Diary Of Secret Girlfriend {8th Stories}

 

Annyeong, Park Soora imnida. (^w^)

Maaf membuat kalian menunggu lama, aku harus menyelesaikan rapat dengan klien’ku dulu.

Oke, sebagai gantinya..aku akan menceritakan ceritaku dengan namjachinguku, Lee Donghae.

Kalian sudah tahu kan siapa dia?

Ya ya ya, kalian biasa memanggilnya “fishy”

Tapi aku memanggilnya , “anak laut”.  :)

Wae?  Ahh~kurasa kalian akan tahu alasannya setelah mendengar ceritaku ini.

****

16 Mei 2010, Super Junior Bonamana Comeback Stage, SBS Inkigayo

“Park sajangnim, ada klien yang ingin membicarakan tentang pembagian saham perusahaan”, ucap Gyorin, asistenku.  Dia melangkah cepat untuk menyamakan laju kakiku yang terburu-buru.  “Jam berapa?”, tanyaku sambil mengambil mantelku yang tergantung di coathanger.  Gyorin membuka note’nya, “pukul 1.30 siang”, jawabnya.

Aku mengecek handphone’ku dan mengecek tanggal yang tertera di layar, 16 Mei 2010.  Aku berbalik menghadap Gyorin dan menepuk bahunya pelan, “Undur pertemuan itu, Gyorin.  Aku percaya kau pasti bisa mengaturnya”, ucapku tegas.   Dia menatapku tak percaya, “Hah?  Diundur?”.  Aku mengangguk cepat, “Ya, undur pertemuan itu.  Kapan saja boleh, asal jangan hari ini”, lanjutku.

“Keundae..”, katanya ragu. “Sajangnim, yang akan kau temui itu adalah pemegang saham perusahaan ini.  Aku rasa akan sulit jika…”

Aku langsung mengeluarkan beberapa lembar uang 10.000 won dari dalam dompetku dan memasukkannya ke dalam saku bajunya, “Untukmu.  Bukankah tas brand Prada kesukaanmu itu akan dipasarkan hari ini?”, ucapku singkat.

Dia langsung tersenyum dan mengangguk semangat, “Algessemnida.  Akan kuundur waktu pertemuan’nya sampai kapanpun waktu yang kau mau, Sajangnim”, ucapnya sambil membungkuk singkat dan beranjak pergi keluar ruanganku.   Aku menghela nafas lega, biarpun Gyorin memang agak ‘mata duitan’ tapi setidaknya dia amat bisa diharapkan di keadaan seperti ini. (=.=)

Aku melirik jam yang menggantung di dinding kantorku, 11.10 siang.  Masih ada 2 jam lagi hingga waktu yang dijanjikan untuk melihat performance’nya di SBS Inkigayo.  2 jam cukup untuk menyelesaikan urusanku ini.

Aku menatap sepucuk surat undangan pernikahan itu dengan nanar.  Aissh, benarkah aku harus melakukan hal ini?!  Bagaimana pendapatnya nanti?  Jinjja, aku jadi ragu untuk melakukan hal ini.

Aku mendesah pelan dan akhirnya segera keluar dari ruanganku.  Aku berkata singkat pada Gyorin, “Sampai kapan pertemuan itu diundur?”, tanyaku.  Dia membetulkan posisi kacamatanya, “Pertemuannya diundur hingga lusa, Sajangnim.”

Aku mengangguk paham dan menepuk bahunya, “Johta. Oya, tolong panggil supirku untuk menunggu di lobby.  Aku ada urusan di luar”, ucapku.

Tepat saat pintu lift terbuka, handphone’ku berdering.

Calling..

.: Sweetie Fishy :.

Aissh, kenapa dia selalu menelfon disaat aku sedang terburu-buru?!

“Yoboseyo?”

Rindu padaku?”

Aku menghela nafas jengah, “Kuhitung sampai 3, jika kau tak mengatakan tujuanmu menelfonku, akan segera kututup telefon ini, Oppa.  1, 2..”

Ara, ara.  Kau akan ke SBS kan?”, tanyanya.  Aku menggumam mengiyakan, “Ya, wae?”

Kenapa aku belum melihatmu juga?”.

Aku mendesah sebal, “Bukankah masih 2 jam lagi?”

Oh, keurae.  Tapi rasanya 2 jam itu bagaikan setahun“, jawabnya berlebihan.

TREKK

Aku langsung menutup telefon itu dan memasukkannya ke dalam saku mantel’ku.  Aishh, jinjja, aku benar-benar tak punya waktu untuk menghadapi omong kosong’nya itu! (>A<). Aku masuk ke dalam lift yang di dalamnya sudah ada beberapa orang karyawanku.  Mereka mengangguk sopan padaku, dan aku membalas sambil tersenyum singkat.

..You’re my everything..

Calling..

.: Sweetie Fishy :.

Aishh, apa lagi sekarang?!

“Yoboseyo?”

Mwol salkka salkka salkka salkka norul wihan sonmul.   Oh, michigettda sanggakmanhado johahal ni moseob“, tiba tiba saja dia sudah menyanyikan lirik bagiannya di lagu Miina.

Aissh, baiklah..dia memang tahu kalau aku paling tidak tahan bila sudah mendengar suara nyanyiannya. <(=A=)>  Semarah apapun aku, jika sudah mendengar suaranya..aku pasti akan langsung luluh.

Aku mendesis pelan, “Oppa~aku sedang sibuk!  Nanti akan kutelefon kau lagi”, ucapku cepat dan kembali mematikan handphone’ku.  Beberapa karyawanku yang juga ada di dalam lift, tersenyum penuh arti sedangkan aku hanya terkekeh garing, “Hehe~ tadi itu telefon dari Oppa’ku”.

Mereka mengangguk paham tapi masih tersenyum simpul.  Arggh, pasti mereka kini memikirkan hal yang aneh-aneh tentangku! (>M<). Aissh, Lee Donghae, kau memang tak pernah tahu situasi & kondisi yang tepat!!

Setelah lift sampai di lantai dasar, aku segera berjalan cepat menuju lobby dan mobilku sudah terparkir di depan kantor.  Aku menghampiri supir’ku yang sudah siap di belakang kemudi, “Ah~Jwosonghamnida, Kim Ahjusshi.  Kali ini biar aku yang membawa mobil ini sendiri”, ucapku cepat.

Kim Ahjusshi kelihatan bingung, “Mengapa tiba-tiba, agasshi?”.

Aku tersenyum simpul, “Tidak ada apa-apa.  Gwenchana?”, tanyaku.  Dia mengangguk singkat dan segera keluar dari mobil, “Hati-hati, agasshi”, ucapnya dan aku menggumam mengiyakan.  “Algessemnida.  Kamsahamnida, Ahjusshi”, ucapku sambil memakai sabuk pengaman.

Bukan tanpa maksud jika aku meminta Kim ahjusshi tidak mengantarku.  Aku hanya tak ingin dia tahu tempat tujuanku, aku tak ingin dia tahu tentang asal-usulku.  Yang perlu diketahui oleh orang lain hanyalah seorang Park Soora yang sekarang.  Tak ada orang lain yang perlu mengetahui asal-usulku kehidupanku yang lalu, bahkan seorang Lee Donghae sekalipun.

Tak lama kemudian, mobilku sudah melaju di jalan raya dan berbelok di sebuah jalan yang amat kukenal.  Aku menghela nafas dalam-dalam saat menghentikan mobilku di depan sebuah gedung yang ekslusif ini.

SM Academy.

****

..SM Academy, Juli 2001, (Park Soora, 13 years old)..

“Trainee baru?”, tanyaku antusias.  BoA onnie mengangguk singkat sambil meneguk jus kaleng’nya, sedangkan aku masih melakukan streching sebelum latihan dance class dimulai.

“Ya, Junsu Oppa memberitahuku kemarin.  Katanya dia datang dari Mokpo”, jelasnya santai.  Aku mengangguk paham sambil menekuk kedua lututku, “Apa dia lebih tampan dari Yoochun Oppa?”, ucapku tersipu.

BoA onnie mendesah pelan, “Aishh, tidak mungkin!  Yoochun Oppa kan made in USA, trainee baru ini hanya made in Mokpo, Soora-ah”, ucapnya pesimis.  Aku merenung sejenak dan akhirnya mengiyakan omongannya barusan.

“Semuanya!  Ayo kita mulai latihan~”, tutor dance kami mulai masuk ke dalam kelas.  Aku, BoA onnie dan beberapa trainee lainnya langsung bangkit dan bersiap untuk latihan.  Tapi aku masih merasa penasaran dengan Trainee baru itu. (T^T)

Aku mendekati BoA onnie, “Onnie, bagaimana jika setelah kelas selesai, kita mengintip ke kelas para pria?  Aku benar-benar penasaran dengan trainee baru itu?”, bisikku.  Yaa, di SM Academy ini, kelas pria & wanita berpisah.  Entah karena apa, aku juga tak paham.

BoA onnie menatapku curiga, “Kau ingin melihat trainee baru itu atau hanya ingin mengintip Yoochun Oppa?”, ejeknya dan membuatku menggembungkan pipi sebal. (>M<)

“Soora, BoA!  Jangan mengobrol terus!!”

****

Kini kami sedang mengendap-endap masuk ke dalam kelas dance pria.  BoA onnie menarik tanganku kencang, “Soora-ah, sudahlah!  Jangan nekat seperti ini.  Sebaiknya kita kembali ke kelas saja”, desisnya.

Aku hanya menatapnya ringan, “Onnie, sudah sejauh ini dan terlanjur jika kita mundur sekarang”, ucapku.  BoA onnie hanya mendesah pasrah dan berjalan di belakangku, “Kau yang harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada kita”, ancamnya.

Tak lama kemudian, akhirnya kami sudah berada di depan pintu dance class pria.  Masih terdengar suara musik di dalam kelas, sepertinya mereka masih latihan.  Persis seperti dugaan kami sebelumnya. (^w^).

Kini aku sedang mengintip lewat jendela ke dalam ruang latihan.  Ada belasan pria yang sedang latihan, dan aku kenal beberapa dari mereka, seperti Yunho Oppa, Junsu Oppa, Yoochun Oppa, dan Joongsoo Oppa.  Mataku masih mencari trainee baru itu, tapi aku masih belum menemukannya.

“Onnie?  Yang mana orangnya?”, tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari dalam kelas.  Setelah beberapa saat, masih tidak ada jawaban dan aku menoleh ke sampingku.  Tapi, A.I.G.O.O…BoA onnie sudah tidak ada!!!!  Kemana perginya dia?  Tega sekali dia meninggalkanku sendiri?! (OAo)

Tepat saat aku sedang mencari-cari BoA onnie, musik berhenti dan para trainee langsung bergegas keluar dari dalam kelas.  Aissh, pasti mereka akan pindah ke Vocal Class!!  Ottokhae?!! \(>O<)/  akan gawat jadinya jika aku ketahuan masuk ke kelas pria!!  Jangan sampai aku masuk ke daftar blackbook <– buku catatan kesalahan para trainee.

Aku mencari tempat untuk sembunyi, tapi..arggh, benar-benar tak ada tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyian!!  Lorong ini benar-benar kosong melompong! (>A<).   Aku mulai bisa mendengar suara riuh trainee pria di balik pintu itu.  Aigooo~ayolah, Soora! Berpikir, Berpikir, Berpikir..!!!

“Toilet!!!”, desisku girang saat pandanganku terhenti ke sebuah ruangan kecil bertuliskan WC.  Yayaya, sembunyi saja di sana, Soora.  Cepat~Cepat~Cepat!!

Aku segera bergegas ke dalam toilet dan menutup pintu itu dengan rapat.  Lambat laun, aku bisa mendengar suara riuh itu mulai hilang.  Sepertinya mereka sudah pindah kelas ke Vocal Class.  Ahhh~untunglah.  (^o^)a

Aku membalikkan badan dan tersenyum lega.  Tapi senyumanku langsung hilang saat melihat seorang pria di dekat wastafel yang hanya memakai celana pendek dan memegang kaus’nya di bawah mesin pengering tangan sedangkan celana panjangnya digantung di bilik closet.  (OAo).  Pria setengah bugil di dalam toilet?!!  Ige Mwoyaa?!! <(OAo)/

Aku membelalak lebar dan menganga tak percaya, begitupun juga dengan pria ini.  Hanya butuh beberapa detik sebelum akhirnya aku melakukan hal yang seharusnya kulakukan : BERTERIAK dan MEMBANTING PINTU TOILET untuk SEGERA PERGI DARI SITU!

****

Aku melangkah pelan ke dalam gedung ini.  Segalanya masih sama, tak banyak yang berubah dari gedung ini.  Masih sama seperti 9 tahun yang lalu, saat aku pergi meninggalkan SMent karena suatu hal yang mendesak.

Yaa, orang lain menyangka bahwa aku mundur dari training karena fisikku yang lemah, tapi kenyataannya bukan itu.  Sama sekali bukan karena itu.  Masalahku ini lebih berat dibandingkan dengan sekedar kelemahan fisik.

Aku menghampiri resepsionist dan berkata singkat, “Park Soora, sudah membuat janji untuk bertemu dengan Lee Soo Man”.  Resepsionist itu mengangguk paham dan mengecek layar komputer’nya, “Ah, benar.  Silakan naik ke lantai 5, di situlah ruangan Tuan Lee”, jelasnya.

Aku mengangguk singkat dan beranjak ke arah lift.  Selama menunggu lift datang, aku memperhatikan interior ruangan di sini.  Masih tetap sama, menunjukkan aura tegas dan penuh disiplin bagi tiap trainee’nya. (=A=).  Ahh~untunglah aku sudah lepas dari semua jerat ‘neraka’ ini. :D

TRINGG

Pintu lift terbuka dan tampak beberapa pria keluar dari dalamnya, aku mencoba tak peduli sampai akhirnya ada sebuah suara yang menyadarkanku, “Soora noona?”.

Aku menoleh ke sumber suara, “Minho?”, tanyaku.  Dia mengangguk dan tersenyum lebar, “Noona, ada perlu apa kemari?  Tidak menonton performance Donghae Hyung di Inkigayo?”, tanyanya dengan polos.  Aku membelalak lebar dan segera menutup mulutnya dengan tasku.  “Kau ingin semua orang tahu tentang hal ini?!”, desisku tajam.

Minho menggeleng pelan dan mengangkat tangannya, sepertinya dia minta maaf.  Aku melepaskan tas dari mulutnya, “Minho-ya, omonganmu itu bisa membuat malapetaka”, ucapku pelan.  Minho terkekeh pelan, “Mianhae, noona.  Aku sudah terbiasa membicarakan blablabla Hyung denganmu.  Jadi seringkali aku lupa kalau kalian menyembunyikan hubungan kalian”, ucapnya santai.

Aku menjitak kepalanya pelan, “Aishh, kalian memang sama.  Tak bisa membedakan situasi dan kondisi”, ucapku ringan.  “Ngomong-ngomong, sedang apa kau disini?”, tanyaku lagi.

“Aku habis membicarakan masalah konsep album kedua SHINee.  Member lainnya sedang ada kesibukan, jadi akulah yang mewakilkan”, jelasnya.  Aku mengangguk paham.  “Noona sedang apa disini?”, tanyanya dan agak membuatku gugup.

“Uhmm, ada urusan dengan Lee sajangnim”, ucapku singkat. Untunglah Minho tak menanyakan hal apapun lagi padaku.  “Baiklah, aku pergi duluan, noona.  Titipkan salamku untuk blablabla hyung”,  pamitnya dan kubalas dengan gumaman paham.

Akhirnya aku naik ke dalam lift dan berhenti di lantai 5.  Lorong ini sangat sepi.  Aku berjalan pelan menuju ruangan itu dan mengetuk pintunya.  Suara di dalam menyahut singkat, “Nuguseyo?”.

Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab, “Soora.  Park Soora”.  Hanya dalam hitungan detik, pintu itu langsung terbuka dan memperlihatkan sesosok pria dengan rambut yang mulai memutih.  Sosoknya kini sudah terlihat lebih tua dari saat terakhir aku bertemu dengannya.  Kapan terakhir kali aku melihatnya? 2 tahun yang lalu? Atau malah 3 tahun yang lalu?

Dan tiba-tiba, dia langsung memelukku erat dan aku bisa merasakan bahunya bergetar.  Seorang Lee Soo Man yang dikenal berdarah dingin, kini menangis di depanku?  Ahh~apa artinya aku dimatanya?

Aku hanya membalas pelukannya pelan dan berkata lirih, “Lama tak berjumpa, Appa”.

****

“Pria setengah bugil di dalam toilet?!”, tanya BoA onnie tak percaya.  Aku mengangguk kalut dan meminum jus kaleng miliknya dengan resah.   BoA onnie menggeleng tak percaya, “Ckckck~apa yang dia lakukan di dalam toilet dengan keadaan seperti itu?”, tanyanya penasaran.  Aku mengangkat bahu bingung, “Molla, onnie.  Aigoo~ aku menyesal!!!”, teriakku sambil menundukkan kepalaku dalam-dalam.

“Kau menyesal?”, tanyanya.  Aku mengangguk, “Ahh~aku menyesal!  Kenapa bukan Yoochun Oppa yang sedang setengah bugil di dalam toilet itu?!”, rengekku dan segera dibalas oleh jitakan BoA onnie.

Bel pulang berbunyi, dan aku masih mendesah kecewa.   Aku membuka pintu locker milikku dan mengeluarkan sepatu kets dari dalamnya.  Aku melirik sekilas ke locker di sebelahku, ada sebuah papan nama tertulis di depannya : Lee Donghae.  Uhmm, padahal saat aku datang tadi pagi, locker ini masih kosong, berarti..ini locker milik trainee baru itu ya?

“Soora-ah, palliwa~!”, seru BoA onnie.  Aku menoleh dan mengangguk paham, “Tunggu sebentar,onnie”, jawabku singkat dan mulai memakai sepatuku.

Saat aku menunduk untuk menalikan tali sepatuku, aku melihat sesosok bayangan berdiri tepat di depan locker milik trainee baru itu.  Aku langsung mendongak dengan semangat, “Annyeong, trainee baru?”, tanyaku.

“Ah, ye.  Bangapseumni…”, ucapannya terputus saat melihat wajahku dan aku langsung menganga lebar saat melihat wajahnya.  “KAU?!”

“Kau..yeoja pengintip tadi siang kan?”, ucapnya memastikan.  Aku langsung menutup mulutnya dan menariknya menjauh dari lemari locker.  “Siapa yang kau bilang yeoja pengintip?!”, tanyaku tak terima.  Dia menunjukku dengan polos, “Yeoja itu..kau?”, ucapnya.  Aku mendecak kesal, “Lagipula apa yang kau lakukan di dalam toilet dengan hanya memakai celana pendek saja?!”

“Aku kehujanan saat tiba di sini dan bajuku basah kuyup.  Jadi, aku berpikir untuk mengeringkannya di mesin itu”, jelasnya.  Aku mengernyitkan kening, mengeringkan pakaian di mesin pengering tangan?  Ide gila apa itu?  Aku kira hanya Mr.Bean yang berpikir konyol seperti itu. (=V=)

Aku menghela nafas dengan berat, “Baiklah, Dong..hae-ssi”, ucapku pelan sambil melirik ke papan nama yang tertempel di lockernya.  “Tolong lupakan kejadian itu dan anggap saja bahwa hal itu tak pernah terjadi”, lanjutku tegas.

Dia mengernyitkan keningnya, “Wae?”.  Tapi tak lama kemudian, dia mengangguk paham, “Ahh~kau tak ingin jati dirimu terungkap kan? Bahwa kau sebenarnya adalah yeoja mesum & pengintip di toilet pria?”, tanyanya ringan.  Aku membelalak lebar dan menunjuknya dengan marah, “Kau…”

“Soora-ah? Kau dimana?  Palliwa!!  Kenapa kau lambat sekali?!”, seru BoA onnie dari luar ruang locker.  Aku langsung mengengok sebentar ke arahnya, “Onnie.  Changkamanyo~!”, balasku dan kembali menatap pria ini.  “Aku bukan yeoja mesum”, tegasku dan berbalik meninggalkannya.

“Ahh~tapi bagaimana jika aku melaporkan pada hyungie bahwa ada yeoja yang mengendap-ngendap masuk ke tempat latihan para pria & ternyata dia juga mengintipku yang sedang setengah telanjang?”, ucapnya sambil bersender santai di dinding.  Aku menatapnya lagi, “Kau tak akan berani mengatakan hal itu, Donghae-ssi!”, ancamku.

Dia terkekeh pelan, “Kenapa tidak, Soora-ssi?  Lagipula aku sudah mengenal baik Yoochun hyung & Joongsoo hyung”, balasnya.  Aku menganga, IMPOSSIBLE!!  Kenapa dia harus mengenal Yoochun Oppa?!  (OAo). Kenapa dia harus mengenal pria yang amat kukagumi itu?!  Bagaimana jika dia menceritakan hal memalukan itu pada Yoochun Oppa?!  Ottokhae?! (>A<)

“Ara.  Apa yang kau inginkan?”, tanyaku pasrah.  Dia tersenyum simpul dan mendekatiku yang masih berdiri kaku, “Sederhana.  Jadilah pembantu’ku”, tantangnya.

Pembantu?!  Apa-apaan itu?!

“Shireo!!!  Kenapa aku harus menjadi pembantu’mu?”, sentakku.  Dia masih berdiri santai di hadapanku, “Entahlah.  Aku sering menonton di drama TV, seorang namja yang memegang rahasia yeoja, maka namja itu akan menyuruh yeoja itu untuk menjadi pembantu’nya”, jelasnya dan makin membuatku heran.  “Kau korban drama TV”, dengusku.  Jinjja, itu alasan terkonyol yang pernah kudengar seumur hidupku!!  <(=A=)/

“Bagaimana, Soora-ssi?”, tanyanya lagi.  Aku berpikir keras, aisshh..ottokhae?!  Jika aku menerima tawarannya, mau ditaruh kemana harga diriku?

“Soora-ah!!”, tiba-tiba saja BoA onnie sudah masuk dan kini telah ada di antara kami.  Dia terlihat bingung sejenak saat melihat Donghae, “Nugu?”, tanyanya.  Berbeda dengan sebelumnya, Donghae langsung membungkuk sopan dan tersenyum…manis?  “Annyeonghaseyo.  Aku trainee baru di sini.  Bangapseumnida”, ucapnya ramah.  Ya!! Kenapa dia berlaku ramah ke orang lain sedangkan dia malah mengancamku?!  Jinjja, apa dia ini berkepribadian ganda?!

BoA onnie membungkuk singkat, “Lalu apa yang kalian berdua lakukan disini?”, tanyanya heran.  Aku menatap Donghae beringas dan memberi isyarat, jika-kau-berkata-sesuatu-maka-kau-akan-mati!

“Ahh, aku hanya merundingkan sesuatu dengan yeoja mesu..AAAWWWAAWWA!!”, kata-kata itu terpotong oleh teriakannya saat aku segera menginjak kakinya.  “Apa yang kau lakukan?!!”, teriaknya tak terima.

Aku memandang BoA onnie dengan innocent, “Aku hanya ingin berkenalan dengannya, Onnie”, sergahku.  Donghae menatapku heran, “Berkenalan?  Bukannya kita sedang berunding tentang tawaranku menjadikanmu pembant…AWAAWAAA!!”, teriakannya terdengar lagi seiring dengan kakiku yang menginjak kakinya dengan lebih keras.  “Ya!! Kakiku bukan aspal jalanan!!”, teriaknya.

BoA onnie memandang kami penasaran tapi akhirnya memutar bola matanya, “Aishh, apapun yang kalian lakukan, aku sama sekali tak peduli.  Aku hanya ingin makan karena aku sangat lapar”, ucapnya tak sabar.

Tiba-tiba saja Donghae menyela, “Boleh aku ikut bergabung dengan kalian?  Kalau tidak salah, tadi Soora-ssi bilang bahwa dia akan mentraktirku sebagai salam perkenalan.  Bukan begitu, Soora-ssi?”, tanyanya sambil merangkul bahuku dan tersenyum lebar.

Aku menatapnya heran, “Kapan aku pernah berkata seperti itu?”, tanyaku.  Donghae membulatkan matanya dan berkata tanpa suara, ‘yeoja-mesum-pengintip-toilet-pria’.  Dan ucapannya itu langsung membuatku paham & sadar bahwa kini aku ada di bawah kendali seorang Lee Donghae!!!

****

“Tumben sekali kau mengunjungi kantor Appa”, ucap Lee Soo Man sambil menyediakan segelas teh hangat padaku.  Aku mengucapkan terima kasih dengan singkat dan segera meminum teh itu perlahan.

Kini dia telah duduk di hadapanku dan menatapku dalam, “Kau masih bersama dengan Donghae?”, tanyanya.  Aku menaruh cangkir teh itu, “Ya, aku masih bersama dengannya.  Waekurae, Appa?”, tanyaku pelan.

Dia merebahkan tubuhnya di kursi ekslusif miliknya, “Ahh~padahal setahuku, dia itu playboy bukan?  Appa bisa mengenalkanmu ke pria baik-baik dan tak playboy”, tawarnya.  Aku hanya terkekeh pelan dan menggeleng, “Tidak usah.  Biarkan aku mengurus hidupku sendiri, Appa sudah terlalu banyak membantuku”, tambahku.  Dan dia hanya mengangguk singkat sambil menatapku dalam-dalam, “Kau kini..sangat mirip dengan ibu’mu, Soora”, lanjutnya.

Aku tersenyum perih, yaa..itulah kenyataannya.  Aku amat mirip dengan ibu’ku, tak bisa dipungkiri.  Dan untunglah tak ada faktor fisik apapun yang kuwarisi dari seorang Lee Soo Man, setidaknya tak ada hal yang menunjukkan bahwa akulah anak ‘rahasia’ Lee Soo Man dengan Ibuku.

****

“Tambah 1 Jajangmyun lagi!!”, seru Donghae pada pelayan itu dan dia sama sekali tak mempedulikan tatapan buas’ku padanya.  Dia malah tersenyum manis padaku, “Soora-ssi, tadi kau bilang bahwa aku bisa makan sepuasnya kan?”, tanyanya.  Aissh, rasanya aku ingin menancapkan sumpit ini ke kepalanya!!!

“Selama 2 tahun kita berteman, kau sama sekali tak pernah mentraktirku, Soora-ah”, ucap BoA onnie heran.  “Kenapa kau amat baik pada orang yang baru kau kenal?”, tanyanya.  Aku hanya tersenyum pahit dan memakan jajangmyun’ku yang sudah mulai dingin.

“Mungkin..dia menyukai’ku”, ucap Donghae ringan dan langsung membuatku tersedak.  BoA onnie menatapku tak percaya, “Jinjja, Soora-ah?!  Bagaimana dengan Yoochun Oppa?!”, ucapan BoA onnie malah makin membuatku tersedak.  Aigoo~untuk apa dia membicarakan Yoochun Oppa di depannya?! \(>M<)/

“Yoochun?  Maksudmu, Park Yoochun?”, tanya Donghae antusias.  Sebelum BoA onnie sempat menjawab, aku langsung menyela, “Bukan urusanmu” ucapku ketus.

“Ah~padahal aku hanya ingin mengetahui cerita teman baruku”, ucapnya dengan nada murung.  BoA onnie langsung menatapnya iba dan mendelik padaku, “Soora-ah, jangan seperti itu!  Dia hanya ingin mengetahui cerita tentangmu”, bujuknya.  Arrghh, BoA onnie memang paling tak tahan dengan pria imut!! (>A<)

“Aku malas menceritakan hal itu pada anak laut yang sok tahu”, ucapku dan beranjak keluar dari dalam restoran setelah mengeluarkan beberapa lembar uang 1000 won dan menaruhnya di atas meja.  “Untuk jajangmyunku dan miliknya”, ucapku singkat dan meninggalkan meja makan.

Jinjja, kenapa bisa ada pria menyebalkan seperti dia di dunia ini?!  Tuhan, kenapa kau menciptakan mahluk tak berguna itu ke dunia ini?!  Kenapa kau tidak ciptakan ribuan pria seperti Yoochun Oppa saja? (=M=)

“Soora-ssi..!”, panggil sebuah suara dari belakangku.  Tanpa perlu menengok pun, aku sudah tahu siapa pemilik suara itu dan aku makin mempercepat langkahku untuk menghindar darinya.  Cukup sudah aku berurusan dengannya!!

“Soora-ssi!!”, panggilnya lagi, kali ini dibarengi dengan derap langkah kaki yang makin cepat.  Aku mendecak kesal dan kini memutuskan untuk berlari kencang.  “Soora-ssi, BERHENTI!!”.

Aku masih berlari dan terus berlari hingga akhirnya aku sampai di depan gerbang rumahku.  Aku menengok ke belakang dan tidak kulihat siapapun di sekitarku.  Baguslah..sepertinya dia sudah menyerah!  Haha~aku menang!!😄.

Tapi senyumanku langsung menipis saat menyadari bahwa ada sebuah mobil lancer berwarna hitam sedang terparkir di depan rumahku.  Aku mengernyit bingung, kenapa ada mobil mewah yang terparkir di sini? Apa itu mobil mantan kolega Ayah? Tapi bukankah peringatan 1 tahun kematian Ayah itu masih 2 minggu lagi?

Tanganku hendak membuka kenop pintu saat aku mendengar seruan seorang pria, “Selama 13 tahun ini kau tak pernah bilang padaku, Yoonji-ah!  Aku bisa membantumu merawatnya!!”.

“Tak perlu.  Aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu.  Lagipula..aku tak ingin mengkhianati SungYoon lagi”, jawaban Ibu membuatku mengurungkan niatku untuk membuka pintu dan malah diam di balik pintu ini.  Mendengarkan percakapan mereka.

“Kau yakin, dia anakku?”

“Tentu saja aku yakin.  Golongan darah Soora itu AB.  Sedangkan aku dan SungYoon sama sekali tidak memiliki golongan darah AB.  Dia bukan anak SungYoon”.

Aku terhenyak saat mendengar namaku disebut.  Dan ucapannya itu..anaknya?  Siapa pria itu?!

Aku mencoba mengintip lewat jendela, tapi percuma, jendela itu tertutup oleh tirai tebal.  Aku mendengus kesal dan kembali mendengarkan percakapan mereka.

“Kenapa..kau tak bilang dari awal?!  Kenapa setelah 13 tahun, kau baru mengatakannya, Yoojin-ah?”, suara pria itu mulai lirih.  Aku tahu bahwa dia juga shock, sama sepertiku.

“Jika aku mengatakannya lebih awal, apakah itu akan membuat perubahan?”

“Tapi, Yoojin-ah..apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Obseo.  Berpura-puralah tak ada yang terjadi, dan biarkan aku mengurus Soora dengan kedua tanganku sendiri, SooMan-ssi”.

Hah?!

Aku bangkit dengan tiba-tiba dan beranjak ke luar gerbang dengan langkah lunglai.  Tunggu, aku memang pernah melihat mobil lancer ini di..SM Academy!  Dan yang barusan itu, SooMan?  Apa-apaan ini?!  Ayahku adalah Lee SooMan?  Bukan Park SungYoon, seperti yang sudah kuketahui 13 tahun yang lalu?!.  Tidak, semua ini mustahil terjadi!  Tidak mungkin Ibu’ku pernah melakukan hal gila seperti itu dan mengkhianati Ayah.  Pasti ini mimpi!!  Park Soora, cepat bangun dari mimpi buruk ini!!

Aku mendengar langkah kaki itu berderap perlahan keluar dari dalam rumah menuju keluar pagar.  Aku segera bersembunyi ke balik dinding rumah dan menengok hati-hati ke arah pagar.  Ada seorang pria muncul dari balik pagar, dan itu…Lee Sonsaengnim? Lee SooMan?!

Lututku mendadak lemas, tubuhku menggigil seketika.  Pikiranku masih kalut, segalanya terlihat berkabut.  Sakit, benar-benar sakit saat mengetahui segala kenyataan ini.

Saat mobil itu beranjak pergi, aku langsung jatuh terduduk.  Air mata mulai mengalir dan membentuk sebuah sungai kecil di pipiku.  Apa sebenarnya aku tak diharapkan untuk lahir ke dunia ini?

TTAARRR

Petir mulai saling menyambar dan rintik hujan itu kini menjadi lebat.  Sialan, bahkan hujan pun seakan ingin mengejekku?!

Aku masih tak berdiri dan masuk duduk lemas.  Lututku benar-benar lemas, dadaku sesak.  Benar, siapapun..bunuhlah aku sekarang juga!!  Aku ingin bersama Appa, aku ingin memeluknya sekarang juga, aku ingin bercerita tentang hal ini padanya!!

Tiba-tiba saja, aku merasakan ada naungan sesuatu di atas kepalaku karena rintik hujan itu tak lagi membasahiku.  Aku menengadahkan kepala dan dia sedang tersenyum manis ke arahku, “Sedang apa disini?”, tanyanya dan berjongkok di sampingku.  Tangannya masih memegang payung untuk menaungi diriku dan dia.

Aku menggeleng sambil menutup wajahku, “Pergi!”, seruku.  Dia masih tak bergeming dan masih diam di sampingku, “Pergi, Donghae-ssi!! Aku tak butuh siapapun!”, sentakku.

Dia menghela nafas pelan, “Tenang saja.  Aku bisa menjadi siapapun yang kau butuhkan saat ini”, ucapnya ringan, kali ini sambil mengulurkan tangannya padaku.  Aku hanya menatap uluran tangannya itu dengan nanar, “Siapapun?”, bisikku.

Dia mengangguk, “Ya, aku akan menjadi siapapun yang kau butuhkan”, jelasnya.  Aku menengadah menatapnya, “Kalau begitu, jadilah malaikat pencabut nyawa dan cabut nyawa’ku sekarang juga”, ucapku lirih.

Dia memiringkan kepalanya dan tersenyum simpul, “Mana ada malaikat pencabut nyawa setampan dan mempesona sepertiku?”, tanyanya.  Aku mendengus pelan tapi tak urung tersenyum tipis, “Anak laut yang percaya diri”, gumamku.

Dia menjitak kepalaku pelan, “Jangan mengatakan aku anak laut, jika tidak..nanti pasukan paus di laut Mokpo akan mengirimkan kutukan untukmu”, ucapnya sebal.  Aku mencibir, “Aku bukan anak TK yang bisa ditipu oleh cerita macam itu”.

“Kau tidak tahu kutukan apa yang mereka berikan, kan?”, tanyanya lagi.  Aku mengangkat bahu, mencoba tak peduli, “Memangnya kutukan apa?”.

“Kutukannya adalah, kau bisa jatuh cinta dengan pria bernama Lee Donghae”, ucapnya santai dan tersenyum lagi.  Aku terkekeh pelan dan menatapnya nanar, “Wow, kutukan yang amat menyeramkan.  Jinjja, aku tak pernah ingin merasakan kutukan itu”, ucapku asal.

Donghae tak menjawab apa-apa lagi dan dia beranjak berdiri, “Ayo bangun.  Kau bisa sakit jika terus-terusan duduk seperti itu”, ucapnya dan kembali mengulurkan tangannya.  Entah setan apa yang merasuki tubuhku saat aku menyambut uluran tangannya.

“Johta!  Sekarang, yang mana rumahmu?.  Akan kuantarkan kau sampai ke rumah.”, tanyanya lagi.  Aku menggeleng cepat, “Tidak.  Aku tak ingin pulang, aku ingin..ke rumahmu saja”.

“Hah?!”.

****

“Lalu bagaimana kabar perusahaanmu?”, tanya Lee Soo Man.  Aku mengangguk-angguk singkat, “Baik-baik saja, dan makin baik karena  aku akan membuka cabang perusahaan untuk pasar China”, jelasku semangat.

Lee Soo Man terlihat antusias, “Oh ya?  Baguslah, kau memang hebat, Soora-ah.  Apa kau ingin memakai SJ-M sebagai ikon atau maskot perusahaaanmu?”, tawarnya.  Aku tersenyum simpul, “Tidak usah, Appa.  Sudah kubilang berulang kali, berhentilah mengkhawatirkanku.  Aku sudah 22 tahun”, ucapku.

Dia balas tersenyum, “Aissh, kau memang anak yang mandiri.  Baiklah, aku tak akan mengurusimu lagi”, ucapnya sambil mengangkat tangannya dengan posisi menyerah.  Aku terkekeh pelan dan menatapnya lurus, “Kamsahamnida”.

Dia mengangguk paham dan mengelus tanganku lembut, “Ngomong-ngomong, ada perlu apa kau kesini?”, tanyanya.  Aku mendesah sadar dan segera merogoh tas’ku.  Tak lama kemudian, aku mengeluarkan secarik amplop berwarna merah itu dan menyerahkannya padanya.

“Umma..akan menikah”

*****

“Aku pulang~!”, seru Donghae.  Aku masuk ke dalam rumah sederhana ini dan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.  “Maaf jika agak berantakan, kami masih dalam rangka membereskan barang-barang yang baru datang dari Mokpo”, jelasnya dan aku mengangguk paham.

“Umma~aku pulang”, teriaknya lagi.  Tak lama kemudian, terdengar derap langkah berat dan disusul dengan sosok seorang wanita setengah baya yang sedang membawa sendok sup, “Aissh, berisik sekali.  Kalau pulang, segera masuk saja.  Tak usah berteriak seperti it…”, ucapan wanita itu terpotong saat dia menyadari kehadiranku.

Aku membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo, Ahjumoni”, sapaku.  Dia membungkuk seadanya dan langsung menatap Donghae dengan beringas, “Baru sehari kita tiba di Seoul dan kau sudah pulang dengan membawa seorang gadis, Lee Donghae?”, desisnya.  Aku menyipitkan mataku dan beranjak menjaga jarak dari Donghae.

“Umma, dia temanku di tempat trainee.  Lagipula dia kehujanan, lihat baju’nya..basah kuyup bukan?”, ucap Donghae sambil menunjuk tubuhku yang basah kuyup. Ibu Donghae beralih menatapku dan segera mengangguk paham, “Ahh, baiklah.  Ayo cepat ganti baju, jangan sampai kau sakit”, katanya sambil tersenyum dan menarik tanganku ke dalam rumah.  Aku menatap Donghae dan dia hanya melambai santai. (=.=)

“Siapa namamu?”,tanyanya.  Aku menelan ludah gugup, “Park Soora imnida”.

“Aah~Soora.  Apakah kau pacar Donghae?”, tanyanya langsung dan aku langsung shock.  Ya ampun, mimpi buruk apa yang membuatku dianggap sebagai pacar Donghae?.  Aku menggeleng cepat, “Animida, Ahjumoni.  Kami hanya teman di tempat trainee”, jawabku.

Ibu Donghae tersenyum bijak dan menyerahkan sebuah baju padaku, “Gwenchana, Soora-ya.  Sebenarnya aku sangat menantikan saat-saat Donghae membawa pacarnya ke rumah.  Dan asal kau tahu, kau adalah yeoja pertama yang dibawanya ke rumah”, jelasnya.

Aku menatapnya tak percaya, “Ahh~keundae Ahjumoni, aku baru 13 tahun.  Rasanya masih terlalu cepat untuk memikirkan pacar”, ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.  Tapi beliau malah bertepuk tangan senang, “13 tahun?  Aigoo~kalian hanya berbeda 3 tahun!  Sama sepertiku dan Ayah Donghae saat pertama kali berkenalan”, tambahnya dan makin membuatku shock.  Aishh~gawatt..gawatt..gawatt!! Omongan ini tak boleh berlanjut~

“Ahh~ahjumoni, baju ini boleh kupinjam?”, tanyaku lagi.  Beliau mengangguk senang, “Untukmu.  Tak usah kau kembalikan”, jawabnya.  Aku menggeleng cepat, “Ahh, andwae.  Akan segera kukembalikan secepatnya”.

Ibu Donghae hanya tersenyum menatapku, “Kau sangat cantik.  Pantas saja jika Donghae menyukaimu”, ucapnya dan mengelus rambutku.  Aku hanya bisa tersenyum kaku.  Soora, kau harus segera pergi dari sini!!! (>A<)

“UMMAA, SUP’NYA MENDIDIHHHH!!”, teriak Donghae dari luar kamar.  Ibu Donghae hanya mendecak kesal, “Anak itu memang hanya bisa berteriak saja”, gerutunya dan kembali menatapku, “Soora-ya, kau belum makan kan?  Makanlah bersama kami di sini”, ajaknya sambil menarik tanganku untuk segera keluar kamar.

Dan begitu sampai di luar kamar, aku melihat Donghae bersama seorang pria yang mirip dengannya (mungkin kakaknya?) Sedang asyik menonton TV di ruang tengah.  “Donghwa, Donghae, bereskan meja makan!!  Soora akan makan bersama kita”, seru Ahjumoni.

Pria yang bernama Donghwa segera menengok ke arahku, “Soora?”, tanyanya.  Tapi tak lama kemudian, dia langsung menjitak Donghae, “Ya!! Baru sehari kita pindah ke Seoul, kau sudah punya pacar?!”.

Donghae meringis dan mengelus kepalanya, “Hyung, mwoya?!  Dia hanya teman trainee’ku dan aku melihatnya sedang kehujanan”, ucap Donghae.

Aku berdiri mematung, jadi..hanya itukah tujuannya?  Sekedar mengantarkanku untuk mencari tempat berteduh & membantuku mencari baju ganti?  Tak ada rasa apapun yang lebih?

“Soora-ya, bantu aku membawa sup ini ke meja makan”, seru Ahjumoni dari arah dapur.  Aku tersentak sadar dan segera menepuk pipiku, aisshh..untuk apa aku memikirkan perasaannya padaku?  Toh aku juga tak memiliki perasaan apapun padanya. (>M<)

“Ye, Ahjumoni”, jawabku dan segera beranjak ke arah dapur.

******

“Menikah?”, tanyanya lirih.  Aku mengangguk dan menyodorkan undangan itu padanya.  Aku bisa melihat wajahnya menjadi muram lagi, mungkinkah itu karena ia masih menyayangi Ibu?

“Ya, minggu depan.  Aku harap, Appa bisa datang ke acara itu”, pintaku.   Ia menerima undangan itu dengan hampa, “Kenapa tiba-tiba?”,gumamnya.

Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Umma sudah menanggung terlalu banyak beban selama 9 tahun ini.  Akulah yang terus-terusan membebaninya sampai-sampai Umma tak memikirkan dirinya sendiri dan aku pikir Junghwan-ssi bisa mencintai Umma dengan tulus”, jelasku.

Ia membuka undangan itu dengan nanar, “Keundae, kau tahu sendiri bahwa aku masih mencintai Umma’mu, Soora-ah”, ucapnya dan kembali menatapku.

Aku menghindari tatapannya dan beralih melihat sebuah figura foto yang terpajang anggun di dinding ruangan.  Foto keluarga besar Lee terpajang angkuh di situ.  Aku masih memperhatikan figura itu dengan pandangan kosong, “Bukan Umma’ku yang harus Appa cintai, tapi mereka”, ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu.

Dia ikut menatap foto itu dan tersenyum perih, “Ya, aku tahu.  Tapi..”.  Aku beranjak berdiri tepat sebelum kata-katanya berlanjut, “Urusanku sudah selesai”, ucapku dan membenahkan tas’ku sejenak.  Setelahnya, aku langsung membungkuk sopan, “Mohon doa darimu untuk kebahagiaan Umma’ku, Lee Soo Man-ssi”, ucapku akhirnya dan benar-benar beranjak pergi dari ruang kantornya.

Begitu sampai di luar pintu ruangannya, aku langsung mengambil handphone’ku dan memencet beberapa nomor yang sudah kuhafal di luar kepala, “yoboseyo, Oppa?  Ahh, yaa..mianhae, tadi aku benar-benar sibuk hingga tak mempedulikanmu.  Mianhae~  aishh, jangan marah, Oppa~!  Kau seperti salah satu dari pasukan ikan di laut Mokpo jika sedang marah seperti itu.  Hahahaha~”

*****

“Jal mokkesemnida”, ucap kami berbarengan dan segera melahap hidangan yang ada di hadapan kami.  Donghwa masih memandangku penasaran dan Donghae terlihat menyikut lengannya beberapa kali, “Hyung, cepatlah makan!”, suruhnya.

Donghwa melengos pelan dan menatap ke arahnya, “Yaa~ kau selalu menyikut lenganku jika kau tak ingin aku merebut hal kesukaanmu, Donghae-ya”, ucapnya sambil tersenyum menggoda.  Wajah Donghae langsung merah padam sedangkan aku mencoba tak peduli dan berkonsentrasi dengan makananku.

Donghwa menatapku lagi, “Soora-ya, kau ini pacarnya Donghae!  Benar begitu bukan?”, tanyanya tiba-tiba dan membuatku langsung memuncratkan serpihan nasi di mulutku hingga beterbangan di sekeliling meja makan, beberapa di antaranya menempel ke wajah Donghae yang kebetulan duduk berhadapan denganku. (T^T)

“Aigoo~mianhae, Donghae-ssi”, ucapku dan beranjak maju ke arahnya untuk membersihkan serpihan nasi di wajahnya.  Donghwa dan Ahjumoni langsung berdehem pelan, “Umma~rasanya kita seperti nyamuk pengganggu”, ejek Donghwa dan dibalas oleh anggukan Ahjumoni.  Aku hanya bisa mencoba tak peduli dan kembali berkonsentrasi membersihkan nasi dari wajah Donghae. (=A=)

Setelah selesai makan, aku membantu Ahjumoni membereskan meja makan dan mencuci piring.  Aishh, D.A.E.B.A.K!! Aku mencuci piring, saudara-saudara.  Inilah salah satu pekerjaaan yang paling kubenci, dan kini aku melakukannya di rumah seseorang yang baru kukenal tadi pagi?!

Setelah selesai mencuci piring, aku langsung menuju ruang tengah dan berbisik memanggil Donghae.  “Mwo?”, tanya Donghae saat dia sudah ada di hadapanku.

“Aku mau pulang”, bisikku.  Dia mengangguk singkat kemudian menarik tanganku menuju dapur, “Umma, Soora mau pamit.  Aku akan mengantarkannya pulang ke rumah”, ucapnya.  Ahjumoni melirik sekilas dan mengangguk paham, “Ahh~ Tunggu sebentar”, ucapnya dan kini Ahjumoni beranjak pergi ke kamarnya.  Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar dengan membawa sebuah gelang perak dan menyerahkannya padaku, “Ini, pakailah gelang itu, Soora-ya”.

Aku memandang gelang ini heran tapi Donghae langsung menyela, “Umma, gelang ini kan..”.  Ahjumoni mengangkat jari telunjuk di depan bibirnya, Donghae langsung diam seribu bahasa dan beranjak pergi dari situ.  Ahh~ ada apa sebenarnya ini? (>M<)

Aku memakai gelang itu dan agak kebesaran memang, tapi yahh..tidak cukup buruk.  Modelnya sederhana dan aku nyaman memakainya.  :) .  Aku menatap ahjumoni lagi, “Ahjumoni, Gwenchana jika aku memakai gelang ini?”, tanyaku dan dia hanya mengangguk singkat sambil mengelus rambutku, “Jaga dia baik-baik”.

“Soora-ssi, palli..palli”, seru Donghae dari pintu depan.  Dia sudah bersiap dengan membawa sebuah payung, hujan masih turun rintik-rintik.   Untuk terakhir kalinya, aku membungkuk sopan ke Ahjumoni.  “Kamsahamnida atas kebaikannya telah menerimaku di sini, Ahjumoni”, ucapku.

“Mainlah ke sini kapan saja”, balasnya dan aku menggumam mengiyakan.  Tak lama kemudian, aku sudah berdiri di payung yang sama dengan Donghae.  “Ah, aku belum berpamitan pada Donghwa Oppa”, ucapku saat kami sudah berada di luar pagar.  Donghae menarik nafas panjang dan segera menarik tubuhku untuk mendekat kearahnya karena payung ini tak cukup muat untuk menaungi kami berdua. “Hyung sedang tidur”, ucapnya.

Aku mengangguk paham dan agak menjauhkan tubuhku darinya, tapi Donghae langsung membentak, “Ya!! Kau mau kebasahan lagi?”, sentaknya sambil menarik pinggangku untuk mendekat padanya lagi.  Aku menghembuskan nafas kesal, “Memangnya kau tak punya payung lagi?”, tanyaku.  Jujur saja, aku kurang merasa nyaman dengan posisi kami yang sekarang.  Posisi kami yang berdekatan ini membuatku…berdebar-debar. (>////<)

Dia menggelengkan kepala, “Payung lainnya sedang dibawa oleh Appa”,, jawabnya singkat.  Aku menggumam paham, “Apa pekerjaan Ayahmu?”, tanyaku.

“Hanya karyawan biasa”, jawabnya.  “Kalau Ayahmu?”, tanyanya dan membuatku tersenyum perih.  “Ayahku sudah meninggal setahun yang lalu”, jawabku.  Dia terlihat terkejut sejenak, “Ahh~mianhae”, ucapnya gugup.

Aku menggeleng ringan, “Gwenchana.  Kematian itu hal yang wajar kan?”, ucapku hampa.  Dia tak menjawab dan masih menatap lurus ke jalan di depannya.  Aku juga tak berniat untuk memulai pembicaraan dan hanya menggosok gosokkan kedua tanganku yang mulai kedinginan.  Donghae melirik sekilas ke arahku, “Kau tak memakai jaket?”, tanyanya saat melihatku.  Aku menggeleng, “Jaketku basah dan aku tak ingin merepotkan Ibu’mu lagi”, ucapku santai dan masih menggosok-gosokkan tanganku. (=/.\=)

Tiba-tiba Donghae menggenggam tanganku dan segera memasukkannya kedalam saku mantelnya, “Agak hangat kan?”, tanyanya sambil tersenyum simpul.  Aku tak bisa menjawab apa-apa, aisshhh..ini bukan hangat, rasanya semua tubuhku seperti dipanggang!!  Rasa hangat dari genggaman tangannya mulai menjalar menjadi api ke bagian tubuhku yang lain. (>//////<)

“Ya!  Sudahlah, tak usah mengkhawatirkanku.  Toh percuma saja kau melakukan itu, tanganku yang satu lagi kan tetap saja kedinginan”, ucapku sambil mengangkat tangan kiriku.  Ahh~sebenarnya ini hanya alasan supaya dia melepaskan genggaman tangannya dariku. (T.T)

Tapi alih-alih melepaskan genggaman tangannya, dia malah menarik tubuhku untuk berdiri di belakangnya dan merentangkan tangannya ke samping.  Aku menatapnya bingung, “Ige mwoya?”, tanyaku heran.

“Masukkan tanganmu ke sini”, tanyanya sambil menunjuk ke saku mantelnya.  Aku membelalak tak percaya, “Maksudmu aku memelukmu dari belakang?! Shireoooo~”, tolakku.  Dia menatapku buas, “jika kau tak mau, akan kupeluk kau sampai ke rumahmu”, ancamnya.

Aku langsung ciut dan hanya bisa mengikuti ucapannya.  Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan segera memasukkan tanganku ke saku mantelnya.  Memang tanganku menjadi hangat, tapiii..posisi kami benar-benar tidak nyaman!!! Jinjja~

“Donghae-ssi, kenapa cara berjalan kita jadi seperti penguin?!”. (=X=)

“Sudahlah, diam saja”, jawabnya dan melangkah pelan sedangkan aku hanya merengut dan mencoba mensejajarkan langkahnya.  “Aissh, Donghae-ssi, orang-orang melihat kita~”, ucapku dan menunduk dalam karena malu.

“Biar saja.  Mereka hanya iri”, balasnya.  Aku menggembungkan pipi sebal dan masih melangkah sambil memeluknya dari belakang. (T^T).  “Yang mana rumahmu?”, tanyanya. Aku diam sejenak, “Di tempat kau menemukanku”, jawabku pelan.

Dia memalingkan mukanya, “Jinjja? Kenapa kau malah diam di luar rumah dan hujan-hujanan?”, tanyanya.  Aku menghela nafas panjang, “Hanya..tak ingin masuk ke dalam rumah”, jawabku.

Dia mendengus, “Kata Umma’ku, rumah adalah tempat terbaik di seluruh dunia, Soora-ssi”, ucapnya.  Aku mengangguk paham, “Aku tahu, Donghae-ssi”, jawabku pelan.  Dia menatapku lagi, “Lalu kenapa kau tak ingin pulang ke rumah?”, tanyanya lagi.

Aku balas menatapnya, “Apa warga Mokpo itu selalu menanyakan hal yang bukan urusannya?”, tanyaku.  Dia terkekeh pelan dan mengangguk pelan, “Warga Mokpo itu..mempesona, sepertiku”, jawabnya.  Aku terkekeh, “Anak laut yang percaya diri”.

Dia tak menjawab dan kembali menatap lurus ke jalan, “Yaa, baiklah.  Tak apa jika kau tak ingin menceritakan masalahmu.  Tapi kau boleh datang ke rumahku setiap saat kau ingin mencari ketenangan di rumah”, ucapnya.  Aku merasakan wajahku memanas dan aku hanya menggumam paham, “Ne, kamsahamnida”.

Tapi pandangan mataku langsung terpaku ke pergelangan tangannya, ada sebuah gelang yang melingkar.  Gelang yang sama sepertiku?!  “Donghae-ssi, gelang itu…”, ucapku ragu.  Dia menggumam paham, “Ini gelang warisan keluargaku.  Sudah menjadi tradisi bahwa keluarga kami harus memiliki gelang ini”, jawabnya.  Aku membelalak tak percaya, “Hah? Keundae, kenapa Ibu’mu..”, ucapanku terputus karena ucapannya selanjutnya.  “Itu berarti, kau sudah menjadi keluargaku, Soora-ssi”.

Aku menggeleng cepat, “Ah, Tidak.  Akan kukembalikan gelang ini”, ucapku sambil melepaskan gelang itu. Tapi Donghae langsung menahan tanganku, “Jangan pernah berpikir untuk melepaskannya karena kau’lah pilihan Ibuku”, ucapnya.

“Hah?”.

“Dan menolak menjadi pilihan Ibu’ku sama dengan melepaskan kesempatan untuk memiliki pria setampan dan semenawan aku, Soora-ssi”, ucapnya singkat.  Aku memiringkan kepalaku, “Mwo?”, tanyaku heran.

“Gelang itu..hanya ada 4.  Untukku, Donghwa hyung dan untuk yeoja beruntung yang dipilih oleh Ibu’ku”, ucapnya lagi dan menatap mataku dalam-dalam.  “Dan aku pikir, Ibu tidak salah pilih kali ini”, ucapnya dan tersenyum manis.

Aku menganga tak percaya, “Bukankah ini terlalu cepat?”, tanyaku pelan. Dia mengangkat kepalanya dan memandang langit, “Aiiya, keurae.  Kita baru kenal tadi pagi, tapi..bukankah masih ada waktu selama trainee?”, tanyanya.

Kata-katanya tentang trainee langsung membuatku mengingat kejadian siang tadi.  Tentang Umma dan tentang Lee Sonsaengnim.  “Donghae-ssi, aku..akan berhenti dari training”, ucapku singkat.  Dia menatapku heran, “Wae?”.

Aku menggeleng pelan, “Animida.  Aku hanya..sakit”, ucapku ragu.  Donghae menatapku curiga dan kemudian mengelus rambutku, “Ara, aku tahu kau punya rahasia yang kau sembunyikan.  Tapi aku tak akan pernah memaksa’mu untuk menceritakan rahasia itu, aku hanya akan mencoba untuk selalu bisa menghiburmu disaat rahasia itu membuatmu sedih atau murung”, ucapnya dan mendekatkan wajahnya ke arahku.

Aku memiringkan wajahku, “Jinjja?  Tidak apa-apa jika aku menyembunyikan rahasia darimu?”, tanyaku.  Dia mengangguk, “Boleh saja.  Asalkan rahasia itu tidak pernah berhubungan dengan pria lain yang lebih tampan dariku”, ucapnya sambil menggaruk kepalanya pelan.

Aku tersenyum simpul, “Bukankah kau bilang bahwa kau adalah pria paling tampan di seluruh dunia?”, tanyaku dan menatapnya menggoda.  Dia terkekeh pelan dan mencubit pipiku, “Ya, aku pria paling tampan di seluruh dunia.  Dan kau harus bersyukur untuk itu”, jelasnya.

“Bersyukur?”, tanyaku heran.

“Ya, karena besok kau akan pergi ke taman hiburan bersama pria paling tampan di seluruh dunia ini”, jawabnya singkat.  Aku membelalak lebar, “Hei~ sejak kapan kau bisa memerintahku seperti ini?”, tanyaku tak terima.  (>M<)

Dia tersenyum penuh kemenangan, “sejak kau resmi menjadi pembantu’ku.  Dan pembantu itu harus mengikuti omongan majikannya.  Bukan begitu, Soora-ssi?”, tanyanya.

Aku menghela nafas kesal, “Kau masih mengingatnya?”, gumamku pelan.  “Aissh, dasar anak laut tidak berperasa…”

Tiba-tiba tangannya sudah membekap mulutku dan wajahnya langsung mendekati wajahku.  Mataku langsung membelalak lebar dan nyaris berteriak saat hidungnya kini hanya berjarak beberapa centi dariku,  aisshh…tolong akuuu~!!! <(>A<)/

Saat hembusan nafasnya benar-benar sudah bisa kurasakan dan hidungnya telah menyentuh hidungku, aku hanya memejamkan mata dengan pasrah.  Ummaaa~ciuman pertamaku. (T^T)

“Annyeongi jumuseyo”, ucapnya pelan dan dia mengecup tangannya yang sedang membekap mulutku.  “Jangan sampai terlambat bangun untuk janji kita besok”.

Aku hanya bisa terpaku saat melihatnya berbalik meninggalkanku.  Tanpa sadar, aku menyentuh bibirku yang..hangat dan tersenyum simpul.  Padahal tadi dia hanya mengecup tangannya sendiri, tapi kenapa rasanya bibirku benar-benar merasakan kecupan itu?  Aishh~Jinjja, kutukan itu mulai beraksi.  Dasar Paus Mokpo sialann~!!

“Sampai jumpa besok, Anak laut”, gumamku saat sosoknya mulai hilang di tikungan jalan.

Entah itu adalah sebuah keberuntungan atau kesialan saat aku mengenalnya.  Tapi orang-orang bilang, masa lalu itu tak penting bukan?  Yang penting bagiku kali ini, aku akan melewati hari baru bersama seorang anak laut yang mengaku bahwa dirinya adalah pria paling tampan di seluruh dunia.

Dan aku suka disaat dia mengatakan hal itu.  Sangat amat suka.

*****

Aku menghentikan mobilku di depan gedung SBS dan segera menuju lobby utama.  Di sana sudah ada beberapa temanku yang lain sedang berkumpul.  Ya, merekalah yeojachingu dari member SJ yang lain. :)

“Soora onnie~”, panggil Leena saat aku memasuki lobby.  Aku melambai singkat dan berjalan ke arah mereka.  “bogoshippo”, ucapku sambil memeluk mereka satu persatu.

Setelahnya, aku langsung mengeluarkan beberapa lembar undangan pernikahan Umma’ku dan menyerahkannya pada mereka.  “Oya, Umma’ku akan menikah di minggu ini.  Kalian jangan lupa datang, Ara?”.

Mereka membolak-balik undangan itu, “Boleh mengajak pasangan?”, tanya Cherry polos.  Kyuna onnie langsung menjawab tajam, “Boleh saja, jika kau ingin menjadi berita utama di koran-koran keesokan harinya, Cherry-ah”.  Cherry langsung manyun. (=3=).   Aku terkekeh pelan dan menepuk bahu Cherry, “Mianhae, tapi omongan Kyuna Onnie itu benar adanya”.  :)

.. You’re my everything ..

Calling…

.: Sweetie Fishy :.

“Ya, Oppa?”

“Arah jam 2, cepatlah.  Sebentar lagi aku tampil~”

Aku menengok ke arah barat dan melihat seorang pria yang memakai jaket coklat itu melambai ke arahku.

“Ya, aku segera ke sana”.

TREKKK

Aku beralih ke teman-temanku yang lain, “Ahh~Onniedeul, aku ke sana dulu ya?”, pamitku dan segera beranjak ke arahnya.  Tak lama kemudian, aku sudah berdiri di depannya.  Wajahnya terlihat ditekuk, aishh..dia pasti masih marah karena aku tadi mengabaikan telefonnya. (=A=)

“Oppaaaa~”, ucapku sambil mencubit pipinya.  Aku mulai melancarkan jurus-jurus aegyo’ku,  setahuku dia paling tak tahan dengan sifat aegyo’ku.😄.   “Oppaaa~ saranghae!”, aku membentuk hati di atas kepalaku dan tersenyum super duper amat sangat manis.  Tapi dia masih belum tersenyum juga.  Aissh, dia benar-benar marah?! (=X=)

Akhirnya aku menghela nafas panjang dan menunduk dalam, “Jwosonghamnida, hwangjanim~”, ucapku menyerah.  “Aku tak akan lagi mengabaikan telefon darimu”, ucapku sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku sehingga membentuk huruf V.

“Jinjja?”, tanyanya memastikan.  Aku mengangguk pelan meskipun belum sepenuhnya menerima pernyataanku sendiri.   Akhirnya dia tersenyum lagi dan mengelus rambutku, “Kupegang janjimu~”.  Aku balas tersenyum dan menggenggam tangannya.  “Lalu, ada perlu apa memanggilku?”, tanyaku.

Dia tersentak sadar, “Ahh~ya.  Aku ingin berlatih adegan magic rose’ku di depanmu”, ucapnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan merah dari dalam sakunya.  Aku mendesah berat, “Hanya itu? Untuk latihan magic rose?”, tanyaku kecewa.

Dia mengangguk semangat, “Yaa~hanya itu”, ucapnya dan bersiap-siap.  Aku menatapnya tanpa minat karena sudah hampir ratusan kali dia melakukan magic rose ini.  Oke, untuk awalnya, aku amat terkesan dengan pertunjukkan itu, tapi lama-lama..aku B.O.S.A.N. (T^T)

“Nah, Park Soora..perhatikan sarung tangan ini.  Perhatikan baik-baik.  Lihatlah apa yang akan terjadi..1, 2, 3.. Abracadabra~”

Kini di bawah sapu tangan itu sudah muncul beberapa tangkai mawar yang diikat menjadi satu.  Aku bertepuk tangan dengan malas, “Waaa~hebat”, ucapku basa-basi.  Donghae hanya tersenyum simpul dan membungkukkan badannya, “Itulah penampilan dari master Lee Donghae.  Semoga anda suka dengan hadiah itu, nona Park Soora”, ucapnya dan tiba-tiba saja dia sudah mencium keningku.  “Saranghae”, katanya dan segera pergi dari hadapanku.

Hehhh?! Apa-apaan itu?  Benar-benar tidak jelas~ (=w=). Bilang saja dari tadi bahwa dia ingin menciumku, tidak usah berpura-pura untuk melakukan magic rose segala. (==,)

Aku kembali ke kerumunan teman-temanku sambil membawa mawar itu.  Begitu sampai di sana, Nari langsung menatap bunga mawar ini dengan antusias, “Uwaaa~Soora-ah, ini dari dia?”, tanyanya.  Aku mengangguk singkat dan tersenyum simpul.

“Waaa~so sweet”, ucap Sooyeon sambil mengambil bunga itu dari tanganku.  Aku tak peduli dan segera duduk di sofa lobby.  Aishh, aku benar-benar lelah~ apalagi besok aku harus menghadapi klien menyusahkan itu.  Arrgh, tak adakah waktu istirahat untukku?

“Ini..cincin?”, tanya Sooyeon.  Aku mendengar kata-katanya tapi masih benar-benar tidak peduli,  mungkin Yesung Oppa baru saja memberikannya cincin. (=O=).   “Iyaa, ini cincin!!  Soora, cincinn!!”, teriaknya semangat.  Aku mengangguk tanpa membuka mataku, “Ahh~ye, Onnie.  Chukkae~”, jawabku tak acuh.

“Soora-ah, untuk apa mengucapkan chukkae untukku?!  Ini cincin untukmu!!!”, serunya.  Aku langsung membuka mata dan berderap ke arahnya, “Jinjja?!”, tanyaku tak percaya.  Mereka mengangguk dan menyerahkan seikat mawar itu padaku.  Aku memperhatikan mawar ini baik-baik, tapi..tak ada cincin dimanapun!! (=A=)

“Tidak ada cincinn~”, ucapku.  Mereka kelihatan gemas dan langsung menunjuk ke satu arah, ke benda yang mengikat mawar-mawar itu menjadi 1.  Semua mawar itu ternyata dimasukkan menjadi padat ke ruang kosong benda itu.  Benda itu bukanlah tali ataupun kawat seperti yang kuperkirakan barusan.  Benda itu bersinar dan indah.

“Cincin?”, tanyaku tak percaya.  Mereka mengangguk semangat, “Bagaimana bisa kau tak menyadarinya?”, tanya Kyuna Onnie bingung.

Aku masih shock dan melihat cincin itu, Cincin perak dengan 3 mata berlian dan ukiran nama di dalam cincin itu, SooHae.  “Cincin tunangan??”, teriak mereka berbarengan sambil mengguncangkan bahuku dengan semangat.  Aku hanya diam dan menggeleng tak percaya, “Apa maksudnya ini?”, tanyaku linglung.

..You’re my everything..

Video Calling..

.: Sweetie Fishy :.

“Onnie, dia menelfon’ku!! Ottokhae?”, tanyaku gugup sambil memegang handphone’ku.  Sangmi Onnie kelihatan amat gemas dan segera mengambil handphone’ku kemudian segera membuka flip handphone.  “Donghae-ya, apa maksud’mu ini?  Lakukan dengan gentle, jangan kabur seperti itu!!!”, serunya.   Aku menganga heran, sejak kapan Sangmi Onnie menjadi brutal seperti ini? (=A=)

Aku hanya mendengar suaranya, “Ahh~noona, mianhae.  Tapi, aku ingin bicara dengan Soora“.  Sangmi Onnie langsung menyodorkan handphone itu padaku, sedangkan aku menerimanya dengan tangan bergetar.

“Ha..haii”, ucapku gugup saat aku bisa melihat wajahnya di layar handphone’ku.  Dia hanya tersenyum simpul dan berkata singkat, “Semua siap?!  1, 2, 3, Go...”

Tepat saat itu juga, beberapa member SuJu langsung muncul di layar handphone dan mereka mengalunkan melodi indah yang kukenal, ini..Marry U?!

Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do)

Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do) nuhreul jikyuhjulge (I do)

Selama para member bernyanyi, Donghae tak melakukan apapun.  Dia hanya menatap lurus ke arah handphone dan seakan-akan menyihir’ku untuk ikut masuk ke dalam pandangan matanya.  Aku merasakan mataku panas tapi Nari menggenggam sebelah tanganku, seakan memberikan kekuatan untuk tidak menangis saat ini juga.  Tapi, aissh..itu sulit!!  Rasanya aku ingin menangis~ (T^T)

Saat lagu Marry U itu berakhir, Donghae menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.  “Soora-ah,…“, ucapnya.  Aku bisa melihat member lainnya mencoba menggodainya dari samping, hal itu tak urung membuatku tersenyum tipis.

4,5 tahun itu bukan waktu yang singkat kan?”, tanyanya.  Aku mengangguk pelan dan masih menatap ke layar handphone.  Onniedeul, Leena dan Nara memperhatikan percakapanku dari belakang, sepertinya mereka benar-benar penasaran. (^X^)

Sebenarnya aku ingin melakukan hal ini di depan umum, bukan lewat video calling.  Aissh~ini hal yang memalukan“, ucapnya.  Aku masih diam dan memperhatikan tiap ucapannya itu, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya itu terasa..jujur dan apa adanya.

Aku hanya ingin mengatakan, sampai kapanpun..aku adalah Lee Donghae yang selalu kau kenal.

Lee Donghae yang tak akan pernah memaksamu untuk menceritakan rahasia atau masalahmu, dan akan memilih untuk menghiburmu supaya kau bisa tersenyum lagi.

Lee Donghae yang tak akan pernah menahanmu untuk lari saat kau ingin pergi, dan akan memilih untuk ikut berlari bersamamu ke tempat yang kau inginkan.

Lee Donghae yang tak pernah menghapus air matamu dan memaksamu untuk berhenti menangis, dan akan memilih untuk duduk di sampingmu untuk ikut menangis bersamamu.

Lee Donghae yang..kekanakan.  Lee Donghae yang…egois. Dan Lee Donghae yang arogan.

Kau bisa menerima sosok Lee Donghae itu apa adanya kan, Park Soora?  Bahkan hingga tiba waktunya rambutku memutih, apa kau bisa menerima setiap sifatku itu dan tetap ada di sampingku, membiarkan Lee Donghae untuk selalu menjaga Park Soora?”.

Aku menggigit bibirku dengan keras, mencoba menahan air mataku supaya tak mengalir.  Tapi percuma, air mataku seakan memiliki jalan pikiran sendiri dan malah membentuk aliran sungai kecil di pipiku.

Bersedia menemaniku selamanya?”, tanya Donghae lagi.

Aku menatap Onniedeul, Leena dan Nara.  Mereka benar-benar antusias dan mengangguk yakin, “Soora, cepat jawab!!”, desis Yoonri onnie.

“Ya, Park Soora berjanji untuk selalu menemani Lee Donghae”, ucapku lirih dan onniedeul langsung bertepuk tangan senang dan memelukku bahagia.  Aku juga bisa melihat member SuJu lainnya mengacak rambut Donghae dan menjitak kepalanya pelan.  Aku tertawa riang dan nyaris berteriak bahagia.  Arggghh, Lee Donghae pabo!!!

“Encore, Encore, Encore”, seru member SJ sambil bertepuk tangan menggoda.  Aku menatap Donghae yang hanya menggaruk kepalanya pelan dan menatap layar handphone’nya lagi sehingga mata kami langsung bertemu.  Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya bernyanyi pelan.

“Hayan dressreul ibeun geudae”

(You are in white dress)

“tuxedoreul ibeun naui moseup”

(I am in tuxedo)

“Balguhreumeul matchumyuh guhdneun woori”

(When we walk together)

“juh dalnimgwa byuhre”

(There are moon and stars)

I swear

“guhjitmal shiruh uishimshiruh”

(I don’t like to lie, I don’t like suspision)

“Saranghaneun naui gongju”

(My beloved princess)

Stay with me

“Aish, untuk apa kita masih disini? Mereka pasti butuh waktu untuk berdua”, ucap Sangmi Onnie dan membuat teman-temanku yang lain langsung mundur teratur dan pergi meninggalkanku yang masih memegang handphone ini.

Tak ada yang mulai pembicaraan selama beberapa saat.  Aku terlalu malu untuk membuka topic, sampai akhirnya Donghae tiba-tiba berkata, “Soora-ah, aku ingin punya 4 anak kembar, 2 kembar wanita dan 2 kembar pria!  Kembar pria kita beri nama Donghae Junior 1, Donghae Junior 2.  Kalau yang wanita, beri nama Soora Junior 1 dan Soora Junior 2 ”.

Aku membelalak lebar, “Ya!!!  KENAPA TIBA-TIBA MEMBICARAKAN TENTANG ANAK?!!”

Ternyata Lee Donghae yang romantis barusan hanya bertahan 5 menit saja. (=.=)

*****

11 thoughts on “Diary Of Secret Girlfriend {8th Stories}

  1. mau jadi soora yg ditelpon trs dinyanyiin sm hae oppa T.T /plak
    soora itu anaknya bos soo man? o.O
    haha gara2 ‘insiden toilet’ mereka jd saling kenal gitu ya :3
    haha soora dikutuk sm paus mokpo, akhirnya kutukan itu datang (?) *ditabok soora*
    terharu banget aaa pasti bahagia jadi soora *berharap jd soora* *dibunuh elfishy*
    aku suka karakter donghae disini, narsis baget haha

    • Aaa~ samaaa T.T onnie juga mauu😥
      Iyap, anak ‘bukan kandung’nya LSM *ditabok LSM gara2 nebar fitnah*😄
      Hahahaha~

      Iyap, gara2 insiden toilet ituu makanya mreka ketemu. Tapi kasian jga si soora -_- hae jaman dlu kan msih g pnya abs kayak skrg😄 pasti datar2 aja tuh. Haha~

      Aishh, hae rasanya slalu narsis + gombal disgala ksmptan kok, say xD
      Makasih udh komen yaa

      • haha iya kasian soora, pasti waktu itu perut hae rata ga berbentuk haha😄 *dicekek hae*

        ne cheon eonnie~

  2. ahh~
    meleleh..
    *berasa jadi SooRa😀 yg dilamar hae
    keke
    *mupeng juga pengen dinyanyiin tiap hari😀 ♥♥

  3. emaaaak kenapa image fishy always romantis sihhh?
    dan hyukjae selalu pelit TT3TT *terima nasib*
    waktu donghae nembak biar soora mau jadi pacarnya sangat romantisssss! aku suka cara donghae,tapi keduluan ummanya tuh si donghae xD
    elaaaah hyukkie kamu nyanyiin kaya fishy oppa dong >.< mau bangettt dilamar gitu .___. video call pun tetep terharu banget soalnya marry u emang nyentuh banget TT3TT
    hyuk lamarrrr kaya gitu dong,jebaaaal~ *tarik2 baju hyuk*

  4. .meskipun rada telat *banget*
    but, i like it, so much,,,^^
    aq pngen nangis bahagia deh, waktu haeppa nglamar soora,,
    romantis bangeeeeet,,
    aq brasa jd park soora, hehehe
    daebak thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s