{KyuNara Scene} Intermission #3!

Songs you MUST listen :

  • Sam Tsui feat Christina Grimmie – Just a Dream (download here

p.s : intermission kali ini banyak banget mengulas kejadian masalalu yang pernah dialamin Kyuhyun-Nara. Kalau ada yang kalian nggak ngerti, silakan baca KyuNara Scene sebeluuuuumnya :) Anggep aja sekalian nostalgia :D

Happy reading~


***

Tokyo, Japan

“Nara akan ikut pulang kemari?”

Kwan Soohyun mengangguk semangat kearah layar handphonenya yang menampilkan gambar seorang pria berusia separuh baya dengan latar belakang ruangan yang megah. “Yes! Yes! Yes! Kau senang ‘kan? Kita sekeluarga akan berkumpul lagi, darling!”

Kwan Hyonsaeng, pria yang sedang diajak berbicara oleh Soohyun itu hanya menggumam pelan. “Kau..yakin?”, tanyanya sangsi.

“Kau tak percaya padaku, hah?” Soohyun menatap suaminya itu dengan tatapan tajam dan langsung membuat Hyonsaeng mengangguk cepat, “Percaya! Aku selalu percaya padamu, jagi!”, ucapnya dengan nada panik.

Soohyun terkekeh puas ke arah layar handphonenya dan kembali tersenyum manis, “Jadi bukankah kau pikir ini saat yang tepat untuk merealisasikan ide kita sewaktu dulu, darling?”

“Se..karang?”, tanya Hyonsaeng lagi, masih dengan nada ragu. “Tapi kurasa Nara masih sangat muda, jagi.”

“Dan kau sudah sangat tua, Kwan Hyonsaeng! Kau kira mengulur-ulur waktu itu adalah keputusan yang bijak, hah? Semakin cepat kau melakukan hal itu, maka Nara akan semakin memiliki banyak waktu untuk beradaptasi”, jelas Soohyun dan membuat Hyonsaeng hanya bisa mengangguk-angguk pasrah dengan ucapan istrinya. Dia memang paling tak bisa melawan ucapan wanita ini.

“Okay. Okay. Aku paham. Memang kurasa Nara harus memiliki waktu untuk beradaptasi”, Hyonsaeng mengulangi ucapan Soohyun dan membuat wanita itu tersenyum puas di seberang sana. “Memang kapan kalian akan kembali ke sini?”

“Ahh..”, Soohyun membulatkan mulutnya, “..besok. Aku sudah memesan penerbangan untuk pagi hari. Jika penerbangannya tepat waktu, mungkin kami akan sampai sekitar pukul 11 siang”, jelasnya.

“Hmm, baiklah. Akan kujemput kalian begitu tiba di Narita”, ucap Hyonsaeng sambil tersenyum simpul dan memperlihatkan garis wajahnya yang terukir sempurna. “Ngomong-ngomong, dimana Nara sekarang?”, tanyanya saat tak melihat keberadaan anaknya itu di sekitar istrinya.

Soohyun menjawab singkat, “Perpisahan dengan teman-temannya. Yah, maklumilah..dia masih remaja”. Hyonsaeng mengangguk paham, “Bagaimana rupa anak kita sekarang?”, tanyanya pelan.

Soohyun menggumam sejenak, seperti membayangkan sesuatu. “Nara..benar-benar refleksi dari kita berdua, darling. Tapi sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang yah..”, ia kembali berpikir, “..manis”

“Indeed”, balas Hyonsaeng singkat sambil terkekeh kecil. “Dia anakku. Tentu saja dia harus menjadi anak yang manis.”

Soohyun tertawa pelan saat mendengar ucapan suaminya itu. Sudah ia duga, mereka berdua memang sangat merindukan anak gadisnya itu. Dan tak lama lagi mereka bertiga akan kembali tinggal bersama, tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan ini.

“Baiklah. Aku tak sabar bertemu kalian besok siang”, ucap Hyonsaeng mengakhiri pembicaraan. “Tidur nyenyak, jagi. Titipkan salamku untuk Nara sesampainya dia di rumah”, pesannya dan dibalas dengan anggukan Soohyun. “Night~”

TREK!

Hyonsaeng menekan tombol reject di iphonenya dan menghembuskan nafas dalam-dalam. “Dia ikut pulang?”, bisiknya sambil melipat kedua tangannya di depan dada, “Aneh..”

“Aku akan coba ikut test masuk ke Seoul University. Kalau aku tak lolos, maka Daddy boleh membawaku kembali ke Jepang dan menyekolahkanku disana. Please, can I?”

“Memangnya kau tak ingin berkumpul bersama Daddy dan Mommy disini, Ra-ya?”

“Err, bukan itu. Hanya ada 1 hal yang membuatku harus terus bertahan disini, Daddy.”

“Really? What’s that?”

“Not telling. Sorry. Tapi yang bisa kupastikan, Daddy pasti tak akan kecewa dengan alasanku untuk tinggal disini.”

Hyonsaeng menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk yang tengah ia duduki. Pikirannya kembali melayang ke pembicaraannya dengan Nara beberapa bulan lalu, saat anaknya itu memohon padanya untuk diberi kesempatan mengikuti Ujian Seoul University. “Dia..melepaskan hal itu begitu saja?”, gumam Hyonsaeng ragu.

“Ya. Saya..kekasihnya. Cho Kyuhyun imnida.”

Tiba-tiba saja Hyonsaeng mengingat pria itu. Pria muda yang pernah bertemu dengannya dan mengaku bahwa dia adalah kekasih dari putri kesayangannya. Pria yang..pernah jatuh ke perangkap buatannya.

Hyonsaeng merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Dia segera berderap menuju meja kerjanya dan membuka laci di sebelah kanan. “Eh?”. Sebuah kaset video tape masih tersimpan rapi didalam lacinya. Tapi ada satu benda yang hilang, benda itu adalah sebuah CD copy output dari rekaman perangkap yang ia buat untuk Kyuhyun!

“Gawat!”, seru Hyonsaeng panik dan membuka laci yang lain, berharap ia hanya lupa menaruh CD itu di salah satu lacinya. Tapi hasilnya nihil. Benda itu tak ada dimanapun!

“Kau kira anak kita boneka, hah?! Aku tak rela anak kita berpacaran dengan pria seperti itu!!! Tak akan pernah kubiarkan!!”

Kepala Hyonsaeng seperti berputar hebat saat semua memori mengenai beberapa hari terakhir ini melintas di pikirannya. “Tidak mungkin jika..”

Hyonsaeng menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menggumam pelan, seakan menolak pemikirannya sendiri. “Aniya. Tidak mungkin Soohyun sekejam itu. Haha, tidak mungkin ‘kan seorang Ibu ingin membuat anaknya sedih seperti itu?”, Hyonsaeng tertawa hambar.

“Daddy! Aku diterima di Seoul University! Yes~ I’ll do my best!”

“Saya mohon, berikan saya satu kesempatan lagi. Saya berjanji akan menjaga Nara dengan seluruh yang saya miliki, aboji.”

“Aishh!”, Hyonsaeng menyambar iphonenya dan mencari nomor kontak Nara dengan perasaan gamang. “Apa iya Nara meninggalkan pria itu?”, gumamnya heran.

Pikirannya masih berkutat di CD yang menghilang dari laci meja kerjanya. Mencoba menebak-nebak tentang keberadaan benda itu sekarang.

Selama ini, hanya istrinya dan Joomin (kepala pelayan) saja yang leluasa keluar-masuk ruang kerjanya. Miju bilang bahwa suaminya, Joomin, disuruh oleh Soohyun untuk menemaninya ke Seoul. Kemudian Nara yang notabene sangat susah untuk diajak kembali ke Jepang itu tiba-tiba bilang bahwa ia akan ikut pulang ke rumahnya tepat saat Soohyun datang ke Seoul.

Semua petunjuk itu hanya menunjuk kepada satu hal dan dia harus memastikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri.

Hyonsaeng menemukan nomor kontak anaknya itu dan ia harus menunggu beberapa saat hingga akhirnya nada sambung itu terhenti. “Ra-ya?”

***

Seoul, South Korea

“Hati-hati di jalan.”, Dongho berujar pelan saat Nara tengah sibuk mengikatkan tali sepatu ketsnya di ruang depan dari dorm Ukiss. “Kau yakin tak mau kuantar?”

Nara menepuk-nepuk sepatunya sekilas, memastikan bahwa kedua tali sepatunya sudah terpasang dengan rapi. Ia bangkit dari duduknya dan menghadap ke arah Dongho, “Itu sudah kesepuluh kalinya kau menawarkan untuk mengantarku pulang. Dan untuk kesepuluh kalinya akan kujawab ‘tidak usah repot-repot’, Shin Dongho-ssi”, ucapnya sambil tersenyum kecil.

Dongho menggaruk kepalanya sebari menatap gadis di hadapannya itu dengan gemas, “Arayo~ Kwan Nara, gadis yang mandiri ini pasti tak akan pernah membutuhkan bantuan Shin Dongho ‘kan?”, ucap Dongho dan kembali membuat Nara tertawa puas. “Ah..”, Dongho melanjutkan ucapannya, “..ngomong-ngomong, Ukiss akan promosi di Jepang juga”

Nara membulatkan matanya, terlihat antusias. “Jinjja? Waow, kudengar sudah banyak idol group lain yang juga sedang berada di Jepang”, ucapnya. Dongho mengangguk-angguk, “Memang. Pasar musik Jepang sekarang ini sangat menjanjikan”, jelasnya dan dibalas dengan anggukan paham dari Nara. “Jadi..”

“..jika aku sudah ada di Jepang, perlakukan aku sebagai tamumu, Kwan Nara-ssi”, lanjut Dongho sambil mengacak rambut Nara pelan. “Traktir aku nanti. Ara?”

Nara mengangguk lagi dan melakukan gerakan hormat kepada Dongho, “Ayey, Captain!”, serunya dengan maksud bercanda. “Saat kau di Jepang, akan kutraktir apapun yang kau mau nanti.”

Seusai Nara mengucapkan kalimat itu, ia mengulurkan tangannya ke arah Dongho sebari tersenyum manis. “Terima kasih untuk dua tahun ini, Dongho-ya.”  Dongho menghela nafas dalam-dalam dan memasang wajah pura-pura kecewa. “Kau masih berani tersenyum seperti itu setelah membuatku patah hati, hah?”

“Hahaha~ Ayolah, kita kenal secara baik-baik dan sekarang kita harus berpisah dengan baik-baik juga ‘kan?”, tanya Nara masih sambil mengulurkan tangannya ke arah Dongho. “Kwan Nara dan Shin Dongho, friend?”

Dongho menatap uluran tangan Nara. Ia mendesah dengan berat namun ia tetap menjabat uluran tangan itu, “Teman. Cish, miris sekali kisah cintaku ini. Bertepuk tangan selama dua tahun dan ditolak. Aigoo~”, keluhnya dengan nada mengasihani dirinya sendiri.

“Kau pasti akan menemukan gadis yang lebih baik dari aku. Cepat atau lambat, Dongho-ya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat hingga saatnya kau bertemu dengannya”, ucap Nara sambil menepuk-nepuk kepala Dongho dengan gaya keibuan. “Tenang saja.”

Dongho menggumam mengiyakan, “Kuharap semua berjalan lancar seperti yang kau ucapkan. Dan kuharap aku tak jatuh cinta pada gadis sepertimu lagi”, ucapnya jujur. Nara berdehem sejenak dan tersenyum jahil, “Eung..kurasa kau dan Soohyun itu cocok satu sama lain, Dongho-ya”.

Dongho langsung menganga tak percaya saat mendengar ucapan Nara itu, “Aku? Dengan nona manja itu? Aish, tak bisakah kau merekomendasikan gadis yang lebih baik, Nara-ya?”

“Eiyyy~ jangan berpura-pura seperti itu”, Nara menyikut lengan Dongho dengan nada menggoda sedangkan Dongho hanya bisa menjitak kepala Nara berkali-kali dengan gemas. “Ya! Ya! Ya! Appo! Dongho-ya, jangan menjitakku!”

Setelah menghabiskan beberapa menit untuk kembali berbincang, akhirnya Nara beranjak keluar dari dorm Ukiss. Dongho masih juga belum mau meninggalkan Nara dan bersikeras akan mengantarkannya hingga ke depan elevator.

Pintu elevator sudah terbuka dan untunglah tak ada siapa-siapa di dalamnya. “Okay”, Nara menghela nafas dalam-dalam dan menatap Dongho yang ada disebelahnya, “do’akan aku disana ya?”

Dongho mengangguk kecil dan langsung merengkuh tubuh Nara ke dalam dekapannya, “Kabari aku kalau kau sudah sampai disana. Mungkin besok aku tak bisa mengantarkanmu ke bandara. Mianhae.”

Nara menggumam pelan dan melepaskan diri dari pelukan Dongho. Ia mengacak rambut pria itu dengan gemas dan berujar pelan, “Cepat lupakan aku dan cari kekasih baru, sana. Arasseo?”, pesannya dan dibalas dengan kekehan Dongho. “Ara.”

Bayangan Dongho menghilang seiring dengan pintu elevator yang tertutup rapat. Nara menekan tombol menuju lobby dan menyenderkan tubuhnya di dinding, menghela nafas lega. Satu orang lagi sudah ia selesaikan masalahnya. Lalu sekarang..

TING!

Belum sempat Nara menyelesaikan pemikirannya, elevator yang ia naiki sudah sampai di lobby. Nara kembali memakai tudung jaketnya dan berjalan keluar dari elevator menuju pintu keluar dari apartemen ini.  Ia berjalan sambil menundukkan kepala, mencoba sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan siapapun yang ada disini. Nara tak ingin ada kabar tak mengenakkan sampai saat terakhirnya ia ada di Seoul.

Sesampainya di luar apartemen, Nara melirik ke kiri-kanan jalan. Tak ada halte bus terdekat dari sini, sehingga tak ada jalan lain, Nara harus memakai transportasi taksi. “Taksi!”, Nara mengulurkan tangannya ke arah jalanan saat sebuah taksi melaju mendekat ke arahnya. Taksi berwarna hitam itu berhenti dan tanpa menunggu lama, Nara naik kedalamnya.

Setelah menyebutkan tempat tujuannya, Nara langsung menghempaskan tubuhnya ke jok belakang dan mengerang pelan. Tubuhnya benar-benar lelah saat ini. “Aigoo~ leherku!”, serunya sambil memijat lehernya yang terasa kram.

You’re the best thing I never knew I needed..

Lagu dari Neyo – Never knew I needed itu terdengar dari dalam tas slempang milik Nara. Ia langsung bergegas membuka tasnya dan segera melihat nama penelpon dari layar handphonenya. Matanya langsung melebar saat melihat nama itu.

Daddy!!
Calling..

“Yoboseyo?”, sapa Nara dengan nada ragu, jarang sekali Ayahnya menelpon pada saat-saat seperti ini. “Daddy?”

“Ra-ya?”, suara bernada berat itu langsung membuat Nara yakin bahwa penelpon ini adalah Ayahnya. “Kau ada dimana sekarang?”

“Aku..errr..”, Nara kebingungan menjawab pertanyaan itu. “..jalan-jalan, mungkin”. Ia langsung menjitak kepalanya sendiri dengan gemas, kenapa ia malah menjawab dengan nada ragu seperti itu?!

“Daddy dengar kau akan pulang ke Jepang bersama Mommy. Benar?”, tanya Hyonsaeng penasaran.

Nara menggumam pelan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, “Emm, begitulah. Kurasa aku kangen Daddy dan Mommy. Lagipula tak ada salahnya meneruskan pendidikanku di Jepang”, jawabnya singkat, mencoba menghindari jawaban yang sebenarnya. “Memangnya ada apa, Daddy?”

“Ra-ya..”, Hyonsaeng terdengar berucap dengan nada ragu, “Ergh, keputusanmu untuk pindah ke Jepang..benar-benar murni keputusanmu sendiri?”, tanyanya. Nara mengernyitkan alisnya saat mendengar pertanyaan Ayahnya itu, namun pada akhirnya ia menjawab yakin “Tentu saja.”

“Keputusanku untuk pindah ke Jepang memang murni keputusanku sendiri. Sama sekali tak ada paksaan dari siapapun”, lanjutnya sambil memperhatikan jalanan kota Seoul dari kaca jendela taksi yang tengah melaju. “Memangnya Daddy kira Mommy membujukku untuk ikut pulang, begitu?”, tanyanya dengan nada bercanda.

Hyonsaeng tertawa kaku dari seberang sana, sedangkan Nara yang sama sekali tak tahu menahu tentang hal yang tengah dirisaukan oleh Hyonsaeng itu hanya tersenyum kecil saat mendengar suara Ayahnya. “Daddy, I miss you so much”, bisik Nara masih sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela taksi. “Daddy, baik-baik saja di Jepang?”, tanyanya sambil memainkan tali tas slempangnya.

Hyonsaeng tersenyum penuh bahagia dari tempatnya berada sekarang. “I’m okay. Always be okay, Ra-ya”, ucapnya menenangkan kekhawatiran anaknya itu. “Bagaimana denganmu?”

“Ehm..”, Nara menaikkan alisnya, memikirkan jawaban yang tepat. “..sangat baik. Aku menjadi semakin chubby disini, Daddy. Bahkan aku ragu apa Daddy bisa mengenaliku begitu aku tiba di Jepang besok”, rajuknya sambil terkekeh pelan dan dibalas dengan tawa wibawa dari Ayahnya.

“Ra-ya..”

“Yes, Daddy?”

“Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?”, akhirnya Hyonsaeng memberanikan diri untuk mengangkat tema pembicaraan itu setelah sebelumnya merasa ragu. “Baik-baik jugakah?”

Nara merasa nafasnya seakan menjadi sesak saat Ayahnya menyebut nama pria itu. Oh please, bahkan sampai detik tadi pun Nara sama sekali tidak mengingat tentang Kyuhyun dan tiba-tiba Ayahnya sendirilah yang mengungkit hal ini?! Apa memang ia tak pernah bisa ditakdirkan untuk melupakannya?

“Tidak begitu baik”, jawab Nara. “Ada beberapa masalah yang terjadi hari ini, Daddy.”

“Ehm, apa itu berhubungan dengan..”, Hyonsaeng lagi-lagi merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya. Jika ia mengucapkan kalimat ini, rasanya sama saja seperti membiarkan dirinya mengaku bahwa ia adalah penjahat ‘kan?. Tapi Hyonsaeng tak memiliki jalan lain. Ia harus memastikan hal ini dengan mata kepalanya sendiri. “..kaset CD?”, lanjutnya pelan.

Untuk kali ini Nara bukan hanya merasa sesak nafas, tapi ia juga merasa bahwa dunianya benar-benar berguncang kencang dan membuatnya kebingungan setengah mati. Bagaimana bisa Ayahnya yang terpisah jarak ini dapat mengetahui awal permasalahan yang terjadi hari ini?. “Bagaimana bisa Daddy tahu hal itu?”, ucap Nara dengan nada lirih dan intonasi yang tak jelas. Ia masih belum bisa menguasai pikirannya sendiri.

Hyonsaeng menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Dugaannya benar. Tak ada oknum lain yang bisa melakukan hal ini selain Kwan Soohyun, istrinya sendiri. Tapi..sekarang apa yang harus dia jelaskan pada anaknya ini?

“Untuk kali ini, aku ingin sekali melihat keluarga kita bisa berkumpul bersama, darling.”

“Nara memutuskan untuk kuliah di Seoul, jagi. Maklumilah dia..”

“Kenapa ia tak kuliah disini saja? Aku benar-benar rindu padanya. Aku ingin mengawasi Nara secara penuh, dengan perhatian seorang Ibu kepada anaknya. Aku tidak ingin kejadian yang sama terjadi dua kali. Aku tidak ingin Nara bernasib sama seperti Seunghwan”

“Jika saja..”, Hyonsaeng mencoba mengibaratkan keadaan, “..kau tak mendapatkan CD itu hari ini, apa kau akan tetap memutuskan untuk kembali ke Jepang dan berkumpul bersama kami, Ra-ya?”

Nara benar-benar kehilangan kata-kata untuk kali itu. Ia memikirkan baik-baik ucapan Ayahnya dan membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi hari ini.

Jika saja ia tak menerima CD itu hari ini, mungkin sekarang Nara masih berusaha menghubungi Kyuhyun dan memarahinya dengan penuh emosi. Bersikap seakan semuanya baik-baik saja, tak ada yang berubah.

Jika saja ia tak menerima CD itu hari ini, pasti ia tak akan menerima pelukan hangat dari Ibunya secara langsung ataupun mendengar suara Ayahnya yang seakan-akan dikirimkan oleh Tuhan sebagai penopang langkah Nara disaat ia merasa rapuh seperti sekarang.

“CD itu hanya rekaman jebakan yang pernah Daddy siapkan untuknya, Ra-ya”, ucap Hyonsaeng jujur dan membuat Nara menganga tak percaya, “Pada kenyataannya Kyuhyun tidak melakukan seperti apa yang kau bayangkan.”

“Really?”, Nara masih shock dengan pengakuan Ayahnya itu. “Hanya..jebakan?”

“Ya”, jawabnya singkat. “Sekarang kau sudah tahu kenyataannya, Ra-ya. Dan sekarang Daddy mau bertanya sesuatu padamu..”

Nara merasakan tekanan yang sangat berat dan merasakan firasat tak mengenakkan mengenai ucapan Hyonsaeng selanjutnya. “..apa kau akan membatalkan rencanamu untuk pulang ke Jepang setelah mengetahui kenyataan bahwa Kyuhyun tak melakukan hal itu?”

Tidak! Ini pertanyaan yang sangat sulit!

Nara ingin menghubungi Kyuhyun dan membicarakan hal ini lagi secara baik-baik. Nara yakin jika hubungan mereka berdua bisa kembali membaik karena pada kenyataannya video itu hanya jebakan Ayahnya. Kyuhyun tak bersalah sama sekali dalam hal ini.

Tapi jika Nara membatalkan rencananya dan kembali mencoba untuk menghubungi Kyuhyun, itu sama saja seperti mengibaratkan bahwa orangtuanya itu bahkan tak lebih berharga daripada seorang pria bernama Cho Kyuhyun.

Apa Nara anak yang sedurhaka itu?

“Seunghwan Oppa, aku punya game baru untuk Oppa!

“Mwo, Nara-ya?”

“Jawab pertanyaanku dengan cepat ya! Siapa orang yang paling Oppa sayangi? Hana, dul, set!”

“Daddy, Mommy, and you!”

“Aish, Oppa tidak seru, ah! Padahal teman-temanku yang lain selalu menjawab nama orang yang sedang mereka sukai. Huh, Oppa menyebalkan!”

“Haha~ tapi memang bagi Oppa, kalianlah orang yang paling berharga. Bahkan jika Oppa menemukan gadis yang sangat Oppa cintai, Oppa tak akan menaruhnya di urutan nomor 1. Dia tetap akan menempati posisi 4, setelah kau.”

“Really?”

“Tentu saja. Kau juga harus seperti itu, arasseo? Mommy dan Daddy itu lebih penting dari apapun.”

Nara membuka matanya perlahan, otaknya seakan berputar cepat setelah memori bersama Seunghwan, kakaknya, itu kembali terputar dan membuatnya semakin sesak.

Selama ini Nara bersikukuh ingin terus tinggal di Seoul karena ia tetap ingin bersama dengan Kyuhyun. Nara selalu menolak ajakan kedua orangtuanya yang mengajaknya untuk kembali ke Jepang hanya karena ia tak mau terpisah jarak dengan Kyuhyun. Selama ini Nara selalu mencoba melakukan yang terbaik hanya karena ia hanya ingin melihat Kyuhyun tersenyum bangga untuknya.

Apakah selama ini dia sudah membuat Kyuhyun sebagai nomor 1 dan melupakan kedua orangtuanya?

“Ra-ya”, suara berat Hyonsaeng itu kembali membuat Nara tersadar dari lamunannya. “Daddy tak pernah memaksamu untuk meninggalkan Seoul. Jika kau masih tak bisa meninggalkan Seoul dan juga Kyuhyu..”

“Sorry, Daddy”, Nara menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir dari ujung pelupuk matanya. “Aku sudah melakukan hal jahat pada kalian semua, pada Mommy dan Daddy..”, dia menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, “..juga Seunghwan Oppa.”

“Eh?”, Hyonsaeng langsung merasa heran karena anaknya itu malah mengatakan hal yang berbeda dari kata-kata yang ia perkirakan barusan.

Hyonsaeng mengira bahwa Nara akan marah padanya karena telah menjebak Kyuhyun dan membuat hubungan mereka berdua memburuk. Ia mengira bahwa anaknya itu akan segera memutuskan sambungan telefon dan mengatakan bahwa ia tak akan ikut kembali ke Jepang seperti rencana awalnya.

Tapi ia malah meminta maaf dan terisak seperti ini?

“Aku akan tetap kembali ke Jepang”, ucapan Nara itu malah semakin membuat Hyonsaeng menganga. “Dan aku juga siap untuk menggantikan posisi yang awalnya sudah Daddy persiapkan untuk Seunghwan Oppa di perusahaan.”

“HAH?! Kau mau masuk ke perusahaan? Kau serius, Ra-ya? Bukankah dulu kau selalu menolaknya?”

Nara terkekeh pelan ditengah isakannya saat mendengar nada terkejut dari ucapan Ayahnya. “Daddy, jika bukan aku..siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan? Apa Daddy mau mengadopsi anak lain untuk menjadi pewaris?”, candanya.

Hyonsaeng menggaruk kepalanya dengan ekspresi tak percaya, anak gadisnya ini tiba-tiba menawarkan diri untuk masuk ke dalam perusahaan! Padahal awalnya dia selalu menolak habis-habisan saat Hyonsaeng menawarkan hal ini padanya! Aish, apa anaknya ini terkena hipnotis secara tiba-tiba?

“Lalu masalahmu dengan Kyuhy..”

Nara langsung memotong ucapan Ayahnya itu, “Itu masalah pribadiku. Biar aku yang menyelesaikannya sendiri, Daddy”, jelasnya mencoba menenangkan. Hyonsaeng benar-benar dibuat speechless dengan keputusan anaknya ini. Aneh, terlalu aneh malahan. Apa kata-katanya tadi itu berdampak sangat besar pada laju kerja otak Nara?

“Kau serius, Ra-ya?”

“Daddy, sejak kapan kau meragukan ucapan anakmu yang paling cantik ini?”, tanyanya dengan nada merajuk dan membuat Hyonsaeng tertawa kecil. Ternyata dia tak berubah, gadis ini tetap Kwan Nara, anak kesayangannya.

“Baiklah kalau begitu. Daddy akan persiapkan segala sesuatunya untuk besok. Kau siap bertemu dengan Daddy di Narita?”, tanyanya dengan nada menggoda. Nara hanya menggumam kecil, “I always am.”

Hyonsaeng melanjutkan ucapannya, “kau sedang berada dimana sekarang?”

Nara melirik ke jalanan di depannya, supir taksi itu ternyata sudah membawa dirinya hampir menuju tempat yang ia tuju. Perjalanan kali ini benar-benar terasa sangat cepat, entahlah. “Masih dalam perjalanan untuk mengucapkan salam perpisahan pada teman-temanku”, jawan Nara singkat.

“Hmm..”, dehem Hyonsaeng paham. “Baiklah, hati-hati di jalan, Ra-ya. Jangan berbicara dengan orang yang tak kau kenal. Selalu tengok kiri-kanan jika kau mau menyeberang. Selalu berjalan di sebelah ki..”

“Daddy! Aku sudah 18 tahun. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil”, rajuk Nara dan membuat Hyonsaeng tertawa. “Okay, gotta’ go. Bye Daddy~”

“Eung..”, balas Hyonsaeng. “Bye. See you tomorrow.”

TREK!

“Haah~”, Nara menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia masih menyenderkan tubuhnya ke jok belakang taksi sedangkan matanya kembali beralih menatap pemandangan jalanan.

Indah.

Hanya itu yang bisa ia simpulkan saat melihat pemandangan sunset yang tampak dari langit yang ada di sebelah kirinya. Warna jingga kemerahan yang nampak terbakar dan seakan memberikan segurat warna berbeda di tengah kebiruan langit lain dan juga pemandangan dari orang-orang yang berlalu lalang di trotoar itu menyapu mata Nara.

See you tomorrow..”, bisiknya pelan sambil mengingat ucapan Ayahnya tadi. Tak lama kemudian ia tersenyum lirih dan menempelkan telapak tangannya ke jendela taksi. “Tomorrow, then..”, ia menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “..see you.”

Cho Kyuhyun & Seoul.

Dua hal yang ia temui secara bersamaan. Dua hal yang membuatnya bisa tertawa di waktu yang berat selama 3 tahun kebelakang. Dan dua hal yang harus ia tinggalkan demi dua orang yang ternyata lebih penting.

Kedua orangtuanya, Mommy & Daddy.

Nara membuka aplikasi twitter di handphone blackberrynya dan menuliskan satu tweet :

@ccl_nara : Japan! Go Go Go! :) Seoul, you’re still the best for me~”

Jepang. Ya, tak akan ada keraguan untuk hal itu.

***
Taipei, Taiwan

“Alasan? Tentu saja karena ia membenciku. Memangnya apalagi?”, Kyuhyun malah balik bertanya pada ketujuh member Super Junior M yang lainnya dan membuat semua yang ada di ruangan itu mendesah dengan kesal dengan sikap kekanakkan dari maknae mereka ini.

“Bisakah kau membuang egomu dulu, hah?”, tanya Donghae sambil merebut iphone miliknya dengan kasar. “Dia kekasihmu, Kyuhyun-ah! Setidaknya kau harus memperlakukannya dengan baik. Bagaimana dengan statusmu sebagai kekasihnya jika sekarangpun kau hanya diam seperti in..”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap Donghae dengan tatapan tajam, “Berapa kali harus kubilang? Aku sudah tak memiliki hubungan dengannya, hyung!”, seru Kyuhyun dengan geram.

“Tak bisakah kalian menerima keputusanku ini, hah?”, lanjut Kyuhyun masih dengan nada tinggi, sama seperti sebelumnya. “Dia bisa membuat keputusannya sendiri untuk pindah ke Jepang, bahkan TANPA sepengetahuanku! Jadi kenapa kalian selalu menghalangiku untuk melakukan hal yang ingin kulakukan, hah?!”

“Tenanglah”, Henry mengelus bahu Kyuhyun, membujuknya untuk mengatur emosinya. Ryeowook juga membantu Henry untuk menenangkan Kyuhyun dengan mengangsurkan air mineral kepada maknaenya itu. Sedangkan Donghae tengah berada dalam kendali Siwon dan Eunhyuk karena sepertinya dia terlihat terpancing emosi dengan kata-kata Kyuhyun. “Kau!”, desis Donghae penuh emosi.

Sementara itu Sungmin hanya berdiri di samping pintu masuk dari ruang tunggu yang tengah mereka tempati, menjaga supaya tak ada satupun staff TV yang masuk ke dalam ruangan dan melihat kejadian tak mengenakkan yang sedang terjadi sekarang. Ia menatap ke arah Kyuhyun dan Donghae dengan tatapan nanar.

Tidak, Sungmin bukannya tak peduli dengan permasalahan maknaenya itu tapi ia sudah benar-benar menyerah dengan cara untuk menyadarkan Kyuhyun mengenai perasaannya sendiri. Sebanyak apapun ia bicara (bahkan mungkin hingga mulutnya berbusa), Kyuhyun tak akan mengakui kesalahannya semudah itu. Entahlah, bisa dibilang..Sungmin sudah menyerah mengenai hal ini. Tak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini selain kedua orang itu sendiri, Kyuhyun dan Nara.

Di pojok ruangan, tepatnya di sebuah sofa yang berada di sudut ruang tunggu, Zhoumi tengah memakai earphone dan melihat hasil rekaman dari coordi noona yang ia mintai tolong tadi. Berkali-kali Zhoumi mengulangi rekaman video itu dari handycam milik MBC itu dan berkali-kali pula Zhoumi merasa heran.

Di dalam rekaman, Kyuhyun menyanyikan lagu Perfection bagiannya dengan penuh penghayatan. Seakan-akan lagu itu adalah ungkapan perasaannya kepada seseorang. Tapi disini, di ruang tunggu tempat mereka berada, kenapa Kyuhyun bersikeras bahwa ia ingin melupakan gadis itu?

Sebenarnya apa yang sedang Kyuhyun pikirkan?

***
Seoul, South Korea

TING!

“Okay”, Nara menghela nafas dalam-dalam saat elevator yang ia naiki sudah sampai di lantai 12. “Semoga tak ada siapapun di luar sana”, bisiknya pelan sambil menaikkan retsleting jaketnya hingga menutupi sebagian wajahnya, tak lupa ia juga memakai tudung jaketnya.

Nara melongokkan kepalanya keluar dari elevator dan matanya langsung membelalak lebar saat melihat sekumpulan gadis remaja seusianya tengah berdiri di depan pintu berwarna silver dan membawa beberapa kotak yang sudah dihias dengan rapi di tangan mereka masing-masing. Mereka semua terlihat berbincang seru dan menunggu dengan tertib di depan pintu itu.

“Aish!”, Nara langsung memasukkan kepalanya lagi ke dalam elevator dan segera menekan tomblo menuju lobby. “Kenapa fansnya datang di saat seperti ini?”, tanyanya dengan gemas sebari menggaruk kepalanya, bingung.

TING!

Elevator yang Nara naiki sudah mencapai lobby dan ia segera keluar dengan langkah tergesa dari dalamnya. Nara berjalan dengan tudung yang hampir menutupi wajahnya dan juga dengan jaket longgar berwarna hitam, sungguh sangat beralasan jika ada yang menganggapnya sebagai teroris yang akan mengebom apartemen ini. Ck!

Sesampainya di luar apartemen, Nara terlihat kebingungan. Ia sama sekali tak menyangka bahwa dorm-para-tetua di lantai 12 itu kini tengah dipenuhi oleh para ELF. Dan kini, rencananya untuk berpamitan dengan Leeteuk cs itu terancam gagal.

“Aigoo, ottokhae?”, desisnya panik. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 6 sore, hari sudah semakin menjelang malam dan Nara yakin bahwa Ibunya pasti akan segera menelfonnya untuk menyuruhnya pulang sebelum jam 9 malam. Eish, biasalah..seorang Ibu selalu memiliki jam malam untuk putrinya ‘kan? (-____-)

Nara menggigiti kuku telunjuknya dengan gusar, sebuah kebiasaan jika ia sedang merasa gugup atau panik. “Aiyaa, aku kan harus ke rumah Ririn onnie juga”, bisiknya kepada dirinya sendiri, mengingat kalimat yang ia ucapkan di twitter bahwa ia akan datang ke apartemen onnienya itu setelah menyelesaikan satu urusan : berpamitan pada Leeteuk cs.

Karena tak tahu harus berbuat apa, akhirnya Nara memutuskan untuk menelfon Leeteuk saja. “Leeteuk Oppa, Leeteuk Oppa, Leeteuk Oppa”, ia menggeser trackballnya ke bawah, mencoba mencari nomor kontak Leeteuk. “Ah, ini dia!”.

Tak lama kemudian, ia segera menekan tombol call. Tak perlu menunggu lama, nada sambung itu terhenti dan terdengar suara sapaan ramah dari seberang sana, “Yoboseyo?”

“Leeteuk-ssi?”, sapa Nara dengan panggilan formal, sekedar memastikan bahwa yang menjawab telefonnya itu adalah Leeteuk sendiri. Karena akan gawat jika handphone pria itu sedang dipegang oleh staff’nya dan Nara dengan spontan memanggil ‘Leeteuk Oppa!’ ‘kan?

“Ini aku”, sahut suara di seberang sana dan membuat Nara menghembuskan nafas lega. “Ada apa kau menelfonku, Nara-ya?”

“Oppa, apa Oppa sekarang sedang berada di dorm?”

“Ehm..”, Leeteuk menggumam pelan, “..ani. Aku sedang berada di KBS. Mengurusi jadwal SuKiRa. Waeyo?”

Nara benar-benar merasa lega! Ternyata dia sedang tak berada di dorm!

“Bisa kita bertemu? Sebentaaar saja”, ucap Nara dengan nada merajuk. “Aku hanya ingin mengucapkan satu hal”

“Eh?”, Leeteuk terdengar terkejut dengan ucapan Nara. “Kau ingin selingkuh denganku tanpa sepengetahuan Kyuhyun, ya?”, tebakan asal dari mulut Leeteuk itu langsung membuat Nara mendesah dengan berat. Lagi-lagi ada orang lain yang mengungkit namanya. Ck!

“Aku tak begitu tertarik dengan pria yang berbeda 10 tahun denganku”, jawaban Nara itu langsung disambut dengan kekehan Leeteuk. “Bisa ‘kan Oppa?”, lanjutnya memastikan.

“Okay”, Leeteuk mengiyakan ajakan Nara. “Tapi mungkin aku pulang sekitar jam 7 malam. Gwenchanha?”

“Gwenchanhayo”, jawab Nara singkat. “Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu di apartemen Ririn Onnie saja? Kebetulan aku juga ada perlu disana”

“Baiklah. Terserah, kau yang atur”, ucap Leeteuk dengan nada santai. Nara tersenyum simpul tapi kemudian segera menyambung ucapannya, “Ah! Ngomong-ngomong, dimana member yang lainnya?”

“Ehm..”, Leeteuk terdengar seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, “..Yesungie ada disini bersamaku. Heechul, kalau tak salah dia sedang ke gedung SM. Dan Shindong, seperti biasa, sedang pendekatan dengan orang tua Nari”, jelasnya lengkap dan dibalas dengan gumaman paham dari Nara. Ia berdehem pelan, “Ehm, Oppa, bisa kau ajak member lainnya untuk ikut ke apartemen Ririn Onnie?”

“Bisa saja. Tapi sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Ingin mentraktir kami, hah?”, tanyanya jahil dan membuat garis bibir Nara tertarik ke atas karena ucapan Leeteuk itu. “Kalau kau mau mentraktir kami, akan kupastikan kami berempat pasti datang kesana.”

“Okay~ Okay~”, ucap Nara dengan pasrah. “Aku memang akan mentraktir kalian. Jadi pastikan Oppadeul datang semua. Okay?”

Nada suara Leeteuk tiba-tiba saja terdengar menjadi lebih ceria, “Keurom! Kami akan datang. Hahaha~ Okay, sampai bertemu di sana ya. Annyeong.”

TREK!

“Aigoo~”, desis Nara dengan gemas. “Perpisahan yang sangat menguras isi kantongku.”

***
Taipei, Taiwan

“Titip Kyuhyun, ya?”, pesan Siwon sambil menepuk bahu Sungmin dan Zhoumi yang hanya membalas dengan anggukan kecil. Sementara itu Donghae sudah berdiri di luar ruang tunggu dengan beberapa lembar script naskah drama di tangannya, dia terlihat sibuk berkomat-kamit menghapalkan dialog bagiannya. Sepertinya dia sudah melupakan mengenai emosinya tadi kepada Kyuhyun dan kini lebih berkonsentrasi pada naskah ditangannya.

“Siwon-ah! Palliwa!”, seru Donghae gusar karena mengingat waktu izin mereka dari lokasi syuting itu akan segera habis jika mereka tak segera kembali kesana dan melanjutkan syuting. “Kita bisa terlambat!”

Siwon mengacungkan jempolnya ke arah Donghae, tanda ia akan segera menyusulnya. Untuk terakhir kalinya sebelum pergi, ia melirik ke arah Kyuhyun yang kini sedang duduk di kursi meja rias sambil menaikkan kakinya ke atas meja. “Kyuhyun-ah, pikirkan baik-baik dengan hal yang harus kau lakukan”, pesannya.

Namun Ryeowook memberikan isyarat pada Siwon dengan menunjuk telinganya sendiri, “dia-sedang-pakai-earphone”, ucap Ryeowook dengan hanya menggerakkan mulutnya tanpa bersuara.

Siwon hanya mendesah berat dan dengan sedikit pasrah. “Baiklah, kami berangkat lagi”, pamitnya kepada semua member yang ada di ruang tunggu. Semuanya membalas sapaannya, kecuali Kyuhyun yang tengah memejamkan matanya sambil mendengarkan lagu dari ipadnya.

Dengan kepergian Siwon dan Donghae ke lokasi syuting, kini hanya tinggal 6 member yang ada disana. Dan suasana langsung menjadi sunyi senyap, tak ada yang berani ataupun mau membuka suara. Rasanya jika mereka mengeluarkan suara sekecil apapun dan membuat Kyuhyun terganggu, sepertinya maknaenya itu akan menerkam mereka hidup-hidup! Maka dari itu kelima member lainnya memutuskan untuk sibuk dengan urusannya sendiri dan mencoba untuk tak begitu peduli dengan Kyuhyun.

Di sisi lain, Kyuhyun tengah memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan dengan earphone yang terpasang di telinganya. Daritadi lagu-lagu yang ada di ipadnya itu terputar secara acak, tapi tak ada satupun lagu yang ia dengarkan secara serius. Ia hanya ingin beristirahat, mungkin tepatnya ia ingin membiarkan otaknya beristirahat untuk tak lagi-lagi memikirkan mengenai gadis itu.

Kyuhyun mengerjapkan matanya sekilas dan melihat pantulan bayangan member lainnya dari cermin besar yang ada di meja rias dihadapannya. Member yang lain (Sungmin-Zhoumi-Eunhyuk-Ryeowook-Henry) sepertinya sibuk dengan urusannya sendiri dan lebih memilih untuk tak mengurusi Kyuhyun lagi.

Baguslah‘, seru Kyuhyun dalam hati. Ia memang tak membutuhkan siapapun lagi dalam masalah ini selain dirinya sendiri. Dan menurutnya jika member lainnya mencoba untuk ikut campur, hal itu hanya akan memperkeruh keadaan dan semakin membuatnya emosi.

Kyuhyun kembali memutuskan untuk memejamkan matanya, bersamaan dengan itu sebuah lagu baru mengalun dari ipadnya. Sam Tsui feat Christina Grimmie – Just a Dream

I was thinking about you, thinking about me, thinking about us, what we gonna be? I open my eyes, it was only just a dream..

Tanpa sekeinginan Kyuhyun, lagu itu seakan membawa satu cerita di dalam otaknya untuk kembali terulang secara utuh bagaikan sebuah film yang tak bisa ia hentikan.

I travel back, down that road. Will you come back? no one know. I realize, it was only just a dream.. ♪

“Kau kira kau itu pria paling sempurna di dunia, hah, Cho Kyuhyun yang tampan?”

and now you ain’t around, baby I can’t think..

Ya! Mana ada orang waras yang membuat satu ramyeon dengan 1 baskom air, hah? Kau mau makan ramyeon kuah atau kuah ramyeon, hah? Aish!”

Cause I still can feel it in the air. See your pretty face with my fingers through your hair..

“Ya! Jangan mengacak-acak rambutku!!”

When I’m riding, I swear I see your face at every turn. I try to get my usher on but I can let it burn.. ♪

“Kwan Nara tak akan pernah bisa dikalahkan oleh pria bodoh bernama Cho Kyuhyun!”

Hey, you was so easy to be loved..

“Eiyaa! Berapa kali harus kubilang? Perhatikan kondisi badanmu, Cho Kyuhyun yang tampan. Kau mau disebut sebagai tengkorak berjalan, hah?”

But now she made a decission that she wanted to move on, cause I was wrong..

“Keurae, Kyuhyun..Oppa. Kau juga pasti akan menemukan gadis lain yang lebih baik daripada aku.”

If you ever love somebody, put your hands up. And now they’re gone and you wish you could give them everything..

“Asal kau ada di sampingku, itu sudah cukup. Sederhana ‘kan?”

It was only just a dream..

Kyuhyun memejamkan matanya rapat-rapat, mencegah aliran air mata itu mengalir rapuh di pipinya. Semua lirik lagu itu..menggambarkan segalanya.

Dan Kyuhyun sekarang paham bahwa semua ucapan member tentang dirinya itu benar, tak ada satupun yang salah. Ia egois, itu benar. Ia kekanakkan, itu benar. Tapi masalahnya sekarang adalah bagaimana menjelaskan tentang perasaannya ini kepada gadis yang sudah memutuskan untuk pergi dari sisinya?

“Hyung. Henry..”, Kyuhyun berbisik pelan di tengah ruangan yang sunyi senyap itu dan langsung membuat semua member Super Junior M yang ada disitu langsung menoleh ke arahnya. “..apa kalian mau membantuku?”

***
Seoul, South Korea

TING TONG!

Ririn bangkit dari sofa ruang TVnya saat telinganya mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Begitupun dengan Haejin yang daritadi sudah tiba di apartemen Ririn, ia juga mengekor di belakang Ririn yang terlihat tergesa beranjak menuju pintu masuk.

“Apa itu Nara?”, tanya Haejin dalam perjalanan menuju pintu. Ririn hanya menjawab singkat, “Mungkin. Semoga saja”

Ririn membuka pintu apartemennya dan matanya langsung membulat heran saat melihat seorang gadis yang sedang kelimpungan membawa 8 kotak pizza itu berdiri di hadapannya. “Help meee~”, pintanya dengan nada merajuk kepada Ririn dan Haejin, “Kotak-kotak ini berat!!”

“Mwoya?!”, Haejin menengok keluar dari balik bahu Ririn dan terkejut saat Nara datang ke apartemen Ririn dengan membawa tumpukan pizza di tangannya, “Kenapa kau malah membawa pizza kesini?!”, tanyanya tak habis pikir.

Nara menyerahkan 4 kotak di tangan kirinya kepada Haejin dan 4 kotak lainnya ke tangan Ririn yang masih bingung dengan kelakuannya saat ini. Mereka kira Nara akan datang ke apartemen dengan wajah muram dan mata bengkak karena menangisi Kyuhyun, tapi kenyataannya..dia malah datang dengan senyum polos dan setumpuk kotak pizza? Sebenarnya apa yang ada di pikiran gadis ini?

“Farewell party. Aku juga mengundang Leeteuk Oppa dan Oppadeul lainnya kemari”, jawab Nara singkat sebari melepaskan sepatu ketsnya dan segera memakai sandal rumah yang sudah disiapkan oleh Ririn. “Besok ‘kan aku akan ke Jepang.”

“Kau..serius?”, tanya Ririn ragu. “Kata-katamu di twitter tadi bukan sekedar candaan saja?”

Nara tersenyum simpul dan menggantungkan jaketnya di hanger coat, “Aku bukan tipe gadis yang suka bercanda dengan memakai bahan pembicaraan seperti itu, Umma”, ucapnya pelan sambil terkekeh ke arah Ririn, “tentu saja aku serius.”

Haejin menaruh kotak pizzanya itu di atas meja makan yang ada di dekat dapur milik Ririn, “Lalu..”, ia melirik ke arah Nara yang sedang memijat-mijat lehernya, “..kapan kau akan kembali kesini?”

“Eh?”, Nara menatap Haejin, merasa heran dengan pertanyaannya. “Kapan aku kembali ke sini? Maksud Onnie, kapan aku kembali ke Korea?”, tanyanya balik dan dijawab dengan anggukan Haejin. Nara terkekeh pelan, “Onnie, bukankah sudah kubilang tadi? Aku pergi ke Jepang ini bukan untuk liburan selama seminggu atau sebulan. Aku pindah ke Jepang. Pindah itu berarti..aku akan tinggal dalam waktu yang cukup lama.”

Haejin dan Ririn saling bertatapan dengan pandangan gusar saat mendengar perkataan Nara. Sesungguhnya mereka ingin sekali menanyakan satu hal, tapi mereka berdua tak yakin apakah mereka boleh mengungkit nama pria itu sekarang?

Nara tak menyadari perubahan ekspresi dari wajah kedua onniedeulnya itu. Dia malah berbalik ke arah ruang TV dan duduk di atas sofanya, tangannya masih asyik memindah-mindahkan channel TV yang ada di apartemen Ririn. Sedangkan kedua onnienya itu masih berdiri di dekat meja makan, memperhatikan tingkah laku Nara dari belakangnya.

Ririn menyenggol lengan Haejin, “menurutmu apa yang kira-kira sudah terjadi diantara mereka?”, bisiknya pelan, berusaha supaya Nara tak mendengar ucapan mereka. “Apa hubungan mereka berdua baik-baik saja?”

“Mana kutahu”, Haejin ikut mendesis pelan saat menjawab pertanyaan Ririn. “Tapi kurasa tak ada yang aneh dari ekspresi Nara. Dia terlihat sangat santai. Mungkin hubungannya dengan Kyuhyun baik-baik saja”, lanjutnya.

Ririn balas menggumam, “Tapi kau tahu sendiri ‘kan jika dia itu paling ahli dalam menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya? Mungkin saja kali ini dia juga hanya berpura-pura santai. Lagipula tak mungkin dia memutuskan pergi ke Jepang jika hal ini tidak menyangkut nama Kyuhyun ‘kan?”

“Benar juga”, ucap Haejin dengan nada lirih. “Jadi apa yang harus kita lakukan? Tanya langsung kepadanya mengenai hubungannya dengan Kyuhyun?”, usul asal-asalan yang diucapkan oleh Haejin itu ternyata dibalas dengan anggukan Ririn dan membuat Haejin menganga tak percaya. “Sirheo!”, tolaknya cepat. “Aku tak mau diamuk olehnya!”

“Baiklah, kalau begitu kita tanya bersama”, ajak Ririn dan membuat Haejin mengangguk dengan terpaksa. “Setidaknya kalau dia mengamuk, kita bisa menenangkannya bersama ‘kan?”, ucapnya mencoba menenangkan degup jantung mereka berdua.

Akhirnya Ririn dan Haejin berjalan perlahan ke arah Nara sambil bergandengan tangan, wajah mereka berdua benar-benar terlihat gugup setengah mati. “Onnie, dia tak akan marah ‘kan?”, tanya Haejin masih sangsi. Ririn mengangguk biarpun tak terlalu yakin.

“Ehm, Nara-ya..”, Ririn memanggilnya pelan. “Ada yang mau kami tanyakan padamu.”

Nara menaruh remote TV itu di sampingnya dan menoleh ke arah belakang, menatap kedua onniedeul itu. “Waeyo?”, tanyanya dengan nada ramah dan senyum yang terkembang manis. Ririn dan Haejin menjadi sedikit tak percaya, apa ini gadis yang tadi siang menonton rekaman video kekasihnya berciuman dengan wanita lain? Kenapa ia masih bisa bersikap sesantai ini?

“Sebenarnya bagaimana hubungan..”

TING TONG!

Tepat sebelum Ririn menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja bel apartemennya berbunyi. Nara langsung beranjak bangkit dari kursinya dengan langkah ringan dan tak mempedulikan ekspresi Ririn dan Haejin yang sedikit sebal dengan kedatangan tamu di saat yang tepat itu. “Eishh~”, keluh Haejin sambil menggaruk pipinya, “Mungkin kita tak ditakdirkan untuk menanyakan hal ini padanya?”

“Makan! Makan! Mana makanannya?”, suara khas bernada berat itu terdengar dari arah pintu masuk dan diiringi dengan kehadiran 3 pria yang berjalan ke dalam apartemen Ririn. Heechul, Yesung dan juga Shindong. “Rin-ah, mana makanannya?”, seru Shindong sambil mengelus perutnya dengan ekspresi lapar.

Heechul melepaskan jaketnya dan meletakkannya di hanger coat, “Rin-ah, kenapa apartemenmu sumpek seperti ini, sih?”, keluhnya sambil mengipas-ngipas wajah dengan kedua tangannya. Ririn hanya tersenyum kaku saat mendengar keluhan Heechul, “Jwosonghaeyo, Oppa”, ucapnya sedangkan Heechul masih tetap meneruskan mengeluh mengenai hal lainnya. Sementara Haejin terlihat kebingungan saat sang leader tak terlihat diantara mereka bertiga. “Yesung Oppa”, panggilnya pada Yesung yang tengah melepaskan sepatunya, “..dimana Leeteuk Oppa?”

“Ah, Eeteuk Hyung..”, Yesung terlihat seperti berpikir sejenak, “..sepertinya masih berada di depan pintu dengan Nara.”

“Eh?”, Haejin dan Ririn terlihat sedikit heran dengan jawaban itu. “Sedang apa mereka berdua di depan pintu?”, gumam Ririn dan dibalas dengan angkatan bahu dari Yesung sebagai tanda tak tahu.

Haejin yang memang pada dasarnya selalu merasa penasaran, akhirnya berjalan duluan menuju ke arah pintu masuk dan diikuti oleh Ririn yang mengekor di belakangnya. “Aneh ya, onnie”, ucap Haejin pelan. “Kenapa sepertinya Nara memiliki pembicaraan rahasia dengan Leeteuk Opp..”

Ucapan Haejin langsung terhenti saat kepalanya melongok ke arah pintu masuk. Dia berdiri di samping tembok sehingga tak memungkinkan orang yang berada di pintu itu untuk bisa melihat kehadiran Haejin dan Ririn. “Hah?”

Di depan pintu masuk, Haejin dan Ririn melihat Nara yang tengah memeluk Leeteuk dengan erat dan seakan tak ingin melepaskannya. Bahu gadis itu bergetar pelan dan terdengar bisikan yang diiringi oleh isakan kecil. Sementara Leeteuk hanya bisa menggumam pelan seakan mengiyakan setiap ucapan Nara sambil mengelus rambutnya pelan. “Arasseo, kau tak bersalah, Nara-ya..”,  ucap Leeteuk. “..tak ada yang salah dalam hal ini.”

Ririn menghela nafas dalam-dalam saat melihat pemandangan kedua orang itu. Ia menepuk bahu Haejin dan mengedikkan kepalanya ke dalam ruang tengah, “Biarkan mereka berdua bicara empat mata, Haejin-ah. Kurasa Nara lebih membutuhkan Leeteuk Oppa untuk saat ini.”

Namun Haejin terlihat sedikit kecewa, “Wae? Kita sahabatnya ‘kan? Kenapa dia malah berpura-pura bahagia di depan kita sedangkan ia meluapkan perasaan sesungguhnya pada Leeteuk Oppa? Apa dia tak menganggap bahwa kita ini sahabatnya, Onnie?”, tanyanya dengan emosi.

“Leeteuk Oppa..”, Ririn menghela nafas lagi sebelum melanjutkan ucapannya, “..adalah refleksi pencerminan kedua dari sosok kakaknya yang sudah meninggal. Kau juga tahu itu ‘kan?”, jelasnya. “Kurasa dia hanya ingin menceritakan masalah ini pada kakaknya terlebih dahulu. Dan untuk saat ini, dia hanya bisa menemukan sosok kakaknya itu dari Leeteuk Oppa. Cepat atau lambat, Nara pasti akan menceritakannya pada kita”, lanjutnya dan membuat Haejin terpaksa mengangguk setuju dengan ucapan Ririn.

“Rin-ah! Pizzanya kumakan ya!”, seru Shindong dari arah ruang makan. Ririn menyahut singkat padanya, “Ne, Oppa~”

“Ayo layani tamu-tamu kita dulu”, ajak Ririn sambil menarik tangan Haejin untuk kembali masuk ke dalam ruang tengah. Haejin hanya mengikuti langkah onnienya itu dengan langkah gontai, “Ne~”

***

Nara makin mengeratkan pelukannya di tubuh Leeteuk. Untuk saat ini, dia benar-benar merasa bahwa sosok Leeteuk yang ada di hadapannya ini adalah sosok Seunghwan, kakak yang paling ia sayangi.

Saat keempat member itu datang, Nara sengaja mengulur waktu dengan mengajak ngobrol Leeteuk supaya ia tetap berada disitu biarpun ketiga member lainnya sudah masuk ke dalam apartemen Ririn. Dan saat mereka sudah masuk, entahlah..Nara juga tak tahu kenapa ia langsung memeluk tubuh Leeteuk dan membenamkan wajahnya di dalam dekapan pria itu.

Tapi yang bisa Nara simpulkan, ia benar-benar merasa tenang di dalam pelukannya dan tanpa ia sadari semua hal yang telah terjadi hari ini mengalir terucap disertai dengan isakan kecil dari bibirnya.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, Oppa”, ucapnya lirih masih dengan terisak. “Orangtuaku dan Kyuhyun, mereka semua terlalu berharga untukku hingga aku tak tahu yang mana yang harus kupilih saat ini.”

Leeteuk hanya bisa menggumam pelan sambil mengelus rambut gadis di pelukannya ini, atau sesekali menepuk punggungnya supaya ia bisa menenangkan isak tangisnya. “Kau tak bersalah, Ra-ya..”, ucapnya pelan, “..tak ada yang bersalah dalam hal ini.”

“Kyuhyun pasti akan cepat melupakanku ‘kan? Dia pasti akan segera mendapatkan pengganti diriku, ‘kan?”, tanya Nara pelan. Leeteuk terlihat sedikit terhenyak dengan pertanyaan itu, “Eh..?”, ia tak bisa menjawab apapun. Apa yang seharusnya dia katakan?

“Katakan saja iya, Oppa. Setidaknya jika kau yang mengatakannya, maka aku akan percaya bahwa dia tak akan merasa sakit hati atas keputusanku. Dan aku akan bisa terus hidup tanpa mengingat segala hal tentangnya lagi..”, Nara menggantungkan ucapannya, “..karena dia akan dengan mudah menemukan penggantiku.”

Leeteuk mengambil nafas dengan berat dan akhirnya mengangguk dengan sangat terpaksa. “Tentu saja”, ucapnya tak rela, “dia tampan dan berbakat, tentu saja banyak gadis yang bersedia menjadi penggantimu, Nara-ya. Dan biarpun membutuhkan sedikit waktu, tapi aku yakin Kyuhyunie juga bisa melupakanmu”

Nara mengangguk pelan biarpun hatinya benar-benar merasa sakit saat mendengar perkataan Leeteuk. Tapi dengan kata-kata itu, Nara menjadi sedikit yakin bahwa Kyuhyun juga bisa hidup tanpanya. “Jadi aku bisa meninggalkannya dengan tenang ‘kan, Oppa?”, tanya Nara untuk yang terakhir kalinya. Leeteuk mengangguk lagi biarpun harus merasa tak setuju, “kalian akan bisa memulai hidup baru. Percayalah padaku.”

Leeteuk berbohong. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya benar-benar dusta, tak ada satupun yang jujur. Biarpun ia tak begitu dekat dengan Kyuhyun tapi Leeteuk tahu bagaimana maknaenya itu selalu memikirkan keadaan gadis di dalam pelukannya ini. Dan Leeteuk juga tahu bagaimana Nara sangat mencintai Kyuhyun.

Tapi di keadaan seperti ini, Leeteuk hanya bisa mengangguk dan mengatakan sesuai dengan yang ingin Nara dengar. Gadis ini sudah terlalu rapuh dan jika Leeteuk memaksanya untuk terus berada di samping Kyuhyun, ia tak yakin Nara bisa terus berdiri dengan tegar sama seperti sebelumnya.

“Kamsahamnida”, Nara melepaskan pelukannya dan menyeka air mata di ujung pelupuk matanya dengan punggung tangannya. Dia mencoba tersenyum simpul ke arah Leeteuk yang tengah menatapnya, “Maaf membuatmu bosan dengan mendengarkan ceritaku, Oppa.”

Leeteuk menggeleng, “Ani. Anggaplah aku sebagai Oppamu sendiri”, ucapnya sambil mengacak rambut Nara pelan dan tersenyum manis hingga membuat lesung pipinya terlihat jelas. “Kau juga sudah kuanggap sebagai adikku.”  Nara balas tersenyum, kali ini lebih cerah dari sebelumnya. Leeteuk mengedikkan kepalanya ke dalam apartemen, “Ayo masuk”, ajaknya.

Nara berjalan terlebih dahulu ke dalam ruang tengah sedangkan Leeteuk masih sibuk melepas jaketnya untuk ditaruh di coat hanger. Sesampainya Nara di ruang tengah, ia langsung menangkap sosok Shindong, Heechul, Yesung, Ririn dan juga Haejin yang tengah asyik memakan pizza pembeliannya. Mereka semua duduk di lantai sambil asyik menonton TV, bukannya malah duduk dengan sewajarnya di kursi makan. Aigoo~

“Eiyaa~ kenapa memulai pestanya tanpa aku, hah?”, candanya pura-pura marah. Shindong melambaikan tangannya dan memberi isyarat supaya Nara duduk di sebelahnya, “Duduk disini. Masih banyak kok pizzanya.”

Nara mengangguk pelan dan beranjak mendekati mereka semua. Tapi bukannya berjalan menuju Shindong yang menawarkannya tempat duduk, Nara malah berjalan ke arah tempat Haejin dan Ririn kemudian tanpa sepengetahuan mereka, Nara langsung memeluk Ririn dan Haejin dari belakang dengan erat. “Onniedeul..”, bisiknya pelan namun masih dapat terdengar oleh kedua gadis itu, “..terima kasih untuk bantuan kalian selama ini. Maaf karena selama ini aku hanya bisa menjadi adik yang manja bagi kalian berdua, tapi aku bisa mengatakan tanpa ragu bahwa aku menyayangi kalian.”

Nara diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya yang langsung dibalas dengan helaan nafas terhenyak dari Haejin dan juga Ririn. “Aku sudah putus dengannya.”

“MWOYA?!”, bukannya Ririn dan Haejin yang terkejut tapi malah Heechul yang terlihat sangat shock, “KALIAN PUTUS?! Nara-ya, kau putus dengan Kyuhyun?!”, tanyanya tak percaya. Nara mengalihkan pandangannya ke arah Heechul dan tersenyum miris, “Ne, Oppa”, jawabnya singkat. “Tadi siang.”

Ririn tak mengatakan apapun untuk membalas pengakuan Nara tadi, ia hanya balas memeluk Nara dengan erat dan mengelus kepala maknaenya itu. Sedangkan Haejin malah langsung menutup wajah dengan kedua tangannya, terdengar isak tangis dan juga terlihat air mata yang mengalir dari sela-sela jemari tangannya.

“Mianhae, Umma”, bisik Nara lirih pada Ririn yang sudah ia anggap sebagai Umma dibanding sebagai sebagai kakak tertuanya, “Aku tak sekuat kalian berdua.”

“Gwenchanha”, ucap Ririn, “Kau sudah melakukan segalanya dengan baik selama 3 tahun ini”, lanjutnya, masih mencoba menenangkan Nara dari rasa bersalah. “Aku sudah pernah bilang ‘kan? Biarpun mungkin saja kita tak berjodoh dengan kekasih kita masing-masing, tetap saja kita bertiga akan menjadi saudara. Iya ‘kan?”

“Ne, Umma.”

Selama berada dalam pelukan Ririn, tangan Nara masih tak bisa lepas menggenggam erat tangan Haejin yang sedang terisak. Ia tahu bahwa pasti Haejin-lah yang paling kecewa dengan keputusannya ini, karena selama ini Haejin tak pernah henti mendukung Nara untuk terus berdiri di samping Kyuhyun, bahkan di saat-saat yang terberat. Tapi sekarang, Nara harus memilih satu hal yang paling ia sayangi. Ia tak boleh egois.

“Oppadeul..”, Nara melepaskan pelukan Ririn dan beralih menatap Heechul, Yesung, Shindong juga Leeteuk yang sudah bergabung di situ. “Terima kasih karena sudah menganggapku sebagai adik kalian dan bukannya menganggapku sebagai kekasih Kyuhyun. Itu..sangat berarti bagiku”, ucapnya dan diakhiri dengan membungkuk formal kepada keempatnya. “Jeongmal kamsahamnida.”

Shindong, Yesung dan Heechul masih terlihat shock di tempatnya masing-masing, berbeda dengan Leeteuk yang bisa tersenyum simpul saat mendengar ucapan terima kasih dari Nara.

“Dan besok aku akan pindah ke Jepang”, lanjutnya dan semakin membuat ketiga member lainnya menganga kaget. “Ya! Kau punya berapa kejutan lagi untuk hari ini, hah, Nara-ya?”, sahut Yesung dengan heran. Kenapa gadis ini malah memberitahu semuanya serba mendadak seperti sekarang?

Nara terkekeh pelan dan mengibaskan tangannya. “Aniyo, Oppa. Kejutanku cukup sampai disini”, ucapnya sembari mengelus bahu Haejin yang masih terlihat terisak, biarpun tidak sehisteris tadi. “Mungkin lain kali akan kuberikan kalian kejutan terbaru.”

Heechul melempar kotak tisu yang ada di atas meja itu ke arah Nara tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya dan membuat Nara mengaduh pelan. “Heechul Oppa, appayo!”, serunya sambil mengelus ubun-ubunnya yang terasa nyeri.

“Kejutan yang mau kuterima hanyalah kau-kembali-berbaikan-dengan-Kyuhyun”, ucapnya sambil menatap Nara dengan tatapan tajam khasnya. “Kalau kau membuat kejutan lain selain itu, aku akan membuatmu merasakan neraka, Nara-ya”, lanjutnya.

Nara hanya menggembungkan pipinya dengan sebal saat mendengar ucapan Heechul. Baginya, adalah hal yang biasa untuk mendengar ucapan bernada mengancam dari ‘the-king-master-of-evil’ itu, tapi ia sangat tahu bahwa Heechul selalu khawatir tentang dirinya dan Kyuhyun.  Dia hanya, yah..gengsi untuk mengatakannya, mungkin? Haha~

Suasana di ruang tengah itu kembali mencair seiring dengan berjalannya waktu. Nara duduk diantara Ririn dan Haejin, ia ingin menikmati waktu terakhirnya di Seoul ditengah-tengah kedua sahabatnya itu.

Terkadang sesekali Nara tertawa puas saat Heechul tak henti-hentinya memperagakan hal konyol atau mungkin menaikkan alisnya dengan heran saat mendengar lelucon aneh dari Yesung. Nara paham bahwa semua orang yang ada disini sedang mencoba untuk menghibur dirinya yang bisa dikatakan sedang ‘patah-hati’, dan ia merasa sangat bersyukur dengan hal itu. Setidaknya ia masih memiliki orang-orang seperti ini di saat-saat paling berat untuknya.

“Shindong Oppa..”, tiba-tiba Nara memanggil Shindong yang tengah meminum cola di gelasnya, “Boleh aku minta bantuanmu?”

***
Taipei, Taiwan

“Datang saja ke Jepang! Hampiri dia, berlutut layaknya pangeran, berikan bunga, minta maaf, lalu terakhir..”, Henry menaikkan nada bicaranya dengan penuh antusias, “..KISSEU!”

Sinng!

Suasana di dalam mobil van yang mengangkut Super Junior M menuju salah satu radio Korea itu tiba-tiba menjadi sunyi senyap, tak ada satupun dari hyung-nya yang menyahuti ucapan Henry barusan. “Eiyy! Percaya padaku, ini adalah sebuah formula yang pasti bisa membuat gadis manapun merasa terharu dan akan bertekuk lutut!”, ucapnya meyakinkan.

Eunhyuk menepuk bahu Henry dengan penuh gaya kebapakan dan sembari menggelengkan kepalanya, “Henry-ya, gadis manapun memang bisa bertekuk lutut dengan hal ini, tapi terkecuali untuk Nara. Dia mungkin malah akan memukuli Kyuhyun dengan sapu jika Kyuhyun sungguh-sungguh melakukan hal itu”, jelasnya dan membuat Henry mendesah kecewa.

“Lagipula aku tak akan sudi melakukan hal menjijikkan itu”, sahut Kyuhyun dari bangku depan tanpa menolehkan wajahnya. “Aish, aku bahkan sudah merinding hanya dengan mendengar kalimatnya, apalagi jika aku nanti melakukannya? Ihhh!”, Kyuhyun malah bergidik ngeri saat membayangkan ide Henry tadi.

Kyuhyun membalikkan semua niatan awalnya. Ia sadar bahwa dirinya belum siap untuk kehilangan gadis itu dari dalam hidupnya dan Kyuhyun ingin berusaha untuk meraihnya sekali lagi. Biarpun mungkin saja Nara sudah terlanjur benci padanya, tapi Kyuhyun hanya ingin mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya, tak peduli dengan hasil akhir yang akan ia dapatkan dari jawaban Nara nanti. Kyuhyun hanya tak ingin cerita mereka berdua berakhir dengan kebohongan seperti ini.

Namun jika pada akhirnya Nara tetap meninggalkannya setelah Kyuhyun mengungkapkan perasaannya, mungkin ia akan menerimanya dengan lapang dada dan merasa lebih lega dari sebelumnya. Setidaknya ia sudah jujur mengenai perasaannya sendiri ‘kan?

“Ah!”, tiba-tiba saja Zhoumi menjentikkan jarinya dengan wajah yang berbinar, “Aku ada ide!”

“Mwo?!”, semua perhatian member segera tertuju kepadanya, termasuk juga Kyuhyun.

Zhoumi tersenyum lebar dan menggosokkan tangannya dengan antusias, “Kita akan melanjutkan schedule kita ke radio ‘kan?”, tanyanya memastikan, semua member mengangguk. “Dan ini adalah radio khusus milik Korea yang bertempat di China ‘kan?”

“Eiyaaa! Jangan bertele-tele”, seru Ryeowook dengan gemas. “Langsung jelaskan ke intinya saja, hyung!”

“Okay, jadi begini..”, Zhoumi kembali menjelaskan idenya, “..setahuku, acara radio ini selalu menampilkan semacam acara curhat pada segmen terakhirnya. Dan biasanya penyiar radio itu selalu mempersilahkan tamunya untuk membacakan satu e-mail curhat yang masuk ke redaksi radio mereka.”

Member Super Junior M mulai bisa menangkap maksud rencana Zhoumi ini.

“Jadi bagaimana jika Kui Xian mengirimkan e-mail mengenai perasaannya pada Nara? Pura-pura saja e-mail itu dari orang lain, kau bisa samarkan nama pengirimnya!”, ucap Zhoumi dengan semangat dan dibalas dengan anggukan dari member lainnya.

“Keurae~”, ucap Sungmin menyetujui rencana Zhoumi, “dan pada segmen terakhir itu, kau sendirilah yang harus membacakan e-mailmu itu, Kyuhyun-ah.”. Omongan Sungmin itu langsung dibalas oleh tepukan senang dari Zhoumi, “Itulah yang kumaksud!”

Henry ikut menyumbangkan ide, “Dan di bagian akhir, bagaimana jika kau menyanyikan satu lagu? Lagu yang kau anggap paling menjelaskan perasaanmu padanya!”

Semua member langsung menjadi antusias dengan ide ini. Semuanya menyumbangkan ide mereka masing-masing, namun Kyuhyun masih diam di bangkunya dan memikirkan baik-baik mengenai usul Zhoumi.

Dengan menyamarkan di dalam e-mail yang ia kirimkan ini, maka tak akan ada orang lain yang sadar dengan identitas pengirim yang sebenarnya ‘kan? Ini hal yang paling aman dan kemungkinan besar para ELF tak akan menyadari ini sehingga ia tak perlu merasa takut.

“Tapi ada satu kekurangan..”, tiba-tiba saja Zhoumi berujar pelan, “..acara radio ini off air. Jadi mungkin saja Nara tak bisa mendengar ceritamu secepat mungkin, Kui Xian.”

“Bagaimana, Kyuhyun-ah?”, tanya Eunhyuk pada Kyuhyun yang masih merenung, “Kau mau melakukannya? Biarpun acara ini off air?”

Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Eunhyuk dan malah mengambil netbook miliknya dari dalam tas hitamnya. Ia menoleh ke belakang dan berucap singkat kepada para membernya, “Apa alamat e-mail radio itu?”

***
Seoul, South Korea

“Terima kasih atas bantuanmu, Shindong Oppa”, ucap Nara sambil menutup layar laptop milik Ririn dan tersenyum ke arah Shindong yang sedang berdiri di belakangnya, “Aku tak mengecek hal yang lainnya kok.”

Shindong tertawa kocak dan mengibaskan tangannya, “Aku sudah mengenalmu selama 3 tahun, Nara-ya. Aku tahu kau bukan gadis seperti itu”, ucapnya dan membuat Nara terkekeh pelan.

Kini mereka berdua keluar dari ruang kerja Ririn dan melihat Heechul, Leeteuk juga Yesung sedang memakai kembali jaketnya masing-masing. “Ya! Tunggu aku”, seru Shindong sambil beranjak menuju coat hanger untuk mengambil jaketnya juga. Leeteuk tersenyum simpul ke arah Nara, “kami pulang dulu, Nara-ya. Ada beberapa schedule yang harus kami kerjakan”, jelasnya.

Nara melirik sekilas ke jam dinding yang ada di apartemen Ririn, pukul sembilan malam. Pasti Yesung dan Leeteuk harus bersiap untuk siaran SuKiRa. Lalu Heechul dan Shindong? Yah, who knows?

Nara mengangguk singkat. Ririn juga Haejin rupanya tengah membereskan bekas makanan mereka semua hingga tak bisa menemani keempat member itu ke pintu depan. “Hati-hati, Oppadeul”, ucapnya mengingatkan.

“Kau juga Nara-ya. Hati-hati di Jepang”, balas Yesung sambil mengacak rambut Nara dengan gemas. Nara menggumam mengiyakan, “Arayo.”

Leeteuk, Yesung, Heechul dan Shindong melambai sejenak ke arah Nara sebelum dari dalam elevator sebelum akhirnya pintu elevator itu tertutup rapat.

Nara menghembuskan nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia sudah melakukan sesuatu melalui perantara Shindong. Yang sekarang harus dia lakukan hanyalah menunggu hingga Kyuhyun sadar dan membaca pesannya. Mengenai hasil akhir yang akan dia dapatkan, yahh..entahlah, yang penting dia sudah menjelaskan semua perasaannya.

Kalian bingung tentang apa yang Nara pikirkan? Hahaha, tenanglah, seiring dengan berjalannya waktu, kalian juga pasti akan paham mengenai hal yang dia bicarakan.

You’re the best thing I never knew I needed..

Nara merogoh handphone miliknya yang ada di dalam saku celananya, matanya sedikit membulat saat melihat nama penelpon yang ada di layar handphonenya.

Mommy!
Calling..

“Yoboseyo?”

“Ya, aku akan segera pulang, Mommy. Okay, bye”, Nara mengakhiri pembicaraannya dan kembali memasukkan handphonenya itu kedalam saku celananya.

Ia menatap ke sekelilingnya sekali lagi dan menghela nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Waktunya telah tiba, ia harus pergi sekarang.

Nara beranjak berjalan kembali menuju apartemen Ririn, ke ruang tengah dan melihat kedua Onnideulnya itu sedang merapikan kotak pizza yang telah kosong. “Onniedeul..”, seru Nara pelan sambil berjalan mendekati mereka, “..sini kubantu.”

***
Taipei, Taiwan
YeolShim’s Radio, 11.45PM

“Sampai juga di segmen terakhir dari acara radio kita kali ini..”, sang penyiar itu menaikkan intonasi bicaranya dan membuat nuansa tegang di dalam studio siaran, “..Heart to Heart, let’s listen to your story!!”

“Wohoooo~”, tepat saat sang penyiar menyelesaikan ucapannya, para member Super Junior M langsung bertepuk tangan riuh dan berseru gembira. Seakan memberikan sambutan yang hangat dalam acara radio itu.

“Baiklah, bagi para member Super Junior M mungkin belum mengetahui mengenai segmen acara ini. Betul ‘kan?”, tanya penyiar itu memastikan. Semua member Super Junior M (pura-pura) mengangguk dengan kompak dan memasang wajah polos, “kami benar-benar tak tahu”, Eunhyuk menegaskan ucapannya.

Sang penyiar itu mengangguk memaklumi, “Ini adalah satu segmen dimana biasanya kita membacakan cerita dari para pendengar dan yahh..memberikan solusi semampu kita. Anggap saja ini sebagai konsultasi mini”, jelasnya dan membuat para member mengangguk-angguk paham. Kecuali Kyuhyun yang hanya tersenyum masam sambil tak berhenti menggoyangkan kakinya dengan resah setiap kali mendengarkan ucapan sang penyiar, waktunya akan segera tiba! Sebentar lagi!

“Nah kali ini, cerita yang beruntung untuk dibacakan oleh dibacakan oleh Super Junior M adalah cerita dari..”, penyiar itu menggeser mouse di komputernya dan mengklik salah satu e-mail yang sudah dipilih oleh produser radio secara langsung. Kali ini tidak hanya Kyuhyun, namun aura penuh ketegangan juga terpancar di wajah member lainnya. Mereka benar-benar berharap bahwa cerita Kyuhyun lah yang dibacakan sekarang!

“..Allen”, ucap sang penyiar dan sontak membuat semua member menatap ke arah Kyuhyun dengan pandangan berbinar. ‘Allen’ adalah nama samaran yang dipilih Kyuhyun untuk mengirimkan e-mail itu!

Kyuhyun meremas jarinya dengan penuh gelisah. Sekarang hanya tinggal bagaimana caranya si penyiar itu menunjuk dirinya untuk membacakan cerita itu dan bukannya menunjuk member lain! “Jebal. Jebal”, bisik Kyuhyun lirih dan penuh harap.

“Eunhyuk-ssi, bagaimana jika kau yang membacakan cerita ini?”, ucapan penyiar itu seakan membuat hati Kyuhyun mencelos dalam. “Bukankah kau juga seorang penyiar?”, lanjutnya.

Oh, tidak, kesempatannya terbuang sia-sia sekarang!

“Ah..”, Eunhyuk berdehem pelan, “..selama ini Kyuhyun selalu mengatakan padaku bahwa dia ingin sekali menjadi penyiar. Tapi sayangnya tak ada stasiun radio yang mengajukan permintaan padanya”, ucapan Eunhyuk itu mengundang tawa sang penyiar namun membuat senyum bahagia dari para member. “Jadi bagaimana jika kali ini Kyuhyun saja yang membacakan ceritanya? Yah..anggap saja sebagai hiburan bagi cita-citanya yang tak pernah kesampaian.”

Penyiar itu mengangguk-angguk paham, “Kyuhyun-ssi, apa kau bersedia membacakan cerita ini?”, tanyanya memastikan. Kyuhyun terkekeh gugup namun tetap menggumam mengiyakan, “Boleh saja.”

Akhirnya Kyuhyun pindah ke tempat duduk yang ada di samping penyiar itu karena komputer yang ada di studio ini hanya ada satu, sehingga Kyuhyun terpaksa harus berpindah tempat. Sang penyiar menunjukkan satu baris tulisan kepada Kyuhyun, “Silahkan baca, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun mengangguk dan meneguk ludahnya dengan gugup saat matanya melihat barisan tulisan e-mail yang ia tulis sendiri. Apakah dia bisa melakukannya dengan baik?

“Kyuhyun-ah, hwaiting!!”, tiba-tiba saja Eunhyuk berseru kencang dan membuat member lainnya juga ikut berteriak menyemangati Kyuhyun. “Kau pasti bisa!”, seru Ryeowook tak mau kalah dengan suara nyaringnya.

“Baiklah”, Kyuhyun memulai ceritanya dan membuat suasana menjadi senyap. “Cerita ini dikirimkan oleh Allen-ssi dan ditujukan untuk..”, ia menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “..orang yang sangat ia sayangi melebihi apapun di dunia ini.”

“Membuka mata, menutup mata, bernafas, berjalan, makan dan minum, juga berbincang bersama orang-orang yang kukenal. Itu sebuah rutinitas sehari-hari yang biasa kujalani.”

“Tapi anehnya, aku merasa ada hal yang berbeda di dalam setiap hal yang aku lakukan ini. Entahlah, rasanya dari setiap langkah yang kubuat di pagi hari, aku selalu merasakan ada satu hal yang hilang. Dan dari setiap helaan nafas yang kuhirup setiap saat ini, seakan ada satu komponen yang tak terasa seperti biasanya.”

“Lama waktu berjalan, aku menyadari satu hal yang ternyata membuat semua hal yang kulakukan itu terasa berbeda, yaitu hilangnya kehadiran satu orang yang paling berharga dalam hidupku.”

“Dia adalah gadis polos yang sangat benci kekalahan. Gadis bodoh yang selalu takluk dan menyerah di hadapan tumpukan rumus matematika. Gadis tegar yang selalu menahan air matanya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja sehingga aku tak perlu merasa khawatir.”

“Sedangkan aku? Aku adalah pria bodoh yang selalu mengatakan bahwa aku bisa hidup tanpa kehadirannya dalam hidupku. Aku melepaskannya begitu saja, melepaskan gadis yang orang-orang bilang adalah 1 diantara 10.000. Haha, bodoh bukan?”, Kyuhyun menghela nafasnya dan mencoba mengatur emosinya supaya semua orang tak dapat mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Sedangkan kelima member lainnya hanya diam di tempatnya dan tak mengatakan apapun, seakan membiarkan Kyuhyun mengatakan semua perasaannya.

Kyuhyun menggeser mouse komputer itu kebawah dan melanjutkan membaca isi e-mail itu, “Aku tahu sudah sangat terlambat untuk meminta maaf dan memintamu kembali padaku, aku juga tak tahu apakah kau mendengar perkataanku ini atau tidak..”

“Tapi aku telah mendengar perkataan hatiku yang berharap kau kembali untuk tertawa dan menangis bersamaku. Tolong bawa kembali senyuman sinis itu ke sampingku, hanya itu yang kuharapkan.”

Kyuhyun melepaskan genggamannya dari mouse komputer itu kemudian beralih menatap kelima membernya dan juga penyiar radio disampingnya, mereka semua seakan ikut membayangkan perasaan orang bernama ‘Allen’ itu. Sang penyiar itu terlihat sadar dari lamunannya, “Ah, sudah selesai?”

Kyuhyun mengangguk, “Ada dua kata lagi yang ingin dia sampaikan.”

“Ah, kalau begitu, silakan lanjutkan membacanya, Kyuhyun-ssi. Semoga saja sang gadis yang dia bicarakan ini akan mendengarkan dua kata itu.”

Kyuhyun kembali mengalihkan pandangannya ke layar komputer di hadapannya dan menatap dua kata terakhir yang ia tuliskan di dalam e-mail. Dua kata yang sangat singkat, namun sebenarnya itulah yang paling ingin Kyuhyun sampaikan saat ini.

“Kajima (jangan pergi)..“, Kyuhyun melanjutkan ucapannya yang terakhir, “Saranghae.

Sang penyiar itu terlihat sangat tersentuh dengan cerita dari Allen dan juga cara Kyuhyun menceritakan hal itu. Tanpa ia ketahui bahwa e-mail itu dikirimkan sendiri oleh orang yang sedang membacakannya.

“Wuaaah!”, dia bertepuk tangan kagum dan diikuti oleh member Super Junior M lainnya, bahkan Ryeowook malah menitikkan air mata saat mendengarkan cerita Kyuhyun. “Cerita yang sangat menyentuh. Semoga gadis yang dimaksud oleh Allen-ssi ini bisa mendengar ceritanya dan hubungan mereka bisa segera membaik”, ucapnya.

Member Super Junior M lainnya langsung mengangguk semangat sedangkan Kyuhyun masih diam di kursinya, jantungnya berdebar kencang. Jika dipikir-pikir, ini sama saja seperti dia mempublikasikan hubungannya ke media luas! Aish!

“Lalu Kyuhyun-ssi..”, penyiar itu bertanya pada Kyuhyun yang masih mencoba mengatur detak jantungnya sehingga membuatnya sedikit melonjak kaget, “..bagaimana pendapatmu mengenai cerita ini?”

“Eh?”, Kyuhyun terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. Memang apa yang harus ia katakan mengenai masalahnya sendiri? “Ehm, sejujurnya aku bukan orang yang pandai merangkai kata, kurasa aku lebih bisa mengungkapkan segala sesuatunya lewat lagu”, elaknya.

“Benarkah?”, tanya penyiar itu ragu.

Tanpa diminta, Henry segera membantu Kyuhyun. Ia melirik sekilas ke arah layar komputer yang kebetulan berada dekat dengannya (karena Henry duduk di samping Kyuhyun) dan berujar pelan, “Kebetulan sekali! Lihat, disini Allen-ssi meminta satu lagu untuk diputarkan”, ucapnya sambil menunjuk barisan tulisan yang ada di bagian bawah e-mail. Kyuhyun terlihat terkejut dengan barisan tulisan itu. Rasanya ia tak pernah menuliskan kalimat itu, lalu siapa yang menulisnya?

“Sini, hyung! Berikan padaku! Aku hafal alamat e-mail radio itu”

Kyuhyun menepuk dahinya dengan gemas saat mengingat ucapan Henry saat mereka masih berada di dalam van. Pasti Henry menambahkan kalimat berisi lagu itu saat ia menyerahkan netbook itu padanya! Aish, anak itu..

“Kenapa kita tidak minta Kyuhyun-ssi untuk menyanyikannya saja?”, lanjutnya dan seakan menohok diri Kyuhyun. Menyanyi tiba-tiba seperti ini? Sekarang?

Sang penyiar itu terlihat berbinar saat mendengar ucapan Henry, “Apa Kyuhyun-ssi bersedia?”, tanyanya memastikan. Kyuhyun menggumam pelan. Ia sangat ingin menolak, tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain mengangguk lemah dan berkata, “Ne, baiklah.”

Jadi disinilah Kyuhyun berada sekarang, di depan sebuah mikrofon yang tersambung kepada seluruh siaran radio ini.

Penyiar itu menyiapkan sebuah lagu karaoke seperti yang diminta didalam email Allen tadi. “Allen-ssi meminta diputarkan lagu dari Loveholic yang berjudul ‘If Only you were here’. Tapi siapa yang menyangka bahwa ia akan mendapatkan jackpot bahwa Kyuhyun-ssi lah yang akan menyanyikan lagu itu secara langsung?”, ucapan penyiar itu langsung dibalas dengan teriakan riuh dari member Super Junior M.

Mereka berlima memandang ke arah Kyuhyun dengan pandangan penuh arti dan tertawa menyindir. “Kyuhyun-ah, kau pasti bisa!”, seru Ryeowook sambil mengacungkan tangannya.

“Jadi inilah Kyuhyun-ssi yang akan menyanyikan lagu ‘If only you were here’. Berikan tepuk tangan yang meriah!”

Kyuhyun memakai headphonenya dan menarik nafasnya berkali-kali, mencoba fokus dengan musik dan juga lirik lagu yang ada di hadapannya. Hingga akhirnya dia menarik nafas dalam-dalam dan mulai menyanyikan lagu itu.

Nal saranghaeseo tteonandamyeo, nunmuljitdeon geudaeui mareul mideul su eobsjyo
(Saying that you’re leaving me because you love me. Those teary words of yours, I can’t believe them..)

hajiman naui jeonbuyeottdeon, geudaega himdeureo hagi-e jabeul su eobseossjyo
(But you, my everything, was suffering too much. So I couldn’t hold you back..)

untong neowaui gieokppunin nareul wihaeseo yeottdamyeon, jogeumssik muneojyeoganeun nal nal wihandamyeon
(If it was for me, whose memories are of you only. If it is for me, who is slowly breaking down..)

idaero nae gyeot-e isseoya haeyo, nareul tteonamyeon andwaeyo. Sesangui modeungeol irheodo gwaenchanhayo, geudaeman ittdamyeon geudaeman ittdamyeon
(You should stay by me. You shouldn’t leave me. I don’t care if lose everything else. If I have you, if I have you..)

hamkke utdeon sigandeureul, hamkkehaettdeon yaksokdeureul. Jigeum tto yeongwonhi gieokhagesseoyo ♪
( Those smiles that we shared. Those promises that we made. I’ll remember them forever..)

dasi hanbeon saenggakhaeyo, mueosi nal wihan geonji geudaeneun algoisseoyo
( Think one more time. You clearly know what’s best for me..)

yeongwonhi nae gyeoteul jikyeojuseyo, nareul tteonaji marayo. Sesangui modeungeol irheodo nan johayo, geudaman ittdamyeon geudaeman ittdamyeon
( Please be my side forever. Please don’t leave me. I don’t care if lose everything else. If I have you, if I have you..)

ontong geudaeui saenggakppunin nareul wihaeseo yeottdamyeon, chorahage sseuryeojineun nal nal wihandamyeon
( If it was for me, whose memories are of you only. if it is for me, who is miserably breaking down..)

idaero nae gyeot-e isseoya haeyo, nareul tteonamyeon andwaeyo. Sesangui modeungeol irheodo gwaenchanhayo, geudaeman ittdamyeon geudaeman ittdamyeon
( You should stay by me. You shouldn’t leave me. I don’t care if lose everything else. If I have you, if I have you..)

yeongwonhi nae gyeoteul jikyeojuseyo, nareul tteonaji marayo. Sesangui modeungeol irheodo nan johayo, geudaman ittdamyeon geudaeman ittdamyeon
( Please be my side forever. Please don’t leave me. I don’t care if lose everything else. If I have you, if I have you..)

‘Kau mendengarnya ‘kan, Kwan Nara sayang?’

***
Incheon Airport, South Korea
Next Day, 07.00AM

Nara menyerahkan tas kecil berwarna hitam itu ke tangan Ririn dan Haejin yang ikut mengantarkannya ke bandara Incheon. “Tolong kembalikan ini ke Kru We Got Married. Di dalamnya ada selca milikku, sesuai permintaan mereka. Lalu ada juga..”, Nara merogoh saku tas slempangnya dan mengeluarkan selembar surat lalu menyerahkannya lagi kepada kedua onniedeulnya, “..surat pengunduran diriku dari acara itu. Tolong sampaikan ini pada mereka semua ya, onnie?”, tanyanya sambil tersenyum simpul.

Haejin dan Ririn mengangguk pelan. Nara langsung memeluk keduanya dengan erat, “Kuharap kalian tak marah padaku”, bisiknya pelan. Ririn hanya mengelus pundak maknaenya itu sedangkan Haejin menggeleng saat mendengar ucapan Nara. “Kau tak bersalah. Tak ada alasan hingga kami marah padamu”, ucap Haejin dan dibalas dengan ucapan terima kasih dari Nara.

Nara melepaskan pelukan mereka berdua dan beralih ke Soohyun yang sedari tadi berdiri di samping mereka. “Soohyun-ah, nae chingu..”, ucap Nara dengan nada gembira sambil merentangkan tangannya lebar-lebar, “kau tak mau memelukku juga?”

Soohyun tersenyum kecil dan beranjak memeluk sahabatnya itu dengan erat, “Hati-hati disana. Arasseo?”, bisik Soohyun. Nara hanya mengangguk kecil, “Arasseo.”

Nara tiba-tiba saja teringat sesuatu dan membisikkan sesuatu pada Soohyun saat mereka masih berpelukan, “Jangan beritahu siapa-siapa tentang masalah orangtuaku, Soohyun-ah. Biar semua orang tahu sendiri tentang identitas keluargaku nanti. Ara?”, tanyanyanya. Soohyun menggumam mengiyakan, “Ara.”

“Ra-ya, pesawat kita akan segera take off”, tiba-tiba terdengar suara seruan halus dari belakang mereka. Kwan Soohyun melambai ke arah anaknya itu, menyuruhnya untuk cepat melakukan boarding pass. “Coming, Mommy”, balasnya singkat.

“Aku pergi, ya?”, ucapnya sekali lagi pada ketiga sahabatnya itu, “jangan lupa untuk main-main ke Jepang nanti”, pesannya. Ririn, Haejin dan Soohyun mengangguk sambil melambai pelan ke arah Nara. “Hati-hati, Nara-ya.”

“Jangan ucapkan hati-hati padaku. Ucapkan pada pilot, sana”, Nara masih saja bisa bercanda di saat seperti ini dan membuat ketiganya terkekeh pelan. Akhirnya Nara menarik kopernya dan berjalan menuju boarding pass, “Bye! Bye! Byeeeee”, serunya sambil melambaikan tangan beberapa kali kepada mereka semua.

Akhirnya sosok Nara menghilang di balik tikungan tempat ia melakukan boarding pass. Dan pada saat itu juga Nara mengeluarkan handphonenya kemudian mengirimkan satu SMS kepada seseorang.

To : Shindong Oppa
“Oppa boleh memberitahunya sekarang.”

“Ra-ya, matikan handphonemu saat memasuki pesawat”, pesan Soohyun. Nara hanya mengangguk kecil dan menekan tombol untuk menonaktifkan handphonenya.

“Hiduplah dengan baik, Cho Kyuhyun yang tampan..”

***
Taipei, Taiwan
Super Junior M’s Dorm, 07:20AM

“Bangun! Bangun! Bangun!”, Ryeowook masuk ke dalam kamar tidur Eunhyuk dan mengguncangkan tubuhnya dengan semangat, “Hyung, bangun! Aku sudah menyiapkan sarapan pagi.”

“Heem. Ya, ya..”, Eunhyuk hanya menggumam mengiyakan namun tubuhnya masih tak juga beranjak dari kasurnya yang empuk, “..nanti aku bangun.”

Ryeowook menggembungkan pipinya dengan sebal dengan kelakuan Eunhyuk. Okay, pagi ini ia sama sekali belum bisa membangunkan kelima membernya sama sekali. Baik Henry – Zhoumi – Donghae – Siwon dan Eunhyuk pun semua berlaku sama, hanya mengiyakan ucapannya tanpa sedikitpun beranjak dari kasurnya. Aissh!

Akhirnya dengan langkah yang diseret, Ryeowook keluar dari kamar Eunhyuk dan beranjak menuju kamar Kyuhyun juga Sungmin. Namun baru saja ia berniat untuk menutup kembali pintu kamar Eunhyuk, pintu kamar Kyuhyun sudah terbuka dan muncullah sosok tubuh yang tinggi tegap itu dari balik pintu. “Kyuhyun-ah, kau sudah bangun?”, tanya Ryeowook riang, merasa tugasnya tak sia-sia.

Kyuhyun menggumam pelan sambil menggaruk kepalanya dengan malas. Dia berjalan menuju meja makan dan langsung duduk di salah satu kursinya kemudian menatap ke arah meja makan yang diatasnya sudah terhidang roti tawar dengan berbagai macam rasa selai.

“Sungmin hyung masih tidur”, ucap Kyuhyun singkat saat Ryeowook mengecek ke dalam kamarnya. Ryeowook hanya mengangguk kecil dan beranjak menuju meja makan. Ia duduk di bangku yang posisinya langsung berhadapan dengan Kyuhyun, “Tumben kau bangun pagi seperti ini”, ucapnya berniat menyindir.

“Insomnia akut. Aku sama sekali tak bisa tidur”, keluh Kyuhyun sambil mencomot selembar roti tawar dan juga selai kacang. Ryeowook hanya menggumam paham sambil mengoleskan selai nanas ke lembaran rotinya, “pantas saja kantung matamu menghitam seperti itu”, ucapnya sambil memperhatikan mata Kyuhyun yang terlihat sangat sayu.

Untuk beberapa saat, tak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka berdua. Keduanya terlalu sibuk mengoleskan selai di lembaran roti masing-masing. “Hari ini..”, akhirnya Ryeowook memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu, “..Nara berangkat ke Jepang ‘kan?”

Kyuhyun menghela nafas dengan berat saat mendengar pertanyaan Ryeowook, namun tak urung ia mengangguk pelan. “Mungkin sekarang dia sedang di airport”, lanjutnya singkat, “atau mungkin sudah berangkat kesana.”

Ryeowook menatap Kyuhyun dengan pandangan iba, namun ia segera berkata dengan penuh nada optimis. “Kyuhyun-ah, tenang saja! Saat Nara mendengarkan ceritamu di radio itu, dia pasti akan luluh dan memutuskan untuk kembali padamu! Aku yakin itu.”

“Tapi itu acara off-air”, ucap Kyuhyun pelan sambil menggigit potongan rotinya, “mungkin saja ia tak tahu jadwal siaran radio itu dan malah melewatkannya”, lanjutnya pesimis. “Gadis itu ‘kan memiliki syndrom pelupa akut.”

“Aiyaaa! Jangan pesimis seperti itu! Jika kau bersikap seperti ini, kau malah seperti tidak menghargai kami yang selalu percaya bahwa kau bisa, Kyuhyun-ah”, Ryeowook mencoba memberikan motivasi. “Kau harus yakin kalau kau bisa!”

Kyuhyun terkekeh pelan dengan ucapan Ryeowook itu. “Gomawo”, ucapnya singkat kepada Ryeowook, “dukungan kalian semua benar-benar bisa membuatku lebih semangat dari sebelumnya.”

Ryeowook tersenyum lebar saat mendengar kata-kata maknaenya, “Itulah gunanya teman, ‘kan?”, ucapnya mencoba sok puitis namun malah dibalas dengan cibiran jijik dari Kyuhyun. “Tapi kurasa Nara pasti bisa memaafkanmu, Kyuhyu..”

DDRRTT..DDRRTT..

Handphone LG blue Lollipop milik Kyuhyun itu bergetar pelan diatas meja makan. Dia segera membuka flip-nya dan sedikit merasa heran saat melihat nama penelpon yang tertera di layar handphonenya.

Shindong Hyung
Calling..

“Yoboseyo?”, sapa Kyuhyun, “ada apa kau menelfonku, hyung?”. Tumben sekali Hyung’nya yang satu ini menelfonnya.

“Ehm, Kyuhyun-ah..”, Shindong terdengar seperti sedang kebingungan untuk mencari kata-kata untuk disampaikan kepada Kyuhyun, “..Nara sudah berangkat barusan, pukul tujuh pagi”, jelasnya dengan intonasi yang tidak jelas. Entahlah, suara Shindong terdengar seperti orang yang sedang..bimbang?

Kyuhyun menggumam pelan, “Ah, begitukah?”, ucapnya dengan nada datar namun dengan ekspresi wajah yang terlihat muram. “Yah, semoga dia selamat sampai di Jepang.”

“Err, sebenarnya tujuanku menelfonmu sekarang ini bukan hanya untuk memberitahumu hal itu saja, Kyuhyun-ah”, ucap Shindong masih dengan nada bimbang, sama seperti sebelumnya. Sementara itu Kyuhyun menjadi sedikit penasaran karena perkataannya, “Memangnya ada apa lagi, hyung?”

Shindong terdengar mengatur nafasnya beberapa kali sebelum akhirnya berujar pelan, “Nara menitipkan satu hal padaku untukmu.”

“Hah?”, Kyuhyun terkejut saat mendengar ucapannya itu, “Nara menitipkan sesuatu untukku?”.

Ryeowook yang sedari tadi hanya bisa memperhatikan ekspresi Kyuhyun, kini merasa sedikit antusias saat mendengar nama Nara. Ia kini bergerak pindah ke samping Kyuhyun kemudian menempelkan telinganya ke speaker handphone LG Lollipop itu, mencoba mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

“Kau belum membuka twittermu?”, tanya Shindong.

“Belum sama sekali”, jawab Kyuhyun. “Memangnya ada apa dengan twitterku?”

“Cek DM-mu. Dia menitipkan beberapa pesa..”. Kyuhyun tak mendengar lanjutan ucapan Shindong karena ia langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan handphonenya tergeletak di atas meja. Ryeowook yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, hanya bisa meminta penjelasan dari Shindong melalui handphone milik Kyuhyun itu.

Twitter.com_

Kyuhyun mengetikkan alamat website itu dengan sigap di netbook dan langsung memasukkan username juga password akun miliknya ke dalam kolom yang tersedia. Kakinya tak bisa berhenti bergerak dengan gusar saat halaman website itu tengah loading. “Aish, ayolah. Ayolah. Ayolah..”

New Direct Message!

Tanpa menunggu lama, Kyuhyun segera mengklik icon Direct Message dengan mousenya. Matanya langsung membulat saat melihat ada banyak DM yang dikirimkan dari akun twitter Shindong : Shinsfriends. Tapi kata-kata yang ada di message itu pasti bukan dikirimkan oleh Shindong, Kyuhyun yakin tentang itu. Karena semua kata-kata ini terasa..sangat familiar untuknya.

“Hai, kau baik-baik saja? :) Maaf karena harus pergi secara tiba-tiba, bahkan tanpa memberitahumu terlebih dahulu. -cont-”

“-cont- sebenarnya aku ingin sekali menelfonmu dan (seperti yang kau bilang sebelumnya) mendengar suaramu untuk yang terakhir kalinya. :) -cont-”

“-cont- Tapi aku hanya merasa takut jika aku mendengar suaramu lagi, maka aku pasti akan merasa bimbang dan malah membatalkan keputusanku untuk pergi -cont-”

“-cont- kau tahu kan bahwa selama ini aku selalu takluk jika mendengar suaramu, Cho Kyuhyun yang tampan? :) Jadi aku memutuskan untuk tak menelfonmu. Tolong jangan marah padaku ya (•͡.̮ •͡ ) -cont-”

“-cont- Ehm, kau tahu? Aku tak tahu sebenarnya apa yang telah terjadi dalam diriku. Sebenarnya selama ini, aku merasa ada yang aneh pada diriku selama mengenalmu. -cont-”

“-cont- kau pasti tak akan tahu seberapa besarnya rasa bahagiaku setiap saat kau ada disampingku. Dan setiap saat kau tersenyum, aku juga pasti akan tersenyum bersamamu. Haha, aneh ‘kan? -cont-”

“-cont- Setiap kali kau mengeluh bahwa kau merasa lelah dengan schedulemu yang padat atau setiap kali kau sakit, apa kau tahu kalau aku ingin sekali memelukmu dengan erat dan memberikan kalimat manis supaya kau bisa kembali semangat? -cont-”

“-cont- setiap kali tatapan mata kita bertemu, apa kau tahu bahwa aku selalu merasa berdebar hingga rasanya ingin mati saja? :’) -cont-”

“-cont- Maaf jika selama ini aku hanya bisa berlaku kasar dan selalu mengejekmu. Kau tahu ‘kan bahwa aku ini gadis yang tak suka dengan hal yang romantis? Kkk. -cont-”

“-cont- biarpun aku tahu bahwa cerita kita berdua pasti tak akan pernah abadi dan cepat atau lambat pasti akan berakhir, tapi.. -cont-”

“-cont- Bisa mengenalmu dan bisa melihatmu dari sisi yang berbeda, itu adalah memori yang tak akan pernah bisa kulupakan. -cont-”

“-cont- Thank you for make me ‘love’ you, Cho Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun diam mematung di tempatnya berada sekarang. Matanya memanas dan pandangannya menjadi buram juga kabur, entahlah..semuanya terasa berputar di kepalanya. Segala hal tentang gadis itu seakan menusuki seluruh tubuhnya dengan jarum yang transparan namun bisa membuatnya sesak lebih dari apapun.

Wajahnya, senyum sinisnya, suara tawanya, sikapnya yang dingin, dan perhatian yang ia perlihatkan secara tersirat itu seperti bercokol di kepala Kyuhyun.   

Gadis itu benar-benar memutuskan untuk pergi. ‘Pergi’ dalam artian yang sesungguhnya. Jadi..apa Kyuhyun harus merelakannya?

***
Narita Airport, Japan

Nara mengerjapkan matanya beberapa kali karena kilatan blitz dari banyak kamera yang ada di hadapannya ini seakan membuatnya buta hingga tak bisa melihat apapun.

Kwan Hyonsaeng merangkul pundak Nara dengan penuh rasa bangga dan berkata tegas pada sekumpulan media pers yang kini berada di departemen kedatangan dari bandara Narita ini, “Dia adalah putriku, Kwan Nara. Dan dialah yang akan menjadi pewaris dari perusahaan Kwan’s Motor corp.”

Kilatan blitz kamera semakin membanjir setelah Hyonsaeng mengucapkan hal itu. Riuh teriakan berupa pertanyaan yang diserukan oleh banyak wartawan itu langsung membuat Nara memahami akan satu hal.

Lembaran hidupnya yang baru akan segera ia mulai, dari detik itu juga.

***
-T.B.C-

Kali ini qu ga mau ngomong banyak, Cuma mau minta maaf sebesar-besarnya aja karena intermission #3 ini lama banget dipostnya : 1 bulan 11 hari .__.v
Tapi makasih banget buat readers yang tetep setia nagih-nagih lanjutan ini, keke~ :3
Dan sebagai ganti rugi, chapt ini diselesaikan dengan 37 page ms.word. Smoga readers puas bacanya :3

Kapan KyuNara balikan? Kenapa masalahnya semakin ruwet?
Well, mari lihat jawabannya di next chapt :)

As usual, comment & like are love, love, love :*