Diary Of Secret Girlfriend {7th Stories}

Annyeonghaseyo. (^w^)

Selamat datang di rumahku yang sederhana ini.

Maaf jika agak berantakan, maklumlah..aku tinggal sendirian di rumah ini.

kalian pasti orang-orang yang ingin mendengarkan ceritaku dengan Yesung bukan?

Tapi jangan terkejut saat mendengar ceritaku ini, ara?

Wae? Karena cerita ini diluar kewajaran ‘love story’ pada umumnya.

++++


..Minggu, 16 Mei 2010..

{SBS Inkigayo, Super Junior ‘Bonamana’ Comeback Stage}

Aku meletakkan sepiring roti panggang selai coklat dan juga segelas teh manis hangat ke atas meja. Kulayangkan senyum manisku kepada seorang namja tampan yang amat kucintai, Daniel Radcliffe. Aigoo~dia amat tampan, aku sangat beruntung bisa memiliki suami seperti dia. (^A^)

“Makanlah, yeobo. Aku menyiapkan semua ini khusus untukmu, suamiku tersayang”, ucapku sambil duduk di kursi yang menghadap ke arahnya. Dia mengangguk dan mengangkat roti panggang itu, kini dia menatapku lembut, “want to share some?”, tanyanya sambil menyondorkan roti itu padaku.

Aku tersenyum sumringah dan mengangguk senang, “Of Course!!”. Dia balas tersenyum dan kini bangkit menghampiriku sambil membawa roti panggang itu, “Here it comes~”, ucapnya.

Aku membuka mulutku lebar-lebar dan menggigit roti itu, “Hmm~masshita!”, ucapku sambil mengunyah pelan. Dia mengangguk dan ikut memakan roti itu, tak lama kemudian dia bertanya,”Are you thirsty?”, tanyanya sambil menunjuk kerongkongannya. Aku mengangguk dan dia langsung beranjak ke dapur,”Stay there. I’ll bring any water for you“, ucapnya.

Aku langsung mendesah kagum saat melihat bayangan punggungnya yang sedang mengambil air untukku. Benar-benar sebuah keberuntungan untukku menikahi seorang Daniel Radcliffe, sang ‘Harry Potter’. (>W<)

Tak lama kemudian, dia datang sambil membawa segelas air dingin, “Just for my sweetie“, ucapnya dan menaruh gelas itu dihadapanku. Tiba-tiba saja tubuhnya mendekatiku dan kini wajah kami hanya berjarak beberapa centimeter saja. Aku bisa mendengar dan merasakan helaan nafasnya yang terhembus lembut. Tangannya kini menyentuh bahuku dan merangkul tubuhku sehingga kami kini berpelukan. Bibirnya makin mendekati bibirku. Aku langsung memejamkan mataku rapat-rapat, arggh..kissing?

“Ingin menciumku?”, ucap sebuah suara tepat dihadapanku. Aku mengernyitkan dahi sambil masih tetap memejamkan mata saat mendengar suara itu, Daniel berbicara bahasa Korea? (–__–). “Cho Sooyeon. Kau ingin sekali menciumku?”, tanya suara itu lagi. Aku tersentak hebat saat menyadari sesuatu, Yesung?!

Tiba-tiba saja, aku merasa bibirku mulai dingin dan seperti ada sesuatu yang menyentuhnya. Apa ini bibir Daniel?. Aku membuka mata dengan cepat dan melihat sepasang mata kecil itu sedang berkedip polos di hadapanku. Tapi, warna hijau yang kukenal ini…ddangkoma?!

“Annyeong~”, ucap sebuah suara di sampingku. Aku menoleh ke kiri dan melihat dia tengah duduk santai sambil menopangkan dagunya ke ranjang tempat tidurku. Pandangannya sangat datar dan kini matanya beralih ke ddangkoma yang ada di atas wajahku, “Bagaimana morning kiss dari ddangkoma?”.

Aku membelalak lebar dan langsung mengangkat ddangkoma dari wajahku. “Kau membiarkanku berciuman dengan Kura-Kura?!”, tanyaku tak percaya. Dia mengangkat bahu dengan ringan, “Yahh~saat aku masuk ke sini, kau sedang memeluk gulingmu dan memanyunkan bibirmu. Aku kira kau sangat ingin menciumku, jadi sebagai percobaan..aku biarkan ddangkoma untuk menciummu terlebih dahulu”.

Aku mendesah kesal dan menaruh ddangkoma di atas meja yang ada di samping ranjangku, “Aisssh~ padahal itu kesempatanku untuk berciuman dengan Daniel Radcliffe~!!!”, teriakku sebal sambil menggigit bantalku. “Kim Joongwoon, kau..penghancur mimpi indahku!!!”, sentakku dan melemparkan bantal tadi kearahnya. Tapi dia bisa menghindar dengan gesit. (>M<)

“Berhenti bermimpi, Cho Sooyeon”, ucapnya santai dan balik melemparkan bantal itu ke arahku. Aku mencibir padanya, “Kalau begitu, kau juga harus berhenti bermimpi tentang Moon Geunyong!”, ucapku. Dia menatapku lagi, “Tidak akan pernah~!”, ucapnya menyebalkan dan beranjak bangkit menuju ke luar kamar. Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar, Aishh..dia memang tak pernah berubah!!! Selalu saja tentang Moon Geunyong~

Aku beralih ke ddangkoma yang masih tergeletak di atas meja. Aku mengelusnya lembut, “Annyeong, ddangkoma. Oraenmaniyeyo~ kau semakin tumbuh besar ya?”, sapaku sambil menyentuh kepalanya pelan. Tapi tiba-tiba aku menatapnya serius, “Ddangkoma, kau adalah orang pertama..aishh, kau bukan orang!, maksudku…kaulah benda pertama yang merebut ciumanku. Kau harus merasa terhormat untuk hal itu. Arasseo?”, tambahku lagi. Tapi tentu saja tak ada jawaban dari ddangkoma selain matanya yang mengedip terus-terusan. (-__-)

“Yeon-ah. Nan paegopha~”, serunya dari luar kamar. Aku mendesah sebal dan bangkit dengan malas dari kasurku. Kupandangi bayanganku sejenak di cermin, seperti biasa..acak-acakan!. Ahh~aku tak peduli, toh dia sudah biasa melihat penampilanku yang ‘berantakan’.

Akhirnya aku keluar kamar sambil membawa ddangkoma dan melihatnya sedang duduk di bangku meja makan. “Paegopha. Aku ingin makan”, ulangnya. Aku beranjak ke dapur untuk membuat roti panggang. Setelah selesai, aku menyerahkan sepiring roti panggang itu padanya, “Selai?”, tawarku. Dia mengangguk, “Coklat”, tambahnya. Aku mengambil selai coklat yang ada di dalam kulkas dan menyerahkan kotak selai itu padanya. “Teh?”, tanyaku lagi. Dia mengangguk sambil mengoles selai ke rotinya, “Hangat”,jawabnya. Aku kembali ke dapur untuk menyeduh segelas teh dan kini teh itu sudah ada di hadapannya. Aisssh~seharusnya Daniel’lah yang ada di hadapanku saat ini, bukan dia!! (>A<)

Aku menatapnya sekilas, sudah 3 bulan aku tak bertemu atau menerima kabar darinya karena dia sibuk dengan persiapan album barunya. Dan kini dia ada di hadapanku dengan wajah tanpa dosa dan malah meminta makan?! Aissh, Yesung..kau memang aneh!! Sama sekali tak berperasaan~!

Kalian bingung kenapa dia bisa ada di dalam rumahku? \(=o=)/ aigooo, jangan berpikiran buruk dulu. Aku memang memberikannya duplikat kunci rumahku karena dia seringkali menitipkan ddangkoma padaku jika dia sedang ada tour di luar Korea. Dan anehnya, dia selalu menaruh ddangkoma saat aku sedang pergi kerja atau saat aku sedang tak berada di rumah.

Maka dari itu, aku memberikannya duplikat kunci rumahku supaya dia bisa menaruh ddangkoma jika aku sedang tak ada di rumah. Lagipula aku tak pernah merasa khawatir jika dia akan berbuat macam-macam. Toh dia bukan tipe pria yang akan mengambil ‘keuntungan’. Dari seorang wanita kan? (=w=)

Kini dia mulai mengunyah roti itu sedangkan aku masih memperhatikan ddangkoma. “Sepertinya dia rindu padamu”, ucapnya ringan. Aku hanya tersenyum simpul, “Mungkin. Sudah hampir 3 bulan aku tak melihatnya. Semenjak terakhir kali aku datang ke dorm kalian”, ucapku dan mengelus cangkang ddangkoma. Yesung mengangguk sejenak, “Bagaimana kabarmu?”, tanyanya.

Aku menatapnya singkat, “As usual, bangun di pagi hari, mandi, berangkat kerja di tempat kursus musik, pulang kerja, kembali ke rumah, menonton TV, tidur, kemudian bangun lagi”, jelasku. Dia mengangguk paham sambil meneguk teh’nya.

Aku balas menatapnya, “selama 3 bulan ini, kau tak melakukan hal yang aneh kan, Kim Joongwoon?”, tanyaku sambil mendekatkan tubuhku ke arahnya. Dia mengangkat alisnya dengan heran, “Selama 3 bulan inii..aniya. Hanya sibuk latihan, latihan dan latihan”, ucapnya dan menyenderkan tubuhnya ke kursi. Aku menatapnya tak percaya, “Jeongmal?”, tanyaku memastikan. Dia terkekeh sekilas, “Cho Sooyeon, cemburu?”, tanyanya. Aku menyeringai, “Tidak”.

Selama beberapa menit, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada di antara kami yang memulai pembicaraan. Ahh~jinjja, tidak bertemu selama 3 bulan itu ternyata bisa membuat pasangan menjadi benar-benar canggung!

“Kau akan datang ke Inkigayo kan?”, ucapnya memulai percakapan. Aku mengangguk, “Hari ini aku libur mengajar. Lagipula Kyuna onnie memaksaku untuk ikut. Kau tahu kan bagaimana seramnya ancaman Kyuna onnie?”, ucapku dan terkekeh pelan. Dia menggumam paham dan akhirnya menyenderkan wajahnya ke atas meja, dia menatapku ke arahku, “Bogoshippo“, ucapnya tiba-tiba.

Aku shock sejenak dan menatapnya tak percaya tapi dia juga tengah menatapku dengan pandangan penuh arti, “Kau hidup dengan baik selama 3 bulan ini kan?”, tanyanya. Aku mengangguk pelan, aishh..kenapa jantungku berdebar kencang tak karuan seperti ini? (>M<)

“Kau tak pernah lupa memakan multivitamin’mu?”, tambahnya. Aku mengangguk lagi.

“Tak pernah lupa untuk selalu tidur sebelum jam 11 malam?”. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

“Tak pernah lupa untuk selalu…memikirkanku?”, tanyanya dan kali ini benar-benar membuatku tersenyum samar. Aku menghela nafas sejenak sebelum mengangguk pelan, “Ya, aku tak pernah lupa”.

Dia tersenyum puas dan mengacak rambutku gemas, “Johta. Kau memang anak baik”, lanjutnya. Aku terkekeh dan menatapnya dalam, “Ya~untunglah aku ini tipe yeoja setia. Mana ada yeoja yang tahan bila pacarnya tak memberi kabar apapun selama 3bulan?”, keluhku.

Dia mengangguk paham dan kini beralih mencubit pipiku, “Ara. Itulah alasannya kenapa aku memilih Cho Sooyeon sebagai Yeoja’ku. Karena dia selalu percaya terhadap apapun yang Kim JoongWoon lakukan. Keurae?”, tanyanya. Aku hanya tersenyum lebar untuk menjawab pertanyaannya barusan.

..Naega animyeon andwae..

Handphone Yesung berdering dan dia mengangkatnya dengan tergesa. “Ah~kau sudah ada di sini? Ara. Aku akan segera ke sana”, ucapnya.

Aku menatapnya datar, “Sudah dijemput?”. Dia mengangguk. “Shindong bilang dia sudah ada di depan”, jawabnya. Dia beranjak dari kursi dan segera berjalan menuju pintu masuk, “Kau pasti datang kan ke Inkigayo?”, tanyanya saat dia sedang memakai sepatunya.

Aku menggumam pelan, “Ya. Aku ingin melihat hasil latihan yang membuatmu amat sibuk hingga tak memberi kabar padaku selama 3 bulan”, sindirku. Dia terkekeh dan menjitak kepalaku pelan, “Kau akan puas melihat hasil’nya, Cho Sooyeon”, ucapnya dan mengacak rambutku lagi.

DDINN..DDINN

Aku mendengar klakson mobil itu berbunyi kencang. “Cepatlah pergi, kasihan Shindong Oppa~”, ucapku dan mendorong tubuhnya untuk segera keluar. “Ara. Ara. Aku pergi sekarang~ Annyeong”, dia melambai padaku dan aku membalas singkat.

Setelah menutup pintu, aku langsung beranjak ke kamar untuk mencari baju yang pas untuk dipakai ke SBS nanti. Uhmm, baju apa yang harus kupakai? (=X=)

..Daniel, Daniel, Daniel, I love You. I need You..

Lagu ‘Sunny‘ milik SJ-H (yang sudah ku’aransemen ulang) berbunyi diikuti dengan getar handphone’ku. Hmm, SMS?

Sender : Cho AhRa

16 Mei 2010, 08:56:11

Yeon-ah, bagaimana ini? (T.T). Aku menjatuhkan PS3 milik Kyuhyun~! Sekarang PS3 itu rusakk~! Aku bisa dibunuh olehnya!!

To : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:01:23

Ya! Apa hubungannya denganku? Dia itu adikmu kan? Uruslah urusanmu sendiri, AhRa.

Sender : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:03:39

Bantulah sepupumu ini, Yeon-ah!! (>M<). Kau rela kehilangan aku karena dibunuh oleh Kyuhyun?!

To : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:05:59

Aishh, ara! Apa yang harus kubantu?

Sender : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:08:21

Temani aku membeli PS3 baru sebelum Kyu kembali ke rumah dan menyadari bahwa PS3′nya itu rusak. (T.T). Jebal~

To : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:10:39

Bukankah lebih baik menyuruh Nara untuk menemani’mu? Dia sangat mengerti tentang game.

Sender : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:13:52

Nara itu sama sekali tak bisa menjaga rahasia! Nanti dia malah melapor pada Kyu~ nasibku bisa tamat sampai disini!

To : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:15:59

Ara~! Kutunggu di rumahku. Tapi ingat, jam 1.30 aku harus ke SBS untuk melihat penampilan mereka.

Sender : Cho AhRa

16 Mei 2010, 09:18:00

Sippo~! Ah, gomawo Yeon-ah!! :3

Aku menaruh handphone itu kembali ke atas meja rias dan beralih menatap wajahku di cermin. Ya, aku memang tinggal sendirian di Seoul ini semenjak 5 tahun yang lalu sedangkan seluruh keluargaku tinggal di Daegu. Maka dari itu, aku sering berkunjung ke rumah keluarga Cho ahjusshi yang merupakan kerabat dekatku.

Dan perhatianku langsung tertarik sebuah foto yang tertempel manis di pinggir cermin. Fotoku saat SMA bersama AhRa, sepupuku sekaligus sahabatku. Noona dari Cho Kyuhyun Super Junior. Dan salah satu mantan rivalku dalam merebut hati Kim Joongwoon.

****

..Januari 2006, Cho’s Family House..

Kyuhyun Debut Announcement

“Chukkae~!!”, teriak kami berbarengan sambil meniupkan terompet sekaligus letusan pita berwarna-warni saat Kyuhyun masuk ke dalam rumah. Dia tampak terkejut tapi akhirnya tersenyum kaku, “Aissh, ige mwoya?”, tanyanya sambil menggaruk kepalanya. Haha~tampaknya dia amat salah tingkah. :)

Ayah Kyuhyun langsung menghampirinya dan memeluknya bangga, “Kau memang anak kebanggaan keluarga, Kyu”, ucapnya. Kyu balas memeluk singkat sambil tersenyum simpul, “Kamsahamnida, Aboji”, balasnya.

Ibu Kyuhyun juga melakukan hal yang serupa pada Kyuhyun, beliau tampak amat terharu, “Hyunnie, Ibu sangat mencintaimu”, ucapnya dan menciumi pipi Kyuhyun. Aku dan AhRa hanya terkekeh pelan saat melihat ekspresi wajah Kyu yang terlihat tidak nyaman. Hingga akhirnya AhRa menghampiri Kyuhyun dan mengacak rambutnya dengan penuh sayang, “Lakukan yang terbaik, dongsaeng”, ucapnya singkat dan Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum lebar, “Gomawo, noona”.

Kyuhyun melirik ke arahku, “Sooyeon noona, ingin mengucapkan sesuatu padaku?”, tanyanya. Aku terkekeh sekilas dan berjalan menghampirinya, “Jika sudah terkenal, kau harus memberikan tanda tanganmu padaku. Arasseo?”, ucapku sambil menepuk pundaknya. Mereka langsung tertawa dan mengelus rambutku pelan.

Ayah Kyuhyun langsung mengajak kami untuk segera makan malam, awalnya aku ingin segera pulang tapi AhRa memaksaku untuk ikut makan bersama. Yahh~apa boleh buat, aku sungkan untuk menolak tawarannya.

AhRa langsung membuka pembicaraan, “Kyu, kau debut di group apa?”. Kyu mengangkat bahunya ringan, “Molla. Tapi, sepertinya aku akan bergabung di Super Junior”, jawabnya. Aku memiringkan kepala sejenak, “Super Junior? Bukankah membernya sudah sampai 12 orang?”, ucapku. Kyuhyun menghela nafas datar, “Hahh~begitulah noona. Jika aku bergabung di sana, aku akan menjadi member ke’13. Dari angkanya saja sudah merupakan tanda-tanda kesialan”, jawabnya sambil menyendok kimchi ke piringnya.

AhRa menatapku penasaran, “Super Junior itu group yang ada Siwon’nya, bukan?”, tanyanya antusias. Aku mengangguk ragu, “Uhmm, mungkin. Aku tak hafal member Super Junior. Terlalu banyak. Lagipula aku hanya mendengar isunya dari teman-temanku, sekalipun aku belum pernah melihat performance’nya”, jelasku.

Kyuhyun langsung menyela, “Noona, pokoknya jika aku sudah bergabung di Super Junior, kalian harus tahu segala seluk beluk tentang groupku itu”, ucapnya. Kami langsung tersenyum simpul dan mengangguk pelan, “Ara”.

Sudahlah, jangan mengobrol terus. Habiskan dulu makanan kalian”, ucap Ayah Kyuhyun tegas sehingga membuatku, Ahra dan Kyuhyun langsung diam seribu bahasa.

****

..Februari 2006..

Yang mana dorm’nya?”, tanyaku sambil terus berkonsentrasi mengendarai mobil. Ahra dan Kyuhyun sibuk menengok keluar jendela, mencoba menemukan dorm Super Junior yang akan menjadi tempat tinggal Kyuhyun untuk sementara. “Ah~ noona!! Itu..Itu..Itu”, ucapnya sambil menunjuk ke satu apartemen. AhRa mengecek alamat yang ada di kertas dan mengangguk yakin, “Ahh..benar! Itu dia alamatnya”,ucap Ahra dan aku segera menghentikan mobil tepat di apartemen itu.

Kyuhyun mengeluarkan koper dari bagasi dan berkata pelan, “Noona, antarkan aku~”. Aku mengernyitkan alis heran, aisshh..dia memang amat manja pada Ahra. (=A=). Ahra mendesah kesal dan menatapku, “Yeon-ah, temani aku!”, ucapnya dan segera menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam apartemen.

Aku mencoba melepaskan tangannya, “Shireo!! Aku diam di mobil saja”, tolakku. Tapi Ahra dan Kyuhyun langsung menyerangku dengan pandangan puppy eyes. (*w*) <– (pandangan seperti ini). Aishhh, kakak beradik ini memang paling pintar memaksa seseorang untuk mengikuti keinginan mereka. Dan akhirnya, aku ikut mengantarkan Kyuhyun ke dalam apartemen.

“302″, gumam Kyuhyun sambil memperhatikan nomor di depan pintu itu. Dia menarik nafas gugup dan kembali menatap Ahra takut, “Noona, pencet bel’nya”, pintanya. Ahra menggeleng kencang, “Shireo!”, ucapnya singkat. Kyuhyun beralih ke arahku, “Yeon noona, tolong aku”, rujuknya. Aku menghembuskan nafas pelan kemudian berjalan maju ke depan pintu dan memencet bel.

TING TONG

“Nuguseyo?”, ucap sebuah suara dari interphone. Kyuhyun mendekati microphone, “Cho Kyuhyun”, jawabnya singkat. Tiba-tiba saja suasana di sana langsung menjadi riuh, aishhh..ada apa ini?

Setelah beberapa saat menunggu di depan pintu, akhirnya ada balasan dari interphone itu, “Ahh~silakan buka pintunya”, ucap suara lainnya. Aku menatap Ahra bingung, “Kita yang buka pintunya?”,tanyaku heran. Heii, bukankah seharusnya tuan rumah yang membukakan pintu untuk tamu’nya?

Ahra mengangkat bahu dan mendorong tubuhku untuk membuka pintu dorm itu. Kyuhyun juga menatapku penuh harap, aissh..aku memang paling tak tahan jika menghadapi pandangan itu. (>A<)

Aku membuka pintu itu dengan perlahan dan saat pintu itu sudah terbuka lebar, tiba-tiba saja…

PLASSHHH!!

Cairan berwarna merah itu mengguyur wajahku dan kini merembes ke bajuku. Aku masih shock tak percaya, cairan ini..cat?!

“Welcome to Super Junior!!!”, teriak suara itu serempak. Aku menengadah ke sumber suara itu dan terlihat beberapa namja sedang membawa ember dan karton bertuliskan “welcome,Kyuhyun!!!”.

“Sooyeon-ah!!! Gwenchana?!”, Ahra langsung menghampiriku dan menatapku khawatir. Kyuhyun ikut melihat kondisiku dan membuat beberapa namja itu langsung melongo tak percaya, “Kau..Kyuhyun?”, tanya salah satu diantara mereka sambil menunjuk ke arah Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk singkat dan kini pandangan mereka beralih kepadaku, “Lalu..ini siapa?”.

Aku memandang mereka dengan beringas, “Aku..bukan Kyu…”

“Welcome~!!!!”, seruan itu dibarengi dengan guyuran tepung dan bau amis..TELUR?! Aishhh~apalagi ini?! (>X<)

Ahra dan Kyuhyun melongo parah melihat kondisiku sedangkan sekumpulan namja itu langsung menengok cepat ke seorang namja yang baru datang dari luar dorm dan kini memegang baskom yang telah kosong karena isi baskom itu sudah berpindah ke tubuhku!!!

“Yesung hyung~!!! Dia bukan target kita!!!”, seru namja mungil di antar mereka dan membuat ‘tersangka’ itu menatapku datar, “Ohh~jinjja? Mianhae”, ucapnya sambil menepuk bahuku pelan dan beranjak pergi dengan langkah ringan.

Aku menatapnya tak percaya, Hanya itu permintaan maafnya setelah menambah penderitaanku dengan bau amis ini?! (OAo)

“Ahra-ya, Ottokhe?”, rengekku dan beranjak memeluknya tapi dia langsung menghindar, “MENJAUH!! JANGAN MENDEKATIKU~!!”

Kejam!! Bukankah dia yang menyuruhku ‘berkorban’ untuk masuk ke ‘lubang neraka’ ini?!

***

“Palliwa, Yeon-ah. Aku takut dibunuh oleh Kyu”, desaknya dari ruang tengah. Aku menggumam pelan dari dalam kamar dan memasukkan dompet dan handphone kedalam tas jinjingku.

Saat aku keluar kamar, aku melihat Ahra sedang berdiri terpaku di depan sebuah figura fotoku dan Yesung saat aku menghadiahkannya ddangkoma sebagai hadiah anniversary ke’3 kami. Aku berdehem pelan dan membuatnya agak terkejut, “Ah, sudah selesai? Kalau begitu, ayo kita segera berangkat”, ucapnya dan beranjak mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari rumahku.

Aku menatap langkahnya dengan pandangan kosong dan menghela nafas dalam, Apa dia masih menyukainya?

***

“Bagaimana? Bajunya cukup kan, Sooyeon-ssi?”, tanya namja mungil yang mengenalkan dirinya sebagai Ryeowook. Aku mengangguk pelan dan menatapnya sekilas, “Kamsahamnida, Ryeowook-ssi. Akan segera kukembalikan padamu secepat mungkin”, balasku.

Ryeowook menggeleng,”Ah, jangan khawatir. Santai saja, toh baju itu sudah mulai kekecilan untukku”, jawabnya dan membuatku menggumam pelan. Aku menatapnya lagi, “Boleh pinjam sisir?”, tanyaku dan dia langsung beranjak ke sebuah meja kemudian membawakan sebuah sisir.

“Kau..tidak marah pada kami, kan?”, tanyanya hati-hati. Aku hanya tersenyum sekilas sambil masih menyisir rambutku, “Hanya sedikit”, jawabku bohong. Aishh, bagaimana bisa aku tidak marah setelah mereka menyerangku dengan cat dan tepung bertabur telur itu?! (>M<)

Ryeowook memandangku menyelidik, “Jeongmal?”, tanyanya. Aku mengangguk pelan, “Yaa, begitulah”, jawabku dan mencoba untuk menghindari pandangannya. Aishh, bagaimana bisa ada namja seimut dia? (>///<)

Tiba-tiba saja Ahra sudah menengok ke dalam kamar tempatku dan Ryeowook berada, “Yeon-ah, sudah selesai?”, tanyanya. Aku mengangguk dan beranjak meninggalkan kamar ini.

Saat aku keluar kamar, aku melihat namja lainnya sedang berbaris rapi menghadapku dan mereka langsung membungkuk berbarengan, “Jwosonghamnida, Sooyeon-ssi. Kami tadi hanya berniat untuk menyambut Kyuhyun saja”, ucap namja yang bertubuh besar. Aku mengangguk dan tersenyum simpul, “Gwenchana. Aku bisa paham alasan kalian”, jawabku singkat dan Ahra juga ikut mengangguk. Aishh, untuk apa dia ikut-ikutan mengangguk? . Dia kan tidak merasakan cat dan bau amis telur itu. :(

Mereka mengantarkan kami sampai ke pintu depan, aku dan Ahra langsung membungkuk sopan. “Kamsahamnida. Tolong jaga Kyuhyun dengan baik”, ucap kami berbarengan. Mereka juga balas membungkuk dan mengangguk paham.

Ahra segera berbalik dan mempersilakanku untuk berjalan duluan. Aku membuka pintu dorm ini dan tiba-tiba saja…

PLOOKK

Sepiring jjajangmyun itu sudah berpindah menempel ke bajuku. Aku menatap lurus ke depan dan melihat pria ‘tersangka’ itu terpaku melihat jjajangmyun’nya yang jatuh. “Jjajangmyun milikku…”, ratapnya sedih.

Aku menatapnya tak percaya, PRIA INI LAGI?!

Sebelum para namja itu kembali menanyakan keadaanku, aku segera menarik tangan Ahra untuk segera keluar dari dorm ini. Aishhh, aku tak mau kemarahanku meledak di sini!!!

PRIA AUTIS!!

Saat kami sedang ada di elevator, Ahra menggumam pelan, “Dia..unik ya?”. Aku menatapnya bingung, “Nugu?”, tanyaku.

Dia menunjuk ke arah bajuku yang kotor karena bumbu jjajangmyun tadi, “Itu..pria yang melakukan semua itu padamu”, ucapnya dan terkekeh pelan.

Aku membelalak tak percaya, “Kau..suka padanya?”. Ahra mengangkat bahunya ringan, “Uhmm, molla”, ucapnya sambil tersipu malu.

Aku menggeleng heran, “Kalian memang kakak beradik yang aneh. Jinjja!”

****

“Bagaimana bisa kau menjatuhkannya hingga rusak seperti ini?!”, tanyaku sambil menimbang PlayStation3 yang dibawanya dari rumah. Ahra mengangkat bahu, “Molla. Saat aku sedang mengambil majalah yang ada di kamarnya, tiba-tiba saja barang itu ikut jatuh”, rengeknya.

Aku menghela nafas dalam dan menatap ke arahnya dengan prihatin, “Aku akan sering-sering datang ke makam’mu jika kau dibunuh oleh Kyu”, ucapku dan menepuk bahunya pelan. Ahra membelalak menatapku, “Ya! Kau mendoakanku supaya aku dibunuh oleh adikku sendiri?!”, tanyanya tak terima.

Aku terkekeh pelan, “Yahh, setahuku..bukankah perkakas game’nya ini lebih penting dibandingkan kakaknya sendiri?”, ucapku dan kembali menaruh PlayStation itu ke dalam kotaknya. Ahra mengangguk terpaksa, “Aissh, kau benar! Aku bahkan tak lebih berharga dibandingkan tumpukan kaset game’nya”.

Aku menggeleng-geleng heran dan pandanganku langsung tertarik ke sebuah toko elektronik, “Ahra-ya, bagaimana jika kita ke situ saja?”, usulku. Ahra menatap toko itu sekilas dan mengangguk setuju. “Kkaja”.

Kami keluar dari mobil dan segera menuju toko itu. Tapi tepat saat kami sudah masuk ke dalam toko, Ahra menepuk dahinya, “Aigoo~contoh PS3′nya masih ada didalam mobil!!”. Aku menahan langkahnya saat dia akan kembali ke mobil, “Biar aku saja yang ambil”, tawarku. Ahra tersenyum senang dan mengangguk, “Gomawo”, balasnya.

Aku berjalan pelan menuju mobil sambil merapatkan cardigan hitam’ku. Aissh, aku lupa membawa sweater atau jaket tebal milikku. (T.T). Dasar Sooyeon, makin lama kau makin pelupa! (>M<)

Aku membuka pintu mobil dan mengambil kotak PlayStation itu. Tapi tepat saat aku akan menutup pintu, aku melihat handphone Ahra berbunyi dan menunjukkan sebaris nomor yang amat kukenal. Itu..nomor Yesung?

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil handphone itu dan membuka SMS yang masuk,

Sender : Sungie_Sungie

16 Mei 2010, 12:45:29

Bukankah sudah kuingatkan untuk membawa mantel tebal? Bagaimana jika kau sakit? Aku tak bisa melakukan hal ini sendirian!. Oya, jangan lupa janji kita untuk bertemu setelah performance. :)

Aku menatap pesan itu dengan tak percaya dan segera keluar dari mobil untuk kembali masuk ke dalam toko. Aku menatapnya nanar, ya..benar, dia tak memakai mantel yang biasa dipakainya. Persis seperti isi sms barusan.

Ahra menengok ke arahku dan tersenyum penuh terima kasih, “Gomawo, Yeon-ah”, ucapnya dan mengambil kotak itu dari tanganku. Aku mengangguk singkat dan tersenyum simpul, “Cheonmane. Jika kau yang mengambilnya sendiri, kau pasti kedinginan. Bukankah kau tak memakai mantel’mu?”, ucapku sinis.

Ahra menatap tubuhnya dan mendesah pelan, “Ahh, benar. Saking buru-buru’nya, aku sampai lupa membawa mantel’ku”, jawabnya. “Tapi, kau juga hanya memakai cardigan tipis itu, Yeon-ah”, lanjutnya lagi dan beranjak pergi untuk menanyakan sesuatu pada pemilik toko ini.

Aku mengangguk pelan dan hampir tak mendengar ucapannya lagi karena otakku sudah dipenuhi berbagai pertanyaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubungan Ahra dengan Yesung?

Aku membuka tas’ku dan mengambil handphone dari dalamnya. Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum meng’sms nya.

To : Ddangkoma_Appa

16 Mei 2010, 12:52:39

Bisa bertemu setelah Inkigayo selesai?

Sender : Ddangkoma_Appa

16 Mei 2010, 12:55:56

Mian, setelah Inki selesai, aku ada janji. (T.T) bagaimana jika sebelum aku tampil saja?

Aku terkekeh perih dan menggeleng pelan, Sudah pasti..janji Yesung itu adalah bersama Ahra.

To : Ddangkoma_Appa

16 Mei 2010, 12:58:06

Ah, gwenchana. Lain kali saja. Fokuslah dengan latihanmu. :) . Hwaiting.

Sender : Ddangkoma_Appa

16 Mei 2010, 13:00:21

Ara. Saranghae.

Aku menaruh handphone itu ke dalam tas dan menatap Ahra yang sedang membayar sekotak PlayStation3 yang baru itu. Ya, siapa yang akan menyia-nyiakan seorang yeoja cantik dan manis seperti Ahra? Lagipula, mungkin dia jenuh setelah 3 tahun bersamaku?

Ahra mendekatiku sambil membawa sekantung plastik yang berisi PlayStation itu. “Berhasil!! Aku tak akan dibunuh olehnya! Kkaja~”, ucapnya semangat sambil menarik tanganku menuju mobil, “Ppaliwa~ bukankah kau akan ke gedung SBS?”, tanyanya lagi. Aku mengangguk pelan dan dia langsung melanjutkan ucapannya, “Sampaikan salamku untuk Kyuhyun”.

Aku menatapnya lagi, “Hanya untuk Kyuhyun?”, tanyaku menyelidik. Ahra menatapku polos, “Memang harus pada siapa lagi?”, ucapnya ringan.

****

Aku sudah berdiri di depan pintu dorm ini sambil menenteng sebuah kantung yang berisi baju milik Ryeowook. Kuhela nafas dalam-dalam dan memencet bel beberapa kali, tapi tetap saja tak ada jawaban. Aishh, kemana mereka?

Hampir 5 menit aku berdiri di depan pintu ini dan masih belum ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk menaruh kantung itu di depan pintu, biarlah..mungkin nanti Ryeowook akan sadar bahwa itu adalah bajunya.

Setelah aku menaruh kantung itu, aku langsung berbalik untuk pulang, tapi..

“OMMONA!!”, teriakku saat melihat pria autis ini berdiri santai tepat dibelakangku sambil memakan sebuah es krim. Sejak kapan dia ada di belakangku seperti ini?!

“Sedang apa kau disini?”, tanyaku dengan masih sedikit shock. Apa dia ini ninja, hingga bisa menyembunyikan hawa kehadirannya?! (>M<)

Dia menunjuk ke arah pintu, “aku ingin masuk ke dalam dorm. Wae?”, tanyanya lagi. Aku mengernyit heran, “dari tadi kau ada di belakangku?”. Dia mengangguk ringan dan masih asyik memakan es krim’nya. “Ya! Kenapa tak menyapaku? Aku kira tak ada orang di dalam dorm ini!”, rungutku.

Dia mengangkat bahu dan berjalan melewatiku, “Aku kira kau cukup kreatif untuk membuka pintu dorm ini”, ucapnya sambil langsung membuka pintu dengan santai. Heh? Jadi dari tadi pintunya tidak dikunci?! (OAo)

Aku mendengus kesal, “Baiklah, urusanku sudah selesai. Tolong berikan ini kepada Ryeowook-ssi”, ucapku sambil menyerahkan kantung ini. Dia malah menarik tanganku untuk masuk ke dalam dorm, “silakan masuk dan lakukan urusanmu sendiri, Sooyeon-ssi”,jawabnya. Aku menatapnya tak percaya, heii..sebegitu susahnya kah untuk menolongku mengembalikan baju ini?! (>A<)

Akhirnya aku beranjak menuju kamar Ryeowook dan menaruh kantung itu di salah satu meja yang ada di situ. Setelah itu, pandanganku langsung tertuju pada sebuah keyboard yang terletak di sudut kamar. Aishh, aku sudah lama tak memainkan keyboard~ (>w<). Rasanya aku terlalu sibuk dengan segala tugasku di tempat kerja hingga sudah lupa kapan terakhir kali aku memainkannya.

Aku menengok keluar kamar dan bertanya pada pria autis itu, “Tuan, boleh aku memainkan keyboard ini? Sebentar saja”, tanyaku meminta izin. Dia menatapku sekilas kemudian menyelidik, “Kau..bisa bermain keyboard?”, tanyanya.

Aku menggembungkan pipi sebal, “Tentu saja aku bisa!”,ucapku yakin. Dia mengangguk paham dan beranjak menghampiriku, “jinjja? Aku ingin melihat keahlianmu”, tantangnya.

Aku terkekeh sinis dan mengibaskan rambutku, “Haha~ jangan sampai kau tercengang, Tuan”, ucapku bangga dan beranjak memainkan keyboard itu.

Tepat saat aku ingin memulai sebuah lagu, tiba-tiba dia sudah duduk disebelahku dan otomatis kami duduk berdua dan menghadap keyboard ini. Aku menatapnya heran, “Ya! Kenapa kau disini? Aku jadi tak leluasa memainkannya”, ucapku sambil mendorong tubuhnya untuk segera pergi dari sisiku. Tapi entah kenapa., dia sama sekali tak bergeming dari kursi. Aishh, sepertinya tubuhnya sudah menempel ke kursi. (>M<). “Men..ja..uhhh~!”, desisku sambil masih mendorong tubuhnya.

Dia masih tak perduli dan kini jarinya malah memainkan sebuah melodi dan kutahu..lagu ini, Falling slowly.

I don’t know you, but I want you

All the more for that

Entah mahluk apa yang merasuki tubuhku atau karena naluri musik yang ada di tubuhku, aku malah ikut menyanyi dengannya.

Words fall through me, and always fool me

And I can’t react

Oke, kalian boleh anggap aku gila. Tapi, aku benar-benar ‘terpesona’ dengan suara pria autis ini. Setiap alunan nada yang keluar dari mulutnya, benar-benar membuatku tercengang. Jari-jari tangannya yang menari indah di atas tuts piano ini makin membuatku..nyaman? Aishh, entahlah. Rasanya benar-benar seperti membayangkan suara ‘cupid’ yang tengah menyanyikan lagu untukku. :)

“Terpesona?”, tanyanya saat lagu itu berakhir. Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menggeleng kencang, “Tidak”, ucapku singkat.

Dia tersenyum simpul dan terkekeh pelan, Aigoo..aku baru sadar jika saat dia tersenyum, maka matanya akan membuat eye smile yang lurus dan lucu. (>////<) Omma, Ottokhe? Jantungku berdebar kencang!

Melihatku yang agak tercengang, dia langsung berkata singkat, “Mulai menyukaiku?”, tanyanya langsung. Aku menelan ludah gugup dan menggeleng lagi. Aishhh, sudah tak terhitung berapa kali aku menggeleng di depannya!!. “Jinjja?”, tanyanya menyelidik. Aku bingung harus bagaimana~?!! (>M<)

“Yeon noona?”, ucap sebuah suara dan aku melihat Kyuhyun sedang menatapku dan pria autis ini dengan pandangan heran. “Kalian..sedang apa? Berdua di dalam kamar dengan dorm yang sedang kosong?”, tanyanya curiga.

Aku membelalak lebar saat mendengar ucapannya, “Anii, Kyu. Bukan seperti itu”, ucapku panik. Aishhh, kenapa malah seperti ini? Arghh, pria autis ini memang selalu membawa sial untukku!!

Tiba-tiba pandangan Kyu langsung berbinar, “Ahh~arasseo. Aku tak ingin mengganggu waktu berdua kalian. Aku pergi lagi!! Annyeong Yesung hyung, Yeon noona!!”, serunya dan pergi meninggalkan kami. Aishh, anak bodoh!! Kenapa dia malah membiarkan kami berdua lagi?!

Aku melirik jam tanganku, aigoo..hampir jam 3?! Ommona, aku bisa terlambat mengajar ke tempat kursus musik!!! Ottokhe? Ini hari pertamaku mengajar di sana! Masa iya aku sudah membuat kesan negatif dengan terlambat di hari pertamaku mengajar?!

Aku beranjak bangkit dari kursi dan menatap ke arah Yesung, “Oke, urusanku benar-benar sudah selesai. Aku harus pulang sekarang juga”, seruku. Tapi Yesung menatapku heran, “Sekarang? Tapi diluar..”, ucapnya sambil membuka tirai jendela dan ternyata diluar memang hujan deras!! Aishh, ottokhe? Mobilku sedang diservis!! (>A<)

Aku menatapnya segan, “Boleh pinjam payung?”, tanyaku. Dia menggeleng singkat, “Tak ada payung”. Aku membelalak tak percaya, mana ada rumah yang tak memiliki payung?! Tapi Yesung langsung mengambil sebuah kunci dari sebuah lemari dan berkata santai, “Ayo, kuantar kau pulang”.

Aku membelalak lebar dan menggeleng kencang, “Ah~tidak usah. Aku bisa naik bis sa..”, tiba-tiba mataku melirik ke jam dinding yang tergantung. Jam 3 kurang 10 menit?! (OAo). Tidak!! Naik bis’pun tak akan bisa mengejar waktu!

Akhirnya dengan menekan segala harga diri yang ada di diriku, aku langsung menarik tangan Yesung untuk segera keluar dari dorm. “Baiklah, antarkan aku sekarang juga!!”.

***

Mobil Ahra berhenti di depan gedung SBS dan aku segera melepaskan sabuk pengamanku, “Gomawo atas tumpangannya”, ucapku. Ahra mengangguk dan tersenyum simpul, “Jangan lupa sampaikan salamku pada Kyu”, ingatnya lagi.

Aku menggumam paham dan menatapnya ragu, “Ahra-ah, kau..tidak benci padaku kan?”, tanyaku. Dia menatapku heran, “Benci? Wae?”.

“Tentang Yesung”, ucapku hati-hati. Air wajah Ahra langsung berubah menjadi muram, “Aishh, kalaupun aku benci padamu, rasanya akan percuma. Sudah terlambat 3 tahun jika aku membencimu sekarang”, ucapnya sambil menjitak kepalaku pelan. Aku menatapnya ragu, lalu apa arti sms dari yesung itu?

“Ahra-ah, kau bisa menjemputku nanti?”, tanyaku memastikan. Ahra menggeleng, “Mian, aku ada janji nanti sore dengan seseorang yang penting”, jawabnya dan membuat hatiku langsung mencelos. Jinjja, apa maksudnya semua ini? Apa yang mereka sembunyikan dariku?!

***

Aku berdiri di depan pintu masuk apartemen ini sambil mengeratkan jaketku. Aishh, kenapa hujannya sederas ini?! Padahal cuaca tadi siang masih cerah kok. (>A<). Aku menatap tak sabar ke arah tempat parkir. Kemana perginya dia? Kenapa lama sekali untuk mengambil mobilnya?! Aigoo, tinggal 10 menit lagi menuju jam 3!!!

DDINN..DDINN..

Tiba-tiba saja sebuah motor vespa mungil ini berhenti di hadapanku dan sang pengemudi yang memakai jas hujan itu langsung tersenyum ke arahku, “Naiklah~”, ucapnya agak berteriak. Aku menatapnya tak percaya, “Kita naik motor?! Di hujan deras seperti ini?!”, teriakku. Dia mengangguk dan melemparkan sebuah helm padaku, “Palliwa, bukankah kau bilang harus segera sampai di tempat kursus sebelum jam 3? Kalau naik mobil, tak akan sempat!!”, balasnya.

Aku menghela nafas kesal dan akhirnya berlari ke arahnya. “Masuk ke dalam jas’nya!!”, suruhnya dan aku segera melakukan perintahnya. “Sudah siap?”, tanyanya lagi.

“Oke!”, jawabku singkat dan tiba-tiba saja motor ini langsung melaju kencang di tengah deras hujan ini. “Ya!! Kau mau membunuhku?”, teriakku sambil memukul punggungnya. Tapi tangannya segera menarik tanganku dan melingkarkannya ke pinggangnya, “Pegangan yang erat jika kau tak mau jatuh!!”, serunya.

Aku shock sejenak dan bisa kurasakan wajahku memanas. Tapi, jujur saja..memeluknya seperti ini membuatku merasa..nyaman dan aman.

***

“Sooyeon-ah”, seru beberapa yeoja sambil melambai ke arahku. Aku balas melambai dan berjalan pelan ke arah mereka, ya..mereka sama sepertiku. Merekalah yeojachingu dari member SJ yang lain. Ada Sangmi Onnie, Yoonri Onnie, Kyuna Onnie, Nari, Cherry, Soora, Leena dan Nara.

Mereka tampak sibuk membicarakan tentang kondisi pacarnya masing-masing, sedangkan pikiranku masih dipenuhi tentang Yesung dan Ahra. Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?!

Yoonri onnie menepuk bahuku pelan, “Sooyeon-ah, gwenchana? Kau kelihatan pucat”, tanyanya khawatir. Aku tersenyum lemah dan menggeleng, “Gwenchana, onnie. Tenang saja”, ucapku menenangkannya. Yoonri onnie mengangguk paham dan mengelus kepalaku lembut, “Ada hal yang kau khawatirkan?”, tanyanya.

Aku tersenyum menatapnya. Aishh, Yoonri onnie memang sangat perhatian pada dongsaeng-dongsaengnya yang lain. (^A^). Aku menghela nafas dalam dan memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu padanya, “Onnie, jika kau harus memilih cinta dan persahabatan, mana yang akan kau pilih?”

Dia berpikir sejenak dan kemudian menjawab tegas, “Sooyeon-ah, kau tak akan bisa memilih. Karena cinta dan persahabatan adalah 1 paket yang sama. Kau akan mendapatkan keduanya atau malah akan kehilangan keduanya“,ucapnya dan mencubit pipiku pelan. Aku merenung memikirkan kata-katanya, Ya..itu benar, ini bukan cerita dongeng, dimana aku bisa memilih cinta dan persahabatanku akan tetap terjaga baik. Ini kehidupan nyata dimana akan ada resiko di tiap pilihan yang kubuat. Arggh, Ottokhe?

“Wae? Kau ada masalah dengan Yesung?”, tanyanya memastikan. Aku menggeleng dan tersenyum simpul, “Anii, Onnie. Hubunganku dan dia baik-baik saja. Sangat amat baik, malahan”.

****

“Kita sampai!!”, serunya seiring dengan motornya yang ikut berhenti. Aku melepaskan pelukanku dari pinggangnya dan segera keluar dari dalam jas hujannya. “Ahh~gomawo, Yesung-ssi”, ucapku singkat dan segera pergi meninggalkannya.

Aku buru-buru masuk ke dalam tempat kursus itu dan melirik jam yang tergantung di ruang tunggu. Jam 3 kurang 15 detik!! Yesss, aku berhasil!!!😄

“Ahh~permisi. Aku Cho Sooyeon, tenaga pengajar baru untuk level Beginner”, ucapku sopan pada resepsionist yang ada di ruang tunggu. Dia mengangguk dan menunjuk ke satu ruangan, “Silakan ke ruangan anda. Murid-murid anda sudah menunggu”, ucapnya.

Aku segera berlari ke ruangan itu dan saat membuka pintu, aku melihat anak-anak itu menatapku heran sekaligus terkekeh pelan. Aku tersenyum kaku dan membungkuk singkat, “Annyeonghaseyo. Cho Sooyeon imnida, saya akan menggantikan guru kalian yang sedang cuti selama 2 bulan. Bangapseumnida”, ucapku gugup dan anak-anak itu masih terkekeh sambil menunjuk ke arahku. Hah? Ada apa ini? Apa ada yang salah dengan penampilanku?

BRAKKK

Tiba-tiba saja pintu terbuka dan terlihat Yesung yang basah kuyup. Dia menatapku geli, “Sooyeon-ssi, bisa tolong kembalikan helm’ku?”, tanyanya sambil menunjuk ke kepalaku. Aku membelalak lebar dan meraba kepalaku. BINGO!! Helm ini masih setia menempel di kepalaku. (>////<)

Anak-anak itu langsung tertawa terbahak dan membuatku makin menundukkan kepala. Aisssh, Cho Sooyeon, kau bodoh!! Malah meninggalkan kesan pertama yang memalukan didepan murid’mu! (–__–)

“Sonsaengnim, apa dia pacarmu?”, tanya salah satu diantara mereka sambil menatap ke arah Yesung. Aku langsung tersedak dan murid lainnya langsung berteriak riuh pada kami. Sedangkan Yesung hanya menggaruk kepalanya bingung.

“Tapi, dia mirip Super Junior Yesung”, ucap murid lainnya. Aku membelalak lebar, begitupun dengan Yesung. Aigooo~matilah aku jika sampai identitasnya terbongkar dan menjadi gosip yang tak benar!!

“Ahh~tidak mungkin. Yesung Oppa itu lebih tampan dibandingkan dia”, ucap anak lainnya. Aku tertawa tertahan sedangkan Yesung langsung menatapnya tidak terima. “Ya! Apa kau bilang? Aku ini Kim Joong..”, kata-katanya langsung terpotong karena aku langsung menutup mulutnya dan mendorong tubuhnya untuk keluar dari kelasku, “Kau mau membuat seisi kelas mengira macam-macam?! Sudahlah, tunggulah diluar, akan kutemui kau sesudah kelas berakhir”.

****

“Kamsahamnida, Sonsaengnim”, ucap murid-muridku serempak sambil membungkukkan badan. Aku membalas singkat dan tersenyum simpul, ahh..ternyata mengajar itu tak sesulit yang kubayangkan. Aku merapikan buku’ku dan memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba saja perutku berbunyi, aishh..benar, aku belum makan siang tadi.

Aku keluar dari kelas sambil memegang perutku. Uhmm, apa yang harus kupilih untuk makan nanti ya? (–_–). Ramyun? Aishh, bosan..bosan. Samgyupsal? Tidak, uangku langsung ludes nanti. Samkyetang? Uhmm, ide yang cukup bagus. Selain harganya yang ‘medium’, porsi samkyetang itu cukup untuk mengganjal perutku. :D

Aku membungkuk sopan ke arah resepsionist tadi dan berjalan pelan ke luar gedung. Tapi..

DDINN..DDINN..

Aku mendengar bunyi klakson itu mendekatiku dan lagi-lagi senyuman yang kukenal itu langsung menyapaku. Dia langsung melempar helm’nya ke arahku, “kkaja! Paegopha~”, ucapnya sambil mengelus perutnya. Aku tersenyum samar, “Masih menungguku?”, tanyaku sambil beranjak ke arahnya. Dia mengangguk, “Bukankah tadi kau bilang untuk menunggu hingga kelasmu selesai?”, ucapnya santai.

Aku menggumam, “Kau memang penurut”, ucapku dan membuatnya terkekeh. “Ayolah naik~ setelah makan, akan kuantar kau pulang”, balasnya. Aku segera naik ke jok motornya, “Oke, aku siap”, ucapku sambil mengunci tali helm’ku. Yesung menengok ke arahku, “kau ingin jatuh?”, tanyanya.

Aku menggembungkan pipi sebal dan maju mendekati punggungnya kemudian melingkarkan tanganku di pinggangnya, “Ini kan maksudmu?”, tanyaku basa-basi. Dia mengangguk dan menepuk-nepuk tanganku, “Johta. Kau memang pintar”, ucapnya santai.

Saat motor berjalan, lama-lama aku bisa merasakan bahwa baju Yesung masih basah dan tangannya saat menepuk tanganku tadi benar-benar dingin. Aishh, tentu saja, dia kan basah kuyup saat mengantarku tadi. (T.T)

“Stop!!”, seruku tiba-tiba dan membuatnya langsung mengerem mendadak, “Waeyo?”, tanyanya heran. Aku melepaskan mantelku dan menyampirkannya di bahu’nya, “Ini, pakailah! Aku tahu kau pasti kedinginan kan?”, ucapku.

Dia menatapku khawatir, “Keundae, bagaimana denganmu?”, tanyanya. Aku melingkarkan tanganku lagi ke pinggangnya, “Begini juga sudah cukup hangat”, jawabku. Dia tersenyum simpul dan memakai mantelku di tubuhnya, haaah..untunglah mantelku ini muat di tubuhnya. (^w^)

“Oke, kkaja!!!”, serunya dan langsung menancap gas dengan tiba-tiba sehingga membuatku segera memeluk pinggangnya untuk mencegahku terjatuh. “Ya! Kau benar-benar ingin membunuhku?!!”

Dia terkekeh sejenak dan bertanya padaku, “Kau ingin makan apa?”. Aku menggumam pelan, “Tergantung. Jika kau ingin mentraktirku, maka aku ingin makan samgyupsal. Tapi jika tidak, aku ingin makan samkyetang”, jawabku sambil masih tetap melingkarkan tanganku di pinggangnya. Uwahh, udaranya mulai dinginn~!!! (>A<)

Yesung terdiam sejenak dan akhirnya menjawab dengan agak berteriak karena angin yang menerpa motornya, “Baiklah, akan kutraktir kau samgyupsal! Anggap saja ini sebagai persembahanku di hari pertemuan kita!”, jelasnya sambil menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya. “Keurae, Sooyeon-ah?”, lanjutnya.

Aku merasakan wajahku langsung memanas dan darah di tubuhku langsung berdesir. (>////<). Tapi tak urung, aku mengangguk pelan dan makin mengeratkan pelukanku di pinggangnya. “Ya, terserah kau saja, Oppa”.

Kata orang-orang, perbedaan antara cinta dan benci itu bahkan lebih tipis dari selembar kertas usang. Dan, hari ini aku menyadari bahwa omongan mereka itu memang benar adanya.

****

Setelah acara Inkigayo selesai, aku langsung beranjak ke waiting room para member. Aku ingin menanyakan pada Yesung langsung mengenai hubungannya dengan Ahra. Aku tak bisa menahan rasa penasaranku ini lagi.

Karena sering ke gedung SBS ini, aku sudah hafal tentang susunan waiting room para artis. Tak perlu waktu lama hingga akhirnya aku menemukan ruang tunggu member Super Junior. Ada beberapa staff SBS yang mencurigaiku saat mendekati waiting room Super Junior, tapi aku langsung mengeluarkan sebuah kartu pengenal yang bertuliskan Super Junior Staff, dan mereka mengangguk paham hingga tak mencurigaiku lagi. Ahh~untunglah aku mendapatkan kartu ini dari Kyuhyun. (=w=)

Saat aku masuk ke dalam waiting room, aku melihat semua member kecuali Yesung dan Kyuhyun. Arggh, kemana dia? Apa dia langsung pergi menemui Ahra?

Sungmin yang pertama kali menyadari kehadiranku langsung menyapaku sopan, “Ahh~Sooyeon noona, Annyeonghaseyo”, ucapnya. Aku membalas singkat dan tak lama, member lainnya beranjak menyapaku juga. “Ahh~ Oppa, apa kalian melihat Yesung?”, tanyaku. Mereka langsung berpandangan satu sama lain dan akhirnya mengangkat bahu, “Bukankah dia pergi menemuimu? Tadi dia langsung pergi setelah bilang bahwa dia ada janji penting”, jelas Leeteuk.

Aku langsung mendesah kecewa dan menunduk dalam, ahh..ya, pasti dia sudah ada di tempat lain bersama Ahra. Aku terlambat!

Akhirnya aku tersenyum terpaksa pada member lainnya, “Ahh~ye, algessemnida. Mungkin dia ada urusan penting dengan orang lain. Mian mengganggu kalian”, ucapku dan beranjak meninggalkan waiting room. Aku mencoba tak mempedulikan pandangan curiga dari para member. Ahh~sudahlah! Aku pasrah~! Terserah dia ingin melakukan apapun dan dengan siapapun!

Aku meninggalkan gedung SBS dengan langkah gontai dan menghentikan sebuah taksi. “Myungsan, 116″, ucapku lemas dan supir itu mengangguk paham kemudian menjalankan mobil itu perlahan.

Aku mendesah dalam dan menatap jalanan di luar dengan hampa. Ottokhe? Bagaimana jika mereka berdua benar-benar memiliki hubungan seperti yang kuduga saat ini? Apa yang harus kulakukan?!

“Nona, kita sudah sampai”, ucap supir itu dan membuyarkan semua lamunanku. Aku tersentak sejenak dan akhirnya mengangguk, “Ah, ye. Kamsahamnida, ahjusshi”, ucapku dan mengeluarkan beberapa lembar uang 1000 won.

Hingga akhirnya taksi itu beranjak pergi, aku masih berdiri terpaku di depan rumahku sendiri. Ahh~jinjja, aku tak ingin kembali ke rumah! Aku ingin pergi ke tempat lain, yang pasti jangan ke rumah!! (>A<). Aku menengok ke jalanan, tapi sama sekali tak ada taksi yang lewat. Arggh, sudahlah, lebih baik aku jalan kaki saja.

..Daniel, Daniel, Daniel, I love You, I need You..

Handphone’ku bergetar. Ada SMS?

Sender : Ddangkoma_Appa

16 Mei 2010, 18:08:56

Mianhae, aku sudah membohongimu selama ini. Kembalilah ke rumah, ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.

Aku merasakan mataku mulai panas dan berair. Inikah akhir dari segalanya? Setelah semua yang terjadi selama 3 tahun ini?

Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ayolah, Cho Sooyeon, kau bukan yeoja penakut dan cengeng seperti ini kan? You must’ve brave, girl!. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah dengan langkah lunglai. Entahlah, biarpun aku mengatakan bahwa aku siap untuk menerima apapun yang terjadi tapi tetap saja aku tak yakin bahwa aku bisa menjalani hari-hari nanti tanpanya.

Tanpa kusadari, aku sudah sampai di depan rumahku dan aku melihat ada mobil Ahra di depan garasi milikku. Ahh~dia ada di sini juga? Oke, baiklah..segalanya sudah jelas sekarang. Hal itu pasti akan terjadi, Sooyeon. Kau harus bersiap untuk menerima segala hal yang terburuk.

Aku menahan air mata yang berontak untuk mengalir di pipiku dan memutar kenop pintu perlahan. Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum pintu itu terbuka lebar. Dan anehnya, rumahku ini dalam keadaan gelap. Sama sekali tak ada lampu yang menyala. Ada apa ini?!

Aku berjalan pelan menuju saklar lampu. Tapi aku bisa mendengar suara bisikan itu, “Hei, dia sudah masuk?”, desis sebuah suara.

“Mana kutahu. Bukankah kau yang bertugas menjaga pintu?”, ucap suara lainnya. Aku mengernyit heran, suara itu..aku tahu siapa pemilik suara-suara itu.

Aku masih berjalan pelan tanpa menimbulkan suara dan mereka masih beradu pendapat, “Aissh, sudahlah. Kembali ke pintu, bisa gawat jika dia tiba-tiba masuk tanpa sepengetahuan kita”, desis suara yang tadi.

“Ck, kau memang menyebalkan! Hanya bisa menyuruh saja, Yesung-ah. Untung saja aku tak jadi suka padamu”, ucap suara halus itu. Aku makin heran, apa yang mereka berdua lakukan di tengah kegelapan ini? Dan apa maksud ucapannya barusan?

Aku meraba dinding di sampingku dan menemukan saklar lampu yang sedari tadi kucari. Dengan penuh penasaran, aku memencet saklar itu dan..

CKLEKK

Mereka berdua langsung terpaku saat melihatku yang sedang berdiri di hadapan mereka. Sedangkan aku juga terpaku melihat kondisi rumahku saat ini. Balon yang bertebaran di mana-mana, pita yang terhias rapi di tiap sudut ruangan, dan Yesung yang tengah memegang sebuah kue bertingkat juga Ahra yang sedang memegang terompet dan topi ulang tahun.

Ulang tahun?

“Kenapa kau sudah ada di sini?!”, tanya Ahra kesal dan membanting terompet di tangannya dengan kesal. “Aishh, rencana kami langsung hancur!!”, keluhnya.

Aku masih shock, hari ini..16 Mei? Benarkah?!

“Jigeum, ottokhe?”, tanya Yesung sambil menatap Ahra bingung. Ahra menghela nafas berat tapi kemudian langsung berlari memelukku, “Aaaa~Sooyeon-ah, mianhae!! Rencana kami untuk memberikanmu kejutan ulangtahun’mu jadi berantakan seperti ini~!”, sesalnya.

Aku menatapnya bingung, “Lalu, janji penting yang kalian bilang tadi siang?”, ucapku blank. Mereka mengangguk kompak, “Tentu saja untuk menyiapkan kejutan ulangtahun’mu”, ucap Ahra sambil masih tetap memelukku.

Yesung menatapku senang, “Bagaimana? Kau terkejut?”, tanyanya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Aigoo, aku kira kalian ini memiliki hubungan lain diluar sepengetahuanku!”, ucapku sambil terkekeh pelan, menertawakan kebodohanku.

Ahra menatapku heran, “Maksudmu, aku selingkuh dengan dia?”, tanyanya sambil menunjuk Yesung. Aku mengangguk pelan dan membuat Ahra langsung menjitak kepalaku, “Ya! Untuk apa aku selingkuh dengan pria seperti dia?! Apa tak ada pria lain yang lebih ‘normal’ selain dia?”, ucapnya cepat dan membuat Yesung menatapnya bengis.

Kemudian Yesung langsung mendekatiku sambil membawa kue tart itu, dia bersenandung pelan, “Saengil Chukkaeyo, naui Melody”.

Aku mengusap air mata yang mengalir di pipiku dan tersenyum simpul, “Gomawo”, ucapku padanya dan Ahra. Mereka mengangguk singkat, “Cepat buat permohonan dan tiup lilinnya!”, seru Yesung cepat. Aku langsung menutup mata dan merapatkan kedua tanganku, “Semoga cinta dan persahabatan yang ada di dalam hidupku ini tak akan pernah hilang dan pergi meninggalkanku“.

Aku membuka mata dan segera meniup lilin itu. “Yeeeeey, chukkae!”, ucap mereka dan meniup terompet itu dengan semangat. Aku terkekeh pelan dan memeluk Ahra dengan sayang, “Terima kasih atas segalanya”, bisikku di telinganya. Dia menepuk bahuku lembut, “aku percaya padamu. Jagalah dia baik-baik dan cintailah dia. Arasseo?”, ucapnya.

Yesung berdehem pelan dan membawa sepotong kue tart untukku. “Makanlah, hadiahku ada di dalam kue ini”, ucapnya dan menyerahkan kue ini padaku. Aku menerimanya dan mulai memakannya sampai habis. Tapi mereka menatapku heran saat aku memakan potongan terakhir dari kue ini. “Wae?”, tanyaku sambil menaruh piring kue ini ke atas meja.

Ahra menyikut lengan Yesung, “Kau yakin menaruh cincinnya di dalam potongan kue itu?”.

Yesung mengangguk yakin, “Aku yakin! Aku menaruhnya di kue itu”.

Aku membelalak lebar, “Cincin?!”, tanyaku tak percaya. Aku langsung menyentuh mulutku dan merengek, “Huwaaaa~tadi memang ada benda keras yang masuk ke mulutku, tapi aku kira itu potongan coklat, jadi langsung kutelan!!!!”, isakku.

Yesung dan Ahra langsung menganga lebar dan menghampiriku cepat, “PABOYA!! Bagaimana kau bisa menelan cincin sebesar itu?”, seru Ahra sambil membuka mulutku dan mencoba memasukkan tangannya, sedangkan Yesung langsung menepuk punggungku keras, “Ya!! Keluarkan cincin itu! Itu emas putih asli 13 karat, Yeon-Ah!!!”, paksanya.

Aku langsung menangis kencang, Umma~kenapa ulang tahun anakmu mesti seperti ini?!! (>M<)

*****

6 thoughts on “Diary Of Secret Girlfriend {7th Stories}

  1. yaaa first kissnya sooyeon knp sm ddangkoma? -_-
    oh jd sooyeon sepupunya kyu, mwo? ahra eonnie jg suka sm yesung dulunya? ._____.
    oppadeul suju iseng ._. masa penyambutan member barunya kyk gt wkwk, niatnya mau nyiram kyuhyun malah kena sooyeon kkk~
    sempet ikutan sedih, kirain yesung oppa sm ahra eonnie beneran selingkuh -____-
    ya!!! sooyeon kenapa bisa nelen cincin? –‘

    • Hahaha~ tau tuhh si yesung –_–
      Malah nasih bbir pacarnya ke piaraan😄 LOL
      Iyap, critanya ahra suka ama yesung, ehh..yesungnya suka ama sooyeon ._.

      Haha, ini murni fiksi kok😀
      Jd mgkin aja kjadian aslinya tuh ga kyak gitu. LOL

      *tabok sooyeon biar cincinnya keluar*
      24 karat itu woooiii!!😄

      Makasih udh komen yaa😀

  2. itu kok malah firstkiss nya si ddangkoma ya? -.-
    kirain bakal yang nyium si yesuuung gitu u.u
    uweeeeehhhhh!!
    Walopun goblok2 gitu tapi romantis ketemuannya lo,apa lagi waktu mereka boncengan..
    Berasa gimana gitu :3
    weird couple (?) berasa anak kecil bangeeet..
    Si ah ra onnie sepertinya udah ga kesambet,untungnya dia udah sadarrr *sujud syukur* /ditabok sooyeon xD
    lucu onn,aku tadi ngiranya si yesung jadi jahat. Untungnya nggak😀

  3. hehe
    Lucu thor critany..
    couple yg aneh gtu,
    Cho Sooyeon❤ Kim JoongWoon

    *cincin yg bentuknya ky d MV no other ditelen bulat2 sm SooYeon eon? (T.T)
    *mupeng pengen dikasih cincin juga😀

    suka sama harapan ultahnya,eon..
    Daebak!

    *lanjut bca ff yg laen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s