{KyuNara Scene} Intermission #1

Recommended Song : 2PM – Like a Movie

***

Tokyo, Japan

Sebuah mobil Jaguar keluaran terbaru tampak berhenti di depan pelataran sebuah rumah mewah berwarna putih elegan.  Tak lama berselang, sesosok pria berusia separuh baya dengan tubuh tegap keluar dari kursi penumpang dan melonggarkan ikatan dasi berwarna biru gelap di lehernya dengan wajah jengah. Tepat saat ia menjejakkan kaki di atas tanah, 2 orang pelayan wanita langsung menghampirinya dan membungkuk dengan penuh hormat. Salah satu dari mereka membantu membawakan tas yang dibawa oleh pria itu sedangkan pelayan yang lainnya segera membawakan jas yang diangsurkan olehnya.

Pria tersebut masih diam tak bersuara saat kakinya melangkah melewati pintu rumah yang megah itu. Detik berikutnya, matanya langsung disambut oleh barisan pelayan yang telah berbaris rapi di samping kiri dan kanannya. Semua pelayan itu membungkuk hormat padanya.

“Selamat datang, Tuan Besar”, ucap seorang asisten kepala pelayan bernama Miju, istri dari Joomin. Garis keriput sudah terlihat di wajah Miju, namun itu tak membuat aura ketegasan dan kedisplinan yang ada di dirinya itu terkikis oleh usia. Dengan profesi sebagai asisten kepala pelayan dari sebuah keluarga yang terkenal ‘high class’ dan eksekutif, Miju harus selalu memasang wajah yang berkesan angkuh untuk mendisiplinkan semua pelayan yang ada di rumah ini.

Kwan Hyonsaeng, pria yang dipanggil Tuan Besar oleh Miju itu hanya mengangguk kecil dan melirik ke sekelilingnya.  Ia memperhatikan semua desain interior rumahnya, memastikan semua yang ada di situ masih sesuai pada tempatnya dan sesuai dengan keinginannya. Selesai memperhatikan seluruh penjuru rumahnya, ia menggumam pelan pada Miju. “Dimana Joomin?”, tanyanya pelan dan dengan nada suara yang berat. Ia hanya sedikit heran karena biasanya Joominlah yang selalu memimpin semua pelayan di rumahnya untuk menyambutnya sekarang, bukannya Miju.

Miju menunduk segan sebelum menjawab pertanyaan Hyonsaeng, “Dia..ikut dengan Nyonya Besar ke Seoul, Tuan”.

Mwo?!”, Hyonsaeng langsung menganga tak percaya, matanya langsung terlihat membesar. “Apa yang dia lakukan dengan istriku?! Pergi ke Seoul?”, tanyanya penuh selidik. Miju hanya diam, tak bisa menjawab apapun. Jujur saja, Miju tentu merasa sedikit cemburu dan was-was saat mengetahui suaminya sendiri sedang pergi ke Seoul berdua dengan Nyonya-nya. Tapi apalagi yang bisa ia lakukan? Joomin bilang bahwa ia diberi misi oleh Nyonya besar untuk melakukan satu hal dan Miju tak memiliki pilihan lain selain membiarkannya pergi.

“Saya juga tak tahu, Tuan”, akhirnya Miju menjawab dengan nada lirih, masih dengan menunduk dalam. “Tapi kemarin ia memberi tahu saya bahwa mereka akan kembali kemari esok hari”, lanjutnya.

Hyonsaeng mendengus dan menggeleng tak percaya, “Apa yang dia lakukan di Seoul? Ck!”. Akhirnya dengan menahan segala emosinya, Hyonsaeng beranjak pergi ke ruang kerjanya sebari diikuti oleh kedua pelayan yang sedari tadi masih setia membawakan tas dan jasnya. Miju sempat berujar pelan pada tuannya itu, “Tuan, apa yang anda inginkan untuk menu makan malam hari ini?”.

Hyonsaeng yang sedang menaiki tangga spiral langsung berhenti saat Miju menanyakan hal itu. Matanya seakan berkilat-kilat menatap Miju, “Aku ingin daging Soohyun panggang”, jawabnya dengan nada dingin dan langsung membuat Miju dan beberapa pelayan yang masih ada di situ langsung menelan ludah dengan gugup. “Ahh, Ne~”, jawab Miju dengan suara yang bergetar.

Hyonsaeng kembali melanjutkan langkahnya sedangkan Miju segera berderap menuju barisan pelayan yang memakai baju koki dan membisikkan sesuatu pada mereka, “Cepat beli daging sapi eksekutif yang bernama Soohyun”, desisnya dengan nada tegas dan membuat 4 koki itu langsung menganga lebar. “Sapi bernama Soohyun?”, Tanya mereka dengan nada tak percaya.

Beralih pada Hyonsaeng yang kini sudah duduk dengan posisi nyaman di sofa empuk yang ada di ruang kerjanya dan tengah membuka beberapa tumpukan dokumen laporan mengenai perkembangan perusahaannya. Ia mendengus kecil saat melihat ada garis yang sedikit turun dari grafik sebelumnya. Ya, perusahaan otomotifnya kini sedikit mengalami penurunan penjualan, biarpun hanya sedikit tapi itu membuat ia sedikit khawatir. Yah, seperti yang sering orang bilang, sebuah kegagalan bukan terjadi karena adanya batu penghalang yang besar tapi karena batu kerikil yang kadang selalu kita anggap remeh ‘kan?.

Ia tahu bahwa perusahaannya perlu memodifikasi sesuatu dari semua hasil produksinya. Ia paham bahwa kini keinginan konsumen lebih beragam dan mereka tak lagi tertarik dengan hal yang bersifat kuno, namun sayangnya pikiran kolot Hyonsaeng sudah tak mampu untuk membuat modifikasi modern bagi semua hasil produksinya.

“Aish~”, Hyonsaeng mendesah pelan dan langsung merebahkan tubuhnya ke bangku miliknya. Pandangan matanya terpaku ke meja kerjanya, ah..bukan, mungkin lebih tepat jika mengatakan bahwa pandangan matanya hanya tertuju ke sebuah benda yang ada di meja kerjanya, sebuah figura foto yang sudah terlihat agak kusam namun tetap terlihat elegan di dalam bingkai berwarna emas yang melindunginya.


Foto itu diambil 13 tahun yang lalu, Hyonsaeng masih ingat jelas memori tentang waktu itu.  Di dalam foto itu terpampang wajah anggota keluarganya, lengkap tanpa kurang satu apapun. Ya, lengkap dengan Seunghwan bersama mereka semua.

Hyonsaeng meraih figura foto itu dan meniup-niup kacanya untuk menghilangkan debu yang menempel disitu. Ia tersenyum kecil saat melihat ekspresi mereka semua disana. Senyum yang terlihat sangat lepas dan penuh dengan gurat kebahagiaan, seakan-akan mereka semua tak memerlukan apapun lagi selain kekeluargaan yang utuh. Itu saja sudah cukup. Di dalam foto itu, Nara berusia 5 tahun sedangkan Seunghwan berusia 10 tahun.

Mereka sangat menggemaskan, pikir Hyonsaeng sambil tersenyum kecil.

Jika saja hingga saat ini Seunghwan masih hidup dan bersedia menjadi pewaris tunggal dari semua perusahaannya, tentu Hyonsaeng tak perlu merasa kebingungan untuk memikirkan cara supaya perusahaannya bisa memodifikasi semua produknya, karena ia tahu bahwa Seunghwan adalah anak cerdas dengan kemampuan diatas rata-rata. Dengan semua kemampuan otaknya itu, tentu bukan hal yang sulit untuk membuat progress bagi perusahaannya.

Namun semua harapannya itu langsung pupus saat mengingat bahwa anaknya sudah pergi meninggalkannya semenjak 5 tahun yang lalu, di usianya yang ke 18. Tanpa ada siapapun disampingnya pada masa tersulitnya, bahkan ia dan Soohyun selaku orangtuanya sendiri pun tak bisa menemaninya pada saat-saat terakhirnya karena mereka sedang berada di Jepang sedangkan kedua anaknya tengah berada di Seoul untuk menyelesaikan studi mereka berdua.

Dan yang lebih parah, ia bahkan tak tahu bahwa anaknya mengidap penyakit paru-paru yang kronis sehingga membuatnya meregang nyawa dengan cara begitu. Sungguh, orangtua macam apa yang bahkan tak tahu bahwa anaknya mengidap penyakit parah seperti itu?

Seunghwan memang anak yang tegar, hal itulah yang membuat Hyonsaeng berani meninggalkannya di Seoul dengan tanggungan untuk menjaga adik kandungnya, Nara. Tapi ia tak pernah tahu bahwa keputusannya itu benar-benar salah. Terlalu salah, malahan.

Tapi..5 tahun yang lalu, bukankah itu waktu yang cukup lama untuk melupakan satu hal? Namun mengapa sampai sekarang ia masih saja menganggap bahwa kematian putra semata wayangnya itu seakan-akan baru terjadi kemarin dan setiap saat ia mengingat hal itu selalu saja membuatnya sesak setengah mati?

“Seunghwannie..”, Hyonsaeng berujar lirih sambil menatap figura foto di tangannya itu.  “Kau baik-baik saja disana, ‘kan?”.  Ia melanjutkan ucapannya setelah mengambil nafas dalam-dalam, “Mommy dan Daddy baik-baik saja disini, begitupun dengan Nara.  Kau pasti senang mendengar bahwa kami semua baik-baik saja, karena Daddy tahu bahwa kau selalu mengutamakan kepentingan keluarga diatas segalanya”.

“Seunghwannie..”, Hyonsaeng masih berujar dalam lirih, “Apakah Daddy boleh mengingkari janji kita sewaktu dulu?”.

“Daddy, aku akan meneruskan semua perusahaan kita, jadi Daddy tak usah khawatir, Okay? Ah, hampir saja lupa..jangan pernah mengajukan nama Nara sebagai salah satu pengurus perusahaan secara terang-terangan, Daddy”.

“Heh? Memangnya kenapa? Seunghwannie, kau tahu..sudah saatnya kita mengenalkan Nara pada kolega bisnis Daddy. Selama ini, semua kolega bisnis bahkan semua rival Daddy hanya menganggap bahwa Daddy hanya memiliki satu anak yaitu kau. Bahkan mereka tak tahu bahwa Nara adalah keluarga kita.”

“Itu bagus, malahan”

“Eh? Apa maksudmu?”

“Nothing. Anggap saja aku tak pernah mengatakan apapun tentang ini, Daddy. Tapi aku hanya meminta satu hal, Daddy boleh mewariskan sebanyak apapun harta warisan kita pada Nara tapi aku mohon..jangan sampai ada seorangpun yang tahu bahwa Nara adalah salah satu dari keluarga kita. Okay, Daddy?”

“Okay, apapun yang kau inginkan akan Daddy kabulkan. Tapi jawablah pertanyaan Daddy, kenapa kau meminta hal ini dirahasiakan?”

“Ehm, mungkin suatu saat nanti Daddy akan mengetahuinya. Hanya tinggal menunggu waktu saja…”

Dan sudah 5 tahun berlalu semenjak pembicaraan itu, tapi Hyonsaeng belum juga menemukan jawaban dari semua ucapan Seunghwan.

Sebenarnya ia tak ingin mengingkari semua perjanjiannya dengan Seunghwan, apalagi perjanjian itu bisa dibilang sebagai permohonan terakhir darinya. Tapi tak ada lagi yang bisa Hyonsaeng lakukan. Cepat atau lambat, ia akan membutuhkan pewaris untuk melanjutkan semua urusan perusahaannya dan ia masih memiliki Nara untuk meneruskan segalanya.

Lagipula, mau sampai kapan ia akan menyembunyikan keberadaan putri kesayangannya itu dari kalangan publik?

God..”, Hyonsaeng memutuskan untuk berhenti memikirkan hal itu dan kembali focus ke tumpukan kertas yang harus ia tanda tangani, beberapa diantaranya adalah surat perjanjian kerja sama namun beberapa diantaranya hanyalah accept letter untuk berbagai hal.

Setelah menandatangani beberapa kertas, Hyonsaeng memutuskan untuk menunda proses tanda tangannya dan berjalan pelan menuju pintu keluar dari ruang kerjanya. Ia bersender di pinggir tangga dari lantai dua dan menengok ke lantai bawah, beberapa pelayannya sedang bekerja membersihkan segala hal yang ada di rumahnya. Ada yang membersihkan meja, jendela, bahkan vas bunga pun tak luput dari incaran kain pembersih mereka.

Namun tatapannya berhenti saat Miju beranjak menaiki tangga sambil membawa nampan yang penuh dengan piring berisi berbagai makanan. Pelayannya yang satu itu memang sangat paham tentang kebiasaannya yang lebih suka makan di dalam ruang kerjanya dibandingkan dengan makan bersama di meja makan.

Hyonsaeng kembali menegakkan bahunya dan berdehem pelan, untuk mendapatkan kembali aura wibawanya. “Daging Soohyun panggang?”, tanyanya saat Miju sudah berdiri di depannya dengan nampan di kedua tangannya.

Soohyun mengangguk kecil, “Ye, Tuan Besar. Daging (sapi) Soohyun panggang. Sesuai keinginan anda.”

***

Seoul, South Korea

HARI INI?! KITA KEMBALI KE JEPANG HARI INI?!”

Yes!  Hari ini. Today. Bukankah itu bagus, Ra-ya? Kau bisa semakin cepat menuju Jepang dan kembali ke rumahmu”, jawab Soohyun sambil masih memfokuskan pandangannya ke jalanan yang ada di hadapannya. “Ah, kau tak usah khawatir..Joomin sudah mengepak semua pakaian milikmu dan semua barang-barang yang ada di kamarmu sudah Mommy kirimkan lewat paket kilat. Jadi kau tak usah sibuk membereskan semuanya. Kau hanya perlu ikut Mommy ke bandara dan syuuung~ kita sudah ada di Jepang”, lanjut Soohyun dengan nada suara yang amat ceria. Ia membelokkan setir mobilnya kearah kanan sambil tersenyum kecil, “Sounds nice, huh?”

Nara menggumam pelan sambil menggaruk kepalanya dengan ekspresi linglung, “Mommy..”

“Hmm?”, gumam Soohyun tanpa mengalihkan pandangannya karena perhatiannya hanya tertuju pada jalanan yang kini mulai dipadati oleh kendaraan lainnya. “Aish, sejak kapan Seoul menjadi macet seperti ini, sih?”

Mommy..”, Nara kembali mengulangi panggilannya saat menyadari bahwa Soohyun terlalu berkonsentrasi pada jalanan. Soohyun akhirnya menoleh sekilas pada Nara yang juga tengah menatapnya, “Katakan saja, Ra-ya. Mommy mendengarkan semua ucapanmu.”

Nara mengetuk-ngetukkan jarinya ke dashboard mobil karena sedikit merasa gugup dengan hal yang akan dia ucapkan kali ini. “Ehm, Mommy..bolehkah jika kita kembali ke Jepang itu besok?”, tanyanya dengan nada ragu.  Soohyun langsung menoleh kearah anaknya itu dengan pandangan tajam, “Kenapa harus besok, Ra-ya?”

Nara menelan ludahnya dengan gugup saat menyadari tatapan tajam Ibunya itu kembali muncul. Pandangan tajam Soohyun memang sangat menyeramkan, bahkan bagi seorang Nara yang dikenal memiliki ‘evil glare’ yang cukup bisa membuat siapapun yang melihatnya jadi merinding. “Aku..masih harus berpamitan pada semua teman-temanku”, jawab Nara dengan sekuat tenagamelawan suaranya yang seakan tercekat hebat.

“Kau bisa membuat pengumuman di koran yang mengatakan bahwa Kwan Nara telah pindah ke Jepang, Ra-ya. Bahkan jika kau mau, Mommy bisa membayar biaya iklan di TV untuk menyiarkan bahwa kau pindah ke Jepang”, ucap Soohyun dengan nada tenang. Sama sekali tak ada kesan angkuh dalam setiap kata yang ia ucapkan dan Nara bisa memaklumi hal itu. Ibunya memang sudah terbiasa hidup dengan gaya jetset, jadi baginya..untuk sekedar membayar biaya iklan di TV ataupun Koran pun bukanlah hal sulit untuk dilakukan.

Tapi sayangnya Nara tak pernah bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup keluarganya. Ia lebih suka berangkat ke sekolah dengan naik bus umum, padahal ia bisa saja meminta Ayahnya mengirimkan uang dalam jumlah banyak dan  membelikannya sebuah mobil ternama keluaran terbaru. Nara bisa saja mengakui pada semua orang di sekolahnya bahwa ia adalah generasi dari keluarga Kwan, satu-satunya brand otomotif Korea yang berhasil bersaing dengan berbagai produk otomotif keluaran Jepang dan banyak diminati, bahkan hingga ke setengah Eropa.

Tapi nyatanya ia tak bisa mengakui semuanya. Nara tak bisa menyesuaikan diri dengan semua kemewahan yang dimiliki oleh keluarganya. Dan hal itu adalah pengaruh dari kakaknya sendiri, Kwan Seunghwan.

Nara masih bisa mengingat bagaimana sewaktu dulu Seunghwan selalu mengajarkannya untuk tak mengakui bahwa mereka adalah anak dari Kwan Hyonsaeng dan menyarankannya selalu berteman dengan siapapun tanpa harus membedakan status sosial. Sangat berbeda dengan didikan kedua orangtuanya yang sangat menjaga perbedaan kasta dalam setiap pergaulan sehari-hari. Entah darimana Seunghwan bisa mendapatkan sifat malaikat yang dimilikinya. Sifat kakaknya itu sangat berkebalikan dengan sifat Nara yang lebih menjurus kepada ‘iblis’.

Tapi itulah yang membuat keduanya bisa saling melengkapi.

Nara selalu bisa merasa tenang setiap kali ia sedang merasa emosi dengan berbagai masalahnya, karena pada saat itu juga Seunghwan akan merangkul bahunya dan mengajaknya pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kotak es krim cokelat kesukaan mereka berdua kemudian menghabiskannya sekaligus pada hari itu juga. Dan Seunghwan juga bisa selalu tersenyum lebar setiap kali Nara merajuk pada kakaknya itu untuk tak selalu murung mengenai satu hal yang Nara sendiri tak ketahui masalahnya.

Tapi sebenarnya hanya ada satu kenangan yang sepertinya tak akan pernah bisa Nara hapus dari ingatannya biarpun sekuat apapun Nara mencoba untuk melupakannya. Sebuah kenangan yang benar-benar membuatnya bingung. Sangat bingung, malahan.

Kenangan saat kedua orangtuanya pertama kali memutuskan untuk pindah permanen ke Jepang dan membiarkan Nara dan Seunghwan untuk tetap tinggal di Seoul.

“Uhuk..Ra-ya? Apa kau..uhuk, ada di rumah?”

“Ne, Opp..Ya Tuhan! OPPA! KENAPA KAU PENUH LUKA SEPERTI INI?! WAJAHMU KENAPA BABAK BELUR SEPERTI INI?”

“Haha..gwenchanha. Hanya sedikit pertengkaran karena masalah pria, tak perlu takut. Bisa kau ambilkan obat untuk mengobati luka Oppa?”

“Ne, jamkanman. Nah, ini dia..”

“Gomawo”

“Aish, sejak kapan kau bertengkar seperti ini, Oppa? Ck. Pasti karena memperebutkan seorang wanita seksi untuk dijadikan pacar ‘kan? Aigoo~”

“Mwohae? Sejak kapan kau belajar kata-kata seperti itu, hah?”

“Di sekolahku. Kata-kata seperti itu sedang nge’trend di sekolahku, loh”

“Ah, jinjjayo? Ngomong-ngomong, bagaimana dengan sekolahmu? Baik-baik saja?”

“Ne! Semuanya sangat baik padaku, mereka ramah sekali. Aku senang sekolah disitu!”

“Syukurlah jika kau baik-baik saja..”

“Bagaimana dengan Oppa? Oppa juga baik-baik saja ‘kan? Pasti kehidupan menjadi siswa SMA itu sangat menyenangkan ya? Aaah, aku ingin segera masuk SMP kemudian masuk SMA”

“Hahaha, Oppa juga baik-baik saja. Biarpun ada sedikit masalah tapi kau tak usah khawatir. Oh ya, jangan lupa untuk tetap merahasiakan semua hal yang sudah Oppa katakan, arayo?”

“Tentang tak memberitahukan bahwa aku anak dari Kwan Hyonsaeng?”

“Ne. Yaksokhae?”

“Haaa, Oppa tega. Masa’ aku tak boleh mengakui orangtuaku sendiri?”

“Kau boleh mengakuinya, tapi nanti. Saat Oppa mengatakan kau boleh mengungkapkannya, baru kau boleh mengakui semuanya. Okay?”

“Memangnya ada apa, sih, Oppa? Kenapa harus dirahasiakan seperti ini?”

“Bukan apa-apa. Oppa hanya tak ingin kau merasakan apa yang Oppa rasakan sekarang. Kau harus mendapatkan yang lebih baik dari Oppa. Dan cara terbaik untuk mendapatkan hal yang lebih baik adalah dengan merahasiakan semuanya. Arayo?”

“Ahh, aku tak mengerti apa yang Oppa katakan. Bahasa Oppa ribet sekali, sih? Aku pusing~”

“Ra-ya!”, suara teriakan yang cukup kencang itu cukup bisa membuat semua lamunan Nara menjadi buyar dan membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa saat, “Eh? Hah?”, tanyanya dengan linglung.

Soohyun mengacak rambut anaknya dengan gemas, “Aigoo, kau tak mendengarkan semua ucapan Mommy, hah? Mommy bilang, kita bisa kembali ke Jepang besok tapi dengan satu syarat..”

Nara hampir melonjak kegirangan saat mendengar ucapan Ibunya itu, “Mommy serius? Apa syaratnya?”, tanyanya dengan tak sabar.

“Kita pulang dengan menaiki Golden Rush”, jawab Soohyun dengan santai dan membuat Nara langsung melengos. “Mommy, demi Tuhan..jarak antara Seoul dan Jepang itu tak terlalu jauh. Kenapa kita mesti naik Golden Rush? Kita ‘kan bisa memesan tiket pesawat saja. Lagipula biaya tiket pesawat itu lebih murah dibandingkan dengan harus membeli bahan bakar untuk Golden Rush, ‘kan?”, tanya Nara dengan nada gemas dengan usulan Ibunya itu.

Golden Rush adalah nama pesawat jet pribadi yang dimiliki oleh keluarga Kwan. Dengan kekayaan yang melimpah, maka bukan tak mungkin jika mereka memiliki sebuah kendaraan yang tak lazim dimiliki itu. (.____.)

Soohyun menggumam pelan, “Yahh, Mommy kira kau ingin naik Golden Rush. Bukankah sudah lama semenjak terakhir kali kau mengendarainya? Sekitar..8 tahun yang lalu ‘kan?”, tanyanya menebak-nebak. Nara mendengus dengan cukup kencang, kini ia benar-benar merasa bahwa semua perlakuan Ibunya ini sudah sangat berlebihan.

Mommy, kita pesan tiket pesawat saja, ya? Please..”, kini Nara langsung merapatkan tangannya dan memasang wajah memohon dengan penuh aegyo, berusaha untuk membujuk Ibunya. Soohyun mendengus kecil hingga akhirnya mengangguk kecil, “Baiklah..baiklah. Terserah padamu, Ra-ya”.

Thank you, Mommy~!”, Nara langsung memeluk Soohyun dari samping dengan erat. “Kwan Soohyun neomu Jjang! Jjang! Daebak!”.

Ya! Ra-ya! Mommy tak bisa bernafas! Lepaskan, Ra-ya”, rintih Soohyun dengan nada sesak. Nara hanya tersenyum lebar sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Soohyun. Dia masih mengacungkan jempolnya kearah Ibunya itu, “Mommy is the best!”.

“Hahh, dasar kau. Ck~”, Soohyun membetulkan posisi duduknya yang tadi sempat bergeser karena Nara memeluknya dengan erat.

Nara masih tersenyum tanpa henti, bahkan ia merasa heran sendiri bagaimana ia bisa tersenyum seperti ini padahal sebelumnya ia menangis habis-habisan karena seorang pria bernama…ah, ya…sepertinya kita tak perlu menyebutkan namanya. Karena rasanya jika Nara mendengar nama itu muncul dan masuk ke dalam indra pendengarannya, mungkin mood’nya akan kembali down dan yah..dia akan kembali menangis lagi.

Hal itu mungkin saja terjadi ‘kan? Jadi untuk kali ini, ia benar-benar menghindari semua hal yang berhubungan dengan kau-tahu-siapa.

Nara mengalihkan pandangannya kearah luar jendela dan memperhatikan pemandangan di sekelilingnya. Namun tiba-tiba pandangannya berbinar saat melihat papan penunjuk jalan yang ada disitu. “Ah, Mommy..bisa kau antarkan aku ke daerah JungMun Regency? Aku ingin pergi ke rumah temanku dulu. JungMun Regency tak jauh dari sini, ‘kok”.

Soohyun melirik sekilas kearah anaknya itu, “Mau mulai berpamitan dari sekarang?”.

“Hmm, sepertinya begitu..”, jawabnya lirih dan mengeluarkan handycam dari dalam tasnya. Dia meniup-niup layar handycam itu yang sedikit dipenuhi debu dan menyalakannya sejenak. Nara hanya menyalakannya dan kemudian mematikannya lagi, tanpa merekam apapun. Entahlah, sepertinya ia hanya ingin mengecek handycam itu saja.

“Handycam baru?”, Tanya Soohyun sambil melirik kearah handycam yang tengah dipegang oleh Nara. Nara ikut melirik ke handycam itu dan tersenyum kecil, “Bukan. Ini punya temanku dan dia menyuruhku merekam hal-hal yang pernah membuatku bahagia”, jawabnya.

Soohyun masih melirik penasaran, “Pernah membuatmu bahagia?”

Yes..”, Nara mengangguk pelan dan tersenyum kearah Ibunya itu. “Pernah membuatku bahagia. Itu berarti sekarang aku tak bahagia dengan semua hal itu.”

Atau mungkin malah bisa dibilang, aku benci dengan semua memori itu…”

***
JungMun Regency

“Perlu Mommy jemput saat kau pulang?”, Tanya Soohyun sebelum Nara turun dari mobil. Nara menyampirkan tas slempangnya dan menggeleng ringan. “Tak usah menjemputku, Mommy. Aku bisa naik bus atau taksi nanti. Lagipula aku ingin jalan-jalan sebentar untuk..”, ia mengacungkan handycam yang sedari tadi ia genggam, “..merekam berbagai hal yang ingin kurekam”, lanjutnya sambil tersenyum kecil.

Soohyun menggumam paham dan mengelus rambut anaknya itu dengan lembut, “Hati-hati di jalan. Understand?”.

Nara mengangguk sambil mengacungkan jempolnya, “Ayey, captain!”

Akhirnya mobil Ford milik Soohyun melaju perlahan meninggalkan Nara yang tengah berdiri di trotoar sebari melambai singkat kearah mobil Ibunya itu. Sepeninggal Ibunya, Nara menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Ia melirik kearah handycam di tangannya itu dan tersenyum kecut, “Baiklah, ayo kita mulai semuanya”, bisiknya pelan sebari membuka layar handycam itu dan mengarahkan lensa kamera itu ke arahnya sendiri.

Nara menepuk-nepuk pipinya sejenak dan mencoba tersenyum lebar kearah kamera sambil melambaikan tangannya dengan ceria, “Annyeonghase…aishh, andwae~ andwae~”, ia langsung menggeleng cepat saat melihat bayangannya sendiri di layar handycam itu. Benar-benar terlihat seperti seseorang yang memaksakan diri untuk tersenyum. “Aigoo~, ottokhaeji? Aku tak pernah melakukan selca seperti ini. Aish, jinjja~”

Akhirnya Nara memutuskan untuk menenangkan dirinya sejenak dengan menutup matanya rapat-rapat dan menghela nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. “Okay. Kwan Nara, rileks saja. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Okay, tarik nafas dan hembuskan perla..”

DDDINNN, DDDIIINN

Nara langsung membuka mata lebar-lebar saat bunyi klakson mobil itu terdengar sangat dekat dari tempatnya berada sekarang. Ternyata benar, ada sebuah mobil BMW mewah yang berhenti disampingnya dan sesosok wajah langsung muncul dari bangku penumpang. “Nara-ya? Kenapa kau ada disini?”, tanya gadis itu dengan nada heran.

“Soohyun-ah!”, Nara langsung tersenyum lebar saat melihat sosok sahabatnya itulah yang ada di dalam mobil mewah itu.

Choi Soohyun, sahabat Nara, langsung membuka jendela secara penuh supaya ia dan Nara bisa berbincang dengan leluasa. “Kenapa kau ada disini?”, Soohyun mengulangi pertanyaannya barusan dengan rasa penasaran. “Aku ingin meminta bantuanmu”, jawab Nara singkat.

Soohyun sedikit mengangkat alisnya, “Bantuan? Hah?”, tanyanya dengan sedikit ragu. Nara mengangguk lagi, “Lagipula aku ingin mengucapkan salam perpisahan. Besok aku akan pindah ke Jepang.”

MWOYA?!”, teriakan nyaring dari bibir mungil Soohyun itu seakan membuat gendang telinga Nara meledak dalam sekejap sehingga Nara langsung menjauhkan dirinya dari jendela mobil sebari mengusap-usap telinganya. “BESOK?! PINDAH?! JEPANGGG?!”, kini teriakan nyaring Soohyun lebih dapat diartikan sebagai teriakan histeris karena wajahnya yang terlihat shock dan mulutnya yang masih menganga lebar. “KWAN NARA! NEO MICHEOSSO?!”

“Aish~”, Nara mendecak kesal, masih sambil mengusap telinganya yang kini berdenging kencang karena efek teriakan Soohyun tadi. “Aku tak akan menjawab semua pertanyaanmu jika kau berteriak lagi seperti barusan”, ucapan Nara itu segera membuat Soohyun menggerakkan tangannya di depan bibirnya seakan membuat isyarat ‘mengunci mulut’.

Nara mendekat kembali ke jendela mobil dan menatap Soohyun dengan santai. “Yah, begitulah. Aku akan pindah ke Jepang dan berkumpul kembali bersama Ayah dan Ibuku. Hanya itu hal yang bisa kujelaskan”, jawabnya dengan ringan.

“Bagaimana dengan Seoul University?”, pertanyaan Soohyun itu langsung membuat Nara sedikit terhenyak namun sebisa mungkin ia kembali menguasai dirinya dan tersenyum kecil kearah sahabatnya itu. “Ibuku bilang, beliau sudah menyuruh beberapa orang untuk mengurus pengunduran diriku dari sana. Dan Ibuku juga telah mendaftarkanku ke sebuah universitas yang ada di Jepang nanti. Semuanya sudah diurus, Soohyun-ah. Aku hanya tinggal berangkat dan memulai hidup baru disana.”

Jinjjayo?! Kau serius akan pindah ke Jepang?! Kau tak bercanda?! Ini bukan April Mop ‘kan?! Aishh, ini bahkan bukan ulang tahunku, Nara-ya. Berhenti bergurau seperti ini, sama sekali tidak lucu!”, Soohyun langsung mencerca omongan Nara sebari mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil sehingga kini jarak antara wajahnya dengan wajah Nara tak terpaut oleh jarak yang terlalu jauh.

Nara langsung memundurkan langkahnya karena agak takut melihat wajah Soohyun yang tepat berada di depan wajahnya, “Ya! Ya! Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu, Soohyun-ah?”.

Soohyun langsung menggeleng tak percaya, “Jinjja! Jinjja! Kwan Nara, neo jinjja..aishh!!”.

Nara hanya tersenyum kecut sambil menggaruk pipinya dengan kikuk, “Mianhaeyo. Ada banyak hal yang membuatku harus melakukan hal ini”,  ucap Nara meminta pengertian dari sahabatnya itu.

Soohyun mendecak pelan dan membuka pintu mobilnya dengan sentakan kuat, “Masuk! Kita bicarakan saat kita sudah sampai di rumahku!”, perintahnya dan Nara langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun karena memang tujuan awalnya datang ke JungMun Regency ini adalah untuk datang ke rumah Soohyun.

Baru saja Nara menghempaskan tubuhnya ke jok empuk mobil itu, Soohyun sudah kembali menatapnya dengan pandangan mengintrogasi. “Kkotjimal hajima! Jangan bohong, Nara-ya! Kau bercanda ‘kan?”, tanyanya serius. Nara mengernyitkan alisnya dan tersenyum kecil, “Memangnya apa keuntungan untukku jika aku berbohong padamu?”.

“Berani sumpah?!”, kini Soohyun langsung menyodorkan jari kelingkingnya dengan tatapan sungguh-sungguh dan membuat Nara terkekeh, “Ya! Choi Soohyun, kuulangi sekali lagi..aku serius akan pindah ke Jepang. Aku sama sekali tak bohong”, ucapnya sambil mengaitkan jarinya di jari kelingking sahabatnya itu.

Soohyun mendesah lemas sambil menyenderkan tubuhnya ke jok mobilnya, “Ya Tuhan. Aku sampai tak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang. Kwan Nara, neo jinjja..”.

Nara menyenggol lengan sahabatnya itu sambil tersenyum jahil, “Ayolah, Soohyun-ah. Aku hanya pindah ke Jepang. Jepang – Seoul tak begitu jauh  ‘kan? Kau bisa mengunjungiku kapan saja, Nona Choi”, ucap Nara sambil menyindir predikat ‘Nona muda’ yang dimiliki oleh Soohyun. “Aku juga bisa menyempatkan waktu untuk main ke sini lagi”, lanjutnya dan sedikit membuat ekspresi wajah Soohyun tak setegang tadi.

Soohyun menghela nafas beberapa saat dan menoleh kearah sahabatnya itu, “Jika kau bukan sahabatku, aku akan menyuruh semua bodyguardku untuk membunuhmu karena sudah mengecewakanku berkali-kali, Kwan Nara”, ucapannya itu sedikit membuat Nara terhenyak, “Mwoya? Memangnya aku pernah mengecewakanmu?”.

Soohyun memalingkan wajahnya ke samping dan menatap kearah luar jendela, menolak menatap wajah Nara. “Kwan Nara, Anak tunggal dari pemilik Kwan’s Coorporation..”, ucapan lirih Soohyun itu langsung membuat Nara meneguk ludahnya dengan berat dan matanya langsung menjadi membulat tanpa alasan yang jelas. “..dan kekasih resmi dari Cho Kyuhyun semenjak 3 tahun yang lalu”, kalimat terakhir yang keluar dari bibir gadis itu langsung membuat Nara tersedak oleh air liurnya sendiri.

Soohyun hanya bisa tersenyum sinis saat melihat kelakuan aneh sahabatnya itu, “Ucapanku benar semua ‘kan?”, tanyanya dengan nada meremehkan. “Aish, hebat sekali kau bisa menyembunyikan semuanya selama 3 tahun, Nara-ya”.

“Bagaimana kau..bisa tahu?”, Tanya Nara tak percaya. Soohyun menunjuk dirinya sendiri sambil tertawa kecil, “Apa yang tak bisa diketahui oleh seorang ‘nona’ Choi Soohyun, hah?”, tanyanya dengan nada angkuh dan membuat Nara mendengus kecil saat melihat kenarsisan yang ada di diri sahabatnya itu kembali terkuak. Ya, Nara paham bahwa sahabatnya ini pasti mendapatkan berbagai informasi dari berbagai sumber rahasia. Hal itu bukan hal yang sulit bagi seorang nona muda seperti dirinya ‘kan?

“Makanya aku tak percaya jika kau akan pergi ke Jepang. Mungkin saja kau bohong lagi ‘kan?”, kini Soohyun berbalik menatap Nara yang sedang memainkan handycam di tangannya itu tanpa minat. “Iya ‘kan, Kwan Nara?”.

Aniya. Aku serius untuk kali ini. Aku ingin meninggalkan Seoul dan memulai kehidupan baruku di Jepang”, jawab Nara dengan nada datar dan membuat Soohyun menatapnya penasaran, “Kehidupan baru?”.

Nara mengangguk kecil dan tersenyum hambar, “Aku dan dia baru saja putus sekitar..”, ia mengecek jam tangannya yang berwarna putih, “..45 menit yang lalu”.

MWOYA?!”, Soohyun kembali berteriak tepat di telinga Nara dan langsung membuat Nara menutup telinganya rapat-rapat sambil menatap Soohyun dengan pandangan membunuh miliknya. “KWAN NARA, BERAPA KALI KAU MAU MEMBUATKU KAGET DENGAN SEMUA HAL TENTANGMU, HAH?”.

Ya! Kau bisa membuatku tuli!”, keluh Nara sambil mengorek-ngorek telinganya dengan tidak sabar. Soohyun kembali bertanya dengan nada tak sabar, “Lalu bagaimana dengan We Got Married?”. Nara menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaannya, “Itu dia. Makanya aku minta bantuanmu..”

Kini Nara mengacungkan handycam di tangannya dan tersenyum kecut kearah Soohyun, “..ajarkan aku cara selca. Hehehe~”

“Hah? Selca?”

***
Taipei, Taiwan

“Kyuhyun-ah, kau tak mau makan?”

Kyuhyun menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Ryeowook. Kini semua member Super Junior-M sedang berkumpul di meja makan dan tengah menikmati makan malam pemberian dari para fans, kecuali Kyuhyun yang lebih memilih untuk duduk di sofa yang menghadap langsung ke TV yang ada di dorm mereka itu.

Semua member Super Junior M saling berpandangan dengan tatapan khawatir. Sungguh sebuah kejadian yang langka untuk melihat maknae mereka berperilaku seperti orang linglung seperti sekarang. “Menyeramkan..”, desis Henry sambil mengemut sumpitnya dan memperhatikan Kyuhyun yang sedang menggonta-ganti channel TV dengan tatapan datar dan tak berminat. “Untuk pertama kalinya, aku lebih suka Kyuhyun hyung yang beringas dibandingkan pria yang sedang duduk diatas sofa itu. God, look at him! Aku curiga, jangan-jangan dia mayat hidup yang menyamar menjadi Kyuhyun hyung”.

Zhoumi segera menjitak kepala Henry dengan gemas, “Kecilkan suaramu, Henry! Kau mau diterkam olehnya, hah? Jangan pernah mencoba membangunkan macan yang sedang tertidur!” , desisnya dengan bahasa Mandarin yang amat fasih sehingga memungkinkan Kyuhyun (yang belum begitu fasih bahasa Mandarin) tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

Siwon melirik kearah Kyuhyun yang masih menatap layar TV dengan pandangan nanar. Memang benar apa yang dikatakan oleh Henry tadi, Kyuhyun memang terlihat seperti zombie atau mayat hidup. Pandangan matanya yang kosong serta wajahnya yang pucat sungguh sangat mendukung penampilannya untuk terlihat seperti kedua hal itu.

Donghae menyenggol lengan Eunhyuk yang sedang menyumpit kimchi ke dalam mangkuknya, “Hyuk-ah, kau tahu cara apa yang bisa membuatnya tidak terus-terusan bersikap seperti itu? Kau ‘kan tinggal di lantai 11, setidaknya kau tahu cara untuk membuatnya kembali seperti semula!”, tanyanya dengan suara mendesis.

Eunhyuk melihat Kyuhyun sekilas, kemudian menggeleng cepat. “Aku tak pernah mencampuri urusannya dengan Nara. Semua penghuni lantai 11 tak akan pernah berani mencampuri urusan mereka berdua”. Jawaban Eunhyuk itu langsung dibalas dengan anggukan dari Ryeowook yang juga tinggal bersama dengan mereka di lantai 11.

“Kyuhyun-ah..”, ditengah keheningan yang ada di meja makan, tiba-tiba saja Sungmin memanggil nama Kyuhyun sehingga membuat dongsaengnya itu melirik dengan gerakan lambat dan juga terlihat lunglai tanpa tenaga. Sumpah, siapapun yang melihat pemandangan itu pasti akan berpikiran bahwa pria ini telah dirasuki oleh zombie atau iblis lainnya. “Itu..handycam baru?”, Tanya Sungmin dengan nada (pura-pura) tak tahu sambil menunjuk kearah handycam berwarna perak yang berada di pangkuan Kyuhyun.

Tepat saat Sungmin menanyakan hal itu, semua mata member Super Junior M langsung melebar tak percaya. “Hyung! Kenapa menanyakan hal itu?”, desis Siwon sambil menendang kaki Sungmin dari bawah meja makan dengan hentakan yang cukup keras.

Okay, sebenarnya Sungmin tahu jika mengungkit pembicaraan mengenai handycam itu sama saja dengan membongkar kebohongan mereka semua untuk berpura-pura tak tahu mengenai misi yang diberikan oleh MBC, tapi masalahnya sekarang adalah mereka sama sekali tak memiliki bahan pembicaraan untuk diobrolkan. Lagipula matanya hanya bisa menangkap handycam di pangkuan Kyuhyun, dan entah kenapa mulutnya malah menanyakan hal itu. Cish, sungguh hal yang rumit untuk dijelaskan.

Kyuhyun menatap handycam di depannya dan tersenyum kecut, “Jangan pura-pura, hyung..”, ucapnya dengan suara lirih dan agak serak. “..tulisan di kertas yang ada di mejaku itu tulisan Eunhyuk hyung, keuraechi?”, tanyanya sambil menatap Eunhyuk yang langsung tersedak saat mendengar ucapan maknaenya itu. Kyuhyun hanya terkekeh pelan saat mengetahui bahwa tebakannya itu benar, “Lain kali kalian bisa langsung bicara padaku, tak perlu menulis surat tak jelas seperti itu.”

Kini semua member mulai terlihat agak tenang karena kini mereka tak perlu berpura-pura lagi mengenai asal usul handycam itu dan kini mereka melihat Kyuhyun tengah tertawa kecil saat menonton acara komedi di TV. Setidaknya kini Kyuhyun tak terlihat sebegitu menyeramkannya dibanding tadi.

Siwon terlihat menghela nafas lega dan mengelus-elus dadanya. “Syukurlah, jika kalian baik-baik saja..”, ucap Siwon dengan nada syukur dan dibalas dengan anggukan mengiyakan dari member lain.

Namun tawa Kyuhyun langsung terhenti saat mendengar ucapan Siwon itu. Zhoumi yang paling pertama melihat perubahan ekspresi di wajah Kyuhyun itu langsung menyenggol kaki Siwon yang duduk di sebelahnya dan berbisik pelan, “Si Yuan, dia murung lagi.”

Detik berikutnya, semua member langsung menoleh bersamaan menatap Kyuhyun yang kini kembali menatap TV dengan pandangan datar. Padahal suara gelak tawa sudah membahana dari speaker TV dan tayangan komedi itupun sudah bisa dibilang cukup lucu untuk membuat seseorang tertawa saat menontonnya.

Donghae mendecak pelan, “Kurasa kita tak usah ikut campur masalah mereka. Biasanya Kyuhyun dan Nara bisa segera berbaikan dalam waktu singkat ‘kan?”

Ryeowook menyela ucapan Donghae dengan berbisik pelan, “Tapi, hyung..selama ini biasanya pertengkaran mereka hanya membawa emosi sesaat. Lempar piring, saling jambak, teriak satu sama lain, mencela keburukan masing-masing, lalu akhirnya berbaikan seakan tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Tapi sekarang..”, Ryeowook menggumam sejenak, seakan berusaha mencari kalimat yang tepat, “..sepertinya sekarang masalahnya lebih rumit dari semua pertengkaran mereka sebelumnya.”

Henry terlihat tertarik dengan semua perkataan Ryeowook tadi dan malah bertanya dengan antusias, “Lempar piring? Jambak? Wuahh, that’s coo..”

“Ada yang mau membantuku?”, ucapan bernada berat yang keluar dari bibir Kyuhyun itu kembali membuat suasana di dalam dorm itu kembali diselimuti oleh aura mencekam. Semua member saling berpandangan satu sama lain dan akhirnya menoleh berbarengan kearah Kyuhyun. “Mworago?”, Tanya Eunhyuk dengan suara agak bergetar.

Kyuhyun bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menuju meja makan. Dia duduk di bangku kosong yang ada di sebelah Henry dan menaruh handycamnya di meja makan, “Mulai dari sekarang, berhenti menyebut namanya”, ucapnya sambil menatap satu persatu member yang ada di sekelilingnya.

Siwon sudah merasakan ada firasat yang tak enak dari perkataan Kyuhyun barusan, “Kyuhyun-ah, jangan bilang jika kau dan Nara…”

Hyung..”, Kyuhyun menatap Siwon dengan sungguh-sungguh sebari mengepalkan tangannya sekuat tenaganya, berusaha mengendalikan emosinya yang seakan mau meledak setiap kali mendengar nama gadis itu masuk ke gendang telinganya. “..tak ada kata ‘dan’ antara aku dengannya sekarang. Jadi berhenti mengungkit namanya di dorm ini. Itu saja yang kuminta dari kalian semua.”

“Kau yakin?”, tanya Donghae tak percaya dengan keputusan yang diambil oleh Kyuhyun. Semua member pun sepertinya memiliki pertanyaan yang sama seperti Donghae, karena mereka semua tahu bahwa pasangan ini tak akan segegabah itu untuk mengucapkan kata ‘putus’. “Hubungan 3 tahun kalian, selesai semudah..itu?”.

Kyuhyun terkekeh mendengar pertanyaan Donghae itu. “Mudah? Keurae, ternyata sebegini mudahnya mengakhiri sebuah hubungan”, ucapnya dengan pandangan menerawang. Tangannya memainkan sendok sup dan mengangkatnya tanpa minat sehingga menyebabkan percikan sup itu sedikit tumpah keluar dari mangkuknya. “1 kata dan 5 huruf ini ternyata sangat mudah untuk diucapkan.”

“Kyuhyun-ah..”, Siwon menepuk bahu Kyuhyun sehingga membuat maknaenya itu menoleh kearahnya dengan pandangan nanar, “Bukankah kau selalu bilang bahwa tak akan ada yang berubah tapi pasti akan..”

“Tidak untuk kali ini”, Kyuhyun menyela ucapan Siwon dan menaruh kedua tangannya di keningnya, seakan menopang semua sistem kerja otaknya yang sudah diluar kendali saat Siwon mengucapkan kalimat ‘tabu‘ itu. “Untuk kali ini, perbedaan itu akan terasa seiring dengan perubahan yang kujalani. Semua akan terasa berbeda dan berubah“.

Suasana langsung menjadi hening tepat saat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya itu. Semua member tak ada yang berani untuk membuka mulut, bukan karena takut, tapi karena mereka tak mau membuat maknaenya itu menjadi lebih tertekan dibanding sekarang. Mereka semua tahu sebagaimana besarnya pengorbanan yang diambil Kyuhyun untuk mengambil keputusan ini dan jika mereka terus-terusan memojokkan keputusannya, mungkin saja Kyuhyun bisa menjadi lebih ‘gila’ dibandingkan saat ini.

Mungkin tak ada jalan lain bagi mereka semua selain mendukungnya, kan?

“Jadi bisa membantuku?”, suara Kyuhyun terdengar lagi setelah keheningan menyelimuti dorm mereka. Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap para hyungnya dan juga Henry, “Bantu aku melupakannya. Itu saja. Kalian bisa membantuku?”, tanyanya dengan pandangan yang memohon.

Zhoumi dan Henry yang pertama kali mengangguk cepat. “Kami siap mendukungmu”, ucap Zhoumi dalam Bahasa Korea sebari menepuk bahu Kyuhyun untuk memberikannya dukungan. Disusul dengan Ryeowook dan Eunhyuk yang tersenyum kecil dan mengangguk pelan. “Ayo semangat, Kyuhyun-ah! Kau tampan! Kau pintar! Suaramu daebak! Pasti kau bisa mendapatkan gadis lain dengan mudah!”, Eunhyuk meninju pinggang Kyuhyun sambil menunjukkan gummy smilenya.

Di sisi lain, Donghae dan Siwon masih saling bertatapan dengan pandangan yang sulit untuk dijelaskan. Mereka masih tak tahu harus melakukan apa kali ini, apakah mereka harus mendukung Kyuhyun untuk melupakan Nara? Atau malah memintanya untuk memperbaiki semuanya?

Entahlah, secara tidak langsung mereka berdua sudah terpengaruh oleh persahabatan kekasih mereka masing-masing, Ririn – Haejin – Nara. Mereka berdua tak rela jika Kyuhyun – Nara harus mengakhiri hubungannya seperti ini tapi di sisi lain sebagai member di dalam sebuah group yang sama, Donghae dan Siwon ingin mendukung Kyuhyun untuk melupakan gadis itu supaya pikirannya bisa kembali fokus kepada kepentingan group. Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Sementara di pojok meja makan, Sungmin menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengambil teko dan menuangkan air ke dalam gelas miliknya kemudian meneguk isinya dalam sekali teguk. Sungmin melirik sekilas kearah Kyuhyun yang kini tengah tertawa kecil saat mendengar celetukan dari Eunhyuk yang mengatakan bahwa ia akan segera menemukan pengganti Nara dalam waktu dekat dengan modal semua bakat dan ketampanannya.

“Tampan? Jinjjayo, Oppa? Memang banyak sekali temanku yang bilang bahwa si bodoh itu saaaangat tampan, tapi..bagiku dia terlihat biasa saja. Malah bagiku, kau terlihat lebih tampan darinya, Sungmin Oppa.”

“Mworago? Kau mengatakan aku lebih tampan dari kekasihmu sendiri, Nara-ya? Aigoo~ kalau begitu, putuskan dia dan jadi pacarku saja”

“Hahaha~ Aniya, Oppa. Bukan itu maksudku. Mungkin aku menyukainya bukan karena ketampanan, suaranya, kecerdasannya atau bahkan kekayaannya. Tapi karena..”

“Karena apa?”

“Karena..”

“Hmm? Cepat jawab, Nara-ya. Jangan membuatku penasaran.”

“Ehm, karena..entahlah. Aku menyukainya karena satu hal yang tak bisa kujelaskan, tapi cukup jelas untuk dimengerti. Haha, aneh ya, Oppa?”

“Cish~”, Sungmin mendengus kecil dan menaruh kembali gelasnya ke atas meja makan. “Butuh waktu seribu tahun bagimu untuk menemukan gadis sepertinya lagi, Kyuhyun-ah”.

***
Seoul, South Korea

“Kwan Nara tak bisa melakukan selca? Cish, hal apa lagi yang bisa lebih memalukan dibandingkan ini, hah?”, tanya Soohyun sambil memainkan handycam pemberian MBC itu di tangannya. Ia memutar-mutar layar handycam itu dan mencoba melihat penjuru rumahnya dari lensa kamera itu, “Ini hal yang sangat mudah, Nara-ya“.

Nara menyesap isi kaleng cola yang dihidangkan oleh Soohyun tadi dengan ekspresi santai. “Dan aku bukan tipikal orang narsis yang biasa mendokumentasikan satu hal ke dalam kamera, Soohyun-ssi“, ucapnya tenang.

Kini Soohyun dan Nara sudah berada di rumah keluarga Choi atau bisa disebut sebagai rumah Soohyun. Sepanjang perjalanan menuju kesitu, Nara sudah menjelaskan pada Soohyun mengenai segalanya. Tentang keluarganya, tentang semua kepura-puraannya dan juga tentang kau-tahu-siapa.

Soohyun mendengarkan semua penjelasan sahabatnya itu tanpa mengatakan apapun dan pada akhirnya ia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, “Gwenchanha. Tak masalah”.  Hanya 2 kalimat itu yang Soohyun ucapkan dan membuat Nara menganga tak percaya.

Sahabatnya memaafkannya semudah itu?

Aigoo, ternyata cerita rumit yang sering digambarkan dalam sebuah persahabatan memang tak pernah terjadi dalam kehidupan nyata. (-___-). Dan Nara bersyukur dengan hal itu. Sungguh sebuah anugrah tak terkira untuk mendapatkan seorang sahabat seperti Choi Soohyun ini.

“Jika kau tak mau melakukannya, biar aku yang melakukannya”, ucap Soohyun dengan nada riang dan melakukan selcanya sendiri. “Annyeong. Choi Soohyun imnida. Aku teman sekelas dan teman sebangku Nara. Annyeong~“. Setelah melakukan perkenalan singkat di handycam itu, Soohyun beralih merekam sosok Nara yang sedang duduk di atas ayunan kayu yang ada di balkon kamarnya. “Nara-ya, say hello..”, ucapnya sambil meng-zoom jarak kameranya sehingga membuat wajah Nara terlihat jelas di layar handycam itu.

Nara menoleh sekilas dan melihat Soohyun tengah merekamnya. Ia mendengus kecil dan kembali menenggak kaleng cola di tangannya, memilih untuk tak menghiraukan Soohyun yang masih merekamnya.  Soohyun menggembungkan pipinya dengan ekspresi sebal dan beralih melakukan selca dirinya sendiri, “Jangan pedulikan dia. Kadang dia sering merasa bad mood secara tiba-tiba”, jelasnya pada kamera itu.

“Mungkin..dia sedang rindu dengan seseorang yang sedang ada di China. Kalian tahu? Itu loh, pria yang menyanyikan reff kedua di lagu Perfection. Ne, pria yang menyanyikan bagian Tai Wan Me..AWWWW!!”, Soohyun langsung meringis kesakitan saat kaleng cola yang sudah kosong itu telah melayang mulus ke kepalanya. Ia langsung menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah Nara yang sedang memasang wajah (sok) polosnya. “Kwan Nara! Neo jinjja..”

Mianhae. Tadi aku ingin melempar kalengnya ke tempat sampah yang ada di sampingmu. Tak kusangka malah mengenaimu. Sorry~”, ucapnya dengan nada tanpa dosa dan beranjak bangkit dari ayunan kayu itu kemudian melangkah ke dalam kamar Soohyun dengan langkah ringan.

Nara tahu jika Soohyun hanya berniat untuk menggodanya saja. Ia sudah menjelaskan pada sahabatnya itu mengenai status ‘rahasia’ yang sudah Nara jalani selama 3 tahun bersama kau-tahu-siapa dan Soohyun pun mengatakan bahwa ia bisa membantu Nara menyembunyikan semua hal itu. Lagipula semua penonton WGM tak akan menganggap perkataan Soohyun tadi sebagai hal yang serius kan? Toh Soohyun pun mengucapkan dengan nada bercanda (-___-)

Soohyun mendecak sebal dan kembali merekam Nara yang sedang melangkah ke dalam kamarnya. Nara mencoba tak peduli dengan aksi Soohyun yang terus saja mengikutinya, malah ia merasa sedikit beruntung karena ia tak perlu melakukan selca sendirian karena Soohyun yang kini tengah merekamnya.

Kini mereka beranjak ke arah tumpukan CD musik yang tersusun rapi di pojok kamar Soohyun, Nara memperhatikan sejenak dan akhirnya mendesah kecil saat menyadari bahwa semua CD itu adalah koleksi lengkap Super Junior dari semenjak debut.

God..”, Nara mengeluh pelan saat melihat cover Bonamana versi A yang terletak di susunan paling atas dari semua CD itu. Dan dari semua member yang menjadi cover utama (Eunhyuk – Sungmin – Yesung – Shindong – Kyuhyun), wajah si ‘kau-tahu-siapa‘ lah yang paling pertama terlihat di mata Nara.

“Kau memang ELF sejati”, ucapnya pelan sambil membalikkan cover depan dari Bonamana versi A itu sehingga hanya cover belakangnya itu yang terlihat, yaitu gambar Leeteuk, Donghae, Ryeowook, Siwon, dan Heechul.

Soohyun langsung tersenyum bangga, “Keuraeyo!”, ucapnya singkat sambil mengacungkan jempolnya. “SJ daebak!”, lanjutnya dan membuat Nara terkekeh pelan melihat jiwa fangirl sahabatnya yang kembali mencuat setiap kali ia mendengar nama Super Junior.

“Aku punya es krim coklat. Kau mau?”, tanya Soohyun pada Nara yang kini tengah duduk di atas kasur miliknya. Nara langsung mengangguk cepat dan matanya berbinar cerah, “MAU! MAU! MAU!”, serunya semangat. Entahlah, ia merasa sangat senang saat mendengar kata ‘coklat‘ setelah melewati hari yang melelahkan bagi jiwanya ini.

Akhirnya Soohyun menyerahkan handycam itu kembali pada Nara dan beranjak menuju lantai bawah untuk mengambil es krim coklat yang ada di kulkas. Sementara itu Nara yang kini sedang sendirian di kamar Soohyun pun tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan kamera di tangannya itu.

Untuk sekedar membunuh waktu, ia mengelilingkan pandangannya ke sekeliling kamar dan hanya mendapati beberapa poster Harry Potter, beberapa boneka barbie, tumpukan CD Super Junior dan juga..

“Aigoo, Soohyun-ah, cepat kembali”, desis Nara dengan tak sabar saat melihat kalender produksi SecretKyu yang ada di meja belajar Soohyun. Tak hanya kalender, bahkan ada beberapa poster dan clearfile official produksi SPAO yang tergeletak begitu saja di rak buku. Aish, lama-lama ia bisa gila jika terus-terusan berada disini!

Waeyo?“, tanya Soohyun heran saat melihat Nara yang tengah menunduk dalam, seakan menghindari semua arah pandangan matanya. Nara langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara Soohyun itu, “Sembunyikan semua barang itu dari jarak penglihatanku”, ucapnya sambil menunjuk ke arah meja belajar dan juga rak buku milik Soohyun.

Soohyun langsung paham dengan maksud ucapan Nara dan ia segera menaruh semua barang yang berhubungan dengan Kyuhyun itu di dalam laci mejanya kemudian menguncinya rapat-rapat. “Okay, selesai”, ucapnya dengan nada ringan. Ia segera duduk di samping Nara dan menyodorkan satu kotak besar es krim coklat yang tadi ia bawa kearah Nara.

Beberapa menit dilewati dengan obrolan antara mereka berdua. Kadang-kadang Soohyun merekam ekspresi Nara saat sedang memakan es krimnya dan tertawa terbahak setiap kali wajah sahabatnya itu berubah menjadi manyun saat ia mengangkat topik pembicaraan mengenai Kyuhyun. “Arasseoyo. Aku tak akan mengungkit tentangnya lagi”, Soohyun langsung mengatakan kalimat itu saat melihat ekspresi ‘membunuh’ yang ditunjukkan oleh Nara.

“Ah, sudahlah. Aku lelah. Lagipula kenapa malah aku yang merekammu? Aish~”, kini Soohyun kembali menyerahkan handycamnya kepada Nara yang tengah mengemut sendok es krimnya. “Sekarang kau lakukan selcanya sendiri”, ucapnya dengan nada agak memerintah.

Nara menerima handycam itu dengan masih mengemut sendok itu di dalam mulutnya, “Ahyasseo“, jawab Nara dengan intonasi yang tak jelas karena terhalang oleh sendok yang ada di dalam mulutnya.

“Kau tak punya film yang menarik untuk ditonton?”, tanya Nara sambil menyendok potongan es terakhir di dalam kotak itu. Soohyun menggeleng pelan, “Aku sudah lama tak mencari update tentang film terbaru”, jawabnya singkat. Namun ia segera mengambil remote TVnya dan menyerahkannya pada Nara, “Kalau kau mau, tonton saja di TV. Kurasa ada beberapa film barat yang bagus di jam segini.”

Nara mengambil remote itu dan langsung menyalakan TV plasma yang ada di kamar Soohyun. Sementara Soohyun kembali turun ke lantai bawah untuk membuang kotak es yang sudah kosong itu ke tempat sampah sekaligus mengambil beberapa cemilan untuk mereka berdua.

Nara masih menggonta-ganti channel TV itu tanpa minat, di waktu siang seperti ini biasanya hanya ada drama ataupun liputan berita saja. Namun Nara langsung memekik pelan saat wajah Brad Pitt dan Angelina Jolie tiba-tiba saja muncul saat ia menghentikan pilihan channelnya di salah satu channel luar negeri. “Mr & Mrs. Smith!”, pekiknya girang.

Film itu memang film favoritnya karena kedua aktor dan aktris idolanya saling beradu akting disitu.

Untuk beberapa saat, Nara terlarut dalam jalan cerita film itu. Hingga akhirnya Soohyun datang ke dalam kamar sambil membawa beberapa bungkus snack dan terkekeh kecil saat melihat Nara sedikit menganga sewaktu melihat acting kedua pasangan hollywood itu. “Kau menonton film itu lagi?”

“Kau menonton film itu lagi? Tak bosan, hah?”

“Memangnya kenapa? Lagipula seleraku masih lebih tinggi dibandingkan dengan kau yang terus-terusan menonton drama kolosal kuno, seperti..apa namanya? Jumong? Cish~ seleramu benar-benar kuno”

“Mwoya?!”

“Nara-ya~“, tiba-tiba saja lamunan Nara langsung buyar saat ia menyadari tangan Soohyun tengah bergerak-gerak di depan wajahnya. “Hari ini kau terlihat seperti orang linglung”, ucap Soohyun sambil menggelengkan kepalanya saat melihat perilaku aneh sahabatnya itu.

Nara tersenyum kecil saat mendengar ucapan Soohyun. “Jinjjayo?”, tanyanya ringan. Kini tangan Nara bergerak mengambil handycam itu dan beranjak merekam adegan film itu, saat Angelina Jolie dan Brad Pitt saling bekerja sama untuk melawan musuh mereka berdua. Soohyun menatap Nara yang kini tengah merekam film itu dengan pandangan mata menerawang dan sama sekali tak fokus, “Nara-ya, kau tak bosan menonton film ini? Kurasa kau sudah menonton film ini lebih dari puluhan kali.”

Nara terkekeh kecil tanpa melepaskan pandangannya dari layar kamera handycamnya yang masih merekam adegan di TV itu. “Kenapa harus merasa bosan? Ini film yang menarikSetidaknya aku punya selera yang lebih tinggi dibandingkan menonton drama Jumong, ‘kan?”

..Pria kuno”

***

Taipei, Taiwan

“3, 2, 1..”, Kyuhyun menghitung mundur hitungannya sambil mengarahkan lensa kameranya itu ke arah beberapa member yang sudah bersiap dengan berbagai pose. “Action!

Ni hao“, Henry melambaikan tangannya dengan riang ke arah kamera dan diikuti oleh Zhoumi yang tersenyum lebar ke arah kamera. “Wo tse Hen Li”, Henry mengenalkan dirinya terlebih dahulu kemudian Zhoumi juga melakukan hal yang sama. “Wo tse Zhou Mi.”

“Wo tse Li Xiu!”, tiba-tiba saja Ryeowook langsung muncul di depan kamera dan menghalangi Zhoumi dan Henry yang ada di belakangnya. Kyuhyun terkekeh kecil saat melihat kelakuan membernya yang seakan menjadi narsis setengah mati saat melihat kamera ditangannya ini.

Annyeonghaseyo, Ryeowook imnida“, kini Ryeowook mengenalkan dirinya dengan menggunakan bahasa Korea. Zhoumi dan Henry langsung menimpuk kepala Ryeowook dengan tisu yang ada di meja makan, “Hyung, menyingkirlah”, seru Henry dengan gemas.

Karena tak mau terlibat dalam perkelahian 3 member itu, akhirnya Kyuhyun berbalik menuju ruang tengah dan merekam Donghae juga Siwon yang tengah sibuk membaca script untuk keperluan syuting Skip Beat. “2 aktor yang sedang sibuk menghapalkan script. Aigoo~“, ucap Kyuhyun sambil berbisik pelan ke arah handycam di tangannya.

Lensa kamera handycamnya beralih merekam Eunhyuk dan Sungmin yang duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah TV plasma. Kyuhyun berdiri tepat di hadapan mereka berdua sehingga menghalangi pandangan Eunhyuk dan Sungmin yang sedang asyik menonton TV. “Ya! Menyingkir dari situ, Kyuhyun-ah!”, seru Sungmin sambil mengibaskan tangannya kesana kemari untuk menyuruh Kyuhyun menyingkir dari sana.

Kyuhyun tak menghiraukan ucapan Sungmin dan tetap merekam kedua hyungnya itu. Eunhyuk yang merasa kenikmatannya terganggu karena ulah maknaenya itu, akhirnya langsung melemparkan bantal sofa kearah Kyuhyun. “AWAS!!”, serunya tak sabar. “Itu sedang bagian klimaks! Awas!”.

Kyuhyun mencibir kecil saat melihat kelakuan kedua hyungnya yang seakan menjadi bar-bar hanya karena sebuah film. Karena merasa penasaran, akhirnya Kyuhyun berbalik ke arah TV untuk mengetahui film apa yang bisa membuat Eunhyuk dan Sungmin menjadi antusias seperti itu. “Memangnya kalian sedang menonton film ap..”

Ucapan Kyuhyun langsung terhenti saat matanya menangkap sosok Angelina Jolie yang tengah berlari di tengah kerumunan orang dan Brad Pitt yang tengah menembakkan isi pistolnya ke arah beberapa orang yang tengah mengejarnya. ”Mr & Mrs.Smith”, jawab Sungmin enteng dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah TV.

Sementara Kyuhyun hanya bisa diam di tempatnya berada sekarang, seakan mematung setiap melihat setiap adegan di dalam film itu. Kyuhyun menutup matanya rapat-rapat saat kepalanya seakan berputar cepat dan membuatnya seperti kembali ke sebuah kejadian yang tak pernah bisa ia lupakan.

“Apa serunya film seperti itu, sih?”

“Memang apa serunya drama kuno seperti Jumong, hah?”

“Ya! Itu film yang penuh dengan histori negara kita sendiri. Kau ini warga Korea bukan, sih? Kenapa otakmu sudah terkontaminasi oleh hal berbau barat, Kwan Nara sayang?”

“Bukan terkontaminasi, tapi ini karena aku adalah gadis modern sedangkan kau adalah pria kuno, Cho Kyuhyun yang tampan.”

“Ya! Apa kau bilang?! Coba katakan sekali lagi, Kwan Nara-ssi..”

“Heeekkhh! Cho..Kyuh..hyun! Jang..an mencekik..ku!”

“Kwan Nara! Jangan menjambak rambutku!! Ya! Ya!”

BRUAK!

“Kyuhyun-ah, minggir!”, timpukan bantal dari tangan Eunhyuk itu kembali membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya dan membuatnya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan kesadarannya kembali.

Kyuhyun menghela nafasnya dalam-dalam beberapa kali sebari menggelengkan kepalanya, “Aish~ lupakan..lupakan, Kyuhyun-ah.”

“Kalau kau mau menontonnya, duduk di sini! Jangan berdiri di depan TV seperti itu. Menghalangi pemandangan saja”, kini Sungmin langsung menarik tangan Kyuhyun ke arah sofa dan membuatnya diam terpaku melihat berbagai adegan dari film itu.  Entah hal apa yang merasukinya, Kyuhyun mengarahkan lensa kameranya ke arah TV dan berbisik pelan ke handycam itu. “Hei, kau tahu? Menurutku Jumong masih lebih menarik dibandingkan film ini..”

“..Gadis modern”

***

-TBC-

Okay, bersambung sampai disini dulu :]

Maaf banget kalau lanjutan di chapt ini lama bgt publishnya dan mungkin cerita di chapter ini ga’ terlalu menarik (T___T)

Tapi ini udah bener-bener usaha paling maksimal *deep bow* (.____.)v

Setelah di chapt sebelumnya KyuNara dibikin galau (dan banyak yg protes -_-), di chapt ini qu mau kasih sedikit tebak-tebakan buat semua readers :]

“Kenapa Seunghwan (Oppa’nya Nara) ga’ mau identitas Nara terungkap ke publik?” 

Tebak ayo ditebak~ XD

Soal selca KyuNara, emang di chapt ini cuma segitu :[ semoga di next chapt bisa lebih banyak momentnya ya :]

Lagian di chapt ini ‘kan Nara baru pamit sama Soohyun, di next chapt dia masih bakal pamit ke orang lain juga kok ^^

siapakah dia/mereka? Ayo tebak lagi~ XD wkwkwk

As usual, comments & likes are most welcome :)

Anyway, qu juga mau ngucapin makasih ke semua readers yang udah bersedia komen di FF KyuNara ini & ngasih dukungan yang saaangat berarti :’)

Maaf banget kalo qu ga bisa balesin setiap komen kalian semua, tapi qu selaalu baca setiap komen kalian. Setiap kata dari komen readers tuh ‘precious’ banget~^^

buat yang masih ‘males’ ninggalin komen..lets try to respect each other, guys! XD

Insya Allah dengan tambahan dukungan komen dari para readers yang sering males komen, qu bisa lebih semangat nulisnya :)

Yang pasti, makasih banyak buat semua readers yang selalu ngedukung kelangsungan cerita ini. Thanks a lot! :D