{2Shot} Present

February 2nd 2010, Namsan Tower Park, 07.56pm

“Hatschiii~”, aku mengusap hidungku sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Aku melirik ke namja disebelahku ini, dia masih santai memandang jauh ke langit dari Namsan tower ini. Dia tak tahu bahwa aku kedinginan? (T.T) Aku hanya memakai T-Shirt yang tak cukup tebal, tanpa memakai jaket!!

Aku menoel lengannya pelan, “Oppa~, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?”, ucapku sambil merapatkan diri ke tubuhnya. Ia hanya menatapku sekilas dan tersenyum simpul sambil mengacak rambutku pelan, “Tunggulah 5 menit lagi, Nara”, ucapnya sambil kembali menatap langit. Aku hanya menggembungkan pipiku sebal, 5 menit apanya? Dari tadi kami sudah berdiri seperti ini sejak 30 menit yang lalu. (>.<)

Aku memperhatikannya lagi, Lee Gi Kwang, namja ini sudah jadi tetanggaku sejak 10 tahun yang lalu. Ia sunbae ku di sekolah, dan selalu menjadi Oppa yang baik bagiku. Oppa yang selalu menghiburku saat namja yang kusuka ternyata telah berdua dengan yeoja lain, Oppa yang selalu membelikanku es krim saat aku mendapat ranking di kelas, Oppa yang rela menjadi sandaran saat aku mempunyai masalah. Dan, kini..ia telah menjadi Oppa yang tampan, sangat tampan.

Beberapa menit kemudian, Ia melepas jaketnya dan langsung menyampirkan tudung jaket itu ke kepalaku. “Tutup matamu”, ucapnya singkat. Aku menatapnya bingung, “Mwo’ya?”, tanyaku heran. Ia hanya menatapku tajam, “Just because”, ucapnya singkat tapi bisa langsung membuatku tertunduk takut. Dari dulu aku memang takut dengan tatapan dan kata-katanya yang satu itu. (T.T)

“Kau masih ingat kalau aku ingin meraih bintang untuk seseorang yang berarti untukku?”, tanyanya kemudian. Aku hanya mengangguk dan menggumam pelan, “Wae, Oppa? Kau mengatakan itu saat kita masih kelas SD”, tanyaku bingung. Ia menggumam mengiyakan. Kami diam sejenak, “Boleh aku buka mataku? Karena sepertinya tidak etis jika kita berbincang seperti ini”, ucapku. Gi Kwang juga terdiam, “Andwae, tunggu 1 menit lagi, dan selama itu..cobalah untuk berbincang seperti sekarang”, jawabnya ringan. Aku mendengus sebal. (>0<)

Tak lama kemudian, ia menggenggam tanganku dan menuntun langkahku menuju suatu tempat. “Hati-hati dengan langkahmu”, ucapnya. Aku menjawab ketus, “Kalau begitu, biarkan aku membuka mata supaya aku bisa lebih berhati-hati”, Gi Kwang hanya tertawa tertahan dan mencubit pipiku. “Dari dulu kau memang sangat imut kalau sedang marah seperti itu”, ucapnya lagi. Aku tersenyum tipis.

Setelah berjalan tak jauh, kami berhenti di suatu tempat. Ia masih menggenggam tanganku dan mengayunkannya dengan riang, “Ini pertama kalinya aku menggenggam tanganmu”, ucapnya. Aku mengangguk. “Padahal, kita sudah berteman hampir 10 tahun, dan orang-orang sudah mengira bahwa kau adalah dongsaeng’ku. Tapi, aku baru kali ini menggenggam tanganmu”.

Aku mengangguk semangat, “Betul, Oppa. Orang-orang juga mengira kalau Oppa adalah Oppa kandungku. Apa kita sebegitu miripnya, ya?”, tanyaku ringan. Gi Kwang diam sejenak dan menjawab, “Ehhmp, mungkin juga karena kita mirip, tapi aku pikir mungkin karena kita sudah cocok satu sama lain dan kita nyaman dengan hal ini, jadi banyak orang yang menganggap kita sebagai saudara kandung”, jelasnya lagi. Aku menggumam paham, “Arasseo”.

Gi Kwang melepaskan genggaman tangannya, “Waktunya tiba”, sahutnya singkat dan membuka tudung jaketnya dari kepalaku. “Buka matamu”, lanjutnya. Aku membuka mata perlahan dan menatap lurus ke wajahnya. Tak ada suatu kejutan yang berarti, tak ada perubahan yang berarti kecuali tempat kami berdiri sekarang. “Kejutan’nya?”, tanyaku heran. Ia hanya tersenyum simpul dan menunjuk ke atas langit, “Di sana”, lanjutnya lagi.

Aku menengadah ke langit dan melihat hal yang sangat menakjubkan. Hujan Meteor? .
Aku kembali menatap Gi Kwang dan tersenyum senang, “Neomu yeppeoda”, ucapku. Ia mengangakt alisnya ragu, “Jinca?”.

Aku mengangguk yakin, “Ne, jeongmal neomu yeppeoda!!”, ulangku sambil menengadahkan kepala lagi. Ia mengacak rambutku pelan dan berdiri di sampingku. Tangannya kini terarah ke langit, “Nara, kau lihat bintang itu?”, tanyanya sambil menunjuk ke satu bintang. Aku mengangguk. Ia menatapku jahil, “Kau percaya bahwa aku bisa memetik bintang?”, lanjutnya.

Aku langsung terkikik geli, “Ahahaa~ Oppa! Jangan bercanda. Aku bukan anak SD yang bisa ditipu lagi olehmu”, ucapku. Ia langsung tersenyum penuh arti dan mengulurkan tangannya, “Berikan tanganmu, kita petik bintang itu bersama-sama”, lanjutnya.

Aku membelalak tak percaya. “Oppa~ jangan bercanda!”, pintaku. Tangan kirinya masih terulur ke arahku, “Kwan Nara, ikuti perintah Oppa”, ucapnya singkat dan lagi-lagi aku kalah oleh tatapan matanya yang tajam itu. (T.T)

Aku mengulurkan tanganku dan kini tangan kami berdua sedang menengadah ke langit. Ajaib!! Bintang-bintang itu seakan-akan jatuh ke tangan kami berdua, aku bisa merasakannya. (^A^)

Tiba-tiba tangan kanan Gi Kwang menunjuk ke satu bintang dan bertingkah seakan-akan ia sedang memetik bintang itu, “Huup”, serunya sambil meloncat pelan. Aku menatapnya heran, “Oppa, kau kira kau benar-benar bisa memetik bintang?”, tanyaku dengan senyum meremehkan. Ia langsung menatap ke arahku dan menjitak keningku, “Itu hukuman karena tak mempercayaiku”, ucapnya. Aku meringis kesakitan.

“Bukannya aku tak percaya, hanya saja buktinya…”, tiba-tiba suaraku langsung tercekat saat melihat rantai kalung itu menjuntai anggun di depan mataku. Sebuah bandul berbentuk bintang tengah bersinar angkuh.

“Ini buktinya”, katanya sambil tersenyum simpul. Aku menatapnya bingung, “I..Ini..Untukku?”, tanyaku tak percaya. Ia mengangguk mengiyakan, “10 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengenalmu”, lanjutnya sambil mengalungkan kalung itu ke leherku. Aku masih shock.

“Oppa~”

“Mungkin panggilan itu harus berubah mulai detik ini”, ucapnya dengan senyuman yang tak akan pernah bisa kulupakan. Karena bagiku, senyumannya kali ini..adalah senyuman malaikat.

“Hah?”

Ia mencubit hidungku pelan dan wajahnya makin mendekat ke arahku, “Be mine?”

==

Gi Kwang Version

February 11th 2010, My Room, 03.25pm

Aku melingkari sebuah tanggal di kalender dengan spidol merah. 14 Februari, Valentine’s Day. Arggh, 3 hari lagi, apa yang mesti kuhadiahkan untuknya? Apa hadiah yang bisa kubuat hanya dalam waktu 3 hari?! (>A<)

Aku berbaring di kasur dengan pikiran kosong. “Hal yang disuka oleh yeoja berusia 16 tahun? Apa ya?”, gumamku sambil menatap ke langit-langit kamar. “Uhhmp, boneka teddy bear?”, gumamku pelan. Andwaee~ setahuku, dia punya puluhan boneka teddy bear di kamarnya. Kalau aku memberikannya lagi, hadiah itu tak akan bermakna baginya. (=.=)

“Coklat?”. Aissh, tidak..tidak.. Kebanyakan yeoja pasti takut dengan coklat karena akan membuat gemuk. Ya kan? (T.T)

Jadi apa yang mesti kuberikaaaann??!! (>A<)

Aigoo, beginilah akibatnya gara-gara baru mempunyai pacar pertama di usia sekarang. Mempunyai pacar pertama di usia 18 tahun?! Memalukann~ Tapii, apa boleh buat? Selama 10 tahun aku memang selalu menunggu’nya, dan aku baru bisa memilikinya sekarang. (^_^) Yahh, tak ada yang perlu disesali.

“Uhmmp, 16 tahun~~”, aku berpikir keras. “Seseorang yang mempunyai watak seperti. remaja usia 16 tahun~”.

Aku menjentikkan jariku dan langsung tersenyum senang, “Dongho!!”.

——————

“Yebbseo?”, sapa suara di seberang sana. “Dongho-ya, kau ada di mana?”, tanyaku singkat.

“Choneun? Uhmph, aku sedang latihan baseball. Waeyo, hyung?”, tanyanya heran. Aku diam sejenak, “Uhhmph, aku ingin minta bantuanmu sebentar”, ucapku ragu. “Ne?”, tanyanya lagi, tapi kali ini dengan rasa penasaran.

“Akuu~ ingin minta pendapatmu”, aku mulai canggung dan menggaruk kepalaku bingung.

“Tentang?”, ia mulai penasaran. Aissh, dimana harga diriku jika aku menanyakan kepada hoobae’ku ini tentang hadiah valentine untuk Nara? Nara kan mantan pacarnya juga~!, tapi aku tak punya kenalan lain yang berumur 16 tahun selain diaaa~!!

“Ehmm, datang saja ke rumahku. Sepertinya lebih enak jika kita mengobrol langsung di rumahku”, jawabku enggan. Ia menggumam paham, “Arasseo, aku akan ke sana setelah latihan baseball’ku selesai. Oh iya, rumah hyung ada di sebelah rumah Nara ‘kan?”, tanyanya lagi.

“Ne, keurae”, jawabku singkat. “Mianhae sudah mengganggu latihanmu, dongsaeng”.

“Gwenchana, hyung. Ok, annyeong”, ucapnya sebelum menutup saluran telepon. Aku menatap kalender itu dengan pandangan nanar, “Aissh, valentine menyebalkan!! Aku merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa tentang valentine..” (T.T)

Aku menghela nafas dengan berat dan menatap foto Ibu yang masih tersenyum dengan anggunnya, “Ibu, Seandainya kau masih disini, aku pasti bisa menanyakan tentang masalah ini tanpa perlu merasa malu”, ucapku sambil mengelus pigura foto itu dengan hati-hati. “Aku berharap Ibu bisa memberikan petunjuk untukku dari surga”, lanjutku dan tersenyum simpul kemudian memandang langit biru yang luas di luar sana.

==

Nara’s Version

February 11th 2010, My Room, 03.11pm

Aku mengecek uang di dompetku. 10.250 won. Huuuft, dengan uang segini, apa yang bisa kubelikan untuknya?? (TwT) Aissh, harga sepatu olahraga yang kualitasnya bagus..sekitar 35.000 won. Huwaa, padahal aku ingin membelikannya sepatu baru, setahuku sepatu yang dipakainya untuk olahraga benar-benar sudah usang. Tapi, aku butuh 24.750 won lagi, dan bagaimana aku mendapatkannya dalam waktu 3 hari?? (>.<) Lagipula, ini salahnya juga sihh~ kenapa memintaku menjadi pacarnya hanya berselang 12 hari dari Valentine’s day? Aku ‘kan jadi tak bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk membelikan hadiah. XC

“Beli coklat?”, gumamku lagi. Ahh! Andwae~ andwae~, apa istimewanya sebuah coklat dari supermarket? Lain hal’nya jika aku bikin coklat itu dengan kedua tanganku sendiri. Tapiii~ aku nggak ada bakat memasak! (>.<) Aku hanya bisa merebus air atau menyeduh mie instan. (T.T). Bagaimana caranya aku bisa membuat coklat yang cantik dengan kemampuanku ini? Aigoo~ lagipula kenapa Appa dan Umma mesti ada tugas dinas di luar negeri disaat penting seperti ini?! (>s<), aku jadi tak bisa minta bantuan mereka. XC

Aku menatap kalender dengan hampa, disitu sudah terpampang jadwal pada tanggal 14 Februari : _Date with Gi Kwang_

Huuh, ottokhe?? Apa aku tak usah membelikan hadiah saja? (T.T)

Sorry, Sorry, Sorry,Sorry..Naega, Naega, Naega..

Aku melirik kea rah handphone’ku yang tersimpan di sisi tempat tidur. Telepon? “Yebsseo?”, sapaku lemas.

“Nara? Annyeong!!”, seru suara di seberang sana dengan semangat. Aku sampai harus menjauhkan handphone ini dari telingaku karena suaranya agak memekakkan telinga. (TsT). “Oh, annyeong. Nuguseyo?”, tanyaku bingung.

“Aigoo, kau lupa padaku? Aku Cheondung, teman Gi Kwang. Aku selalu menjadi partner’nya saat tanding basket, kau juga pasti pernah melihatku ‘kan?”, tanyanya. Aku diam sejenak untuk berpikir, Cheondung..Cheondung..Cheon~

“Ahhh, watta, watta, watta! Aku ingat~ Mianhae Oppa, aku memang tak menyimpan nomor handphone’mu di contact handphone’ku”.

“Ahh, arasseo. Gwenchana. Tapi, ada yang ingin kutanyakan padamu, Nara”, ucapnya samar karena suara berisik di belakangnya. Seperti suara deru mesin. “Ne, Oppa? Tanyakan saja”, ucapku ringan.

“Kau dan Gi Kwang pacaran?”, tanyanya. Aku tersenyum simpul, “Ne”, jawabku santai.

“Bukankah~ kalian saudara?!”, tanyanya lagi. Aku mengangkat alis sejenak dan tertawa kencang, “Aigoo~ Oppa.. Aniyoo, kami bukan saudara. Kami hanya tetangga semenjak 10 tahun yang lalu, tapi memang banyak orang yang menyangka bahwa kami ini bersaudara”, jelasku padanya. Ia menggumam paham. “Hahhh~ syukurlah. Aku kira Gi Kwang sudah gila karena berpacaran dengan saudaranya sendiri”, ucapnya lega. Aku hanya terkikik pelan.

Suara mesin itu makin terdengar, aku jadi makin penasaran.

“Uhmmp, Oppa sedang apa?”, tanyaku.

“Naneun? Uhhmp, aku sedang membuat coklat pesanan pelanggan. Keluargaku membuka toko cokelat & kue, dan kebetulan saat Valentine seperti ini pasti akan ada banyak pesanan.”, jelasnya. Aku langsung tersenyum lebar saat mendengar kata-katanya itu. “Coklat?”

“Oppa, mau membantuku?”, tanyaku dengan nada misterius.

=======

Gi Kwang Version

February 11th 2010, My Room, 04.14pm

Ting Tong~ Ting Tong~

Aku bangkit dari tempat tidur dan segera berlari pelan menuju pintu depan. “Nuguseyo?”, tanyaku sebelum membukakan pintu, suara di sana langsung menjawab “Dongho, hyung~”. Aku mengangguk paham dan membuka pintu itu lebar-lebar. Seorang namja yang~~ sangat imut ini tengah berdiri di hadapanku, namja yang dulu pernah menjadi rivalku dalam mendapatkan Nara. Tapi syukurlah sekarang kami bisa berteman baik. (^8^)

“Come in”, ucapku sambil mengedikkan kepala sebagai isyarat untuk menyuruhnya masuk. Dongho masuk dan menaruh mantel jaket’nya di gantungan mantel yang ada di dekat pintu masuk, “Waah~ hangatt!”, ucapnya sambil menggosok kedua tangannya dan tersenyum lebar. Aigoo~ Aigoo~ Aigoo~ Imut sekali dia! Kenapa dulu Nara bisa suka namja imut seperti ini daripada aku?! Huhh, dasar perempuan. Wataknya sama sekali tak bisa ditebak. (=3=)

“Ayo ke kamarku”, ajakku. Ia hanya mengangguk singkat sambil berjalan mengikutiku. Pandangannya masih mengelilingi seluruh penjuru rumah. Matanya mulai memperhatikan foto keluarga’ku, “Hyung, apa benar kau tak ada hubungan darah dengan Nara?”, tanyanya. Aku berjalan mendekatinya dan ikut memperhatikan foto itu, “Aniyo, kami hanya tetangga”, jawabku singkat. Ia mengangguk paham. “Tapii~ kalian mirip. Dan tingkah kalian itu benar-benar seperti hubungan Oppa dan Dongsaeng’nya”, lanjutnya. Aku menggumam tak jelas. Apa setelah menjadi kekasih, hubungan kami masih terlihat seperti Oppa dan Dongsaeng?

Aku menghembuskan nafas enggan dan mulai mendorong tubuh Dongho menuju kamarku, “C’mon. Pallineunyo”, ucapku karena Dongho masih tak berhenti memperhatikan setiap foto yang ada di ruang tamu.

——————–

“Jadi begitu ceritanya. Dan aku mau minta pendapatmu tentang hal ini”, ucapku setelah menjelaskan masalah ini dari awal sampai akhir. “Kau sudah berpengalaman dalam berpacaran kan?”, tanyaku. Ia langsung mengangguk yakin sekaligus bangga, “20 kali, hyung!!”, jawabnya. Aku membelalakkan mata tak percaya. “20 kali?!”, tanyaku takjub. Aigooo~ aku dikalahkan oleh seorang namja imut seperti ini? Arggh, mau ditaruh di mana mukaku ini?! Dia sudah pacaran 20 kali, sedangkan aku baru sekali. (>.<)

“Nara, pacarmu yang keberapa?”, tanyaku heran. Ia terlihat berpikir sejenak, “Uhhmp, mungkin ke 13, hyung”, jawabnya innocent. HAH?! “Kau mulai pacaran dari umur berapa?”, tanyaku lagi. Ia menghitung sesuatu dengan jarinya, “Uhhmp, sepertinya dari TK”, jawabnya lagi dan kali ini dengan lebih innocent. (0.o) DARI TK?. “Berapa lama kau pacaran dengan Nara?”, tanyaku lagi. Ia masih menjawab dengan sangat amat innocent, “2 bulan, hyung. Dan itu sudah termasuk lama, lho. Biasanya aku pacaran hanya sekitar 2-3minggu”, jelasnya. AKU MAU MENGUBUR DIRIKU SEKARANG JUGA!!!

Saat aku masih shock, tiba-tiba ia mengatakan sesuatu, “Tapi aku tahu bahwa cepat atau lambat, kalian akan bersama, hyung. Saat aku masih bersama dengan Nara, kau terlihat cemburu dan sangat membatasi Nara, makanya aku yakin bahwa kau pasti juga mencintainya”, ucapnya. Aku menganga heran, “Kau tahu itu dari dulu?”, tanyaku. Ia mengangguk yakin dan tersenyum simpul.

“Jadii~ apa yang harus kulakukan, sunbaenim?”, ucapku segan. Yahh, setidaknya kan dia master dalam hal pacaran, tidak sepertiku. (>3<). Ia menggaruk kepalanya sejenak dan berdiri mengambil boneka beruang besar (hadiah dari Nara saat ulang tahun ku ke 13) yang ada di pojok kamar. “Boleh pinjam ‘kan, hyung?”, tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. Ia membawanya dan duduk di sebelahku, “Jadii, saat valentine nanti, kau harus duduk di hadapannya seperti ini”, ucapnya sambil duduk berhadapan dengan boneka beruang itu. “Hah?”, tanyaku heran.

Ia mengangguk yakin, “Saat valentine itu, kau tak perlu memberi hadiah yang macam-macam, kau hanya perlu memberikan satu kejutan saja”, jelasnya dengan serius. Aku memperhatikan dengan seksama. Ia mulai berbincang tak jelas dengan boneka itu, (jujur saja, ia jadi kelihatan seperti orang gila. XD). Dan akhirnya, ia berkata, “Tutup matamu, jagiya”. Aku mulai merasakan hal yang tak enak, dan benar saja..Ia mulai mendekatkan wajah dan bibir’nya ke boneka itu.

Aku langsung berteriak kencang, “PPO PPO? CIUMAN?”, tanyaku takjub dan membuat Dongho menghentikan praktek’nya pada boneka beruangku itu. Dongho menatap ke arahku dengan santai, “Waeyo, hyung?”.

Aku menggeleng kencang, “Andwae~ Andwae~ Andwae~ Tidak adakah cara yang lebih baik selain itu?”, tanyaku padanya. Ia berpikir sejenak, “Uhhmp, apa ya? Aku tak tahu, hyung. Karena biasanya aku selalu melakukan hal itu setiap Valentine”, ucapnya ringan. Aku langsung membelalak lebar. “MWORAGO? Tiap Valentine?!! Berarti Nara…”

Dongho menggeleng singkat, “Aniyo, hyung. Aku dan Nara pacaran hanya dari bulan November sampai Januari, belum saatnya valentine”, ucapnya innocent. Aku menghembuskan nafas lega, tapi langsung menatapnya ganas, “Tapi, kau tak melakukannya ‘kan?”. Ia menatapku takut dan menggeleng kencang, “Ani, hyung. Tidak pernah sekalipun. Sumpah!!”, ucapnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga membentuk huruf ‘V’.

Aku tersenyum lega, berarti Nara masih dalam keadaan ‘suci’. XDD

“Oh iya, hyung. Tadi aku bertemu Nara di jalan menuju ke sini, dan sepertinya dia juga mau pergi ke suatu tempat.”, ucap Dongho sambil memainkan boneka beruangku. Aku mengangkat alis heran. “Pergi?”.

Dongho mengangguk, “aku kira hyung sedang ada janji dengannya”, lanjutnya. Aku melirik ke kalender, aniyo, hari ini aku tak ada janji dengannya. Jadi dia pergi ke mana? Kenapa ia tak memberitahuku dulu?

Aku mengambil handphone dan mulai meng’sms’nya.

To :❤ nara❤
Tadi aku lihat kau pergi keluar? Mau kemana? Perlu kuantar?

Aku melirik ke arah Dongho yang msih asyik bermain dengan boneka beruangku. Malahan sekarang ia sedang menari dan bercanda dengan boneka itu. (-.-)

“Dongho-ya, kau lapar?”,tanyaku padanya. Ia menggeleng, “belum,hyung. Tadi rencana’nya aku mau beli jajangmyun sehabis latihan baseball, tapi ternyata kau keburu menelfonku.”, jelasnya. Aku mengangguk paham dan memencet nomor telefon restoran yang sudah kukenal. “Yebbseo, ahujmma? Aku pesan 3 jajangmyun. Kirim saja ke rumah’ku ya? Ahjumma, kau ingat aku ‘kan?”, tanyaku memastikan karena ahjumma ini sering salah mengenalku. Padahal aku sudah jadi langganan’nya semenjak aku kecil.

“Ne, ini Gi Kwang. Ok, kamsahmnida ahjumma”, ucapku sebelum menutup telefon. Dongho menatapku dengan pandang berkaca-kaca. “Hyung, kau memang baiiiikkkk~~!!!”, ucapnya sambil beranjak untuk memelukku. Aku langsung menghalau’nya untuk menjauh, tapi..

CKKLEKKK~

Seokhyun, adikku, tengah menatap aku dan Dongho yang masih dalam posisi ‘hampir’ berpelukan. Ia menatap kami dengan ekspresi datar, tapi kemudian..

“Mwoya??”, tanyanya sambil tersenyum meremehkan dan menutup pintu kamarku lagi.

Aku menatap Dongho dengan beringas, “apa yang kau lakukaaann?”, ucapku sambil mengacak rambutnya tanpa ampun. Ia langsung menghindar, “ampuun, hyung!!! Ampuunnn~~”

everyday I shock~ everynight I shock

Handphone’ku berbunyi dan membuatku berhenti mengejar Dongho, sms dari nara.

from :❤ nara❤
Gwenchana oppa. Aku hanya pergi ke rumah teman untuk menyelesaikan tugas membuat video dokumenter.. ^w^ mianhae aku nggak bilang dulu ke oppa. (T/\T)

Aku langsung tersenyum lebar, “video dokumenter?”.

==

Nara’s version

February 11th 2010, way to Cheondung’s house, 04.05pm

Aku mengunci pintu rumah dan menaruh kunci itu di bawah pot bunga dekat pintu masuk. Ini memang sudah jadi kebiasaanku dari kecil untuk menaruh kunci di bawah pot bunga. (^_^)

Aku menatap langit, agak mendung. Uhmmp, sudahlah..kubawa saja payung’ku. Sebagai jaga-jaga kalau hujan nanti.

Aku baru berjalan tak cukup jauh, tiba-tiba aku bertemu dengan Dongho. Ia berjalan sambil membawa bat baseball dan bersiul pelan. Aku agak terkejut, tapi mencoba untuk tersenyum simpul. Ia hanya mengangguk sambil balas tersenyum. “Mau pergi?”,tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. Ia menggumam paham, “take care, ya”, ucapnya dan berjalan mendahuluiku.

Aku menatap punggunggnya dari belakang. “Arasseo”, jawabku. Senyumnya masih tak berubah, masih imut dan lucu seperti dulu. Hanya saja, sekarang aku tak berdebar setiap melihatnya. Mungkin, karena sudah ada Gi kwang. ^^

Aku mengangguk yakin dan tersenyum senang. “Coklatt~~ wait for me!!! :D

—————–

Ting Tong~~ Ting Tong~~

Aku memencet bel rumah ini. Rumah ini agak mirip seperti toko. Minimalis tapi berkesan elegan.

Aku mendengar suara derap langkah dari dalam rumah, dan di balik pintu rumah itu terdapat seorang wanita yang anggun tengah menatapku dengan heran. ” Nuguseyo?”, tanyanya.

Aku membungkuk sopan, “annyeonghaseyo, choneun kwan nara imnida.”, ucapku. Ia juga membungkuk singkat. “Aku ingin bertemu dengan cheondung oppa”, lanjutku. Ia langsung tersenyum senang, “aah, arasseo!! Jadi ini calon menantuku”,ucapnya bahagia. Aku membelalak kaget. “Hah?!”

Tiba-tiba seorang namja sudah berdiri di belakang ahjumma ini. “Aigo, umma, apa yang kau lakukan?! Dia hanya temanku, lagipula dia yeojachingu”nya Gi Kwang”, ucap Cheondung sambil menarik tanganku untul masuk ke dalam rumah. Ahjumma itu langsung mendesah kecewa, “yahhh, padahal umma ingin tahu yang mana yeojachingu’mu.”.

Cheondung menatap ibunya dengan heran, “Umma, mana ada yeoja yang suka dengan namja yang sering membuat coklat?!”, ucapnya. Umma’nya mengangguk mengiyakan. Aku langsung menggeleng kencang, “aniyo, menurutku namja yang sering bikin coklat adalah namja yang romantis”, selaku. Cheondung dan Umma’nya langsung menatapku takjub, “Aigooo~”, ucap mereka berbarengan dan langsung memelukku. “Neomu kiyoptaaaa~~”, ucap mereka sambil mencubit pipiku dengan gemas. XDD

“Ayo masuk”, ajak Cheondung. Ia berjalan mendahuluiku menuju dapur, aku mengikutinya sambil memperhatikan foto-foto keluarganya. Ternyata ia punya saudara perempuan, cantik dan mirip sekali dengannya. “Oppa, ini saudaramu?”,tanyaku sambil menunjuk foto keluarga mereka. Cheondung mengangguk, “dia noona’ku. Sekarang dia sedang kuliah di philipina”, jelasnya. Aku mengangguk paham, “neumo yeoppoda. Cantik sekali”, ucapku. Ia mengangguk mengiyakan.

“Ahh, ayo kita ke dapur. Kita belajar bikin coklat!!l, ucapnya dan menarik tanganku.

Dapurnya lucuuuu, benar-benar rapi dan bersih. :D
Cheondung mulai mengambil sekotak coklat block dan menyuruhku untuk melelehkan coklat itu. Aku menatapnya dengan pandangan memelas, “oppa, aku buta memasak”, jelasku. Ia menatapku tak percaya, “jinca?”. Aku mengangguk yakin.

Ia terkekeh pelan dan mengambil panci dan sebuah mangkok alumunium. “Begini caranya melelehkan coklat”, ucapnya dan mulai mempraktekkan. Aku memperhatikan dengan seksama. Setelah itu, ia mulai menimbang candy chips untuk menghias coklat itu, dan memilih buah-buahan untuk sari rasa coklat.

Tapi, aku langsung tertawa saat melihat wajah Cheondung yang terdapat corengan coklat. XDD. “Oppa, wajahmu… Hhahahaha”,ucapku sambil terkekeh. Ia menatapku heran dan segera menuju cermin. “Aargh, andwae!!!”, ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan tangannya. Tapi tangannya juga kotor, jadiii…makin kotor saja wajahnya. XDD

Ia tertawa dan menghampiriku, “tak adil jika hanya aku yang merasakan hal ini!!!!”, ucapnya sambil berlari mengejarku. Aku berlari menghindar menuju ruang tamu, dan bersembunyi di balik tubuh Umma Cheondung. “Ahjumma, anak’mu nakal!!!”, aduku padanya. Ia langsung menatap Cheondung dengan ganas, “jangan bermain-main seperti anak kecil”, ucapnya. Cheondung menggembungkan pipinya sebal, tapi ia langsung mencoreng wajah Umma’nya dengan coklat di jarinya. “Cheondung-aaaaaaa~~”,teriaknya sambil berlari mengejar Cheondung. Aku tertawa senang. Tiba-tiba aku jadi kangen umma dan appa. :(

Tapi saat aku sedang memikirkan umma dan appa, cheondung dan umma’nya telah menyerangku dengan coretan coklat.😄. “Aaaaargh,kalian berduaaaa..”, ucapku sebal. Mereka hanya terkekeh senang.

Sorry, Sorry, Sorry,Sorry..Naega, Naega, Naega..

Handphone’ku berbunyi. SMS?

from :❤ Gi Kwang Oppa❤
Tadi aku lihat kau pergi keluar? Mau kemana? Perlu kuantar?

Aku langsung bingung. Bagaimana aku menjawabnya? Masa aku harus jujur kalau aku sedang membuat coklat untuk hadiah valentine?

Arggh, terpaksa harus bohong. (>O<). Jeongmal mianhae oppa. Mianhae, mianhae, mianhaeeee~~

To :❤ Gi Kwang Oppa❤
Gwenchana oppa. Aku hanya pergi ke rumah teman untuk menyelesaikan tugas membuat video dokumenter.. ^w^ mianhae aku nggak bilang dulu ke oppa. (T/T)

Mianhae, oppaaa~~

“Nara, ayo kita lanjutkan bikin coklatnya!!!”, ajak Cheondung. Aku mengangguk dan berjalan menghampirinya dengan semangat.

aku harus membuat coklat yang spesial untuk dia!!!! . :D

***

T.B.C

{Kwan Nara}

4 thoughts on “{2Shot} Present

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s