Diary Of Boys Sitter {13th Diaries}

Kyochoon Hospital, 16 Desember 2009, 20.32pm

“Stop, Minho!!”, ucapku tergesa dari belakang bangku kemudi. Tanganku masih menggenggam tangan Nara yang makin dingin, wajahnya makin pucat. Terkadang ia mengerang kesakitan sambil mengcengkram tanganku, dia selalu berkata “Dingin”. Aku benar-benar bingung, jaketku dan jaket Minho sudah kusampirkan di tubuhnya, tapi ia masih tetap dingin? Sebenarnya dia kenapa?

Minho mengerem mobil dengan mendadak dan membuat kepalaku teranduk headrest bangku kemudi. “Aigoo~”, gerutuku. Minho hanya nyengir bersalah dari kaca spion. “Mianhae, hyung”, ucapnya dan mematikan mesin mobil. Aku mencibir sekilas dan menatap Nara cemas, “Nara..Nara!”, ucapku sambil menepuk pipinya pelan, tapi ia sama sekali tidak bereaksi.

“Hyung, dia sudah pingsan”,ucap Minho cemas. Aku menyentak kesal dan segera membopong tubuh Nara ke dalam rumah sakit. “Hyung!! Andwaee~ wajahmu bisa dikenali orang-orang!!”, seru Minho sambil menyamakan langkahnya denganku. Aku menatap Minho bingung, “Tapi..bagaimana dengan dia?”, ucapku panic. Nafas Nara mulai memburu, sepertinya dia benar-benar kesakitan!

Minho masih diam, sedangkan aku menatap ragu ke arah rumah sakit. Rumah sakit itu sedang penuh oleh pengunjung, jika aku nekat masuk ke sana..mereka pasti akan mengenali’ku!!. “Minho-ya, bagaimana sekarang?”, tanyaku bingung. Minho mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi tiba tiba pandangannya mulai fokus ke satu arah. Aku mengikuti arah pandangannya itu, ada sebuah mobil putih yang sedang menuju kea rah kami bertiga. Mobil putih? Aniyo, itu bukan mobil Van milik SuJu sunbaenim? Lalu siapa? Aigooo~ Andwae!! jangan bilang kalau itu wartawan?!!

Minho langsung menarik pundakku untuk kembali masuk ke dalam mobil dan bersembunyi. Aku hanya bisa mengikuti semua yang Minho lakukan. Rasanya kepalaku hampir mau meledak karena semua kejadian ini!! Aku sudah benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi!!

“Hyung, kita kabur dulu”, ucap Minho panic. Aku menatap Minho dan Nara bergantian, “Tapii, Nara?”, tanyaku pelan. Minho masih tidak menjawab apapun, tapi tepat saat Minho akan men’starter mobil, Van putih itu berhenti di samping kami. Dan seseorang dari dalam mobil itu langsung menghampiri kami dengan tergesa.

“Minho, chamkanman!!”, cegahku saat Minho akan menginjak gas. Minho menatapku kesal, “Apalagi hyung??”, tanyanya berang. Aku menatap tajam kea rah orang yang menghampiri mobil kami, sosok’nya sudah amat kukenal, ituu..Jessica noona?

Aku makin bingung!! Apa yang harus kulakukan? Tadi para member bilang kalau aku sedang tak ada di rumah, sedangkan sekarang aku tengah memeluk Nara?! Aigooo~ ottokhe??

Jessica noona menghampiri mobil kami dan langsung mengetuk jendela dengan kasar, “YA, Jinki!! Buka jendela’nya!!”, bentaknya kasar. Aku makin ketakutan. Minho menatapku seakan meminta perintah selanjutnya, “Hyung, Ottokhe??!”, tanyanya pesimis. Aku masih menatap Jessica noona yang berdiri di depan jendela mobil.

“Jinki, buka!! Aku akan menolongmu!!”, ucapnya. Aku membelalak kaget, “Ne, noona?”, tanyaku pelan, sekedar untuk memastikan ucapannya barusan. Jessica noona terkekeh pelan, “Ahaha, ternyata kau memang ada di situ ya? Jadi benar kalau kau tadi kabur dariku?”, tanyanya kecewa. Aku meneguk ludah grogi, “Mianhae, noona”, ucapku akhirnya. Jessica noona menggeleng kecewa dan kembali memasang wajah ice princess’nya. “Ahh..sudahlah!! Sekarang cepat keluar, aku akan menolongmu!!”, ucapnya cepat. “Hah?”, tanyaku tak percaya. Jessica noona hanya menatapku datar, “mworago? Kau tak percaya padaku?”, ucapnya.

Baru saat aku ingin menjawab, tiba-tiba tangan Nara bergerak dan kembali mencengkeram jaketku. Aku menatapnya khawatir, tapi Jessica noona langsung mendorong tubuhku menuju ke dalam rumah sakit. Aku bingung setengah mati, “noona mau apa?”, tanyaku panik sambil masih menggendong Nara. Ia hanya menjawab singkat, “sudahlah, aku mau menolong kalian”.

Minho langsung berlari menghampiri kami, “noona, tunggu. Bagaimana nanti jika Onew hyung…”,ucapan Minho langsung terhenti saat mendengar jawaban Jessica noona, “Ya!! Choi Minho, jika kau mau ikut, tutup saja mulutmu! Sejak kapan kau menjadi bawel seperti ini?!”, ucap Jessica nona dengan nada agak tinggi. Aku hanya bisa diam, agak seram juga melihat Jessica noona yang biasanya cuek dan bersikap dingin tiba-tiba menjadi galak seperti ini. (>O<)

Minho menunduk takut, dan Jessica noona langsung mendorongku lagi menuju ke dalam rumah sakit. Baru beberapa langkah kami masuk ke dalam rumah sakit, sudah terdengar teriakan histeris dan pandangan heran melihat kami bertiga datang ke rumah sakit. Apalagi dengan aku yang sedang menggendong seorang yeoja yang tak dikenal. (>M<)

Aku menatap Jessica noona dengan pandangan bingung, “noona, apa yang harus kita lakukan?”, bisikku pelan. Sedangkan Minho hanya berusaha menghindari foto dari kamera pasien yang sedang memotret kami.

Jessica noona menarik tanganku dan langsung berhenti di meja receptionist, “Ya! Kalian tidak lihat? Ada seseorang pingsan!! Kenapa kalian diam saja?”, sentaknya kasar. Para perawat itu langsung sadar dan menyediakan ranjang darurat. Aku menidurkan Nara di ranjang itu dan kini tubuhnya dibawa oleh perawat itu sampai sosoknya hilang di tikungan ruangan.

Aku bernafas lega. Setidaknya Nara sudah mendapat perawatan. Tapi ternyata masalahnya tidak berhenti sampai di sini. Salah satu dari perawat itu menghampiri kami bertiga, “permisi, siapa nama pasien tadi? Apa diantara anda ada yang menjadi famili’nya?”, tanya perawat itu.

Aku dan Minho langsung berpandangan bingung, siapa yang tahu famili’nya Nara? Yang tahu pasti hanya para SuJu sunbaenim. Tapi jika aku memanggil mereka kesini, makin banyak orang yang bingung dan penasaran dengan identitas Nara karena mengenal SuJu, SHINee, bahkan SNSD! (>m<)

Tapi Jessica noona langsung menjawab dengan tenang, “namanya Jung Nara. Aku famili’nya, dia sepupuku”.

Aku dan Minho langsung menoleh mendengar ucapannya. “Jung?”, ucapku bingung. “Noona, marga’nya Nara itu Kwa…AAAWW!!!!”, teriakku menahan sakit karena kakiku diinjak oleh sepatu high heels milik jessica noona. Ia menatapku beringas dan kembali menatap perawat itu dengan senyuman manis, “jangan dengarkan kata-katanya. Dia memang sok tahu, padahal baru kali ini dia bertemu dengan sepupuku itu”,jelasnya.

Minho tertawa tertahan melihat ekspresi ku yang menahan sakit, aku langsung mendelik kesal padanya. XC. Bagaimana bisa dia menyumpahi hyung’nya yang sedang kesakitan ini?!

Perawat itu mengangguk singkat, dan menatapku juga Jessica noona bergantian. Kemudian ia tersenyum senang, “kalian cocok sekali. Semoga hubungan kalian langgeng”,ucapnya dan meninggalkan kami bertiga. Aku dan Jessica noona saling menatap bingung, dan kemudian Jessica noona mendengus sebal dan memalingkan wajahnya. Aku menatap Minho, tapi ia malah mengangkat bahunya tidak tahu.

“Aku dan Jessica noona terlihat cocok?”.

+++++++

..Dorm SHINee, 16 Desember 2009, 21.00pm..

*author POV*

Jonghyun, Key dan Taemin menengok takut ke dalam dorm. Mereka masih takut jika ternyata Jessica kembali ke dorm dan bertemu dengan Nara juga Onew yang tengah berdua. “Hyungg~~”, seru Taemin sambil mengecek ruangan dorm.

Key dan Jonghyun juga memeriksa seluruh kamar, tapi hasilnya nihil. Dorm ini kosong dan mereka berdua sepertinya sudah pergi. “Haaaah~~, baru kali ini aku bersyukur dorm kita tenang seperti sekarang”, ucap Jonghyun sambil berbaring di sofa ruang tamu. Key mengangguk dan mengambil cemilan dari dalam kulkas, “ya, rasanya benar-benar damai!!”, ucapnya sambil duduk di sebelah Jonghyun.

Tapi Taemin masih berkeliling bingung, “hyung, Minho hyung dimana? Bukannya tadi dia tetap tinggal di dorm untuk menemani Nara noona dan Onew hyung?”, tanya Taemin khawatir. Jonghyun dan Key saling berpandangan heran, “Minho juga nggak ada?”, tanya Key. Taemin mengangguk.

Jonghyun menatap sebuah handphone di meja televisi, “tapi handphone Onew hyung, masih ada di sini. Aneh, biasanya dia tak pernah keluar dari dorm tanpa membawa handphone, kecuali keadaan darurat”, ucap Jonghyun bingung. Key merasa ada sesuatu yang mengganjal di sofa yang ia duduki, ternyata handphone Minho juga tertinggal. “Mereka kemana?”, gumam Key heran.

TING TONG..TING TONG…

Jonghyun menatap 2 dongsaeng’nya itu dan mengedikkan kepala ke arah pintu. “Buka pintu’nya”, suruh Jonghyun. Key menatap Taemin dan menunjuk ke arah pintu, “Buka”. Taemin mencibir kesal, “Maknae, maknae., maknae!”, ucapnya sebal dan berjalan pelan ke arah pintu. Tapi ternyata dibalik pintu sudah ada 15 member SuJu yang lengkap dengan kostum show’nya dan make up yang masih melekat di wajahnya. Taemin menatap para sunbae’nya itu heran, “ada apa, hyung?”, tanya Taemin.

Donghae melongok ke dalam dorm, “Mana Nara?”, tanya Donghae cemas. Taemin mengangkat bahu, “molla. Tadi memang Nara noona ada di sini, tapiii…sekarang aku tak tahu. Onew hyung dan Minho hyung juga tak ada”, jelas Taemin. Leeteuk membelalak tak percaya, “Jinki juga tak ada?”, tanyanya. Taemin mengangguk takut karena nada suara Leeteuk yang agak tinggi.

Jonghyun dan Key menengok ke pintu depan, dan langsung menghampiri mereka semua. “Waeyo, hyung?”, Tanya Key bingung. Jonghyun hanya mengekor dibelakangnya. Siwon menatap mereka geram, “Hyung kalian itu telah menghamili Nara”, jelas Siwon. “Oleh Jinki”, tambah Shindong.

Taemin, Key dan Jonghyun saling menatap bingung, tapi kemudian malah tertawa geli, “Ahahaha. Hyung, tidak mungkin Onew hyung menghamili seseorang?? Onew hyung tak pernah pacaran, apalagi..hamil?! Nara noona pula?”, ucap Key sambil terkekeh pelan. Jonghyun dan Taemin mengangguk mengiyakan.

Baru saat Key ingin menambahkan, tiba-tiba handphone’nya berbunyi. “Ahh, permisi”, ucapnya dan beranjak menjauhi mereka semua. Key melihat layar handphone’nya sekilas, “Amber?”, gumamnya pelan.

“Yebbseo?”, sapa Key. Tapi suara cempreng di seberang sana langsung terdengar, “OPPA!!”. Key langsung menjauhkan handphone itu dari telinganya, “Aigoo, Amber?”, Tanya Key heran. Sejak kapan suaranya menjadi cempreng? Dan sejak kapan ia memanggilku Oppa? Biasanya dia selalu memanggilku Hyung.

“Anii, Oppa. Choneun Krystal”, ucap suara di seberang sana. Key mengangkat alisnya heran, “Krystal?”. Tapi Krystal langsung berbicara cepat, “Oppa, aku baru browsing di internet dan ada netizen yang post beberapa foto, ada apa dengan Onew Oppa dan Jessica noona? Kenapa mereka ada di Rumah Sakit? Kenapa ada Minho Oppa juga? Dann..kenapa ada Nara Onnie disana?”, Tanya Krystal beruntun. Key hanya bisa menangkap ucapan Krystal yang terakhir, “Nara ada di rumah sakit? Dengan Onew hyung?”

Para member SuJu, Jonghyun dan Taemin langsung melirik kea rah Key yang masih bingung, tapi mereka hanya bisa menatap satu kata, “Nara di rumah sakit?!”

Lagi-lagi Leeteuk menatap para member SuJu dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya, “Nara..KEGUGURAN??!”

+++++++

Kyochoon Hospital, 16 Desember 2009, 21.02pm

“Kau bawa handphone?”, tanyaku pada Minho. Ia merogoh saku’nya sejenak dan menggeleng pelan. “Sepertinya ketinggalan di dorm”, ucapnya. Aku mengacak rambut frustasi. “Aigoo, kita harus mengabari SuJu sunbae dan member lainnya”, kataku. Minho mengedikkan kepalanya ke sudut ruangan,”Sebaiknya hyung pinjam saja padanya”, ucapnya ringan. Aku mengikuti pandangannya dan melihat Jessica noona masih duduk anggun di ruang tunggu.

Aku menatap Minho untuk meminta bantuan, tapi ia hanya mengangkat bahu dan berjalan pelan keluar dari rumah sakit menuju mobil, “Mianhae hyung, its none of my business”, ucapnya sambil melambaikan tangannya. Aku menatapnya tak percaya, “Minho-ya!!”. Tapi ia masih berjalan santai dan tak mempedulikanku.

Aku menatap Jessica noona yang masih membaca majalah dengan santai. Aku berjalan ragu mendekatinya, dan akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelahnya. Setelah duduk, ia hanya menatapku sekilas dan kembali serius membaca, “Noona..”, panggilku pelan.

“Hmm?”, gumamnya pelan. Aku memainkan jariku gugup, “Gomawo atas bantuan noona. Aku sangat tertolong oleh noona, dan..”, aku menghela nafas sejenak, “Mianhae. Jeongmal mianhae, noona. Aku tak bisa pura-pura lagi berpacaran denganmu. Aku hanya…mencintai Nara”,ucapku pelan. Jessica noona menatapku tajam, dan kemudian melipat majalahnya. Ia berdiri di depanku, “Arasseo, mungkin ini semua salahku sejak awal. Mianhae”, ia membungkuk pelan padaku. Aku yang terlalu kaget melihatnya membungkuk meminta maaf hanya terdiam tak percaya. “Ahh..ne”, ucapku kaku.

Ia membalikkan badannya dan berjalan menjauhiku. Aku benar-benar bingung. Jadi Jessica noona sudah menyerah? Semudah ini?

Aku tersenyum senang, amat senang! Aku tak perlu lagi berpura-pura kali ini. (^^) Aku beranjak berdiri dn berteriak kencang, “Noona!! Gomawo!! Jeongmal Gomawoyo!!”. Ia tak membalas ucapanku dan hanya melambaikan tangannya pelan, ia terus berjalan menjauhiku.

Tapi tepat saat Jessica noona sampai di depan pintu rumah sakit, aku melihat rombongan orang-orang beranjak gusar menghampiriku. Itu..SuJu Sunbaenim??

+++++

Kyochoon Hospital, 16 Desember 2009, 21.10pm

*Jessica POV*

“Noona!! Gomawo!! Jeongmal gomawoyo!!”, teriaknya kencang. Aissh, dasar anak kecil!! Ia tak tahu bahwa ini di rumah sakit? Jangan berisik!!

Tapi tak urung aku tersenyum simpul dan melambaikan tangan tanpa memalingkan wajahku. Sudahlah, mungkin aku sudah membalas dosaku dengan ikut menyelamatkan nyawa gadis yang dia suka. Aku sudah terlalu banyak berdosa padanyaa, dan semoga tindakanku ini bisa menebus sedikit dosaku itu.

Tapi baru aku berjalan beberapa langkah, aku melihat segerombolan orang keluar dari mobil van dan beranjak masuk ke dalam rumah sakit. Itu..member SuJu? Aku tersenyum pahit, sebegitu berhargakah Nara untuk mereka?

Aku langsung memakai tadung jaketku dan menunduk dalam, berharap mereka tak mengenaliku. Aku masih bisa mengetahui bahwa satu persatu member itu berjalan melewatiku, sudah kuduga..pasti mereka tak akan mengenaliku.

Tapi ada satu orang yang masih berdiri di hadapanku, seakan menungguku untuk mengangkat daguku dan mengatakan segala hal yang sesungguhnya. Aku mencoba menghindar ke kiri, tapi ia masih menghalangi jalanku, aku menghindar ke kanan..tapi lagi-lagi ia menghalangiku.

“Sudahlah. Aku mengenalimu. Jaket yang kau pakai ini, hadiah dariku, Jessica”, ucapnya. Aku membelalak lebar dan mengecek jaket yang sedang kupakai, Aigoo~ ini memang barang pemberiannya!! Jessica Pabo!!!

Aku mengangkat daguku da n menatapnya sinis, “Aku mundur, Donghae-ssi. Kau menang”, ucapku pelan. Ia menghela nafas dalam dan menatapku lembut, “Apa kubilang? Kau memang baik, Jessica”, ucapnya sambil menepuk bahuku dan berkata pelan, “Gomawo”, dan kemudian ia berjalan meninggalkanku menuju member lainnya yang sedang berkumpul dan sepertinya sedang menginterogasi Jinki.

Aku tersenyum perih dan berjalan menuju mobil yang kuparkir tak njauh dari tempatku berada. Aku masuk ke dalam mobil dan menstrater mobil, aku melirik sebuah foto yang masih terpajang di dashboard mobil. Fotoku bersama Donghae masih setia terpampang disitu.

Aku mengambil bingkai foto itu dan mengeluarkan gambar itu dari dalam bingkai. Aku menatap foto itu dalam-dalam dan menengok kembali kea rah rumah sakit, ia terlihat sedang tertawa bahagia bersama Eunhyuk dan member yang lain.

Aku tersenyum sakit dan mulai merobek foto itu sampai kepingan terkecil. Kubiarkan serpihan foto itu terbang bersama angin, berharap angin itu juga bisa membawa serpihan kenanganku bersama Donghae dulu.

Aku mengambil sebuah foto lainnya dari dalam dompet, fotoku bersama 8 member SNSD lainnya. Mungkin untuk saat ini, inilah foto terbaik untukku.

+++++++

*Nara POV*

Dulu, dulu sekali..aku pernah bermimpi bertemu dengan seorang namja yang sangat baik. Ia selalu bisa membuatku tertawa di mimpiku, ia membawakan bunga yang cantik untukku, dan ia berjanji bahwa ia tak akan pernah membuatku menangis. Ia juga berjanji bahwa ia akan datang di hadapanku beberapa tahun mendatang, saat aku sudah mengerti apa yang dinamakan rasa sayang.

Bertahun-tahun kemudian, tak sengaja aku bertemu dengannya. Di sebuah lorong kantor SM, dia berjalan lunglai dengan keringat bercucuran sehabis training. Aku tahu, ia tak akan mengenalku, tapi aku yakin bahwa dia’lah namja yang pernah ada di mimpiku. Dan dia’lah yang akan mengajarkanku arti rasa sayang yang dulu pernah ia katakan. Dan itulah saat dimana aku bertekad bahwa aku hanya akan mencintainya, menunggu hingga saat dia datang padaku dan membuatku tertawa senang seperti di dalam mimpi.

Hampir 3 tahun aku memperhatikannya, dan baru kutahu bahwa ia adalah namja yang pintar. Aku sering melihatnya duduk di pojok ruang latihan, mencuri waktu di sela-sela latihan untuk memecahkan soal eksak yang sama sekali tak kumengerti itu.

Aku senang melihatnya kebingungan saat tidak bisa menjawab soal eksak itu, aku senang melihat keringat’nya yang mengalir dan membasahi pelipis’nya, aku senang melihatnya menggigiti ujung pensil sambil berusaha mengingat rumus-rumus rumit itu, dan aku senang melihatnya melonjak bahagia saat soal itu berhasil dipecahkan.

Aku suka melihat kesederhanaan’nya. Aku tahu bahwa ia putra dari seorang jutawan, tapi aku selalu melihat’nya naik bis saat menuju kantor SM. Aku tahu bahwa ia amat pintar, tapi dia selalu berpura-pura bodoh di depan trainee lainnya.

Dia selalu merasa kemampuan dirinya paling rendah bila dibandingkan dengan kemajuan temannya yang lain, dan saat itulah dia akan pergi ke atap dan mendengarkan lagu dari mp3’nya, mencoba menari dan menyanyi lebih keras. Setelah lelah, ia akan langsung beranjak ke pagar yang terpasang di sekeliling atap dan membiarkan rambutnya dihempaskan oleh hembusan angin yang lembut. Dalam waktu kurang dari lima menit, dia selalu berteriak “PABO!!”. Teriakan itu selalu dibarengi dengan tangisan kekecewaan dan tak puas. Tapi beberapa detik kemudian, ia tersenyum lagi dan menghapus air matanya dengan tenang. Setelah itu, dia kembali ke tempat latihan dan bercanda lagi bersama temannya yang lain.

Dia aneh, bukan?

Tapi, itulah yang aku suka darinya. Dia memiliki 1000 kepribadian, dan aku masih penasaran bagaimana kepribadiannya yang lain yang belum aku ketahui.

Setiap malam selama bertahun-tahun, aku berharap supaya ia mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku berharap supaya dia juga selalu memikirkanku. Aku berharap dia mencintaiku, lebih dari apapun.

Tapi kini, di saat dia bilang bahwa ia mencintaiku, kenapa aku harus menghindar? Kenapa aku harus berpikir bahwa ia hanya mempermainkanku? Kenapa aku menganggapnya namja yang jahat karena mempermainkan aku dan Jessica onnie?

Kenapa aku tidak menerima cintanya? Kenapa aku tiidak berpikiran bahwa sebenarnya ia juga amat mencintaiku? Kenapa aku tidak berpikir bahwa……

“Nara, aku dan Jessica noona hanya berpura-….”

Tunggu, sebenarnya apa yang ingin dia katakan saat itu? Berpura apa? Untuk apa dia berlari mengejarku untuk menjelaskan sesuatu? Apakah hal itu sangat penting? Tapi apaa?

Ehh, ngomong-ngomong, aku masih pingsan ya?

+++++++++

*Onew POV*

Aku melihat rombongan Suju Sunbaenim berjalan gusar ke arahku, wajah mereka semua seakan murka padaku. Di belakang rombongan SuJu sunbaenim, aku juga melihat Jonghyun, Key dan Taemin berjalan mengikuti para sunbaenim. Ada apa ini?

Seketika suasana langsung menjadi ramai dengan kedatangan mereka semua. Hampir semua pasien ataupun penjenguk langsung mengeluarkan handphone dan memotret kami, tapi sepertinya mereka tidak peduli lagi dengan keramaian ini.

Leeteuk hyung langsung berdiri di hadapanku dan wajahnya makin mendekatiku. Tatapan matanya benar-benar serius. Aku mundur beberapa langkah karena takut dengan pandangan tajamnya itu. Ia berkata tegas, “Kau harus jadi ayahnya!”, dan diikuti oleh anggukan setuju yang lainnya. Aku membelalak lebar, “Ayah?”, tanyaku heran.

“Kami tak ingin dia lahir tanpa ayah”, ucap Eunhyuk tegas. Aku menatapnya bingung, sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Apa mereka bicara tentang seorang pasien yang hamil? Lalu kenapa minta tanggung jawabku? Apa salahku?

“Hyung, kenapa mesti aku yang bertanggung jawab? Aku tak bersalah”, ucapku pelan. Mereka menatapku tak percaya, “Mworago?!! Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau akan bertanggung jawab? Kenapa sekarang mau kabur?!”, bentak Leeteuk hyung agak kencang. Ia mendorong pundakku kasar dan segera ditahan oleh Shindong hyung, sedangkan Taemin, Jonghyun dan Key langsung menghampiriku khawatir. Aku masih bingung, sebenarnya ada apa ini??

“Kau..brengsek!!”, teriak Leeteuk yang mulai emosi. Aku merasa segalanya berputar, terlalu rumit untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang. “Kau tak tahu bahwa ia sangat mencintaimu?! Dan sekarang kau malah membuatnya hamil?!”, ucap Kyuhyun sambil mendekatiku yang masih bingung dengan semuanya.

Aku mendelik heran, “Mencintaiku?”, tanyaku pelan. “Siapa?”, tambahku lagi. Mereka membelalak tak percaya, aku menatap mereka yakin, “Hyung, sumpah! Aku sama sekali tak mengerti apa yang kalian katakan”.

Mereka menatapku ragu, belum percaya penuh dengan kata-kataku. “Memang siapa yang hamil?”, tanyaku serius. Taemin memandangku tak yakin, “Hyung, yakin bukan kau yang menghamili’nya?”. Aku menghela nafas kesal, “Kau tahu sendiri bahwa aku belum pernah pacaran, Taemin. Bagaimana bisa aku menghamili seseorang?!”, keluhku agak keki. Jonghyun menarawang bingung, “Kalau gitu, Nara noona hamil oleh siapa?”.

“HAHH? NARA HAMIL??!”, teriakku tak percaya.

Saat aku masih shock, salah seorang suster menghampiri kami dengan tergesa, “Jinki-ssi, dia koma!!”.

=========
*Nara POV*

Segalanya masih terasa berat dan sekelilingku masih gelap gulita. Aku tahu bahwa aku masih pingsan, tapi rasanya pingsan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini rasanya terlalu menyesakkan, benar-benar seakan menusuk seluruh tubuhku. Mulutku seakan direkatkan oleh sesuatu sehingga aku tak bisa bersuara. Setiap aku mencoba berlari, kakiku seakan menginjak beribu duri. Tanganku lumpuh dan entah mengapa malah berlumuran oleh darah yang bahkan tak aku tahu darimana asalnya. Segalanya terlalu menyeramkan. AKU INGIN BANGUN SEKARANG JUGA!!

“Jangan”, bisik sebuah suara dari belakangku. Aku menengok cepat dan melihat seorang anak kecil yang sedang berdiri sambil menatapku dengan penuh harap. “Kakak, jangan pergi. Aku butuh teman”, ucapku sambil berjalan mendekatiku. Aku mundur perlahan karena takut, tapi aku bisa merasakan kakiku menginjak duri duri tajam itu lagi. Anak kecil itu makin mendekat dan berkata pelan, “Tak perlu takut, kak. Aku sama seperti Kakak, kita harus menunggu beberapa saat lagi sampai saatnya pintu itu terbuka”, ucapnya sambil menunjuk sebuah pintu.

Aku menatap pintu itu heran, tapi anak kecil itu mengulurkan tangannya dengan lembut, “Shim KwangHee imnida”. Aku membalas uluran tangannya dengan takut, tapi saat aku menyentuh tangannya..aku seakan lepas dari segala beban yang tadi menghimpitku. “Kwan Nara imnida”, jawabku pelan. Ia menatapku senang, “Onnie, tak perlu takut. Kita akan pergi bersama. Segala’nya telah ditentukan, hanya tinggal menunggu waktu saja”, ucapnya tenang. Aku membelalak lebar, “Apa maksud ucapanmu tadi??”, tanyaku. Ia menatapku lembut, “Ini hal yang akan dialami oleh setiap orang, Onnie”, jawabnya pelan sambil tersenyum perih.

Aku diam sejenak, dan kemudian malah tertawa perih, “Ahaha~ ini maksudnya? Kita telah mati?!”, tanyaku. KwangHee menggeleng, “Belum, Onnie. Kita masih ada di perbatasan hidup dan mati. Saat kita mati, barulah kita bisa meninggalkan tempat ini dan diizinkan masuk ke dalam pintu itu”, ucapnya. “Dulu, aku memang punya banyak teman di sini, tapi satu persatu dari mereka sudah diizinkan masuk ke dalam sana, sedangkan aku masih harus diam di sini. Sendirian”, jelasnya sambil membentuk suatu bentuk di atas tanah.

Aku menatapnya bingung, “Sudah berapa lama kau di sini?”, tanyaku. Ia mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu. Disini tidak ada jam”, ucapnya santai dan membuatku tersenyum tipis. Beberapa saat, tidak ada yang bicara diantara kami, kami hanya diam di pikiran masing-masing.

Tapi aku amat terkejut saat ia berkata, “Onnie tahu Super Junior?”.

“Hah?”, tanyaku tak percaya. “Kau tahu Super Junior?”. Ia mengangguk senang, “Ne, aku sering melihat penampilan mereka sebelum aku ada di sini. Mereka kerenn~~ !!”, ucapnya sambil mengacungkan 2 jempolnya. Aku tersenyum simpul dan mengacak rambutnya pelan, “Jinca? Kalau begitu, siapa member yang paling kau suka?”, tanyaku. Ia berpikir sejenak, “Akuu..suka semuanya. Tapi aku paling suka Leeteuk Oppa”, jawabnya. Aku mengangguk paham, “Dia memang tampan dan baik”, ucapku pelan. Kwanghee tersenyum bangga mendengarnya.

“Kalau Onnie, suka sama siapa?”, tanyanya ringan. Pandanganku langsung menerawang, “Kau tahu SHINee?”, tanyaku. Ia mengangguk, “Ne, mereka juga tak kalah kerennya dengan Super Junior”, tambahnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan, “Onnie mencintai Onew”,jawabku. Ia mengangguk paham, “Ahh~ arasseo. Lee Jinki?”. Aku mengiyakan jawabannya.

“Tapi, Onnie menyesal tak sempat mengucapkan perasaan Onnie yang sesungguhnya pada dia. Padahal dia bilang bahwa dia mencintai Onnie”, keluhku. Kwanghee menatapku antusias, “Onnie mengenal’nya?”. “Ne, dia temanku. Dan Onnie ini manager Super Junior”, jawabku. Aku bisa melihat pandangan Kwanghee langsung bersinar, “Berarti Onnie kenal dengan Leeteuk Oppa?”. Aku mengangguk lagi. “Hebatttt~”, kagum Kwanghee sambil bertepuk tangan senang.

Tapi wajahku kembali murung, “Onnie benar-benar berharap kalau Onnie bisa kembali ke dunia sebentaarr lagi, walaupun hanya sedetik, untuk mengatakan bahwa Onnie juga sangat mencintai dia. Dan mengucapkan salam perpisahan pada SuJu oppadeul”, ucapku penuh harap. KwangHee menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan, tapi aku tersenyum padanya dan mengacak rambutnya penuh sayang. “Tapi tak apa-apa. Onnie senang bisa bersama denganmu di sini”, tambahku lagi.

Tiba-tiba KwangHee menggenggam tanganku dan ia menarik tubuhku untuk berdiri. Ia menatap jauh kea rah pintu itu yang perlahan-lahan mulai terbuka, “Ayo, Onnie. Waktunya tiba”, ucapnya pelan. Aku ikut menatap kea rah pintu itu, di dalamnya aku melihat sebuah tempat yang..indah. Hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Keindahan itu bisa terlihat jelas biarpun dari jarak sejauh ini.

KwangHee berjalan sambil masih tetap menggandeng tanganku, sedangkan aku hanya mengikuti langkahnya perlahan. Aku sudah tak punya tenaga lagi, rasanya semua energiku sudah terpakai habis untuk memikirkan mereka.

Tapi, tiba-tiba air mataku jatuh. Segalanya bagaikan sebuah kaset yang sedang diputar ulang, bayangan mereka semua langsung berkelebat di depanku. Tawa mereka benar-benar terlihat jelas, tangisan dan isak tangis mereka masih bisa kudengar. Segala perlakuan mereka masih bisa kuingat bahkan kurasakan dengan jelas.

”Selamat datang di Super Junior dorm, Nara”
”Nara, kau sakit? Mau kubuatkan bubur?”
”Bagaimana penampilan kami hari ini? Keren ‘kan? Kau suka?”
”Nara!! Kami menang mutizen!! Bagaimana? Apa kamu bangga?”
”Nara, masakan’mu asin sekali. Kau memang tak berbakat memasak!!”
”Nara! Kau suka Jinki? Kenapa kau tak suka saja padaku? Masa iya seorang Lee Hyukjae harus dikalahkan oleh seorang Lee Jinki?
”Nara, terima kasih karena sudah menjadi bagian dari kami”
”Nara, saranghaeyo!!”

“ANDWAE!!”, teriakku sambil melepaskan genggaman tangan KwangHee. Ia menatapku bingung, “Onnie, ayo kita pergi. Di dalam pintu itu, kita bisa menemukan segala hal yang lebih baik dari Super Junior”, ucap KwangHee meyakinkanku.

Aku menggeleng kencang. “Aniyo, aku ingin kembali ke sana, KwangHee. Bagiku, hanya mereka yang terindah.”, ucapku sambil menahan tangis. KwangHee tersenyum tipis dan menggenggam tanganku lagi, “Onnie, sampaikan salamku pada Oppadeul, terutama pada Leeteuk Oppa”. Setelah mengatakan hal itu, ia mendorong tubuhku ke belakang, tapi alih-alih terkena benturan, tubuhku malah terasa melayang. Jatuh ke suatu ruang yang sepertinya tak akan pernah ujungnya.

======
*Onew POV*

Kami berlari ke ruangan tempat Nara dirawat, disana kami melihat dokter dan beberapa suster masuk dengan tergesa. Aku langsung menerobos mereka dan mencoba masuk ke dalam kamar, tapi percuma..mereka melarang kami untuk masuk.

“Anda tunggu saja diluar”, ucap suster itu sebelum menutup pintu kamar. Aku langsung jatuh bersimpuh dan bisa kurasakan air mataku mulai bercucuran. Aku tak terisak, hanya saja air mataku ini seakan ingin mencoba untuk mengalir menuju tempat Nara berada.

“Hyung”, ucap Key sambil mengangkat tubuhku untuk duduk di kursi tunggu. Aku hanya mengikuti setiap gerakannya saja, lututku benar-benar lemas hingga tak kuat untuk berdiri sekalipun. “Kibum-a”, panggilku pelan. Key menatapku. “Dia tak akan mati, ‘kan?”, tanyaku. Key tersenyum miris dan mengangguk mengiyakan, “Dia pasti tak akan mati, hyung. Setahuku, dia orang yang amat beruntung”, jawabnya. Aku mengangguk pelan.

Saat aku duduk, para member SuJu juga tengah khawatir dan berdiri di depan kamar rawat untuk melihat keadaan dari celah kaca yang terpasang di tengah pintu.

BBAAKK

Bersamaan dengan suara itu, aku melihat Sungmin hyung menundukkan kepala’nya dan menangis terisak. Ia langsung memeluk Eunhyuk hyung yang ada di sebelahnya. Aku mendapat firasat buruk dan langsung berlari menghampiri ke tempat mereka berkumpul.

Aku bisa melihat wajah pucatnya itu kini seakan kaku, dan dokter itu sedang memberikan alat pacu jantung ke tubuh Nara. Kulihat berkali-kali, tubuh Nara berguncang karena tekanan dari alat pacu itu, tapi tetap saja wajahnya masih kaku. Aku melihat ke monitor yang menghitung detak jantunya, garis itu masih bergelombang hanya saja geraknya makin perlahan.

___________________________________/\___/\/\/\_/\/\___/\/\/\___/\/\____

Hanya garis lurus itu yang kini kulihat. Dokter itu menggelengkan kepalanya dan menaruh alat pacu jantung itu kembali ke tempatnya. Ia mengecek jam’nya dan berkata Sesuatu pada suster itu. Dan suster itu mulai menutupi tubuh dan wajah Nara dengan selimut putih.

Aku menatap Leeteuk hyung tak percaya, “Hyung, ini tak mungkin terjadi ‘kan?”, tanyaku sambil mengguncangkan bahunya kencang. Leeteuk hyung menggeleng pelan, “Jinki, ini kenyataan”, ucapnya. Aku bersender di dinding dan langsung menangis kencang, “Andwae, Nara-ya. Kkajima~, jebal!!!”

Dokter itu keluar dari ruang rawat dan langsung menemui Leeteuk hyung yang sepertinya sedang menahan tangis, “Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin”, ucap dokter itu. Leeteuk hyung hanya mengangguk paham, “Kamsahamnida”, ucapnya pelan.

Tapi saat dokter itu akan beranjak pergi, suara kencang suster itu langsung membuat kami terdiam membeku. “DOKTER, DENYUT NADI PASIEN INI BERDENYUT LAGI!!”

Dokter itu kembali ke dalam ruang rawat dan langsung memeriksa Nara lagi. Kami masih diam di luar ruangan, tapi dari sini, aku bisa melihat garis di monitor itu mulai bergelombang.

____/\/\/\/\____/\/\__/\/\/\/\___/\__/\/\/\/\____/\__/\/\____

SuJu sunbaenim langsung berpelukan satu sama lain, ada beberapa di antara mereka yang menangis bahagia. Sedangkan aku terkekeh pelan masih sambil tetap menangis, “Kwan Nara, kau memang tak pernah gagal untuk membuatku khawatir!”.

====
*Nara POV*

Aku kini berdiri di sebuah lorong, aku yakin bahwa ini pasti lorong rumah sakit. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, dimana kamar tempat aku dirawat?. Aku ingin bertanya pada orang lain, tapi bahkan aku tak bisa menyentuh tangan mereka. Tanganku malah menembus tubuh mereka. Aku mencoba berteriak, tapi tampaknya tak ada satupun dari mereka yang mendengar teriakanku.

“ANDWAE, NARA-YA! KKAJIMA, JEBAL~”, teriak seseorang dari lorong yang berbeda dari tempatku berada sekarang. Suara Onew? Aku segera berlari dengan tergesa, dan kini aku melihat mereka semua tengah berkumpul. Mereka semua menangis, entah karena apa. Kulihat Leeteuk oppa sedang berbicara dengan seorang dokter, sedangkan Onew malah sedang menangis terisak.

Aku berjalan perlahan menuju mereka dan menengok sebentar ke dalam kamar, aku melihat suster itu sedang menutup tubuh dan wajahku dengan selimut. Aku menghela nafas sejenak, tak pernah kusangka bahwa aku bisa melihat tubuhku sendiri sedang terbujur kaku seperti itu.

Aku masih berdiri di depan Onew yang masih menangis. Aku berjongkok di depannya dan mencoba menyentuh rambutnya perlahan, tapi masih saja sama seperti sebelumnya, tanganku malah menembus kepalanya. Tapi biarpun begitu, aku tetap menyentuh rambutnya dan mencoba menyeka air matanya, biarpun tetap saja percuma.

Aku menatap bibirnya yang hampir berdarah karena sedari tadi ia hanya menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya agar tidak makin meledak. Tanpa sadar, aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya itu, tapi anehnya..aku bisa merasakan sentuhan bibirnya, bahkan merasakan darah yang ada di bibirnya. Aku menatapnya lagi, “Saranghae, Jinki-ya. Jeongmal Saranghae”, ucapku pelan.

Setelah mengucapkan itu, aku langsung beranjak ke dalam ruang rawat dan mendekati tubuhku sendiri. Aku menutup mata perlahan dan mencoba masuk ke dalam ragaku yang sebenarnya.

Sampai akhirnya, aku bisa mendengar suara suster itu yang berteriak, “DOKTER, DENYUT NADI PASIEN INI BERDENYUT LAGI!!”

Gomawo, KwangHee.

==

T.B.C

 

4 thoughts on “Diary Of Boys Sitter {13th Diaries}

  1. yaelah onnie, kwanghee ntu nama aku, berarti aku mati dong? aniya, jangan, aq belum nikah ama wookie!
    aq bc ne ff cuman sepotong2 doang di sjff, disini baru bc semua…
    kereen! i like it!

  2. yaa eonnie tanggung jawab (T.T) nangis beneran nih bacanya *sesenggukan*
    eonnie, aku sedikit merinding pas baca part yg sm kwanghee itu ._____.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s