Diary Of Boys Sitter {ENDING}

Leeteuk’s Car, 22 Desember 2009, 09.10am

“Akhirnya~ aku bisa kembali ke dorm!”, ucapku semangat sambil memasang sabuk pengaman pada kursi di samping pengemudi. Leeteuk hanya tersenyum simpul dan menyalakan mesin mobil. “Siap kembali ke rumah anda, tuan putri?”, ucap Leeteuk sambil mengacak rambutku pelan. Aku mengangguk semangat.

Mesin mobil mulai dinyalakan dan mobil beranjak meluncur di jalan raya. Aku menatap jalanan dan tersenyum tak henti saat membayangkan suasana dorm dan tingkah para member. Aku benar-benar tak sabar untuk segera sampai dorm. Aku tak sabar untuk segera menghabiskan sisa waktu’ku bersama mereka.

Aku memejamkan mataku sejenak, menarik nafasku dalam-dalam dan aku bisa melihat KwangHee yang ada di hadapanku. Ia menangis berlutut padaku, seakan menyesal atas segala yang terjadi padaku.

Aku membuka mata dan kembali menatap jalanan, “Aniyo, KwangHee. Gwenchana. Kau telah memberikan waktu pada Onnie dan Onnie akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin. Demi kau, para Oppadeul dan demi Jinki”, bisikku pelan.

Leeteuk menatapku heran, “Kau barusan bilang apa, Nara?”. Aku menggeleng pelan, “Aniyo~, bukan apa-apa. Ayolah Oppa, ppalii~ aku tak sabar bertemu dengan yang lainnya!!”.

===

“WELCOME HOME!!!!”, teriak mereka kompak. Aku tersenyum senang dan langsung memeluk mereka satu-persatu. “Oppa~ bogoshippoyo!!!”, ucapku ditengah pelukanku pada mereka. Mereka mengelus kepalaku pelan, “Nadoo, Nara-ya”.

“Ayooo~ makanan datang!!!”, seru Ryeowook sambil membawa senampan piring besar yang penuh dengan ayam pemberian sponsor. Aku menatap makana n itu dengan pandangan berbinar, “Aigooo~ Wookie Oppa..gomawo!”, ucapku seraya membantunya membawakan piring itu. Ryeowook hanya tersenyum simpul.

“Nara, kau riang sekali hari ini? Apa ada hal yang kau sembunyikan?”, ucap Hankyung curiga. Aku tersentak kaget sejenak, tapi kemudian mencoba untuk menyembunyikan kegugupanku itu dengan memakan sepotong ayam yang ada di piring, “Aniyo~, aku hanya senang bisa kembali ke sini”, ucapku singkat. Hankyung hanya mengangguk. “Ayoo~ oppa, ayam’nya dimakan!! Jangan sampai nanti ayamnya keburu dingin”, ucapku sambil menunjuk tumpukan potongan ayam itu. Mereka mengangguk dan segera menyerbu ayam itu dengan lahap.

Aku merasa mataku memanas, pandanganku mulai buyar. Sampai kapan aku bisa melihat mereka? Sampai kapan aku bisa tertawa bersama mereka? Sampai kapan aku bisa menjaga mereka?
Aku merasa air mataku akan jatuh sebentar lagi, tapi jangan sampai mereka curiga karena melihatku menangis. “Ahh..oppa, aku ke kamar dulu ya. Aku mau membereskan barang-barang”, ucapku dan beranjak menuju kamar tanpa menoleh lagi kea rah mereka.

Sesampainya di kamar, aku langsung terisak. Aku takut berpisah dengan mereka, aku takut tak bisa mendengar gurauan jahil mereka lagi, aku takut…sangat amat takut!! “Menangis lagi?”, ucap sebuah suara di belakangku. Aku tahu suara siapa itu, tapi aku bingung..bagaimana caranya dia bisa masuk ke kamarku?

Aku menyeka air mataku dan beranjak keluar kamar. Aku tidak ingin bertemu dengannya, setidaknya bukan saat ini. “Nara”, panggilnya, tapi tetap saja tak kupedulikan. Tapi saat aku memutar kenop pintu kamar, TERKUNCI?!! Kok Bisa??!! “Oppa!! Bukaa pintunya!!”, teriakku sambil menggedor pintu. “Oppa~ jangan main-main!!”, ucapku kesal. Tapi aku bisa mendengar suara tawa yang tertahan dari balik pintu.

Pasti mereka yang merencanakan semua ini!!! (>..<)

“Nara~ nikmati waktu’mu bersama Onew!! Berterimakasihlah pada kami~”, ucap Eunhyuk Oppa. Aku langsung berteriak kesal, “OPPA JELEKKK~!! BUKA PINTU’NYA!!”.

“SHIREO~!”, jawab mereka kompak dan bisa kudengar langkah mereka menjauh dari kamarku. Aku mendesah kesal dan menendang pintu dengan marah, “Oppa jahatttt!!!!!!!”, teriakku lagi. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menengok ke belakang, dia masih ada di sana. Berdiri di balkon kamarku dan menyanyi pelan, “Jinki, ada perlu apa?”, panggilku pelan. Ia berbalik padaku dan tersenyum manis, “Hanya ingin memberikan ini”, ucapnya sambil menyerahkan sebuah recorder padaku.

Aku menatap recorder ini dengan bingung, “Maksudnya?”. Ia mengeluarkan sebuah earphone dari dalam sakunya dan memasangkan earphone itu ke recorder. Kemudian ia menyampirkan kedua earphone itu ke telingaku, “Dengarkan baik-baik, maka kau akan mengerti segala’nya”, bisiknya. Kemudian ia menekan tombol play, dan mulai terdengar suaranya sendiri.

“31 Mei 2006, aku melihat yeoja yang ada di dalam mimpiku waktu dulu, kini ada di kehidupan nyata. Dia ternyata adalah manager baru Super Junior. Sama persis seperti yang ada di mimpiku, dia..cantik”.

“25 Mei 2008, aku melihatnya ada di samping stage saat kami sedang melakukan debut show. Dia..tetap cantik”.

“10 Desember 2009, Jessica noona memintaku untuk menjadi pacar’nya demi membuat Donghae hyung cemburu. Sebagai taruhannya, nama Nara tak akan tersebar di media sebagai manager Super Junior. Karena seperti yang kalian tahu, media hanya tahu bahwa manager Super Junior adalah Kibum hyung, bukan Nara. Terpaksa aku setuju, demi dia”.

“13 Desember 2009, aku sudah tak tahan. Aku bukan boneka Jessica noona!!”

“16 Desember 2009, Kwan Nara..kau memang tak pernah gagal membuatku khawatir”

“22 Desember 2009…………………..”

Dan rekaman itu terhenti, aku menatap heran ke arahnya. “22 Desember itu kan, hari ini?”, tanyaku padanya. Ia mengangguk singkat dan mendekat ke arahku, “22 Desember 2009, dan kali ini aku menyadari bahwa aku akan tetap mencintainya”, ucapnya tepat di telingaku.

Aku menggeleng sambil terkekeh pelan, “22 Desember…aku memiliki namjachingu yang adalah leader SHINee”, ucapku pelan dan langsung memeluknya senang. Ia juga membalas pelukanku dan tersenyum lebar, “Tenang saja. Dihadapanmu, aku bukan leader SHINee, aku hanya seorang Jinki”, ucapnya. Aku mengangguk paham.

“CHUKKAE!!!!!!”, teriak suara itu. Aku menengok ke belakang dan melihat Oppadeul dengan member SHINee lainnya sedang memegang terompet dan memakai topi ulang tahun. “OPPPA!! Kalian tahu darimana?”, tanyaku heran. Mereka langsung menunjuk kea rah dinding kamarku, mataku juga ikut tertuju ke sana, “KAMERA CCTV?”, teriakku tak percaya. “Jadi..daritadi kalian..mengintip kami?”, tanyaku tak percaya. Mereka hanya tertawa hebat sambil mengangkat sebuah kaset, “Ini diaa video’nya~”, ucap mereka jahil.

“OPPAAAA~!!”, teriakku sebal tapi tetap memeluk mereka. Aku sangat..sangat..sangat..sayang mereka. Kalaupun aku mati besok, tak apa-apa. Karena aku telah menghabiskan hari terindah bersama mereka.

===

..2 DAY AGO..

“Onnie~”, panggil seseorang. Aku hanya membuka mata perlahan, rasanya kelopak mataku ini ditahan oleh sebuah beban yang amat berat. “Onnie~bangun!”, kini aku merasakan sentuhan tangan itu lagi-lagi dapat menghilangkan segala beban yang ada di diriku. Akhirnya setelah berusaha keras, aku bisa membuka mata lebar-lebar. Dan dihadapanku kini ada Kwanghee yang menatapku dengan pandangan yang tak bisa kutebak.

Kwanghee yang ada di hadapanku, sangat berbeda dengan Kwanghee yang dulu kutemui pertama kali. Kini ia telah memiliki sayap yang indah dan seuntai gaun yang halus telah melekat dengan sempurna di tubuhnya. “Onnie, baik-baik saja?”, tanyanya khawatir. Aku hanya menatap sekelilingku dengan heran, “Kenapa bisa ada di sini lagi?”,gumamku pelan. Bukankah aku sudah kembali masuk ke raga’ku yang sesungguhnya? Tapi kenapa aku ada di sini lagi?

“Onnie”, ucap Kwanghee, kali ini sambil menggenggam tanganku erat-erat. “Jeongmal mianhae, Onnie. Aku tak bisa melakukan apapun lagi, mereka murka! Mereka menganggap bahwa onnie telah melanggar takdir. Ini salahku, Onnie”, jelasnya cepat. Kini ia malah menangis terisak di pelukanku. Aku masih belum mengerti ucapannya tadi. “Kwanghee, apa maksudmu?”, tanyaku bingung. Ia menyeka air matanya dan bicara lemah, “Onnie, aku kira..onnie bisa melanjutkan hidup setelah pergi dari sini. Tapi ternyata bukan begitu, mereka tetap tak bisa terima setiap alasan yang kukatakan. Mereka ingin Onnie tetap di sini, menjadi bagian dari akhirat. Tapi setelah aku berusaha membujuk dengan keras, akhirnya mereka setuju untuk memberikan waktu bagi onnie”, jelas Kwanghee. “Untuk mengucapkan perpisahan pada orang yang onnie sayangi”, tambahnya lagi.

Aku diam sejenak dan akhirnya menghela nafas berat, “Berapa lama?”, tanyaku pesimis. Kwanghee menjawab tanpa menatap ke arahku, “2 hari, onnie”. Aku mengangguk paham, “Baiklah kalau begitu, Onnie paham. Gomawo atas semua kebaikanmu pada Onnie, Kwanghee. Onnie janji akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya”, ucapku tenang dan mengelus rambut Kwanghee. “Onnie juga tak sabar ingin segera memakai gaun dan sayap seindah yang kau miliki”, gurauku padanya. Ia hanya tersenyum simpul dan kemudian melepaskan genggaman tangannya dariku. “Mianhae, Onnie”

Dan lagi-lagi, aku seperti jatuh ke jurang yang tak ada ujung’nya. Tapi kali ini, saat aku membuka mata, aku bisa melihat ekspresi gembira di setiap wajah para member SuJu. “Nara, Kau sadar?!”. Aku membiarkan tubuhku dipeluk oleh mereka. Karena aku tahu, 2 hari lagi..mungkin aku tak akan pernah bisa merasakan hangatnya pelukan mereka lagi.

===

..23 Desember 2009, 07.10am..

Aku menaruh 2 pucuk surat itu di atas meja. Lagi-lagi aku menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku, rasanya benar-benar berat meninggalkan dorm ini. Terlalu banyak kenangan yang telah terjadi di sini. Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum keluar dari kamarku, dan menepuk pipiku lagi, “Nara, inilah saat’nya. Jangan takut, suatu saat nanti..kalian akan bertemu lagi di tempat yang lebih abadi”, ucapku meyakinkan diri sendiri.

Saat aku keluar kamar, aku melihat Ryeowook sedang membuat sarapan untuk kami. Aku mencoba untuk tidak menangis, biarpun rasanya amat sangat sulit. “Nara, kau sudah bangun?”, tanyanya. Aku mengangguk dan duduk di meja makan, “Oppa..”, panggilku. Ia menoleh sambil tetap mengoles selai pada roti’nya. “Aku benar-benar sayang kalian”, ucapku lemah. “Sampaikan kata-kata itu pada yang lainnya juga ya?”, ucapku sambil tersenyum. Ia menatapku heran, “Kami juga sayang padamu, Nara”, balasnya. Aku hanya mengangguk singkat, “Arasseo”.

Tak beberapa lama, ia menyerahkan roti panggang selai nanas itu padaku, “Makanlah. Jangan sampai nanti kau kelaparan saat berkencan dengan Jinki. Ini kencan pertama’mu kan?”, ucapnya lembut. Aku tersenyum dan menerima roti itu, “Ne, kencan pertama sekaligus kencan terakhirku”, bisikku pelan. Ryeowook menatapku curiga, “Kau bilang apa?”. Aku menggeleng sambil menggigit rotiku.

TING..TONG..

“Ahh~ itu pasti dia”, ucapku semangat dan langsung meneguk jus jeruk yang telah disiapkan Ryeowook. Aku beranjak dari meja makan dan langsung menuju pintu, kulihat Onew sudah bersiap dengan t-shirt polo’nya. “Sudah siap?”, tanyanya. Aku hanya mengangguk pelan.

Aku menoleh lagi kea rah Ryeowook dan menatap setiap penjuru dorm. “Annyeong”, bisikku pelan. Kemudian aku menatap Ryeowook, “Oppa, aku ada hadiah untuk kalian. Aku simpan di meja kamar’ku. Jangan dibuka sampai oppadeul berkumpul ya?”, ucapku padaya. Ia hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada kami. “Jinki, jaga Nara baik-baik”, pesan Ryeowook. Onew hanya mengangguk paham. “Arasseo, hyung”.

“Oppa, annyeong”, ucapku lirih. Ia membalas lambaianku dengan semangat, “Have fun, Nara”, ucapnya sebelum pintu dorm tertutup. Aku masih sempat menatap coretan yang ditinggalkan oleh para ELF di dinding sebelah pintu masuk, aku menyentuh setiap tulisan itu, tapi malah makin membuat hatiku makin sakit. “Nara, ppali~”, panggil Onew yang sudah berada di dalam lift. Aku mengangguk dan berjalan pelan menuju lift, “Annyeongkaseyo, Super Junior”.

===

..Seoul University ice skating park, 22 Desember 2009, 10.10am..

“Kenapa kau ingin sekali ke sini, Nara?”, Tanya Onew padaku. Aku hanya mengangkat bahu sambil berusaha mengencangkan tali sepatu skate’ku, “Anii, aku hanya merasa..tempat ini romantic”, ucapku sambil menatapnya dan tersenyum. Dia mengacak rambutku pelan, “Baru kali ini ada yeoja yang mengajak kencan ke tempat ice skating. Kau benar-benar aneh”, ucapnya.

“Tapi, Jinki..”, ucapku ragu. “Aku..belum bisa main ice skating”, lanjutku pelan. Onew menatapku tak percaya, “Jinca? Kalau begitu untuk apa kau mengajak kencan ke sini?”, tanyanya tak percaya. Aku hanya nyengir, “Aku selalu melihat di drama ketika sang pria mengajari wanita untuk main ice skating. Itulah romantis’nya”, jawabku. Dia hanya menggelengkan kepala heran. “Ara, ara~. Aku akan mengajarimu. Ayo berdiri”, ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya. Aku menerima uluran tangannya dan mencoba berdiri perlahan, Tapii..

“Uwaaa~ licinn..”, teriakku takut. “Jinki, ottokhe? Licin sekali!!”, ucapku. Onew makin mempererat genggaman tangannya, “Tenang, tak akan jatuh asalkan kau pegang tanganku”,ucapnya santai dan mulai berjalan pelan. Aku mengangguk menurut dan mencoba menyamakan langkahnya. “Waaaaa~~ jangan dilepas!! Jinki, jangan lepaskan aku!! Uwaaaaa~~”, teriakku saat tiba-tiba dia melepaskan genggaman tangannya dan membiarkanku meluncur sendirian.

“Hwaiting!!!”, teriaknya dari jauh. Aku mencoba menyeimbangkan badan dan mencoba melangkah sedikit demi sedikit, ehh..aku bisa!!😄 “Jinki, aku bisa!!!”, teriakku senang. Ia meluncur mendekatiku bahagia. “Johta, jagi”, ucapnya sambil mencubit pipiku. Aku merasa pipiku memanas karena sentuhannya barusan.😀

“Onnie~ cepat. Waktunya tak banyak”, sayup sayup suara itu mulai terdengar. Aku menengok ke sekitar dan melihat Kwanghee menatapku dari pojok lapangan es. Aku menatapnya dengan memelas, memintanya untuk memberikan sedikit waktu lagi, tapi ia menggeleng lemah. “Cepat, onnie”.

Aku menghela nafas dalam-dalam dan menatap Onew, “Jinki, ayo meluncur bersama”, ucapku semangat. Dia mengangguk setuju, tapi tepat saat dia akan meluncur, aku segera memeluknya dari belakang. Kelihatannya dia agak shock, “Nara-ya~”, ucapnya pelan. “Ayo meluncur”, seruku semangat. Dia tersenyum dan menggenggam tanganku yang tengah memeluknya, lalu ia mulai meluncur pelan sedangkan aku hanya mengikuti gerakannya saja.

“Nara-ya”, panggilnya. Aku hanya menggumam pelan sambil masih tetap memeluknya, “Ide’mu untuk berkencan di sini, tidak terlalu buruk”, ucapnya. Aku hanya tersenyum senang, “Jinca?”. Dia mengangguk semangat. “Lain kali, kita ke sini lagi ya?”.

Aku tak bisa membalas ucapannya. Nafasku sesak, tanganku serasa membeku, kepalaku pusing, segalanya seperti berputar. Aku menatap Kwanghee yang tersenyum ke arahku, dia mengangguk dan melayang ke arahku dengan sayapnya yang indah. Aku mempererat pelukanku di punggung Onew, “Jinki..”, bisikku pelan.

“Ne?”

“Mianhae, hanya ini yang bisa kuberikan padamu”, ucapku lirih. Aku bisa merasakan tangan Kwanghee yang hangat mulai menyentuhku. Dan, setelah itu.. segalanya terasa ringan.

==
*Author POV*

“Mianhae, hanya ini yang bisa kuberikan padamu”, ucap Nara lirih. “Hah?”, Tanya Jinki bingung. “Apa maksud…”.

Belum sempat Jinki menyelesaikan kata-katanya, tubuh Nara telah ambruk. “Nara? Jangan bercanda!! Ayo cepat bangun”, ucap Jinki sambil menepuk pipi Nara. Tapi, tubuhnya sudah benar-benar dingin dan wajahnya pucat. Nafas Nara mulai tersengal-sengal.

“Nara!!”, teriak Jinki panic. Ia melihat sekeliling lapangan ice skating ini, tapi percuma..di sini tak ada siapa-siapa karena memang ia telah menyewa tempat ini khusus untuk mereka berdua. “Nara~ jangan membuatku khawatir terus!! Bangun Nara!!”.

Tapi sekeras apapun usaha Jinki, tubuh Nara kini telah terbujur kaku di pelukannya sendiri.

===
..Dorm SuJu, 22 Desember 2009, 10.10am..
*Author POV*

Para member SuJu kini telah berkumpul di meja makan untuk mulai sarapan, Ryeowook yang memang sengaja menunggu hingga semua member berkumpul kini beranjak ke kamar Nara untuk mengambil hadiah yang disiapkan oleh Nara. Dia menengok ke meja belajarnya, dan hanya menemukan 2 pucuk surat. Ia membawa surat itu keluar kamar dan memberikannya pada Leeteuk.

“Hyung, ini ada titipan dari Nara sebelum dia pergi”, ucap Ryeowook pada Leeteuk. Leeteuk menerima salah satu dari surat itu dan membukanya.

Oppadeul, terima kasih telah mengizinkan aku menjadi bagian dari Super Junior..
Terima kasih telah memperbolehkanku menjaga kalian..
Terima kasih telah memberikanku cinta dan perhatian yang begitu bermakna..

Aku tahu, aku salah karena mengakui hal ini di saat terakhir begitu aku akan pergi..
Aku sangat mencintai kalian semua, 15 member tanpa terkecuali..
Bersama dengan Oppadeul membuat aku merasa bahwa aku bukanlah sebatang kara..
Aku mempunyai 15 oppa yang siap bertempur melawan apapun demi menjagaku..
Dan itu merupakan hal yang lebih baik dibandingkan memiliki 1 keluarga secara utuh..

Aku berharap, Oppadeul bisa menjaga diri meski tanpaku..
Aku berharap, Oppadeul bisa menemukan penggantiku yang dapat menjaga kalian dengan sepenuh jiwa..
Aku berharap, Super Junior bisa menjadi sebuah bintang yang paling bersinar..

Sekali lagi, terima kasih Oppa..🙂

p.s : aku titip surat yang satu lagi untuk Jinki. ^^ Gomawo~
_Kwan Nara_

Leeteuk masih mengernyitkan dahinya setelah membaca surat itu. “Apa maksud’nya?”

..Sorry, sorry, sorry, sorry..
Calling.. Jinki

“Hyung, tolong!! Nara….”

===

*Onew POV*
..23 Desember 2009, 23.10pm..

Aku membuka surat itu dengan lemah. Leeteuk hyung memberikan surat ini saat pemakaman tadi. Ia bilang, ini peninggalan dari Nara. Tapi, aku tak peduli dengan peninggalannya. Yang aku harapkan, hanyalah sosoknya yang nyata.

Tetap saja air mataku kembali mengalir saat aku membaca bait pertama surat itu,

Inilah yang dinamakan takdir, Jinki.
Inilah takdirku untuk dapat bertemu denganmu.
Inilah takdirku untuk bahagia saat mencintaimu.
Dan inilah takdirku saat aku harus meninggalkanmu.

Tapi, kau tahu bahwa kita akan bertemu lagi di ‘sana’ kan, Jinki?
Saat kita dapat bertemu lagi, ceritakanlah semua hal berharga yang kau alami selama ini.
Saat kita bertemu lagi, berjanjilah untuk menyanyikan lagu terindah untukku.
Dan saat kita bertemu lagi, aku akan terus berada di sampingmu. Itulah janjiku.

Tapi, aku akan menitipkan hatiku pada seseorang di luar sana, Jinki.
Seseorang yang mencintaimu apa adanya, sama seperti diriku.
Saat kau mendengar bisikanku yang terbawa oleh angin, maka pada saat itu pula kau akan menemukan dia.
Menemukan seseorang yang memiliki jiwa sama sepertiku.

Jadi, izinkanlah aku untuk pergi dengan membawa cinta di hatiku.
Kau tidak akan marah padaku, ‘kan Jinki?

_Kwan Nara_

Aku meremas kertas itu dengan hampa. Terlalu sakit rasanya membiarkan dia pergi seperti ini. Kenapa dia harus pergi ke tempat yang tak bisa kuraih? Kenapa harus secepat ini? Kenapa di saat seperti ini? Kenapa dia harus pegi di saat dimana aku sangat mencintainya? Kenapa…

Air mata mulai mengalir dari mataku dan membentuk sungai kecil di pipiku. Aku menatap kertas itu lagi dan mendongak ke langit dengan nanar. Aku melihat sebuah bintang yang sedang berkedip terang, “Nara-ya, bagaimana rasanya bertemu dengan Tuhan? Apa dia baik padamu? Apa dia bisa menyanyi untukmu? Apa dia..sama sepertiku?”.

Aku menghela nafas sejenak dan menyeka air mataku perlahan, “Baiklah jika itu keinginanmu. Aku tak akan bersedih karena’mu, Nara, karena aku juga tak ingin melihatmu sedih karena aku”, ucapku pelan. Aku tersenyum perih dan melanjutkan ucapanku, “Dan jika kau kesepian di sana, kembalilah ke sini. Kembalilah ke sisiku, walau hanya sebagai angin”.

Aku menutup mataku dan membiarkan angin ini menerpa’ku. Aku merasakan angin malam ini seperti memeluk tubuhku, mengelus rambutku dan mengecup bibirku. Aku benar-benar bisa merasakannya. Aku membuka mata perlahan dan kembali menatap kea rah bintang itu, “Please comeback, even as the wind”

===

..1 years later..
Fan Meeting

“Kamsahamnida”, ucap kami berlima kompak sambil membungkukkan badan sebagai salam perpisahan. Teriakan riuh itu langsung membahana saat kami beranjak meninggalkan panggung. “SHINee jjang!!”, teriak para Shawol itu kompak. Aku tersenyum simpul dan melambaikan tangan sejenak, lagi-lagi mereka berteriak riuh.

“Hyung, ppali!!”, seru Taemin padaku. “Kita berdua masih ada schedule!”, tambahnya lagi. Aku mengangguk singkat dan berjalan pelan ke arahnya. Taemin mendecak kesal karena melihat gerakanku yang lamban, ia menghampiriku dan langsung mendorong punggungku, “Aigoo~ jangan karena umur Hyung sudah 23 tahun, gerakan Hyung semakin lamban!! Ppalii~ nanti Minjae Hyung akan memarahi kita jika kita terlambat, member lainnya sudah duluan”, ucap Taemin. Aku langsung menatapnya galak, “Kau kira aku sudah tua?”, ucapku ketus.

Taemin mengerjapkan matanya dengan innocent, “Aniiyo~ aku tidak bilang kalau Hyung sudah tua. Aku hanya bilang gerakan hyung semakin lambat saja”, ucapnya ringan. “Itu 2 hal yang berbeda kan?”, tambahnya lagi, kali ini dengan senyuman lebar. Aku langsung menatapnya datar dan menjitaknya pelan, “Sekali-kali hormatilah hyung’mu ini, Taeminnie”, ucapku pelan tapi kemudian malah mengacak rambutnya penuh sayang. Aku memang paling tidak bisa lama-lama marah pada dongsaengku yang satu ini.🙂

“Aishh, hyung, nanti tatanan rambutku rusak”, ucap Taemin sambil membetulkan tatanan rambutnya yang tadi sedikit acak-acak’an karena ulahku. Aku terkekeh sejenak dan merangkul bahu’nya, “Kkaja”, ucapku ringan. Taemin mengangguk singkat dan mengikuti langkahku.

Saat kami sampai di lobby gedung, aku melihat Jonghyun, Key dan Minho sedang berbincang dengan SuJu sunbaenim. Eunhyuk hyung yang melihatku duluan, langsung melambaikan tangan ke arahku dan Taemin. Aku membungkuk seadanya dan berjalan pelan menuju mereka semua. “Annyeonghaseyo, hyung”, sapaku sopan. Mereka mengangguk sekilas sambil tersenyum padaku, “Annyeong, Jinki-ya. Lama tidak bertemu”, ucap Leeteuk hyung sambil meneguk jus kaleng’nya. Aku hanya tersenyum sambil menggaruk kepala, bingung mau menjawab apa.

“Ya, kau seperti yang menghindar dari kami, Jinki”, tambah Yesung hyung. Aku langsung menggeleng kencang, “Animida, hyung. Aku bukan menghindar, hanya saja…”, ucapanku terpotong.

Aku bukan menghindari mereka, hanya saja setiap aku melihat mereka..aku seperti melihat Nara yang berjalan di belakang mereka. Aku seperti melihat Nara yang sedang memberitahu jadwal show mereka, membujuk mereka untuk makan siang, dan aku serasa mendengar suara’nya saat semua perintahnya itu tak diacuhkan oleh para member SuJu. Tanpa sadar, aku seperti mencoba untuk tidak berhubungan dengan Super Junior, karena itu rasanya sama saja aku berharap melihat Nara kembali ke dunia ini.

Donghae hyung sepertinya bisa membaca pikiranku dan melihat ekspresi wajahku yang tiba-tiba berubah murung, “Ahh~ sudahlah.. jangan bicarakan masalah ini lagi.”, ucapnya sambil beranjak berdiri dan menepuk tepi celananya. “Ayo~hyung, kita berangkat. Cuaca’nya kelihatan mendung. Aku tak mau kita hanya sebentar di sana”, ucap Donghae hyung pada member yang lain. “Oia, Jinki, kau mau ikut?”, tanyanya padaku.

Aku tahu, mereka pasti ingin mengunjungi makam Nara. Hari ini tepat 1 tahun peringatan kematiannya. Terlalu cepat waktu berlalu tanpa aku sadari.

Aku menggeleng pelan menjawab pertanyaannya, “Ani, hyung. Kami masih ada schedule. Mungkin kami akan ke sana setelah schedule kami selesai. Iya ‘kan?”,tanyaku pada member SHINee lainnya. Mereka mengangguk kompak, “Ne, hyung. Tapi kami pasti akan ke sana kok”, janji Key.

Mereka mengangguk paham dan beranjak berdiri dari kursinya, “Kalau begitu, kami berangkat duluan”, pamit Leeteuk hyung. Kami mengangguk singkat dan membungkuk sopan, “Hati-hati, hyung”, ucap kami berbarengan. Mereka berjalan melewati kami, beberapa di antara mereka menepuk pundak kami untuk memberi semangat, “Hwaiting!!” , ucap Sungmin hyung. Aku tersenyum simpul, “Gomawo, hyung!”.

Setelah para member SuJu pergi, Key, Taemin, Minho dan Jonghyun langsung menghampiriku, “Hyung~!! Hwaiting!!!”, seru Jonghyun sambil menepuk bahuku kencang. Aku agak meringis kesakitan, tenaga’nya memang benar-benar kuat~ (>.<)

“Nanti jika schedule kita selesai lebih cepat, kita beli bunga dulu untuk disimpan di makam Nara”, ucap Minho sambil merangkul bahuku. Aku hanya tersenyum simpul, meskipun tetap saja rasanya perih mengakui bahwa dia benar-benar telah pergi.

Taemin berpikir sejenak, “Apa perlu kita membawakan makanan untuknya? Mungkin saja ia lapar”, ucap Taemin semangat. Kami berempat menatapnya datar, “TAEMIN~A!!!”, teriak kami kompak sambil mengacak rambutnya gemas. Bagaimana mungkin di usianya yang genap 18 tahun, dia masih berpikiran childish seperti ini?!😀

Aku menatap mereka sayang, “Gomawo”, ucapku singkat. Mereka hanya mengangguk singkat dan merangkul bahuku dengan semangat, “Kkaja”, seru Key.

Saat kami berada di luar gedung, angin lembut langsung menerpa tubuh kami. Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan angin itu membelaiku. Aku selalu merasa setiap angin berhembus, itulah saat dimana Nara berada di sampingku. Tapi kali ini, aku benar-benar merasa angin ini amat berbeda. Ia seperti berbisik padaku dan ingin memberitahu sesuatu hal padaku. Aku hanya tersenyum perih setiap mengingat bait terakhir dari surat itu,

Saat kau mendengar bisikanku yang terbawa oleh angin, maka pada saat itu pula kau akan menemukan dia.
Menemukan seseorang yang memiliki jiwa sama sepertiku

Aku menggeleng pelan kemudian terkekeh sejenak, “Aniyo~ gwenchana. Tak perlu memikirkan aku lagi, yang penting kau bahagia di sana”, bisikku pelan. Minho menatapku heran, “Hyung, kau bilang apa barusan?”, tanyanya. Aku balas menatapnya dan tersenyum lebar, “Aniii~ bukan apa-apa”, ucapku dan kembali berjalan pelan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kami berada sekarang.

“Hyung, itu bukannya minibus milik SuJu sunbaenim?”, ucap Taemin sambil menunjuk ke satu arah. Kami menengok bersamaan, mobil itu memang berhenti di tengah jalan (masih di area parkir) dan bisa kulihat asap keluar dari kap mesin mobil itu. “Mogok ya?”, gumam Jonghyun pelan.

Aku berjalan pelan kea rah minibus itu, Jonghyun, Key, Minho dan Taemin mengikuti dibelakangku. Dari jauh, aku bisa melihat rombongan member SuJu sedang mengelilingi mobil. Setelah agak dekat, aku melihat Eunhyuk dan Donghae hyung sedang kebingungan di depan kap mesin mobil itu. “Aissh, makanya sudah kubilang..jangan pelit mengeluarkan uang untuk servis mobil ini ke bengkel! Bulan ini kan giliran kau yang harusnya membayar”,ketus Donghae hyung. Eunhyuk hyung hanya menggaruk kepalanya bingung, “Kenapa ya? Kok bisa tiba-tiba mogok begini?!”.

Kami menghampiri member yang lain, mereka juga sepertinya kebingungan. “Hyung, kenapa mobilnya bisa mogok?”, Tanya Taemin pada Heechul. Heechul hanya menatapnya ketus, “Kalau aku tahu kenapa mobil ini mogok, aku tidak akan ikut training di SM, Taemin-a. Aku pasti sekarang sedang bekerja di bengkel!!”, ucapnya datar. Taemin langsung menjauh takut dari Heechul hyung.😄

Aku ikut memperhatikan kap mesin mobil ini, tapi biarpun lama kuperhatikan..tetap saja aku tak mengerti tentang mesin ini. Aku beranjak kea rah Siwon hyung, “Hyung, sebaiknya menelpon montir saja”, usulku. Baru saat Siwon hyung akan menjawab, tiba-tiba angin itu berhembus lagi. Kali ini aku bahkan bisa mendengar suara’nya berbisik padaku, benar-benar jelas.

“Oppa~ montir dari bengkel itu bilang kalau dia bisa datang 1 jam lagi. Ottokhe?”

HAH? Nara berbisik tentang montir?

Aku langsung memalingkan wajah dan melihat seorang gadis yang sedang berjalan kesal menuju Eunhyuk hyung. Dia memakai kacamata tipis dan rambutnya dikuncir kuda ke belakang. Wajahnya agak tirus tapi tak membuatnya kehilangan guratan keceriaan dari wajahnya.  “Oppa! Jigeum eottokhae? Apa aku harus memanggil montir dari bengkel lain?”, tanyanya pada Donghae hyung. Sepertinya ia tidak menyadari keberadaan para member SHINee di sini.

Siwon hyung langsung menarik tanganku menuju ke arahnya. “Jinki, kukenalkan dengan menager kami yang menggantikan Nara. Ayo!”, ucapnya.

Aku hanya mengikuti langkahnya dengan heran, aku bingung dengan detak jantungku yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Aneh! Apa artinya ini?

Saat kami berada di depannya pun, gadis itu masih belum menghiraukan kami. Sepertinya ia benar-benar berkonsentrasi dengan masalah mobil ini.

Siwon hyung langsung memanggilnya, “Leena-ya!”.  Akhirnya dia menoleh pelan kearah kami dan tiba-tiba ia malah tersentak kaget saat melihatku. “On..Onew? Lee..Jin..Ki?”, ucapnya terbata.

Aku hanya mengangguk singkat, “Annyeonghaseyo, SHINee leader, Onew imnida”.

GUBRAK!

“Leena-ya! Gwenchana?!”, seru para member Super Junior dengan nada panik saat melihat Leena pingsan dan mimisan di tempat. Aku shock sejenak.

Ini lebih mirip seperti de’ javu bagiku.

Saat kau mendengar bisikanku yang terbawa oleh angin, maka pada saat itu pula kau akan menemukan dia.
Menemukan seseorang yang memiliki jiwa sama sepertiku.
Itulah Janjiku
.

===

END

18 thoughts on “Diary Of Boys Sitter {ENDING}

    • Haha, soalnyaa..kan disini tuh Nara sama Onew.
      Tpi d crita2 lainnya Nara sama Kyu. Makanyaa..qu pengen bkin Nara yg sama Onew itu ilang .____.
      Jd cma ada Nara yg ama Kyu. Heheehe ^___^

      Makasih ya udh komen😀

    • Haha~😄
      Ni ff dbkin pas jaman qu lg gila sama onew sih yaa? –___–
      Makanya dikit2 onew. Wkwkwk~😄
      Suka ama Kyu tuh smenjak masuk jaman its u aja🙂

  1. Deg2an daari tadi sampe lupa coment *mian unnie* (_ _)

    Nara unnie mati ?? Jadi Nara yang sekarang itu……………BRUKKK

  2. eonnie tegaaaaa TTTT_TTTT beneran nangis bacanya, dari yg awalnya kocak, akhirnya malah nguras air mata, kasian nara eonnie, jgn sampe leena eonnie kyk gt juga.
    bagus eonnie ffnya! keren! *thumbs up*

    • Hahaha~😄
      Iyap, awalnya seneng tapi endingnya ga harus slalu seneng kan? :’)
      Leena? Uhm, we’ll see ^____^
      Smoga aja jinki bisa jagain dgn baik😀

  3. Woah, really love the story!!
    Berapa kali pun bacanya tetap saja menggugah hati.

    Bahasa yang santai, namun berhasil membawa pembaca masuk ke dalamnya. Terasa seperti kita adalah Kwan Nara di cerita itu.

    Pertama kali baca FF ini d’SJFF langsung yang part 6, yang banyak pic. Setelah itu, langsung penasaran dan mencari dari part 1. Ternyata, emang bagus banget ceritanya. Sering uring-uringan karena tidak sabar menunggu kelanjutannya. Dan akhirnya nangis sendiri saat baca endingnya.
    Wkwkwkwk

    Sudah lama tidak baca, dan saat iseng-iseng bongkar blog ini, nemu lagi cerita ini. Baca lagi dan hanyut lagi didalamnya.
    Daebak, eonni! *sok kenal*
    Hhe
    Salam kenal, eonni.

  4. waahh~~~ baca ff ini perasaannya campur aduk..
    dari seneng. senyum senyum sendiri. nangis sendiri. sampe akhirnya di ending ketawa lagi gara gara leena nya mirip banget sama nara.
    daebak banget.
    suka banget sama ff ini..

  5. Unn sumpah ni FF keren..!! Ini sudah yang ke -24 kali aku baca FF ni (ituserius lo unn) bener2 keren… gi mana cara nulisnya sih unn..???? Yng WGM kpn lnjutannya unn..?? hihihi

  6. Ehehehe saya lbaca ff ini senyam senyum sendiri🙂
    Sayang banget Nara meninggal, tapi udah ada Leena.

    Aku gak sengaja buka-buka file lama blog ini, eh nemu yang cast-nya SHINee, yaudah deh saya baca,
    Dari pas pertama baca, udah senyam senyum, tapi ada juga tuh part yang rada nge-galau (apa ini ahahaha).
    Sedih juga euy baca part akhirnya TAT

    FF yang menarik, eon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s