{KyuNara Scene} Last Intermission!

Reccomended Song : B2ST – On Rainy Days

***

MBC’s building, Seoul

“Mengundurkan diri?”, seru produser WGM itu dengan nada tak percaya. Haejin dan Ririn hanya bisa mengangguk kecil tanpa berani bertatapan mata dengan pria di hadapan mereka, di luar perkiraan mereka ternyata produser itu sangat..menyeramkan.

“Jangnan hajimaseyo, Haejin-ssi, Ririn-ssi. Tolong jangan bercanda di saat seperti ini”, ucap produser itu sembari melunakkan nada bicaranya dan mencoba berbicara baik-baik dengan kedua gadis di hadapannya itu. “Ini bukan masalah emosional sesaat, kita sudah menandatangani kontrak ‘kan? Dan dengan alasan itu, kami bisa saja menuntut Kwan Nara-ssi karena sudah memutuskan kontrak ini seenaknya.”

Haejin dan Ririn langsung meneguk ludah secara bersamaan dan saling menatap dengan gugup. Keurae, dengan kontrak itu maka pihak  MBC bisa menuntut Nara sekehendak hati mereka.

“Tapi”, Ririn membuka mulutnya dan berucap pelan, “Nara sudah melakukan terbaik darinya, sajangnim.”

Produser itu mengibaskan tangannya dengan jengah dan terkekeh sinis kearah mereka berdua, “Dunia pertelevisian tidaklah semudah itu, Ririn-ssi.”

“Disini”, dia menunjuk meja kerjanya, seakan mengibaratkan bahwa mejanya itu adalah perwakilan dari gedung MBC, “hal yang tak mungkin bisa berubah menjadi mungkin, Ririn-ssi. Dan kami tak peduli tentang perasaan pribadi seperti itu. Nara-ssi harus bertanggung jawab atas permintaannya in-”

“SAJANGNIM!”, seru seseorang sambil membuka pintu ruangan produser itu dengan sangat tergesa. Di tangannya ia membawa selembar kertas, wajahnya benar-benar terlihat sangat panik. “LIHAT INI!”, tambahnya sambil mengacungkan selembar kertas di tangannya dan berderap ke arah produser itu.

“Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?”, tanya sang produser dengan nada sinis saat melihat kelakuan urakan bawahannya, namun orang yang dituju itu seakan tak merasa dan masih serius dengan kertas di tangannya. “Ini! Kami baru saja melihat liputan terkini dari berita Jepang dan-”

Haejin dan Ririn yang memperhatikan itu semua dari belakang, langsung merasa tertarik saat mendengar orang itu berbicara mengenai Jepang. Entahlah, mungkin itu ada hubungannya dengan Nara?

“Ternyata Kwan Nara-ssi adalah pewaris dari perusahaan Kwan’s Motor Corp!”

“MWOYA?!”, bukannya sang produser yang merasa terkejut, tapi malah Ririn dan Haejin yang kini terlihat sangat kaget dan berebutan melihat isi kertas yang dibawa oleh pegawai tadi.

Diatas lembaran kertas tadi terpampang foto seorang gadis yang berdiri diantara pria dan wanita berusia separuh baya, gadis itu tersenyum kaku ke arah kamera. Tidak salah lagi, itu Kwan Nara yang mereka kenal!

“Ini..bercanda ‘kan?”, gumam Haejin sambil masih menatap selembar kertas ditangannya itu dengan tatapan hampa.

Bagaimana bisa seorang gadis dengan sikap evil seperti Nara ternyata adalah seorang putri dan pewaris utama dari perusahaan terkenal hampir di separuh dunia itu? Dan yang paling penting, bagaimana bisa dia menyembunyikan hal ini dari mereka berdua?

“Ah”, sang produser itu kembali mengeluarkan suara setelah bisa mengatur rasa terkejutnya, “jadi ini alasan dia pergi ke Jepang? Untuk mengurusi perusahaannya?”

Ririn dan Haejin masih terlihat blank tapi akhirnya Ririn memutuskan untuk mengecek keaslian berita itu lewat internet di iphone-nya, berharap bahwa itu hanyalah hoax semata. “Mustahil”, desis Ririn saat melihat semua portal-web di daum ternyata tengah memampangkan foto Nara dengan title : “Pewaris Utama Kwan’s Motor Corp.”

KRINGG..KRINGG..

Belum habis rasa terkejut semua orang yang ada di ruangan itu, tiba-tiba telefon milik sang produser berdering cukup nyaring di suasana yang sunyi itu.

“Yoboseyo?”, sapa sang produser.

“Jinhwan-ssi, ada telefon untuk anda. Line 4″, ucap suara bernada halus di seberang sana. Produser itu menggumam kecil, “Tolong sambungkan.”

Tepat saat ia menyelesaikan ucapannya, kini terdengar suara bernada berat dan sangat berkesan penuh wibawa. “Kang Jinhwan-ssi? Produser acara We Got Married?”

“Ya, saya Kang Jinhwan”, ucap sang produser itu singkat. “Nuguseyo?”

“Saya perwakilan dari nona Kwan Nara, atau lebih tepatnya keluarga Kwan”, kata suara bernada berat itu dan membuat Jinhwan seakan terhenyak tak percaya. “Tanpa bermaksud memperpanjang pembicaraan, saya hanya ingin bertanya : berapa banyak uang ganti rugi yang harus kami berikan pada perusahaan anda atas permintaan pengunduran diri atas nama beliau?”

“Eh?”, tanya Jinhwan tak percaya. “Ganti rugi? Bagaimana bisa anda mengetahui..”

“Saya rasa, saya cukup pintar untuk menebak bahwa jika kita melanggar sebuah kontrak maka kita harus membayar ganti rugi, ‘kan?”, suara bernada berat itu menyela ucapan Kang Jinhwan, “anda bisa minta jumlah berapapun yang anda mau. Kami usahakan untuk mentransfer uangnya secepat yang kami bisa.”

“Ah”, Jinhwan berdehem sejenak dan berusaha mendapatkan pikiran lurusnya kembali, “baiklah, saya akan mengirimkan email berisikan jumlah ganti rugi yang harus anda berikan.”

“Okay”, ucap suara diseberang, “Saya mewakilkan nona Kwan Nara ingin mengucapkan terima kasih atas kerja sama anda selama ini.”

Jinhwan menggumam singkat, “Ya, sama-sama. Terima kasih juga atas kesediaan Nara-ssi untuk membantu berlangsungnya acara ini”, ucapnya basa-basi.

Tak lama kemudian, pembicaraan berakhir dan Jinhwan segera menaruh gagang telefon itu kembali ke tempatnya. Dia menatap pegawainya tadi dan berseru kecil, “bawa kontrak yang pernah kita buat dengan Kwan Nara lalu kirimkan jumlah ganti rugi yang harus dia berikan pada kita.”

“Sekarang?”, tanya pegawai itu memastikan.

Jinhwan mengangguk cepat, “Sekarang. Secepat yang kau bisa.”

Pegawai itu menggumam mengiyakan dan berderap meninggalkan ruangan itu menuju ruang penyimpanan data untuk mengambil data kontrak yang pernah ditandatangani oleh Nara. Sementara itu, Ririn dan Haejin masih membeku dan shock di tempatnya masing-masing. Tak tahu harus berekspresi seperti apa, otak mereka benar-benar blank.

Jinhwan melirik sekilas kearah kedua gadis itu. “Kalian berdua”, ucapnya singkat dan membuat Ririn dan Haejin tersadar dari lamunannya, “Kalian boleh pulang. Masalah ganti rugi sudah diselesaikan tadi. Tak ada masalah lagi, We Got Married untuk Kyuhyun-ssi dan Nara-ssi akan dihentikan penayangannya.”

Ririn dan Haejin mengangguk kecil dan membungkuk singkat kearah produser itu lalu segera meninggalkan ruangan. Keduanya benar-benar masih terlihat shock, bahkan Haejin sampai menyuruh Ririn untuk mencubit pipinya kencang-kencang untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi atau khayalannya saja.

“Awww!”, Haejin meringis saat jari lentik Ririn mencubit pipinya dengan cukup kencang, “Ini..bukan mimpi, ya?”

“Bukan. Bukan mimpi”, ucap Ririn seakan meyakinkan pernyataan Haejin. “Dia ternyata bukan hanya gadis biasa, Haejin-ah.”

Haejin melirik Ririn yang kini sedang menatap TV plasma yang dipasang di ujung koridor gedung MBC ini. Di TV itu sedang ditayangkan acara berita dan sudah bisa ditebak, headnews kali itu adalah tentang identitas Kwan Nara yang sesungguhnya. “Bagaimana bisa dia menyembunyikan hal ini dari kita?”, gumam Ririn, merasa sedikit takjub.

“Aish! Anak itu!”, tiba-tiba saja Haejin mengeluarkan handphone miliknya dan segera mencari nomor handphone Nara, “Dia harus menjelaskan semua ini pada kita sekarang!”

Ririn melirik sekilas ke arah Haejin yang kini mengumpat tanpa arti ke handphonenya, tapi detik berikutnya ekspresi wajah Haejin langsung berubah 180 derajat dari sebelumnya. “Wae?”, tanya Ririn.

“Nomor handphone Nara..”, Haejin menggenggam handphone di tangannya itu dengan lemas, “..tidak terdaftar.”

“Tidak terdaftar?”, gumam Ririn sedikit bingung, “Kau yakin itu bukan ‘tidak aktif‘? Mungkin kau salah dengar, Haejin-ah.”

Haejin menggeleng dan menyerahkan handphonenya kepada Ririn untuk memperdengarkan suara operator handphonenya, “Nomornya tidak terdaftar, onnie. Berarti..nomor Nara dihapus langsung dari operatornya.”

“Mwo?!”

***

Tokyo, Japan

“Welcome home, Ra-ya”, seru Kwan Soohyun sambil merentangkan tangannya lebar-lebar di depan sebuah rumah megah dengan nuansa warna putih itu. “Wait! Mommy ingin mengecek kamarmu dulu!”, lanjutnya dan berderap masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa.

Nara tersenyum kecil dan menarik kopernya menuju pintu berdesain deluxe itu. “Ah, tak apa. Biar aku sendiri yang membawa koper ini”, tolak Nara dengan halus saat ada seorang pelayan pria yang menawarkan untuk membawakan koper miliknya.

“Berikan saja kopermu, Ra-ya”, ucap suara berat dari belakang tubuh Nara. Ia membalikkan badannya dan melihat sosok ayahnya yang tengah tersenyum penuh wibawa, “Kau harus terbiasa dengan hal ini.”

Nara menatap koper di tangannya ini dengan ragu, namun pada akhirnya dia mengikuti ucapan ayahnya dan menyerahkan koper itu kepada sang pelayan. “Arigatou Gozaimasu”, ucap Nara pada pelayan itu.

Sang pelayan terlihat sedikit terkejut saat mendengar Nara mengucapkan terima kasih padanya. Entahlah, tapi hanya hal itu yang dapat Nara simpulkan saat melihat matanya yang berbinar ceria.

“Ra-ya”, Hyonsaeng kini berdiri di samping Nara dan merangkul bahunya dengan penuh rasa bangga. “Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri dengan semua yang ada disini. Mungkin awalnya akan terasa sulit, tapi lama-kelamaan kau pasti akan terbiasa.”

Nara mengangguk lemah sebari memperhatikan bangunan mewah yang ada di hadapannya ini. “I’ll try my best, Daddy.”

Hyonsaeng mengangguk senang dan menuntun langkah Nara untuk masuk ke dalam rumah. Nara sedikit terhenyak saat matanya disambut oleh deretan pelayan berseragam rapi yang berbaris di samping kanan dan kiri pintu masuk, “Ini semua pelayan kita?”

“O!”, Hyonsaeng menggumam mengiyakan. “Kau tak perlu ragu untuk meminta bantuan mereka jika kau sedang membutuhkan sesuatu.”

Nara mengangguk kecil dan tersenyum kaku kepada deretan pelayan yang kini membungkuk penuh hormat kearahnya. Bagi Nara, ini semua terlalu..berlebihan. Entahlah, mungkin karena sudah lama terbiasa hidup mandiri, kini Nara merasa sedikit sungkan untuk memiliki puluhan pelayan seperti ini. Benar-benar perubahan yang drastis.

“Ra-ya”. Hyonsaeng menepuk-nepuk bahu Nara dan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, “kau sakit?”, tanyanya saat melihat wajah anaknya itu menjadi sedikit pucat.

Nara menggeleng dan berusaha tersenyum ceria, “Aku baik-baik saja, Daddy. Hanya sedikit lelah dan pusing karena menghadapi sinar blitz di bandara tadi”, elaknya.

Hyonsaeng mengangguk paham, “Baiklah, kalau begitu cepat istirahat. Nanti jika kondisimu sudah membaik, Daddy akan mengajakmu ke perusahaan. Okay?”

“Okay”, jawab Nara singkat.

Hyonsaeng mengibaskan tangannya dan dalam sekejap ada satu pelayan wanita yang berderap menghampiri Nara. “Ini pelayan pribadimu, Ra-ya. Dia yang akan mengurusi segala hal tentangmu.”

Pelayan itu membungkuk dalam-dalam dan tersenyum lebar, “Saya Park Miina, nona Nara.”

“Nara saja”, ucap Nara singkat dan membuat Hyonsaeng mengernyit seakan berkata ‘dia-pelayanmu-maka-lakukan-sesukamu, Ra-ya’. Tapi Nara menggeleng kearah Ayahnya itu, “Aku masih butuh waktu untuk terbiasa dipanggil nona oleh orang selain Joomin Ahjusshi, daddy”, ucapnya mencari alasan.

Hyonsaeng hanya bisa menghela nafas dengan berat dan mengangkat bahunya, “Up to you”, ucapnya singkat dan dibalas dengan senyuman dari Nara.

Nara kembali beralih menatap Miina yang masih menatap penuh segan kearahnya, “Jadi panggil aku Nara saja. Okay?”

Miina terlihat kebingungan dengan permintaannya itu, “Tapi bukankah itu tidak sopan?”

“Berapa umurmu?”, alih-alih menjawab pertanyaan Miina, Nara malah bertanya hal lain. “Sepertinya kita seumuran.”

“Saya 19 tahun”, jawaban Miina itu memmbuat Nara terkekeh pelan. “Lihat? Kau lebih tua dariku, malah seharusnya aku yang memanggilmu Onnie”, ucap Nara dengan santai.

“Jadi panggil aku Nara saja. Okay, Miina Onnie?”

Hyonsaeng tersenyum kecil saat melihat kelakuan putrinya itu. Sosoknya saat ini memang sama persis dengan sosok Seunghwan, putranya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

“Panggil aku Seunghwannie saja. Aku masih belum terbiasa untuk dipanggil Tuan muda.”

Dan Hyonsaeng yakin bahwa Nara bisa menggantikan sosok kakaknya itu dengan baik, bahkan mungkin lebih baik.

***

Taipei, Taiwan

“PEWARIS PERUSAHAAN?!”, seru Ryeowook tak percaya saat acara berita di TV menampilkan slide foto Nara dan juga liputan wawancaranya saat berada di bandara Narita.

“KWAN’s MOTOR CORP?!”, teriak Henry. “Aku punya mobil dengan merk itu!”

“YA! DIA SEKAYA ITU, TAPI KENAPA DIA PELIT SEKALI?! SEKALIPUN DIA TIDAK PERNAH MENTRAKTIRKU!”, kali ini giliran Eunhyuk yang berteriak tak percaya dan tentu saja teriakannya itu mendapat balasan timpukan bantal dari member Super Junior M lainnya.

“Rasa terkejutmu itu sangat tidak beralasan, Eunhyuk-ah”, timpal Sungmin pelan. Eunhyuk hanya mencibir pelan tapi detik berikutnya langsung berseru semangat, “Berarti kita bisa dapat diskon dong, ya? Sudah lama aku ingin membeli mobil produk terbaru dari Kwan’s Moto..”

Ucapan Eunhyuk langsung terhenti saat pintu kamar Kyuhyun terbuka dengan tiba-tiba. Dalam sekejap, semua member Super Junior M langsung menjadi panik dan berebutan mencari remote untuk mematikan TV yang sedang menayangkan berita tentang Nara.

Kyuhyun hanya bisa mengernyitkan alisnya saat melihat Zhoumi menekan tombol off di remote TV dan semua member lainnya langsung tersenyum kaku padanya. “Selamat pagi, Kyuhyun-ah”, koor mereka serempak dan membuat Kyuhyun sedikit merinding karena senyuman lebar dari mereka semua.

“Mwo hae?”, tanya Kyuhyun sambil meraba tengkuknya yang terasa merinding, “Kenapa kalian bersikap sangat manis hari ini?”

Mereka semua menggeleng bersamaan dan masih tersenyum lebar. Kyuhyun mendengus kecil dan mengangkat bahunya, berusaha tak peduli.

“Donghae dan Siwon hyu..ah, keurae, mereka pasti syuting”, selidik Kyuhyun saat tak melihat kehadiran Siwon dan Donghae di ruang tengah dari dorm mereka. Kini dia berjalan ke arah sofa dan kemudian duduk diantara Zhoumi dan Sungmin. Kyuhyun menyodorkan tangannya ke arah Zhoumi, “Remotenya?”

“Eh?”, Zhoumi hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, “Remotenya? Untuk..apa?”, ulangnya dengan nada gugup.

“Apakah remote mempunyai fungsi untuk menyiram tanaman?”, tanya Kyuhyun dengan nada heran, tak habis pikir dengan pertanyaan Zhoumi yang berkesan sangat aneh. “Aku ingin menonton TV dan aku butuh remote”, ucapnya sekali lagi masih sambil menyodorkan tangannya kearah Zhoumi.

“Tak ada acara yang menarik kok”, ucap Sungmin, mencoba mengalihkan perhatian Kyuhyun. “Hanya ada acara berita tentang politik dan itu semua dalam bahasa Mandarin. Membosankan.”

“Itu malah bagus. Aku ingin belajar tentang itu”, ucap Kyuhyun santai dan kini berusaha merebut remote dari tangan Zhoumi.

“Kyuhyun-ah!”, Ryeowook mencekal tangan Kyuhyun dan berseru semangat, “Daripada menonton TV, bagaimana jika kita memasak saja? Aku akan ajarkan kau memasak makanan yang enak!”

“Hah?”, Kyuhyun makin merasa heran. Bukankah Ryeowook tahu bahwa kemampuan memasaknya itu bahkan lebih parah dibandingkan anak TK?

Belum habis rasa terkejutnya, tiba-tiba Eunhyuk ikut-ikutan memegang bahunya. “Kyuhyun-ah, aku punya banyak video baru. Bagaimana jika kita menonton itu saja?”, tanya Eunhyuk sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum penuh arti.

“Video ap..”, ucapan Kyuhyun langsung terhenti saat memahami apa arti ‘video’ yang Eunhyuk ucapkan tadi. Kyuhyun mendengus kecil, “Aku hanya ingin menonton TV. Kenapa kalian selalu mencegahku?”

“KYUHYUN-AH!”, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh dari pintu depan dan disusul dengan derap langkah tergesa. Detik berikutnya, sosok Siwon dan Donghae terlihat dari balik tikungan menuju ruang tengah. “KYUHYUN-AH!”

Donghae dan Siwon segera mengusir Zhoumi dan Sungmin dari samping Kyuhyun sehingga kini mereka berdualah yang duduk mengapit maknaenya itu. “Kyuhyun-ah!”, Siwon langsung mengeluarkan sebuah koran dari dalam saku jaketnya dan menyerahkannya pada Kyuhyun yang masih terlihat blank, “Lihat ini!”

Sungmin, Eunhyuk, Ryeowook, Henry, dan Zhoumi langsung memekik tertahan saat melihat foto Nara terpampang di halaman utama koran itu. Sementara Kyuhyun hanya menatap foto itu tanpa ekspresi.

“Dia ternyata pewaris perusahaan Kwan’s Motor Corp!”, seru Donghae sambil menunjuk judul headline koran itu. “Wah, ternyata kau memang bisa mencari bibit yang bagus, ya?”, ucap Donghae berniat memuji namun malah dibalas dengan jitakan kencang dari Sungmin dan Eunhyuk. Begitupun dengan Siwon yang tengah dijitak oleh Zhoumi, Ryeowook dan Henry.

“Ya! Tak bisakah kalian sedikit lebih peka, hah? Kenapa memberitahu hal ini padanya?! Kami sudah berusaha setengah mati untuk menyembunyikan hal ini!”, desis Eunhyuk pada Donghae yang langsung paham dan menepuk dahinya dengan kencang. “Ya Tuhan, mianhae! Aku kira dia sudah tahu!”

“Aku memang sudah tahu”, tiba-tiba saja Kyuhyun bergumam dengan nada ringan dan melipat koran itu kemudian menaruhnya di atas meja. “Dan yah, baguslah jika dia memutuskan untuk kembali mengurusi perusahaannya. Bukankah harus ada regenerasi?”, ucap Kyuhyun sebari tersenyum kecil.

“Eh?”, semua member Super Junior M langsung menganga tak percaya dengan ucapan Kyuhyun. Reaksi Kyuhyun ini benar-benar diluar perkiraan mereka. Awalnya mereka kira Kyuhyun akan mengamuk atau setidaknya merasa down saat mengetahui bahwa Nara sudah berbohong padanya, sama seperti ia berbohong pada semua orang mengenai identitasnya.

Tapi kenyataannya..

“Oh ya”, tiba-tiba saja Kyuhyun bergumam santai kearah para hyungnya dan juga Henry, “kalian punya kenalan gadis cantik dan menarik? Aku sudah bosan dengan status single-ku ini.”

Dan mereka semua tahu bahwa ucapan Kyuhyun itu hanyalah bualan semata. Biarpun bibir Kyuhyun berkata hal itu, tapi matanya berkata lain. Mata Kyuhyun masih tetap melirik sembunyi-sembunyi ke arah foto Nara yang ada di halaman koran itu.

Kyuhyun masih mengharapkan gadis itu kembali padanya. Mereka semua tahu itu, kecuali Kyuhyun sendiri.

***

Tokyo, Japan

“Silakan masuk, nona..”

“Nara saja”, Nara menyela ucapan Miina dan membuat pelayan itu menutup mulutnya dengan gugup lalu membungkuk dalam-dalam. “Maafkan saya nona, ah! Maksud saya, Nara-ssi.”

Nara mengernyitkan alisnya saat mendengar kata -ssi yang diucapkan oleh Miina, tapi kemudian dia mengangkat bahunya. “Yasudahlah, -ssi itu lebih baik dibanding dengan nona”, ucapnya senang dan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya.

Nara sudah masuk ke dalam kamarnya dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Sama sekali tak ada yang berubah, semuanya sama seperti 8 tahun yang lalu, saat ia memutuskan untuk meninggalkan Jepang dan tinggal di Korea bersama dengan kakaknya.

Berbagai poster dari Westlife maupun Backstreet Boys masih tertempel dengan rapi di berbagai sudut kamar. Ya, dulu dia memang sangat mengagumi dua boyband itu, sebelum hallyu wave menyerang dirinya. (.____.) Dan juga banyak foto dirinya bersama dengan Seunghwan yang berjejer rapi di dalam rak kaca khusus miliknya, benar-benar membuatnya merasa bahwa kakaknya itu masih ada disini bersamanya.

“Nona mungil”, suara bernada berat itu terdengar dari arah belakangnya. Nara membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Joomin tengah berdiri segan menatapnya. “Saya sudah menyelesaikan segala hal yang nona perintahkan.”

Nara terlihat sedikit takjub. “Sudah selesai? Woah, daebak!”, ucapnya.

Joomin membungkuk kecil, “anda harus mendapatkan pelayanan terbaik, nona mungil.”

“Jadi”, Nara melanjutkan ucapannya, “berapa ganti rugi yang mereka minta?”

“Saya belum diberitahu mengenai hal itu, tapi mereka bilang akan mengirimkan jumlah uangnya lewat email”, jawab Joomin dan dibalas dengan anggukan Nara. “Maaf merepotkanmu, ahjusshi”, ucap Nara sedikit merasa sungkan karena selalu merasa merepotkan pelayannya ini.

“Sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani keluarga Kwan, nona mungil”, ucapnya penuh dedikasi dan membuat Nara terharu atas pengabdian pria ini.

“Oh ya”, tiba-tiba saja Joomin mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, dan menyerahkan sebuah handphone Blackberry Torch kepada Nara. “Ini handphone baru anda. Nomor anda yang lama sudah dihapus langsung oleh operator dan nomor yang baru ini hanya bisa anda gunakan untuk keperluan perusahaan. Sesuai dengan yang anda minta ‘kan?”

Nara mengangguk sebari menerima handphone itu. “Ya. Semuanya sesuai dengan yang aku minta. Terima kasih, ahjusshi”, ucapnya.

Joomin membungkuk singkat kepada majikannya itu, “kalau begitu saya permisi dulu”, pamitnya dan diiyakan oleh Nara. Beberapa saat kemudian, Joomin sudah keluar ruangan sehingga hanya ada Nara dan Miina di dalam kamar yang megah itu.

Nara masih memeriksa beberapa fitur di handphone barunya itu sebelum matanya menangkap sosok Miina yang masih berdiri di tempatnya semula dan menatap dirinya dengan sungkan.

“Ah!”, Nara menepuk dahinya pelan, “aku lupa! Kau boleh pergi dari sini, akan kupanggil kau lagi jika aku membutuhkan sesuatu”, ucap Nara dan dibalas dengan anggukan Miina.

“Kalau begitu, saya permis..”

“Ah! Tunggu!”, Nara langsung berderap menghampiri Miina dan menyerahkan handphone miliknya itu padanya, “Boleh aku minta nomor handphonemu? Supaya aku lebih mudah menghubungimu.”

“Eh?”, Miina terlihat kaget dengan perkataan nonanya itu, “Tapi kami, para pelayan, dilarang untuk membawa handphone selama bekerja.”

Nara mengangkat bahunya sambil tersenyum kecil. “Well, kau bukan pelayan, Miina Onnie. Kau itu temanku sekarang”, ucapnya dan menyodorkan handphonenya lagi. “Atau kau tak mau memberikan nomormu?”

“Bukan begitu”, seru Miina panik dan segera menerima handphone Nara kemudian mengetikkan beberapa nomor. Setelah selesai mengetikkan nomornya, ia mengembalikan handphone itu kepada Nara.

“Johta”, ucap Nara. “Sekarang kau boleh pergi. Terima kasih atas bantuanmu”, lanjutnya dan dibalas dengan anggukan paham dari Miina yang segera keluar dari kamar nona barunya itu.

Nara menatap kembali handphonenya dan memasukkan nomor handphone Miina ke dalam contact listnya. Setelah melakukan hal itu, Nara beranjak menuju kasurnya lalu langsung berbaring puas. Matanya menatap ke langit-langit kamarnya yang luas.

“Nomor anda yang lama sudah dihapus langsung oleh operator dan nomor yang baru ini hanya bisa anda gunakan untuk keperluan perusahaan. Sesuai dengan yang anda minta ‘kan?”

Ya, Nara meminta Joomin untuk menghapus nomor lamanya itu dan meminta nomor baru yang hanya bisa digunakan untuk keperluan perusahaan saja. Kenapa? Entahlah, Nara juga heran kenapa dia meminta hal itu pada Joomin.

Jika dikatakan bahwa Nara ingin fokus pada urusan perusahaannya dahulu? Mungkin itu benar.

Jika dikatakan bahwa Nara ingin menghindari Kyuhyun? Itu juga benar.

Entahlah, Nara juga tak tahu apa maksud dari permintaannya itu. Tapi seiring waktu berjalan, pasti dia bisa menemukan jawabannya.

***

Taipei, Taiwan

“Hanya ini?”, tanya manager Super Junior M saat Kyuhyun menyerahkan sebuah tas kecil yang berisikan handycam milik MBC itu. “Tak ada yang ketinggalan?”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tidak ada. Kemarin juga hyung hanya memberikan tas ini saja ‘kan?”

Manager itu mengangguk paham dan menerima tas itu. “Jadi..”, ucap sang manager pelan, “acara kalian berhenti sampai disini”, jelasnya tanpa diminta.

Kyuhyun mengangguk malas dan menggaruk kepalanya dengan jengah. “Yah, terserahlah. Aku tak peduli dengan semua itu. Aku malah bersyukur kalau acara ini dihentikan, setidaknya aku punya waktu kosong dari satu jadwal”, jawabnya tak acuh.

Semua member Super Junior M menatap Kyuhyun dengan pandangan ragu terhadap ucapannya tadi. Kyuhyun merasakan pandangan itu, dan dia langsung menatap balik mereka semua. “Mwo? Ada yang salah?”, tanyanya dengan nada sinis. Dalam sekejap, semua member Super Junior M langsung mengalihkan pandangannya dan pura-pura sibuk dengan hal lain.

“Ada apa dengan kalian? Aneh sekali”, tanya sang manager saat melihat kelakuan anak-anak asuhnya itu. “Sejak kapan kalian takut pada Kyuhyun?”

“Ani!”, Donghae langsung menyahut cepat, merasa harga dirinya sebagai hyung terinjak-injak saat managernya itu bilang bahwa mereka takut pada maknae mereka itu. “Mana mungkin kami takut padany..”

Ucapan Donghae langsung terhenti saat Kyuhyun melirik sinis ke arahnya dan membuat Donghae memilih untuk menutup mulutnya lalu duduk patuh di sofa.

Manager itu tertawa kecil dan beralih menatap Kyuhyun, “Kau tak memiliki rasa apapun pada gadis itu, Kyuhyun-ah?”, tanyanya ringan.

“Siapa?”, tanya Kyuhyun singkat.

Manager itu mengangkat tas di tangannya dan tersenyum penuh arti, “Kwan Nara, tentu saja”, ucapan santai managernya itu langsung membuat para member Super Junior M meneguk ludah dengan gugup sedangkan Kyuhyun hanya mendengus sinis saat mendengar nama itu.

“Tanpa kita tahu, ternyata dia pewaris dari perusahaan terkenal. Jika kau pintar, seharusnya kau bisa membaca kejadian ini sebagai sebuah kesempatan untuk membuat skandal dan menaikkan pamormu, Kyuhyun-ah”, ucap managernya dengan antusias.

“Sayangnya aku tak begitu pintar dalam hal itu”, ucap Kyuhyun tak peduli dan berjalan malas ke dalam kamarnya lagi. “Jangan ganggu aku. Aku mau tidur”, pesannya sebelum akhirnya dia menutup pintu kamarnya dengan sentakan yang cukup kuat.

Manager itu mengernyitkan alisnya, merasa sedikit heran dengan kelakuan Kyuhyun. Dia beralih menatap member lainnya, “ada apa dengannya?”, tanyanya bingung.

Para member memilih untuk tak menjawab pertanyaan itu daripada Kyuhyun mengamuk pada mereka semua.

Ryeowook dan Zhoumi pura-pura tidak mendengar pertanyaannya. Henry hanya memfokuskan perhatian pada biola ditangannya. Donghae dan Siwon pura-pura sibuk menghafalkan script drama. Eunhyuk yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa berpura-pura mengepel lantai dengan kaus milik Siwon yang kebetulan tergeletak di dekatnya.

Manager itu semakin heran dengan kelakuan mereka semua. Tapi akhirnya dia melirik Sungmin yang masih asyik menonton TV, “Sungmin-ah!”

“Wae?”, jawab Sungmin tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.

Manager itu beranjak mendekati Sungmin. Yah, sudah menjadi rahasia umum ‘kan tentang kedekatan hubungan Kyuhyun dan Sungmin? Jadi kali ini Sungmin pasti tahu alasan Kyuhyun bersikap seperti itu. “Ada apa dengan Kyuhyun?”

Sungmin mengangkat bahunya dengan ringan, “Mollayo. PMS mungkin?”, jawabnya sekenanya dan membuat sang manager merasa keki sedangkan para member Super Junior M terkikik pelan.

“Ya! Kalian ini, jinjja..”, desis sang manager dengan geram. Tapi akhirnya dia sadar bahwa dia harus segera mengirimkan handycam ini kembali pada pihak MBC, dan dia memutuskan untuk mengetahui penyebab uring-uringan Kyuhyun lain kali saja.

Dan kini hanya tinggal para member Super Junior M (kecuali Kyuhyun) saja yang ada di ruang TV. Semuanya saling menatap dengan cemas. “Kira-kira..”, Eunhyuk membuka suara, “video selca mereka akan jadi bagaimana ya?”

Semua member kontan mengangkat bahunya, semua benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi. Kedua orang itu, baik Kyuhyun maupun Nara, benar-benar bagai pinang dibelah dua. Mirip tanpa cela. Dan orang-orang bilang, jika dua orang dengan sifat yang sama persis saling berpacaran, pasti hubungan mereka tak akan bertahan lama karena pikiran mereka pasti akan saling bertubrukan.

Mungkin hal itu berlaku pada mereka berdua.

Sementara itu, di dalam kamar, Kyuhyun hanya berbaring di atas kasurnya dan memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa. Dia ingin tidur, tapi kenyataannya matanya selalu menolak untuk tertutup dan otaknya selalu enggan untuk berhenti memikirkan gadis itu.

Baru dua hari semenjak mereka berdua memutuskan untuk berpisah, tapi kenapa waktu seakan berputar sangat lambat setelah dia menyandang status barunya ini?

Tangan Kyuhyun bergerak menggapai handphone LG Lollipop birunya dan membuka flipnya dengan lunglai. Dan bisa ditebak, nafas Kyuhyun menjadi sesak saat melihat foto yang menjadi wallpaper di handphonenya.

Foto gadis itu masih menjadi wallpaper di handphonenya. Ya, foto itu adalah satu-satunya foto Nara yang Kyuhyun miliki. Selama ini, Kyuhyun selalu merasa bahwa dia tak memerlukan foto Nara karena ‘toh dia akan selalu melihat sosoknya secara langsung, jadi untuk apa meminta fotonya?

Kyuhyun tak pernah meminta atau mengambil foto Nara karena dia tak pernah memperkirakan bahwa mereka bisa terpisah seperti sekarang. Dan dia tak bisa melihat sosoknya secara langsung lagi.

“Senyummu..”, Kyuhyun memperhatikan sosok Nara yang sedang tertawa senang di dalam foto itu, “..manis.”

Penampilan gadis itu sangat simple. Hanya memakai kaus putih dengan kemeja checker berwarna merah dan dipadukan dengan celana pendek. Sepatu kets dan juga topi coklat sebagai aksesoris. Tapi entah mengapa, semua itu terlihat sangat istimewa dimata Kyuhyun.

“Kau tak akan bisa memahami sebagaimana pentingnya kehadiran seseorang disampingmu, hingga saatnya dia pergi dari sisimu.”

Itu semua benar. Kyuhyun baru menyadarinya sekarang, disaat semuanya sudah terlambat.

Tapi Kyuhyun bersumpah, dia tak akan pernah menghapus foto itu dari dalam memori handphonenya. Tak akan pernah.

***

Tokyo, Japan

“Eh? Mau apa anda kesini, non..ah, maksud saya, Nara-ssi?”, Miina terlihat sedikit terkejut saat melihat Nara sudah berada di sampingnya dan memperhatikan hal yang sedang dilakukan olehnya.

Nara tersenyum kecil sambil melirik ke arah makanan yang sedang ditata oleh Miina. “Aku bosan di kamar. Mommy dan Daddy sedang sibuk di luar. Lagipula tak bolehkah aku berjalan-jalan di rumahku sendiri?”, candanya.

Miina terlihat gugup, “Aniyo. Bukan itu maksud saya”, ralatnya cepat. Sementara Nara hanya terkekeh pelan, “Gwenchana. Jangan terlalu sungkan denganku, Onnie”, ucap Nara mencoba untuk akrab dengan Miina.

Nara memperhatikan berbagai interior dapurnya dan berdecak kagum, “Daddy memang jjang”, pujinya singkat.

“Apa ada yang bisa saya buatkan untuk anda?”, tanya Miina formal. Nara mengangguk, “Bisa tolong buatkan coklat hangat? Aku sedikit pusing dan kurasa hanya coklat hangat yang bisa menyembuhkanku.”

“Eh?”, Miina terkejut. “Anda sakit? Aigoo, saya harus segera memanggil dokter!”, serunya panik dan berderap mengambil telepon wireless yang ada di dapur.

Nara langsung keheranan, “Eh? Eh? Mwoya? Andwae!”, Nara langsung merebut telepon itu dan mematikan sambungannya. “Siapa yang sakit, sih? Aku hanya pusing.”

“Tapi..”, Miina berkata dengan kaku, “jika anda sakit, maka saya yang bertanggung jawab atas kesehatan anda, Nara-ssi.”

“Mwo?”, Nara menganga, tak habis pikir dengan ucapan pelayannya itu. “Sejak kapan kesehatanku menjadi tanggung jawabmu?”

“Semenjak saya menjadi pelayan pribadi anda, maka saya yang bertanggung jawab atas anda. Sama seperti tanggung jawab Joomin-ssi pada keluarga Kwan maupun pada diri Tuan besar Hyonsaeng secara pribadi”, jelasnya.

Nara menggumam kecil. Memang benar, Joomin adalah pelayan pribadi Ayahnya dan Miju (Istri Joomin) adalah pelayan pribadi Ibunya.

Nara kira, pelayan pribadi itu hanya bertanggung jawab atas keperluan pribadi majikannya saja, tapi siapa yang mengira bahwa pelayan pribadi itu harus bertanggung jawab atas SEGALA HAL yang terjadi pada majikannya?

“Ah, arasseo”, ucap Nara setelah memahami maksud Miina. “Baiklah, yang harus kau pahami sekarang : aku sama sekali tak sakit dan tolong buatkan aku cokelat hangat”, ia mengulangi permintaannya dan Miina mengangguk hormat.

Nara memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing karena belum terbiasa dengan kehidupan deluxe ini. Entahlah, perubahan ini terlalu drastis dan cepat. Persis seperti roller coaster.

Setelah melihat Miina yang sibuk dengan gelasnya, Nara memutuskan untuk meninggalkan dapur dan berjalan pelan menuju ruang tamu. Dia duduk di sofa empuk yang tertata rapi disana. Matanya beralih memperhatikan berbagai foto yang terpajang elegan di dinding ruang tamu.

Namun hanya ada satu foto yang paling menarik perhatiannya.

Foto pria berusia di akhir belasan sebari tersenyum lebar ke arah kamera. Siapapun yang melihatnya pasti sudah bisa memastikan bahwa pria itu adalah sosok yang sangat menyenangkan dan penyayang. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang memikat itu pasti bisa membuat banyak gadis akan bertekuk lutut untuknya.

Ya, foto itu adalah foto Kwan Seunghwan, kakak laki-lakinya yang seharusnya menjadi pewaris perusahaan keluarganya. Pria cerdas yang memiliki banyak talenta dan kharisma, bukannya gadis bodoh dan ceroboh seperti Nara.

Jika saja kakaknya itu masih hidup, Nara sudah bisa memastikan bahwa perusahaannya akan maju pesat dibawah kendalinya. Tapi kenyataannya, kakaknya itu sudah tenang di surga dan tinggal Nara yang harus berusaha sekuat tenaga untuk menggantikan posisinya di perusahaan.

“Oppa”, Nara menggumam kecil sambil menatap nanar kearah foto itu, “aku kembali lagi kesini.”

“Aku ingat ucapan Oppa untuk selalu mengutamakan Mommy dan Daddy. Dan yah..”, Nara terlihat menarik nafas dalam-dalam dan berusaha mengatur emosinya, “..aku memutuskan untuk kembali dan masuk ke perusahaan.”

“Apa menurutmu aku bisa menjadi sepertimu, Oppa?”, tanyanya hampa tanpa mengalihkan pandangannya dari foto itu. “Seseorang yang cerdas, menarik, sopan, ramah, dan memiliki kharisma untuk memimpin sebuah perusahaan. Apa aku bisa seperti Oppa?”

Tanpa Nara sadari, air mata sudah mengalir dan membentuk sungai kecil di pipinya. Dia menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya dan mengatur nafasnya dalam-dalam supaya isakannya tak bertambah kencang.

Nara memang gadis yang kuat. Nara memang gadis yang tegar. Tapi jika ada hal yang menyangkut nama kakaknya, Nara bisa berubah menjadi gadis cengeng yang rapuh. Itulah kenyataannya.

“Nan ottokhae?”, desisnya lirih, benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

“Lakukan saja apa yang kau bisa. Jadilah dirimu sendiri, jangan pernah mencoba menjadi orang lain”, tiba-tiba suara asing itu terdengar di balik tubuh Nara.

Nara sedikit terkejut dan segera berbalik ke belakang untuk mencari sumber suara. Ternyata seorang pria berusia dua puluhan dengan memakai jas ekslusif berwarna hitam itulah yang tadi berbicara padanya. Dia tersenyum simpul ke arah Nara dan berkata singkat, “Lama tak berjumpa, Nara-Chan.”

“Ye?”, Nara mengernyitkan alisnya heran. Siapa pria ini? Apa dia pernah mengenalnya?

“Jangan bilang bahwa kau lupa padaku”, ucap pria itu saat melihat alis Nara yang saling bertaut. “Jika kau benar-benar lupa, maka kau memang gadis yang sangaaaat bodoh.”

“Mwo?”, Nara langsung menyahut tak terima saat mendengar pria itu mengatakan bahwa dirinya itu bodoh. Memangnya dia punya hak apa untuk mengatai dirinya bodoh?

“Tentu saja kau bodoh. Bagaimana bisa kau melupakan pria tampan sepertiku, hah?”, tanyanya penuh percaya diri dan berjalan pelan menuju sofa lalu duduk di samping Nara yang spontan langsung menjauhkan diri dari pria itu. “Ya~ kenapa menjauh? Ayolah, kau benar-benar lupa padaku?”

Nara masih memasang wajah blank dan membuat pria itu mendengus kecil. “Kau memang tak pernah berubah, Nara-Chan. Bodoh kuadrat tingkat akut yang tak akan pernah bisa disembuhkan.”

“Seunghwan, kenapa adikmu ini sangat pelupa? Apa dia mengidap bodoh kuadrat tingkat akut yang tak akan pernah bisa disembuhkan?”

“Seunghwan Oppa!! Dia mengejekku! Huwee!”

“Ya, Taewoo-ya, jangan mengejeknya secara berlebihan seperti itu. Dia masih kecil.”

“Choi Taewoo?”, tanya Nara ragu-ragu. Mata pria itu melebar saat mendengar Nara mengucapkan nama itu, “Syukurlah jika kau mengingatku. Setidaknya tingkat bodohmu tak perlu kunaikkan ke tingkat pangkat tiga”, ucapnya santai.

“YA! TAEWOO OPPA!”, Nara langsung mengambil bantal sofa dan segera memukuli tubuh Taewoo dengan kencang. “BERANINYA KAU MEMANGGILKU BODOH, HAH?!”

Choi Taewoo adalah sahabat Seunghwan semenjak mereka masih di Sekolah Dasar. Biarpun Nara dan Seunghwan harus pindah ke Korea, tapi persahabatan antara Seunghwan dan Taewoo masih tetap terjaga. Sebenarnya Nara cukup dekat dengan Taewoo tapi memang semenjak kakaknya meninggal, Nara dan Taewoo sudah benar-benar lost contact.

“Ya! Ya! Ya! Hentikan! Appo!”, Taewoo berusaha menghindar dari serangan bantal Nara dan berkata kencang, “Nara-Chan! Berhenti bersikap bar-bar!”

“Eh, eh, eh, apa yang sedang kalian lakukan?”, tiba-tiba suara bernada halus itu terdengar dan membuat Nara menghentikan serangan bantalnya. Ia melirik ke belakang dan melihat Ibunya tengah berjalan beriringan bersama dengan wanita berusia separuh baya di sampingnya.

“Eomma!!”, Taewoo berseru kencang saat melihat sosok wanita itu muncul, “Nara memukuliku! Lihat, dia masih saja bar-bar seperti dulu!”, adunya dan langsung dibalas dengan cubitan kencang dari Nara ke arah pinggang Taewoo. “Ya! Appo!!”

Wanita yang berdiri di samping Soohyun itu tersenyum manis dan menggumam bijak, “anak kecil memang akan selalu jadi anak kecil, ya? Tak peduli berapapun usianya.”

Nara langsung bangkit dan membungkuk dalam kearah wanita itu. “Ohayou gozaimasu”, sapa Nara dengan kosakata Jepang seadanya. Wanita itu balas mengangguk singkat.

Tapi Taewoo malah menimpuk punggung Nara dengan bantal, “Ohayou mwoya? Ini sudah siang, Nara-Chan”, ucapnya berniat mengejek Nara namun malah dibalas dengan juluran lidah dari Nara. “Ahjumma pasti bisa memaklumiku, tak seperti Oppa yang jahat!”

“Ya!!”, Taewoo bangkit dari sofa dan langsung beranjak mengejar Nara yang sudah duluan kabur ke kamarnya yang ada di lantai dua.

Sementara itu, Soohyun dan Ibu Taewoo hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum maklum. “Mereka cocok, ya?”, tanya Ahri, Ibu dari Taewoo sambil menatap Soohyun dengan senyuman penuh arti.

Soohyun mengangguk, “Sangat cocok.”

***

-T.B.C-

Okay, last intermission :)  Itu berarti di next chapt ini masuk ke new chapter, bukan lagi intermission. Jadi bisa disimpulkan bahwa next chapt adalah WGM #7! Tapi WGM ini bukan berarti KyuNara ikut WGM lagi, karena disini udah dijelasin kalo KyuNara udah selesai masa tayangnya ‘kan? Jadi WGM #7 itu cuma penayangan hasil selca mereka berdua. :)

Bagi yang dari kemaren terus nanya : “kayak gimana sih mukanya Seunghwan?”. Setelah qu pikir-pikir, akhirnya qu nentuin bahwa sosok Seunghwan bisa digambarkan sebagai Park Taejun & Choi Taewoo bisa dibayangkan sebagai Lee Chihoon. Mereka berdua itu ulzzang boy terkenal, dan yang paling penting..mereka juga sahabatan di dunia nyata. Sama kayak persahabatan Seunghwan – Taewoo di cerita ini ^^

Nah, dan ada yang heran : “Taewoo ngapain disini? Mau jadi main cast atau figuran numpang nongol doang?”  Well, qu nggak pernah masukin figuran ke dalam foto poster. Dan sekarang foto Taewoo ada di poster diatas. Jadi, tebak sendiri aja deh ya XD

Ceritanya pendek? Sengaja~ emang di chapt ini qu cuma mau ceritain kemunculan beberapa cast baru dan cerita Kyuhyun ngasih handycam itu. Gitu aja sih, sebenernya :p Semoga next chapt bisa lebih panjang~

Comment ‘n like are L.O.V.E!