuk.  “Aaa~ aku sudah 23 tahu…”

“KYUHYUN-AH!!”, suara nyaring milik Ryeowook itu langsung menggema kencang saat Kyuhyun baru berencana untuk memejamkan matanya.  Kyuhyun bangkit dengan malas, “Wae?”

“Darimana saja kau?!”, tanya Yesung khawatir.  Kyuhyun menggaruk kepalanya sejenak, “Hanya…jalan-jalan”, jawabnya singkat.  Namun Sungmin dan Eunhyuk langsung menarik tangan Kyuhyun untuk keluar dari dorm dan menuju mobil milik mereka.  “Hyung, kalian mau membawaku kemana?!”

*****

“3 JAM?”, Kyuhyun membelalak tak percaya saat mendengar cerita dari mulut Ahra.  Ternyata para member sudah berusaha mencari keberadaan Kyuhyun selama beberapa jam kebelakang tapi sama sekali tak menemukan titik terang.  Dan masalah baru bertambah lagi, mengenai Nara.

“Dia menunggu di taman selama 3 JAM? Di tengah hujan deras seperti ini?!”, tanya Kyuhyun sambil menunjuk ke luar jendela mobil.  Memang hujan turun sangat deras.

Ahra mengangguk cepat, “Daritadi sudah kuajak dia pulang ke rumah, karena Umma sangat khawatir padanya.  Tapi dia bersikeras ingin menunggumu disana.  Memang kau tak menerima SMS darinya, ‘hah?!”, Ahra mulai emosi dan menjitak kepala dongsaengnya itu.

“Baterai handphoneku habis”, ucapnya memberikan pembelaan diri.  Ahra mencibir pelan, “Alasan klasik.  Bilang saja kau sedang berdua-duaan bersama gadis lain ‘kan?”, ucapan Ahra itu langsung membuat wajah Kyuhyun memerah.  “Aniya!  Noona jangan sok tahu”

“Kau tahu bahwa kau tak pernah bisa berbohong dari noona, Captain Cho”,katanya dan menghentikan mobilnya tepat di Myongsan Park.  “Turunlah dan segera temui dia!  Dia sudah menunggumu sangat lama”.

Kyuhyun langsung turun dari mobil dan memakai tudung jaketnya sebagai pelindung dari hujan deras itu.  Dia melangkah lebar dan menengok ke sekeliling untuk mencari keberadaan Nara, tapi Kyuhyun masih belum menemukannya.

“HIYAAAA!!!”, teriakan itu terdengar kencang dari satu arah dan membuat Kyuhyun segera menengok, namun tepat saat dia menoleh…pada saat itu pula wajahnya terkena sambitan sepatu terbang dari orang yang tak dikenal. (.____.)

“CHO KYUHYUN SIALAN!  CHO KYUHYUN JELEK!  CHO KYUHYUN MENYEBALKAN!  CHO KYUHYUN TIDAK TAHU ETIKA!  PRIA MANA YANG MEMBIARKAN SEORANG WANITA MENUNGGU SELAMA 3 JAM DI TENGAH HUJAN, HAH?”, teriakan nyaring itu membuat Kyuhyun sedikit tersenyum kecil sambil mengusap pipinya yang tadi terkena sambitan.

Jujur, dia sangat senang bisa mendengar suara ejekan itu lagi.  Dia senang bisa mendengar ucapan kasar itu lagi.  Bagi Kyuhyun, 2 hal itu terasa lebih berarti jika dibandingkan dengan kehadiran seorang gadis seksi seperti sebelumnya.

Tak lama berikutnya, sesosok tubuh telah muncul dari satu arah dan membawakan kotak kue.  Dia terlihat santai berjalan di tengah hujan yang deras, padahal dia tak memakai pelindung apapun.  Hanya memakai sebuah jaket, itupun tanpa tudung yang menutupi kepalanya.

“Cepat buat keinginan!  Cepat!! Aku kehujanan!!”, teriaknya kesal sambil berusaha menutupi cake itu dengan menghalanginya menggunakan tangannya sebisanya.  Kyuhyun terkekeh pelan dan melepaskan jaketnya kemudian segera menaruhnya diatas kepala mereka berdua sehingga kini mereka berdiri berdekatan dan kue itu terlindungi dari siraman air.

“Jangan mencoba untuk melakukan hal yang romantis!  Kau tak pernah ditakdirkan untuk menjadi sweet boy seperti member lainnya”, ejek Nara karena Kyuhyun masih belum juga membuat make a wish.  Namun Kyuhyun menangkap satu kekurangan dari cake yang dibawa oleh Nara, “Lilinnya…mana?”

“BAWEL!  KAU INI DATANG TERLAMBAT, MASIH SAJA MENUNTUT YANG MACAM-MACAM!”,  Nara membentak kesal.  “Cepat buat keinginanmu!!”

Kyuhyun mendesah kecewa dan kemudian menutup matanya juga mengatupkan kedua tangannya.  Butuh waktu beberapa saat hingga akhirnya dia membuka matanya kembali dan mencium kening Nara secara tiba-tiba, “Anggap saja itu sebagai pengganti untuk prosesi peniupan lilin”, ucap Kyuhyun ringan.

Nara langsung geram dan segera melemparkan kue buatannya itu ke wajah Kyuhyun secara brutal.  “CHO KYUHYUN!  SEJAK KAPAN DAHIKU DISAMAKAN DENGAN LILIN, HAH?!  KAU KETERLALUAN!!”.

“Ya!!  Aku belum merasakan kuenya!  Kenapa malah dilempar?!  Ya!  Ya!! Ya! KWAN NARA, BERHENTI MENJAMBAK RAMBUTKU!”

“Heeek!!  Kau jug..gha berhen..thi men..chek..kik..ku!!”

*****

“Cepat buat 3 permintaan!!”

“ Semoga keesokan hari aku akan tetap bisa mencintainya dan menjaganya dengan baik…”

“Begitupun juga keesokan harinya…”

“Dan terus sampai keesokan hari yang tiada akhir…”

*****

— E.N.D —

25 thoughts on “{KyuNara Scene} Irreplaceable

  1. Ha! aku baru baca fanfic yang ini *belum baca sih baru baca judulnya doang -_______-*
    tapi pasti ceritanya keren -seperti biasa-
    soalnya semua ff eonni yang udah aku baca keren-keren semua!! DAEBAK!!!
    XDDD

    • Wuahh😀 haha~ hebat..baru baca jdulnya udh bisa komen😀 hahaha~😄
      Amin, smoga aja critanya ga mengecewakan yaa🙂

      Makasih udh nyempetin baca😀
      Ayo mampir k ff lainnya.. ^^

  2. Wah..wah.. Untungny kyu gk brlarut dlam kslahannya..(Wktu ad gdis seksi).. Salut ‘ma kyu,,, usha nara utk masak jga, two tumbs up deh… Kyunara..^^

  3. HUAAA!!
    aku sempat kaget pas bca adegan kyu ama cewe didalam kamar.
    Ah aku sempat shock bacanya. Tapi akhirnya tetep bikin aku senyum gaje. hehehe

    onnie ff’a kereen banget.. sedikit saran nih, onnie pliis bikin ff’a jangan agak dewasa ya.. kan nanti para KyuNaration *bner gak tuh nmanx?* yang pda dibawah umur -termasuk aku- jdi gak polos lagi doong.. WAHAHA! *gila mode: ON*

    Onnie bikin terus yaa FF kyunara..😄

    • Wuahhh~ kalo Kyu berani lanjutin adegan itu.. Liat aja pembalasan nara ntar😄 LOL

      Haha, santai aja say ^___^
      Onnie ga bakat nulis adegan vulgar kyak gitu kokk🙂
      Cma ini 1 ff yg nunjukin kebinalan kyu –_–
      Buat slanjutnya sih gak deh😀
      Soalnya kebanyakan kyunaration itu -13 sih ya😀

      Makasih buat sarannya :*

  4. Aku langsung nangis waktu kyuhyun bilang sama ayahnya nara kalo kyuhyun cinta sm nara sambil berlutut gitu, emang best couple! Biarpun evil kekeke. Huwaaaa~ bener bener kreatif! KyuNara gak romantis tapi punya cara sendiri buat ngungkapin rasa sayang mereka =)

  5. Sumpah ini keren bgt ff nya ,,
    keluarga cho nyulik kwan , keluarga kwan nyulik cho..
    complicated bgt >.<
    tpi kok kyu ga di anterin pulang pake pesawat jet pribadi nya lgi si ? kkk
    itu siapa yg bantuin ngeberesin dapur ruma nya kyu ? wkwk

    huah , berasa aku yg ngalamin sendiri , soalnya nara kan nama asli ku🙂
    kyuhyun ku sayang kyuhyun ku cinta❤

    thanKYU author ^^

  6. Pingback: {KyuNara Scene} The Truth (+ WGM #7 PREVIEW) « ♛ Chocolate's Crown ♛

  7. Wah, aku ngerti sekarang sama video yang di kirim Mommy nya Nara ke Nara n Kyuppa…. Hah…. Seenggaknya kan ngga ada hal buruk yang terjadi antara Kyuppa ma cewe pengganggu itu…. Hmff…. Nara onnie, kau harus mempercayai oppa bodohku yang satu itu ya…. *plak!! di tabok pake teplon sama sparekyu*

  8. ohhh jadi gini yahhh asal mula video yang bikin hubungan Kyu ama Nara berantakan yahh……
    ahhhh bapaknya Nara knapa gitu sihhh…….
    Kyu nya juga ngapa ngak sadar….
    Author yang bikin juga kenapa ceritanya dibikin gitu…… aku jadi gila nihh unnie baca FF KyuNara
    Nanti pasti Nara bakalan tau asal mula video itu dan balikan ama Kyu lagi..

    Unnie…… AWAS YAHHH KALO KYUHYUN NGAK JADIAN AMA NARA, AKU SAMPERIN KE KOTA UNNIE DAN CEKIK UNNIE LOHHHHH #readersgila

  9. Baru bca yg itu imm..??? Apa itu.. Hahah..
    Tapi emang gk enak bca.a so semua.a berawal dari sini…
    Sekarang udah ngertiii🙂

    semarah apapun dia 3 jam menunggu membuatnya terus bertahan.. Bertahan…!
    Hmmm saya rasa ide gila tuan kwan lebih menyakitkan dari pada nara yg harus menghancurkan dapur.. *anakmami😀

    teriak.a itu menurut saya suatu hal yg sangat romantis. Bukan kata” yg unik dan mengandung makna dalam melainkan kata” yg sunggu skarkatis dengan emosi mengandung sebuah harapan dan ketulusan…
    NaraKwan..🙂

  10. Omo… So sweet
    aku kaget bgt sm sikap ahra dan eommanya pd saat pertemuan pertama mereka dgn nara. Busett!!! Ketus bgt!
    Ro.. Man.. Tissssssss…
    Keren
    akhirnya… No backstreet again! Wahahahaha…
    Lanjut y

  11. Ya ampun, kyu hampir aj kebablasan. Ckckck. Tp kx kyu udh nyium bibir tu cewek??? Aigooooooooo.. Gmn ya kl nara smpe th? Pst seru deh marahny nara, kyu bkal disiksa abis2an. Wakakakakakakakaka.. Tp syukur deh, ortu dr kedua belah pihak merestui mreka. Yeeeeeee, tnggal nunggu nikahn aj niiiiiihhh..

  12. benar-benar kecewa, sangat~. waktu baca bagian kyu yg mau ngelakuin ‘itu’ sama wanita lain, rasanya benar-benar hancur perasaanku😥 , mengingat kyu ngekhianatin cinta nara, eh~ pas baca bagian akhir kyu gak jadi, gara-gara ingat perkataan nara. kalau tidak ingat ?’ entahlah apa yg terjadi… untung saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s